Susah Banget Ngerti Rasulullah

Ramadhan yaa.

Saya mau curhat nih. Sejujurnya hal yang paling susah untuk saya lakukan
adalah memahami tentang Rasulullah. Padahal kalo diurutkan dalam
kerangka prioritas manusia yang ngakunya berislam, itu jelas yang nomer
satu yang harus dipahami. Tapi..ampuuun susahnya.

Sebelumnya minta maaf, dengan segenap disclaimer, isi tulisan ini bukan untuk
dijadikan kutipan ataupun diikuti oleh siapapun. Tulisan ini hanya
bersifat sharing dan berbagi. Jadi kalau ada yang menjadikan referensi
ataupun kutipan si gpp, tapi ya resiko tanggung sendiri.

Bukannya saya orang yang malas untuk mengaji atau malas bara Siroh nabawi. Tapi
tentu saja menghadirkan sosok rasulullah untuk seolah-olah hadir dan
menjadi fragmen ataupun film yang bisa terekam segala sesuatunya itu
gak mudah. Seluruh Siroh yang pernah saya pelajari tidak lebih dari
buku-buku ilmiah ataupun buku-buku agama yang membosankan dan garing
banget. Seolah-olah kita diajak ke sebuah dunia alien ataupun dunia
ilmiah yang justru menghadirkan sosok rasul yang dideskripsikan nggak
ngena banget dengan gambaran manusia yang selalu dekat sama kaumnya.
Entah karena gaya penulisannya yang mesti memenuhi kaidah kaidah ilmiah
ataupun kaidah-kaidah penulisan islami yang kemudian blind, terpisah
segala-galanya dari sisi emosi, harapan dan rasa ingin tahu saya
sebagai manusia yang membutuhkan sosok rasulullah. Tetapi justru
menghadikan kuliah yang boring dan eneg. Rasanya, membaca Siroh menjadi
beban dan bukan menjadi kebutuhan, apalagi kerinduan untuk
mengulang-ulang bacaan itu.

Dalam pemahaman saya, semestinya orang yang kangen atau gandrung sama Rasul,
tentulah bisa dengan detil melihat dan mengimajinasikan. .oh, inilah
rasulullah di jaman itu, yang begini..begini. .begini. Sebuah fragmen,
kejadian ataupun layaknya sinetron atawa film yang secara gamblang bisa
melukiskan tatkala rasulullah lagi jalan, lagi ditanyai temen-temennya,
lagi sendu atau lagi boring, apapun lah. Tapi yakin deh, usaha untuk
menjadikan Siroh sebagai pijakan dalam kerangka pengimajinasian yang
tidak sekedar imajinasi tentunya susah. Bagaimana bahwa yang kita
pikirkan tentang rasulullah itu bukan sekadar ngoyoworo ataupun
ngelindur tentunya susah. Kenapa? Ya, karena kita seolah berhadapan
dengan puzzle yang terkendala dengan bahasa, aturan, kaidah dan sekian
atribut-artibut yang bikin saya seolah dikasih jarak untuk boleh deket
sama tokoh yang  namanya  Rasulullah. Makannya, salut deh sama orang
yang bisa "menghadirkan’ sosok Rasulullah dihadapannya dan seolah-olah
sedang bekonsultasi dengan Rasulullah.

Lewat beberapa pengalaman, jujur saja, saya dibikin eneg sama orang-orang
yang sok suci, sok soleh atau sok nyunnah yang dikit-dikit ngomong:
Rasullullah bersabda..bla- bla…blaaa. ….Kata rasul..bla-bla.
.beuh…Rasanya mau muntah. Bukan apa-apa sih. saya seolah berhadapan
dengan alien ataupun manusia yang, god..forgive me, kehilangan
kemanusiaanya gitu loh. Kayak robot. Gak punya jiwa dan seolah membuat
rule atau aturan yang terdoktrin di kepala dan dikit-dikit doktrin,
dikit-dikit doktrin. Emang agama diciptkan  buat gitu pa ya? Yang
terjadi bukannya saya jadi deket sama agama, sama Rasul, justru
sebaliknya. Berjarak dan kehilangan diri saya. Seolah memaksakan diri
saya untuk memakai topeng ataupun kedok yang sok suci, sok alim dan
membohongi bahwa sebagai manusia itu saya punya jiwa-jiwa yang mesti
dimaksimalkan dan diotimalkan dan dihargai. Bukannya disunat atau
dikebiri.

Kecelakaan paling mengerikan dalam sejarah kemanusiaan adalah ketika kita sudah
menipu diri, tidak jujur kepada diri kita sendiri dan membunuh
kemanusiaan kita. Membungkam semua pertanyaan dan kemudian melangkah di
dunia ini seolah – olah dunia adalah sesuatu yang harus dibenci dan
dihindari, untuk kemudian membuat seribu benteng serta pasang mode
wajah: "waspada!! kamu harus patuh sama rule agama, harus paham sunah,
harus…harus. ..harus.. .harus!!" . Kalau sama diri sendiri saja saya
sudah tidak jujur, bagaimana saya bisa jujur sama Allah, kalau sama
Allah saja saya tidak bisa jujur, bagaimana sama Rasul? dan kalau sudah
sama Allah dan Rasul saya sudah tidak jujur, bagaimana dengan
masyarakat, hidup dan pertanggungjawaban kehidupan saya ketika mati
kelak? Apa iya ketika saya ketemu Allah besok saya mo bilang: "Allah,
aku dah melaksanakan semua yang kau perintahkan dan menjauhi semua yang
kau larang, tetapi aku tetap tidak tau, untuk apa aku diciptakan, aku
juga tidak mengenal rasul kecuali dari apa yang dia perintahkan dan apa
yang dia larang.." Ih, maluuuuuuu deh, sudah baek-baek Allah kasi kita
kehidupan ujung-ujungnya cuma jadi malaekat hidup.Bukannya kita
diciptakan untuk beribadah pada Nya? dan beribadah yang baik itu adalah
yang jujur dan ngerti bener tentang dia? Kalau udah takut dan tidak
jujur kalau kita gak mudeng, mana bisa ngerti? Ntar kayak anak SD yang
taunya hanya duduk, dengar, diam dan gak boleh aktif. Bukannya Allah
suka dengan hambanya yang aktif?

Saya malah menduga, kadang-kadang orang menjadi sok suci, sok alim atau
menjadi sosok pendeta ataupun rahib, sebenarnya bukannya menemukan
kemanusiaannya tetapi justru manusia paling merugi di bumi. Mereka
terlanjur terdidik, terkungkung dalam doktrin dan agama warisan
sehingga menjadi manusia statis. Padahal, dunia ini dinamis. Dalam
sejarah, tidak ada yang namanya agama pernah tegak di atas orang-orang
yang statis, Islam, Kristen, Hindu dan Budha itu lahir dari dinamika
founding father dan juta jawaban atas permasalahan jaman. Jawaban itu
konkrit diletakkan pada output dan outcame. Maka kalo ada kyai atau
rahib yang dungu, akan selalu berkata: ummat ini kacau karena mereka
tidak melaksanakan nilai-nilai ke Islaman atau ke agamaan. Kalimat itu
bukannya salah, tetapi juga absurb. Memangnya agama itu apa sehingga
bisa menjawab permasalahan umat? Bukankah Islam itu bukan semata Qur’an
dan Sunnah, tetapi juga inovasi dan kreasi atas penggalian seluruh alam
yang disajikan secara gurih untuk dimakan oleh manusia bak kacang
goreng?Lha lucu kalau orang yang kacau hidupnya disalahkan karena tidak
tau agama. Kenapa? ya sama saja orang cacat kaki disalahkan ketika
jalannya pincang.

Nah, apa akibatnya jika saya memaksakan diri untuk kenal sama rasul dengan
cara manusia suci itu? Ini gila!!! Masak saya mau kenal rasul mesti
dalam kondisi suci? Masak mau kenal rasul saya mesti bersih dulu? Masak
mau akrab sama rasul saya mesti aliiiim dulu? Bukannya rasul tu lahir
untuk jadi tukang bersih-bersih? Bukannya rasul itu siap dengan segala
kondisi umatnya untuk kemudian diakrabi dan diarahkan? Nah kalau Rasul
taunya minta bersih, buat apa jadi Rasul?

Kalo nurut saya kok enggak. Rasul itu dalam
beberapa info saya orangnya teduh. Dia tidak mengedepankan aturan. Dia
memberi solusi konkrit. Dia adalah pribadi yang agung dan bisa akrab dengan siapapun: orang kaya,
orang miskin, orang sakit, orang cacat, orang baduy yang kencing di
masjid, orang yang menghina dia, orang gila bahkan. Maka absolutly
wrong jika rasul itu minta syarat banyak-banyak manakala kita mau
gabung sama pengajiannya.

Makannya kalau denger dikit kisah rasul pas disambut sama penduduk madinah dan
menyanyikan lagu; Tolaal Badru Alaika, waduh, pasti deh air mata ini
meleleh. Paling nggak saya ngerti bahwa beliau itu orang paling
menyenangkan di muka bumi, Hadir untuk membawa keteduhan dan harapan
serta jalan kebaikan. Bukannya ketakutan ataupun pikiran-pikiran yang
membawa kebohongan hati. Dan itulah yang paling saya ingat manakala ada
bulan purnama. Subhanallah.

Saya bayangkan Rasul itu setiap bahasa tubuhnya, gerak geriknya, perilakunya, tutur katanya, pokoknya
semua-muanya gak ada yang meragukan. Gak tergambar bahwa rasul adalah
sosok yang berjarak, pasang kata "waspada" dan juga anti untuk gaul
dengan umat manapun. Jadi bukan hanya bahwa dia bisa dipercaya, tetapi
semua yang dilakukannya, bahasa tubuh, gerakannya tidak ada yang
meragukan orang !!! Nah, inilah rasul.

Kadang keingin tahuan saya bertambah berkaitan dengan bayangan: memangnya
kalau saya tidak tau bahasa arab, tidak kenal pesantren dan tidak bisa
baca Qur’an lancar ini tidak bakal menemukan pribadi rasulullah,
apalagi menemukan Allah….Iyakah? Dalam beberapa kajian saya dimanapun
sering saya katakan bahwa cara beragama saya liar: tidak sistematis dan
tidak terprogram dari seorang kyai, dari sekolah madrasah, dari kitab
yang berjilid-jilid apalagi dari pengetahuan bahasa layaknya didapat
dari Ulama Kaliber. Saya mendapatkan Islam dari diskusi dengan tukang
sampah, dari dialog dengan orang gila, dari kata-kata embah yang di
pasar, dari marahnya ibu dan bapak saya, dari sesuatu yang tidak pernah
terduga tetapi langsung menusuk ke hati saya dan memberikan pencerahan.
Dari sanalah petunjuk Allah saya rasakan dan gambaran tentang
rasulullah terkadang terbentuk dengan sendirinya.

Sudah bukan sekali dua kali, tetapi ketika saya mendekati sebuah jamaah yang
berisi orang-orang suci yang terjadi mereka lari dan menjauh. Atau
malah yang saya lihat bukannya mendapatkan pencerahan tetapi politik
dan kekuasaan, Atau bukannya keteduhan tetapi malah keangkeran. Saya
hanya menjadikan masjid sebagai tempat sholat dan bukannya tempat
berjamaah. Dan jamaah saya adalah Pak Lanjar bakul tape, Pak RT, Bu
Paijah dan beberapa manusia lain yang mengajarkan kepada saya bagaimana
melihat hidup dan bagaimana baik-baik sama Allah. Dari sana saya tau
apa itu bahagia.

Beberapa teman menanyakan: memangnya kamu tidak tau jika nantinya kamu terjebak dengan perilaku bid’ah, menyimpang atau
bahkan lari dari agama. Saya tidak bisa membantah itu, tetapi juga
tidak kemudian surut. Bagi saya, Allah adalah Entitas yang Maha Tahu
dan tidak Pasif. Allah tidak sedang bersembunyi di balik langit ataupun
Di benak manusia. Dia adalah Nyata senyata-nyatanya dzat yang bisa
berkomunikasi dengan saya. Dan dia Maha Tahu dengan apa yang saya
lakukan. Nah, kalau dia Maha Tahu, masak iya sih kalau dia tega
membiarkan hambanya ini yang sudah niat tulus mau mencari jalannya
kemudian dia nutup diri dan membiarkan hambanya sesat? Mengapa ragu
kepada Ke Maha Tahu An Allah? Allah, kau Tahu yang kumau!

Sudah banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa ke-kangen-an Allah kepada saya
melebihi ke-kangen-an saya kepada-Nya. Semisal pas saya malas untuk
sholat Isya dan kemudian ngomong dalam hati. "Allah, ngantuk nih, kalau
memang Engkau mo saya sholat, ntar bangunin yaa." Eh..pas tengah malam
malah bisa bangun dan gak bisa tidur lagi. Nah, ya walaupun saya cuma
sholat Isya dan dikasih dikit-dikit sholat sunah lah, dan bukannya
kayak Rasul yang menghabiskan seluruhnya untuk sholat malam, paling
tidak itu membuktikan bahwa saya di-hamba-kan oleh Allah dan gak
dicuekin. Ntar kalau dicuekin Allah, lha modiar aku.

Saya masih berjarak dengan Rasulullah karena memang kendala bahasa, kendala
pemahaman dan pengetahuan menjadikan saya tidak bisa kenal banget sama
yang namanya Rasulullah untuk dijadikan kekasih. Semoga suatu hari
nanti, saya benar-benar menemukan arti persahabatan sama kamu ya Rasul.
Amin.

Borobudur, 31 Agustus 2008
Feriawan A,N.

      
     

   
   

__._,_.___

Advertisements

Diskusi dengan Gus War

ferrybm: salam
gus_motivation: waalikum salam
ferrybm: panas…panasss..
gus_motivation: opone
ferrybm: pokoke
gus_motivation: yok ngono kok di gagas tenanan
gus_motivation: ki lg chat karo unggul
ferrybm: lha piye tho?
gus_motivation: hayo kuwi kan ajang latihan wae
ferrybm: latihan opo?
gus_motivation: latihan urip tenanan
ferrybm: ooh
ferrybm: masalah kepengurusan?
gus_motivation: yo
ferrybm: nek jare arif anwar, iso ciloko nganggep latihan ning marai loro ati wong liyo
gus_motivation: lha aku sing neng pendidikan wae sing jenenge trik dan intrik tdk pernah lapas setiap hari
ferrybm: liyo dino diwales gusti ALlah, digawe dolanan
gus_motivation: lha nek ra nde pengalaman neng js opo yo aku siap
gus_motivation: aku kan ra ngomong dolanan
gus_motivation: LATIHAN
gus_motivation: tegese bedo
ferrybm: ooh, iyo tho
ferrybm: berarti nek latian iko yo rasah serius-serius?
gus_motivation: lha njenengan kan wis ngrasakke urip neng masyarakat
gus_motivation: yo serius neng nek salah yo maklum
ferrybm: oo, sing maklum sing salah opo sing disalahi?
gus_motivation: gek dibenerke
gus_motivation: hayo kudune sing luweh tuwo sing digugu
ferrybm: sing mbenerke sopo?
ferrybm: terus nek salah terus ping bola-bali dilakoni terus njuk piye?
ferrybm: kiro-kiro Gusti ALlah nesu po ra?
gus_motivation: lha nek sing luweh tuwo ra iso mbenerke lan di gugu, opo maneh malah nambah2 hi parah kuwi
ferrybm: sing luwih tuwa iku sopo?
gus_motivation: nek kudune wektu iku ketua dll org2 sejamanny
ferrybm: oo, dadi latian iku yo salah rapopo, maklum, terus nggugu karo wong tuwa, ngono?
ferrybm: salahe iku opo tho jane?
ferrybm: wong ket awal aku gak dhong
gus_motivation: nek dr sudut pandangku
gus_motivation: dadi jaman kuwi sing rodo netralkan aku karo indar
gus_motivation: asline yo awale ki susahe unggul utk di kontrol
ferrybm: :-/
gus_motivation: tak sambi karo chat
ferrybm: ok
gus_motivation: karo unggul ki
gus_motivation: nah unggulki kan wektu iku rodo
ferrybm: monggo disambi, aku yo lagi ngutak-atik script karo sinau analisis resiko bencana
gus_motivation: bedo gaya kepemimpinane
gus_motivation: nek rapat ki mirip2 koyo BSO pers jamane zul karo kiki
gus_motivation: dadi senenge nek rapat ndewe
ferrybm: oo
gus_motivation: trus pas ono acara 2 dept liyo
gus_motivation: jarang sing melu
gus_motivation: biasane mung perwakilan
ferrybm: mm
gus_motivation: lha kan staf2 unggul ki akeh sing jilababe gaul
ferrybm: o
gus_motivation: trus ono sing ra jilbaban
gus_motivation: kan tidak semua anak js sing jilbabe gede ki sreg
ferrybm: ok..ok..lanjutkan
gus_motivation: yo ngerti dewe lah
gus_motivation: ono sing ditegur
gus_motivation: nah trus crito neng unggul
gus_motivation: unggule rodo nesu
gus_motivation: trus melakukan proteksi berlebihan
ferrybm: oo
gus_motivation: jadi segala sesuatu yg bukan berasal dari kadept jangan di gubris
gus_motivation: kasare ngono lah
ferrybm: i see
gus_motivation: sampai2 ada pernyataan unggul tentang kaderisasi sing intine
gus_motivation: lha yang tahu staf2 saya itu kan saya kadeptnya sendiri
gus_motivation: apa perlunya kaderisasi
gus_motivation: toh kaderisasi itukan depertamen
gus_motivation: jadi kan setara antara staf kaderisasi dg staf sy (LP)
ferrybm: ll
gus_motivation: trus ngapain staf kaderisasi ngurus2 staf2 sy
gus_motivation:  logis jg sih
gus_motivation: trus ono open rekrutmen anggota
gus_motivation: staf2e unggul ki podo gerilya
ferrybm: ho oh..
gus_motivation: dadi neng sekretariat ki nek ono sing teko, takon2 tentang js mesti sing nyambangi cah LP
gus_motivation: trus dibujuki mlebu LP
gus_motivation: lha dlm pandangan ketua kan iklim spt ini kan g sehat
ferrybm: ..ok
gus_motivation: shg anak2 LP sebanyak itu
ferrybm: berapa kira2?
gus_motivation: 60 lebih
ferrybm: Ooo
gus_motivation: sedang wacana waktu itu mungkin hanya 5-6 org yg aktif
gus_motivation: pers mungkin 10-an
gus_motivation: ekstern 20-an
gus_motivation: ning aku rodo lali
gus_motivation: kaderisasi 4
ferrybm: ok, lalu hubungannya dengan strategi persoalan akumulasi suara?
ferrybm: Saya pernah dengar dari adik ipar saya, itu disengaja oleh rejim Latief
ferrybm: benarkah?
gus_motivation: nah sampai akhirnya ada strategi dari ketua untuk menekan kekuatan unggul
gus_motivation: waktu di MTT
ferrybm: oo
gus_motivation: intinya sebagai peringatan
gus_motivation: ning koyone unggul malah makin berani
ferrybm: mm..yaya
gus_motivation: ya memang sangat mencolok sih konspirasi ketua itu
gus_motivation: kurang rapi
ferrybm: ok
gus_motivation: yo unggul makin keras aja
ferrybm: ..dan kemudian?
gus_motivation: nah ada strategi yg tidak banyak diungkap diforum milis
ferrybm: strategi siapa? unggul atau latief?
gus_motivation: ning rasah njenegan bahas di milis lho yo cukup sebagai pengetahuan wae
ferrybm: ok, sampai sekarang latif atau unggul tau aku gak memihak
ferrybm: silahkan aja
gus_motivation: ok
gus_motivation: nek menurutku kekuatan waktu itu bukan latif lawan unggul tp huda lawan unggul
ferrybm: oo
gus_motivation: dadi latif ki asline mong tangan kesekian
gus_motivation: bukan yg utama
ferrybm: mengapa huda/
gus_motivation: lha situ kayak gaka tau aja karakternya
ferrybm: :))
gus_motivation: nah dari ketua waktu itu karena unggul dah gak bisa dikendalikan
gus_motivation: ketua mengumpulkan semua kader yang dianggap loyal
gus_motivation: kecuali dari LP
gus_motivation: untuk membuat gerakan tandingan
gus_motivation: tugasnya sama
gus_motivation: kalo ada anak baru mau ndaftar segera samperi dan suruh milih departemen lain
ferrybm: wuts
gus_motivation: trus masing2 kader loyal tsb harus memback up anak2 LP
gus_motivation: masing2 antara 2-3 orang
gus_motivation: ya supaya anak2 LP tidak ekslusif terpisah dengan dept lain
gus_motivation: termasuk kesalahpahaman ketua thd susunan kepanitiaan RDK
ferrybm: bagaimana dengan rahmad resmiyanto?
gus_motivation: wah kang rahmad tu terlibat pasca musyak
gus_motivation: yo kuwo pasca jenjang suara dan dihapuskannya LP
ferrybm: oo
gus_motivation: sebelum itu tidak terlibat
gus_motivation: kecuali memback up makar ketua RDK 1425 H
ferrybm: ok
gus_motivation: yo aku dewe
gus_motivation: 😀
gus_motivation: nah trus acara makdul dijegal dan diganti kepanitiaan baru
gus_motivation: kan kudune di cekel cah2 LP
gus_motivation: konsep wis dadi org 2 sudah disiapkan kmd di ganti
gus_motivation: kan mangkel to
gus_motivation: nah anak2 LP dho boikot Idul adha
ferrybm: oo
gus_motivation: nah ketua makin panas wae
gus_motivation: ki memang ga beres
gus_motivation: dg unggul dkk
gus_motivation: di anggep ra loyal blas
ferrybm: hahaha
gus_motivation: nah endingnya pas H-1 musyak puncak dari konflik
gus_motivation: spt sing di critakne ajai
ferrybm: oobegitu
gus_motivation: nah dari situ
gus_motivation: saat musyak ki
gus_motivation: mulai ada gelagat kecurigaan
gus_motivation: anak LP ki teko neng awal tanda tangan trus metu
ferrybm: o
gus_motivation: lha kan nek hak suara kan pasti dapat kalo absensi 2/3
ferrybm: oo
gus_motivation: dengan jumlah 60 lebih org yg sudah jelas kemana akan disalurkan
gus_motivation: kan menjadi ketakutan bg para pengurus dll
gus_motivation: itu menurut analisaku
ferrybm: ok
ferrybm: thx sakdurunge
gus_motivation: ya akhirya mungkin itulah strategi yg diambil
gus_motivation: ngono lho
ferrybm: sejak awal aku yo wis krungu
ferrybm: mulane ket
awal aku yo langsung takon latif
gus_motivation: neng asline menurutku anak2 LP itu hanya korban keegoisan dari HUda dan Unggul saja
gus_motivation: podo2 atose
ferrybm: ketok-e pancen ngono
ferrybm: nek tak delok latief iku gak mungkin duwe motif politik
ferrybm: meskipun secara idiologis barangkali dia berseberangan karo aku, tapi aku tetep objektif menilai orang
gus_motivation: wis yo lain kali di sambung iki laptop silean je
ferrybm: ok
ferrybm: matur nuwun

IMPOSSIBLE DREAM: Impian perempuan untuk sejajar dengan lelaki

referensi film: http://www.youtube.com/watch?v=akfZuX4l-8k

Pengantar
Ketika saya sedang iseng surfing di Youtube untuk mencari kartun, ada yang membuat saya berhenti sejenak. Sebuah film kartun berdurasi pendek berjudul The Imposible Dream menyadarkan sesuatu di dalam konstruk berpikir saya bahwa ternyata perempuan itu adalah wanita kuat dan ternyata selama ini dalam beberapa hal saya telah berdosa kepada istri saya khususnya dan kepada setiap wanita di muka bumi ini.

Filmnya sendiri tampaknya dibuat sudah lama dan buram. Mungkin sebelumnya transfer dari video VHS. Tetapi keburaman film itu tidak menghalangi makna yang hendak disampaikannya.

Begini sinopsisnya:

IMPOSSIBLE DREAM
(Impian yang tak mungkin terwujud)

Ketika hari dimulai

Suatu hari menjelang fajar, dimana weker sudah mulai berbunyi dan lampu-lampu kamar mulai dinyalakan. Adalah sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Si sulung laki-laki usia belasan dengan anak perempuan yang mungkin selisih setahun, dan seorang adik bayi mereka.

Sang ibu sudah mulai mobat-mabit mematikan bel dan mulai pekerjaan dimana saat yang bersamaan suami masih terkantuk-kantuk di ranjang. Sibuknya sang Ibu: menyiapkan peralatan sekolah anak, membuat sarapan, mengganti popok si bayi dibantu sama anak perempuannya dengan menata meja makan. Perilaku anak laki-laki hampir sama dengan bapaknya, atau lebih tepatnya mencontoh bapaknya dengan bermalas-malasan sehingga ketika menyiapkan sepatu sekolah saja mesti dipakaikan saudara perempuannya.
Ketika sang bayi diasuh Bapak sementara ibu memasak, si bayi buang air besar. Dengan wajah setengah kesal si Bapak mengangkat bayi dan menyerahkan ke Ibu untuk diurus: didudukkan di pispot dan kemudian saudara perempuannya menceboki serta memberi pampers.

Ternyata sang Bapak tidak sabar dan mengetuk-ketuk piring yang kemudian dicontoh oleh si anak lelaki. Ibu datang dengan makanan dan menghidangkan ke meja. Semuanya makan dan di tengah makan ibu sembari bertugas menyuapi si kecil. Tatkala si kecil nakal dan menumpahkan makan, lagi-lagi si Ibu yang sabar harus membersihkannya.

Selesai makan si Ibu masih sibuk dengan menyiapkan bekal untuk Bapak bekerja, membereskan piring di meja makan dan mempersiapkan kebutuhan diri sendiri.

Pekerjaan

Bapak pergi ke tempat kerja. Dia adalah operator traktor di sebuah proyek. Ibu adalah buruh pabrik konveksi. Digambarkan sang Ibu harus naik bis kota yang berdesakan dengan membawa bayi dan kebutuhannya. Dekat tempat kerja sang Ibu menitipkannya bayi ke pengasuh anak dan memulai pekerjaan.

Apa yang ayah lakukan? Dia bekerja relatif nyaman karena dibantu oleh mesin-mesin kerja yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki dengan mudah, bukan oleh mesin yang unisex. (Nggak tau kenapa ya..beberapa mesin kerja ternyata tidak memperhatikan perempuan ataupun persoalan gender). Dengan begitu, di tengah menjalankan pekerjaannya ini sang Bapak masih bisa suit-suit sama gadis cantik yang kebetulan lewat.

Di bagian lain, sang ibu sebagai buruh yang ada di pabrik konveksi yang dituntut untuk kerja cepat..cepat..cepat demi target perusahaan. Dibentak, ditakut-takuti oleh mandor. Sementara mesin jahit itu kecepatannya murni mengandalkan tenaga sang ibu.

Saat hari usai, tibalah waktu penerimaan upah. Apa yang terjadi? Ternyata sang Ayah menerima dua koin dan sang ibu hanya terima satu koin.

Waktu Kerja Usai

Saat kerja selesai, sang Bapak masih sempat minum-minum, ngegosip, dan ngobrol dengan teman-teman buruhnya dan tidak menganggap bahwa pulang cepat adalah bagian dari tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Pada waktu yang sama, sang ibu mampir ke toko untuk berbelanja kebutuhan. Berlarian dari satu toko ke toko lain demi memenuhi semua kebutuhan keluarga supaya tidak ada yang terlewat. Tidak lupa menjemput anak di penitipan anak dan kemudian kembali antri bis kota untuk sampai ke rumah.

Senja di Rumah

Sesampai di rumah adakah istirahat sang ibu? Ternyata tidak. Ayah melepas baju dan kemudian duduk menantikan makan di depan televisi sementara ibu lagi-lagi menyiapkan makan malam untuk keluarga. Si anak laki-laki melempar sepatu dan tasnya begitu saja di ruangan dan ikut duduk bersama ayahnya.

Anak perempuan membantu ibu belajar memasak, menyiapkan meja makan dan mengasuh adik.
Ibu makan dengan cepat sambil mengasuh adik. Setelah selesai ibu mencuci perabor dapur yang kotor dan juga mencuci baju keluarga untuk kemudian menjemurnya. Jangan lupa, dia juga mesti mengentas baju-baju yang sudah kering. Lagi-lagi dibantu anak perempuannya.

Di depan televisi yang menawarkan hiburan nyanyian sang Ayah masih menikmati santainya, ditemani anak laki-lakinya. Si ibu menyetrika baju-baju seluruh keluarga dan anak perempuanya mengeringkan perabot dapur dan mengatur di rak dapur. Setelah itu ibu masih mengepel seluruh ruangan. Sesekali menidurkan anak bayinya yang rewelnya tidak diduga-duga.

Menjelang Malam

Anak perempuan pamit tidur. Ibu masih sempat merajut menemani sang Bapak menonton televisi. Sebelum anak laki-laki tidur, ibu mencobakan baju (sweeter) hasil rajutannya ke badan anak lelakinya. Sesekali sang ayah minta dituangkan air minum sebagai teman menonton televisi.

Pendidikan Perempuan di Televisi

Saat mereka menonton bersama, ada kejadian unik. Keseluruhan acara televisi tidak melulu hiburan. Sesekali ada liputan khusus. Ceritanya liputan khusus itu menceritakan kejadian di sebuah negara dimana ada ibu petani yang bekerja mencangkuli ladangnya sementara di punggungnya ada anak tertidur. Anak perempuan dalam laporan itu membantu ibunya sementara anak-laki-laki bersantai.

Sang Bapak ternyata melakukan pekerjaan senada. Bedanya, sang bapak memakai (lagi-lagi) traktor sawah.
Belum selesai laporan khusus yang berisikan hal menarik bagi sang Ibu, ternyata sang Bapak tidak begitu suka dan kemudian televisinya dimatikan.
Meskipun kesal, sang Ibu masih bisa tersenyum dan melanjutkan waktu merajutnya.

Saat tidur

Sang Bapak sedang tidur. Saat dia bermimpi ternyata yang ada di otaknya adalah perempuan cantik. Barangkali yang dipikir hanyalah bagaimana kawin lagi, alias poligami atau selingkuh, atau imajinasi jorok lainnya.

Apa yang ada di impian sang ibu? Ternyata dia membayangkan seandainya suaminya dan dirinya memilili peran yang seimbang. Bagaimana ketika pekerjaan rumah seperti memasak bisa dilakukan berdua. Bagaimana anak lelaki dan perempuannya sama-sama mendapatkan pendidikan setara. Bagaimana ketika masalah psikologis berupa kasih sayang juga masih bisa diberikan sang suami. Bagaimana ketika si sulung juga turut andil dalam mengasuh adik bayinya. Bagaimana si sulung juga menyuapi adik bayinya.Si ayah juga membersihkan kotoran buang air besar si bayi. Bagaimana anak-anak lelaki dan perempuan juga membersihkan ruangan bersama. Bagaimana si ayah juga ikut menata perabot dapur dan menata meja. Bagaimana ketika kedua anak laki dan perempuannya juga sama-sama menjemur pakaian. Bagaimana ketika si adik bayi menangis si Ayah juga bangkit dan menenangkan si bayi. Bagaimana sang Ayah juga belajar merajut.

Penutup

Ahlll…Bel Weker sudah berbunyi dan hari tetap berjalan seperti biasa. Sebuah pertanyaan muncul….apakah impian sang ibu bisa menjadi kenyataan ataukah hanya impian yang tak mungkin..?

KOMENTAR

Kisah di atas adalah kisah yang biasa ditemui oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal-hal yang tidak berpihak kepada perempuan dan kadang siapapun tidak menyadari dan menganggap semuanya biasa. Tiada rasa bersalah.
Lelaki diuntungkan karena pada banyak hal keberpihakan selalu ada pada dia. Pendidikan, peralatankerja, tradisi, jam malam, pakaian dan kekuatan fisik. Sementara perempuan banyak dirugikan oleh cara busana, pelecehan, jam malam, peralatan kerja, upah dan masih banyak lagi.

Ketika saya belajar persoalan penganggaran ataupun masalah uang yang digunakan untuk APBD dan APBN, ternyata banyak hal juga tidak adil kepada perempuan. Dalam catatan, perempuan ternyata menempati porsi terbanyak dalam perolehan PAD. Mau tahu lewat apa saja? Biasanya sumbangan PAD terbesar adalah pelayanan kesehatan, pajak penerangan jalan, IMB. Pelayanan kesehatan jika mau jujur, baik di RS ataupun di Puskesmas, ternyata lebih banyak tercatat sumbangan kaum perempuan lewat persoalan kehamilan, pemeliharaan anak, perawatan sakit dan lain sebagaimya. Pajak penerangan lewat PLN di tiap rekening listrik yang dibayar: coba bayangkan siapa yang memanfaatkan listrik terbesar? Jika perempuan menggunakan setrika, menggunakan rice cooker dan menggunakan peralatan rumah tangga terbesar, maka pastilah penyumbang pajak listrik adalah perempuan. Ketika memikirkan IMB, maka pikirkanlah bahwa IMB itu terbesar yang menyumbang adalah untuk membangun rumah. Dan ketika membangun rumah pikirkan pula siapa pengguna rumah terbesar: dialah Ibu kita yang bekerja di rumah.

Ketika teman-teman membaca pengeluaran APBD/APBN untuk belanja negara, coba lihat lebih cermat: siapa penikmat kue terbesar APBD? Ternyata kebanyakan malah laki-laki. Ada yang pembelanjaan terbesar untuk pembangunan gedung sepak bola ataupun kesebelasan sepakbola. Ada yang digunakan untuk prasarana fisik jalan seperti lampu-lampu malam, taman kota, bangunan hiasan kota. Siapa penikmat itu? Sementara betapa anggaran untuk persoalan kesehatan (ibu dan anak), pemberdayaan perempuan sampai dengan persoalan pendidikan perempuan jumlahnya kadang hanya seper sekian persen dari total belanja.

Pada sisi lain tampaknya saya harus(lagi-lagi) mengakui bahwa saya bersalah kepada istri saya yang pada beberapa hal mengabaikan kebutuhannya yang semestinya sejajar dengan saya. Dan saya harus mengakui bahwa banyak hal pada kenyataannya perempuan lebih kuat dari lelaki.

Semoga para ibu diberkahi Allah dengan kesabaran dan diberi kekuatan. Dan semoga zaman bisa berubah untuk membuat wanita dimuliakan. Laksana Nabi memuliakan istri-istrinya. (*)

Nasionalisasi, bercermin dari sejarah

Beberapa waktu ini saya agak terusik dengan istilah: nasionalisasi.
Beberapa diskusi di Internet juga sibuk ngobrol masalah nasionalisasi
seolah olah itu jawaban terhadap beberapa masalah terkait dengan
kepemilikan aset negara seperti tanah, air, udara, hasil bumi, hasil
tambang dan hasil-hasil lainnya. Dalam pikiran polos saya,
nasionalisasi berarti meminta kembali apa-apa yang sudah dijual,
disewakan, disepakati ataupun digadaikan kepada pihak asing untuk
kemudian dikelola sendiri. Banarkah itu?
Dalam wikipedia, entah siapa yang posting istilah itu, nasionalisasi berarti proses di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta
atau asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang
bertindak sebagai pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi
pegawai negeri.

Konon,
nasionalisasi menjadi mantra sakti demi mengembalikan aset indonesia
yang sudah dikuasai asing macam indosat, ladang minyak, contohnya Cepu
yang dikuasai Exxon, sumber air , di beberapa tempat yang dikuasai
Aqua. Freeport. Dan masih banyak lagi. Bisa jadi dengan begitu
Indonesia seolah main kemplang dengan ingkar terhadap semua perjanjian
yang secara sepihak ingin dilakukan peninjauan kembali, penundaan,
pembatalan atau apapun itu.

Hitung-hitungan yang ada yakni:
dibandingkan dengan embargo dan resiko larinya investor, nasionalisasi
lebih menguntungkan daripada liberalisasi. Semuanya dikelola sendiri
dan diolah sendiri daripada diolah orang lain dan kitanya cuma ampas
atau asap doang. Gampangnya, jelek-jelek biarin asalkan milik sendiri.

Entah
benar entah salah, saya lebih menakar kata nasionalisasi gaya Indonesia
dengan konsep nasionalismenya Soekarno. Saya tidak begitu paham benar
tentang beliau, tetapi Bapak saya tercinta sangat gandrung untuk
mendalami ajaran-ajaran Soekarno sehingga beberapa cerita tentan
Soekarno menjadi bahan obrolan menarik untuk kami berdua.
Bapak
menggambarkan bahwa Soekarno adalah orang yang serius untuk memikirkan
nasib Indonesia. Sejak dari Nol besar Indonesia berhasil dibawa ke
sebuah negara besar yang diperhitungkan di pentas dunia. Dalam
pandangan Soekarno tentang Indonesia, bangsa ini perlu melakukan
berdikari , berdiri di atas kaki sendiri yang berarti tidak bergantung
pada bangsa lain. Dalam sebuah pidato yang saya dapatkan dari Youtube,
Soekarno mengajak audiens memperbandingkan dalam bahasa sederhana:
apakah hidup di negeri kahyangan dalam epos ramayana dan mahabarata
(saat itu dia bercerita tentang kisah dari negerinya Mahata Gandhi)
yang serba ada, serba tersedia dan serba terpenuhi, ataukah memulai
kehidupan di alam nyata dengan penuh perjuangan. Dan ternyata pilihan
audiens dijatuhkan kepada pilihan kedua: hidup di alam nyata dengan
menghadapi kesulitan yang ada untuk kemudian menciptakan kisah sukses.

Beberapa
pihak mengkritik perilaku Soekarno yang berpesta poria untuk persoalan
politik tetapi tidak membuat rakyat menjadi sejahtera. Bahkan konon
beberapa agenda mercu suar seolah diceritakan dalam catatan pendidikan
sejarah a la Orba sebagai awal kegagalan Soekarno dalam memakmurkan
bangsa. Tetapi dari referensi lain hal itu dianggap sebagai strategi
menempatkan Indonesia di mata dunia agar masyarakat Indonesia punya
kebanggan sebagai bangsa, bahwa mereka telah memenangkan sesuatu dan
pantas diakui (sebagai jawaban atas kejenuhan yang ada). Macam strategi
Sun Tzu, bahwa prajurit yang terlalu lama berjalan dan tidak merasakan
nikmatnya kemenangan, akan lengah dan bosan, frustasi dan kemudian
disobedience, Soekarno mengadakan pertunjukan Olah Raga.

Lain
Soekarno lain pula Hatta yang secara konseptual menggagas Koperasi
sebagai sendi perekonomian dan bahkan dimasukkan dalam salah satu pasal
UUD 1945. Mungkin pada jaman sekarang istilah koperasi seolah macam
bahasa basi dan bahkan cenderung  dipolitisir sedemikian rupa.  Dalam
masa Orde Baru koperasi  dididik lebih tampak sebagai sekumpulan
manusia tanpa pekerjaan yang ditampung dalam sebuah badan dan kemudian
mereka beriur dalam iuran wajib plus sukarela untuk kemudian bekerja
bersama dan kemudian keuntungannya dalam bentuk SHU pada akhir tahun.
Sekarang Koperasi mana di Indonesia yang ideal?

Ayah
saya bercerita tentang koperasi dalam bentuk yang sederhana: "Bayangkan
seandainya saya dan teman-teman berkongsi: saya punya keterampilan
melukis, teman lain punya keterampilan menulis, yang lain lagi mengedit
komputer dan beberapa lainnya menempati posisi-posisi strategis dan
kemudian membuat kerja bersama. Keuntungan ataupun gaji dihitung
berdasarkan kontrak kerja seorang per seorang, tetapi dari keuntungan
itu kemudian dipotong untuk aset perusahaan dan setiap orang berhak
menggunakan aset tersebut setara satu sama lain. Bukankah itu
memudahkan."

Saya masih bingung:lalu  "Apa bedanya dengan perusahaan biasa dengan kepemilikan saham yang sama?"

"
Oke, begini: bayangkan jika kamu adalah petani di desa terpencil.
Beberapa petani senasib seperti kamu beriur untuk kemudian membeli
traktor dan traktor itu menjadi milik bersama."

"Kalau itu aku paham."

"
Nah, sampai di sini prinsip koperasi yang berarti kebersamaan sudah
masuk. Sekarang coba bayangkan jika kelompok petani itu teruuuuss
bekerjasama sehingga mulai dari alat semprot, penyediaan bibit,
traktor, distribusi, pupuk dan lain sebagainya secara berturut-turut
mereka adakan sendiri dan digunakan sendiri.Karena misalkan, daripada
beli pupuk orang-per orang mahal, maka mendingan beriur demi selisih
harga yang murah. Katakanlah cuma 100 rupiah per bungkus. Bayangkan
jika 100 rupiah itu dikalikan mulai dari bibit, distribusi, pemasaran,
dll bukankah itu semakin banyak margin yang terpangkas?"

"Nah,
sekarang bagaimana jika konteksnya ditingkatkan menjadi satu kabupaten,
bahkan satu provinsi, atau bahkan satu negara? Bukankah nilai tawarnya
semakin besar? katakanlah sebuah koperasi skala nasional mengelola
sekian banyak koperasi lokal demi ekspor ke luar negeri dalam
penyediaan suatu produk sehingga keuntungannya bisa dipakai demi
mendirikan sebuah perusahaan milik koperasi, katakanlah beli pabrik
traktor di jepang sana oleh koperasi petani di Indonesia. Bukankah
semakin maju petani di Indonesia?"

"Masssyaaa Allaaaaahhhh, benar juga."

Kembali
ke masalah nasionalisasi. Konon di negeri yang gemah ripah loh jinawi
ini setiap orang punya cita-cita dan idealisme. Sayangnya , terbukti
bahwa idealisme itu luntur ketika sudah berhadapan dengan uang. Maka,
nasionalisasi, kepada siapakah nantinya berpihak? Kepada petani dan
nelayan, ataukah kembali menjadi bahasa basi?

Saya
senantiasa menanti cerita-cerita indah dari Ayah saya. Dahulu, beliau
bersama teman-temannya mendirikan AKOP (Akademi Koperasi di Semarang).
Sayang, semangat mereka yang menggebu pada akhirnya tumbang karena
regulasi yang tidak berpihak kepada koperasi, serta kelihaian
kapitalisme yang menampakkan wajah murah dan riang. Semakin saya
dewasa, semakin saya mencoba menghargai sejarah. Sampai sekarang beliau
yang mengagumi Soekarno dan Hatta masih bersemangat untuk berkisah
tentang koperasi kepada siapapun yang tertarik, dan senantiasa aktif di
kampung, di tempat kerja untuk mengembangkan koperasi.

Feriawan A.N.

Membasmi Mentalitas Busuk di Civitas Academica

Tadi pagi saya ngobrol sama Pak Purwo Santoso, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIPOL UGM. Acara utamanya adalah ngobrolin masalah evaluasi kinerja kepala daerah. Tetapi itu tidak penting untuk saya kemukakan di sini. Justru Pak Purwo curhat sama saya dan teman-teman tentang apa yang menjadi kegelisahannya berkaitan dengan mentalitas mahasiswanya dan meminta saya sebagai orang Shalahuddin ataupun orang LSM Islam untuk cawe-cawe, alias follow mix, alias turut campur.
Kata Beliau, saat ini dia gusar dengan mentalitas mahasiswa berkaitan degan perilaku curang mahasiswa, baik dalam bentuk plagiatorisme, copy-paste isme dll. Untuk yang lagi kuliah di Fisipol UGM tentunya tahu kalau dia mengajar salah satu mata kuliah diantaranya Analisa Kebijakan Publik, Kebijakan Publik, dan Penelitian. Nah, ceritanya diantaranya kesibukan perkuliahan itu dia memberikan penugasan kepada mahasiswanya untuk membuat Paper dalam tema-tema tertentu.
Diantara sekian makalah yang terkumpul, sebagai dosen yang bertanggungjawab, tentunya sudah kewajiban dia untuk membaca satu demi satu isi makalah itu. Herannya, dia mendapati satu dua makalah yang kisi-kisi logikanya gak nyambung dan asal dibuat. Beberapa keyword dia catat dan kemudian memerintahkan kepada staff Fisipol bagian IT untuk searching di google berdasarkan keyword yang dia minta. Walhasil, ketahuan bahwa isi dari makalah tersebut adalah copy paste secara serampangan dan kasab mata dari keyword-keyword hasil Gogglingan tersebut.
Meskipun perilaku ngepek, nyontek, plagiat rasanya sepele di negeri penuh kebohongan, tetapi bagi beliau ini sudah mengarah pada sesuatu yang tidak sehat di kemudian hari. Terlebih, beliau mengingatkan bahwa dari awal mahasiswa masuk, khususnya pada saat Opspek, mahasiswa sudah membuat surat pernyataan yang isinya selain persoalan bebas narkoba, asusila dll juga bersedia dikeluarkan jika mendapati mereka melakukan plagiasi (benarkah? apa ya bahasa yang benar?). Lebih-lebih dalam skala makro demi kewibawaan Lulusan Fisipol UGM bagian Ilmu Pemerintahan, sepertinya sangat disayangkan jika publik mengatakan kejadian ini sebagai sesuatu yang di-wajar-kan.
Maka dengan wajah kecewa setelah menerima laporan staff IT tersebut beliau mengadukan perihal tersebut kepada Ketua Jurusan. Dari ketua Jursan, mahasiswa yang bersangkutan kemudian dipanggil dan diintrogasi: "Saya benar-benar malu jika ini benar. Tetapi jika memang benar, apa lagi yang bisa membuat saya mempertahankan Anda sebagai Mahasiswa Fisipol UGM?"
Karuan saja mahasiswa yang bersangkutan pucat pasi. Bisa dipastikan mereka akan jera mendapat skak mat seperti ini.
Kejadian tersebut membuat Pak Purwo pusing. Sebagai intelektual dan pakar dalam Ilmu Pemerintahan ataupun Otonomi Daerah beliau tentu sangat pakar, tetapi dalam hal merubah mentalitas mahasiswa, rupanya sifat kebapakan beliau membuatnya harus berfikir jernih. Kalau dalam kedokteran ada kode etik kedokteran yang diciptakan untuk dipatuhi dan menciptakan moralitas seorang dokter yang baik. Kalau di teknik dapat diarahkan moralitas demi terciptaknya profesionalisme seorang teknisian. Kalau di kehutanan ada kode etik rimbawan. Nah, kalau di Fisipol mau diciptakan kode etik atau tawaran profesi macam mana? Di Fisipol UGM yang menghasilkan birokrat, demonstran, aktifis LSM, teknokrat, ilmuwan, pustakawan, penulis, peneliti dll, mana bisa ada kode etik yang mampu menjerat mereka untuk berperilaku sesuai dengan sebuah idealisme? Begitu besarnya ruang bermain untuk manusia sospol dan begitu bebasnya sehingga terkadang nilai dan mentalitas bisa dibolak balik sedemikian rupa.
Barangkali kasus di atas bukan monopoli Fisipol UGM, atau Fakultas lain di UGM, atau juga kampus lain di Indonesia. Tetapi sebagai suatu penyakit tentunya butuh sesuatu yang bisa menangkal semua itu. Dalam pandangan beliau, kantong-kantong moralitas sudah semestinya memberikan dukungan untuk memperbaikinya, seperti kelompok keagamaan Islam (JMF di Fisipol atau di JS di tingkat Universitas) atau agama lain, organisasi ekstra, kelompok alumni dan profesi dimungkinkan untuk memberikan sumbangsihnya demi penciptaan alumni yang bukan saja cerdas secara akademis tetapi juga punya mentalitas yang tidak memalukan.
Harus Beliau akui selama ini itulah gagalnya pendidikan di Indonesia yang hanya mengajarkan dan menciptakan kaum intelektual dan pakar tetapi bukan satu paket dengan pendidikan yang bermoral. Nah, beliau butuh jawaban untuk itu.
Bisakah dimungkinkan diciptakannya lembaga pengawas (independen ataupun non-independen) yang mampu mengawasi sekian banyak tesis, desertasi dan juga makalah mahasiswa? yang kerjanya macam KPK? Secara bijak Beliau bilang bisa, tetapi toh lagi-lagi gagasan yang top down hanya akan menciptakan kepatuhan palsu. Kepatuhan yang didasarkan kepada ketakutan dan konsekuensi. Artinya, kalaupun lembaga tersebut bekerja efektif, hal itu tidak sehat demi pendewasaan mahasiswa sekarang.
Terlebih lagi, dalam era teknologi yang semua serba mudah dan bisa copy paste, tentunya akan banyak celah yang terbuka demi perilaku ini. Sehingga akan timpang jika dibentuk lembaga independen pengawas yang akan melawan kejahatan yang didukung sama google. Beda dengan dulu yang tinggal pasang intelejen di shooping center.
Yang beliau harapkan adalah iklim yang sehat dari civitas academica di Fisipol UGM. Dalam pada itu Beliau menunggu jawaban dari teman-teman. Nah, email ini bisa dikonfrontir kepada beliau untuk lebih memahami maksud beliau.
Bagaimana JS dan JMF?

Pelajaran dari Susunya Yayan

Berwacana saja tanpa melakukan aksi, sama juga bohong. Melakukan aksi tanpa wacana, sama juga buta macam ayam kesorean nabrak-nabrak mencari jalan. Untuk itulah wacana yang baik adalah wacana yang didasarkan dari pengalaman, baik pengalaman diri sendiri ataupun pengalaman orang lain. Untuk saya yang memiliki anak kecil, tidak akan mungkin ataupun tega menjejali mereka dengan kebiasaan berceloteh melulu tanpa aksi.Saya banyak itu belajar mendidik anak itu dari orang lain. Dan pelajaran terbaik adalah menjadi contoh, bukan sekedar memberi contoh. Lebih baik lagi sebagai muslim yang bertanggung jawab kepada saudaranya, segala sesuatu yang berguna sebisa mungkin dituliskan agar menjadi hikmah bagi semua.

Ketika hari anak nasional kemarin saya mendapat pelajaran menarik dari Wasingatuz Zakiyah, teman saya seprofesi. Zaki memiliki anak yang usianya terpaut setahun dengan Heaven anak saya. Namanya Abian alias Yayan.

Pagi-pagi benar Zaki membagi-bagi susu sekardus besar,Merknya sama dengan yang dikonsumsi Yayan, untuk kemudian dipindahkan ke dalam plastik-platik kecil sejumlah 5 buah. Rencananya, susu itu akan diberikan kepada tetangga kiri-kanan yang tidak mampu yang terhitung ada 5 orang. Yang memberikan tentu saja Yayan sendiri, bukan ibunya.

Mereka, tetangga itu punya anak yang menjadi teman sebaya Yayan. Yayan sendirilah yang ditanyai ibunya tentang siapa-siapa yang miskin dan perlu dibantu dengan tidak boleh berpikir apakah mereka adalah bolone (temannya )Yayan ataukah musuh. Yang penting, mereka tidak mampu, maka Yayan wajib memberikan susu untuk mereka.Habis perkara.

Apakah Zaki termasuk orang yang mampu sehingga macam sinterklas dengan serta merta membagikan susu yang di negeri ini mahalnya minta ampun? (padahal kualitasnya dipertanyakan) Tentu tidak. Dari sisi gaji dan ekonomi saya kira bisa dihitug bahwa dia masih kategori kelas menengah. Akan tetapi untuk mengajarkan budi pekerti kepada anak, biaya segitu adalah ongkos paling murah daripada melihat anaknya di kemudian hari tidak memiliki nurani dan hanya bisa berwacana.
Singkat cerita Yayan sudah melakukan tugasnya, mendatangi tetangga-tetanggany a dan memberikan susu. Pulang-pulang dia masih membawa sebungkus susu dari lima bungkus yang mestinya habis.

Zaki: "Bagaimana tadi, Yan?"
Yayan: "Udah semua, Bu. Cuma yayan heran."
Zaki : "Heran kenapa, Sayang?"
Yayan :"Itu. Kenapa semua Ibu yang dikasih susu sama yayan berterima kasih tetapi malah menangis? Seharusnya kan mereka senang. Itu kok nangis?
Zaki : "Ooh. Orang menangis itu Yan, tidak selalu bersedih. Ada saatnya menangis itu bahagia."
Yayan : "Oo.Bahagia. "
Zaki : "Iya. Bahagia karena ada anak yang baik seperti Yayan."

Yayan tersenyum. Saya yakin Yayan saat itu telah belajar satu hal. Bahwa dia bisa membahagiakan orang lain, dan bahagia tidak selalu ditunjukkan dengan tertawa. bagi ibu-ibu yang bertemu yayan, paling tidak mereka mendapatkan dua hal yang membahagiakan: pertama, karena mendapat susu gratis yang bagi mereka tidak terjangkau (demi nutrisi anaknya), dan kedua, karena yang memberikannya adalah seorang anak yang dicoba dididik orangtuanya dengan baik.

Zaki:"Yan, lalu yang sebungkus ini kok masih dibawa pulang. Memangnya Yayan tidak bertemu ibu X?"
Yayan: "Ketemu…"
Zaki: "Lalu?"
Yayan:" Ibu itu juga menangis, bilang terima kasih. Tetapi tidak bisa menerima susu ini."
Zaki : "OOh, ya sudah. sekarang ayo sama Ibu ke tempat ibu X."

Berdua Zaki dan Yayan ke tempat ibu X tersebut.

Zaki :"Ibu, mengapa kok ibu tidak menerima susu pemberian Yayan? Apakah susunya tidak cocok?"
Ibu X: "Alhamdulillah. Tentu saja susunya cocok. Sebenarnya begini, Mbak. Bukan maksud kami untuk mengecewakan Mbak dan Yayan yang baik ini untuk memberi kami susu. Saya yakin niat Mbak zaki dan Yayan ini mulia. Kami terharu. Tetapi Mbak, mohon dimengerti bahwa ekonomi kami adalah pas-pasan. Kami bukan jual mahal. Saya yakin anak-anak saya akan bahagia dan senang jika hari ini mereka minum susu. Terutama si kecil yang ada dalam gendongan saya. AKan tetapi mohon mbak mengerti bahwa susu formula ini bisa membuat anak-anak saya ketergantungan. Mungkin hari ini mereka bisa makan susu enak. Tetapi bagaimana jika hari-hari ke depan mereka memintanya lagi? Uang dari manakah yang bisa dipakai untuk kebutuhan ini? saya tidak bisa membayangkan jika mereka besok menangis dan meminta untuk minum susu lagi."

Zaki tercenung. Dia baru sadar bahwa punya niat untuk memberi saja tidaklah cukup tanpa mempertimbangkan secara strategis pada objek yang hendak diberinya. Inilah pelajaran terbaik untuk dia pada hari anak nasional.

Ibu X: "Begini saja, Mbak. Saya tahu bahwa Mbak sedang mengajarkan sesuatu yang baik untuk Yayan. Nah, kalau tidak keberatan, ganti saja susu ini dengan bahan pokok yang lain seperti beras, minyak ataupun kacang hijau. Kami akan senang menerimanya. "

Dan hari itu begitu indah. Cerita ini diceritakan kepada saya dan menjadi hikmah untuk saya sekeluarga.

Wassalam
(Feriawan)

Tangis Pasar Tradisional: Masihkan ada Pengumuman RRI tentang Harga sayur mayur mulai dari Cabe Kriting, Wortel Tanpa Daun, Kentang Mutu ABC dll?

Ketika saya melakukan penelitian tentang perijinan di daerah Kulon Progo, saat itu saya lebih sering ngendon di Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) Kulon Progo (dekat terminal) dan bersenda gurau dengan pegawai negeri yang bertugas di sana.

Ada sesuatu yang menarik manakala saya memasuki pasar di Kulon Progo. Saya lupa namanya pasar apa. Yang pasti pedagang di sana mengeluhkan betapa pasar tradisional sekalipun murah tarif sewanya per lima tahun, tanpa pajak perijinan (sudah dihitung via sewa kios) tetapi terus didera masalah, khususnya masalah sepinya pembeli. Padahal dari sisi harga mereka sudah demikian kompetitif. Tetapi dalam pandangan mereka selalu saja kalah melawan tentakel globalisasi dalam bentuk supermarket, mega mall, hypermart dan minimarket yang mulai merambah sampai dengan tingkat kecamatan. Ada beberapa alasan yang mereka sinyalir sebagai biang yang mengancam kelangsungan hidup pedagang pasar tradisional:

Pertama, adalah kekuatan harga dari tentakel global yang tadi saya sebutkan. dengan kualitas yang relatif terjamin, bahkan seolah direct distribution, maka dari hypermart sampai dengan mini market bisa meng-update barang, harga sampai dengan model pelayanan dan penyajian yang lebih cepat dari pedagang pasar.

Kedua, kebiasaan berbelanja yang bergeser dari model tradisional dengan budaya ngobrol, tawar menawar, dan pilih-pilih barang menjadi kebiasaan swalayan. betapa tidak nyaman berada di Pasar Modern? Ruangan ber-AC(rata-rata), tidak perlu lagi tanya-tanya kualitas barang, langsung pilih sendiri dan bayar, selesai. Bayangkan jika berada di pasar tradisional yang kadang harga tidak standard, mutu barang kadang tidak terjamin dll.

Ketiga, adalah kekuatan media yang membackup pasar modern. Iklan televisi seolah mencuci otak manusia Indonesia untuk senantiasa mendapatkan barang di Pasar Modern. Bahkan sampai dengan black campaign mengenai penjualan barang kadaluarsa, barang palsu, daging glonggong dan rupa-rupa yang arahnya semakin memojokkan pasar tradisional.

Tentunya, masih bisa kita cari sebab musabab yang lain yang mencerminkan betapa efek dari globalisasi ataupun neoliberalisme begitu jahat dalam menyejahterakan masyarakat. Sayangnya, pemerintahan di berbagai daerah seolah menutup mata terhadap pertarungan yang tidak imbang ini. Saya tidak tahu apakah di RRI masih ada berita tentang harga kebutuhan tentang Cabe Kriting, Wortel Tanpa Daun, Kentang Mutu ABC dll?

Adalah Permendagri No. 42 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pasar Desa  yang, semoga saja, membawa dampak yang basi bagi pengembangan pasar tradisional di pedesaan. Dalam permendagri itu dijelaskan bahwa Depdagri menginstruksikan kepada Pemerintah Daerah untuk lebih melindungi pasar desa. Sayangnya dari isi perjanjian itu dalam pandangan saya masih terdapat banyak kelemahan berkaitan dengan model perlindungannya ketika berhadapan dengan pasar modern (lihat Bab VI perihal perlindungan) dengan tidak adanya sanksi bagi pelanggar dan lebih bersifat etis daripada hukum.

Apakah manfaat pasar Modern bagi usaha kecil dibandingkan dengan Pasar tradisional? Nyaris di setiap pasar tradisional kita dapat menemukan pengamen, tukang jual racun tikus, tambal panci, kuli usung, sol sepatu, pedagang sayur dan usaha skala kecil lainnya yang bisa ditampung dan dihidupi. Dimana semua itu ketika pasar modern merampas para pembeli? Sayangnya dalam hukum kapitalisme, pembeli adalah raja yang berhak memilih kepada siapa mereka mesti melemparkan rupiahnya, tanpa paksaan dan tidak bisa diwajibkan dengan undang-undang sekalipun! Barangkali hanya keimanan saja yang memaksa saya untuk mewajibkan membelanjakan rupiah saya sebagian besar ke pasar tradisional. Baru kemudian ke pasar modern demi sabun, odol, minyak rambut dan beberapa kebutuhan lainnya yang tidak mungkin ditemui di pasar tradisional.

Benarkah bahwa pasar modern selalu terjamin? Saya kok sangsi. Dari pola persebaran beberapa minimarket macam i***mart dan a***mart saya mendapat isu bahwa mereka ini sebenarnya adalah kepanjangan tangan dari hipermart di kota-kota. Modusnya adalah modus cuci gudang. Daripada hypermart di kota mengobral barang atau menjual murah (tapi tidak terjamin) barang-barang nyaris kadaluarsa, mereka melemparnya dengan membangun minimarket di tiap kecamatan. Dilihat dari ongkos distribusi, keuntungan dan resikonya, cara ini jelas lebih mendatangkan rupiah daripada menelan kerugian ketika barang tertimbun di gudang, diobral ataupun diwakafkan. Maka, hati=hati belanja di minimarket dengan senantiasa melihat tanggal kadaluarsa.

Terakhir, saya sungguh berterimakasih kepada pasar tradisional atas beberapa kisah indah dengan tempat ini. Ada satu yang masih saya ingat. Ketika sepatu saya jebol, demi tetap bisa kuliah di Fisipol saya mesti ke pasar dan mengesol sepatu (kira-kira butuh rupiah 5000an). Demi menghemat dan demi menjalani laku prihatin layaknya Nabi SAW, saya tidak belanjakan uang itu demi jasa sol sepatu, tetapi saya rencanakan untuk beli peralatan sol sepatu sendiri dan mengesolnya sendiri. Paling butuh alat sol yang berbentuk tusukan macam obeng dengan ujung runcing dan ada lekukan dikit untuk ruang benang (alah..panjangnya, apa sih namanya?), benang string coklat dan hitam, lalu alat pengiris sol yang biasa dibuat dari payung untuk mengiris dan membuat rel sol. Bersepeda saya kepasar Umbulharjo demi mencari barang itu dan sulitnya minta ampun. Untunglah di bawah jembatan dekat masjid saya ketemu Mbah Jiyah (semoga masih sugeng) yang jualan kebutuhan sol sederhana ini di sana. Bukan hanya barang yang saya maksudkan bisa saya dapatkan, saya juga dapat minum gratis, cerita geratis dan undangan gratis untuk silaturahim ke rumahnya. Dia sangat simpati karena masih ada manusia unik, mahasiswa, macam saya yang rela ngontel dan sinau untuk ngesol sepatu. Ya saya jawab saja: alah mbah….wong cuma keadaan. 😛

Sekian dan terima kasih….

Permendagri No 300 tahun 2008: Cadangan Pangan Pemerintah desa–Mirip Baitul Maal

Periksa: Permendagri no 30 tahun 2008 tentang Cadangan Pangan Pemdes

Konon, dalam rangka mengatasi krisis pangan di pedesaan di indonesia
yang notabene banyak miskinnya, maka sejak 16 Juni 2008 kemaren Pak Mardiyanto, Mendagri, mengeluarkan peraturan menteri yang isinya agar masyarakat desa membuat Cadangan Pangan Pemerintah desa.

Apakah gerangan CPPD (Cadangan Pangan Pemerintah Desa) itu? Dari attach yang bisa teman-teman liat pada intinya pemeritnah desa akan mengalokasikan cadandan pangan dari perolehan Zakat Pertanian
dan 2,5 persen keuntungan BUMDes (Dulu BUUD dan KUD) untuk kaum Dhuafa.
Pengelolanya adalah Unit Usaha Pangan Desa yang kemudian menjadi Sub
dari BUMDes.

Ada kemiripan antara konsepsi pemerintah di desa
ini dengan konsep BAZIS ataupun Baitul Maal. walaupun skupnya masih
dari desa dan untuk desa (meskipun diijinkan UUPD mengadakan
perdagangan dalam rangka pencarian keuntungan demi perkembangan
lumbung  CPPD), tampaknya model ekonomi Islam sudah secara lambat laun
diminati untuk digalakkan.

Untuk
desa saya di Borobudur(tepatnya desa Istri saya, karena saya asalnya
dari kota), rupanya kabar ini belum memasyarakat. Asal tahu saja
konteks pemerintahan desa tidaklah sesempurna pemerintahan kota yang
serba administratif dan serba standard. Kepala desa kadang seminggu
sekali ngantor, kadang juga gak bisa bikin proposal ataupun ngembangin
desa, sekretaris yang kerjanya lambaat karena sibuk mikir bisnis
pribadi. Untuk itulah tampaknya butuh pengawasan demi kesejahteraan
masyarakat desa kita. Saya kira nilainya sama dengan jihad fisabilillah

Itu
saja, maaf kalau tidak menarik. Saya akan maklum jika mahasiswa memang
taunya hanya teori (itu pun sedikit) karena dikejar lulus, eeh..giliran
lulus juga berebut kerja dan tak tahu mesti berbuat apa di daerah,
giliran kerja ya gak sempat mikir kiri kanan karena sibuk cari orderan.
Do U?

Wassalam
Feriawan

Pangkas Jaringan: satu harddisk dengan multi user, atau satu CPU multi user

Suatu ketika saya share pengalaman dengan seseorang sahabat. Intinya
bagaimana komputer di komunitas saya bisa efisien. Di komunitas saya
ada tiga komputer dengan spec yang berbeda dan ingin saya satukan
dengan jaringan. Jawaban dia unik. Kalau pakai cara konvensional,
paling di-LAN

menggunakan kabel RJ-45. Cara pertama: dibikin
sistem bridge dengan konsekuensi satu komputer menggunakan 2 colokan
ethernet dan yang lain pakai satu colokan ethernet, atau cara ke2:
pakai hub yang menjadi moderator lalu lintas data antar komputer.

Kalau pakai cara
konvensional model di atas sih, semua orang juga sudah tahu. Tapi kan
tetep aja boros listrik dan cuma memetik keuntungan dari share folder.
Sementara kinerjanya bergantung pada spec komputer masing masing. Yang
di share juga cuma data doang.

Dia kasih alternatif: Mau satu harddisk dengan multi user, atau satu CPU multi user. Nah, kalau ini unik.

Emang bisa? Ternyata bisa lhooooo.

Satu harddisk dengan multi user.

Cara
ini dimaksudkan untuk mengefektifkan cakupan software dan OS yang ada
di satu komputer. Intinya begini: Misalkan ada tiga unit komputer, maka
tiga unit itu dihubungkan dengan jaringan LAN.

Bedanya dengan LAN konvensional, dua unit komputer lain itu nggak ada harddisknya blas. Jadi
cuma Mobo lengkap dengan RAM, LAN, VGA card dan perangkat lain . Nah,
cukup dengan software PC clone atau Windows fundamental edition, hal
itu memungkinkan. Untuk linux pakai Linux
LTSP yang support juga untuk mengkloning OS windows macam Windows Legacy Fundamental Edition. Penjelasan lain
belum bisa saya sampaikan di sini, butuh workshop. Anda boleh ngajak
saya untuk praktek bareng-bareng.

Satu CPU untuk multi User
Ini
yang mungkin gila bagi yang bukan aktivis. Karena dengan satu CPU bisa
dipakai sampai 5 atau lebih manusia. Artinya begini: ada 5 orang dengan
monitor berbeda dan keyboard, mouse berbeda sedang menjalankan aplikasi
berbeda dengan hanya 1 CPU: katakanlah orang pertama ngetik office,
orang kedua nggambar, orang ketiga nge-game, orang ke empat goggling
dan orang kelima chatting.

Alat yang dibutuhkan sederhana:
dari 1 CPU itu ditambahkan 4 VGA ( bisa semua untuk slot PCI atau salah
satunya di slot AGP sementara server masih nginduk VGA onboard ). Terus
untuk keyboard-mouse nya cukup pakai hub USB yang, pokoknya, support 8
colokan. Karena 8 colokan itu akan ditancepi 4 colokan keyboard USB dan
4 colokan keyboard Mouse. APlikasinya, kalo windows pake BeTwin atau
PC2Gether sementara linux tinggal utak-atik Xorg.conf aja.

Nah,
dengan gini saya bisa buat rental komputer, lab komputer, atau apapun,
dengan 1 CPU dan cukup beli 4 VGA card, 4 monitor keyboard-USb dan
Mouse USB, dengan serasa memiliki unit 5 komputer.

Selesai….

Camfrog, apalagi ini?

Jauh hari setelah UUIT dikeluarkan ada secercah harapan bahwa hal itu
akan mendasari aksi penyelamatan moral bangsa dan moral umat dari
licinnya pornografi mempermak diri untuk hadir secara privat di ruang
publik. Tetapi saya sampai sekarang ragu, what’s next….?

Adalah
media pornoaksi baru yang saat ini mengagetkan saya saat menginstalnya.
Namanya camfrog. Tentunya anda kenal dengan YM kan? Nah, sederhananya,
camfrog itu sama dengan YM. Apa yang membedakan? Kalau YM berisi
obrolan chatting dan sesekali boleh kirim file dan suara, tetapi
camfrog yang download-an masternya cuma 7M ini dikhususkan untuk media
saling ber-webcam ria. Pamer wajah, pamer isi ruang kamar. Pokoknya
ajang liat muka orang lah…

Registrasinya
cukup mudah, ketika pertama kali di install anda cukup ditanyai
nickname, password, email dan tanggal lahir. Pendek kata gak njelimet.
Setelah itu anda bisa langsung login.

Begitu login anda akan dihadapkan pada pilihan room yang dikategorikan berdasarkan daerah (Asia, Thailand,
UK dan Eropa dan beberapa lainnya). Tiap daerah akan ada beberapa room
dan kita diijinkan untuk masuk room tersebut. Bagi anda yagn tdk
tersedia webcam jangan khawatir karena sebagian besar room mengijinkan
mereka yang tdk berwebcam untuk masuk. Nah, setelah masuk anda bisa
nge-klik siapa-siapa yang lagi online dan lagi nge-webcam.

APa istimewanya? berbeda dengan webcamnya yahoo,
dengan camrfrog ini anda akan mendapatkan transfer streaming video
dengan kualitas gambar 5x lebih bagus dari webcamYMnya yahoo. Jadi,
video orang itu mulus terstreaming dan tidak seperti gerakan
patah-patah. demikian juga suara DJ yang mengendalikan musik untuk
menghidupakan suasana.

Sudah?lalu apa menariknya.

Ternyata
ada yang lebih gila. Jika pada list room anda off-kan family filter
anda akan mendapati penggolongan room yang semula tdk ada: 18+. Di menu
18+ itu dengan mudah kita akan menemukan ruang-ruang dengan percakapan
jorok, manusia-manusia yang lagi showcam dan berbagai bentuk
kemaksiatan dunia maya. Bayangkan: kalau yang dikenal dulu pornografi
adalah CD BF, kemudian ada generasi 3gp camera dari HP yang banyak
disalahgunakan, nah, sekaran gini camfrog (sepertinya) adalah media
bagaimana kita melihat kemaksiatan LIVE, saat itu juga, sekarang juga.
SIARAN LANGSUNG !!!.

Jangan pikir bahwa para pesakitan
eksibisionis dan voyeuris itu hanyalah orang-orang asing. yang dari
Indonesia juga banyak bro!! Setan. Pakai namanya juga
aneh-aneh: Gamania, Mbok Darmi dll.

Walaupun demikian, ada juga sih yang mencoba untuk menarik ke arah Islami yakni room Camfrog Muslim Indonesia.

Nah,
teman-teman. Saya khawatir bahwa kemaksiatan bentuk baru ini akan cepat
melesat dan nge-trend. Ada yang tau bagaimana menangkalnya? Thx

Wassalam..