Hari-hari setelah paripurna dari ketua BEM Fisipol

Terima kasih atas perhatiannya kepada kisah yang telah saya tuliskan di milis ini tempo hari.Anda tahu, yang saya sajikan bukanlah sebuah kisah sukses yang berakhir seperti juragan tela-tela ataupun boss primagama. Maka segala pujian hanya pantas ditujukan kepada Allah SWT.

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29:2)

Suatu ketika, saat Ramadhan setelah peristiwa itu. Saya banyak menghabiskan waktu di sudut Gelanggang (Dulu sekretariat JS di situ). Merenungi detik demi detik yang seolah tidak berpihak kepada kehidupan saya. Seolah sudah suratan.

Saya bukanlah orang yang tegar saat itu. Selang beberapa waktu saya sering menyendiri di masjid dan menanyakan banyak hal dari semua cobaan yang saya terima. Beginikah jalan sulit yang harus saya terima? Mengapa tidak seperti semua orang yang begitu damai? Mengapa tidak seperti orang-orang sholeh yang wajahnya berseri-seri ketika berada di dalam masjid dan seolah Allah berada dalam lindungan mereka? Mengapa justru saya yang mencoba untuk sedikit saja menorehkan sebuah wacana tentang Islam harus dihempaskan dan dipermalukan sedemikian rupa? Mengapa?

Allah sungguh Maha Baik. Mungkin saat itu ada Lailatul Qodar yang menghiasi relung pikiran saya. Entah kenapa saat itu saya seolah diperlihakan kembali tentang sebuah zaman saat awal-awal Rasul merintis Islam. Berbagai pertanyaan yang menggoncang jiwa ke-muslim-an saya seolah ditampakkan kembali:

  • Bukankah ketika awal risalah Islam disampaikan Rasulullah di Daarul Arqam begitu banyak para sahabat yang gugur demi sebuah keyakinan? Mati ibunya, mati anaknya, mati saudaranya. Dipermalukan. Dihina dan direndahkan lebih rendah dari binatang. Mereka bahkan tidak akan pernah tahu bahwa Islam akan menjadi suatu ajaran yang demikian berpengaruh di seluruh penjuru dunia? Mereka bahkan buta dari ayat demi ayat yang belum pernah diperdengarkan secara lengkap? Bukankah lebih banyak alasan bagi mereka untuk berdalih dan berlari dari jalan dakwah daripada saya yang mahasiswa? Mengapa saya begitu goblog dan mempertanyakan yang telah Allah persyaratkan bagi orang beriman?Bukankah kondisi saat ini jauh…jauh. .jauh lebih baik daripada masa-masa itu?


  • Jika mau bercermin lebih lanjut tentang persaingan keburukan nasib, nasib mana yang lebih buruk manakala rasulullah yang yatim dan piatu ditinggalkan berturut-turut oleh kakek dan pamannya? Bukankah rasul orang yang paling direndahkan oleh keadaan, dilempari tahi onta, batu, benda busuk, diusir dari kota kelahirannya, diboikot pengikutnya dari supplay makanan. Tetapi apa yang dipikirkan oleh Rasulullah? Tidak sekalipun dia menangisi nasib dan menggugat masalah barisan kaumnya ataupun bengisnya musuhnya. Justru Ampunan Allah yang dipohonkan bagi siapapun yang membencinya. Sementara aku begitu terbakar rasa derita dan memori tentang perlakuan itu.


  • Apakah Allah berpihak kepada Rasulullah saat itu? Manakala sejuta derita diberikan kepada Mahluk Kekasihnya itu, dimanakah Allah? Sholawat bagi Rasul, karena Allah bisa saja memberikan sejuta kepedihan bagi musuh Rasul. Allah bisa saja membalikkan keadaan, mendatangkan sedikit bantuan semudah yang Dia mau. Tetapi Rasul lebih memilih menjalani kehidupan layaknya manusia biasa sambil teruuuuus memohon ampunan bagi ummatnya maupun musuhnya. Rasul tidak memilih hidup berhiaskan jabatan, uang, tanda jasa. Bahkan andaikata matahari dan rembulan ada di gengamannya, dia lebih memilih menjadi seorang pesuruh Allah yang biasa saja. Subhanallah.

Begitulah. Berarti atau tidaknya sebuah peristiwa, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Pilihan tentang sudut mana yang kita lihat, sangat bergantung kepada mentalitas kita. Dan mentalitas kita sangat ditentukan oleh kedewasaan kita. Kedewasaan lahir karena tempaan sejarah. Dan saya sekarang bersyukur mendapatkan saat-saat itu. Saya menjadi tahu bagaimana menjadi seorang yang bersyukur. Harga yang mahal yang diberikan Allah untuk mendudukkan saya di tempat yang semestinya dalam melihat setiap peristiwa dalam kehidupan.

Maka setiap kisah yang pernah saya sampaikan, silahkan bagi anda untuk memaknainya sesuka anda. Saran saya, jalani saja setiap ujian bagi anda, bagi organisasi, bagi JMF dengan semangat seorang muslim yang sebenarnya. Berkacalah kepada Rasulullah dan pengikutnya.

Setelah hari itu, kehidupan saya memang tidak membaik. Tidak menjadi anggota legislatif, tidak menjadi aktifis partai, tidak menjadi pengusaha. Sebaliknya saya menjadi seorang kuli donat. Kala itu krisis moneter membuat keluarga saya bangkrut dan saya dihentikan kiriman beasiswa dari orang tua. Untuk makan saya harus kerja apa saja. Karena lowongan yang ada hanyalah menjadi kuli donat: pagi membuat burger dan dikirim ke sekolah, siang mengambil kiriman, tidur, sore bikin adonan sampai dengan tengah malam membuat donat dan kue-kue. Sangat melelahkan. Tetapi hanya dengan itulah waktu itu saya bisa mengisi perut.

Nasib mungkin tidak berubah. Tetapi percayalah, sejak saat itu saya menyambut hari-hari dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa Allah sedang bersama dengan saya.

Selamat Idul Fitri 1426 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Advertisements

Cerita tentang Sospol 1997: Perjuangan mempertahankan BEM FISIPOL

Apa yang membedakan antara manusia pengecut dengan manusia yang menahan nafsu amarah? Apa juga yang membedakan manusia licik dengan manusia yang pandai mengatur siasat dan strategi? Apa pula yang membedakan antara menunggu waktu dengan membuang waktu?Apa pula yang membedakan antara menasihati dengan menggurui? Cukupkah niat sebagai batasan untuk sesuatu yang tipis itu?Bisakah membedakan mereka yang berkoar dengan yang dakwah?

Jujur saja, saya sempat melupakan ayat ini: Al-Anfal 60 yang berisi support Allah untuk manusia yang ngakunya berjuang di jalan dakwah ataupun jihad.

60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)

***

Tahun 1997 adalah tahun dimana saya menjadi ketua BEM terakhir di Sospol. Sebuah tahun dimana saya berikrar untuk “menghijaukan Sospol” ketika dipinang oleh dua kutub besar ormas Islam di Sospol: teman-teman T******* dan teman H** M** yang tergabung dalam JMF. Sebuah harapan muncul manakala saya berhasil dan menyiapkan kabinet. Sayang, dari sana temen-temen JMF terlalu sibuk dengan agenda internal JMF dan praktis di kabinet cuma ada saya sama Suryo Adi Agung Nugroho(AN 95). Beberapa staff yang lain hanya didapatkan dari luar, sementara rival saya di H** D*** banyak duduk di senat. Saya mulai menduga temen-temen JMF cuma “makakne” saya menjadi “sacrifice” ketika saya sudah mulai vokal dan bersuara.Temen- temen H** D***diluar dugaan saya malah mensupport saya dengan baik dengan memberi masukan, bantuan dan dukungan terhadap kebijakan dan tidak menaruh dendam ketika saya mencutat mereka dari kabinet yang saya bikin.

Bulan-bulan berikutnya adalah bulan penuh darah dan air mata. Ujian pertama adalah ujian tentang kacaunya Opspek 97 di Fisipol. Sejak awal saya tidak tahu ketika teman-teman S****** yang dulunya ikut dimana wakil mereka: Amalinda Savirani menjadi ketua BEM , tahun itu tidak mengirimkan kandidat. Barulah sadar ketika di pertengahan itu wacana penghancuran ataupun pembubaran BEM ataupun student government itulah yang mereka tuju.

***

Opspek 97 adalah opspek yang tidak pernah saya lupakan. Telikungan-telikung an detik per detik ada. Sejak awal persiapan, aroma kejamnya opspek mulai nampak. Ada beberapa teman representasi dari SC yang terdiri dari leader masing-masing jurusan dan BSO yang terbagi menjadi 3 kutub: menolak opspek plus membubarkan bem/senat (K**** S********, S******, S********), mendukung (Kelompok Islam) , dan abstain (D3 dkk). Cekcok dengan panitia pusat di BEM UGM sering terjadi karena fait accomply dari satu dua orang SC yang ternyata membelot untuk kontra, ataupun mengkhianati amanah. Alhamdulillah bahwa politisasi persoalan opspek yang ingin menggerakan opspek ke arah kontra/terpisah dari BEM UGM menjadi tereliminir.

Sukses di SC ternyata tidak membawa dampak bagus di pelaksanaan. Teman-teman JMF banyak terlibat di seksi pemanduan dan hanya satu yang terlibat di seksi acara. Teman-teman kiri masuk ke seksi acara dan memasukan idiologinya untuk anti BEM/student goverment, memasukkan simbol-simbol lagu-lagu, yel-yel dan pembicara dari kalangan mereka. Harapan bahwa dari JMF akan mendapatkan kader dengan cara menjadi pemandu untuk berinteraksi langsung dengan peserta bubar total.

Bukan itu saja. Ketika terjadi Pawai dari Sekip ke Bulaksumur, peserta mandeg di depan kantor BEM dan dipaksa oleh seksi acara untuk meneriakkan BUBARKAN BEM..BUBARKAN SENAT..dll. Saat itu ketua BEM Subiantoro (KAMMI) dan ketua senat adalah Ridaya La Ode Ngkowe (HMI MPO) ataupun rejim dari gerakan Islam. Pusingnya saya. Saat di Bulaksumur, kami yang jelas-jelas orang BEM atau Senat Fakultas harus memikirkan cara: bagaimana ngomong di sesi perkenalan peserta tentang lembaga ini? Alhamdulillah Allah Maha baik. Saat itu saya bisa membalikkan keadaan ketika dialog dengan peserta/anak- anak peserta opspek:

Feriawan: “Adik-adik tahu siapa itu BEM atau Senat?”

Setelah diam beberapa saat..

Peserta: “Tidakkk…” :

Feriawan: “TIdak tahu?Lha tadi kok teriak-teriak Bubarkan BEM dan Senat?”

Peserta”Lha disuruuuuuuuhhhh”

Sumpah serapah binatang terdengar dari belakang saya dari teman-teman kiri yang menset acara.

Ujian datang lagi. Ketika opspek universitas, ternyata ada perlakuan yang tidak kompak dari Panitia fakultas lain. Adik-adik sudah mendapat pesan dari seksi acara jika ada sesuatu yang tidak beres, maka langsung lapor. Hanya karena satu dua wadulan adik-adik. Maka teman-teman kiri yang memang anti BEM melakukan sweeping menarik anak-anak sospol dari fakultas-fakultas dan mengakibatkan beberapa ancaman yang jatuh ke diri saya selaku ketua BEM. Beberapa fakultas lain siap-siap nggrudug ke sospol. Untung pula saya bisa melakukan normalisasi keadaan.

Malam itu, kian mencekam karena akibat sweeping mereka, pihak Universitas mengancam tidak memberikan Ijazah lulus opspek kepada Sospol. Teman-teman kiri menuduh sayalah yang harus bertanggungjawab untuk ancaman itu. Padahal, merekalah yang menarik anak-anak itu. Saya dan tiga orang teman, menyatakan tidak bersedia menanggung perbuatan mereka (dikelilingi lebih dari 100 orang yang panik dan memandang sinis pada kami). Karena ketidakbersediaan saya, mereka menganggap saya pengecut dan tinggal gelanggang colong playu.

Saya masih bisa menakar keadaan dengan membalikkan fakta bahwa kemudian ijazah berhasil sampai ke tangan saya karena lobby dengan pihak universitas perihal insiden tersebut. Tetapi akibatnya, kami: BEM dan Senat, adalah most common enemy in sospol.

*****

Hari berganti. Hari itu adalah saat dimana pihak Fakultas punya hajat untuk mengadakan dies natalis. Sebuah isu terselenting bahwa Fakultas tidak akan menyediakan acara malam musik di Fisipol. Logikanya, acara musik itu adalah acaranya teman-teman Non JMF untuk hura-hura. Dana yang dikeluarkan adalah dana dari Fakultas dan bukan pos BEM.

Teman-teman dari S******** dan dibeking S********* memojokkan saya untuk melakukan lobby minta agar acara itu tetap diadakan. Saya menolak. Entah karena motif idiologis ataupun memang anti kiri.

Acara dies tetap berlangsung. Hasilnya, amarah teman-teman itu tidak bisa dibendung. Malam hari kaca kantor BEM Pecah berantakan, beberapa barang berserakan dan bau pesing kencing ada di sana-sini beserta basahnya di antara berkas-berkas kertas kegiatan kami. Pagi-pagi saya berjalan dengan hati nggak karuan. diantara pecahan-pecahan kaca, membersihkan sebisanya.

Persoalan tidak selesai sampai di situ. Setelah kantor bersih, ada issue tidak sedap dan kabar burung dari teman-teman kiri. Konon pada malam hari mereka diteror oleh hantu perempuan berambut api dan berbagai mahluk halus di Sospol kepada mereka yang mengencingi kantor saya.

Pagi hari ada selebaran di sana sini berbunyi kurang lebih: “Hati-hati, ketua BEM sekarang adalah seorang Alladin dan berniat menjadikan Sospol menjadi Agraba!!!” (Agraba adalah negara jin dalam dongeng 1001 malam)

****

Hari berikutnya tidak ada cerita indah kecuali saya yang makin depresi mendapati kacaunya dunia Sospol. Agenda tidak berjalan dan hilanglah sudah impian tentang menghijaukan Sospol. LPJ saya ditolak. Sampai dengan pemilu terakhir yang memilih Santi. Santi tidak tamat membawa BEM karena bubar di tengah jalan.

***

Kultum lagi: Taqwa kepada Allah (materi ringan kok, nggak usah serius-serius bacanya)

Hanya sekedar mengingati materi pengajian dari Ust Yunahar Ilyas, entah kapan saya lupa. Beliau bilang, cara orang untuk bertaqwa, ataupun menjalin hubungan dengan Allah itu ada 3 cara ataupun sebab:

Pertama, bertaqwa dengan cara mencintainya ataupun mendamba cintanya. Orang yang seperti ini merasakan bener-bener bahwa apa yang ada di sekitarnya ini tidak lain dan tidak bukan menjadi ada ya karena Allah semata. Maka bagi dia mulai dari melek mata sampai dengan meremnya tidak lain dan tidak bukan cuma diisi dengan rasa syukur semata. Yah, layaknya orang jatuh cinta lah. Kaum sufi mengibaratkan bahwa rasa syukur ini layaknya orang mabok kepayang di dunia dan tidak perduli dengan apapun yang ada kecuali cinta Allah. Ibaratkan menyiram neraka dengan air cinta dan membakar surga dengan api asmara, menghilangkan semua alasan dan hanya cinta saja. Maka cukuplah cinta Allah itu.

Kedua, adalah orang yang bertaqwa dengan segenap ketakutan karena kebesaran Allah semata. Entah karena bencana, trauma, imajinasi, neraka ataupun segenap ketakutan untuk berbuat salah karena kemahakuasaan Allah. Orang ini begitu detil dan waspada manakala segala hal kaitannya dengan melanggar sesuatu yang Allah minta. Hati-hati banget di dunia dan menganggap dunia ini laksana melangkah di atas jalan penuh duri. Mulai dari kulitnya, bajunya, makanannya, orang yang diajak bicara sampai dengan segala sesuatu yang ditemuinya, selalu dikonsultasikan dengan nalarnya demi tidak melanggar apa yang Allah sampaikan. Totalitas, patuh !

Ketiga, adalah orang yang bertaqwa layaknya jual beli: dia bertaqwa karena tertaik dengan janji-janji Allah yang mengiming-imingi surga, ataupun dia bertaqwa karena takut akan neraka. Semuanya dia hitung-hitung: amalnya, sumbangannya, dakwahnya, nafkahnya dan lain sebagainya dengan akumulasi pahala yang diterima, plus semua juga dihitung ketika dia melakukan hal-hal yang sekiranya berakibat dosa. Haram, makruh, mubah dan segalanya dia hitung. Ketika berhubungan dengan masyarakat dan melakukan amalan pun juga dia hitung mana yang pahalanya paling besar, baru dia memilih yang itu. Doanya pun barangkali isinya dimaterialkan: kemuliaan dunia akhirat, keselamatan keluarga, kemakmuran, kekayaan, kecantikan dan semua-muanya. Allah pun menjanjikan: berbisnis dengan Aku, tidak akan pernah rugi.

Mana yang terbaik diantara ketiganya? Continue reading Kultum lagi: Taqwa kepada Allah (materi ringan kok, nggak usah serius-serius bacanya)

Memahami Kebutuhan Istri

Seberapa pahamkah seorang suami tentang kebutuhan istrinya? Semestinya itu persoalan yang wajib bagi setiap muslim atau lelaki untuk bisa memahami perempuan ataupun istri. Diperintahkan oleh Allah untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Penerjemahan ayat ini adalah perintah untuk memberikan kesejahteraan yang optimal kepada keluarga mulai dari istri dan anak. Harus diingat dan disadari bahwa rumah tangga berpotensi bisa menjadi penjara baru bagi perempuan yang sudah menikah, karena dia sepenuhnya berada dalam kuasa suami. Perempuan tidak lagi bisa bebas dan merdeka tanpa ijin dari suami. Tidak bisa lagi bebas kluyuran, ikut organisasi, ikut JMF dan lain sebagainya tanpa restu dari suami. Maka siapapun manusianya (khususnya perempuan) akan rentan dengan potensi menderita dan terbelenggu ikatan perkawinan jika suami tidak bisa memberikan kesejahteraan bagi istri. Jika sampai istri tidak merasa sejahtera di keluarga, maka surga baginya dan neraka bagi suaminya. Masya Allah gitu loh.

Maka kewajiban suami adalah mencukupi kebutuhan istrinya yang setia ini dengan perasaan tenang, damai, terlindungi, tercukupi dan tidak ada kekhawatiran sedikitpun berada dalam kerangkeng keluarga. Bukan saja materi yang harus dicukupi, tetapi juga kasih sayang dan kepandaian untuk membuat rumah tangga layaknya surga untuk sebuah keluarga. Keluarga bukan menjadi penjara.

Saya bisa bayangkan betaba bahagianya Aisyah ketika rasul memberikan hadiah meskipun hanya sebongkah batu. Nggak tau apa yang dimaksud rasul demi sebuah batu itu, tetapi saya yakin bahwa Aisyah diliputi sejuta perasaan: geli, gemes, aneh, tambah cinta atau apa lah. Kalo udah gitu, siapa sih yang nggak cinta sama suami?

Ada juga hadits yang menyuruh kita menghormati ibu kita, tiga kali daripada bapak kita. Bayangkan! Istri saya adalah orang yang dihormati oleh anak-anak saya tiga kali lebih mulia daripada saya dihadapan anak-anak. Saya tidak perlu cemburu dengan itu. Sebaliknya untuk menjaga agar istri saya bisa dihargai oleh anak-anaknya, jangan dibiarkan dong istri kita jadi bodoh ataupun tidak berkembang. Ntar kalo anak-anak sekolah dan mendapati ibunya kurang gaul atau kurang cerdas dan menjadi tidak pantas untuk dihormati, walah, ntar suami juga yang harus menanggung akar kesalahan dari kebodohan istri.

Nah, maka pendidikan perempuan baik dari masyarakat atau sesama perempuan itu harus menjadi prioritas bagi para suami untuk memberikan ijin bagi perempuan beraktifitas di luar sejauh tidak melupakan kodratnya. Kalo istri cerdas, kan keluarga cerdas juga. Siapa yang untung coba?

Masih banyak kewajiban yang diamanahkan oleh Allah dari dua point yang saya suguhkan di atas. Maka sudah semestinya kaum lelaki belajar mengenai perempuan bukan hanya dari sisi seksualitas, asmara dan eksploitasi cinta semata, tetapi lebih dari itu: kesiapan untuk memenuhi kebutuhan perempuan baik sebagai istrinya dan ibu bagi anak-anaknya. Poin itulah yang semestinya dikedepankan dan diikrarkan pada masa-masa taaruf ataupun pacaran, sehingga tidak lena dengan pengaruh cinta sesaat yang lebih banyak menyesatkan. Salah melangkah sedikit, maka seumur hidup akan menyesal dan terancam masuk ke dalam api neraka. Dari sanalah ikhwan perlu bertanya: mampukah dan pantaskah aku mendapatkan seorang istri, atau dua, tiga dan empat. Itulah yang coba saya pahami sehingga saya merasa wajib membuat istri tersenyum manis.

Sayangnya, terlalu banyak aktifitas publik yang tidak sensitif gender sehingga perempuan harus memilih: beraktifitas dengan meninggalkan keluarga atau sebaliknya. Ketika aktifitas publik diutamakan, keluarga berantakan dan sebaliknya. Bagaimanakah contoh aktifitas publik yang sensitif gender? ternyata syaratnya lumayan banyak: lokasi dekat dengan rumah, dilakukan di jam luang seperti diluar jam memasak, mengurus anak dan mengurus suami, tidak terlalu sering berikhtilat. Bingung kan? Ni dia yang harus menjadi bagian dari manajemen keluarga, khususnya suami tuh, biar istri nggak terkungkung dan terkurung. Semoga di jaman internet yang makin murah ini aktifitas publik tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Amin.

Saya tidak tahu pasti apakah di UGM, khususnya Fisipol persoalan gender menjadi mata kuliah ataupun bahasan khusus dalam setiap studinya. Persoalan ini nyata dan kasab mata. Maka layak untuk menjadi bagian dari mata pelajaran studi gender di berbagai bidang studi di Fisipol. Taruhlah bahwa kesejahteraan keluarga di Indonesia sesungguhnya menjadi bagian dari tanggungjawab negara. khususnya persoalan kesejahteraan kaum ibu. Semua itu tidak bisa terwujud jika pembangunan dan studi yang mendasarinya tidak berwawasan gender. Sangat disayangkan bahwa bahasan-bahasan persoalan gender yang pernah saya baca begitu njelimet dan mbulet. Kalau persoalannya nyata, maka logika yang mendasari persoalan itu semestinya sederhana. Kalau sederhana semestinya banyak pihak bisa memahaminya. Tetapi jangankan laki-laki, banyak pula perempuan yang tidak bisa memetakan dan mencerna dengan baik persoalan gender.

Semoga bisa menjadi hikmah untuk saya dan sahabat-sahabat semua.

Salam
Feriawan.

Mengapa Perempuan Wajib Berpolitik

Alasan paling logis mengapa perempuan harus berpolitik adalah karena banyak kepentingan- kepentingan perempuan yang tidak dipenuhi oleh pemegang kebihakan yang rata-rata laki-laki. Hak-hak itu antara lain: hak reproduksi, hak untuk mendapat perlakuan sama di mata hukum, hak untuk mendapat porsi pembangunan dari negara, hak kesehatan, Hak mendapatkan upah yang setara dengan laki-laki, hak mendapatkan fasilitas publik yang sensitif perempuan, dan masih banyak lagi.

Paling kentara bisa dilihat di APBD/APBN. Struktur APBN diibaratkan sama dengan lalu lintas keuangan di rumah atau di saku kita: ada pemasukan, ada pengeluaran dan ada pembiayaan. Pembiayaan itu misalkan: kalau sisa menabung dan kalau kurang ya utang. Di negara Indonesia juga begitu.

Di APBD ada yang disebut sebagai PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang didapatkan dari Pajak. Di banyak daerah, penyumbang pajak terbesar adalah perempuan. Lewat pajak retribusi pasar, pajak penerangan jalan dan pelayanan kesehatan. Kok bisa dibilang pajak itu dari perempuan? Retribusi pasar: karena yang belanja dan yang jualan rata-rata perempuan. Penerangan jalan: lewat rekening PLN yang dibayar, lihat bahwa di rumah-rumah rata-rata yang pake adalah perempuan dan laki-laki kerja di kantor. Pelayanan kesehatan apa lagi: pengguna puskesmas atau rumah sakit rata-rata adalah ibu dan anak.

Tetapi lihat belanja-belanja yang dikeluarkan pemerintah: rata-rata digunakan untuk kebutuhan fisik yang lebih berpihak kepada lelaki: pembangunan jalan dan fasilitas serta aksesorisnya yang rata-rata lebih banyak dinikmati lelaki, pembangunan stadion olah raga, sarana transportasi, informasi dan lain sebagainya yang porsi anggarannya sangat besar sementara kebutuhan perempuan sangat minim. Kita bisa melihat pos-pos anggaran perempuan lewat jatah dan alokasi posyandu, jamkesos, jamkesda, askeskin, KRR(Kesehatan reproduksi remaja), pembinaan PKK dll.

Selain dari APBD kita juga bisa melihat ketimpangan perbandingan antara angkatan kerja lelaki dan perempuan, cakupan kerja, angka putus sekolah, standar upah minimum dll yang bisa diamati dari HDI (Human Development Index).

Dari sana bisa disimpulkan bahwa menjadi perempuan indonesia sesungguhnya seolah menjadi kutukan sejarah sehingga terus merugi dan dirugikan. Perempuan seringkali tidak dilibatkan dalam proses-proses pembangunan seperti musrenbang (Musyawarah Perencanaan dan Pengembangan: sebuah wadah penampungan aspirasi untuk mendapatkan bagian dari kue APBD), kebijakan publik, keputusan hukum dan yang lainnya sehingga kebutuhan-kebutuhan perempuan baik sebagai manusia berjenis kelamin perempuan ataupun sebagai seorang ibu menjadi diabaikan oleh negara.

Ketika perempuan dituntut untuk aktif dan terjun ke dunia politik, hal itu bukan semata-mata karena dia perempuan, bukan pula persoalan idiologis semata macam feminisme, wanitaisme,wedokism e dll, tetapi karena dia harus membawa misi untuk memerdekakan kaumnya, memenuhi amanat kebutuhan kaumnya mulai dari kesehatan, pendidikan, persamaan hak, pemenuhan hak dan lain sebagainya agar setara dengan lelaki. Agar ketertindasan perempuan yang lebih dari 50% pemilih di Indonesia, dan merupakan penyumbang PAD terbesar ini kebutuhan dapat terpenuhi dan tersejahterakan oleh negara. Kalau dia hadir hanya karena dia adalah perempuan, maka tidak ada gunanya alias mandul.

Selain politisi perempuan membawa misi perempuan lain ataupun kaum ibu, dia juga membawa amanah besar dalam konteks moralitas bangsa. Bangsa yang bermoral adalah bangsa yang menghargai perempuan. Maka, hancurnya suatu bangsa adalah ketika perempuan sudah hancur moralnya. Sekarang lihatlah Indonesia, bagaimana bangsa ini bisa dikatakan menghargai perempuan jika dalam banyak hal perempuan selalu menjadi korban pembangunan? Korban iklan? Diskriminasi kerja dll.

Bagaimana dengan 30% kuota? Sesungguhnya angka 30% itu adalah angka paling toleran yang bisa diperoleh karena sudah sekian jaman hak-hak perempuan terabaikan oleh dominasi lelaki. 30% adalah harga termurah yang harus dibayar ketika suara-suara perempuan dari sekian generasi-ke- generasi telah terkebiri. Paling minimal adalah pembelajaran bagi perempuan untuk tahu dan mengetahui perihal perpolitikan di suatu negara. Maka, hanya perempuanlah yang bisa membaca dirinya sendiri dan kaumnya.

Sekian.

Rasulullah: Antara cinta dan keadilan

Mana yang lebih didahulukan Rasulullah? Cinta ataukah keadilan?Wallahu A’lam.

Cerita tentang bagaimana Rasulullah memutuskan suatu perkara secara adil sudah banyak sampel peristiwanya. Saya hanya mengambil manakala Rasulullah mengalami pengalaman diplomatik terhadap kabilah-kabilah Quraisy dengan menjadi juru damai. Rasulullah menjadi penengah atas pertikaian mengenai kabilah mana yang berhak memindahkan hajar aswad ke tempat semula ketika ada renovasi ka’bah. Dengan cemerlang Rasulullah mengambil sehelai kain dan memerintahkan semua wakil kabilah untuk memegang ujung setiap kain. Setelah hajar aswad Rasulullah letakkan di tengah kain, seluruh kabilah mengelus jenggot atas kebijaksanaan yang Rasulullah berikan sembari mengembalikan hajar aswad ke tempatnya semula.

Ketika persoalan diantara sahabat antara sholat dan tidak sholat lagi manakala di perjalanan tidak ditemukan air wudlu dan kemudian tayamum, dan ndilalah pas selesai sholat malah ketemu air wudlu, juga diputuskan secara adil dan bijaksana oleh rasulullah.

Itulah sosok rasulullah yang adil dalam memutuskan perkara.

Tetapi lihatlah manakala rasulullah sendiri yang berperkara. Rasul akan menempatkan cintanya diatas keadilan. Di sebuah musim haji, Nabi berpidato untuk yang terakhir kalinya. Inilah peristiwa yang disebut haji wada’ atau haji perpisahan dengan Nabi. Nabi berpidato meminta maaf kepada kaumnya. Bila ada yang merasa pernah dijahati Nabi, silakan membalas atau men-qishash. Seorang sahabat berdiri dan bilang, saat dia berperang, tubuhnya pernah tercambuk oleh Nabi. Tercambuk, bukan dicambuk. Nabi pun menyuruh Ali mengambil cambuknya. Nabi telah bersiap untuk dicambuk, tapi sahabat itu tetap urung. Dia bilang, saat tercambuk Nabi, punggungnya sedang terbuka. Nabi pun membuka pakaiannya. Saat orang menahan napas, tak tega dengan pembalasan itu, bahkan Umar sempat menawarkan agar punggungnya saja yang dicambuk sebagai ganti, dan ini ditolak Nabi, sahabat yang siap mencambuk tiba-tiba melempar cambuk dan memeluk serta menciumi Nabi sambil berkata, “Aku rindu untuk menempelkan punggungku dengan punggungmu, Ya Rasulullah.” Rasulullah merasa haru dan bilang, “Inilah ahli surga.”

Jikasaja Rasul mengutamakan pengadilan ataupun keadilan, tentunya akan ada hakim atau sidang yang memutuskannya. Tetapi Rasul lebih memilih pasrah dan siap dicambuk meski saat itu keadaannya sudah sangat sepuh.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa sikap Rasulullah adalah yang harus dicontoh, karena pada suatu masa keadaan bisa berubah. Dalam pemahaman saya, Rasulullah akan bertindak sebagai hakim yang adil, plus solutif terhadap terhadap persoalan ummatnya. Tetapi jika beliau berperkara dengan orang lain, maka yang dikedepankan adalah cintanya.(*)

Pelajaran dari Kesalahan Rasulullah

Dalam bulan Ramadhan mulia ini setidaknya akan ada sebuah cerita yang selalu diulang oleh Ust Suprapto Ibnu Juraimi di setiap PIR (Pengajian I’tikaf Ramadhan). Saya sendiri tidak pernah bosan mendengarkan cerita itu. Yakni tentang teguran Allah SWT kepada RasulNya yang dibukukan dalam kitab suci Al-Quran, khususnya di surah Abasa.

Dalam sebuah peristiwa, Rasulullah akan diundang oleh para pembesar-pembesar kaum Qurais untuk menceritakan tentang ajaran, idiologi ataupun misi dan visi beliau. Maka, betapa senangnya Rasulullah menyambut undangan itu.

Dalam sebuah permisalah, Ust Prapto menggambarkan layaknya kita akan diundang ke istana negara dengan jemputan khusus, tempat khusus dan para tamu dari berbagai negara dan upacara kenegaraan. Sangat spesial.

Maka, segala persiapan mulai ditata: makalah, powerpoint, baju dan kemeja, press release dan segenap antah berantah yang serba spesial. Wajar dong, diundang sama pembesar kelas atas gitu loh!

Tapi, ditengah persiapan itu ternyata datanglah seorang buta hina dina menanyakan satu dua hal kepada Rasulullah. Entah apa yang sedang dicari oleh orang Buta itu, dengan tidak melihat situasi dan kondisi bahwa orang yang dihadapi sedang sibuk dan punya agenda penting, dia nyerocos menceritakan pengalamannya dan meminta pendapat Rasulullah.

Barangkali kalau saat itu saya yang sedang dihadapi orang buta itu, tentu saja saya akan menyampaikan keberatan saya dan segenap permohonan maaf saya kepadanya untuk datang lain waktu, karena agenda yang maha penting yang hendak saya hadapi.

Rasulullah lebih santun. Dia hanya menunjukkan dengan bahasa isyarat wajah yang tidak suka. Atau lebih tepatnya bermuka masam.

Hal itu tentu saja manusiawi. Sebagai manusia, dalam skala prioritas tentunya akan lebih mengutamakan diundang presiden daripada melayani pertanyaan dadakan oleh orang buta.

Tetapi lain manusia, lain pula Allah SWT. Dengan sangat tegas dan keras Allah menegur Rasulullah lewat surat Abasa. Rasulullah dikecam Allah untuk mendekonstruksi lagi niatnya, pemikirannya dan mandatnya sebagai seorang penyampai ajaran. Dalam surat itu Allah membeberkan lagi bahwa persoalan kerisalahan itu BUTA, tidak pilih-pilih,  terhadap siapapun yang dihadapi. Asal dia butuh, maka wajib bagi siapapun memberinya. Bahkan secara lebih menohok Allah mendekonstruksi: Belum tentu bahwa para pembesar yang mengundangnya itu merupakan orang yang bener-bener butuh didakwahi. Tidak ada tanggungjawab yang mengikat kepada Rasulullah ketika para pejabat Qurais itu tidak beriman. Tidak ada celaah kepada Rasulullah. Tetapi sebaliknya, meskipun orang buta hina dina itu kesannya ngerecoki ataupun mengganggu persiapan rasulullah, akan tetapi maksud dan tujuannya jelas untuk beriman atau mendapatkan risalah Nabi, maka wajib bagi Nabi untuk melayaninya.

Saat mendengarkan riwayat itu saya membayangkan betapa Rasulullah malu luar biasa ketika Allah secara keras menegurnya. Sesuatu yang dalam pikiran manusia macam saya manusiawi, ternyata beda di pandangan Allah. Ada nilai yang hendak disampaikan oleh Allah kepada saya. Orang buta itu bisa berwujud Anak kita, Istri kita,bapak-ibu,  tetangga kita, sanak keluarga kita atau orang-orang dekat, ataupun siapapun yang barangkali remeh di mata kita. Sementara Qurais itu bisa jadi Boss, relasi bisnis, undangan resmi, atau apapun yang memandang kita dari sisi ke-mumpuni-an kita. Dimanakah prioritas itu ditempatkan?

Namun demikian, sekalipun para nabi, termasuk Rasulullah banyak diantaranya yang mendapat peringatan dari Allah, kedudukan mereka dan kemuliaan mereka tidak pernah berkurang. Mengapa? Karena memang bukan pujian, bukan kedudukan dan bukan harta benda yang membuat mereka mulia. Mereka tidak perlu debat kusir, menutup-nutupi kesalahan, adu argumen, membayar jurkam ataupun melakukan propaganda demi kedudukan mereka. Allah lah yang menaikkan derajat mereka. Maka di mata umatnya, semua kesalahan itu bukan menjadi celaan melainkan menjadi pelajaran bagi siapapun.

Untuk itu, tidak perlu malu bagi siapapun jika memang melakukan kesalahan pada masa lalu dan menceritakannya kepada orang lain tentang kesalahannya itu, bilamana hal tersebut mendatangkan manfaat dan pelajaran bagi semua orang. Lain halnya dengan aib, aib adalah kehinaan yang hanya diceritakan sepanjang untuk pertimbangan hukum dan kemaslahatan.

Semoga kita senantiasa mendapat hidayah dari Allah SWT.

Mengenang Hari Jilbab Internasional

Ternyata, kemarin itu hari Jilbab Internasional tho. Saya baru baca di kompas halaman kedua dari belakang, dimana di kota Jogja ini ada demo dan kampanye pembagian 1000 Jilbab. Nggak nyangka aja, kok ada juga hari Jilbab Internasional. Wah, keren.
Meski hanya secarik kain yang dibuat untuk menutupi helai demi helai rambut perempuan, tampaknya banyak kisah dibalik benda bernama jilbab ini. Di berbagai belahan dunia, Jilbab masih menjadi benda yang menakutkan ataupun menimbulkan kecurigaan dengan dalih separatis lah, terorisme lah dan pemojokan lain sebagai sikap phobia terhadap Islam. Bahkan Perancis dan Inggris yang notabene negeri penjunjung tinggi hak asasi manusia masih saja pasang kuda-kuda waspada terhadap penggunaan jilbab. Ada yang melarang seratus persen dan ada pula yang membatasi ruang geraknya di ranah publik.
Kita di Indonesia patut bersyukur bahwa Jilbab sudah menjadi busana yang nggak mengherankan lagi jika dipakai. Bebas, perempuan siapapun yang pakai silah-silahkan saja tanpa paksaan, walaupun dalam catatan Aceh memaksa kepada umat Islam untuk memakainya. Indonesia dan beberapa negara asia tenggara macam malaysia dan Singapura menjadi simbol bahwa di sana orang relatif berjilbab bukan karena dipaksa oleh siapapun kecuali atas kesadarannya dan konsekuensinya sebagai umat Islam.
Hal ini berbeda dengan negara Islam macam Arab Saudi dan timur tengah lainnya. Jilbab bukan saja dipaksakan tetapi juga sebagai simbol pendomestifikasian perempuan ataupun pengekangan perempuan kepada lingkup yang relatif limited. Perempuan tidak bisa bebas berada di ruang-ruang publik dan menempati posisi strategis.Entah karena persoalan pemahaman fikih ataupun politis, wallahualam.
Saya tidak tahu kapan jilbab memasyarakat di Indonesia. Dalam pengalaman saya, saya baru melihat satu-satunya orang berjilbab di SMP 29 pas saya kelas tiga. Itu cuma melihat! Kalau di SMA sih nggak pernah ada yang berjilbab kecuali suster-suster pengajar . Nah, pas perguruan tinggi di UGM itu baru lebih sering ketemu sama temen yang jilbaban. Orang pertama berjilbab yang ngajak saya ngomong namanya Siti Mualifah dari Tuban, Jawa Timur. Wah, jika diungkapkan, saat itu rasanya takuuuuuut banget. Seolah saya berhadapan dengan orang suci dan secure macam suster-suster itu. Sehingga baru beberapa menit saja keringat dingin sudah mengucur. Maklum, sebagai orang yang belum tahu Islam, jangan-jangan nanti ditanya macam-macam perihal Qur’an, Sunah dan lain sebagainya. Lha matik aku!
UGM tercatat pernah membiangi pemasyrakatan jilbab. Saya lupa kapannya, mungkin16 Mei 1987, yang jelas Jamaah Shalahuddin memfasilitasi Emha Ainun Najib beserta Teater Shalahuddin untuk pentas dengan lakon Lautan Jilbab. Sebuah fragmen perlawanan:

“Jilbab adalah keberanian di tengah hari-hari sangat menakutkan.
Jilbab adalah percikan cahaya di tengah-tengah kegelapan.
Jilbab adalah kejujuran di tengah kelicikan.
Jilbab adalah kelembutan di tengah kekasaran dan kebrutalan. Jilbab adalah kebersahajaan di tengah kemunafikan.
Jillbab adalah perlindungan di tengah sergapan-sergapan” .
(Emha Ainun Najib – Lautan Jilbab).

Sekarang, barangkali anomali atas jilbab sebagai busana muslimah mulai nampak. Sudah bukan hal baru jika jilbab pada masa sekarang tidak lagi menunjukkan akhlak mulia pemakainya. Itu yang menjadi titik perlawanan dan alasan perempuan yang belum mengenakan jilbab. Walaupun jika ditelusur lebih lanjut, berjilbab itu kewajiban, bukan sekadar pamer akhlak.
Pada waktu penulisan skripsi, salah satu diantaranya saya mengupas tentang jilbab. Jilbab perempuan bisa menunjukkan identitas dari golongan manakah dia berasal: salafy, tarbiyah, HT, muhammadiyah ataukah Nahdliyin, syiah dan lain sebagainya, atau kelompok muslimah pop. Dosen pembimbing saya protes: “Kau harus adil. Dalam skripsimu ini kupasan identitas fisik yang lebih menonjol adalah perempuan dengan jilbabnya. Semestinya kamu juga kupas dong persoalan identitas fisik yang laki-laki juga. Kalau tidak, kamu akan terjebak pada persoalan gender yang cenderung mendiskreditkan perempuan sebagai objek penulisan skripsimu. Hei, memangnya identitas keislaman kaum lelaki itu apa?
Waduh, bingung juga saya menjawabnya. Tetapi daripada nggak goal, saya jawab saja sekenanya, menatap wajah Bapak Dosen dan berlagak polos:”Celanan congkrang dan jenggot.., Pak..(Am I right?)”
Untuk yang sudah menikah, jilbab juga bisa dimasukkan sebagai indikator perhatian lelaki kepada istrinya. Pada persoalan kepantasan, perempuan paling sulit melakukan matching pilihan kepada suatu jilbab. Variabel yang dipertimbangkan banyak: warna, desain, pernik, harga, matching tidaknya dengan baju yang rata-rata dimiliki, kemudahan pemakaian, bahan yang digunakan, ukuran, detil, jahitan dan kemudian dicoba: sesuai atau tidak dengan bentuk wajah dan riasan, tambah cantik atau tambah tembem dll. Makanya saya sering nyerah kalau ngantar istri cari jilbab. Bisa 15 tempat nggak ketemu dan pulang dengan tangan kosong.

Pernah suatu ketika saya diminta untuk beli jilbab model tertentu di Jalan Kaliurang oleh Istriku sayang berdasarkan referensi adiknya. Saya minta seorang sahabat saya mengantar saya cari dan masuk ke toko ybs. Sungguh suatu pengalaman yang menggelikan. Ternyata meski model dan warnanya sudah sesuai dengan yang dibayangkan, masuk toko dan mencari benda yang dimaksud bukan hal yang mudah. Begitu buka pintu, berpasang mata melihat dan menelanjangi kami berdua yang notabene laki-laki. Kemudian meringsek diantara sekian tubuh berjilbab untuk kemudian ikut memilih-milih satu diantara sekian tumpukan jilbab tentunya bukan pemandangan yang biasa. Sama tidak biasanya dengan perempuan lain yang ingin mencoba jilbab tetapi malu karena melihat kami. Itu baru satu toko (karena gak ketemu benda yang dimaksud). Di toko lain ternyata lebih sial. Tidak ada orang lain yang beli dan hanya ada dua penjaga perempuan yang wajahnya cantik banget. Hanya saja melihat kami datang wajah mereka bukannya bersikap ramah tapi malah menatap curiga. Daripada deg-degan saya ngomong sama mereka:”Euhm. ..maaf Mbak, saya kira jual koko. Ternyata saya salah masuk..” Dan kemudian ngeloyor pergi.
Salam buat perempuan yang memakai jilbab seantero jagad. Dunia menjadi indah dan Islami karena Anda. Selamat hari Jilbab sedunia. (*)

Malu, Penyakit Sulit Baca Al-Qur’an

Salah satu kebiasaan saya paling sulit adalah membaca Al-Qur’an. Mungkin karena kebiasaan yang selalu tertancap di ubun-ubun yang selalu mengatakan bahwa melakukan sesuatu itu mesti ngerti apa tujuannya, maka bagi saya membaca Qur’an tidak menjadi sesuatu yang sifatnya konsumtif. Otak sadar saya mengatakan bahwa:”Ngapain susah-susah mbaca Qur’an kalau kita tidak tau artinya?”

Suatu saat pertanyaan itu saya tanyakan kepada salah seorang ibu-ibu pada waktu pengajian tadarusan di  kampung. Jawabannya bikin saya iri: “Bagi saya, membaca Qur’an itu seperti halnya makan. Ada sesuatu yang menentramkan dan menyejukkan hati saat saya membaca Qur’an. Maka, kalo nggak sehari saja mbaca kok rasanya ada yang kurang. Ya kalau ditanya saya nggak tau artinya apa. Tetapi ketenangan batin ini tidak bisa digambarkan manakala tidak membaca Al-Qur’an.”

Saya tahu ibu itu menjawab dengan kesadaran dan tidak dengan keterpaksaan ataupun motif politis (hehe…..pokoknya kalau agama sudah bau politik, jauh-jauh deh….seperti mencium kentut aja.).Dilihat dari strata sosialnya dia bukan golongan orang berpangkat, kaya ataupun punya pamrih. Dilihat dari tingkat pendidikan, dia juga bukan golongan berpendidikan tinggi. Disanalah saya melihat totalitas dia dalam beragama.

Saya ingat betul, pertama kali belajar membaca Qur’an itu pas di Jamaah Shalahuddin. Diajari oleh Joko, Rifai, dan teman-teman lain di HMI. Sebelum itu gak pernah tau apa itu alief, ba, ta dll. Harap maklum lah, pas sekolah di SMA Katholik dulu boro-boro baca Qur’an, sholat aja enggak.

Sejak SMA sih aku agamanya Islam. Jangan ragukan itu! Tetapi kalau menjalankan syariat kayaknya nggak deh. Orang di Semarang dulu juga gak terlalu hidup tu namanya pengajian, TPA atau sejenisnya. Pas ketrima di SMA Katolik juga mikirnya ya bukan masalah agama, tapi apakah sekolahku itu sekolah yang berkualitas apa nggak. Nah, jadi nggak salah saya milih sekolah SMA Katolik. Karena di Semarang, sekolah paling disiplin, paling favorit dan paling menjamin anak didiknya ya sekolahku itu, gak perduli bayarnya mahal apa nggak.

Seperti halnya Nurul F. Huda mengutip kisah saya di bukunya pertama, saya paling senang menunjukkan identitas keislaman saya dengan memakai kalung bergambar kaligrafi Allah. Sebuah kalung yang senantiasa mengingatkan bahwa di SMP dulu saya pernah bergabung dengan gank bernama Soleh Boys(Walaupun kegemarannya ya gelut, berantem dan tawuran). Nggak terbayang deh betapa bangganya jadi seorang muslim di tengah komunitas non muslim! Maka, bulan Ramadhan seperti ini menjadi sesuatu yang paling menjadi tumpuan saya untuk menghapus semua dosa gara-gara tidak sholat dan tidak jumatan, saat itu.

Suatu hari, tepatnya suatu malam pada saat kelas 2 SMA, saya pernah berdoa. Sebuah peristiwa yang saya hafal betul dan saya berucap: “Tuhan, jika memang Islam menjadi agamaku, maka tunjukkan kepadaku jalan itu.” Maka , kedatangan saya ke Jogja, barangkali, adalah jawaban Allah akan doa itu. Lalu,  saya habiskan untuk mencari sebanyak-banyaknya tentang Islam mulai dari yang fundamental, tradisional, moderat, ortodoks, kanan, kiri bahkan postmodernis. Dari JMF dan kemudian di JS lah saya memulai itu. Tepat di JS pas lagi demen-demennya belajar Al-Quran, mulai dari alief ba ta sampai dengan langsung Qur’annya. Gak perduli mau makhraj ataupun maad nya gak tepat. Mikir terlalu sempurna malah nanti gak jalan-jalan belajarnya. Kadang, bisa satu hari satu juz saya coba baca. Hanya dalam tempo 6 bulan sesudah tahap serius itu, kemudian mulai mencoba menjadi guru TPA Al-Hidayah di Kentungan. Hasilnya, gak sampai 1 tahun naik jadi rektor TPA.

Mulailah setelah itu saya mencoba merunut lebih jauh tentang tafsir dan pemaknaan tiap-tiap ayat. Waduh….ternyata jauh lebih susah memahami ayat daripada membacanya.Entah ya, apa memang dibikin susah apa ya ilmu tafsir itu? Baru buka satu buku tafsir Al-Azhar saja udah begitu pusingnya. Bagaimana dengan tafsir yang lain?

Eh..lama-lama jenuh juga.

Sekarang aja, ketika anak mulai besar baru saya mencoba lagi belajar bersama anak-anak untuk bisa memahami ayat demi ayat. Iyan, yang besar insya Allah sudah hafal seluruh huruf Hijaiyah dan mulai melangkah ke tanda baca fathah, dhommah dan kasroh. Yang kecil udah mulati hafal huruf nun sama jim. Bedanya, kalau saya dulu belajar pakai Iqro’, kalau anak-anak belajar dengan Baqmi (Belajar Al-Qur’an Metode Interaktif), sebuah software flash yang membantu anak-anak memahami huruf per huruf hijaiyah sampai dengan tingkat lanjut. Malu dong jadi bapak kalau gak bisa jadi tauladan buat anaknya: hehe….ego seorang ayah mulai keluar. Doakan saya ya…(*)