Atas Nama Masa Lalu

1606538_10202391909612405_346328181_o 

Pintu gerbang hitam berkarat agak susah didorong. Suara berdecit saat Agung berusaha membukanya. Bersama Savira, mereka berdua melangkah memasuki halaman sebuah bangunan tua yang sebagian besar sudah menjadi puing-puing itu. Tak ada yang berbeda bentuknya dibandingkan dengan gambaran yang ada di kepala mereka sekian puluh tahun lalu. Lokasi yang sama-sama mereka hafal. Bedanya. Kalau dulu mereka harus bersusah payah menjangkaunya. Sekarang sudah terbantu karena sudah ada jalan yang relatif baik sehingga mobil Agung bisa diparkir tak kurang dari 100 meter dari lokasi mereka berada sekarang.  Tetapi, Savira tidak menduga bahwa sekarang tempat itu sudah dipenuhi bunga-bunga indah, yang walaupun tak terlalu nampak dalam cahaya senja, kecuali berhiaskan cahaya lampion-lampion kecil. Agung mendahului melangkah menuju suatu tempat, membiarkan Savira yang terhenti sejenak di depan pintu gerbang.

Savira melangkahkan kaki perlahan. Sangat perlahan. Matanya dan mulutnya masih ternganga menyaksikan apa yang ada di depannya. Dia tidak sedang bermimpi. Halaman sebuah bangunan kuno yang dulunya sangat dia kenal tak lebih dari puing-puing, kini berhiaskan taman dan bunga-bunga yang indah. Bermandikan cahaya lampion yang memancarkan sinar temaram. Tak ada musik yang indah, kecuali semilir angin yang semeribit menyibak jilbabnya, tetapi itu

terlalu cukup untuk mendendangkan perasaanya. Sangat sepadan dengan cahaya langit selepas magrib, masih menyisakan semburat merah di ufuk barat, bertemu dengan cakrawala bersama dengan ombak yang bergulung pelan. Ini benar-benar di luar dugaanya.

Satu meja di hadapannya, satu lelaki dihadapannya. Menawarkan tempat duduh baginya. Meja tanpa taplak, hanya satu piring dengan dua jagung bakar dan dua gelas wedang jahe. Sebuah kertas tertulis jelas: “sebuah janji untuk istriku”. Agung, lelaki itu, dengan senyum menawan, tanpa sepatah kata, menawarkannya untuk duduk. Berlanjut pada suasana yang susah untuk digambarkan, kecuali dirasakan dengan hati yang penuh dengan perasaan indah. Makan malam a la Agung Kurniwan-Savira. Dia merasa diperlakukan bak seorang permaisuri. Sebentar kemudian mereka menikmati makan malam bersama.

“Kau benar-benar menepati janji itu, Gung.”

“Ssst… Sudah selesai makan jagungnya?”

Savira tertawa lirih. Matanya tajam tetapi teduh untuk menunjukkan rasa puasnya pada lelaki di hadapannya.

“Apa Gung? Kamu sudah memberiku banyak kejutan. Apa lagi?”

Agung memberikan seutas tali pada Savira.

“Ini”

“Apa ini?”

“Tarik”, kata Agung.

“Tarik?” Savira tak mengerti.

“Ya..”, balas Agung.

Savira mengikuti. Sesuatu yang rada misterius. Apa yang terjadi sesudahnya? Begitu ditarik, ternyata satu demi satu lampion yang menjadi penerang kegelapan di halaman itu terbang, melayang ke udara bebas. Cahaya-cahaya redup itu terangkat ke langit.  Melayang menuju bintang-bintang yang berkedipan. Sekian menit mereka menikmati lampion-lampion terbang, melayang sampai tertinggal cahaya kecil.

Savira tak tahu harus dengan cara apa dia mengungkapkan perasaannya saat ini kepada Agung. Seperti menangis,seperti tersenyum, seperti menggeleng, semua campur jadi satu. Agung sendiri sama sekali tak meminta Savira untuk bereaksi apapun. Dia tahu bahwa dia sudah melakukan sesuatu yang berarti untuk perempuan di hadapannya itu.

Sekali lagi, mereka sangat paham tempat itu. Tempat yang tak mungkin terlupakan sejak mereka awal bertemu dulu. Ketika awal Savira menjadi mahasiswa baru.

***

ORIENTASI MAHASISWA BARU FAKULTAS PSIKOLOGI UNANSA (UNIVERSITAS NASIONAL NUSA BANGSA).

LOKASI: HUTAN WANAGITA

Kaki Savira sudah terlalu letih. Kesal campur panik. Tidak menyangka bahwa dia akan terpisah dari teman-temannya dalam orientasi kampus yang bernuansa outbond di hutan terbuka ini. Tak membawa bekal. Tak berpikir bahwa akan selama ini dia terjebak di dalam hutan. Tadinya, dia pikir, dengan mendahului start berangkat lebih pagi dari peserta lain dalam mencari jejak, dia akan menyelesaikan tugas dari panitia dengan mudah. Tak disangka dia malah kehilangan jejak. Untuk kembali ke camp dia tak tahu, apalagi untuk menemukan route yang harus dia lalui.  Sudah terlalu banyak sumpah serapah yang dia ucapkan. Cuma duduk menanti di sebuah batu. Pepohonan terlalu tinggi untuk dikenali, dan cahaya matahari yang tertutup awan kelabu sudah terlalu sulit untuk ditebak. Menunggu sampai capeknya hilang, dan mungkin keberuntungan akan berpihak kepadanya.

“Ngapain kamu di sini?”

Deggg…suara yang tak terlalu keras, tetapi cukup mengagetkan. Savira terperangah. Seorang anak muda, lengkap dengan aksesoris penjelajahan, lengkap dengan ransel gunung. Sedikit agak tenang karena dia di situ tidak sendiri, tetapi keterkejutannya seolah tidak ingin memberi permakluman pada cara lelaki itu memulai pembicaraan.  Ada sebuah co card yang dikenali Savira: Panitia Orientasi.

“Kira-kira dong kalo nyapa, Kak. Pake salam dulu kek..copot jantung nih,” kata Savira.

Yang diajak ngomong diam aja.

“Tersesat.  Gak tau cara balik ke camp”, jawab Savira.

“Oh. Ya udah. Sungai di belakang sana. Ikuti aja kali-kali bisa ketemu kampung,” jawab si Panitia.

Hah? Gitu aja? Sebuah reaksi yang tidak disangka oleh Savira. Lho bukankah seorang panitia seharusnya malah mengantar dia? Bukannya barangkali dia disuruh panitia lainnya untuk mencarinya? Lha ini kok malah cuek gitu dan meu ngeloyor gitu aja.

“Lho. Hei Tunggu. Kamu mau ke mana?” tanya Savira.

“Menyesatkan diri..”

Hah? Menyesatkan diri? Waduh. Orang aneh ini. Jelas sekali dia memakai co card panitia. Ini bukannya ngebantu peserta yang tersesat buat balik ke camp, tetapi malah membiarkannya.

Agung Kurniawan. Tertulis di co-card. Diamatinya laki-laki itu dalam-dalam. Otaknya berputar. Analisis personal mode on. Yang positif: Wajah serius. Terlalu serius kesannya. Eh, itu entah positif entah negatif. Perawakan sih oke. Sedang dan otot relatif berisi gaya anak petualang. Tipe pencari. Kulit coklat dan nampak terbiasa berpeluh. Pakaian dan aksesoris tidak terlalu menonjol. Tipe orang yang tidak terlalu mementingkan perhatian lingkungan. Tidak ada kesan anak rumahan atau tampang boys band. Tetapi di sisi negatif:  Tidak ada gambaran orang yang open dalam pembicaraan. Pribadi sulit. Cuek. Cenderung angkuh. Tidak sabaran. Temperamental.

“Sudah. Aku pergi dulu.”

“Eit tunggu…jadi kamu tersesat juga?”

“Menyesatkan diri. Artinya aku tidak pengen balik ke camp. Sebentar lagi sore. Kalau tidak  ingin terjebak gelap sebaiknya kamu cepat pergi dari sini. Hutan kalau malam banyak ular.

“Wow..ular?

Seperti tidak sabaran, Agung melangkah menjauhi Savira. Langkahnya begitu cepat. Savira seolah dipaksa ikut Agung daripada memilih mencari jalan pulang sendiri.

“Duuh, memangnya mau ke mana sih? Kamu tega banget ya. Udah tau aku cewek tersesat di hutan. Bukannya mikir gimana caranya nolong malah ketus gitu.

“Ya kalau mau tau ya ikut aja”

Tak ada pilihan buat Savira kecuali ikut Agung. Dia serba tidak siap untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan kebiasaanya sendirian di hutan. Paling tidak dia tahu bahwa lelaki ini adalah salah seorang panitia, sehingga dia bisa beralasan jika nantinya ditegur oleh panitia lainnya.

***

Sepanjang perjalanan terjadilah dialog yang datar-datar. Savira terus memulai pembicaraan yang lengkap dengan keluh kesah keadaan, dan Agung yang menjawab datar-datar saja. Kadang Cuma satu dua kata. Dimulai dari perkenalan, sampai dengan menggugat arah tujuan mereka. Sempat beberapa kali Savira harus mempercepat langkah karena Agung seolah tidak peduli savira tertinggal jauh ataukah beriringan dengannya.

Sampai akhirnya pada satu tempat yang relatif datar, Agung mengajak Savira istirahat sejenak. Ranselnya diturunkan dan diberikannya sepotong roti dan segelas plastik air mineral pada Savira. Sehabis makan, sepertinya Savira harus merevisi beberapa analisis awalnya tentang Agung Kurniawan. Ternyata, jika sudah dekat, pribadi ini bisa hangat juga. Mungkin seperti mesin disel, butuh dipanaskan baru enak digunakan. Kesan pertama yang menyebalkan.

“Apa bedanya, toh kita sama-sama tersesat dan nggak ngerti gimana caranya pulang,” kata Savira ketus.

“Oh beda. Yang kau pikirkan dari tadi adalah bagaimana caranya pulang. Dimana jalan yang tadi. Kamu bayangkan jika tadi kamu nggak salah ngambil keputusan,  sekarang ini mungkin sudah begini begitu. Lalu kamu bayangkan betapa paniknya teman-teman, betapa ini itu bla..bla..de el el. Betul?”, tanya Agung.

Duh, ruwet ini orang. Pikir Savira. Bisa jadi dia dari Fakultas Hukum atau Fakultas Sospol sehingga nalar debat, tidak mau mengalah, ngomong tinggi, nggak simpel, pokoknya itu semua sudah jadi kebiasaannya. Mending diam.

Eits!! Savira hampir tabrakan dengan Agung. Jalan sambil ngelamun. Tidak tahu kalau yang diikutinya berhenti melangkah.

“Nanti kita sambung. Kita sholat ashar dulu. Kamu tidak bawa mukena?”, tanya Agung.

“Ya enggak lah. Udah tau tersesat.  Nggak siap apa-apa”, jawab Savira.

“Ya udah. Nanti pakai sarung. Aku juga ada T-shirt bersih. Bisa dipakai nutup rambut kamu, biar auratnya nggak kelihatan,”kata Agung.

Ya mau gimana lagi. Mungkin tampak lucu bahwa dia sholat pakai penutup rambut dengan T-shirt yang dibuat mirip ninja dan memakai sarung. Beruntung bahwa dia pakai kaos panjang sehingga. Lengannya bisa tertutup. Sebenarnya Agung juga membawa jas hujan model Batman. Tetapi lebih baik pakai kaos saja.

***

Selesai sholat, Agung mengisyaratkan Savira untuk bangkit. Melanjutkan langkah jika tidak ingin terlambat.

Kembali mereka melanjutkan perjalanan. Entah sudah sampai berapa kilo dilalui. Dengan diselingi berbincang-bincang, seolah semuanya tak terasa. Langit tak semakin kelabu dan justru bertambah cerah, sehingga mereka tidak harus terjebak hujan.

“Aku tidak berpikir bagaimana caranya pulang, tetapi aku berpikir apa yang bisa kudapatkan dari kedaan ini. Fakta bahwa kita tersesat, ya.  Kita cari jalan pulang, ya. Tetapi aku menikmati ini. Barangkali memang Tuhan menyengajakan aku untuk ke sini, menemukan sesuatu yang bisa jadi berkesan untuk hidupku,” kata Agung.

“Kamu ini aneh ya orangnya. Tersesat kok malah menikmati lo”, ucap Savira.

“Hahaha…aneh? No problemo. Kalau boleh jujur, dunia pun kadang aneh bagiku. Seperti kamu. Betapa orang sangat fokus pada satu tujuan. Pada satu aturan main.Seperti kereta api, harus jalan pada satu rel. Ketika dia keluar dari rel, maka dia mati. Hidup, kuliah, dapat nilai, kerja, beranak dan seterusnya”, balas Agung.

“Ya iya lah. Kalau mau sukses dalam hidup ya kudu gitu. Karena semua orang sukses itu begitu. Fokus”, komentar Savira.

“Kata siapa? Hidup itu tidak hanya menentukan pilihan, ataupun ditentukan pilihannya.  Hidup itu seperti membuka lembaran-lembaran buku. Buku kita sendiri. Sejarah kita sendiri. Apa menariknya berusaha memiliki sejarah yang sama dengan kebanyakan orang. Flat. Datar. Garing,” kata Agung.

“Apa untungnya mencoba sesuatu yang tidak pasti keberhasilannya? Hayo. Bahwa kita belajar sukses dari orang yang sudah sukses hidupnya. Kita belajar dari cara dia menyelesaikan masalah. Dan kita nggak ngulang kesalahan yang sama”, Savira protes.

Agung tidak mau membalas. Cuma bisa senyum sinis.

Eh? Reaksi macam apa itu.

***

“Kayaknya kita sampai,” kata Agung.

Mereka sampai di hadapan pintu gerbang tua yang jelas lama tak pernah dibuka. Halaman berbatu yang dihiasi ilalang. Beberapa puing-puing bangunan tampak di sana-sini.

“Tempat apa ini? Seperti bekas peninggalan kuno”, tanya Savira.

“Ini rumah seorang saudagar kaya dulunya”, jawab Agung. Dia terus melangkah.

“Lihat pemandangannya, bagus sekali”, kata Agung. Ternyata bangunan reruntuhan itu terletak di tepi tebing yang tak terlalu terjal. Beberapa meter lebih rendah ternyata sudah dipenuhi batu-batu karang yang dihempas ombak. Sungguh tak terduga sekian lama mereka melangkah ternyata sampai di daerah tepian pantai.

Agung benar. Pemandangannya sungguh indah dari situ. Heran juga mengapa tempat seperti ini tampak tidak pernah dikunjungi.

Savira memandangi Agung yang matanya menerawang jauh memandangi lautan, seperti puas bahwa pencariannya sekian lama sudah ditemukan.

“Menurut cerita kakekku, konon di sini dahulu tinggal seorang saudagar kaya raya. Aku tidak terlalu paham siapa namanya. Dia berasal dari daerah Melayu. Masa kecilnya miskin, yatim. Ketika remaja, dia meninggalkan ibunya seorang diri untuk merantau. Sampai akhirnya dia sukses. Dan ketika kembali ke kampung halamannya, dia mendurhakai ibunya”, tutur Agung.

“Lho? Kok mirip cerita Malin Kundang?”tanya Savira.

“Kupikir dulu juga begitu”, kata Agung. “Dia pergi meninggalkan ibunya. Mendurhakainya dan kembali ke sini. Daerah perantauannya. Hingga suatu ketika, semacam terkena kutukan, dia menderita sakit parah. Tubuhnya melemas, kurus, tak bisa bergerak, dan baunya busuk.”

“Banyak tabib didatangkan untuk mengobati sakitnya, tetapi sia-sia.”

Agung menurunkan ranselnya. Mengambil sebuah bungkusan sambil terus bercerita.

“Suatu ketika dia bermimpi, bertemu dengan orang yang entah darimana, memberitahukannya bahwa dia hanya bisa sembuh jika tubuhnya mendapatkan siraman air mata ketulusan. Maka, dia meminta istrinya, sahabat-sahabatnya, orang-orang dan semua yang dia kenal untuk menangis dan air matanya dia gunakan untuk diusapkan di tubuhnya. Tetapi tak ada yang berefek apapun pada tubuhnya. Dia sangat kecewa dan putus asa. Akhirnya, dia hanya bisa membayar tabib untuk melakukan pengobatan yang Cuma berfungsi menunda agar sakitnya tidak bertambah parah.”

“Sampai uangnya habis. Harta bendanya habis, dan hanya rumah ini yang tersisa. Seluruh pelayan, istri, dan orang-orang yang dekat dengan dia pergi meninggalkan dia seorang diri terbaring sekarat. Sampai suatu ketika, datanglah seorang nenek tua.”

“Ibunya?”, tebak Savira.

“Ya. Ibunya. Ibunya datang, dan malulah si saudagar. Dia meminta ibunya untuk mengampuninya dan tidak mengutuknya sampai dia sakit sedemikian. Ibunya lalu berkata, bahwa dirinya tak pernah sekalipun terpikir untuk melihat anaknya menderita”, kata Agung.

“Seorang ibu yang sejati adalah seseorang yang tidak pernah berpikir melihat anaknya menderita, bahkan ketika anaknya mendurhakainya atau membuatnya menderita, tidak akan terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk berdoa agar Tuhan membalaskan sakit hatinya, apalagi untuk mendendam dan mengutuknya.”

“Saat itu juga dia menangis, menyadari segala kekeliruannya dan pikiran-pikiran buruk tentang ibunya yang selama ini ada. Dia pikir selama ini, ibunya telah mendoakan sehingga Tuhan menimpakan adzab padanya. Dan ajaib, saat itu juga sakitnya sembuh. Segera dia memeluk ibunya, meluapkan kebahagiaannya. Air mata ketulusan itu, adalah airmatanya sendiri.”

“Jelas dia berbahagia. Tetapi, itu hanya sebentar, ketika dia berpelukan dengan ibunya, ibunya sudah tiada. Diketahuinya, jauh ibunya datang hanya untuk melihat dia saja, mengobati kerinduannya kepada anak tercinta, tanpa pernah tahu sebelumnya bahwa anaknya dalam kondisi sakit.”

Savira terkagum-kagum. Wow. Cerita yang menarik. Heran juga. Ternyata kesan pertamanya untuk tidak menyukai sosok Agung Kurniawan, berubah seratus delapan puluh derajat. Banyak juga ya yang bisa dipetik dari kepala lelaki ini.

“Lalu kenapa rumah ini kemudian tak ditinggali?”

“Entahlah, cerita tentang dia Cuma sampai di situ. Selebihnya misteri”

Savira memandangi Agung. Sementara yang dipandangi tidak terlalu peduli bagaimana Savira sudah memandang dengan mata yang berbinar dan senyum yang paling cantik. Agung terlalu sibuk dengan bungkusannya. Ternyata isinya biji-bijian.

“Apa itu?” tanya Savira.

“Biji-biji berbagai macam bunga,” Jawab Agung.” Yah.Ditabur aja di sini”.

“Memangnya bisa tumbuh?”

“Nggak tahu”, kata Agung. “Serahkan saja pada alam. Mungkin mati. Tetapi mungkin juga alam akan punya mekanisme yang memberikan kita kejutan-kejutan keajaiban yang diberikan olehnya”.

Hehehe..benar juga, pikir Savira. Dibantunya Agung menaburkan biji-biji bunga itu di beberapa tempat.

“Well, lepas dari cerita itulah aku sering merenung: jika nyawamu hanyalah untuk hari ini, apa yang paling pantas engkau perjuangkan di hari ini supaya hidupmu yang tinggal sedetik demi sedetik ini berarti dan kau tidak menyesalinya. Bukankah setiap hari yang kita lewati hanyalah detik detik ajal yang tertunda? Pastilah, kita akan berjuang demi sesuatu yang paling dicintai. Porsi waktu kita akan lebih banyak digunakan untuk sesuatu yang paling dicintai. Ibu tadi misalkan, sekian lama menunggu, mencari dan melewat perjalanan jauh, sampai akhirnya mati, demi anak yang dicintainya. Tetapi anaknya, sekian lama kematian menghantuinya, menghidung detik demi detik ajalnya, dia tidak tahu demi apa dia bertahan: hartanya? Keluarganya? Atau ketakutannya? Justru yang dipeliharanya adalah prasangka burkh tentang ibunya,”kata Agung.

“Sementara kita sekarang hidup di dunia ini: pantaskah detik demi detik kehidupanmu yang berharga di hari ini diperjuangkan Cuma untuk tidur istirahat di kasur empuk. Dalam sebulan hidupmu hanya digunakan untuk menggeluti buku kuliah. Dalam setahun atau sekian tahun kamu lulus, demi harta yang berbentuk rumah, mobil, jabatan dan apa lagi. Pantaskah?”

Hening.

Savira semakin tenggelam dengan imajinasinya. Pikirannya merenungkan dalam-dalam kata-kata Agung.

“Hei lihat. Sunset!!” teriak Agung. Agung agak berlari jauh sampai ke perbatasan pagar dengan tebing landai yang memagari bangunan tua.

“Wow…indah sekali.  Hei, kok malah ngelamun. Lihat dong. Ini luar biasa. Sekelas pemandangan hotel bintang lima”, kata Agung.

Savira melihat ke ufuk barat. Wow. Benar sekali. Pemandangannya begitu indah saat matahari bertemu dengan cakrawala dan terpantul cahaya dari air laut jauh di sana. Seperti cahaya emas yang berkelipan di kaki cakrawala. Begitu terus sampai matahari beringsut. Perlahan namun pasti gelap menjelang.

Mereka berdua terdiam dalam perasaan mereka masing-masing, menikmati keindahan itu. Sampai kemudian berkata sedikit pelan tetapi masih jelas di telinga Savira.

“Wow…bayangkan jika suatu saat nanti, kita membawa kekasih kita, istri kita di sini. Menikmati berdua memandangi laut yang penuh bintang, atau mungkin ada bulan, di sini. Waaaah…pasti mesra sekali yaa…”

Savira tersenyum. Satu demi satu kakinya dilangkahkah menuju tempat Agung berdiri. Sekarang mereka berdua berdiri bersebelahan. Masih sama-sama melihat cakrawala.

“Ehm..bagaimana kalau yang menjadi istrimu itu……..aku”, kata-kata Savira diucapkan dengan nada sedikit malu-malu tetapi pasti.

Agung kaget. Reaksi yang tidak pernah diduga sebelumnya. Dia memutar badannya sembilan puluh derajat menghadap Savira. Savira balas menghadap. Kebisuan menyelimuti dua manusia ini.

“Ah…kau..kau bercanda yaa….” kata Agung sedikit mencairkan suasana. Tetapi tidak ada tawa semagaimana yang diharapkan Agung. Savira menatap mata Agung dengan pasti. Benar-benar tak nampak ada keraguan di mata itu.  Berbinar-binar, jelas sekali, walaupun kegelapan sudah mulai menyelimuti.

Agung kehabisan kata. Silih berganti dipandanginya bola mata Savira yang tak berubah ekspresinya. Hening.

Sampai kemudian, kumandang adzan memecah adegan itu. Adegan yang berkesan bagi mereka berdua di kemudian hari.

“Ah…. suara adzan, berarti tak jauh dari sini ada perkampungan penduduk. Yuk….”

Berdua, mereka tersipu dan meninggalkan tempat itu.

Itulah awal hubungan mereka berdua. Semenjak itu, mereka dekat, saling belajar, saling memahami. Banyak perubahan sikap dan sifat diantara mereka. Sampai kemudian waktu berjalan.

***

Memori yang tak mungkin terlupakan. Mereka berdua kini sudah berada di tempat yang sama, dalam suasana yang berbeda.

“Istrimu tak bisa datang ya..?” tanya Savira. Sungguh pertanyaan yang tidak ingin keluar dari mulut Savira. Pertanyaan yang cukup berat untuk dikeluarkan, karena dia yakin bahwa Agung tak ingin mendengar itu.

Yang ditanya sesaat diam saja. Menggigit bibir. Memandang jauh. Mengubah raut wajah yang tadinya sumringah menjadi pupus kuyu.

“Tadi dia sebenarnya sudah akan berangkat. Tetapi entah kenapa mendadak mengeluh pusing. Aku sudah bilang pada Hera, bahwa aku punya kejutan spesial untuk dia. Kejutan yang bertahun-tahun aku persiapkan. Tetapi..yah…beginilah,” jawab Agung.

Savira diam. Dia sungguh menikmati peran tadi, seolah dirinya adalah istri Agung. Meskipun dia tahu bahwa dia sekedar menjadi bayang-bayang. Meskipun hanya sebuah peran sesaat.

Savira tahu, bukan wilayahnya untuk turut campur urusan rumah tangga Agung. Dia tak ingin menggali lebih dalam. Dia bukan tipe yang ingin mengambil keuntungan dari keadaan itu, dan tak ingin menjadi orang ketiga yang merusak rumah tangga orang. Sebesar apapun cintanya.

Suara adzan isya memecah kesunyian itu. Saatnya Agung mengantar Savira pulang.

***

Mobil melaju. Sepanjang perjalanan pulang yang berjalan kaku. Dua perasaan bergejolak. Agung mengemudikan mobil dengan sesekali memandang spion. Savira, perempuan yang di sebelahnya itu hanya memandang ke jendela samping kirinya. Memandangi lampu-lampu malam dan suasana jalanan. Matanya berkaca-kaca. Mereka berdua tahu apa yang ada di masing-masing hati, tetapi mereka berdua juga tahu, bahwa mereka tak bisa berbuat lebih dari itu.

Tangan Agung menuju radio-mp3 player di dasboard mobilnya. Mengusir kesunyian. Entah kenapa, seolah segala suasana mendukung perasaan mereka. Dari speaker mobil itu mengalun suara lembut suara Astrid, menyanyikan lagu “Terpukau”. Lirik yang seolah membaca suasana itu.

Aku memang belum beruntung
Untuk menjatuhkan hatimu
Aku masih belum beruntung
Namun tinggi harapanku
Tuk hidup berdua denganmu

Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau

Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua denganmu

Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau

Entah siapa yang memulai, Savira dan Agung tertawa kecil sama-sama, dari mulai tawa-tawa tertahan,  sampai sekejap kemudian meledak sedikit, lalu lepas, tawa natural. Tawa yang sebenarnya berlawanan dengan suasana hati yang teriris-iris. Sampai kemudian terdiam sama-sama.

“Kamu…”

“Kamu..”

Deg..mereka membuka pembicaraan dengan bersamaan. Berbarengan berkata dan berbarengan tertahan.

“Ya? Kamu duluan yang ngomong..”kata Agung

“Kamu aja dulu”, balas Savira.

Kembali suasana kikuk menyelimuti mereka. Seolah mencari-cari pola komunikasi di tengah salah tingkah.

“Oke..oke.., cuma lagu..”kata Agung.

“Ya…Cuma lagu,”Savira setuju.

“Diganti?” balas Agung.

“Ya..diganti”.

Sebenarnya tidak perlu diganti karena sejak tadi lagu Astrid sudah berhenti. Hanya saja bekasnya di hati mereka masih jelas terngiang. Savira menekan tombol next di mp3 player.

Oh, ternyata lebih parah. Kali ini yang meluncur adalah lagu dari Fatin. Aku Memilih Setia. Seolah spontan, tangan mereka seperti bersamaan ingin menekan tombol next. Masing-masing menghentikan gerakan, dan membiarkan lagu itu teralun bersama mobil yang meluncur menuju apartemen Savira.

Terkadang, alam seolah membaca suasana batin seseorang. Segalanya seolah klop, jleb, sesuai banget dengan apa yang sedang dialami, dirasakan dan dijalani. Bagaimana bisa, tentulah ini misteri Ilahi. Seolah kehidupan ini sebuah film atau sinetron yang begitu saja diiringi soundtrack yang datang dari suara-suara yang melintas di telinga, pemandangan yang berseliweran, atau kejadian-kejadian yang bergelindangan membentuk bumbu sempurna dari sebuah kisah di penggalan kehidupan. Pernik-pernik yang menghidupkan seseorang yang menjadi pelakon di suatu tempat di dunia ini.

….

Mobil sudah menuju halaman apartemen, halaman yang sama ketika Agung menjemput Savira tadi. Sebelum keluar, Savira memberikan sesuatu untuk Agung.

“Ini…”

Savira menyerahkan amplop plastik bening yang menyelimuti kertas tebal berwarna ungu violet di dalamnya. Bertuliskan nama Savira dengan seorang lelaki yang belum dikenal Agung.

Tak ada reaksi terkejut, Agung menerima amplop undangan pernikahan itu. Karena memang itulah agenda sebenarnya dari pertemuan mereka. Savira janjian dengannya Cuma untuk menyerahkan undangan pernikahannya. Hanya saja, agenda sedikit berubah karena Agung memiliki kejutan, yang sebenarnya bukan untuk Savira.

Amplop diterima, tanpa sebuah janji bahwa Agung akan menghadirinya.

Mobil melaju menuju jalanan. Sampai hilang di tikungan. Meninggalkan savira yang masih sibuk menata gejolak peristiwa tadi yang begitu membekas, sangat membekas dan tak mungkin akan mudah dia dapatkan kembali. Pernikahan yang sudah menjelang, yang dia lalui dengan perasaan galau. Berharap, bahwa sepucuk surat  kecil yang berisi sebuah pesan, yang terselip diantara lembar undangan, akan dibaca oleh Agung.

Agung menghentikan kendaraanya sesaat. Memarkir di pinggiran jalanan yang sedikit sepi. Pikirannya berat. Tak mudah untuk menerima kabar bahwa Savira akan segera menikah. Tak mudah untuk menghapus masa lalu. Sekuat apapun dia membunuh perasaan dan berlari untuk melupakannya, yang terjadi hanyalah perasaan yang semakin terbelenggu. Ia sadar, tak ada yang bisa disalahkan dan tak ada yang bisa membalik jalan waktu yang begitu kejam membakar detik demi detik yang menorehkan lembar demi lembar kisah yang tak mungkin bisa dihapus.

Pintu mobil terbuka. Agung keluar membawa surat undangan yang diterimanya sesaat lalu dari Savira. Dapat dengan jelas dia lihat nama yang tertulis di situ, sampai kemudian dilihatnya sepucuk surat kecil yang tampak sengaja diselipkan.

“Drrrrttttt…drrrtt….”

Handphone di sakunya bergetar. Tadi, sengaja dia pasang nada silent agar tak merusak suasana.

“Assalamualaikum?”

“……” Alis dan mata agung menatap sembarang tempat, sekedar mengekspresikan kepada siapa dia berbicara dengan seseorang di seberang sana.

“Ya. Saya sendiri.”

“.. Klinik? Ya…Ada apa dengan istri saya….?” tanya Agung.

“Apaa…??? Hamil??? Alhamdulillaaaahhhh…..” , teriak Agung.

Ledakan suasana batin yang mirip pasar malam luapan kebahagiaan seolah membuat Agung tak sadar dia ada di mana. Berteriak keras dan air mata yang mengalir deras berbarengan dengan tawa yang bernada tak tentu. Jadi itu yang terjadi ketika istrinya mengeluh pusing? Jadi itu yang terjadi yang menjadi kejutan istrinya? Ternyata kejutan dari Tuhan jauh lebih indah daripada sekedar kejutan yang dia berikan untuk istrinya. Berkali-kali dia bersyukur dan beristighfar.

***

Suara derum mobil sedan membelah malam meninggalkan lembaran undangan yang terbuang di sisi jalan, menyatu dengan rerumputan bersama dengan surat yang belum sempat terbaca. tertinggal begitu saja oleh pemiliknya yang kini tengah dalam perjalanan menjemput kebahagiaan yang begitu cepat datang tak diduga-duga. (*)

Dihadiahkan untuk ultah Dessy Ardiana

Tempel, 8 Desember 2013

2 thoughts on “Atas Nama Masa Lalu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s