Category Archives: Idealism

SEKILAS GAMBARAN PROFESI PEKERJA SOSIAL DI PANTI WERDHA

picSaya sering menuliskan kehidupan di Panti Werdha sebagai bagian dari profesi saya selaku Pekerja Sosial (Ada lowongannya di CPNS DIY 2013). Semisal kemarin, saya membagi kisah bahagia tentang bagaimana proses mempertemukan seorang kakek yang hilang dengan keluarganya. Itu kisah suka. Tetapi ada juga beberapa kisah duka, semisal tentang seringnya orang-orang yang tega “membuang” orang tuanya di Panti Jompo.Tidak terhitung pula bagaimana melewati peristiwa-peristiwa yang menjadi rutinitas: mendamaikan klien yang berkelahi, mendengarkan curhatan klien yang persoalannya itu-itu juga, mencari klien minggat, membersihkan jenazah, mengurus kasus klien sampai ke luar kota, mungkin pula melakukan hal-hal yang dianggap sepele: membetulkan kacamata klien yang rusak, menutup retsliting, memapah, mendorong kursi roda, memberi salam, dll.

Kalau ada yang bertanya, memangnya profesi macam apakah sih pekerja sosial itu dan bagaimana dia mengerjakannya, wah panjang jawabnya. “Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan” (Charles Zastrow (1982)). Tetapi kalau terkait dengan profesi saya di Panti Werdha, ya saya bertugas membantu klien-klien saya yang lansia untuk menjamin kesejahteraan mereka, khususnya di Panti Werdha.

Continue reading SEKILAS GAMBARAN PROFESI PEKERJA SOSIAL DI PANTI WERDHA

LELAKI ITU KERAS DAN SAH MELAKUKAN KEKERASAN, SO WHAT? .

 

Maaf kalau judulnya terlalu provokatif. Ini sekedar catatan yang saya tuliskan pada Peluncuran Modul Konseling Laki-laki yang diselenggarakan oleh WCC RIFKA ANNISA. Dari paparan awal, saya tangkap bahwa ide dasar dari penyusunan acara ini adalah pembelajaran yang diperoleh oleh Rifka Annisa terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, bahwa selama ini recovery, konseling dan trauma healing hanya dilakukan terhadap korban (yang dalam hal ini adalah perempuan dan anak-anak), tetapi pelaku utamanya, lelaki, justru tidak tersentuh sama-sekali. Padahal, sebagian besar kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, dari si perempuan berkeinginan untuk terus melanggengkan hubungan mereka dengan lelaki. Artinya, potensi kekerasan akan terus terjadi dan direproduksi oleh lelaki. Pun jika lelaki bercerai dengan pasangan yang menjadi korban kekerasannya, dia masih memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan kepada pasangannya yang baru. Begitu seterusnya.  Maka, fokus advokasi pada tahapan berikutnya bukan sekedar memberikan pembelaan, perlindungan ataupun penanganan kepada perempuan, tetapi untuk memberikan “lelaki baru” yang memiliki kesadaran dan paradigma tentang posisinya yang strategis dalam konstruksi gender, baik di rumah tangga atau keluarga, maupun dalam ranah sosial. Itulah: mengapa lelaki.

 

Pertanyaan paling mendasar: lelaki sebagai “monster” pelaku kekerasan itu kodrat ataukah konstruk? Tentu saja jawabnya adalah konstruk. Mungkin, jika belajar dari perilaku mahluk selain manusia, tidak ada cerita tentang tindakan kekerasan pejantan terhadap betinanya, selain dominasi beberapa jenis binatang (itupun tidak selalu dominasi jantan). Tetapi lain ceritanya dengan konstruk sosial yang dibangun dan dilegitimasi oleh budaya, hukum, politik bahkan agama (ataupun tafsir atas agama). Konstruk sosial yang patriarkhal ini dilanggengkan bukan saja bukan oleh lelaki sebagai pelaku kekerasan, tetapi juga oleh kaum perempuan. Misalkan saja, dari pengalaman saya, ketika saya mencuci baju keluarga dan menjemurnya di halaman, tetangga ada yang menyapa dan bertanya: “Mas Feri ini terlalu rajin. Lha ibunya anak-anak di mana?”. Ataupun ketika di facebook  saya ceritakan bahwa saya kadang memasak, mencuci, menyetrika ataupun menyerahkan seluruh penghasilan yang saya peroleh kepada istri, seolah-olah ada yang menuduh bahwa saya adalah salah satu suami takut istri.  Ini tentu saja aneh, apalagi dalam keyakinan saya sebagai Muslim, hal-hal demikian justru biasa dilakukan oleh Nabi SAW. Bahkan Nabi SAW pula yang mengajarkan tentang bagaimana menyenangkan istri, menghormati ibu, sampai dengan bertanggungjawab terhadap indah gelapnya rumah tangga di dalam rumah agar seindah surga, dan bukan menjadi neraka bagi istri.

 

Pendek kata, konstruksi masyarakat memiliki andil dalam menciptakan lelaki sebagai monster pelaku kekerasan, yang sebenarnya salah kaprah dari pemosisian lelaki yang konon: harus kuat, memimpin masyarakat, tidak boleh lemah, yang kemudian berubah menjadi tidak boleh kalah dari perempuan, tidak boleh kalah penghasilan, kepandaian dan kepemimpinannya dalam rumah tangga daripada istri, tidak boleh menangis, tidak boleh menyentuh ranah-ranah yang biasa dilakukan oleh perempuan pada umumnya. Saat lelaki “kalah”, maka digunakanlah kekerasan, dan kekerasan itu dilegitimasi oleh konstruk sosial. Pada sisi lain, perempuan dilemahkan, yang sebagian besar karena faktor ekonomi. Rata-rata perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga menjadi lemah karena tidak berpenghasilan, tidak memiliki kesempatan untuk berproduksi, tidak memiliki kekuatan untuk menjalin relasi dan kesempatan untuk belajar menghasilkan uang bagi keluarga. Kekhawatiran yang paling utama ketika harus bersikap terhadap lelaki pelaku kekerasan, adalah semakin terpuruknya nasipnya dan anak-anaknya kelak diakibatkan oleh tanda tanya akibat ketiadaan mata pencaharian. Akibatnya, dia tetap bertahan dalam kondisinya yang terjajah di keluarga. Sekalipun dia sudah berkonsultasi, ataupun bahkan diadvokasi oleh lembaga pembela hak-hak perempuan, hasilnya sama saja: dia tidak berkutik.

 

Saya sering mendengar, di lingkungan sekitar, bahwa perselingkuhan dan pelecehan seksual biasa terjadi  bukan saja oleh mereka yang masih muda dan belum menikah, tetapi juga oleh mereka yang sudah bangkotan, sudah tua dan berumah tangga bahkan memiliki banyak anak. Ironinya, hal itu bukan saja dilakukan secara gelap-gelapan, tetapi bahkan ada yang jelas-jelas diketahui oleh pasangannya ataupun istrinya yang ada di rumah. Saya, tentu saja tidak bisa membayangkan secara pasti apa yang ada di kepala ibu-ibu yang ada di rumah itu, tetapi tentu saja hal itu menyakitkan, kecuali perempuan yang di rumah bukanlah seorang ibu, melainkan sama brengseknya dengan si bapak nakal itu. Saya juga sudah biasa mendengar tentang istilah “duit lanang”, yaitu pendapatan di luar gaji yang diperoleh para suami yang biasanya tidak diketahui istri yang kemudian digunakan untuk bersenang-senang sesuai dengan egoismenya sendiri. Dalam obrolan-obrolan ringan di manapun, perempuan juga rentan dijadikan sebagai objek pembicaraan yang mengarah kepada eksploitasi seksual. Di belakang bak truk, sebagai “ganjel mata”, maka istilah, pesan singkat, dan guyonan yang mengarah kepada pornografi bernuansa eksploitasi perempuan menjadi hal yang wajar. Masih segar dalam ingatan kita, bahwa Gubernur DKI menganggap bahwa dalam kasus perkosaan perempuan komuter di angkot, perempuanlah yang harus berjaga diri dengan tidak memakai rok mini. Benang merah dari kasus yang saya dapat dari pengalaman di atas adalah: bahwa lelaki itu rentan menjadi pelaku kekerasan sementara perempuan rentan untuk menjadi korban yang tidak berkutik kepada keadaan.  Sialnya, terkadang lelaki (atau bukan saja lelaki, tetapi perempuan dan masyarakat) tidak menyadari itu. Menganggap bahwa segalanya seperti di atas biasa saja.

 

Kalau dewasa ini, lepas dari hasil yang masih jauh panggang dari api, diskursus gender sudah menjadi hal yang sudah diketahui luas. Kita sudah mengenal penganggaran berperspektif gender,  pengarusutamaan gender dalam pembangunan sehingga perempuan relatif disejajarkan dengan lelaki. Pun, dalam persoalan KDRT, sudah ada UU penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Artinya, perempuan punya payung hukum ketika terjadi kekerasan. Tetapi bagaimana dengan lelaki? Apakah lelaki dalam tiap kepala yang berjalan, mencari nafkah, bermasyarakat dan menjadi pemimpin di berbagai ranah sosial ini sudah cukup sensitif terhadap tindakan kekerasan terhadap perempuan? Apakah kita sebagai lelaki cukup mengenal bahwa bentuk kekerasan bukan saja kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikologis, seksual, ekonomi dan sosial?  Apa dampaknya bagi istri dan anak-anaknya? Apakah yang terjadi jika istri dan anak stress, depresi, trauma dan bahkan stres pasca trauma? Dan bagaimana jika hal itu direproduksi, ditiru oleh anak-anaknya? Itulah. Pada akhirnya, pada persoalan ini, intunya, lelaki harus “disentuh.”

 

Ini bukan berarti lelaki harus dibenci, digugat ataupun bahkan memberikan stigma besar pada relasi lelaki perempuan dalam konteks rumah tangga dan sosial, tetapi bagaimana bahwa lelaki bisa menjadi tahu diri, tahu posisi dan tahu kedudukan yang semestinya dalam relasinya dengan perempuan, khususnya sebagai pelaku terbanyak kekerasan. Bukan pula legitimasi untuk mempermak, mengata-ngatai, menelanjangi, menghukum ataupun menggunduli habis pelaku kekerasan terhadap perempuan. Jika itu arahnya, maka mungkin satu penyakit akan mati, tetapi jutaan penyakit kekerasan lelaki masih berjingkrangan dan dipastikan terus “berkembang biak”. Sebagaimana disinggung di atas, bicara kekerasan lelaki adalah berbicara pelaku dengan legitimasi social, budaya, tradisi, keyakinan dan bahkan agama yang tidak hanya tunggal, tetapi jamak. Kita tidak hendak melawan, atau bahkan tidak cukup energi untuk melawan secara frontal itu semua. Justru basis pijakan untuk bertindak dalam kerangka menghilangkan kekerasan terhadap perempuan tadi bias berangkat dari tradisi, nilai, budaya bahkan keyakinan dan agama, yang sebisa mungkin digali dalam kerangka mempromosikan kedamaian, harmonisasi, toleransi dan relasi yang baik antara perempuan dan lelaki dengan lebih adil dan manusiawi. Ambil contoh persoalan poligami yang mendapatkan legitimasi yang sah dari Qur’an. Tentunya bukannya Qur’annya yang harus direvisi, tetapi paradigma tentang poligami yang harus diluruskan. Poligami seolah menjadi legitimasi bagi lelaki untuk berkokok bahwa dia telah menaklukkan sekian perempuan, melakukan praktek dominasi kekuasaan dan yang sebenarnya terjadi adalah nafsu, pelecehan seksual dan pelecehan perempuan yang dilegitimasi agama. Bahwa syarat tegas untuk menjadi “poligamers” itu ada di dalam Qur’an itu sendiri adalah berbuat adil, tentunya harus digali terkait dengan ukuran adil itu sendiri, bagaimana tafsirnya, menurut siapa dan pada akhirnya jelas ukurannya. Mengapa? Ya karena terkadang seolah keadilan hanya milik Allah dan dikembalikan kepada Allah SWT, padahal perempuan dan anak-anaklah yang menanggung konsekuensi atas kegagalan perilaku adil si lelaki.

 

Jadi, yang perlu diberikan garis bawah adalah perihal bagaimana melahirkan “lelaki baru”. Masih perlu dirumuskan, bagaimanakah kiranya mencptakan regulasi atau payung hukum untuk niat baik ini, bagaimanakah kiranya melakukan konseling lelaki (yang selama ini sulit ataupun susah menyentuh lelaki, khususnya dalam hal KDRT), bagaimanakah memberikan sosialisasi atau mengubah konstruksi masyarakat. Elaborasi ini semoga bisa mendapatkan follow up. Tentu saja itu tidak mudah, karena perubahan yang dilakukan khususnya kepada kita lelaki, adalah perubahan yang sangat radikal, mulai dari cara pandang, wawasan, sampai dengan hal-hal praktis yang biasa dilakukan sehari-hari. Wallahu a’lam.

 

 

Feriawan Agung N.,S.Sos (Pekerja Sosial PSTW Yogyakarta)

Joglo Melati, 21 Mei 2012

Jagung Untuk Raja

Adalah seorang raja di negeri antah berantah yang memiliki tiga orang putera kembar. Ketiga-tiganya sangat mencintai  dan menghormati ayahnya tersebut. Mereka dididik dengan baik oleh Sang Permaisuri yang menjadi ibu bagi mereka, penasihat utama Raja, sekaligus guru negara yang memberikan pencerahan bagi seluruh rakyatnya. Putra raja ini kemudian tumbuh menjadi pangeran-pangeran remaja yang cerdas, hebat dan siap menggantikan Sang Raja.

Suatu hari, Sang Raja memanggil ke tiga Pangerannya untuk menghadap.

“Putra-putraku tercinta”, kata Raja memulai pembicaraan. “Kalian aku undang ke mari untuk suatu hal. Suatu hari nanti, ketika aku semakin tua, tibalah saatku menyerahkan tampuk pimpinan kepada salah satu di antara kalian. Tetapi sebelum tiba saat itu, ada sesuatu yang membuat aku sedikit gusar. Yaitu, aku tidak tahu kepada siapakah tahta ini akan kuberikan, yaitu satu diantara kalian.

Continue reading Jagung Untuk Raja

Menjelang Launching Software Pengelolaan Klien Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta

Puji syukur kami panjantkan kehadirat Allah SWT akhirnya selesai juga pembuatan software SIM PSTW ini sehingga siap digunakan untuk kebutuhan database PSTW.

Awal gagasan penyusunan software ini bermula pada sekitar pertengahan bulan Juli 2010. Bapak Kepala saat itu, Bapak Drs Sulisno, secara sepintas menanyakan kepada saya tentang kemampuan saya untuk membuat sistem komputerisasi agar memudahkan bagi staff PSTW mencari data klien, penanggungjawab dan kontak person yang bersangkutan. Bukan sekedar menggunakan data MS Excell tetapi sesuatu yang lebih memudahkan lagi, kata beliau. Saat itu saya menyatakan sanggup.

Menjelang bulan Ramadhan, gagasan tersebut kembali diutarakan kepada saya, tetapi yang berbicara saat itu adalah Ibu Dra Setiawati Sujono, Kepala Seksi PJS, kembali mengutarakan kepada saya hal yang sama. Secara panjang lebar beliau mengutarakan kebutuhan-kebutuhan yang ada di PSTW terkait dengan komputerisasi data, mengingat PSTW selama ini telah menjadi panti percontohan di Indonesia. Akhirnya, sejak saat itulah terkonsep gagasan awal pembuatan software database ini.

Software ini digunakan untuk mengelola data klien Panti Sosial Tresna Werdha yang meliputi data administrasi pribadi (identitas pribadi, identitas keluarga, alamat asal dll), data medis (kondisi kesehatan klien di awal masuk panti, kondisi klien selama berada di panti, dll), data terkalit pengelolaan klien di panti seperti aktifitas sosial, aktifitas rohani, aktifitas pembinaan ketrampilan dan aktifitas apapun yang diikuti klien yang memperoleh pendampingan dari pekerja sosial di PSTW.

Software ini bermanfaat untuk pemantauan internal aktfitas PSTW oleh pengelola Panti, bahan evaluasi terhadap klien yang dilakukan oleh pengelola panti, digunakan untuk kepentingan ilmiah ataupun studi, digunakan untuk kepentingan praktis pengelolaan data klien seperti melacak penanggungjawab klien ketika klien meninggal, ketika klien sakit dll, ataupun digunakan untuk kepentingan arsip.

Data-data yang dimasukkan atau diinput dalam software ini mengacu kepada Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 4 / PRS-3/KPTS/2007 tentang PEDOMAN PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DALAM PANTI.

Gagasan software yang awalnya hanya digunakan untuk memudahkan pencarian klien, penanggungjawab dan no HP serta alamatnya, berkembang menjadi gagasan untuk pendatabase-an seluruh aktifitas klien. Bagi saya, sangat muspro jika software ini nanti Cuma digunakan untuk sekedar itu, mengingat apa yang diutarakan oleh Bu Wati, semestinya kita sudah memiliki alat komputerisasi semua aktifitas klien. Aktifitas-aktifitas yang ada, sebisa mungkin tercatat dan terdatabase untuk kemudian diubah menjadi laporan siap saji yang bisa digunakan untuk kepentingan praktis seperti penulisan laporan pertanggungjawaban, pelengkap data untuk presentasi, sampai dengan untuk kepentingan kepentingan strategis seperti perencanaan kebutuhan, monitoring-evaluasi, kebutuhan untuk kepentingan akademik, serta hal-hal lain yang dimungkinkan dari pemanfaatan data-data yang diinput di komputer. Mengapa tidak?

Data yang akurat adalah bahan utama dari sebuah perencanaan strategis. Pengambilan kebijakan yang didukung oleh data akan memiliki tingkat pencapaian hasil yang relatif baik, memiliki tingkat kepercayaan yang kuat, dan juga memiliki validitas yang tinggi dalam konteks monitoring dan evaluasi. Berdasarkan pengalaman penulis, komputerisasi data yang diperlukan untuk tujuan di atas bisa dilakukan. Maka, seiring berjalannya waktu selesailah penyusunan software ini yang memiliki kemampuan untuk input data:

  • Data dasar klien, seperti identitas klien, identitas keluarga klien, penempatan klien di PSTW, dan disabilitas.
  • Data pengobatan klien,
  • Data hasil tes psikologis klien
  • Case Record Klien
  • Penilaian kegiatan klien dalam menerima pelayanan yang dilakukan oleh Panti sepeti: Pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar/fisik, pelayanan bimbingan sosial, pelayanan fisik dan mental, pelayanan bimbingan psikososial, pelayanan ketrampilan dan pelayanan rekreasi dan hiburan (sumber:Buku Panduan Manajemen Kasus Panti Lanjut Usia Dalam Panti, Diterbitkan oleh Direktorat Pelayanan Lanjut Usia, Direktorat Jendral Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI tahun 2010)

Dari input data di atas software ini mampu melakukan penyajian data klien, penyajian dalam bentuk grafik terkait data klien (misalkan saja sebaran klien berdasarkan alamat asalnya), grafik korelasional ataupun pivot table (tabulasi silang) yang menghubungkan variabel satu dengan variabel lain, misalkan saja antara perbandingan jenis kelamin klien dengan usia klien, dan pada waktunya nanti bisa dilakukan pemanfaatan untuk kepentingan akademis ataupun analisis statistik korelasional, misalkan menghubungkan antara usia klien dengan aktifitas klien dll.

Setelah posisi kepala panti mengalami pergantian dari Bapak Drs Sulisno kepada Bapak Drs Sutiknar, apresiasi dari Bapak Drs Sutiknar terhadap perancangan software ini sangat positif. Sesuai yang saya tangkap, Beliau memiliki pandangan dan gagasan lebih jauh tentang bagaimana pemanfaatan software ini untuk kepentingan-kepentingan kemajuan PSTW. Dari sanalah Beliah memberi masukan dan saran lebih lanjut untuk penyempurnaan software ini. Alhamdulillah.

Sejujurnya saya merasa beruntung mendapatkan amanah untuk menyelesaikan software ini, karena dari sini saya bisa secara praktis menumpahkan kemampuan saya di bidang IT, mengetahui tata kelola dan manajerial Panti, khususnya panti werdha, serta secara praktis mengamalkan ilmu yang penulis dapatkan untuk kepentingan umat dalam kerangka ibadah yang penulis tujukan hanya kepada Allah SWT.

Demikianlah cerita kancil tentang pembuatan software ini. Harapannya, tentu saja semoga software ini bisa memenuhi segala sesuatu sebagaimana yang dimaksudkan oleh Bapak Drs Sulisno, Bapak Drs Sutiknar, Ibu Dra Setiawati Sujono, Bapak dan Ibu Pekerja Sosial dan PJS di PSTW, Bapak dan Ibu di Tata Usaha serta teman-teman perawat. Terima kasih banyak, dan semoga bermanfaat.

Salam

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos

Interface software bisa dilihat di bawah ini:













Aku dan Lansia

Agak miris melihat pemberitaan tentang kondisi Panti Jompo di Pare-Pare pada hari lebaran yang baru seminggu ini diliput oleh salah satu stasiun televisi. Videonya bisa dilihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=bNM3Y0Rq1-I&feature=related . Kaget dan sekaligus geram, itu reaksi pertama saya. Ya gimana tidak? Karen sudah tiga bulan ini saya bekerja sebagai pekerja sosial di Panti Jompo dan biasa berurusan dengan para lansia, mendapati kok ada lansia yang mendapat nasib sebegitu mengenaskan. Orang tua saya, mertua dan kerabat menanyai saya tentang kondisi tempat kerja saya. Media memang terkadang keterlaluan untuk membuat pemberitaan, tetapi untuk yang satu ini saya kira relatif jujur, mengapa? Ya karena ngapain membuat propaganda dengan mengambil objek panti jompo yang dikelola oleh suatu provinsi yang bobot politisnya relatif kecil. Barangkali, khusnudzan saja, itu hanya sentilan untuk mengingatkan kita, bahwa ada sekian manusia yang nasibnya berbeda di saat kita bersukaria menikmati hari lebaran. Untuk itu saya ingin menuliskan tentang tempat kerja saya yang baru di PSTW (Panti Sosial Tresna Wredha) Abiyoso, Pakem, Yogyakarta.

Gedung Utama PSTW Abiyoso
Gedung Utama PSTW Abiyoso


Kalau anda sempat jalan-jalan ke Lokasi Wisata Kaliurang Yogyakarta, pastilah melewati RS Grhasia Pakem (yang biasa difungsikan sebagai RSJ). Berjarak 100 meter, melewati jalan di sebelah utara RSJ Grhasia sudah ada penunjuk jalan ke arah PSTW Abiyoso. Di atas tanah seluas 9.702 M3, dari kejauhan akan nampak sekian bangunan-bangunan megah berwarna orange dengan atap genting sokka dikelilingi hijauan cemara pinus, suara burung pipit dan sejuknya angin yang menyentuh rumpun padi di sekitar kompleks itu . Tidak jarang orang mengira bahwa bangunan-bangunan ini adalah villa atau cottage, mengingat suasana yang demikian bersahabat. Salah, karena kompleks ini adalah kompleks panti wredha, tempatnya orang-orang tua terlantar dipelihara oleh negara.

Sudah tiga bulan ini saya mengakrabi tempat ini. Meniti jalan-jalan corn block segi enam yang menghubungkan antar wisma. Sebagaimana biasanya saya menuju satu gedung bertingkat yang besar, menuju lantai dua, karena lantai satu digunakan sebagai aula. Lantai atas, tempat sekian pegawai bekerja, dan saya menuju ke mesin absen scan jari. Biasa juga orang sini menyebutnya mesin titit. Oops..bukan saru, tetapi karena memang bunyinya “tit”..dan jika sudah banyak orang ngantri, bunyi tit silih berganti.

 

Seperti biasanya, pagi jam 07.30 semua pegawasi sudah harus setor jari di mesin ini. Setelah itu, saya menaruh tas dan perlengkapan ke meja saya sembari menyapa rekan pegawai yang lain, sembari basa basi obrolan pagi tentang bola, tentang harga, tentang klien dan lain sebagainya. Hanya sesaat, setelah itu saya turun menuju ke salah satu wisma.Oh ya, wisma itu maksudnya apa? Wisma adalah satu bangunan di PSTW ini yang dihuni oleh 10 sampai dengan 12 orang simbah terlantar. Per wisma ada 6 kamar dan per kamar ada 2 simbah. Ada wisma yang dihuni oleh janda-janda (perempuan semua), dan ada yang dihuni duda-duda(lelaki semua), dan ada pula yang suami istri. Saya, bertanggungjawab atas salah satu wisma yang namanya adalah Grojogansewu. Penamaan wisma di sini dikaitkan dengan nama-nama terkait legenda, pewayangan, dongeng dll seperti Talkanda, Wukirrahtawu, Andongsumawi dll.

Salah satu wisma di PSTW Abiyoso DIY
Salah satu wisma di PSTW Abiyoso DIY


Wisma saya sendiri dihuni oleh 12 simbah terdiri dari sepasang suami istri dan sisanya adalah duda-duda. Wisma Grojogansewu, sebagaimana wisma yang lain, di bagian luar dihiasi oleh sekian tanaman hias. Jauh dari kesan kotor, jorok atau kemproh, wisma ini menggunakan lantai keramik dengan mebel bagian dalam dari kayu jati. Sebuah titian dari besi selalu tersedia di setiap bangunan di PSTW agar lebih ramah degan kebutuhan simbah-simbah. Dibuat juga desain jalan tak berundak untuk penyandang cacat ataupun yang menggunakan kursi roda. Di bagian dalam, ada televisi, magic jar, dispenser dan beberapa alat kebersihan yang ditempatkan rapih. Ada dapur, ada ruang cucian, dan ada dua kamar mandi di tiap wisma dengan air mengalir 24 jam menggunakan pompa listrik.

Gambaran suasana dalam wisma
Gambaran suasana dalam wisma


Kalau pagi, saya menuju ke salah satu kamar, kamar Mbah Padang, salah seorang penyandang cacat kaki. Kedua kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Tetapi dia ingin ikut kegiatan panti. Setelah dimotivasi, dia mau untuk ikut kegiatan senam pagi dengan konsekuensi, saya bertanggungjawab untuk menaikkan dia ke kursi roda, mendorong kursi roda ke halaman depan aula yang jalannya menurun, dan kemudian mengembalikan dia ke kamar. Itulah setiap pagi yang saya lakukan. Terkadang Mbah Padang merasa bahwa dia sudah merepotkan saya, mengingat perlakukan yang khusus itu, ah..orang tua…orang tua, jangan begitu mbah..itu sudah kewajiban saya yang membawa badge lambang DIY di saku kiri seragam dinas saya. Kalaupun itu dinilai ibadah, ya biar yang mencatatnya sebagai ibadah yang menilainya, alhamdulillah…

Senam Lansia
Senam Lansia

Mbah Padang adalah satu dari seluruh klien di PSTW ini. Dia dari keluarga terlantar. Diantara mbah-mbah di sini, ada yang tak memiliki anak dan keluarga, ada yang memiliki anak dan keluarga tetapi dikarenakan kemiskinannya maka dia menjadi tak terawat, ada yang ditinggalkan oleh keluarga yang menjadi korban bencana alam, atau ada yang memang diterlantarkan oleh keluarganya yang tak sanggup membiayai dan mengasuh simbah yang perilakunya dan permintaanya selalu merepotkan. Di antara sekian mbah-mbah itu ada yang masih sehat, normal, ada yang sudah harus memakai tongkat, alat bantu jalan, kursi roda. Ada juga yang sudah pikun, susah mendegar, susah melihat, dan beberapa gangguan kesehatan karena usianya.


Istri setia Mbah Padang hidup bersamanya menempati satu kamar di Wisma Grojogansewu ini. Ukuran kamar 3 x 4 dengan lantai keramik, cahaya matahari dari jendela yang cukup, kasur di atas dipan dari busa dan lemari, meja dan kursi yang menjadi kelengkapan per kamar. Isi lemari adalah baju-baju dan kelengkapan pribadi yang diantaranya adalah baju seragam. Setiap pagi, Mbah Padang dan istrinya bersama dengan seluruh penghuni panti yang masih sehat berangkat ke halaman, berkumpul jam 08.00 tepat untuk senam lansia. Saya sendiri selalu ikut senam setiap pagi, dan setiap hari kamis menjadi instruktur senam, bergantian dengan pekerja sosial lainnya.Mbah-mbah itu, ada yang berdiri, ada yang menggunakan kursi melihat saya dan salah seorang mbah senior, bersenam diiringi lagu dari satu tape compo yang kadang suaranya nggleyor (lha gimana, karena pakenya kaset recorder yang dipakai berulang-ulang, gak bisa jika  pakai CD rom). Mbah-mbah, diiringi dengan celoteh dan seloroh, mengikuti senam. Kadang gerakan tidak kompak, kadang belum selesai sudah istirahat..whatever..

Bimbingan Rohani
Bimbingan Rohani

Selesai senam, mbah-mbah ikut kegiatan reguler. Hari senin, biasanya bimbingan rohani sesuai agama dan kepercayaanya. Untuk yang muslim seperti saya, biasanya berkumpul di Mushola dan diasuh oleh seorang Ustadz dengan tema-tema yang berulang ulang: surga-neraka-kubur, hidup damai dan bersyukur, dan doa-doa memohon kesehatan dan kesejahteraan. Hehe..lha gimana wong sudah tua..Mosok mau tema tentang jihad, tentang ukhuwah islamiyah dll..Jika hari selasa, mbah-mbah berkegiatan seni musik. Seorang pemain piano electone diundang untuk mengiringi mbah-mbah bernyanyi karaoke sementara mbah yang lain joget atau dugem. Belum dua bulan saya sudah hafal bahwa lagu yang dinyanyikan mbah-mbah pun monoton: itu-itu juga, dan lagu favorit mereka adalah “Ojo Lamis”. Pada hari rabu, mbah-mbah berketrampilan: membuat keset, sapu, sulak, jahit dll sesuai dengan hobinya. Semua bahan disediakan oleh Panti. Tidak ada target, tidak ada kendali mutu, tidak ada supplier. Biasanya digunakan untuk kepentingan sendiri, untuk suvenir pengunjung panti, ataupun sekadar pajangan.

Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan Kesehatan

 Pada hari kamis, kembali ada pengajian. Jumat ketrampilan lagi, dan sabtu adalah karawitan gendhing-gendhing. Jika ada kegiatan yang disebut sebagai day care, maka diundang juga lansia yang berada di sekitar kecamatan pakem untuk terlibat kegiatan pengajian dan hiburan. Lengkap sudah keriuhan di ruang aula dimana para simbah ajojing, saling tukar cerita, ngobrol, curhat dan sebagainya. Lalu apa yang saya lakukan? Yah kalau pas sesi agama, jika kebetulan ustadnya nggak ada ya giliran saya yang menggantikan. Pada sesi ketrampilan, ya menemani dan mencatat kebutuhan bahan baku yang mulai habis.

Karawitan Lansia
Karawitan Lansia


Nah kalau sesi hiburan, ya menjadi MC, ikut nyanyi (lagi jadul) dan ikut nggamel. Pokoknya include, membaur bersama dengan mbah-mbah. 😀

Njoget Mbah !!!
Njoget Mbah !!!


Setelah sesi reguler itu yang biasanya selesai jam 11.00, maka mbah-mbah bisa menuju ruang poliklinik yang dijaga oleh 6 orang perawat bergantian, serta seorang dokter dari luar, melayani pemeriksaan dan pengobatan untuk mbah-mbah. Semuanya gratis. Poliklinik ini juga buka 24 jam bagi mbah-mbah penghuni panti jika sewaktu-waktu ada yang sakitnya parah atau butuh penanganan khusus. Lengkap: mulai dari ruang periksa, tabung oksigen, apotik, dan kelengkapan kesehatan lainnya.Secara rutin juga, ada psikolog yang datang untuk memberikan bimbingan psikologi kepada mbah-mbah itu.

Setelah itu pas jam 12.00 mbah-mbah akan mengambil makan di Dapur Umum dimana per wisma akan ada satu simbah yang membawa nasi, lauk pauk dan sayur dari dapur umum ke wisma sesuai dengan jumlah mbah di tiap wisma. Sehari 3 kali dengan menu bervariasi yang sudah dikonsultasikan dengan puskesmas dan dokter yang bertanggungjawab sehingga kebutuhan nutrisi, vitamin dan mineral mbah-mbah diperkirakan cukup, serta jauh dari makanan yang kontraproduktif dengan kesehatan seperti: kolesterol, kelebihan garam, zat pengawet, MSG, dan lain sebagainya.

Pagi, siang dan malam. Sayur bobor, lodeh, bayam, asem, gudeg, dll Ikan bandeng, telur asin, tempe tahu, telur ceplok, daging sapi, ayam. Buah semangka, sirsak, pisang, pepaya dll. minuman mulai dari teh, sirup, susu, sari buah, kacang ijo dll…pokoknya variatif. Kadang saya mengingat, bahwa pada masa kuliah dulu  jauh lebih menderita daripada mbah-mbah ini. Makan kadang sehari sekali. Kos-kosan sempit, bahkan seringnya gak ngekos, malah hidup di masjid, boro boro minum susu…Lepas dari jam 1, usai sholat dhuhur, mbah-mbah bebas kegiatan. Mau tidur, mau duduk-duduk, mau ngobrol dipersilahkan sampai dengan kegiatan esoknya. Oh ya, mbah-mbah juga harus mencuci bajunya sendiri serta membersihkan lingkungan wismanya sendiri, khususnya bagi simbah yang masih kuat. Alat cuci dan hygine kit mulai dari untuk kepentingan pribadi ataupun se-wisma semua diberikan atau dijatah. Jika memang tidak ada agenda, maka di jam inilah kadang saya dan teman-teman peksos kadang mengunjungi wisma untuk bertanya tentang kebutuhan dan persoalan yang ada di tiap wisma. Namanya juga simbah, selalu ada saja curhatnya. Mulai dari soal kesehatan, soal temannya yang mulai pikun, lauk yang dicolong kucing, salah paham dengan teman, iri dengan perlakuan yang berbeda dst. Paling sering adalah cerita masa lalu.

Piknik
Piknik


Di luar itu, setiap tahun mbah-mbah diajak untuk piknik ke lokasi wisata terdekat, mendapat baju, snack dan uang saku gratis saat lebaran, serta kegiatan-kegiatan insidental lainnya.


Oh ya, di luar Wisma-wisma ini ada wisma  isolasi. Wisma  inilah yang menjadi hunian mbah-mbah yang sudah bedrest: mbah yang sudah tidak bisa jalan, dan hanya makan tidur buang air di tempat. Di sana ada perawat-perawat khusus yang jaga 24 jam bergantian untuk memenuhi kebutuhan mbah-mbah ini. di wisma isolasi juga ada ruang untuk memandikan jenazah. Yaa gimana ya. Sebulan bisa sampai 4-5 jenazah yang diurus dari mbah-mbah wisma yang sudah meninggal. Kami, termasuk saya, adalah bagian dari orang-orang yang wajib untuk merawat jenazah itu. (Wah, saya butuh kursus untuk ini je..belum bisa).

 

Selain mbah-mbah terlantar, ada juga yang sengaja dititipkan oleh keluarga yang mampu dikarenakan orang tua mereka yang lansia kesepian di rumah. Mereka dikategorikan sebagai klien subsidi silang yang membayar 1 juta tiap bulan, yang jumlahnya total 19 orang. Walaupun banyak yang mengantri untuk menitipkan klien, pihak panti tidak bisa memenuhinya, karena prioritas dari semua wisma adalah bagi orang-orang (lansia) terlantar. Berbeda dengan yang reguler, mereka tidak perlu mencuci, tidak perlu mengambil konsumsi dan tidak perlu ke ruang poliklinik karena tenaga untuk itu sudah datang ke wismanya sendiri secara rutin.

 

Nyaris semua kebutuhan harian dari konsumsi, rohani dan kesehatan simbah-simbah sudah bisa tertutupi oleh dana APBD dan APBN, termasuk di dalamnya kebutuhan untuk day care serta home care (perawatan bagi lansia terlantar di luar panti). Tetapi bukan berarti bahwa semua itu bisa memuaskan simbah-simbah. Sebagai manusia normal, mereka butuh kasih sayang dari pihak keluarga. Itulah yang tidak mungkin negara berikan. Semewah-mewahnya hidup di panti, jelas tidak sebahagia bila mereka hidup bersama keluarga, jika ada. Saat hari raya seperti ini, mereka berbahagia karena mendapat uang saku dari panti dan juga snack dan sirup sebagai kelengkapan mereka untuk menjamu keluarga mereka yang sekiranya datang ke panti. Tetapi, terkadang hal itu tidak terjadi. Wajah penuh harapan kosong, ketika ditanya, ternyata tak ada pihak keluarga yang datang menjenguk.

 

Anda, jika sempat, bolehlah mengajak sesiapapun ke sini. Anggap saja sebagai wisata ruhani agar anda tahu bahwa orang tua itu begitu berharga dan harus dirawat sebaik-baiknya jika masa senjanya telah datang. Kalau mau membawa sumbangan, sebaiknya tidak berupa beras, kebutuhan sanitasi, atau kebutuhan konsumsi (karena semua itu sudah dipenuhi negara). Kalau mau paket langsung diberikan kepada simbah-simbah, ya harus sejumlah simbah yang ada (sekitar 130 simbah) dan jangan sampai kurang dari itu! Jika tidak mencukupi, sebaiknya TIDAK! Ini serius, karena bisa menimbulkan syak wasangka, curiga atau geger di antara simbah-simbah (maklumilah, orang tua kembali menjadi anak-anak). Atau jika uang, percayakan kepada pihak panti untuk membelanjakannya. Jika memang tertarik untuk belanja langsung, boleh, seperti kebutuhan akan tongkat lansia berbagai ukuran (beberapa lansia masih menggunakan tongkat sapu), sandal jepit, kruk, kursi roda, selimut, atau survei dulu agar belanja sesuai kebutuhan. Walaupun dari negara sudah cukup, tetapi ya beberapa peralatan masih belum ada alokasi anggarannya seperti perbaikan sound system, perawatan gamelan, peralatan teknis dll.

 

Oke sekian dulu, semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. Salam…(*)

 

 

Sajak Orang Kaku

inilah aturanku

dunia harus berada pada garisku

bagaimanapun caranya

dengan begitulah

aku terbiasa menjadi pemimpin

sekalipun dunia membenciku

.

Semua itu tidak terlalu penting

daripada fokus kepada tujuanku

dan keyakinanku

.

Kritik, kecaman dan perlawanan

adalah jalan terjal

yang hanya perlu dilalui

bukan untuk dikenang

.

Begitulah caraku

meniru Tuhanku

Jogja, 20 Jan 01

ilustrasi diambil dari sini

Download Software Interaktif Gamelan (Gamelan Mechanique)

Hormat dan salut saya kepada Ibu Kati atau Mbok Tu (Catherine Basset) seorang bule Prancis peneliti gamelan (bersama dengan Mas Olivier Koechlin, teknisinya) yang membuat software ini dan dipasang di http://www.cite-musique.fr/gamelan/ . Beliau adalah orang yang memiliki ketertarikan dalam musik etnik, dab salah satunya gamelan, yang kemudian dibuat software berbasis flash yang sangat pantas dijadikan software referensi, edukasi maupun rekreasi bagi siapapun yang ingin mengenal gamelan.

Coba bayangkan, apa nggak malu bahwa orang yang membuat software ini adalah orang Prancis. Padahal kewajiban nguri-uri kabudayan indonesia tu kan semestinya ya kita-kita yang rumangsa sebagai anak cucu pewaris kebudayaan Indonesia yang adilihung. Lha wong anak-anak kita dibiarkan dijejeli sinetron njelehi padahal kita punya wayang yang difungsikan sebagai tontonan bernilai tuntunan. Lha wong kita punya tari-tarian yang bagus-bagus dan melambangkan keceriaan, kemakmuran bangsa, kekaguman karya Allah, lha kok malah pating jingkrak nggak karuan dengan lets get dance. Lha kita memiliki musik-musik yang selaras jiwa manusia Indonesia, eh..lha kok kita sibuk dengan musik impor dari nasyid sampe underground. Tapi mungkin kita tidak pernah merasa malu wong kita adalah bangsa yang tidak lagi punya rasa malu.

Yak, langsung saja penjelasan teknis:

Ketika kita membuka software ini dan dijakankan, kita akan dihadapkan dengan interface pilihan model gamelan mulai dari gaya Jawa(Lancaran dan Ladrang), Sunda (Sekar Alit) dan Bali (Gilak dan Baris).

Begitu klik salah satu, kita sudah bisa bereksperimen untuk mukul-mukul berbagai instrumen musik (sound musik tersebut akan terdengar otomatis begitu kita klik alat ybs) yang dilengkapi dengan nama dan keterangan alatnya (sayangnya dalam bahasa perancis).

Bukan itu saja, software ini bahkan dilengkapi dengan bagian latihan untuk membuat aransemen dari alat-alat yang ada di rangkaian gamelan ini. Kita tinggal klik pada bagian notasi dan disesuaikan dengan simbol ataupun urutan nadanya dan kemudian jika di eksekusi akan terdengarlah suara sesuai dengan notasi yang kita buat.

Langsung saja, kalau mau download langsung aja ke situs YBS dengan klik di sini (PC windows).

Sekedar catatan, software ini memerlukan plugin adobe shockwave player yang bisa didownload di sini yang biasanya sudah ada pada komputer windos XP, vista ataupun 7