Kucing Garong

Aku tahu kamu sangat membenciku. Seekor kucing buduk dengan badan penuh luka, warna bulu tidak jelas, dan mencari kesempatan untuk mencuri lauk di sela-sela pasar dan perumahan manusia. Jalanku sempoyongan dan suaraku parau. Setiap aku bertemu kamu, mataku sangat tidak suka dan segera berlari secepatnya. Sesekali aku melihatmu dan bersumpah serapah dengan suara serakku. Pastilah kamu sangat tidak suka padaku.

Tapi dengar dulu, manusia sialan. Ini penting! Hari ini aku ceritakan tentang takdirku padamu supaya kamu tahu dan bersiap diri. Kalau tidak, kamu akan menyesal!

Tidak jelas kapan aku lahir. Semasa kecil aku terbuang begitu saja di pinggir jalan. Saat itu, mataku masih kabur dan hanya mengeong untuk mencari adakah indukku di sekitarku. Seorang anak kecil memungutku dari pinggir jalan dan membawaku dengan sebuah kendaraan. Pada saatnya aku tahu kalau kendaraan itu adalah sepeda mini.

Aku dibersihkan, diberi susu dan dirawatnya dengan baik. Sudah takdirku bahwa aku menjadi binatang rumahan dan disayang manusia. Aku menikmatinya.

Ada yang tidak sedap kudengar ketika beberapa diantara mereka, manusia-manusia selain anak kecil tadi, menyebut-nyebut kelaminku. Aku betina. Menurut mereka pada saatnya nanti aku harus diusir dari rumah dan tidak lagi menjadi beban. Si anak kecil hanya mengangguk. Aku tidak paham kata-kata mereka, aku tidak ambil perduli karena aku tidak bisa berpikir. Tapi aku punya perasaan yang memang merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman.

Lalu. Aku besar, dari kucing kecil menjadi kucing remaja yang suka mejeng di depan rumah, menanti kucing-kucing jantan yang berseliweran dan mengeong-ngeong mengagumiku. Aku Cuma jilat-jilat tubuh dan berhias, biar mereka ngiler. Sampai, suatu saat ada diantara mereka yang nekat ingin menggauliku. Aku lari masuk rumah. Dan saat itu, entah manusia siapa yang melakukannya, si jantan terkena benda keras di kepalanya sehingga dia mengaduh kesakitan. Mengumpat sekenanya.

Namun keperawananku sebagai kucing betina yang anggun tidak lama. Saat rumah tertutup dan ada kesempatan, si jantan jelek itu mengejarku sampai aku lelah dan memperkosaku. Kami sempat berlairan dari atap ke atap, melompati pagar, melintasi tiang jemuran, terguling dari atap, tercebur masuk got dan kemudian tertatih-tatih di rerumputan, dan terjadilah peristiwa itu. Suara ribut sangat keras, tetapi apa dayaku karena tenaganya sangat besar. Sebagai binatang, sungguh hina dia, tidak terhormat. Tapi mau mengadu sama siapa? Bukankah binatang tidak memiliki hukum kecuali yang kuat mengalahkan yang lemah. Aku betina. Aku lemah. Aku tidak berdaya.

Sampai suatu hari perutku menggembung dan mengeras. Aku akan menjadi seorang ibu. Mulailah kudengar keributan diantara manusia-manusia yang memeliharaku. Aku tidak tahu apa yang mereka perdebatkan. Tapi dari beberapa mata mereka aku tahu kalau ada yang membenciku dan khawatir kalau aku akan lebih menyusahkan mereka. Akhirnya ada suatu kesepakatan yang aku tidak tahu. Sepertinya kesepakatan itu menyangkut aku dan membawa-bawa namaku. Tetapi mengapa aku tidak diikutkan dalam pembicaraan mereka? Ah pikiran tolol! Bukankah aku binatang. Mana ada binatang dilibatkan dalam pembicaraan manusia? Bisa gila dunia.

Sampai beberapa bulan, lahirlah anak-anakku yang kucintai. Sebagai induk betina, aku tidak terlalu berpikir siapa bapak anak-anakku, perluku hanya membesarkan mereka. Memberi mereka susu dengan payudaraku yang membesar, membersihkan mereka, menciumi mereka dengan kasih sayang. Kugendong dari satu tempat ke tempat yang lebih aman. Aku bahagia menjadi seorang induk. Karena paling tidak ada yang mencintaiku: anak-anakku.

Semakin besar mereka dan susuku sudah tidak terlalu lancar mengalir, anak-anakku serakah menghabiskan jatah makananku. Sampai keributan di rumah terdengar lagi karena aku selalu mengeong meminta jatah tambahan. Karena jatah tambahan tiada diberikan, maka aku berburu tikus, ular, cicak di luar rumah. Orang rumah seperti gila karena aku membawa bangkai setiap hari ke rumah. Terkadang aku ditendang dan bangkai itu dilempar ke luar. Sungguh mereka manusia yang tidak mengerti: susah payah aku mendapatkan makanan demi anak-anakku, seperti itu cara mereka memperlakukanku.

Sampai suatu hari dimana aku mesti mencari umpan lagi. Aku keluar dan memperoleh bangkai cicak. Tetapi ketika sampai rumah kudapati anak-anakku sudah tidak ada lagi di tempat. Rupanya manusia-manusia itu membuang mereka di suatu tempat. Mereka, anak-anakku yang belum bisa hidup sendiri telah mereka buang. Apa salah mereka?

Aku keluar, mengeong ke sana kemari. Kutanya setiap kucing yang kutemui di jalan. Tapi diantara mereka tidak mengetahuinya. Hanya dari cerita mereka aku mendapat kesimpulan: pertama, manusia tidak menyukai kucing betina karena kucing betina selalu beranak dan menimbulkan beban bagi mereka, kemudian, ketika anak-anak kucing lahir, sebagaimana anakku, ada yang dibuang begitu saja di pasar, ada yang ditenggelamkan di sungai, dimasukkan karung dan diberi beban batu sehingga mati di dasar sungai. Sungguh terkutuk!

Mulai saat itu aku sudah sangat muak dengan tuanku. Kuputuskan adalah untuk mencari anakku sekuatku. Tetapi ternyata, sebagai kucing betina kehidupanku di jalanan tidak lebih baik. Aku harus selalu siap jika ada anjing yang mengejarku, ataupun kucing betina lain yang menghardikku dan lain sebagainya. Sudah berapa kali aku diperkosa kucing jantan di jalanan. Wajahku kini menjadi hancur, bulu-buluku rontok dan berpenyakit, kulitku di beberapa bagian sudah terkelupas, tersayat, bekas cakaran di sana-sini, jalanku tidak lagi kuat.

Hah..kalaupun sekarang sebagai manusia kamu kasihan dan meneteskan air mata melihatku, tahu apa kamu! Manusia macam kamu yang katanya mengagungkan cinta, bertuhan dan lain sebagainya tidak pernah menoleh kepadaku. Mereka melihat binatang kucing sepertiku hanya karena yang tampak dari luar: bulu yang indah, manja, bersih dan lain sebagainya. Sementara aku yang sampai saat ini bersumpah tidak akan berhenti mencari anakku, harus menerima siraman air, lemparang enthong, tendangan dan pentungan demi mempertahankan nyawaku untuk mencari anak-anakku. Tahu apa kamu tentang itu?

Sampai saat aku terlindas oleh kendaraanmu, aku tidak pernah lagi tahu dimana anakku. Bangkaiku tergeletak begitu saja, dikoyak-koyak oleh lalat jalanan dan kemudian matahari dan panasnya aspal mengeringkan darah-darahku. Aku percaya keadilan akan datang dan aku akan mengadu serta membalaskan nasibku. Tunggu saja! Di jalan pinggir pasar ini kesaksianku akan berbicara.

Karanganyar, 13 Oktober 2004

Catatan Penulis: Cerpen ini sudah lama saya buat, jauh sebelum Trio Macan ataupun Dede mempopulerkan lagu dangdut dengan judul yang sama. Sebelumnya sempat mejeng di blog saya yang lama.Saya tampilkan, karena pas hari Kartini kemarin tidak sempat menuliskan satu karya-pun terkait tentang perempuan dan gender. Dulunya, cerpen ini lahir sehabis membaca buku Perempuan di Titik Nol, Nawal el Sadawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s