TENTANG JENGGOT (Just for Laugh)

Akhirnya impian saya untuk memiliki jenggot relatif terkabul. Lumayan buat peneguh iman di kala Ramadhan besok (Apa hubungannya coba?) Bukan apa-apa, tadinya pesimis cuma dicukar-cukur karena terindikasi jenggot Pancasila, cuma keluar lima butir, akhirnya setelah agak dicermati, muncullah penampakan kriwis-kriwis lebat membahana.(Horeeee….)


gambarpendukung-mbr-moustachebeardstyle-800x600
Itu berita baiknya, tetapi segala sesuatu butuh penyesuaian, kan? Nah ini yang rada ngganjel. Ketika naik motor, setiap lembar tersapu oleh angin, duh rasanya kok rada nggak nyaman. Belum lagi terasa ada sedikit gatel-gatel sekalipun sudah setiap hari pakai sampoo anti dandruf. Maka dicermati lagi ini jenggot di depan cermin, lha ketahuan. Ternyata tampaklah di depan cermin, lima lembar dari segumpal jenggot kriwis saya warnanya putih, alias uban. (geleng-geleng)

Yaa, tentu saja ini mengganggu pemandangan. Mau dicabut kok sayang, karena barangkali yang uban itu adalah para pioner ataupun founding father yang dulu itu muncul dan tertebas beberapa kali. Jadi, ketika hendak membabat, muncullah bayangan para lansia, veteran, yang kini menua tanpa ada penyejahteraan. Sedih kan? Muncul pula bagaimana rasanya melakukan ketidakadilan kepada minoritas.

Lho, soal jenggot jangan dipandang sepele. Sejak zaman Nabi Musa AS dulu, jenggot bisa menjadi persoalan bersejarah. Hanya karena menarik kencang jenggot Firaun, Musa yang masih bayi bisa terancam hukuman mati kalau bukan karena nurani Asiah yang pikirannya masih normal, yang menjadi ibu angkat Firaun, berani meluruskan dan meneduhkan kepala Firaun yang eror rejing.

Dalam Islam, memelihara jenggot juga mendapat tempat tersendiri. Banyak hadits-hadits yang mengatur tentang memelihara jenggot. Bisa sebagai pembeda, bisa sebagai identitas, bisa pula sebagai sesuatu yang memiliki manfaat yang barangkali kita tidak mengetahuinya. Sehingga, sampai-sampai ada pengibaratan bahwa di setiap helai jenggot yang kita pelihara ada malaikat-malaikat bergantung, ada bidadari-bidadari bergantung (cieee..cieee…)

Yaaa tentu saja jangan dimaknai itu secara harfiah, karena secara genetis model jenggot itu berbeda-beda. Ras asia misalkan, jenggot cenderung tipis, ada yang kriting ada yang lurus, ada yang langsam, ada yang membentuk v, ada yang bercabang dua, ada yang persebarannya tidak merata. Di arab dan eropa, jenggot cenderung lebat, bahkan bisa menyaingi rambut walaupun ada perbedaan jelas, kalau rambut boleh lurus, nah jenggot eropa keriting. Rupa-rupa warnanya.

Hukum memelihara jenggot itu yang dilacak dari internet adalah sunnah, tetapi beberapa diantaranya malah mewajibkannya. berbalikan dengan kewajiban mencukur kumis. Tetapi bagi saya, hukum mencukur jenggot bisa menjad wajib manakala anda lebih terlihat seperti kambing daripada seperti manusia, karena hukum dilarang menyerupai binatang jauh lebih kuat dan memartabatkan diri daripada hukum memelihara jenggot. Untuk itulah ketika jenggot saya masih lima lencer dan lebih mirip bulu ketiak, wah saya tidak mau memeliharanya. Manusiakanlah diri anda sendiri. Bagi saya pribadi, soal sunnah itu tidak boleh dibantah, tetapi menalari sunnah tentunya penting sehingga kita tidak terjebak pada kejumudan zaman.Dalam konteks jenggot, saya lebih melihat kepada bagaimana setiap muslim harus berperilaku yang berbeda daripada umat lainnya. Karena jika kemudian hukum memelihara jenggot diwajibkan total, kasihan dong dengan orang Indonesia seperti saya atau yang lebih miskin helai jenggotnya. Justru nanti malah menjadi komoditas bagi kaum kapitalis untuk berbisnis.

Nah ini yang penting, jangan sampai karena obsesi memelihara jenggot membuat kita gelap mata menghalalkan segala cara demi tumbuhnya jenggot. Mulai dari cara tradisional menggunakan minyak kemiri, tangkur buaya, minyak bulus, sampai dengan obat yang sangat populer berupa minyak firdaus. Hati-hati efek sampingnya. Saya tidak sampai hati membayangkan bahwa nantinya akan ada orang yang melakukan tindakan nekat berupa suntik hormon demi jenggot, penanaman bulu jenggot, ataupun transplantasi jenggot dari donatur lain. Atau jangan-jangan memindahkan kulit di daerah yang berbulu seperti ketiak dan aurat ke daerah jenggot. Tidak boleh! (saya bingung nanti ditanya hukum menutup auratnya lalu gimana)

Gara-gara obsesi jenggot ini, saya pernah dicritai ayah saya, bahwa dia punya teman di jogja yang berdagang salep penumbuh jenggot. Laris manis walaupun khasiatnya belum terbukti. Tipu-tipu? Nggak tau juga. Yang jelas, sebenarnya banyak orang protes ketika memakainya karena sudah seminggu memakai tidak ada efeknya sedikitpun. Nah si penjual akan bertanya:

“Berapa jam anda memakainya?”
“Setengah jam paling lama..”
“Nah itu, petunjuknya harus lima jam, Mas”

Usut punya usut, ketika ayah saya tanya, dia bilang: Tidak mungkin orang akan tahan lebih dari setengah jam memakai obat itu. kenapa? Nggak ada yang aneh dari ramuan minyak kemiri, lemak hewani dan lainnya, tetapi dia mencampurkan suatu bahan yang baunya lebih mulek dari tinja sehingga ketika seperempat jam parfumnya lenyap, maka tinggal bau yang tidak enak ini semerbak, sehingga dalam tempo setengah jam, si pemakai akan merasakan sensasi semerbak bau WC di hidungnya.

Sekian terima kasih.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s