Kecelakaan, Polisi, dan Jawaban Keadilan

Alhamdulillah, Innalillah. Tadi pagi dapat kecelakaan dengan seseorang (bapak usia 50 tahun-an) mengendari Kawasaki Blitz no pol AB 5530 CI di daerah pertigaan Lapangan Mandala Krida sebelah Barat. Adalah pertigaan, kami sama sama dari arah selatan menuju pertigaan ke arah Barat dan Utara. Bapak itu ada di depan saya, dan dari arah Bapak itu lagi di kiri agak ke tengah pertigaan dengan posisi diam dan kemudian ragu-ragu menuju ke arah utara. Saat posisi saya ada di kanan sejajar dengan dia, tetapi dia mendadak belok ke Kanan, ke arah utara sehingga motor saya mengenai Body samping motor dia. Motor dia tidak apa-apa karena posisinya ada di depan saya, sementara saya yang berusaha membanting motor shogun saya, harus mencium aspal sehingga ujung depan bodi motor saya pecah.

Saya merasa benar, karena posisi saya ada di kanan dia dan dia tidak menggunakan lampu sen. Dia merasa benar, karena dia yang ditabrak dan dia merasa sudah menggunakan lampu sen.  Saya minta ganti rugi dia tidak mau. Saya minta keadilan dengan mengusulkan supaya kita sama-sama ke polisi agar bisa dirembug. Dia makin tak mau. Alasannya dia merasa ditekan dengan saya usul ke polisi.  Setelah bersitegang sebentar, dia meninggalkan saya dengan alasan tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.

Maka saya kemudian ke kantor polisi depan gramedia. Ketemu dengan seorang polisi yang kemudian memberikan prosedur pelaporan. Intinya begini: kalau memang laporan saya mau ditindak lanjuti, maka motor saya mesti ditahan di kantor sebagai barang bukti. Baru kemudian polisi membuat laporan pengaduan yang intinya ada pihak yang melarikan diri dari tanggungjawab. Setelah itu baru dilakukan pemanggilan selaku saksi, selama 2 kali dan jika tidak digubris, maka polisi baru melakukan penjemputan.

Saya melihat lokasi penyimpanan barang bukti, ternyata motor saya nanti nasibnya akan dihujan-hujankan di luar (mana sekarang musim hujan) meskipun dikrangkeng dan niscaya aman. Tetapi prosesnya, kata polisi, tidak bisa saat itu juga dan bisa lama (dia tidak bilang berapa lama)

Demikian, jelas saya pusing. Saya tidak bisa menawar, katakanlah menunjukkan , karena katanya itu bagian dari peraturan. Akhirnya dengan nada putus asa saya tidak melanjutkan gugatan, tetapi meminta dia mencari barangkali petugas mau membantu saya untuk mencarikan ybs supaya urusannya dengan saya selesai. Selebihnya itu, ya sudah, biarlah ini menjadi hari apes saya.

Ada pendapat?

Advertisements

In memoriam…..

Tadi ada yang meninggal. Ayahnya mbak Denok, kakak ipe-ku. Rasanya deg-degan juga membayangkan andai saja yang terbaring dan disholatkan itu adalah aku sendiri. Entah apa yang terjadi di kemudian hari. Rasanya masih banyak dosa yang diperbuat, dan masih sedikit yang membuat hidup ini menjadi bermakna. Padahal, ajal entah kapan, dekat atau bahkan sangat dekat. Siap tidak siap, seolah ada sang malaikat pencabut nyawa di belakang membawa sebilah belati dan siap menikamku sewaktu-waktu.

Orang tua…….hanya dua orang tua, sekalipun beranak sepuluh, usahanya adalah untuk membahagiakan kesemuanya. Tetapi, biarpun ada sepuluh anak, belum tentu mampu membahagiakan hanya dua orang tua..

Cranberries—Ode to my family

Doo, doo, doo, doo, doo, doo, doo, doo…

Understand the things I say, don’t turn away from me,
‘Cause I’ve spent half my life out there, you wouldn’t disagree.
Do you see me? Do you see? Do you like me?
Do you like me standing there? Do you notice?
Do you know? Do you see me? Do you see me?
Does anyone care?

Unhappiness where’s when I was young,
And we didn’t give a damn,
‘Cause we were raised,
To see life as fun and take it if we can.
My mother, my mother,
She hold me, she hold me, when I was out there.
My father, my father,
He liked me, oh, he liked me. Does anyone care?

Understand what I’ve become, it wasn’t my desing.
And people ev’rywhere think, something better than I am.
But I miss you, I miss, ’cause I liked it,
‘Cause I liked it, when I was out there. Do you know this?
Do you know you did not find me. You did not find.
Does anyone care?

Unhappiness where’s when I was young,
And we didn’t give a damn,
‘Cause we were raised,
To see life as fun and take it if we can.
My mother, my mother,
She hold me, she hold me, when I was out there.
My father, my father,
He liked me, oh, he liked me.

Does anyone care?… X9
Doo, doo, doo, doo, doo, doo, doo, doo…

Tentang Kusir Angkringan, internet berbasis komunitas pedesaan

Barusan kemarin sabtu lembaga saya dapat undangan dari KUSIR – ANGKRINGAN (Komputer Untuk Sistem Informasi Rakyat). Sebuah undangan yang menarik karena di situ disebutkan bagaimana mereka (para pengundang) melakukan upaya pemasyarakatan internet berbasis komunitas. Sayangnya acara tersebut tidak bisa saya ikuti karena ada janjian sama sebuah lembaga di UGM untuk kontrak kerjasama. Maka acara itu diwakilkan kepada teman saya.

Tidak ada yang menarik, kata teman saya yang ikut, kecuali bahwa ada 2 oleh-oleh berupa CD dan satu buku tentang mereka= KUSIR ANGKRINGAN yang jelas-jelas saya butuhkan untuk mengetahui tentang pemanfaatan internet berbasis komunitas. Konon, telah lama saya mendambakan bagaimana masyarakat pedesaan dapat melakukan akses internet gratis sehingga, petani bisa mengakses perkembangan teknologi pertanian, anak desa bisa ngerti bagaimana dapat bahan bacaan pelajaran dll, mirip iklannya telkom tentang internet.

Di buku itu disebutkan bahwa Kusir Angkringan dulunya adalah kelompok radio komunitas yang berjejaring untuk penyebarluasan informasi antar anggota komunitas. Sukses dalam mengelola radio komunitas, kemudian mereka melangkah ke internet dikarenakan kebutuhan internet yang tinggi dan sebelumnya bergantung pada warnet yang jaraknya 2 km dari kantor mereka, dengan frekuensi buka warnet yang diragukan jamnya. Dari sana mereka menjawab persoalan itu dengan gagasan Onno W. Purbo tentang RTRW net dengan media WLAN.

Dari situ kemudian mereka mengutak-atik gagasan wajanbolik sebagai antena yang digunakan menangkap sinyal dari server untuk disebarluaskan ke komputer anggota dengan berbagai radius. Asyiknya, mereka tidak menggunakan software OS bajakan tetapi menggunakan Ubuntu server 8.04 sebagai server.

Di buku itu pun disertakan petunjuk teknis pembuatan wajanbolik dan alokasi biaya yang harus dikeluarkan. Sayangnya, menurut saya, pengadaan infrastruktur ini masih terlalu tinggi untuk ukuran masyarakat desa. Untuk reciver saja, wajanbolik, harus menghabiskan biaya minimal 200 ribu-an belum termasuk wlan, kemudian juga bagaimana cara memperoleh bor pelubang, dan alat-alat kerja lainnya. Untuk aksespoint juga paling nggak butuh 1,5 jt belum terrmasuk tower, dan juga koneksi internet yang hendak di-share. Pendek kata, masih butuh pengembangan teknologi yang lebih ramah orang miskin. Akan tetapi langkah Kusir Angkringan jelas langkah hebat untuk menciptakan wahana internet untuk pedesaan.

Pada tahap selanjutnya mereka akan mengawinkan antara radio dan internet menjadi radio online. Ok deh..selamat untuk Kusir Angkringan, semoga makin banyak keberpihakan kepada petani dan komunitas desa.

keterangan selengkapnya silahkan lihat di www.angkringan.web.id

Apakah semua pemulung adalah pencuri?

Saya pribadi merasa sedih terhadap mereka yang berprofesi sebagai pemulung. Di satu sisi sungguh saya pernah merasakan bagaimana kehilangan barang-barang mulai dari jemuran, sepeda dan lain sebagainya dengan indikasi diambil oleh pemulung. Tetapi pada sisi lain saya juga merasa bahwa mereka telah berjasa besar melakukan recycling terhadap sampah-sampah yang mestinya hanya menambah beban bumi.

Tadi pagi saya menemukan papan warning di depan sebuah gang di Jl.Kaliurang km5. Bisa jadi antara “pemulung” dengan “pencuri” konteksnya terpisah. Tetapi ketika pencuri harus siap mati…Masya Allah. Apakah kita siap mempertanggungjawabkan penghakiman dan niatan kita ini dihadapan Allah, sekalipun ini barangkali hanya gertak sambal.

Menurut teman saya, di beberapa gang di wilayah sekitar, papan warning ini dah ada sejak lama. Tidak jelas juga siapa yang masang. Semoga, tidak terjadi pembunuhan, dan semoga keadilan benar-benar ditegakkan oleh hamba hukum dan tidak membiarkan masyarakat melakukan self defense sendiri. Apalah Indonesia jika anarki menjadi raja (*)

Rewiew Buku Novel Jonathan Livingstone Seagull

Review Buku

BURUNG CAMAR JONATHAN

( catatan: dahulu aku pernah memiliki buku ini, kecil, warna hitam, dan isinya cuma gambar camar. Saat itu buku bekas termahal karena harganya 40 ribu tahun 97. Sekarang, ilang gak tau dimana)
Diambil dari situs yang dalam perbaikan: http://www.sekolahkehidupan.com

Sudah menjadi kebiasaan selama ribuan tahun bagi burung-burung camar, bahwa setiap pagi mereka selalu mencari sisa-sisa makanan dari perahu para nelayan. Ikan-ikan kecil yang tak dibawa pulang, kembali dibuang di pinggir pantai oleh para nelayan, dan itulah makanan burung camar. Sudah menjadi kebiasaan selama ribuan tahun bagi burung-burung camar, bahwa setiap pagi mereka selalu mencari sisa-sisa makanan dari perahu para nelayan. Ikan-ikan kecil yang tak dibawa pulang, kembali dibuang di pinggir pantai oleh para nelayan, dan itulah makanan burung camar.

Jonathan, salah satu dari burung-burung camar itu, memiliki perangai berbeda dengan yang lainnya. Ia tak mencari makanan, tetapi malah berlatih terbang dengan serius. Berbagai gaya dan cara dipelajarinya: lurus, belok, menukik, menghujam dsb. Pada sebuah tikungan ia terbang perlahan, mengepakkan sayap, tapi karena ragu, ia pun terjatuh.Namun ia bangkit kembali. Ia memang seekor burung camar yang luar biasa. Ibunya berkata, Anakku, engkau begitu kurus, tinggal tulang dan bulu saja. Ayahnya pun mengatakan,Musim dingin segera tiba, perahu nelayan sangat sedikit dan ikan-ikan akan lebih dalam menyelam. Yang perlu dipelajari adalah menyelam lebih dalam, untuk mendapatkan makanan. Belajar terbang memang baik, tetapi, mencari makanan itu yang penting.

(Bukankah seringkali justru rintangan/hambatan untuk maju berasal dari orang-orang terdekat? Sesungguhnya bukannya mereka berniat menghalangi, namun mereka tidak rela jika orang yang dikasihi itu menderita, meskipun untuk maju).

Jonathan mencoba menuruti nasihat ayahnya. Beberapa minggu menjadi burung camar biasa. Berebut dengan temanteman untuk mematok kepala ikan dan remah-remah roti dari para nelayan. Sayang, ia tak dapat melakukan itu lebih lama. Ia pikir, ini sia-sia, lebih baik belajar terbang. Ketika telah memecahkan kecepatan tertinggi yang pernah dicapai burung camar, ia mengalami malapetaka. Ketika ia menukar sudut sayapnya, ada sesuatu memukulnya bagai dinamit. Ia terhempas dan terbanting dengan keras ke dalam laut. Ia semaput. Saat ia sadar hari sudah malam, bulan membayang, sayapnya hancur berkeping, luka terberat pada punggungnya. Dengan putus asa ia pikir, berat badannya pasti akan menenggelamkannya dan tamatlah riwatnya. Saat-saat akan tenggelam ia mendengar bisikan. Tak ada jalan lain, saya adalah seekor burung camar. Saya terbatas oleh alam. Jika saya ingin sungguh-sungguh belajar terbang, saya harus memeras otak saya. Ia kembali berpikir untuk menjadi burung camar BIASA seperti lainnya. Tapi dorongan lain muncul. Ia tetap ingin belajar terbang dan dengan ketekunannya ia menjadi seekor burung camar yang luar biasa. Ia sempat terbang dengan kecepatan tingi di hadapan teman-temannya, meski ia khawatir akan terjadi tubrukan, nyatanya tidak juga. Bahkan ia menyaksikan keberhasilan yang telah dicapainya, yang juga dilihat teman-temannya. Berbulan-bulan lamanya ia latihan terbang, dan manakala ia pulang hari telah larut. Ia ingin membagi kegembiraan dengan teman-temannya. Karena ia merasa betapa sungguh berartinya hidup ini. Daripada melakukan pekerjaan yang membosankan setiap hari, kita dapat mengangkat diri kita keluar dari
kebodohan, kita dapat membuktikan bahwa kita makhluk terunggul, terpandai, tercakap yang pernah diciptakan. Kita dapat bebas!

Tahun mendatang penuh harapan dan janji. Waktu ia mendarat nampak burung-burung camar lain sudah berkumpul di Dewan pertemuan, sedang menunggu sesuatu. Tiba-tiba kata-kata ketua burung camar menggelegar, Burung Camar Jonathan Livingstone! Berdiri di tengah! Jonathan pikir, yang disuruh berdiri di tengah pasti hanya ada dua: Yang melakukan kesalahan besar atau patut menjadi pemimpin besar. Tiba-tiba suara ketua menggelegar lagi. Burung Camar Jonathan Livingstone! Berdiri di tengah karena suatu keaiban di hadapan kawan-kawan lain! Ia merasa terpukul oleh papan. Lututnya lemas, bulu-bulunya merinding, telinga berdengung. Apa? Keaiban? Tidak mungkin! Rekor baru itu? Mereka tak mengerti. Pasti mereka salah! Jonathan membatin.
…karena tidak memperhatikan aturan, suara tenang dalam hatinya, …melanggar kemuliaan dan adat istiadat keluarga burung camar! Ditempatkan di tengah karena keaiban berarti ia akan dicampakkan dari kelompoknya dan hidup sendirian di tebingtebing jauh dalam pembuangan. Satu hari nanti, burung camar Jonathan, kamu akan tahu bahwa melepaskan tanggung jawab adalah nista.

Hidup adalah ketidaktahuan dan ketidakmungkinan. Kita dilahirkan di dunia ini tidak lain adalah untuk cari makan, dan untuk bertahan hidup sedapat mungkin selama kita mampu.
Meski tak seekor pun burung camar yang berani membantah, Jonathan menentangnya dengan suara keras, Tidak bertanggung jawab? Siapa yang lebih bertanggung jawab daripada seekor burung camar yang telah menemukan suatu makna untuk tujuan hidup yang lebih tinggi? Seribu tahun lamanya kita telah mencabik-cabik kepala ikan, tapi sekarang kita punya satu alasan untuk hidup, untuk belajar, untuk menemukan dan untuk bebas! Beri saya satu kesempatan dan biarkan saya menunjukkan apa yang telah saya dapatkan… Persaudaraan kita telah terputus! teriak burung-burung camar itu bareng, lalu dengan menutup telinga meninggalkan Jonathan sendirian.

Jonathan menghabiskan hari-harinya dalam kesendirian. Terbang jauh melampaui tebing-tebing. Kesedihannya bukan  karena kesepian dan kesunyian, tapi karena teman-temanya tidak mau mengakui kegemilanganya dalam terbang. Ia sedang menunggu kesadaran mereka untuk membuka mata dan melihat kenyataan. (Justru orang-orang maju, yang berkembang, melebihi teman-temannya, seringkali mengalami nasib malang, ia tidak dipahami malah disingkirkan, dibuang dari kumpulannya. Kumpulan tak mau mengakui keunggulan salah seorang anggota yang lebih baik. Mereka merasa terancam karena keunggulan salah satu warganya, walau itu hanya persepsi mereka saja).

Jonathan lebih banyak belajar lagi. Lebih lagi. Sampai ia menyadari apa yang pernah ia harapakan untuk kumpulan camarnya telah ada pada dirinya sendiri. Dia belajar untuk terbang dan tidak menyesal akan harga yang telah dibayarnya. Jonathan menemukan bahwa kejemuan, ketakutan dan kemarahan adalah sebab mengapa kehidupan mereka begitu pendek, dan dengan menghilangkan hal-hal tersebut dari pikirannya, ia dapat hidup lebih baik dan lebih lama.

Ketika Jonathan terbang sendirian, tiba-tiba muncul dua ekor burung camar lain yang memerhatikan dan mengikutinya terbang dengan beraneka gaya. Akhirnya kedua burung asing itu mengatakan, Sangat baik. Tetapi Jonathan bingung dan bertanya, “Siapakah Anda?”
“Kami dari kumpulanmu Jonathan. Kami adalah saudaramu”, katanya dengan tegas tetapi lembut.
“Kami datang untuk mengangkatmu, membawamu pulang.”
“Rumah saya tidak punya, kawan pun tidak. Saya adalah burung buangan.

Sekarang kita terbang pada puncak Great Mountain Wind. Di bawah ratusan kaki, saya tak dapat mengangkat tubuh tua ini lebih tinggi. Akhirnya mereka sepakat untuk mengangkat Jonathan sebagai pemimpinnya, dan Jonathan telah siap. (Ada seorang pemain bisbol. Setiap kali pertandingan ia ditempatkan sebagai pemain cadangan. Ia tidak pernah mengeluh. Bahkan terus menerus berlatih, tanpa mengurangi jadwalnya. Pada suatu momen pertandingan antarnegara, pemain utama berhalangan. Pemain cadangan itulah yang menggantikannya, karena ia telah siap. Kesempatan selalu mendatangi orang yang telah siap).

Jonathan merasa berada dalam surga. Ia merasa kemampuan terbangnya dua kali lipat daripada rekornya di bumi. Kenangan kehidupan di bumi sudah hilang. Bumi pernah merupakan suatu tempat di mana ia telah mempelajari banyak hal, tentu saja, tetapi perkara-perkara kecilnya telah hilang…. seperti saling berebut makanan dan menjadi camar buangan. 12 ekor burung camar datang menemuinya. Meski tak berkata sepatah pun, Jonathan merasa dirinya disambut, di sinilah rumahnya. Hari itu telah menjadi hari yang penuh arti baginya. Terbit dan tenggelamnya matahari tak diingat lagi. Di sini banyak hal tentang terbang dapat dipelajari. Ada satu perbedaan: Burung-burung camar di sini punya pemikiran seperti dia. Bagi mereka yang terpenting adalah hidupnya mencapai suatu kesempurnaan akan hal yang paling mereka sukai, yaitu terbang. Mereka adalah burung-burung hebat, luar biasa, yang menghabiskan setiap jam kehidupannya untuk
berlatih terbang, mencoba taktik-taktik yang lebih maju. Ketika dia tanyakan kepada teman barunya, Sullivan, ia mendapat jawaban, Satu-satunya jawaban adalah bahwa kamu adalah burung camar yang paling istimewa di antara jutaan burung lain. Sebagian besar dari kami sangat lambat dalam mencapai keberhasialn itu. Kami mengembara dari satu dunia ke dunia lain yang hampir sama, melupakan tempat asal kami dan tidak peduli akan masa depan, hidup hanya untuk saat itu. Tahukah kamu, berapa banyak kehidupan yang harus kami lalui sebelum kami mendapat gagasan bahwa hidup adalah lebih dari sekedar untuk makan dan merebut kekuasaan di dalam kumpulan kami? Seribu kehidupan, Jo, sepuluh ribu. Dan ratusan kehidupan lagi sampai kami mengetahui ujud suatu kesempurnaan. Ratusan kehidupan lagi untuk mendapatkan ilham bahwa tujuan hidup kami adalah mencari kesempurnaan dan menunjukkannya.

Suatu sore, Jonathan menemui Chiang, dan menanyakan tentang surga. Chiang menjawab, Surga bukanlah suatu tempat dan juga bukan waktu. Surga adalah kesempurnaan. Kamu akan mulai menyentuh surga, pada saat kamu mencapai suatu kecepatan sempurna. Kesempurnaan tidak mengenal batas. Jonathan menyaksikan camar tua yang masih gesit itu tiba-tiba menghilang dalam sekejap lalu muncul di tempat lain. Jonathan ingin belajar terbang seperti itu. Kamu dapat pergi ke mana saja dan kapan saja bila kamu mau. Saya sudah pergi ke setiap tempat setiap saat bila saya memikirkannya. Ini adalah hal yang asing. Burung-burung camar yang hanya mementingkan suatu pengembaraan tanpa menuntut kesempurnaan tak akan dapat pergi ke mana-mana dalam sekejap. Ingat Jo, surga bukanlah suatu tempat atau suatu kurun waktu, karena tempat dan kurun waktu terlalu tidak berarti. Surga adalah ….

Untuk dapat terbang secepat pikiran, ke mana saja, kamu harus memulai dengan mengetahui bahwa kamu sudah tiba. Lalu Chiang pergi menghilang. Sebelumnya ia meninggalkan pesan bahwa Jonathan harus terus belajar dan bekerja dalam kasih. Jonathan ingin membagi pengalamannya dan kemahirannya kepada burung-burung camar di bumi, yang pernah membuangnya.
Sullivan, temannya, menasehati agar ia tidak usah kembali ke kumpulannya, tetapi melatih saja di tempat yang baru.

Untuk beberapa bulan lamanya Jonathan mengikuti nasehat Sullivan, sampai ia mendapatkan murid-murid baru yang diajarkannya terbang. Setelah mereka mahir, mereka diajak untuk kembali pulang ke kampung halaman Jonathan dan membagi pengalaman mereka. Meski ada rasa cemas, dan melanggar peraturan ribuan tahun, namun toh Jonathan berangkat juga ke kampung halaman.

(Jarang sekali orang yang sudah sukses mau kembali ke kampung halaman untuk memajukan teman-teman dan saudara-saudaranya. Yang sering terjadi, mereka lupa kan kampung halamannya. Hal ini tidak berlaku bagi Jonathan).

Seluruh tubuh Anda, dari ujung sayap ke ujung sayap lainnya, tidak lebih dari pikiran Anda sendiri, dalam bentuk yang dapat Anda lihat. Patahkan rantai pikiran Anda, dan Anda akan mematahkan rantai yang membelenggu tubuh anda….

Jonathan mengajak kawan-kawan dari kumpulan terbuang, untuk kembali ke kampung halamannya. Meski ada perasaaan ragu dan cemas, apalagi dengan adanya peraturan, bahwa mereka yang telah dibuang tidak boleh kembalilagi, toh mereka berangkat juga. Ketika mereka terbang dengan formasi indah, ribuan burung camar di bumi memerhatikan mereka. Saat mereka
mendarat, apa yang dikhawirkan Fletcher akan terjadi pertempuran, tidak terbukti. Bahkan meski mereka menyadari bahwa kumpulan kecil itu adalah burung camar buangan, tapi mereka mengagumi kemahiran terbang mereka. Tetapi, sang Ketua setelah sekian lama diam, berteriak,

“Abaikan mereka! Barang siapa bicara dengan camar terbuang”, iapun ikut terbuang. Burung-burung buangan itu pun melakukan latihan terbang setiap hari, sampai akhirnya setelah satu bulan, setiap saat Jonathan memberikan instruksi kepada murid-muridnya dalam suatu lingkaran, ada lingkaran lain mengelilingi murid-murid Jonathan.

Malam berikutnya Kirk Maynard, dari kumpulan berjalan terhuyung, menyebarnagi pasir, menyeret sayap kiri dan jatuh di kaki Jonathan.
“Tolong saya. Saya ingin terbang lebih dari segala-galanya”, katanya mengiba pada Jonathan.
“Mari, loncatlah dari tanah bersama saya dan kita mulai!”
” Anda tidak mengerti! Sayap saya, saya tidak bisa mengembangkan sayap saya…”
” Burung camar Maynard, Anda mempunyai kebebasan menjadi diri anda sendiri, di sini, sekarang juga. Tak sesuatu pun yang dapat menghalangi anda. Ini undang-undang Camar Agung, itulah peraturannya.”
“Anda katakan, saya dapat terbang?”
“Saya katakan, Anda bebas!”

Dengan cepat dan mudah Kirk Maynard membentangkan sayap, mengangkat tubuh ke dalam udara malam gelap gulita dengan tidak bersusah payah. Tiba-tiba ia menjerit sehingga membangunkan camar-camar lain dari tidurnya, “Saya bisa terbang! Dengar… SAYA BISA TERBANG! Pagi harinya, burung-burung camar lainnya ingin mengikuti jejak Maynard. Mereka banyak bertanya kepada Jonathan, dan dengan sabar Jonathan menjelaskannya.Kita semua sama. Apakah kami semua yang terbuang ini istimewa, berbakat dan sangat baik? Tidak. Tidak lebih dari Anda sekalian, sama seperti saya juga. Bedanya yang utama, mereka ini telah memulai memahami siapa diri mereka dan telah memulai berlatih..

(Di pojok sebuah jalan, dekat pasar dan sekolah, ada seorang penjual balon. Untuk menarik pembeli ia melepaskan balon warna-warni ke udara sambil memutar musik keras-keras. Satu saat ada seorang bocah kucel, dengan wajah takut-takut datang dan bertanya dengan ragu, Paman, kalau balon itu berwarna hitam, apakah dia juga bisa terbang? Terharu oleh pertanyaan sang bocah, paman penjual balon itu langsung memeluk anak kecil itu dan berkata, “Nak, bukan karena warnanya, balon itu bisa terbang, tetapi karena isi yang ada di dalamnya! Bukan karena kekayaan, kecantikan, keturunan atau yang lainnya, yang membuat orang bisa sukses, tetapi apa yang ada di dalam hatinya, dalam jiwanya, semangatnya, hasratnya untuk sukses)

Ketika Fletcher sedang berlatih terbang sendiri, tiba-tiba ada seekor burung camar kecil yang terbang lewat jalurnya. Tabrakan tak terhindarkan, dengan cepat Fletcher membelokkan tubuh, dan tiba-tiba… brak! Fletcher menabrak batu karang. Antara sadar dan tidak, ia pun melayang-layang di udara, sampai Jonathan mendekatinya. Ia merasa sudah mati, tapi Jo menghiburnya. Setelah sadar benar, ia mengatakan kepada Jonathan, Bagaimana mungkin dapat mengasihi kumpulan burung yang telah mencoba membunuh mereka. Tapi, Jonathan mengatakan, Anda harus berlatih dan melihat burung camar sejati, kebaikan dalam diri mereka dan menolong mereka untuk mengetahuinya sendiri. Itulah kasih sayang, sangat menyenangkan bila kita dapat melakukannya”.

Akhirnya, Jonathan menyadari bahwa ia harus pergi ke tempat lain, untuk itu ia telah siap menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Fletcher, penggantinya.

(Sebagai seorang pemimpin yang baik, setelah memberikan teladan yang baik, ia pun rela jika yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dan pada saatnya, ia rela lengser, menyerahkan kursi kepemimpinan kepada penggantinya).

Membagi Bandwidth Komputer under Windows dengan Antamedia Bandwidth Manager (lengkap dengan tutorialnya)

Ini kisah buah dari konflik persoalan bagi-bagi jatah bandwidth di kantor dan di warnet. Sayangnya, boss butuh cepet sementara saya perlu waktu untuk sinau mikrotik linux. Yah, searching ke mbah Google dan ketemu solusi paling gampang (sayangnya versi trial). Lumayan buat sementara sebelum masang konstruksi jaringan mikrotik.

Antamedia Bandwith (under windows) manager begitu mudah dipakai, nggak seperti Bandwidth limiter atau Net Controller yang seringkali error pada persoalan port. Begitu dipasang ke server, maka dia langsung bisa mendeteksi komputer yang terkoneksi ke server.

Setelah itu, langkah selanjutnya adalah mendatabase komputer-komputer itu ke dalam daftar account untuk dijatah berapa kuota bandwidth untuk download dan upload. Untuk komputer asing atau baru (misal laptop dll) ataupun yang belum terdata dalam daftar account akan bisa terotomatisasi dapat jatah bandwidth sesuai default login yang sudah disetting. User friendly dan mudah dalam pemantauan lalu lintas data. tidak perlu install software ke client.

Tertarik? baca selengkapnya di tutorial saya di sini:

http://www.scribd.com/doc/7852169/Antamedia-Bandwidth-Manager

Untuk download, klik di :

http:www.antamedia.com

Dengan Segala Hormat, dimohon untuk mengunjungi situs ANTAMEDIA di atas dan liat bagian http://www.antamedia.com/kbase/knowledge-bm.htm Beberapa pertanyaan yang masuk sampai dengan sekarang, 28 Mei 2009, sesungguhnya sudah terjawab di sana. Jika ada kendala bahasa, anda bisa memakai Google terjemah. Saya tidak terlalu telaten untuk bisa menerima ataupun menanggapi hal-hal yang bersifat konsultasi. Harap maklum. Terima kasih.

Foto Eksklusif Bencana Angin Puting Beliung atau Angin Ribut UGM

Berikut Thumbnail ataupun gambar kecil dari foto-foto angin ribut UGM. Untuk Perbesaran:

silahkan anda klik di sini

Kronologi:

Jam 13.30 Angin mulai muncul dan listrik tiba-tiba padam. Hujan dalam posisi tidak wajar ketika kemiringan air dari arah utara lebih dari 30 derajat. Posisi saya ada di Kantor Kerja, Jl. Kaliurang Km 5. kira-kira sekilo dari UGM.

Jam 14.00 Angin dan hujan bertiup. Diperkirakan jam inilah angin sudah mulai merontokkan beberapa tanaman keras di UGM. Belum diketahui keadaan Hutan di kampus UGM, tetapi beberapa halaman di kampus sebagaimana saya rekam dalam gambar ini dalam keadaan rusak berat.

Alhamdulillah, bahwa Gedung Pusat UGM sebagai tempat bersejarah tidak mengalami kerusakan serius. Tetapi sepanjang jalan Kaliurang dekat kampus UGM, hancur berantakan.

14.30 Polisi memblokade jalan ke arah selatan di prapatan Depok. Saya saat itu sudah bawa jepretan milik rekan kantor dan mulai ceprat-cepret dari arah sarjito.

Untuk teman-teman yang jauh dimanapun berada, semoga foto-foto ini bisa bercerita lebih dari kata-kata saya. Terimakasih..

Feriawan

Masya Allah….UGM, Kampusku, kena angin ribut……puting beliung

KLIK DISINI UNTUK LIHAT FOTO EKSKLUSIF

Yogyakarta – Angin puting beliung yang menghantam kawasan Kampus UGM Yogyakarta benar-benar mengoyak pohon-pohon dan gedung-gedung. Sejumlah atap gedung jebol. Pohon-pohon bertumbangan. Kampus UGM terlihat sangat kusut. Lalu lintas di sejumlah jalan macet total.

Pemantauan detikcom, Jumat (11/7/2008), salah satu atap gedung yang porak-poranda adalah gedung Koperasi Mahasiswa (Kopma) UGM. Atap bagian depan roboh, sementara meja dan kursinya kocar-kacir. Barang-barang dagangan di tempat ini juga terserak ke mana-mana.

Sejumlah gedung lainnya, seperti Gedung Gelanggang UGM, mengalami kerusakan kecil di bagian atap. Sejumlah gentingnya tampak melorot. Genting-genting di atap gedung UPT Komputer juga bergeser ke bawah. Tempat parkir kantor BNI juga rusak.

Atap gedung Wisma UGM juga rusak. Papan nama di depan gedung roboh. Atap Gedung Purna Budaya juga rusak berat.

Akibat banyaknya pohon tumbang, arus lalu lintas kendaraan di jalan-jalan kampus UGM macet total. Antara lain terlihat di Jalan Cik Di Tiro, C Simanjuntak, dan Prof Dr Herman Yohannes. Saat ini hujan masih rintik-rintik. Untuk sementara akses ke UGM ditutup sementara, untuk menghindari kemacetan yang menggila.

Menurut saksi mata, Marsono, pedagang angkringan di bundaran UGM, hujan deras disertai angin kencang itu terjadi begitu cepat sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, dia akan menggelar dagangannya. Begitu angin datang, dirinya langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri.

“Para pedagang lain juga langsung menyelamatkan diri juga,” kata dia. Para pedagang tidak sempat mengamankan lapak dan barang-barang dagangannya. Bahkan, banyak etalase kecil, seperti etalase untuk menjual voucher telepon, ambruk. Saat itu, para pedagang memilih menyelamatkan diri di kantor Pos dan Kantor Menwa.

Sementara itu, puluhan gerobak milik pedagang kaki lima juga berhamburan.

Hingga pukul 17.00 WIB, masyarakat dan civitas akademika UGM bekerja bakti mengevakuasi pohon-pohon yang tumbang. Demikian juga para mahasiswa di kampus fakultas masing-masing. (asy/ken)

sumber: http://www.detiknews.com/read/2008/11/07/171317/1033192/10/banyak-atap-gedung-jebol-jalanan-macet-total