Category Archives: Resensi

Inch’Allah (2012): Resensi Film by Feriawan Agung N.

Ini bukan film ‘Islam’.

Seorang dokter perempuan muda dari Quebec, Kanada, ditugaskan dalam sebuah misi kemanusiaan PBB di daerah konflik Palestina-israel. Chloe, dokter muda itu, sebagaimana budaya negaranya, akrab dengan minuman keras, rokok dan dugem, khususnya ketika sedang suntuk (tidak terlalu jelas apakah agamanya). Kebiasaanya lain, adalah jarang memakai BH (lho…kok tau).Dia indekos di kota Jerusalem dan kesehatiannya harus melintasi perbatasan Tepi Barat Continue reading Inch’Allah (2012): Resensi Film by Feriawan Agung N.

Advertisements

Red Cliff

Nggak tau juga, baru seminggu ini saya lagi demen nonton film. Setelah kemarin nonton Romulus, My Father. Kemudian nonton ini: Red Cliff dari seri pertama dan kedua.Maaf kalo di sini saya tidak menceritakan tentang jalan cerita dari Film kolosal dua seri tersebut.  Kalau tertarik, silahkan aja baca resensinya di sini dan di sini

Ada beberapa pelajaran berharga di film ini yang disajikan secara cantik oleh John Woo, sang sutradara film.

Pertama, adalah fungsi dari negara ataupun angkatan perang. Negara dan angkatan perang yang benar adalah yang MELINDUNGI RAKYATNYA dari hantaman pasukan musuh. Seorang raja, bisa jadi hanya menjadi pembuat sandal bagi rakyatnya ketika rakyatnya memang membutuhkan sandal (dalam arti yang sesungguhnya). Seorang raja, harus berpikir keras untuk membuat rakyatnya aman sekalipun keselamatannya sendiri dipertaruhkan. Sebuah pasukan perang adalah mereka yang siap mati melindungi rakyatnya. (bagaimana dengan negara kita?).

Kedua, diplomasi pada negara yang lebih kuat sekalipun, bukanlah permainan menjilat pantat, mengemis ataupun mengompori, dan bukan pula dagang sapi. Diplomasi adalah bahasa politik yang digunakan untuk meminta kepergayaan, meyakinkan, memberikan dukungan, menawarkan strategi, mengajarkan nilai, idealisme, kepandaian dan segenap daya upaya yang bisa memberikan keuntungan pada semua pihak yang terlibat. Mengkritik, mengecam, memberi saran, menolak dan bersikap anti sekalipun, bisa menjadi bahasa yang sah dalam diplomasi. Yang salah adalah ketika menjual bangsa, rakyat, kepentingan orang banyak dan bahkan harga diri bangsa demi mendapatkan simpati dan perlindungan di bawah ketiak manusia lain yang lebih kuat kecuali orang yang bodoh. (bagaimana dengan bangsa kita?)

Ketiga, kesetiaan ataupun loyalitas.  Kesetiaan dibangun atas dasar KESETARAAN dan KEPERCAYAAN dalam arti yang sesungguhnya. Meskipun kedudukan bisa berbeda: raja, penasehat, rakyat, perempuan, anak-anak dan lain sebagainya, tetapi jika semua pihak tahu diri, tau hak dan kewajiban tanpa ada rasa saling mengorbankan, maka akan tercipta kesetaraan yang pada akhirnya berbuah kesetiaan. Di saat-saat genting, barulah terasa bahwa kesetiaan adalah kekuatan paling ampuh daripada senjata apapun juga. Dan bukan semata-mata faktor idiologis. (bagaimana dengan Indonesia?)

Keempat, tidak ada kemenangan yang datang hanya didasarkan pada faktor keberuntungan. Kemenangan hanya bisa dihasilkan dari perencanaan yang matang, kecerdasan, mentalitas yang kuat, dan latihan yang terus berulang dan berulang. Kekuatan fisik, jumlah, persenjataan dan kuantitas justru bisa dikalahkan oleh mentalitas yang kuat, strategi dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, meskipun dari sisi jumlah ataupun kekuatan fisik bisa jadi tidak berimbang. (Bagaimana dengan kita?)

Kelima, ketenangan berpikir, akan tercipta dari pengalaman, pengetahuan dan kesiapan diri. Ketenangan berpikir sangat penting dalam segala kondisi untuk pemenangan diri maupun pertahanan diri.

Keenam, siapapun dia, akan dihargai bukan karena dia adalah orang yang berada di garis depan, bukan pula yang mengatur strategi, bukan pula yang merawat mereka yang sakit, bukan pula semata karena persoalan gender. Seseorang hanya akan dihargai atas dasar kegunaanya bagi orang lain. Pilihan apakah seseorang bisa berguna buat orang lain ataukah tidak, itulah yang kemudian menjadi pertanyaan. Kalau mau berguna dalam posisi garis depan, maka dia harus kuat, harus berani mati, harus mau mengawali segala hal. Kalau mau di belakang tetapi berguna, maka dia harus cerdas, jeli, genius dan matang dalam bersikap.

Ketujuh, tujuan. Bagaimana seseorang menghargai pilihan hidupnya, bukan terletak pada kebesaran namanya, kecerdasan namanya, kegunaan dirinya dll tetapi terletak pada bagaimana dia meletakkan tujuan hidupnya. Bisa jadi dia memenangkan berbagai macam pertempuran, dia telah mencatat sejarah, dia telah menggetarkan seluruh isi dunia. Tetapi terkadang hal itu menjadi absurb manakala dia kalah oleh nafsu kepada lawan jenis. (lihat bagaimana ciao-ciao, jauh jauh berperang dan mengorbankan banyak tentara ternyata hanya demi wanita, bodoh).

Delapan, kenanglah kebaikan teman, sahabat atau siapapun dia yang telah memberikan sesuatu yang berharga bagi anda: ilmu pengetahuan, agama, budi dll, sekalipun anda dan dia tahu bahwa suatu saat mereka akan menjadi lawan. Karena bagaimanapun, lebih berharga lawan yang memberikan pelajaran dan peningkatan kualitas diri, daripada seribu pengikut yang setia tetapi hanya menjadi beban dan bernilai makruh (ada dan tidak adanya dia tidak membawa pengaruh apapun bagi diri kita).

Terakhir, berarti tidaknya film, ataupun film ini, bukan terletak bagaimana kritikus memujinya, mencercanya ataupun membandingkannya dengan film lain. Tetapi, dari anda: apakah anda bisa memetik hikmah, mengambil pelajaran ataupun mendapatkan “aha” dari film ini. Cara pandang kita boleh beda. Bisa jadi film ini sampah bagi anda, sah-sah saja. Yang pasti, saya bisa tahu sejauh mana Anda memahami sebuah fim.

Demikian, terima kasih.

Seandainya Tidak Ada Cinta, Ijinkan Aku Memenggal Kepalanya…..

Resensi film Romulus, My Father

Sebuah keluarga bahagia. Anak usia belia dan suami yang rajin bekerja keras dan berpenghasilan. Ternyata istri yang dicintainya adalah seorang brengsek.DIa pergi untuk menikah dengan pria lain meskipun statusnya masih resmi sebagai istri tercinta.

Apa yang salah!!!!

Sang suami (Romulus) adalah pria yang bertanggung jawab, gagak, bagus, bercambang dan berdada lebat. Banyak perempuan lain yang melirik dan jatuh hati kepadanya. Tetapi kesetiaanya yang tinggi tidak membuat dia jatuh hati kepada perempuan lain kecuali istrinya, sekalipun istrinya adalah penghianat cinta. Bahkan dia juga tidak punya disfungsi ereksi.

Anak (Raymond)? Anaknya juga seorang yang menyayangi ibunya. Sayang kepada ayahnya dan juga cerdas.Tipe anak yang penurut dan mau membantu kedua orang tua. Jauh dari wajah anak nakal dan berandalan.

Istri.(Christin) Inilah wanita berotak iblis laknat. Sungguh penampilannya sempurna. Gaya bicara, tutur kata dan perawakan, dan juga naluri keibuan dia sangat kelihatan. dia juga wanita cerdas yang pandai mencari bahan pembicaraan, mendamaikan suasana dan juga.Wow….Tetapi iblis berkelamin perempuan ini lari kepada lelaki lain dan menuntut cerai. Dan, ketika statusnya juga sudah menjadi istri pria lain, masih berani dia muncul di keluarga yang ditinggalkannya dan mengajak suaminya berhubungan seks.

Wanita biadab ini sungguh beruntung. Kakaknya sendiri, merasa malu kepada Romulus karena memiliki adik iblis laknat buaya betina, tupaian. Sebagai rasa tanggungjawabnya, dia ikut andil dalam membesarkan Raymond kecil dan membantu sebisanya secara finansial. Bahkan, dia sendiri belum berkeluarga demi menyisihkan uang untuk Raymond.

Suami baru perempuan ini, mulai tak bisa menahan diri ketika tahu bahwa status si perempuan ini adalah istri orang. Tetapi kesabarannya lumayan terobati manakala tahu bahwa yang salah adalah istrinya, sementara dia dan Romulus bisa berteman baik meski kaku pada perkenalan awalnya.

Wanita iblis ini pada akhirnya dengan suami barunya memiliki anak. Perempuan. Iblis tupainguk ini tanpa satu alasan yang jelas, tidak mau ataupun tidak bisa merawat anaknya perempuan itu. Membiarkannya menangis saat ngompol dan buang air, bahkan tiada mau menyusui. Justru ketika mendapat bantuan keuangan dari suami lawasnya, bukannya dibelikan perlengkapan bayi ataupun tabungan untuk kontrakan dia, eeeh…malah dibelikan perlengkapan rias buat modal megal megol dan sebuah harga yang mahal dari sebuah kata: cantik.. (saya paling benci jika perempuan bisa memakai make-up tetapi hanya untuk menutupi busuknya hati, lihat di puisi saya yang berjudul Dia)

Si iblis ini, bahkan ketika anaknya beranjak balita masih saja bertingkah menjadi-jadi. Bahkan, si Raymond, anaknya yang mencintainya, memergokinya sedang mesum berselingkuh dengan orang tak jelas di sebuah gudang. Sungguh kutu kasur tidak tau diri.

Sang suami baru tidak tahan, setelah habis-habisan memukuli istri brengseknya itu, dia bunuh diri.

Cinta Romulus yang bagaikan air susu dibalas air tuba, begitu sulit untuk melepas Christin. Tetapi Christin lebih suka mengakhiri hidupnya di tengah keluarga yang mencintainya.Sang suami yang mencoba mencari ibu bagi anaknya, ternyata mendapati perempuan yang hendak dikenalkan oleh kakak iparnya ternyata juga istri orang. Kakak iparnya tak tahan menanggung malu dan mati.

Cerita ini diakhiri dengan adegan filosofis, sama dengan adegan pembukanya. Adalah pada suatu masa di musim gugur lebah-lebah seolah sekarat dan mati, dan kemudian dikumpulkan di tangan Romulus untuk dihangatkan. Perlahan mereka bangun semua dan kemudian terbang. Dan biarkan satu demi satu persoalan terbang.

Ada banyak referensi di google tentang film yangmemboyong tiga piala di Australian Film Institute Award 2007. Settingnya ditempatkan pada si Anak, Raymond Gaita yang ternyata adalah filsuf terkenal dari Austrailia. Sebuah kisah nyata.Ada yang mengangkat dari sisi cinta. Tapi saya lebih suka mengangkat kebrengsekan perempuan yang tidak tahu diuntung.

Bukan saya tidak menghargai perempuan. Semenjak saya menemani istri melahirkan dan melihat dua anak saya menyundulkan kepala ke bumi untuk pertama kali bersama darah yang tumpah dari rahim istriku, saya sangat yakin bahwa perempuan adalah mahluk yang dikaruniai kekuatan dan ketabahan luar biasa, dengan cinta yang lebih kekal daripada pria yang begitu mirip anjing (meski diberi daging lezat di rumahnya, masih gemar dia mengais sampah). Saat itu juga saya sangat-sangat menghargai perempuan. Anehnya, saya mendapati juga perempuan-perempuan yang tidak tau diuntung. Punya keluarga yang baik, punya kekasih yang mencintai, tetapi lebih suka berdandan dan menyerupai iblis. Seandainya tidak ada cinta, ijinkan aku memenggal kepalanya, atau minimal, memotong tipis-tipis lidahnya.

Romulus, My Father

Pemain: Eric Bana, Franka Potente, Marton Csokas, Kodi Smit-McPhee, Russell Dykstra
Sutradara: Richard Roxburgh
Penulis Naskah: Nick Drake (naskah), Raimond Gaita (memoar)

Rewiew Buku Novel Jonathan Livingstone Seagull

Review Buku

BURUNG CAMAR JONATHAN

( catatan: dahulu aku pernah memiliki buku ini, kecil, warna hitam, dan isinya cuma gambar camar. Saat itu buku bekas termahal karena harganya 40 ribu tahun 97. Sekarang, ilang gak tau dimana)
Diambil dari situs yang dalam perbaikan: http://www.sekolahkehidupan.com

Sudah menjadi kebiasaan selama ribuan tahun bagi burung-burung camar, bahwa setiap pagi mereka selalu mencari sisa-sisa makanan dari perahu para nelayan. Ikan-ikan kecil yang tak dibawa pulang, kembali dibuang di pinggir pantai oleh para nelayan, dan itulah makanan burung camar. Sudah menjadi kebiasaan selama ribuan tahun bagi burung-burung camar, bahwa setiap pagi mereka selalu mencari sisa-sisa makanan dari perahu para nelayan. Ikan-ikan kecil yang tak dibawa pulang, kembali dibuang di pinggir pantai oleh para nelayan, dan itulah makanan burung camar.

Jonathan, salah satu dari burung-burung camar itu, memiliki perangai berbeda dengan yang lainnya. Ia tak mencari makanan, tetapi malah berlatih terbang dengan serius. Berbagai gaya dan cara dipelajarinya: lurus, belok, menukik, menghujam dsb. Pada sebuah tikungan ia terbang perlahan, mengepakkan sayap, tapi karena ragu, ia pun terjatuh.Namun ia bangkit kembali. Ia memang seekor burung camar yang luar biasa. Ibunya berkata, Anakku, engkau begitu kurus, tinggal tulang dan bulu saja. Ayahnya pun mengatakan,Musim dingin segera tiba, perahu nelayan sangat sedikit dan ikan-ikan akan lebih dalam menyelam. Yang perlu dipelajari adalah menyelam lebih dalam, untuk mendapatkan makanan. Belajar terbang memang baik, tetapi, mencari makanan itu yang penting.

(Bukankah seringkali justru rintangan/hambatan untuk maju berasal dari orang-orang terdekat? Sesungguhnya bukannya mereka berniat menghalangi, namun mereka tidak rela jika orang yang dikasihi itu menderita, meskipun untuk maju).

Jonathan mencoba menuruti nasihat ayahnya. Beberapa minggu menjadi burung camar biasa. Berebut dengan temanteman untuk mematok kepala ikan dan remah-remah roti dari para nelayan. Sayang, ia tak dapat melakukan itu lebih lama. Ia pikir, ini sia-sia, lebih baik belajar terbang. Ketika telah memecahkan kecepatan tertinggi yang pernah dicapai burung camar, ia mengalami malapetaka. Ketika ia menukar sudut sayapnya, ada sesuatu memukulnya bagai dinamit. Ia terhempas dan terbanting dengan keras ke dalam laut. Ia semaput. Saat ia sadar hari sudah malam, bulan membayang, sayapnya hancur berkeping, luka terberat pada punggungnya. Dengan putus asa ia pikir, berat badannya pasti akan menenggelamkannya dan tamatlah riwatnya. Saat-saat akan tenggelam ia mendengar bisikan. Tak ada jalan lain, saya adalah seekor burung camar. Saya terbatas oleh alam. Jika saya ingin sungguh-sungguh belajar terbang, saya harus memeras otak saya. Ia kembali berpikir untuk menjadi burung camar BIASA seperti lainnya. Tapi dorongan lain muncul. Ia tetap ingin belajar terbang dan dengan ketekunannya ia menjadi seekor burung camar yang luar biasa. Ia sempat terbang dengan kecepatan tingi di hadapan teman-temannya, meski ia khawatir akan terjadi tubrukan, nyatanya tidak juga. Bahkan ia menyaksikan keberhasilan yang telah dicapainya, yang juga dilihat teman-temannya. Berbulan-bulan lamanya ia latihan terbang, dan manakala ia pulang hari telah larut. Ia ingin membagi kegembiraan dengan teman-temannya. Karena ia merasa betapa sungguh berartinya hidup ini. Daripada melakukan pekerjaan yang membosankan setiap hari, kita dapat mengangkat diri kita keluar dari
kebodohan, kita dapat membuktikan bahwa kita makhluk terunggul, terpandai, tercakap yang pernah diciptakan. Kita dapat bebas!

Tahun mendatang penuh harapan dan janji. Waktu ia mendarat nampak burung-burung camar lain sudah berkumpul di Dewan pertemuan, sedang menunggu sesuatu. Tiba-tiba kata-kata ketua burung camar menggelegar, Burung Camar Jonathan Livingstone! Berdiri di tengah! Jonathan pikir, yang disuruh berdiri di tengah pasti hanya ada dua: Yang melakukan kesalahan besar atau patut menjadi pemimpin besar. Tiba-tiba suara ketua menggelegar lagi. Burung Camar Jonathan Livingstone! Berdiri di tengah karena suatu keaiban di hadapan kawan-kawan lain! Ia merasa terpukul oleh papan. Lututnya lemas, bulu-bulunya merinding, telinga berdengung. Apa? Keaiban? Tidak mungkin! Rekor baru itu? Mereka tak mengerti. Pasti mereka salah! Jonathan membatin.
…karena tidak memperhatikan aturan, suara tenang dalam hatinya, …melanggar kemuliaan dan adat istiadat keluarga burung camar! Ditempatkan di tengah karena keaiban berarti ia akan dicampakkan dari kelompoknya dan hidup sendirian di tebingtebing jauh dalam pembuangan. Satu hari nanti, burung camar Jonathan, kamu akan tahu bahwa melepaskan tanggung jawab adalah nista.

Hidup adalah ketidaktahuan dan ketidakmungkinan. Kita dilahirkan di dunia ini tidak lain adalah untuk cari makan, dan untuk bertahan hidup sedapat mungkin selama kita mampu.
Meski tak seekor pun burung camar yang berani membantah, Jonathan menentangnya dengan suara keras, Tidak bertanggung jawab? Siapa yang lebih bertanggung jawab daripada seekor burung camar yang telah menemukan suatu makna untuk tujuan hidup yang lebih tinggi? Seribu tahun lamanya kita telah mencabik-cabik kepala ikan, tapi sekarang kita punya satu alasan untuk hidup, untuk belajar, untuk menemukan dan untuk bebas! Beri saya satu kesempatan dan biarkan saya menunjukkan apa yang telah saya dapatkan… Persaudaraan kita telah terputus! teriak burung-burung camar itu bareng, lalu dengan menutup telinga meninggalkan Jonathan sendirian.

Jonathan menghabiskan hari-harinya dalam kesendirian. Terbang jauh melampaui tebing-tebing. Kesedihannya bukan  karena kesepian dan kesunyian, tapi karena teman-temanya tidak mau mengakui kegemilanganya dalam terbang. Ia sedang menunggu kesadaran mereka untuk membuka mata dan melihat kenyataan. (Justru orang-orang maju, yang berkembang, melebihi teman-temannya, seringkali mengalami nasib malang, ia tidak dipahami malah disingkirkan, dibuang dari kumpulannya. Kumpulan tak mau mengakui keunggulan salah seorang anggota yang lebih baik. Mereka merasa terancam karena keunggulan salah satu warganya, walau itu hanya persepsi mereka saja).

Jonathan lebih banyak belajar lagi. Lebih lagi. Sampai ia menyadari apa yang pernah ia harapakan untuk kumpulan camarnya telah ada pada dirinya sendiri. Dia belajar untuk terbang dan tidak menyesal akan harga yang telah dibayarnya. Jonathan menemukan bahwa kejemuan, ketakutan dan kemarahan adalah sebab mengapa kehidupan mereka begitu pendek, dan dengan menghilangkan hal-hal tersebut dari pikirannya, ia dapat hidup lebih baik dan lebih lama.

Ketika Jonathan terbang sendirian, tiba-tiba muncul dua ekor burung camar lain yang memerhatikan dan mengikutinya terbang dengan beraneka gaya. Akhirnya kedua burung asing itu mengatakan, Sangat baik. Tetapi Jonathan bingung dan bertanya, “Siapakah Anda?”
“Kami dari kumpulanmu Jonathan. Kami adalah saudaramu”, katanya dengan tegas tetapi lembut.
“Kami datang untuk mengangkatmu, membawamu pulang.”
“Rumah saya tidak punya, kawan pun tidak. Saya adalah burung buangan.

Sekarang kita terbang pada puncak Great Mountain Wind. Di bawah ratusan kaki, saya tak dapat mengangkat tubuh tua ini lebih tinggi. Akhirnya mereka sepakat untuk mengangkat Jonathan sebagai pemimpinnya, dan Jonathan telah siap. (Ada seorang pemain bisbol. Setiap kali pertandingan ia ditempatkan sebagai pemain cadangan. Ia tidak pernah mengeluh. Bahkan terus menerus berlatih, tanpa mengurangi jadwalnya. Pada suatu momen pertandingan antarnegara, pemain utama berhalangan. Pemain cadangan itulah yang menggantikannya, karena ia telah siap. Kesempatan selalu mendatangi orang yang telah siap).

Jonathan merasa berada dalam surga. Ia merasa kemampuan terbangnya dua kali lipat daripada rekornya di bumi. Kenangan kehidupan di bumi sudah hilang. Bumi pernah merupakan suatu tempat di mana ia telah mempelajari banyak hal, tentu saja, tetapi perkara-perkara kecilnya telah hilang…. seperti saling berebut makanan dan menjadi camar buangan. 12 ekor burung camar datang menemuinya. Meski tak berkata sepatah pun, Jonathan merasa dirinya disambut, di sinilah rumahnya. Hari itu telah menjadi hari yang penuh arti baginya. Terbit dan tenggelamnya matahari tak diingat lagi. Di sini banyak hal tentang terbang dapat dipelajari. Ada satu perbedaan: Burung-burung camar di sini punya pemikiran seperti dia. Bagi mereka yang terpenting adalah hidupnya mencapai suatu kesempurnaan akan hal yang paling mereka sukai, yaitu terbang. Mereka adalah burung-burung hebat, luar biasa, yang menghabiskan setiap jam kehidupannya untuk
berlatih terbang, mencoba taktik-taktik yang lebih maju. Ketika dia tanyakan kepada teman barunya, Sullivan, ia mendapat jawaban, Satu-satunya jawaban adalah bahwa kamu adalah burung camar yang paling istimewa di antara jutaan burung lain. Sebagian besar dari kami sangat lambat dalam mencapai keberhasialn itu. Kami mengembara dari satu dunia ke dunia lain yang hampir sama, melupakan tempat asal kami dan tidak peduli akan masa depan, hidup hanya untuk saat itu. Tahukah kamu, berapa banyak kehidupan yang harus kami lalui sebelum kami mendapat gagasan bahwa hidup adalah lebih dari sekedar untuk makan dan merebut kekuasaan di dalam kumpulan kami? Seribu kehidupan, Jo, sepuluh ribu. Dan ratusan kehidupan lagi sampai kami mengetahui ujud suatu kesempurnaan. Ratusan kehidupan lagi untuk mendapatkan ilham bahwa tujuan hidup kami adalah mencari kesempurnaan dan menunjukkannya.

Suatu sore, Jonathan menemui Chiang, dan menanyakan tentang surga. Chiang menjawab, Surga bukanlah suatu tempat dan juga bukan waktu. Surga adalah kesempurnaan. Kamu akan mulai menyentuh surga, pada saat kamu mencapai suatu kecepatan sempurna. Kesempurnaan tidak mengenal batas. Jonathan menyaksikan camar tua yang masih gesit itu tiba-tiba menghilang dalam sekejap lalu muncul di tempat lain. Jonathan ingin belajar terbang seperti itu. Kamu dapat pergi ke mana saja dan kapan saja bila kamu mau. Saya sudah pergi ke setiap tempat setiap saat bila saya memikirkannya. Ini adalah hal yang asing. Burung-burung camar yang hanya mementingkan suatu pengembaraan tanpa menuntut kesempurnaan tak akan dapat pergi ke mana-mana dalam sekejap. Ingat Jo, surga bukanlah suatu tempat atau suatu kurun waktu, karena tempat dan kurun waktu terlalu tidak berarti. Surga adalah ….

Untuk dapat terbang secepat pikiran, ke mana saja, kamu harus memulai dengan mengetahui bahwa kamu sudah tiba. Lalu Chiang pergi menghilang. Sebelumnya ia meninggalkan pesan bahwa Jonathan harus terus belajar dan bekerja dalam kasih. Jonathan ingin membagi pengalamannya dan kemahirannya kepada burung-burung camar di bumi, yang pernah membuangnya.
Sullivan, temannya, menasehati agar ia tidak usah kembali ke kumpulannya, tetapi melatih saja di tempat yang baru.

Untuk beberapa bulan lamanya Jonathan mengikuti nasehat Sullivan, sampai ia mendapatkan murid-murid baru yang diajarkannya terbang. Setelah mereka mahir, mereka diajak untuk kembali pulang ke kampung halaman Jonathan dan membagi pengalaman mereka. Meski ada rasa cemas, dan melanggar peraturan ribuan tahun, namun toh Jonathan berangkat juga ke kampung halaman.

(Jarang sekali orang yang sudah sukses mau kembali ke kampung halaman untuk memajukan teman-teman dan saudara-saudaranya. Yang sering terjadi, mereka lupa kan kampung halamannya. Hal ini tidak berlaku bagi Jonathan).

Seluruh tubuh Anda, dari ujung sayap ke ujung sayap lainnya, tidak lebih dari pikiran Anda sendiri, dalam bentuk yang dapat Anda lihat. Patahkan rantai pikiran Anda, dan Anda akan mematahkan rantai yang membelenggu tubuh anda….

Jonathan mengajak kawan-kawan dari kumpulan terbuang, untuk kembali ke kampung halamannya. Meski ada perasaaan ragu dan cemas, apalagi dengan adanya peraturan, bahwa mereka yang telah dibuang tidak boleh kembalilagi, toh mereka berangkat juga. Ketika mereka terbang dengan formasi indah, ribuan burung camar di bumi memerhatikan mereka. Saat mereka
mendarat, apa yang dikhawirkan Fletcher akan terjadi pertempuran, tidak terbukti. Bahkan meski mereka menyadari bahwa kumpulan kecil itu adalah burung camar buangan, tapi mereka mengagumi kemahiran terbang mereka. Tetapi, sang Ketua setelah sekian lama diam, berteriak,

“Abaikan mereka! Barang siapa bicara dengan camar terbuang”, iapun ikut terbuang. Burung-burung buangan itu pun melakukan latihan terbang setiap hari, sampai akhirnya setelah satu bulan, setiap saat Jonathan memberikan instruksi kepada murid-muridnya dalam suatu lingkaran, ada lingkaran lain mengelilingi murid-murid Jonathan.

Malam berikutnya Kirk Maynard, dari kumpulan berjalan terhuyung, menyebarnagi pasir, menyeret sayap kiri dan jatuh di kaki Jonathan.
“Tolong saya. Saya ingin terbang lebih dari segala-galanya”, katanya mengiba pada Jonathan.
“Mari, loncatlah dari tanah bersama saya dan kita mulai!”
” Anda tidak mengerti! Sayap saya, saya tidak bisa mengembangkan sayap saya…”
” Burung camar Maynard, Anda mempunyai kebebasan menjadi diri anda sendiri, di sini, sekarang juga. Tak sesuatu pun yang dapat menghalangi anda. Ini undang-undang Camar Agung, itulah peraturannya.”
“Anda katakan, saya dapat terbang?”
“Saya katakan, Anda bebas!”

Dengan cepat dan mudah Kirk Maynard membentangkan sayap, mengangkat tubuh ke dalam udara malam gelap gulita dengan tidak bersusah payah. Tiba-tiba ia menjerit sehingga membangunkan camar-camar lain dari tidurnya, “Saya bisa terbang! Dengar… SAYA BISA TERBANG! Pagi harinya, burung-burung camar lainnya ingin mengikuti jejak Maynard. Mereka banyak bertanya kepada Jonathan, dan dengan sabar Jonathan menjelaskannya.Kita semua sama. Apakah kami semua yang terbuang ini istimewa, berbakat dan sangat baik? Tidak. Tidak lebih dari Anda sekalian, sama seperti saya juga. Bedanya yang utama, mereka ini telah memulai memahami siapa diri mereka dan telah memulai berlatih..

(Di pojok sebuah jalan, dekat pasar dan sekolah, ada seorang penjual balon. Untuk menarik pembeli ia melepaskan balon warna-warni ke udara sambil memutar musik keras-keras. Satu saat ada seorang bocah kucel, dengan wajah takut-takut datang dan bertanya dengan ragu, Paman, kalau balon itu berwarna hitam, apakah dia juga bisa terbang? Terharu oleh pertanyaan sang bocah, paman penjual balon itu langsung memeluk anak kecil itu dan berkata, “Nak, bukan karena warnanya, balon itu bisa terbang, tetapi karena isi yang ada di dalamnya! Bukan karena kekayaan, kecantikan, keturunan atau yang lainnya, yang membuat orang bisa sukses, tetapi apa yang ada di dalam hatinya, dalam jiwanya, semangatnya, hasratnya untuk sukses)

Ketika Fletcher sedang berlatih terbang sendiri, tiba-tiba ada seekor burung camar kecil yang terbang lewat jalurnya. Tabrakan tak terhindarkan, dengan cepat Fletcher membelokkan tubuh, dan tiba-tiba… brak! Fletcher menabrak batu karang. Antara sadar dan tidak, ia pun melayang-layang di udara, sampai Jonathan mendekatinya. Ia merasa sudah mati, tapi Jo menghiburnya. Setelah sadar benar, ia mengatakan kepada Jonathan, Bagaimana mungkin dapat mengasihi kumpulan burung yang telah mencoba membunuh mereka. Tapi, Jonathan mengatakan, Anda harus berlatih dan melihat burung camar sejati, kebaikan dalam diri mereka dan menolong mereka untuk mengetahuinya sendiri. Itulah kasih sayang, sangat menyenangkan bila kita dapat melakukannya”.

Akhirnya, Jonathan menyadari bahwa ia harus pergi ke tempat lain, untuk itu ia telah siap menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Fletcher, penggantinya.

(Sebagai seorang pemimpin yang baik, setelah memberikan teladan yang baik, ia pun rela jika yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dan pada saatnya, ia rela lengser, menyerahkan kursi kepemimpinan kepada penggantinya).