Langsung ke isi
Februari 19, 2012

Jagung Untuk Raja

Adalah seorang raja di negeri antah berantah yang memiliki tiga orang putera kembar. Ketiga-tiganya sangat mencintai  dan menghormati ayahnya tersebut. Mereka dididik dengan baik oleh Sang Permaisuri yang menjadi ibu bagi mereka, penasihat utama Raja, sekaligus guru negara yang memberikan pencerahan bagi seluruh rakyatnya. Putra raja ini kemudian tumbuh menjadi pangeran-pangeran remaja yang cerdas, hebat dan siap menggantikan Sang Raja.

Suatu hari, Sang Raja memanggil ke tiga Pangerannya untuk menghadap.

“Putra-putraku tercinta”, kata Raja memulai pembicaraan. “Kalian aku undang ke mari untuk suatu hal. Suatu hari nanti, ketika aku semakin tua, tibalah saatku menyerahkan tampuk pimpinan kepada salah satu di antara kalian. Tetapi sebelum tiba saat itu, ada sesuatu yang membuat aku sedikit gusar. Yaitu, aku tidak tahu kepada siapakah tahta ini akan kuberikan, yaitu satu diantara kalian.

“Tidak akan mungkin menyerahkan kerajaan ini kepada semua kalian, karena kerajaan bukanlah kue yang bisa dibagi-bagi. Tetapi menunjuk satu diantara kalian, aku harus punya dasar yang kuat, agar seluruh rakyat mencintai kalian dengan sebenar-benarnya cinta, sebagaimana rakyat mencintai aku. Aku tidak tahu, sejauh pertimbangan yang aku terima dari Ibu kalian, kalian semua menunjukkan kebanggaan yang kurang lebih sama. Sama-sama pintar, sama-sama bernalar dan sama-sama berbudi. Untuk itu, hari ini aku akan menguji kalian.”

“Aku berikan kalian masing-masing sekantung biji jagung. Mungkin hanya sekantung jagung. Tetapi bagiku ini bisa menjadi sesuatu yang berharga bagiku untuk menilai kalian. Dalam empat purnama lagi, kalian akan kupanggil menghadap. Siapa diantara kalian yang paling memuaskan aku, akan aku beri hadiah satu desa untuk kalian kelola. Kelak, dari desa itulah kalian akan membangun sebuah kerajaan sendiri.”

“Baik Ayahnda,” ketiganya menghormat dan meninggalkan ruangan utama kerajaan.”

***

Pada hari yang ditentukan, setelah empat purnama. Ketiga pangeran dipanggil oleh Sang Raja.

“Anak-anakku,” kata sang Raja. “Aku ingin tahu, apakah yang kalian lakukan dengan sekantung jagung yang aku berikan pada kalian”

Pangeran yang pertama diperkenankan bicara. Sang pangeran pertama, mengeluarkan sekantung jagungnya.

“Ayahnda tercinta. Hamba telah menjaga jagung yang Paduka berikan kepada hamba. Sekantung jagung yang hamba pegang saat ini, kondisinya sama persis dengan yang Paduka berikan kepada hamba empat bulan yang lalu. Hamba, telah menempatkan sekantung jagung ini di tempat yang terbaik dan terjaga suhunya sehingga tidak ada jamur, tidak ada binatang ataupun serangga yang merusaknya. Kualitasnya telah hamba uji. Bukan hanya itu saja Paduka, hamba telah menghitung jumlah biji jagung yang pertama hamba terima dari Paduka. Jumlahnya, bentuknya, susunannya dan kondisinya, semua hamba ingat dan hamba cermati dengan sungguh-sungguh. Maka hamba berani menjamin, bahwa apapun yang hendak Paduka tanyakan perihal jagung ini kepada hamba, hamba akan dengan cermat dan tepat menjawabnya.”

Sang Raja terbelalak dan tersenyum dengan Pangeran yang pertama dipanggil ini.

“Lalu, berapakah jumlah seluruh bijinya?”tanya Sang Raja.

“Seratus Empat puluh empat, Paduka!” jawab Pangeran pertama, pasti.

“Bagaimana aku bisa tahu bahwa kau menjamin bahwa kamu tahu semua hal tentang biji jagung ini?”

“Begini yang mulia, hamba masukkan biji-biji ini dalam beberapa botol. Tiap botol berisi satu biji. Hamba minta bantuan kepada seratus empat puluh empat orang pegawai istana. Tiap satu pegawai mengawasi satu biji. Mereka mencatat segala sesuatu terkait biji yang diawasinya, dan dari catatan-catatan itu kemudian hamba hafalkan dan hamba teliti kebenarannya. Hamba siap diuji untuk itu.”

“Luar biasa…luar biasa”, kata Sang Raja. Senyumnya mengembang.

***

Setelah puas dengan jawaban pangeran yang pertama, tibalah giliran Sang Raja memanggil pangeran yang kedua.

Pangeran yang kedua datang dengan membawa sepiring kue.

“Paduka Raja, hamba persembahkan hidangan terbaik dari Jagung. Bahannya adalah jagung yang Paduka berikan kepada saya. Sesuai dengan sifatnya, jagung adalah makanan. Untuk itulah, hamba berpikir bahwa hamba harus menghidangkan makanan terbaik dari sesuatu yang Paduka berikan.”

“Oh ya? Bagaimana kamu tahu bahwa ini adalah kue terbaik?”

“Selama empat purnama, hamba telah melakukan riset, mendengar dari koki terbaik, mendengar dari pedagang, membaca dari berbagai sumber dari negara lain tentang makanan terbaik yang dibuat dengan jagung yang jenisnya sesuai dengan yang paduka berikan. Dari berbagai pilihan, kemudian hamba lakukan pengujian dan persiapan pemilihan bahan terbaik sehingga di hari ini hamba bisa menyajikan hidangan yang terbaik yang bisa Paduka nikmati. Saya pilihkan bahan yang sempurna, santan yang sempurna, pengapian yang sempurna, penyimpanan yang sempurna sehingga dihasilkan rasa yang sempurna di lidah. Dihidangkan dengan komposisi yang tepat dan mengundang selera sehingga dari harumnya sudah dapat dibayangkan kelezatannya walau dari jarak seratus meter dari makanan ini, Paduka”

“Luar biasa…luar biasa”

Paduka nampak puas.

***

Setelah puas dengan pangeran yang kedua, kini giliran Sang Raja memanggil pangeran ketiga. Pangeran ketiga ternyata masuk membawa sekarung jagung.

“Paduka, hamba tidak banyak berkata apapun kecuali membawa sekarung jagung ini, yang dihasilkan dari ladang jagung yang bibitnya berasal dari sekantung biji jagung yang paduka berikan kepada saya.”

“Hmm…anakku. Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa sekarung jagung yang kamu berikan ini  adalah jagung yang terbaik, tidakkah kamu justru berperilaku layaknya petani dan bukan seorang pangeran?”

“Begini Paduka. Jagung yang paduka berikan telah hamba pelajari mulai dar sifatnya, sampai dengan kegunaanya. Dari sifatnya, hamba mempelajari dari biji per biji. Ternyata ada tiga kelompok jagung yang berbeda sifatnya, ada yang subur di tanam di satu wilayah, tetapi ada yang subur jika ditanam di wilayah lain. Jika dipaksakan ditanam dalam satu wilayah saja, maka hasilnya kurang maksimal. Mungkin hasil terbaiknya hanya setengah karung ini. Selain sifatnya, hamba juga mempelajari cara penanamannya dan bahkan pemanfaatannya, sehingga selain sekarung jagung ini, hamba juga membawa beberapa contoh makanan.”

“Oh ya? Luar biasa. Mengapa engkau tidak menghidangkan saja makanan yang terbaik dan terenak?”

“Paduka, makanan dari jagung sangat bervariasi. Bisa jadi jagung diubah menjadi makanan yang enak, tetapi daya tahannya hanyalah satu hari, atau bahkan hanya beberapa jam. Tetapi ada juga yang bisa diolah menjadi makanan tahan lama, walau mungkin tidak senikmat makanan yang daya tahannya hanya satu hari.”

“Hahahaha..luar biasa. Lalu jika hanya untukku, mengapa engkau membuat beberapa makanan?”

“Makanan hanyalah makanan untuk seorang manusia, Paduka. Dia habis untuk dimakan. Tetapi bagi seorang raja, makanan bisa jadi menjadi sumber kemakmuran bagi rakyatnya. Entah untuk dimakan, ataukah diperdagangkan, ataupun pengembangan pertanian tanaman jagung sebagai bahan baku makanannya. Semua untuk kesejahteraan rakyat.Saya membuat beberapa contoh, agar paduka bisa memberikan kebijaksanaan untuk kemakmuran rakyat”.

***

Akhir cerita, Sang Raja telah memutuskan Pangeran yang mana yang pantas diberi wilayah kerajaan untuk dikelolanya.

PERTANYAAN:

-          Nah, jika engkau adalah Sang Raja, kira-kira Pangeran yang manakah yang akan engkau pilih sebagai pemenang?

-          Apakah hikmah yang bisa engkau petik dari cerita di atas? Bisakah kita korelasikan dengan rasa syukur kita kepada Allah SWT?

Feriawan Agung Nugroho

Yogyakarta, 19 Februari 2012

Januari 24, 2012

Software Sinau Jawa v.1 – Software Pengetahuan Bahasa Jawa

Assalamualaikum wr.wb.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunianya kepada kita untuk bisa saling berkomunikasi di sini, dan juga rasa syukur saya atas kesempatan yang diberikan-Nya sehingga bisa menyajikan software ini kepada Anda dengan segala keterbatasannya. Tak lupa sholawat dan salam saya haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan bagi saya untuk menuju kepada-Nya. Semoga syafaatnya bisa saya raih di hari akhir kelak.

Berikut ini adalah software yang saya beri nama SINAU JAWA v.1. Isinya adalah pengetahuan Bahasa Jawa yang meliputi tata istilah, tata bahasa, istilah-istilah dalam konteks kemasyarakatan, kamus, sampai dengan pengetahuan wayang dan gamelan. Semuanya diringkas dalam satu software sederhana dengan harapan memudahkan bagi pengajaran dan pendidikan bahasa jawa untuk membantu anak-anak, murid-murid, siswa-siswi dan siapapun yang belajar bahasa Jawa. Isinya relatif memenuhi kurikulum pengajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Yang pertama kali harus saya garis bawahi, software ini bukanlah berisi acuan baku ataupun referensi valid bagi siapapun yang menggunakannya. Fungsi dasarnya adalah membantu siapapun untuk belajar pengetahuan tentang Adat Istiadat Jawa, khususnya Bahasa Jawa. Untuk itulah di dalamnya di setiap fitur atau menu, ada opsi atau tombol edit dan hapus. Berbeda dengan software yang berisi acuan baku seperti  contohnya wordpedia, Encarta Encyclopedia, ataupun Encyclopedia Britanica yang memang berisi acuan baku. Jauh banget dari itu. Isi yang ada software ini adalah serpihan-serpihan yang berserak dari internet, dari buku bahan ajar yang dijual bebas di pasaran, dan dari lingkungan tempat saya tinggal. Untuk itu, Anda boleh mengubah isinya atau databasenya untuk kepentingan pribadi anda. Untuk isi outentik, hanya bersumber dari link yang terdapat di blog saya di www.feriawan.wordpress.com.

Saya bukanlah seorang ahli bahasa jawa, ilmuwan jawa, budayawan, bukan pula guru, ataupun orang yang paham tentang bahasa dan kebudayaan Jawa. Keseharian saya ketika menyusun software ini adalah menjadi ayah dari dua orang anak usia 6 dan 4 tahun, Iyan dan Damar, dan suami dari Endang Subekti. Saya adalah CPNS di Dinas Sosial Provinsi DIY yang saat ini ditempatkan sebagai pengasuh lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Abiyoso, Pakem. Kami sekeluarga tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di Sonokulon, Merdikorejo, Tempel, Yogyakarta. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu komputer. Latar belakang pendidikan saya adalah Sarjana Ilmu Sosiatri di FISIPOL UGM DIY. Itu sedikit tentang saya, selebihnya jika anda search atau googling, Anda akan menemukan banyak catatan tentang saya, ataupun catatan saya sendiri, khususnya di alamat blog saya seperti tertulis di atas.

Lalu, mengapa saya membuat software ini?

Suatu ketika, saya berdialog dengan ayah saya kandung di Semarang tentang apa yang dilakukannya di sebuah komunitas, ataupun bisa disebut organisasi dengan nama PERMADANI. Sunartyono, nama ayah saya, adalah salah satu pemrakarsa organisasi itu dan sekarang adalah salah satu pengurus PERMADANI Jawa Tengah. PERMADANI adalah singkatan dari Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia. Untuk masyarakat awam yang tahu tentang PERMADANI, mengenal lembaga ini sebagai lembaga yang memberi kursus tentang Panatacara lan Pamedhar Sabda, atau dalam bahasa Indonesianya adalah kursus tentang MC dan Penceramah berbahasa Jawa. Menurut beliau, sesungguhnya PERMADANI tidak dicita-citakan sesederhana semacam lembaga kursus. Konon, dari para pendirinya, PERMADANI didirikan berangkat dari kegelisahan atas lunturnya kebudayaan Indonesia oleh derasnya laju modernitas. Anak muda kehilangan unggah-ungguhnya, krisis moral di sana-sini, hilangnya nilai kemanusiaan dan kesadaran bangsa, bahkan rasa kebangsaan itu sendiri lambat laun menjadi hilang. Akibatnya, atau dampaknya, diantaranya adalah polah tingkah pemimpin dan masyarakat yang menghalalkan segala cara untuk meraih kenikmatan materi dengan jalan korupsi, kolusi, nepotisme. Generasi muda kehilangan arah dan mengikuti budaya asing yang tidak sesuai dengan akhlak moral masyarakat timur, apalagi sesuai dengan akhlak dan moral agama. Nilai-nilai kegotongroyongan entah di mana. Kekerasan atas nama apapun menjadi biasa di telinga.

Dari serapan persoalan itulah ditarik kepada kesimpulan yang salah satunya adalah lunturnya budaya bangsa. Padahal, peran-peran orang yang terpanggil untuk melestarikan kebudayaan bangsa bisa dihitung dengan jari. Kebudayaan menjadi terpinggirkan, tersederhanakan menjadi nilai-nilai pinggiran dengan sebutan tradisional, dan tradisional cenderung disebut jadul.  Bahkan orang berbicara budaya menjadi bias dengan istilah kesenian tradisional. Sebuah keprihatinan. Ketika anak-anak muda kehilangan jati dirinya, kehilangan akar kebudayaannya, orang-orang tua demikian mudah menyalahkan: oh itu karena mereka tidak diajari, tidak mengerti adat, tidak punya kesopanan, terpengaruh oleh barat, dll dsb yang intinya menyalahkan. Pertanyaanya: lalu siapa yang bertanggungjawab? Dari sinilah PERMADANI didirikan dan mengambil peran sebagai lembaga yang, dalam penangkapan saya, agen untuk transfer nilai budaya dari generasi ke generasi. Karena point intinya adalah budaya bangsa, maka PERMADANI tidak hanya berdiri di Jawa, atau mengambil peran atas Budaya Jawa saja, tetapi lebih luas dari itu. PERMADANI didirikan dan tersebar di seluruh Indonesia dan mengambil peran atas budaya lokal yang tujuannya adalah mengembalikan nilai-nilai postif bangsa agar dapat ditransfer dari generasi ke generasi, untuk kemudian menjadi nilai bangsa yang sesungguhnya. Itu penangkapan saya. Mulia sekali. Kalaupun saat ini yang terdengar di masyarakat hanyalah sebagai lembaga kursus MS dan Pemateri Jawa, ya tak apa, karena kegiatan itu yang paling diminati dan dikenal luas masyarakat.  Mengapa hanya di Jawa yang kelihatan, ya tak apa, karena memang mulainya di Jawa, khususnya Jawa Tengah. (Saya ingat betul suasana pendiriannya, waktu kecil saya ikut peresmian pendiriannya di suatu tempat, diresmikan oleh Gubernur Jateng saat itu: H Ismail) . Maka begitulah, cerita Ayah itu begitu membekas. Sebagai seorang muslim, yang saya tangkap satu: perbaikan akhlak dengan jalan budaya.

Mengapa harus software? Bukankah sudah banyak buku-buku beredar dengan harga murah dengan konten yang bahkan lebih lengkap dari ini? Jawaban saya sederhana: kemasan. Jujur saya tidak suka menyatakan itu, tetapi memang itu kenyataanya: hanya sekedar kemasan. Apakah itu penting? Nah, di sini jawabannya mantap: penting. Kemasan adalah sesuatu yang penting dalam proses komunikasi. Faktanya, manusia modern memang suka pada kemasan. Suka melihat kemasan, walaupun intinya sama: komunikasi. Kalau komunikasi adalah ‘ngomong-ngomong’, tentunya bisa dilakukan di cakruk, di gardu ronda, di pasar, di kelas, di gedung mewah. Tergantung dari etika dan estetikanya. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, estetika dan etika juga mencakup pada alat. Orang akan merasa beda jika dia sudah bisa berkomunikasi via internet, via HP, via Blackberry daripada sekedar ngomong di cakruk atau pos ronda. Semacam itulah. Bagi saya, fakta itu ironi: mengapa untuk ngomong saja butuh kenyamanan karena merk tertentu, tempat tertentu dan karena kelas tertentu. Tetapi itulah kenyataanya. Maka, untuk menyampaikan sesuatu terkait budaya, tampaknya butuh kemasan untuk menaikkan ketertarikan, untuk menaikkan gengsi dan untuk menaikkan jangkauan agar tujuannya tercapai. Jadi, dikemaslah semua-mua yang terkait dengan materi belajar bahasa dan kebudayan jawa menjadi software sebagaimana yang sampai ke tangan Anda ini.

Demikianlah. Awalnya yang saya pikirkan adalah anak-anak saya:bilakah mengajarkan pengetahuan tentang bahasa Jawa dan pernak perniknya kepada anak? Bagaimana penerimaan mereka? Pada akhirnya kesimpulannya: ya!. Saya merefleksikan dengan diri saya yang sejak mahasiswa hijrah ke DIY untuk kuliah. Pada masa kuliah tersebut biasa hidup dalam keprihatinan. Ndilalah, Yogyakarta memang kota yang bersahaja. Walaupun saya sering tidak punya duit, tetapi saya belum pernah kelaparan. Banyak teman, banyak penduduk lokal yang sangat mengerti tentang kehidupan mahasiswa seperti saya kala itu. Di Jogja enak: asalkan kita bisa sopan dan mau belajar budaya lokal, kita akan dihargai dan dimanusiakan. Sesuatu yang agak sulit diperoleh di kota kelahiran saya; Semarang. Well, jika saya mau mengajak anak belajar, konsekuensinya saya juga harus belajar dong. Itu.

Lalu mengapa kok tidak dikomersialkan? Ya. Memang tidak ada misi komersialisasi dalam setiap karya saya. Apalagi karya yang berbasis budaya lokal seperti ini. Gambaran saya sederhana: Jika komersial maka yang menjangkau hanya yang punya uang. Itu tidak menjawab persoalan bangsa tentang pendidikan mahal, tentang software berbasis komunitas/ bernuansa budaya lokal, tentang fasilitas dan sarana belajar untuk kaum dhuafa. Semoga Allah SWT setuju, karena Kata-Nya, kalau akhirat yang dituju, dunia juga akan didapat. Nah, mungkin misi saya adalah menagih janji Allah yang Maha Menepati Janji.

Selain itu, tanggungjawab nguri-uri itu adalah tanggung jawab bersama, maka bagi saya ini adalah bagian dari tanggungjawab saya pribadi untuk ikut nguri-uri kabudayan. Sekecil apapun kontribusi yang bisa saya lakukan.Mencoba mengambil peran di situ, sekecil apapun, sebesar kemampuan saya. Ya sederhananya, kita sudah hidup enak, di zaman enak, di Jogja yang enak, itu kan karena kebudayaan yang diwariskan simbah2 kita dulu. Mosok iyo gak matur nuwun? Dan apakah kita rela anak-anak kita kelak justru hidup susah karena kehilangan warisan budayanya. Eman tho? (Hehe.. Padahal nek dipikir malah saya ini ada turunan Cino. :p )

Apakah kemudian tidak menerima donasi? Begini: saya tidak mau dibilang ngemis. Sejak semula software ini diniati sebagai shodaqoh jariyah saya. Maka, software ini diijinkan diunduh oleh siapapun dengan tidak ada batasan fitur, FREE. sejauh ini, sy gak pernah rugi “berbisnis” dgn Allah. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Untuk itu cukup bagi saya beroleh hasil dari pekerjaan saya sebagai PNS. Tetapi pertanyaanya: bagaimana jika ada memang ada orang yang terpanggil? Bukankah jika ini dinafkahkan di jalan Allah, orang juga berhak untuk ikut serta? Katakanlah saya punya kendaraan untuk menuju pada-Nya, apakah tidak boleh orang untuk ikut serta? Nah, untuk itulah saya menerima donasi seandanya apa yang saya lakukan ini seide, sejiwa ataupun mewakili orang-orang yang memiliki kemampuan yang mungkin tidak saya miliki, dan atau sebaliknya.

DONASI

Sekedar mengulang: Walaupun disebarkan dengan bendel freeware/gratis full version, software ini dibuat dengan tidak gratis. Butuh biaya untuk listrik, buku-buku pengetahuan, koneksi internet dan waktu setidaknya 3 bulan untuk membuat software ini. Donasi anda sangat diharapkan untuk kelangsungan pembuatan software ini dan software-software lainnya yang bisa anda peroleh di blog saya ini.

Donasi bisa dalam bentuk:

  1. Uang dikirim via No Rek: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO, yang insya Allah digunakan untuk memberi perangkat keras, perangkat lunak demi meng-upgrade software Sinau Jawa ini pada versi yang lain. Selain itu masih menunggu pekerjaan membuat software edukatif yang lain yang Insya Allah jika ada kesempatan akan dikelarkan: software belajar rambu lalu lintas untuk anak-anak, KUHP dan KUHPerdata Digital, Ensiklopedi Batik, dan semoga bisa belajar pemrograman game karena ada cita-cita bikin game The Pursuit of Hajj, game semacam farmville yang mengajak anak-anak mengerti tentang langkah-langkah berhaji. Berapapun nilainya akan berharga: Jika ingin tanya: seandainya dijual, barapa harga intrinsiknya? Kalau nilai komersialnya, saya akan menjualnya Rp. 50.000,-  Anda tidak harus membayar sejumlah itu jika memang ingin berdonasi sekedarnya, katakanlah anda mengirim 25.000, saya akan menganggapnya lunas, anggap saja sisanya adalah shodaqoh dari saya.
  2. Jika anda butuh produk yang dikemas secara outentik darii saya untuk kepentingan pembelajaran, saya juga melayani pemesanan dalam bentuk pengiriman CD. Harga jual saya sesuaikan dengan nilai intrinsik Rp 50 ribu untuk per CD dan ongkos kirim sesuai dengan jasa layanan kurir yang ditunjuk. Dengan berat hati, harga ini saya patok pas mengingat tingkat produksi dan pengemasan dalam bentuk CD tentunya berbeda daripada sekedar upload dan download via internet.
  3. Jika anda ingin berdonasi tetapi tidak memiliki kesempatan yang memungkinkan baik untuk mengirim uang, mencukupkan nilainya atau satu dan lain hal yang menghalangi sampainya rupiah ke tangan saya, saya titipkan saja uang yang semestinya anda donasikan ke saya ke kotak amal, kotak infaq, kaum dhuafa, korban bencana dan lain sebaganya musibah di sekitar anda. Cukup diniatkan saja bahwa uang tersebut adalah donasi software untuk saya. Insya Allah, Dia nantinya yang mengatur rejeki yang sudah dijatahkan ke saya.
  4. Kalaupun satu dan lain hal memang Anda benar-benar tidak memiliki kesempatan mengirim donasi. Cukuplah dari saya meminta doa Anda perihal yang saya kerjakan ini. Semoga Allah mengabulkan doa anda yang terbaik untuk saya sekeluarga.
  5. Kalaupun semua point di atas membebani Anda, ya sudah,tak mengapa. Yang penting gunakan software ini untuk kebaikan. Insya Allah saya masih mendapat pahala dari-Nya sepanjang Anda mendapat kemanfaatan positif dari software ini.

Kalau boleh saya meminta, berilah feedback kepada saya lewat facebook, blog dan sarana komunikasi lainnya kepada saya demi perbaikan software ini, Sebarluaskanlah ke sekolah-sekolah, lembaga pendidikan, kelompok belajar dan sejenisnya yang anda rasa akan mendapat kemanfaatan dari software ini. Saya sangat berterima kasih dan semoga Allah membalasnya.

PEMESANAN DALAM BENTUK CD

Saya juga melayani pemesanan dalam bentuk CD yang akan dikirimkan kepada alamat yang anda tuju.  Karena membutuhkan kerja ekstra, saya meminta uang jasa produksi, pengemasan dan pengiriman CD per paket dari anda sejumlah 50 ribu plus ongkos kirim. Mekanismenya adalah sebagai berikut:

  1. Kirim data selengkap-lengkapnya terkait dengan: Identitas anda, email dan telpon khususnya, jumlah pesanan, alamat yang dituju, dan keterangan lain yang anda anggap penting. Kirim ke ferrybm@yahoo.com atau ke feriawan@gmail.com  atau kontak via mail facebook saya di : www.facebook.com/feriawan
  2. Saya akan mengkalkulasi terkait ongkos kirim dan waktu pengiriman.
  3. Jika deal, kirim harga yang disepakati  ke Rek: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO, terima kasih jika anda memberi lebih dari jumlah transaksi.
  4. CD akan saya kirimkan sampai ke alamat anda.

Demikian panjang lebar dari saya.

Sekian. Billahi Taufiq wal hidayah. Fastabiqul Khairat.

Wassalamualaikum wr.wb.

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos

link download mediafire 1.:

DOWNLOAD INDOWEBSTER
DOWNLOAD INDOWEBSTER ALTERNATIF

DOWNLOAD VIA MEDIAFIRE

Desember 15, 2011

Menjelang Launching Software Pengelolaan Klien Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta

Puji syukur kami panjantkan kehadirat Allah SWT akhirnya selesai juga pembuatan software SIM PSTW ini sehingga siap digunakan untuk kebutuhan database PSTW.

Awal gagasan penyusunan software ini bermula pada sekitar pertengahan bulan Juli 2010. Bapak Kepala saat itu, Bapak Drs Sulisno, secara sepintas menanyakan kepada saya tentang kemampuan saya untuk membuat sistem komputerisasi agar memudahkan bagi staff PSTW mencari data klien, penanggungjawab dan kontak person yang bersangkutan. Bukan sekedar menggunakan data MS Excell tetapi sesuatu yang lebih memudahkan lagi, kata beliau. Saat itu saya menyatakan sanggup.

Menjelang bulan Ramadhan, gagasan tersebut kembali diutarakan kepada saya, tetapi yang berbicara saat itu adalah Ibu Dra Setiawati Sujono, Kepala Seksi PJS, kembali mengutarakan kepada saya hal yang sama. Secara panjang lebar beliau mengutarakan kebutuhan-kebutuhan yang ada di PSTW terkait dengan komputerisasi data, mengingat PSTW selama ini telah menjadi panti percontohan di Indonesia. Akhirnya, sejak saat itulah terkonsep gagasan awal pembuatan software database ini.

Software ini digunakan untuk mengelola data klien Panti Sosial Tresna Werdha yang meliputi data administrasi pribadi (identitas pribadi, identitas keluarga, alamat asal dll), data medis (kondisi kesehatan klien di awal masuk panti, kondisi klien selama berada di panti, dll), data terkalit pengelolaan klien di panti seperti aktifitas sosial, aktifitas rohani, aktifitas pembinaan ketrampilan dan aktifitas apapun yang diikuti klien yang memperoleh pendampingan dari pekerja sosial di PSTW.

Software ini bermanfaat untuk pemantauan internal aktfitas PSTW oleh pengelola Panti, bahan evaluasi terhadap klien yang dilakukan oleh pengelola panti, digunakan untuk kepentingan ilmiah ataupun studi, digunakan untuk kepentingan praktis pengelolaan data klien seperti melacak penanggungjawab klien ketika klien meninggal, ketika klien sakit dll, ataupun digunakan untuk kepentingan arsip.

Data-data yang dimasukkan atau diinput dalam software ini mengacu kepada Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 4 / PRS-3/KPTS/2007 tentang PEDOMAN PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DALAM PANTI.

Gagasan software yang awalnya hanya digunakan untuk memudahkan pencarian klien, penanggungjawab dan no HP serta alamatnya, berkembang menjadi gagasan untuk pendatabase-an seluruh aktifitas klien. Bagi saya, sangat muspro jika software ini nanti Cuma digunakan untuk sekedar itu, mengingat apa yang diutarakan oleh Bu Wati, semestinya kita sudah memiliki alat komputerisasi semua aktifitas klien. Aktifitas-aktifitas yang ada, sebisa mungkin tercatat dan terdatabase untuk kemudian diubah menjadi laporan siap saji yang bisa digunakan untuk kepentingan praktis seperti penulisan laporan pertanggungjawaban, pelengkap data untuk presentasi, sampai dengan untuk kepentingan kepentingan strategis seperti perencanaan kebutuhan, monitoring-evaluasi, kebutuhan untuk kepentingan akademik, serta hal-hal lain yang dimungkinkan dari pemanfaatan data-data yang diinput di komputer. Mengapa tidak?

Data yang akurat adalah bahan utama dari sebuah perencanaan strategis. Pengambilan kebijakan yang didukung oleh data akan memiliki tingkat pencapaian hasil yang relatif baik, memiliki tingkat kepercayaan yang kuat, dan juga memiliki validitas yang tinggi dalam konteks monitoring dan evaluasi. Berdasarkan pengalaman penulis, komputerisasi data yang diperlukan untuk tujuan di atas bisa dilakukan. Maka, seiring berjalannya waktu selesailah penyusunan software ini yang memiliki kemampuan untuk input data:

  • Data dasar klien, seperti identitas klien, identitas keluarga klien, penempatan klien di PSTW, dan disabilitas.
  • Data pengobatan klien,
  • Data hasil tes psikologis klien
  • Case Record Klien
  • Penilaian kegiatan klien dalam menerima pelayanan yang dilakukan oleh Panti sepeti: Pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar/fisik, pelayanan bimbingan sosial, pelayanan fisik dan mental, pelayanan bimbingan psikososial, pelayanan ketrampilan dan pelayanan rekreasi dan hiburan (sumber:Buku Panduan Manajemen Kasus Panti Lanjut Usia Dalam Panti, Diterbitkan oleh Direktorat Pelayanan Lanjut Usia, Direktorat Jendral Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI tahun 2010)

Dari input data di atas software ini mampu melakukan penyajian data klien, penyajian dalam bentuk grafik terkait data klien (misalkan saja sebaran klien berdasarkan alamat asalnya), grafik korelasional ataupun pivot table (tabulasi silang) yang menghubungkan variabel satu dengan variabel lain, misalkan saja antara perbandingan jenis kelamin klien dengan usia klien, dan pada waktunya nanti bisa dilakukan pemanfaatan untuk kepentingan akademis ataupun analisis statistik korelasional, misalkan menghubungkan antara usia klien dengan aktifitas klien dll.

Setelah posisi kepala panti mengalami pergantian dari Bapak Drs Sulisno kepada Bapak Drs Sutiknar, apresiasi dari Bapak Drs Sutiknar terhadap perancangan software ini sangat positif. Sesuai yang saya tangkap, Beliau memiliki pandangan dan gagasan lebih jauh tentang bagaimana pemanfaatan software ini untuk kepentingan-kepentingan kemajuan PSTW. Dari sanalah Beliah memberi masukan dan saran lebih lanjut untuk penyempurnaan software ini. Alhamdulillah.

Sejujurnya saya merasa beruntung mendapatkan amanah untuk menyelesaikan software ini, karena dari sini saya bisa secara praktis menumpahkan kemampuan saya di bidang IT, mengetahui tata kelola dan manajerial Panti, khususnya panti werdha, serta secara praktis mengamalkan ilmu yang penulis dapatkan untuk kepentingan umat dalam kerangka ibadah yang penulis tujukan hanya kepada Allah SWT.

Demikianlah cerita kancil tentang pembuatan software ini. Harapannya, tentu saja semoga software ini bisa memenuhi segala sesuatu sebagaimana yang dimaksudkan oleh Bapak Drs Sulisno, Bapak Drs Sutiknar, Ibu Dra Setiawati Sujono, Bapak dan Ibu Pekerja Sosial dan PJS di PSTW, Bapak dan Ibu di Tata Usaha serta teman-teman perawat. Terima kasih banyak, dan semoga bermanfaat.

Salam

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos

Interface software bisa dilihat di bawah ini:













September 4, 2011

Aku dan Lansia

Agak miris melihat pemberitaan tentang kondisi Panti Jompo di Pare-Pare pada hari lebaran yang baru seminggu ini diliput oleh salah satu stasiun televisi. Videonya bisa dilihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=bNM3Y0Rq1-I&feature=related . Kaget dan sekaligus geram, itu reaksi pertama saya. Ya gimana tidak? Karen sudah tiga bulan ini saya bekerja sebagai pekerja sosial di Panti Jompo dan biasa berurusan dengan para lansia, mendapati kok ada lansia yang mendapat nasib sebegitu mengenaskan. Orang tua saya, mertua dan kerabat menanyai saya tentang kondisi tempat kerja saya. Media memang terkadang keterlaluan untuk membuat pemberitaan, tetapi untuk yang satu ini saya kira relatif jujur, mengapa? Ya karena ngapain membuat propaganda dengan mengambil objek panti jompo yang dikelola oleh suatu provinsi yang bobot politisnya relatif kecil. Barangkali, khusnudzan saja, itu hanya sentilan untuk mengingatkan kita, bahwa ada sekian manusia yang nasibnya berbeda di saat kita bersukaria menikmati hari lebaran. Untuk itu saya ingin menuliskan tentang tempat kerja saya yang baru di PSTW (Panti Sosial Tresna Wredha) Abiyoso, Pakem, Yogyakarta.

Gedung Utama PSTW Abiyoso

Gedung Utama PSTW Abiyoso


Kalau anda sempat jalan-jalan ke Lokasi Wisata Kaliurang Yogyakarta, pastilah melewati RS Grhasia Pakem (yang biasa difungsikan sebagai RSJ). Berjarak 100 meter, melewati jalan di sebelah utara RSJ Grhasia sudah ada penunjuk jalan ke arah PSTW Abiyoso. Di atas tanah seluas 9.702 M3, dari kejauhan akan nampak sekian bangunan-bangunan megah berwarna orange dengan atap genting sokka dikelilingi hijauan cemara pinus, suara burung pipit dan sejuknya angin yang menyentuh rumpun padi di sekitar kompleks itu . Tidak jarang orang mengira bahwa bangunan-bangunan ini adalah villa atau cottage, mengingat suasana yang demikian bersahabat. Salah, karena kompleks ini adalah kompleks panti wredha, tempatnya orang-orang tua terlantar dipelihara oleh negara.

Sudah tiga bulan ini saya mengakrabi tempat ini. Meniti jalan-jalan corn block segi enam yang menghubungkan antar wisma. Sebagaimana biasanya saya menuju satu gedung bertingkat yang besar, menuju lantai dua, karena lantai satu digunakan sebagai aula. Lantai atas, tempat sekian pegawai bekerja, dan saya menuju ke mesin absen scan jari. Biasa juga orang sini menyebutnya mesin titit. Oops..bukan saru, tetapi karena memang bunyinya “tit”..dan jika sudah banyak orang ngantri, bunyi tit silih berganti.

 

Seperti biasanya, pagi jam 07.30 semua pegawasi sudah harus setor jari di mesin ini. Setelah itu, saya menaruh tas dan perlengkapan ke meja saya sembari menyapa rekan pegawai yang lain, sembari basa basi obrolan pagi tentang bola, tentang harga, tentang klien dan lain sebagainya. Hanya sesaat, setelah itu saya turun menuju ke salah satu wisma.Oh ya, wisma itu maksudnya apa? Wisma adalah satu bangunan di PSTW ini yang dihuni oleh 10 sampai dengan 12 orang simbah terlantar. Per wisma ada 6 kamar dan per kamar ada 2 simbah. Ada wisma yang dihuni oleh janda-janda (perempuan semua), dan ada yang dihuni duda-duda(lelaki semua), dan ada pula yang suami istri. Saya, bertanggungjawab atas salah satu wisma yang namanya adalah Grojogansewu. Penamaan wisma di sini dikaitkan dengan nama-nama terkait legenda, pewayangan, dongeng dll seperti Talkanda, Wukirrahtawu, Andongsumawi dll.

Salah satu wisma di PSTW Abiyoso DIY

Salah satu wisma di PSTW Abiyoso DIY


Wisma saya sendiri dihuni oleh 12 simbah terdiri dari sepasang suami istri dan sisanya adalah duda-duda. Wisma Grojogansewu, sebagaimana wisma yang lain, di bagian luar dihiasi oleh sekian tanaman hias. Jauh dari kesan kotor, jorok atau kemproh, wisma ini menggunakan lantai keramik dengan mebel bagian dalam dari kayu jati. Sebuah titian dari besi selalu tersedia di setiap bangunan di PSTW agar lebih ramah degan kebutuhan simbah-simbah. Dibuat juga desain jalan tak berundak untuk penyandang cacat ataupun yang menggunakan kursi roda. Di bagian dalam, ada televisi, magic jar, dispenser dan beberapa alat kebersihan yang ditempatkan rapih. Ada dapur, ada ruang cucian, dan ada dua kamar mandi di tiap wisma dengan air mengalir 24 jam menggunakan pompa listrik.

Gambaran suasana dalam wisma

Gambaran suasana dalam wisma


Kalau pagi, saya menuju ke salah satu kamar, kamar Mbah Padang, salah seorang penyandang cacat kaki. Kedua kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Tetapi dia ingin ikut kegiatan panti. Setelah dimotivasi, dia mau untuk ikut kegiatan senam pagi dengan konsekuensi, saya bertanggungjawab untuk menaikkan dia ke kursi roda, mendorong kursi roda ke halaman depan aula yang jalannya menurun, dan kemudian mengembalikan dia ke kamar. Itulah setiap pagi yang saya lakukan. Terkadang Mbah Padang merasa bahwa dia sudah merepotkan saya, mengingat perlakukan yang khusus itu, ah..orang tua…orang tua, jangan begitu mbah..itu sudah kewajiban saya yang membawa badge lambang DIY di saku kiri seragam dinas saya. Kalaupun itu dinilai ibadah, ya biar yang mencatatnya sebagai ibadah yang menilainya, alhamdulillah…

Senam Lansia

Senam Lansia

Mbah Padang adalah satu dari seluruh klien di PSTW ini. Dia dari keluarga terlantar. Diantara mbah-mbah di sini, ada yang tak memiliki anak dan keluarga, ada yang memiliki anak dan keluarga tetapi dikarenakan kemiskinannya maka dia menjadi tak terawat, ada yang ditinggalkan oleh keluarga yang menjadi korban bencana alam, atau ada yang memang diterlantarkan oleh keluarganya yang tak sanggup membiayai dan mengasuh simbah yang perilakunya dan permintaanya selalu merepotkan. Di antara sekian mbah-mbah itu ada yang masih sehat, normal, ada yang sudah harus memakai tongkat, alat bantu jalan, kursi roda. Ada juga yang sudah pikun, susah mendegar, susah melihat, dan beberapa gangguan kesehatan karena usianya.


Istri setia Mbah Padang hidup bersamanya menempati satu kamar di Wisma Grojogansewu ini. Ukuran kamar 3 x 4 dengan lantai keramik, cahaya matahari dari jendela yang cukup, kasur di atas dipan dari busa dan lemari, meja dan kursi yang menjadi kelengkapan per kamar. Isi lemari adalah baju-baju dan kelengkapan pribadi yang diantaranya adalah baju seragam. Setiap pagi, Mbah Padang dan istrinya bersama dengan seluruh penghuni panti yang masih sehat berangkat ke halaman, berkumpul jam 08.00 tepat untuk senam lansia. Saya sendiri selalu ikut senam setiap pagi, dan setiap hari kamis menjadi instruktur senam, bergantian dengan pekerja sosial lainnya.Mbah-mbah itu, ada yang berdiri, ada yang menggunakan kursi melihat saya dan salah seorang mbah senior, bersenam diiringi lagu dari satu tape compo yang kadang suaranya nggleyor (lha gimana, karena pakenya kaset recorder yang dipakai berulang-ulang, gak bisa jika  pakai CD rom). Mbah-mbah, diiringi dengan celoteh dan seloroh, mengikuti senam. Kadang gerakan tidak kompak, kadang belum selesai sudah istirahat..whatever..

Bimbingan Rohani

Bimbingan Rohani

Selesai senam, mbah-mbah ikut kegiatan reguler. Hari senin, biasanya bimbingan rohani sesuai agama dan kepercayaanya. Untuk yang muslim seperti saya, biasanya berkumpul di Mushola dan diasuh oleh seorang Ustadz dengan tema-tema yang berulang ulang: surga-neraka-kubur, hidup damai dan bersyukur, dan doa-doa memohon kesehatan dan kesejahteraan. Hehe..lha gimana wong sudah tua..Mosok mau tema tentang jihad, tentang ukhuwah islamiyah dll..Jika hari selasa, mbah-mbah berkegiatan seni musik. Seorang pemain piano electone diundang untuk mengiringi mbah-mbah bernyanyi karaoke sementara mbah yang lain joget atau dugem. Belum dua bulan saya sudah hafal bahwa lagu yang dinyanyikan mbah-mbah pun monoton: itu-itu juga, dan lagu favorit mereka adalah “Ojo Lamis”. Pada hari rabu, mbah-mbah berketrampilan: membuat keset, sapu, sulak, jahit dll sesuai dengan hobinya. Semua bahan disediakan oleh Panti. Tidak ada target, tidak ada kendali mutu, tidak ada supplier. Biasanya digunakan untuk kepentingan sendiri, untuk suvenir pengunjung panti, ataupun sekadar pajangan.

Pemeriksaan Kesehatan

Pemeriksaan Kesehatan

 Pada hari kamis, kembali ada pengajian. Jumat ketrampilan lagi, dan sabtu adalah karawitan gendhing-gendhing. Jika ada kegiatan yang disebut sebagai day care, maka diundang juga lansia yang berada di sekitar kecamatan pakem untuk terlibat kegiatan pengajian dan hiburan. Lengkap sudah keriuhan di ruang aula dimana para simbah ajojing, saling tukar cerita, ngobrol, curhat dan sebagainya. Lalu apa yang saya lakukan? Yah kalau pas sesi agama, jika kebetulan ustadnya nggak ada ya giliran saya yang menggantikan. Pada sesi ketrampilan, ya menemani dan mencatat kebutuhan bahan baku yang mulai habis.

Karawitan Lansia

Karawitan Lansia


Nah kalau sesi hiburan, ya menjadi MC, ikut nyanyi (lagi jadul) dan ikut nggamel. Pokoknya include, membaur bersama dengan mbah-mbah. :D

Njoget Mbah !!!

Njoget Mbah !!!


Setelah sesi reguler itu yang biasanya selesai jam 11.00, maka mbah-mbah bisa menuju ruang poliklinik yang dijaga oleh 6 orang perawat bergantian, serta seorang dokter dari luar, melayani pemeriksaan dan pengobatan untuk mbah-mbah. Semuanya gratis. Poliklinik ini juga buka 24 jam bagi mbah-mbah penghuni panti jika sewaktu-waktu ada yang sakitnya parah atau butuh penanganan khusus. Lengkap: mulai dari ruang periksa, tabung oksigen, apotik, dan kelengkapan kesehatan lainnya.Secara rutin juga, ada psikolog yang datang untuk memberikan bimbingan psikologi kepada mbah-mbah itu.

Setelah itu pas jam 12.00 mbah-mbah akan mengambil makan di Dapur Umum dimana per wisma akan ada satu simbah yang membawa nasi, lauk pauk dan sayur dari dapur umum ke wisma sesuai dengan jumlah mbah di tiap wisma. Sehari 3 kali dengan menu bervariasi yang sudah dikonsultasikan dengan puskesmas dan dokter yang bertanggungjawab sehingga kebutuhan nutrisi, vitamin dan mineral mbah-mbah diperkirakan cukup, serta jauh dari makanan yang kontraproduktif dengan kesehatan seperti: kolesterol, kelebihan garam, zat pengawet, MSG, dan lain sebagainya.

Pagi, siang dan malam. Sayur bobor, lodeh, bayam, asem, gudeg, dll Ikan bandeng, telur asin, tempe tahu, telur ceplok, daging sapi, ayam. Buah semangka, sirsak, pisang, pepaya dll. minuman mulai dari teh, sirup, susu, sari buah, kacang ijo dll…pokoknya variatif. Kadang saya mengingat, bahwa pada masa kuliah dulu  jauh lebih menderita daripada mbah-mbah ini. Makan kadang sehari sekali. Kos-kosan sempit, bahkan seringnya gak ngekos, malah hidup di masjid, boro boro minum susu…Lepas dari jam 1, usai sholat dhuhur, mbah-mbah bebas kegiatan. Mau tidur, mau duduk-duduk, mau ngobrol dipersilahkan sampai dengan kegiatan esoknya. Oh ya, mbah-mbah juga harus mencuci bajunya sendiri serta membersihkan lingkungan wismanya sendiri, khususnya bagi simbah yang masih kuat. Alat cuci dan hygine kit mulai dari untuk kepentingan pribadi ataupun se-wisma semua diberikan atau dijatah. Jika memang tidak ada agenda, maka di jam inilah kadang saya dan teman-teman peksos kadang mengunjungi wisma untuk bertanya tentang kebutuhan dan persoalan yang ada di tiap wisma. Namanya juga simbah, selalu ada saja curhatnya. Mulai dari soal kesehatan, soal temannya yang mulai pikun, lauk yang dicolong kucing, salah paham dengan teman, iri dengan perlakuan yang berbeda dst. Paling sering adalah cerita masa lalu.

Piknik

Piknik


Di luar itu, setiap tahun mbah-mbah diajak untuk piknik ke lokasi wisata terdekat, mendapat baju, snack dan uang saku gratis saat lebaran, serta kegiatan-kegiatan insidental lainnya.


Oh ya, di luar Wisma-wisma ini ada wisma  isolasi. Wisma  inilah yang menjadi hunian mbah-mbah yang sudah bedrest: mbah yang sudah tidak bisa jalan, dan hanya makan tidur buang air di tempat. Di sana ada perawat-perawat khusus yang jaga 24 jam bergantian untuk memenuhi kebutuhan mbah-mbah ini. di wisma isolasi juga ada ruang untuk memandikan jenazah. Yaa gimana ya. Sebulan bisa sampai 4-5 jenazah yang diurus dari mbah-mbah wisma yang sudah meninggal. Kami, termasuk saya, adalah bagian dari orang-orang yang wajib untuk merawat jenazah itu. (Wah, saya butuh kursus untuk ini je..belum bisa).

 

Selain mbah-mbah terlantar, ada juga yang sengaja dititipkan oleh keluarga yang mampu dikarenakan orang tua mereka yang lansia kesepian di rumah. Mereka dikategorikan sebagai klien subsidi silang yang membayar 1 juta tiap bulan, yang jumlahnya total 19 orang. Walaupun banyak yang mengantri untuk menitipkan klien, pihak panti tidak bisa memenuhinya, karena prioritas dari semua wisma adalah bagi orang-orang (lansia) terlantar. Berbeda dengan yang reguler, mereka tidak perlu mencuci, tidak perlu mengambil konsumsi dan tidak perlu ke ruang poliklinik karena tenaga untuk itu sudah datang ke wismanya sendiri secara rutin.

 

Nyaris semua kebutuhan harian dari konsumsi, rohani dan kesehatan simbah-simbah sudah bisa tertutupi oleh dana APBD dan APBN, termasuk di dalamnya kebutuhan untuk day care serta home care (perawatan bagi lansia terlantar di luar panti). Tetapi bukan berarti bahwa semua itu bisa memuaskan simbah-simbah. Sebagai manusia normal, mereka butuh kasih sayang dari pihak keluarga. Itulah yang tidak mungkin negara berikan. Semewah-mewahnya hidup di panti, jelas tidak sebahagia bila mereka hidup bersama keluarga, jika ada. Saat hari raya seperti ini, mereka berbahagia karena mendapat uang saku dari panti dan juga snack dan sirup sebagai kelengkapan mereka untuk menjamu keluarga mereka yang sekiranya datang ke panti. Tetapi, terkadang hal itu tidak terjadi. Wajah penuh harapan kosong, ketika ditanya, ternyata tak ada pihak keluarga yang datang menjenguk.

 

Anda, jika sempat, bolehlah mengajak sesiapapun ke sini. Anggap saja sebagai wisata ruhani agar anda tahu bahwa orang tua itu begitu berharga dan harus dirawat sebaik-baiknya jika masa senjanya telah datang. Kalau mau membawa sumbangan, sebaiknya tidak berupa beras, kebutuhan sanitasi, atau kebutuhan konsumsi (karena semua itu sudah dipenuhi negara). Kalau mau paket langsung diberikan kepada simbah-simbah, ya harus sejumlah simbah yang ada (sekitar 130 simbah) dan jangan sampai kurang dari itu! Jika tidak mencukupi, sebaiknya TIDAK! Ini serius, karena bisa menimbulkan syak wasangka, curiga atau geger di antara simbah-simbah (maklumilah, orang tua kembali menjadi anak-anak). Atau jika uang, percayakan kepada pihak panti untuk membelanjakannya. Jika memang tertarik untuk belanja langsung, boleh, seperti kebutuhan akan tongkat lansia berbagai ukuran (beberapa lansia masih menggunakan tongkat sapu), sandal jepit, kruk, kursi roda, selimut, atau survei dulu agar belanja sesuai kebutuhan. Walaupun dari negara sudah cukup, tetapi ya beberapa peralatan masih belum ada alokasi anggarannya seperti perbaikan sound system, perawatan gamelan, peralatan teknis dll.

 

Oke sekian dulu, semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. Salam…(*)

 

 

Mei 5, 2011

Kisah Telur Columbus

Kisah Telur Columbus saya dapatkan dari sebuah buku agenda usang, beberapa tahun silam saat saya masih SD. Kisah itu begitu membekas sampai sekarang. Begini kisahnya:

Seusai menemukan sebuah benua yang kemudian dinamai Amerika, Columbus, si penjelajah Portugis ini kemudian mendapatkan gelar bangsawan di Spanyol. Tepat pada hari penganugrahan gelar itu, Columbus mengadakan jamuan makan dengan mengundang semua bangsawan, pemuka adat, tetua dan benggol-benggol klan yang berpengaruh, dimana setiap kursi yang ada di sisi meja perjamuan itu diatur sedemikian rupa berdasarkan gelar kebangsawanan.

Mungkin, kepopuleran Columbus saat itu setara dengan Briptu Norman Camaru. Sayangnya, bagi para Bangsawan, yang merenteng gelar di sisi nama mereka, kehadiran Columbus yang berasar dari manusia biasa saja itu jelas merupakan ancaman dan biang kecemburuan. Bukan hanya satu dua orang, tetapi hampir rata-rata bangsawan dan pembesar yang diundang sangat jeleaus dengan Columbus.

Saat acara digelar, kasak-kusuk pun berhembus.

“Cih, kalau cuma nemuin benua, ngapain juga dikasih gelar,” kata bangsawan satu.

“Ho oh, sialan juga, kita yang lalu lalang dari pulau ke pulau dan menaklukan sekian daerah jajahan, mana pula dapat gelar segitu terhormat.”

“Cemen! Dasar Cemen! Apa kita nggak merasa diinjak? Kita dapat gelar karena leluhur kita adalah orang yang terhormat! Lha dia?”

Kasak-kusuk itu berhembus demikian kencang mirip most trading topic di Twitter. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke telinga shohibul hajat, Columbus. Orang-orang begitu pesimistik bahwa dengan isu yang demikian kencang, Columbus akan tetap menggelar hajatan kendurinya itu. Tetapi rupanya Columbus punya rencana lain.

Hari H tidak berubah, para undangan lebih duluan hadir. Mereka itu, semua saling berkasak kusuk dengan wajah sinis dan pandangan mata yang tajam, menanti, layaknya ingin segera mempermalukan si tuan rumah. Tuan rumah belum juga menampakkan diri. Gremang gremeng mirip obrolan mahasiswa saat ditinggal pengawas kala ujian.

Suasana sontak hening, ketika Columbus datang dan duduk di kursi kehormatannya. Mengajak hadirin makan, dengan suasana yang sangat kaku.

“Saudara-saudara,” kata Columbus seusai acara makan. Memecah keheningan.

“Saya punya sayembara,” katanya.”Jika saudara-saudara bisa memecahkan sayembara ini. Maka kursi yang saya duduki ini, dan gelar saya ini, akan saya relakan untuk berpindah ke siapapun yang bisa menebaknya.”

Para hadirin sontak kaget.

“Hai Columbus, berani benar kamu. Apakah ini sungguh-sungguh? Apakah pertanyaanya itu. Aku harap kamu tidak menelan ludahmu dan tidak mengada-ada.”

“Oh tidak,”jawab Columbus.”Saya serius”

“Ini, di tangan saya ini ada sebutir telur. Telur ayam.Nah, barangsiapa diantara anda bisa menegakkan telur ini di atas meja yang licin ini, tanpa memeganginya, maka dia berhak atas gelar dan kursi kehormatan ini. Dan sekali lagi….saya serius.”

Tak ayal lagi, semua hadirin yang ada di situ secara berurutan mencoba menegakkan telur yang berbentuk oval itu dalam posisi tegak lurus. Tetapi, tidak ada seorangpun dari mereka bisa menegakkannya. Entah berapa jam berlalu, dan satu persatu yang mencoba gagal…dan gagal. Mereka menyerah…Columbus tersenyum.

“Tuan-tuan dan nyonya. Saya sudah mendengar tentang semua hal tentang kepantasan saya untuk menerima gelar dari Raja. Saya tahu semua dari anda meragukan temuan saya sebagai modal untuk meraih gelar. Anda anggap bahwa hal itu adalah hal yang terlalu remeh temeh, sederhana, dan tidak layak untuk mendapatkan gelar. Tetapi hari ini saya berharap bahwa anda semua mendapat pelajaran akan satu hal.”

“Awalnya, ada hal-hal yang sulit dilakukan kebanyakan orang. Tetapi yang sulit itu menjadi mudah ketika anda mendapatkan pengetahuan dari orang lain tentang pemecahannya. Celakanya, Anda tidak pernah menghargai siapapun yang bekerja keras untuk membuat hal yang sulit tadi menjadi sederhana.”

“Sudah, jangan banyak omong Columbus”, salah seorang bangsawan mulai gerah.”Memangnya kamu bisa menegakkan telur itu di atas meja? Atau..kamu cuma mengada-ada?”

Columbus tersenyum. Dipukulkanya sedikit ujung telur itu ke permukaan meja sehingga retak dan permukaanya jadi agak datar. Saat itu juga telur itu bisa berdiri tegak lurus di atas meja.

“Ah,”ujar si bangsawan.”Kalau cuma gitu sih aku juga bisa!”

“Ya…”kata Columbus mencoba bijak” dan setiap orang di ruangan ini pun bisa melakukannya. Anak kecil bisa melakukannya, bahkan monyet pun bisa melakukannya. Tetapi tentu saja sesudah saya melakukannya. Bagaimana dengan tadi? Apakah anda melakukannya? Mengapa anda tidak melakukannya?”

Itulah kisah yang sangat terkenal, sehingga dibuatkan monumen telur columbus di kota Sant Antoni de Portmany, Ibiza, Spanyol. Banyak kisah dimana orang terlalu meremehkan usaha kita, ketika meniti sukses demi sukses seolah-olah hanyalah keberuntungan semata atupun sesuatu yang serba kebetulan tanpa melihat betapa kita bekerja keras demi kesuksesan itu. Atau terkadang kita juga dilanda iri dan dengki karena orang lain seolah mendapatkan keberuntungan, jabatan, harta, tahta dan kebahagiaan yang seolah-olah datang dengan tiba-tiba, tanpa kita tahu betapa dia memang layak untuk memperoleh itu. Nah, disaat hal-hal itu terjadi, ingatlah akan kisah ini. Semoga jiwa kita menjadi jiwa yang tenang. (*)

Maret 17, 2011

Cerita Diantara Garam dan Cabe

Pada sebuah apartemen mewah, bayangan itu datang mengendap-endap. Melihat bahwa jendela samping terbuka, setarik seringai menyungging di sisi bibirnya. Lambat tetapi pasti, dia melalui halaman yang diterangi sedikit lampu taman.  Sebuah kejadian di tahun 2015.

Nadya, malam ini, sudah membulatkan tekat. Sebaris catatan di atas kasur busa. Di kepalanya, kenangan masa lalu begitu jelas tergambar. Sangat jelas, melebihi jelasnya sinetron tivi yang menyala dan berbunyi keras tanpa di hadapannya. Entah berapa air mata. Remuk! REMUK!!!

Dia tekan nomor yang sudah sangat dihapalnya.

“Mas Gun,”sapa Nadya.

“Nadya?” jawab yang di seberang sana.

“Mas Gun..aku sayang kamu, Mas.”

“Maaf Nadya, tetapi aku lebih sayang Lina.”

“Setelah semua kisah yang kita alami? Mengapa, Mas?”

“Maaf Nadya.”

“Mas!!…Mas!! Tolong jangan tutup dulu..Tolong katakan padaku, mengapa?”

Air mata Nadya mengalir deras.

“Nadya…kita bicara besok saja ya..ini sudah malam.”

“Tetapi bagaimana jika esok tak ada lagi, apakah kau tetap tak mau mengatakan padaku mengapa?

“Maaf…”

“Mas, oke….tapi  kumohon, senandungkan satu lagu untukku, Mas. Lagu kita…”

“Tuuuuuutttt..”

“Mas…Mas….Mas!!!!”

…..

Pikiran kalut Nadya sudah tak terbendung. Dirinya sudah tak berharga lagi. Hidupnya sudah berakhir, karena cintanya kandas. Pupus sudah. Hatinya hancur berkeping-keping. Hari ini sudah ditetapkan. DIa akan mengakhiri hidupnya.

Diambilnya seutas tali tambang.  Dibawanya ke tengah ruangan. Dengan satu kursi, dia kaitkan tali tambang itu ke sebuah kipas angin besi di plafon. Dijalin sedemikian rupa sehingga cukup kuat untuk mematahkan urat lehernya.

—0—

Bayangan itu masuk. Terus menyeruak ke dalam ruangan, mencari sesuatu yang dicarinya. Sial, langkahnya terbentur sesuatu. Dalam hati dia mengumpat. Semoga si empunya rumah tak mendengar. Semoga…semoga…

—0—

Nadya menghentikan tindakannya, tepat ketika jalinan tali itu melingkar di lehernya, dia mendengar sesuatu dari ruangan lain. Sedikit takut, karena dia hanya sendirian. Perlahan, dia ambil sebuah raket, senjata ala kadarnya. Mengendap-endap, dia ingin mengetahui apakah itu. Pencurikah? Ataukah hanya binatang semacam anjing dan kucing yang nekat masuk rumah? Nadya menuju ke dapur.

“AAAhhhhh…”

kejadian selanjutnya begitu singkat. Sebuah tangan kekar membekap mulut Nadya, tangan seorang lelaki, sekalipun Nadya begitu keras meronta, tangan itu masih terlalu kuat. Sangat kuat. Nadya tak sadarkan diri ketika bayangan itu memindahkannya  dari ruangan.

—0—

“Pyok !!!!”

Sepercik air menyadarkan Nadya. Selama sekian detik Nadya tak sadar, apa yang sedang terjadi. Dirinya duduk di kursi santainya. Tetapi kemudian dia ingat, dan kaget kepada sosok yang duduk di lantai apartemennya. Bayangan itu!!

“Tolong jangan teriak, Mbak…tolong jangan teriak. Saya bisa menjelaskannya. Saya bisa menjelaskannya.”

Nadya masih ketakutan. Bayangan seorang Bapak. Dengan tangan kekar dan pakaian seadanya.

“Si…siapa kamu!?”

“Saya…saya Jono, penduduk dari desa seberang sana. Saya lapar. Saya tadinya mau mencari kerja di kota, karena anak istri saya di desa butuh makan. Tetapi sampai malam ini saya belum dapat pekerjaan, ketika mau pulang, saya nggak kuat nahan lapar. Terus saya cari ke sini, kebetulan lewat apartemen Mbak.”

Nadya mengawasi mimik dan mata Jono. Tak ada sesuatupun yang menandakan Jono adalah orang jahat. Kata-katanya jujur.

“Kamu kelihatanya cukup kuat. Mengapa harus mencuri?”

“Tadinya saya tani, Mbak. Tetapi karena dari tani nggak cukup, ya saya cari penghasilan yang lain.”

Nadya terus melihat wajah orang itu. Ketakutannya sirna.

“Sudah ya, Mbak. Saya pulang. Tolong jangan laporan polisi. Saya minta maaf.”

Jono beranjak pergi.

“Sebentar…kamu…sudah makan?”

Jono terdiam. Setengah menggeleng.

“Oh..kalau gitu, tunggu ya..”

“Mau ke mana, Mbak?”

“Ke dapur,”

“Di situ nggak ada makanan.”

“Oh, barangkali di kulkas atau…”

“Di situ juga nggak ada.”

“Oh..kamu….sudah periksa semuanya.”

“Seluruhnya, Mbak. Nggak ada yang bisa dimakan.”

Nadya bingung.  Dia mencoba mencari akal. Kasihan juga orang ini. Dia orang baik. Kalaupun tidak, apalah salahnya memberikan sesuatu padanya. Toh, barangkali, itu adalah kebaikan dia yang terakhir. Ups..jadi ingat bahwa dia seharusnya sudah mati detik ini…

“Oh ya. Dekat sini ada pizza. Bisa diantar kok. Bentar yaa…aku telponkan. Kamu mau pizza kan? Paling nggak lama.”

Jono tak menjawab. Makanan apapun lah, dia tak paham. Apapun itu dia percaya bahwa perempuan di hadapannya akan memberikan makanan enak.

“Ya Halo..pesan pizza, Pak. Iya, ke saya. Nomor ini. Porsi jumbo. Iya..iya…Bagaimana? Setengah jam? Wah..lima menit dong, Pak. Oke…nanti saya bayar ekstra…oke..lima belas menit. Oke..jangan molor ya, Pak.”

Nadya menutup telpon.

“Lima belas menit lagi.”

—0—

Nadya duduk di kursi santai, Jono duduk di lantai. Kebisuan menyelimuti mereka. Nadya tidak tahu topik apa yang akan dia bicarakan. Jono, mencoba mencairkan suasana.

“Maaf, maaf kalau saya lancang..tadi saya lihat mbak..mau…”, Jono memeragakan sesuatu dengan tangannya, dengan gerakan melingkar di kepala.

Nadya sedikit tersinggung.

“Nanti begitu pizza datang, kamu boleh pergi.”

“Oh..maaf…maaf” Jono menarik perkataanya.

Nadya bangkit dari tempat duduk. Cuaca di halaman rumah berubah. Gerimis, dan kemudian hujan, seolah memahami isi hatinya yang sendu. Dipandanginya jendela rumah. Jauh di sebuah titik. Titik tempat di mana Gunawan, pujaan hatinya, mungkin sekarang sudah bahagia bersama istri yang sah dinikahinya.

“Jono..pernahkan kamu jatuh cinta?” tanya Nadya.

“Ma….maaf…..”

“Begitu dalam cinta itu, dan kemudian tercerabut begitu saja. Aku begitu ingin, bahwa cintaku akan langgeng, bahagia dan indah sebagaimana kisah cinta dalam dongeng. Cinta yang abadi…Tetapi ..”

Air mata Nadya meleleh lagi.

“Aku gagal. Aku ditolaknya. Cintaku kandas, dan sekarang dia ..oh…”

Jono diam, dia masih terlalu polos memahami.

“Pada akhirnya aku ingin mengakhiri hidupku. Mungkin saja aku bahagia di kematianku. Mungkin saja dengan itu kisahku bisa terkenang, seperti halnya Romeo dan Juliet, seperti halnya Laila dan Majnun. Seperti kisah sedih dalam karya para pujangga.”

Sekarang Jono sedikit paham. Cinta…itulah persoalannya.

—0—

TINGTONG…. !!!!

Suara itu memecah kesunyian diantara derasnya hujan. Pizza datang.

“Ayo, makanlah.”

Jono ragu-ragu. Nadya paham, dia tersenyum. Dia membukakan bungkusan itu.

“Begini cara memakannya. Kamu bisa langsung makan. Tetapi masih terasa hambar untuk lidah bangsa kita. Maka, bisa ditambahkan garam.”

Nadya menyobek garam instant yang disertakan di dalam bungkusan Pizza. Wajah jono sedikit berubah. Wajah yang lugu dan lucu bagi Nadya.

“Nah, dan lebih  asik lagi kalau ditambahkan cabenya. Wow..pedasnya bisa bikin  rasanya makin maknyuss……Hehe….saya jadi ikut lapar.”

Nadya menyobek cabe bubuk. Kali ini wajah Jono tegang.

“Boleh….??”tanya Jono sembari  mengulurkan tangannya, meminta bungkusan cabe dari tangan Nadya.

“Oh..silakan”

Jono memandangi bubuk cabe itu, menaburkannya ke tangannya, lalu menciumnya, dan kemudian menatap dalam wajah Nadya. Dalam sekali. Tatapan yang menghilangkan kepolosannya tadi.

“Ini ..cabe ini….” kata Jono.

“Maaf, Mbak. Saya nggak bisa makan makanan ini…”kata Jono.

“Loh….kenapa?”Nadya heran.”Tadi katanya kamu lapar?”

“Ya benar. Saya lapar. Maafkan saya sudah menyusahkan Mbak dari tadi sampai sekarang. Maafkan juga atas niatan saya mencuri. Saya …saya minta maaf.”

“Loh, nggak papa…nggak usah sungkan gitu. Kenapa kamu gak makan?”

“Bener mbak, saya nggak jadi makan.”

“Karena cabe?”

Jono terdiam.

“Mbak. Saya adalah seorang petani.  Bersama dengan petani-petani lain di desa. Kami adalah petani yang sukses dan bahagia. Tetapi itu dulu.”

“Saya menanam lombok di ladang saya.  Untungnya besar mbak. Enam tahun lalu, harganya per kilo bisa sampai seratus ribu rupiah. Kalau ladang saya panen sekuintal, maka bisa sepuluh juta rupiah. Besar banget”

Jono berhenti sesaat. Wajahnya lesu.

“Tahun kemarin, harga cuma dua ribu lima ratus, per kilo. Jauh..”

Jono memandangi sobekan bungkus cabe tadi.

“Ini bukan cabe lokal, Mbak. Ini jelas-jelas cabe impor. Pemerintah nggak adil, Mbak. Pemerintah nggak adil kepada kami, para petani. Mbak harus tahu itu.Semuanya sekarang impor. Beras, kedelai, kopi, tembakau…dan semua yang dulu kami tanam, sekarang semuanya bisa didapat dengan murah. Impor, Mbak. Apa lagi yang berharga yang bisa kami tanam di sini?”

“Mbak, sekarang ini pupuk dan bibit mahal, semuanya mahal dan lahan kami sudah tak bisa ditanami lagi jika tanpa itu. Semuanya tinggal bongkahan keras, sama lumpur. Apa lagi?”

Jono mulai menitikkan air mata.

“Mbak. Apalagi yang bisa dilakukan petani? Mati!  Petani mati! Seperti halnya adik saya yang laki. Mati gantung diri. Persis seperti apa yang Mbak lakukan tadi. Dia gantung diri. Mati.”

“Tetapi, Mbak. Dia tidak gantung diri karena cinta sebagaimana bunuh dirinya orang-orang kaya. Dia gantung diri karena stress, karena sehari-hari harus melawan rasa lapar dan tangis keluarganya. “

“Kita, manusia, bisa memilih untuk bunuh diri. Banyak cara untuk itu. Tetapi, mengapa Mbak harus memilih mati bunuh diri? Mbak punya segalanya. Makanan enak, baju bagus, papan bagus untuk ditinggali. Mbak tentunya juga akan menemukan lelaki yang baik untuk dicintai.”

“Tetapi, kamilah yang semestinya layak untuk mati. Mati karena lapar, tak makan hanya karena cabe di genggaman saya ini, nggak papa, Mbak. Nggak usah khawatir. Terima kasih sudah memesankan pizza ini. Tetapi saya tak bisa memakannya.”

Jono bangkit.

“Permisi….”

Jono melangkah ke pintu, menembus derasnya hujan, meninggalkan Nadya yang masih termenung, mendapati dirinya dalam keadaan sangat-sangat bodoh. (*)

Disadur dan diadaptasi dari film Salt and Paper karya sutradara Mohinder Pratap Singh

Yang tertarik nonton filmnya monggo ketemu.

Maret 10, 2011

Cerpen: Bukan Sahabat Terbaik

“Aku lagi jatuh cinta”, kata Putri. Duduk, mata menerawang, senyum sendiri dengan tangan memainkan sejumput rumput kering.

“Oh ya? Selamat,” Kata Danu. Ekspresinya datar. Tidak mengubah kesibukannya yang membawa kaca pembesar, mengamati sesuatu di rerumputan. Raut muka Danu tidak berubah.

Putri sebel. Danu seperti tidak mendengarkan apapun yang dia katakan. Bukan sebuah jawaban yang enak untuk dua orang yang sedang ngomong-ngomong. Apakah mungkin Danu sedang pura-pura sibuk, atau mungkin tak senang mendengar dia jatuh cinta?

“Cari apa sih?” tanya Putri.

“Aku jelaskan panjang lebar pun kamu juga tak akan mengerti”, jawab Danu sekenanya. Ketus banget..

Danu masih sok sibuk layaknya seorang profesor ahli biologi. Padahal danu bukan profesor biologi. Danu ya Danu, sahabat yang kerjaanya ya ngurus kebun orang tuanya. Lagian, mana ada profesor biologi pake neliti padang rumput, neliti air selokan sawah.

“Danu! Dengerin dong! Apa yang harus aku lakukan?” teriak Putri.

“Dari tadi memangnya aku tidur?” kata Danu.

“Terus? Apa dong saranmu?”

“Ya udah. Ngomong aja sama dia”, jawab Danu. Masih datar.

Putri bangkit, melangkah ke selokan, memunguti kerikil dan melemparkannya ke air. Sedikit keruhan di dasar selokan.

“Ngomong gimana? Nembak duluan maksudmu? Aku kan perempuan. Masa sih aku yang  mulai,” jawab Putri.

“Ya udah. Kalau gak bisa ngomong ke dia ya habis perkara. Cukuplah kamu berharap aja, nggak usah mikir ditembak sama dia. Huh, Ngomong kok susah,” Seloroh Danu. Kali ini kalimat terakhirnya agak ditajamkan.

Putri gondok. Sekarang matanya sedikit galak mengarah ke Danu yang masih belum bergeming dari aktifitasnya.

“ Heh.Kamu tu kalau nanggapi gitu menyebalkan. Dengerin aku dooong.” Suara manjanya kumat.

“Iya..iya….Mau dengerin model apa sih? dari tadi aku ndengerin kok.”

Putri diam sesaat. Kepalanya kembali melayang-layang, menggambarkan irama batinnya.

“Aku saat ini susah banget mengendalikan diri. Dia begitu mempengaruhi aku. Setiap aku ketemu dia, rasanya adaa aja yang harus dilakukan biar dia sekedar nengok aja ke aku. Dan saat dia nengok..wuiii….”

“Tapi dia kan gak tau kalo kamu jatuh cinta. Buat apa…”lagi-lagi Danu memotong. Dan bisa diduga, perang bintang lagi.

“Ih, kamu tu ya. Saat dibutuhin buat dengerin gini, malah ngomongnya nggak enak banget tau gak.”

“Lah, kamu suruh aku dengerin, aku dengerin. Kamu suruh aku ngomong jujur, aku ngomong jujur. Sekarang  kamu bilang omonganku gak enak. Mau gimana?” kali ini Danu mengubah posisi, menghadap ke Putri, menolehkan wajah ke Putri.

“Yaaa kasih support atau dukungan kek. Cari solusi kek gimana gitu. Pake perasaan dikit gitu nama sih. Aku kan perempuan”

“Wahai engkau si perempuan. Aku ini laki-laki. Kalau mau pendapat perempuan, kenapa gak curhat aja sana sama temen-temenmu yang perempuan.”

“Hh…sebel.”

Danu senyum. Menghampiri Putri. Duduk sejajar, menghadap padang ilalang dengan gemericik air di sana-sini. Duduk sama-sama di atas batu yang agak datar. Di bawah sebuah pohon rindang. Sebuah pemandangan indah yang menjadi teman biasa mereka. Tempat dimana mereka biasa bertemu.

Wajah Putri sudah tidak karuan. Menahan marah, sebel berat. Bahasa jawanya: getem-getem.

“Aku tahu sih, saben ketemu kamu, selalu saja ngga metching. Selalu kamu pakai cara berpikirmu. Kenapa sih kamu nggak bisa sedikit aja berpikir, gimana kalau jadi aku. Padahal aku kan pengen cerita tentang siapa dia, bagaimana dia, semua-mua tentang dia, biar kamu tau. Terus aku minta pendapatmu…gitu.

“Ya udah cerita aja.”

“Sudah nggak mood”.

Putri ngeloyor pergi. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah. Memancalkan kaki pada sadel sepeda, meninggalkan Danu yang tidak terlalu peduli, melanjutkan kesibukannya dengan kaca pembesar.

***

Danu dan Putri bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya bersahabat. Danu sudah punya kekasih, kekasihya ada sekian kilometer di kota besar. Jauh ditempuh dari desa, ataupun daerah yang kecil untuk dianggap sebagai kota. Putri, bisa dikatakan orang yang sedang mengenal manisnya cinta. Untuk usia-usia seumurnya, seorang perempuan sudah terlihat matang dan siap menikah. Tetapi dari kisah cintanya, putri selalu saja gagal menemukan lelaki yang sesuai. Sebagai sahabat, Danulah yang biasa mendengar dan bisa share banyak hal.

Kalaupun banyak hal tak cocok, pada akhirnya mereka bisa damai lagi. Kejadian di atas, bukan yang pertama. Maka, ketika sudah jenuh dan sama-sama butuh untuk ketemu, mereka biasa janjian di tempat itu. Di tepi hamparan padang rumput luas.

***

Beberapa hari kemudian, mereka bertemu lagi. Bayangkan saja tentang dialog dua manusia yang sedang tidak dalam posisi berbincang. Yang satu duduk di bawah pohon, menyejukkan diri (leyeh-leyeh) dan menerawangkan angannya ke angkasa. Itu putri. Yang satu lagi , Danu yang lagi sok meneliti, masih dengan kaca pembesar, ember dan cetok. Ngapain coba?

“Aku bingung banget”, kata Putri. “Lama-lama ditahan susah juga. Kok dia gak ngerti-ngerti sih. Padahal sudah cari perhatian sana-sini.”

“Memangnya sudah tau kesukaan dia apa?” tanya Danu. Masih dengan kebiasaan kemarin, membawa kaca pembesar dan sok sibuk melihat-lihat rumput.

“Belum….”, jawab Putri sambil menggeleng.

“Sudah tau topik perbincangan yang dia senangi apa?”

“Belum…”

“Sudah tau tipe wanita yang dia sukai?”

“Belum…”

Danu mendengus.

“Hmmmh…..Ya udah.”

Ekspresi yang tak disukai Putri. Semuanya memuakkan. Menyebalkan.

“Heh..masa sih aku harus jadi penguntit yang harus ngerti detil segala sesuatu tentang dia. Sorry yaa…”, jawab Putri. Manyun, tangan terlipat di depan dada, sedakep, kepala nengleng ke kiri. Pas, untuk gambaran sinetron murahan tokoh antagonis.

“Memangnya kenapa ruginya jadi sedikit “penguntit”? kan dengan gitu kamu jadi ngerti kapan saat yang tepat untuk bisa mencuri hati dia. Ngomong ke dia. Dan tidak berhenti pada harapan basi. Dasar…”

“Nggak ah…Sorri”

“Ooh…Aku tau kok persoalanmu”, jawab Danu dengan senyum sinis.

“Apa?”

“Gengsi.”

“…???”

“Kamu selalu ngomong bahwa kamu wanita, pada sisi lain kamu pengen wanita sejajar dengan lelaki. Di sisi lain kamu juga ingin dihormati, didengarkan, dihargai. Tetapi dalam soal cinta, kamu nggak mau sedikit berkorban untuk tau tentang siapa dia. “

Suara Danu sudah mirip khotbah kiai.

“Nembak dia, bukan urusan berani atau tidak berani, tetapi karena egomu yang besar, gengsimu yang besar, jadinya kamu tidak mau memulai. Kamu pengen diperlakukan seperti puteri keraton, atau artis, dimana banyak lelaki memujamu dan berharap bahwa salah satu diantaranya adalah lelaki yang kamu cintai. Lha mbok sampai kapan…”

“Ih, kamu lama-lama ngomongnya nggak enak ya,” potong Putri. Kali ini pakai gerakan nunjuk-nunjuk tangan.

“Denger ya Put. Berapa lama sih kita ketemu? Aku sahabatmu. Berapa lama sih kita sahabatan? Dan kapan sih aku pernah ngomong, ngasih advis, ngasih saran yang sesat? Nggak pernah. Aku juga nyaris gak pernah meminta apapun dari kamu, kecuali bahwa kamu bisa mempercayai aku buat ngomong yang paling bagus. Untukmu…”

Putri nggak surut, tambah ngangkat bicaranya.

“Ya tapi gak gitu dong caranya. Kamu selalu berpikir dengan caramu, ngga ada empatinya blas sama aku. Oke kita sahabatan, tetapi apa gak bisa normal dikit.”

“Lho, apanya yang salah. Kau sendiri pernah bilang. sahabat adalah ketika segala hal yang buruk tentang diri kita tak ragu kita percayakan padanya tanpa kemudian merasa menjadi buruk.”

“Nah,”potong Putri.  “Yang terakhir itu yang kamu gak pernah sadar. Kamu selalu bikin aku ini gak berharga. Bodo. Manja. Pada akhirnya aku seperti dipaksa untuk seperti kamu. Setiap ketemu, yang ada cuma pendapatmu, asumsimu, dan ujung-ujungnya, ngajak berantem…”

“Capek…”

Putri habis kata. Ngeloyor. Mancal pedal sepeda dan hilang di tikungan desa.

***

Hari itu, setelah sekian lama. Mereka bertemu lagi.

“Selamat ya, kamu sukses dapat kerja di Kota,” ucap Putri.

“Makasih”

“Makin sering ketemu dengan kekasihmu.  Lupa dah, dengan semua yang disini.”

Danu melirik wajah Putri. Hihi…sepet.

“Hmm…”

“Nanti aku kesepian di sini, ngga bisa lagi sharing sama kamu.”

“Maksudmu, nggak bisa lagi sebel-sebelan. Hahahaha…”

Putri melempar Danu dengan kerikil. Lemparan mesra.

“Oh ya, sebentar lagi kamu ultah ya…?” tanya Danu. Putri senyum. Tumben ni orang inget.

“Iya, mau ngasih hadiah apa yaa….?

“Apa ya? Aku akan kasih hadiah istimewa. Ya itung-itung kenangan sebelum aku pergi. tapi aku belum tau apa.”

Mata Putri membelalak. Senyum lebar.

“Oh ya? Istimewa?”

Danu mengangguk. Mantap.

“Selalu. Aku selalu berikan hadiah terbaik untuk sahabat-sahabatku. Dulu ketika Ina ultah, aku berikan seikat kembang dari bukit sana, tuh. Karena adanya, tumbuhnya,  Cuma di bukit sana. Ketika Yuni ultah, aku berikan lukisan potret dirinya, aku sendiri yang gambar. Ketika si Anto ultah, aku berikan benih ikan koi hasil persilanganku yang terbaik. Dan untuk dia yang dikota..hehe… paling nggak diterimanya aku di kota. Itu puncak hadiah terindah baginya.”

“Ya,” Putri menyetujui omongan Danu.

“kau berikan dia buku catatan harianmu, tentang dia. Dalam puisi dan novel.”

Agak beberapa saat, Putri menatap wajah Danu yang masih mikir.

“Lalu aku apa? Kau sudah punya rencana?”

“Belum. …Apa ya? Entahlah…kau adalah yang terdekat dari semua sahabat, meskipun tidak yang terbaik. Hahaha…”

“Sebel..”

***

Hari yang dinantikan. Danu menanti Putri yang datang sambil menuntun sepedanya. Di tangannya, menyangga kotak dari Papan. Putri datang, penuh harapan, apakah itu? Binatang lucu macam kucing? Ikan? Bunga? Atau apa?

“Apa ini?” tanya Putri, ketika menerima kotak Danu. Danu sendiri wajahnya tak terlalu meyakinkan.

Putri bingung. Hadiah itu aneh. Satu kotak dari papan. Beralaskan plastik. Didalamnya ada tanah basah berair, dan rerumputan.

Wajah putri kembali menatap Danu.

“Apa ini?” ditegaskannya lagi pertanyaan itu. Tetapi Danu tetap diam.

Putri, masih dengan tersenyum, mencari-cari sesuatu yang istimewa dari kotak itu. Diamati kiri-kanan, dicari sesuatu yang mungkin istimewa, romantis, ataupun kejutan, barangkali saja ada keisengan yang disembunyikan.  Tetapi entah kenapa dia tidak menemukannya.

Perlahan-lahan senyum Putri menjadi hambar. Dia memandang ragu kepada Danu yang tersenyum datar.

“Apa ini? ….Rumput ”

“Ya.” Jawab Danu datar.

Putri membanding-bandingkan rumput itu, yang di kotak itu, dengan rumput di sekitarnya. Termasuk yang dinjaknya. Tidak berbeda. Tak ada yang istimewa. Dia jadi curiga.

“Kamu ngerjain aku ya…?”

“Nggak kok.”

“Danu. Lalu apa yang spesial dari rumput ini. Aku kok nggak ngerasa bagaimana gitu?”

“Maaf kalau aku tak bisa memberikan sesuatu yang kliatan indah. Tetapi ya ini. Bagiku, kau harus seperti rerumputan ini. Kau akan bertahan dalam segala cuaca,tetap bertahan hidup, selalu berkembang cepat, dan hijau.”

“Hmmmm…..jujur nih. Aku nggak merasa enak dengan apa yang kamu kasih.”

“Kenapa? Apa yang salah dengan ini.”

Amarah Putri memuncak. Kali ini gak main-main dia menahan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Kalau kamu sebel, sakit hati sama aku, ada yang nggak enak sama aku, jangan gini dong caranya. Kamu bener-bener tega deh. Masak hadiah ulang tahun sekotak rumput yang nggak ada bedanya dengan rumput yang lain? Mau dimaknai bagaimanapun, tetap aja gak jelas. Ya kalau hadiahnya nggak ada istimewanya gini, menurutku, kamu juga nggak nganggap aku istimewa. Maksudmu apa sih?”

“Nggak ada maksud apa apa. Bagiku, inilah yang terbaik.Tetapi mungkin, kamu belum tahu mengapa rumput yang aku berikan. Mengapa bukan bunga, mengapa bukan ikan, mengapa bukan kado. Aku gak tau dan gak bisa jawab, menurutku, inilah yang terbaik. Ya maaf kalau ternyata kamu gak suka?” jawab Danu enteng.

“Kamu terlalu! Sorri ya, aku gak bisa menerimanya. Maksud kamu itu sebenarnya apa sih? Sudahlah. Sori, aku gak bisa menerima.” Putri siap-siap menuju parkir sepedanya.

“Tapi…”

“Aku sudah biasa kamu kerjai, tak kau perdulikan, tapi ini, menurutku, sudah keterlaluan. Sudahlah, kita memang bukan sahabat. Kalau mau pergi ke kota, pergi sana. Aku tak akan menyesal berpisah dengan kamu. Sudah cukup kamu nyebelin sampai saat ini.”

Danu bukannya menyesal, malah membalas sekenanya.

“Ya udah. Aku tinggal di sini. Sampai suatu saat kamu tahu..”

“Ya udah, tinggal saja.”

Putri menangis.  Berlari menuju sepedanya. Meninggalkan Danu yang meletakkan begitu saja kotak rumput itu. Sama-sama menghilang dengan kegetiran masing-masing.

***

Inilah hari yang menyesakkan. Senja itu adalah hari dimana Danu meninggalkan desa. Tanpa salam perpisahan dari Putri. Menuju ke stasiun terdekat. Bersama dengan asap lokomotif, kereta datang siap membawanya. Danu sudah bulat membakar semua kenangan. Menyongsong kekasihnya yang sudah ada di kota, bekerja di tempat terbaiknya.

Saat kaki Danu menapaki pintu gerbong, selintas ganjalan tentang perpisahan yang menyebalkan bersama sahabatnya, dia coba hancurkan. Membakar kenangan baginya adalah terbaik. Membakar, sampai tiada satupun yang tersisa. Tetapi, sungguh berat. Dipandanginya lagi kaki bukit, tempat dimana mereka biasa berjumpa. Jauh.

Pada saat bersamaan, Putri  bersepeda pulang ke rumahnya. Selintas pandangannya dilayangkan ke sebuah titik.  Dia bisa melihat kereta yang ditumpangi Danu.  Sedikit dia mencoba menipu hatinya, bahwa hanya Danu lah orang jelek terbaik yang bisa mendengarkannya. Tidak peduli.

Tetapi perasaannya tak bisa menipu.Dia benar-benar paham, bahwa berartinya sesuatu, adalah ketika dia hilang dari pelukan. Cinta, sahabat, teman, terkadang jika mereka ada, semua itu tidak terlalu berasa. Barulah ketika mereka hilang satu demi satu, rasanya hilang pula sebagian dari kehidupannya. Lesu.

Di depan pintu rumah, ayahnya menyapa.

“Putri, ada pesan dari Danu” kata ayahnya. Putri kaget. Jangan-jangan…

“Tuh di pintu.”

Sebentar kemudian putri sudah meraih kertas berpin up di depan pintu kamarnya.

“Kamu nggak ngantar dia di Stasiun?”

“Nggak, Pak.”

Ayahnya tidak mencampuri. Urusan anak muda.

Surat itu dibuka. Dalam kamarnya, dia membaca.

“Maaf ya atas masa lalu. Datanglah malam ini. Ingat, hanya malam ini, sehabis sholat isya, di tempat biasa kita bertemu.”

Senyum mengembang. Danu menunda keberangkatannya. Akhirnya ada saatnya dimana Putri bisa mengobati kehilangan sahabatnya. Perasaan putri tidak karuan. Tak sabar dia tunggu saat itu.

Ia sudah bersiap dengan sejuta kata maaf dan penyesalan. Ia sudah siap dengan sejuta ucapan terindah demi sahabatnya itu. Ia sadar, bahwa kesempatan itu sangat berharga.

***

Lepas Isya. Sepeda yang dikemudiakannya langsung diparkir sembarangan di tepi jalan. Berlari, menuju ke arah dua batu di pinggir padang, tepi selokan. Membawa senter, sebagai penerang jalan. Agak menakutkan, kalau-kalau ada ular menghadang. Ia tak peduli. Tetapi bayangan yang diharapkannya belum terlihat.

“Danuu…..Danu….!”

Tak ada. Huh…dimana dia? Jangan-jangan belum kapok juga anak itu mempermainkannya. Tetapi buru-buru prasangka itu dibuangnya. Dia percaya, sahabatnya jujur. Mungkin saja dia yang salah sangka. Tetapi hampir sekian menit, tak ada tanda-tanda anak itu.

Putri putus asa. Dia duduk di bebatuan tempat mereka biasa nongkrong.

Sedikit kaget. Mata Putri melihat secarik kertas. Diarahkan senternya ke kertas itu. Sebuah catatan dengan pita merah. Bertuliskan “Untuk Putri”.  Dibuka. Dibaca.

“Seorang anak kecil berharap pada orangtuanya. Kepada ayahnya dia meminta binatang yang lucu untuk dia pelihara. Kepada ibunya dia minta bunga yang cantik. Tetapi orang tuanya memberikan ULAT yang menjijikkan dan KAKTUS yang berduri. Anak itu sedikit bersedih, tetapi dia terima juga hadiah itu.

Siapa sangka bahwa di kemudian hari, kaktus itu BERBUNGA yang PALING INDAH, dan ulat itu berubah jadi KUPU-KUPU yang PALING ANGGUN. Begitu pula cara TUHAN  mengajarkan kepada kita, mungkin tidak semua hal SESUAI dengan APA MAU KITA, tetapi DIA LEBIH TAHU bahwa itulah YANG TERBAIK. Bagaimana dengan Sahabat?

Salam…Danu”

Mata Putri menahan genangan air. Dia paham, persahabatan dengan Danu, itu adalah hadiah terindah. Dilipatnya surat itu baik-baik, disimpannya sebagai kenangan. Harapannya untuk mengucap kata perpisahan sudah sirna. Entah seberapa lama dia akan bertemu. Ia tak tahu. Terlalu lama, terlalu berharga arti persahabatan. Entah ..apakah ada lagi sahabat yang bisa seperti Danu.

***

Secara tak sadar, Putri menuju ke sebuah tempat. Menghampiri kotak rumput yang menjadi hadiahnya. Ingin rasanya dia bawa pulang kotak itu. Tetapi hei…apa yang terjadi.

Menakjubkan. Dari kotak rumput Danu, keluar cahaya indah banyak sekali. Binatang apa itu? Kunang-kunang!!!

Satu demi satu dari entah sekian puluh atau ratus kunang-kunang menyala dari kotak itu. Kotak itu menjadi benda paling terang di tengah kegelapan padang.  Putri dapat melihat jelas bagaimana mahluk-mahluk kecil yang cantik itu menggerakkan sayapnya. Satu persatu, terbang ke atas, berkedip-kedip dengan cahaya alaminya. Menakjubkan.

Rupanya, Danu sengaja mengumpulkan larva dan kepompong kunang-kunang dalam kotak itu, sehingga pada hari ini, semuanya keluar dan beterbangan, menari-nari bersama ribuan kunang-kunang yang lain, menghiasi malam di padang rumput itu. Cahaya-cahaya yang menari-nari. Indah sekali.

Basah mata Putri. Ingin berteriak memekikkan nama sahabatnya. Terbayang semuanya, terbayang saat ia bertemu dengan Danu, sampai dengan hari ini. Andaikan ia Danu, ingin nonjok pipinya. Andaikan Danu ada, entah apa yang bisa dia lemparkan.  Andaikan…..(*)

Jogja, 11 Februari 2011 (11211)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.