KISAH DAUD AS dan THALUT (Dongengan untuk Simbah)

Elektabilitas Daud AS naik ketika berhasil mengalahkan Jalut. Betapa tidak, Jalut seorang prajurit Palestina yang badannya segede dan sekuat kingkong adalah mesin pembunuh yang sekali ayunan tinjunya bisa meng-KO puluhan prajurit Bani Israil di bawah komando Raja Thalut.Lha kok bisa-bisanya Daud yang hanya relawan perang berhasil menumbangkan kebongsoran dan kepethekolan Jalut hanya menggunakan ketapel yang mestinya dipakai oleh anak-anak kecil berburu burung. Kontan saja kejadian menggemparkan itu seantero kerajaan yang memang miskin figur panutan.

http://mythoughtslifenote.files.wordpress.com/2013/11/download-3.jpg

Daud itu tadinya bukan siapa-siapa, pemuda kecil yang kemudian tergerak bersama saudara-saudaranya terpanggil untuk menjadi patriot bangsa. Hanya saja melihat tubuhnya yang nggak gede-gede amat, ayahnya sangat wanti-wanti bahwa tugas daud itu hanyalah sebagai “tukang laden” yang tugasnya mensupplai kebutuhan pasukan garis depan di mana kakak-kakaknya bertugas. Bisa obat-obatan, air, makanan, senjata atau apapun. Tapi ketika melihat pasukan garis depan pontang-panting dan terancam dipukul mundur oleh kedatangan si kingkong bernama Jalut, disitulah dia tergerak untuk ikut cawe-cawe, dan ndilalah kemenangan berpihak kepadanya.

Kemenangan Daud adalah kemenangan rakyat, mungkin begitulah ceritanya, karena setelah itu dia mendapatkan jabatan sebagai penasihat kerajaan setingkat dengan Menkopolkam, lalu didaupkan dengan putri prameswari kerajaan yang tidak lain adalah putri raja Thalut, yakni dyah ayu Mikyal. Namun, bukan soal putrinya yang diperistri Daud yang membuat Raja Thalut gusar, elektabilitasnya itu lho yang cenderung bertambah dan makin bertambah (kayak iklan suplemen). Hal itu bisa terasa dari comment-comment di jejaring sosial, jajak pendapat, dan publikasi pers yang saat itu berjalan dari mulut ke mulut, yang kemudian seolah dibanding-bandingkan dengan Raja Thalut yang modelnya cuma duduk diam dengar dan perintah. Secara, Raja Thalut cemburu berat, nggak ku ku.

Maka, konflik laten itu kemudian mengemuka ketika makin hari Daud merasa bahwa dia telah di PHP-in sama Raja Thalut. Lalu dia rerasan dengan istri tercinta. Terungkaplah rencana jahat ayahndanya yang merasa iri melihat fokus interest rakyat yang berpihak kepada Daud. Menjadi trending topik.

Walaupun logis apa yang diungkapkan Mikyal, Daud tidak mau gegabah menuduh ayahndanya melakukan tindakan tidak terhormat kepadanya. Hanya saja, keesokan harinya terjadilah yang tidak diharapkan. Raja Thalut memberikan SK pengangkatan dirinya menjadi Danjen Kopassus untuk menyerang kerajaan Kan’an sampai menang atau mati. Ini jelas akal-akalan yang anak kecil juga tahu bahwa demikianlah cara raja Thalut menyingkirkan Daud. Opo tumon, Bangsa Kanaan itu punya pasukan lebih besar, lebih terlatih dan lebih canggih. Hanya karena kecurigaan bahwa bangsa Kanaan mau menyerang Bani Israil kok bisa-bisanya mengutus pasukan kecil dipimpin oleh prajurit kemarin sore?

Daud sadar, inilah yang ditakutkannya terjadi. Bukan takut bahwa dirinya akan mati di medan laga, tetapi takut bahwa musuh sebenarnya yang lebih berbahaya adalah orang yang semestinya dia hormati. Sudah, tidak ada lagi yang perlu dia persiapkan kecuali mendekatkan diri kepada Allah agar bisa menerima kematiannya dengan tenang.

Tetapi Allah berkehendak lain. Daud justru diangkat menjadi Nabi dan Rasul dikarenakan kepasrahannya itu, dan justru duanugrahi kekuatan nalar, keberanian, kecakapan dan kekuatan fisik sehingga pulang kembali ke kerajaan Bani Israil dengan membawa kemenangan. Tidak bisa dipungkiri, andaikata ada pesta demokrasi semacam di Indonesia, siapapun berani potong leher bahwa Daud akan terpilih menjadi presiden dengan kemenangan pada pemilu 99%. Sisanya adalah golput. Elektabilitasnya naik broooo….

Nah tinggallah si Raja Thalut gero-gero gulung koming karena siasatnya gagal. Bukannya mati, menantunya justru semakin mengancam pengaruhnya di mata rakyat. Asem tenan…..pikirnya. Karena sudah gelap mata, maka diaturlah rencana jahat antara Raja Thalut denan para intelejen dan agen khusus setara dengan mission impossible atau agen 007 dengan licence to kill. Rencana pembunuhan ini diatur rapi. Tetapi sayang bahwa rencana ini kemudian terdengar oleh Mikyal.

Maka, sebelum mencapai kerajaan, Mikyal menemui kakanda tercintanya untuk menyingkir dari pusat kerajaan demi mengamankan dirinya. Daud manut saja, sebagai manusia yang sudah diberi kenikmatan terbesar berupa iman yang kuat kepada Allah, dia nggak terlalu “pathek-en” dengan kekuasaan ataupun dengan euphoria rakyat yang percaya penuh kepadanya. Dia memilih jalan sunyi dengan hidup sebagai penyendiri.

Cerita belum berakhir, karena pilihan Daud ternyata bukan pilihan rakyat. Rakyat yang sudah kenyang dengan arogansi kekuasaan Thalut plus seolah menemukan role model yang membumi, yang suka blusukan dan berasal dari wong cilik itu mulai eneg memiliki KTP sebagai pendukung partai kerajaan. Mereka mulai melakukan migrasi masal meninggalkan kerajaan yang dipimpin Thalut, plus dengan pasukan-pasukan yang lebih bersetia kepada Daud. Ini jelas bukan karena tunjangan fungsional, atau tunjangan jabatan, atau gaji pokok yang kurang dari kerajaan, tetapi dikarenakan patriotisme kepada yang benar. Kehormatan kepada yang berhak.

Maka, dari rivalitas yang tadinya konflik tertutup, sekarang berubahlah menjadi konflik terbuka. Suka tidak suka Raja Thalut harus berdiri dari singgasana empuknya untuk memimpin sendiri pasukannya membasmi para pemberontak yang kontra revolusioner, merongrong kewibawaan kerajaan, serta mengkhianati konstitusi kerajaan.

Pasukan kerajaan, sesungguhnya tinggal pasukan para pengecut yang dengan gampang dipukul mundur oleh Daud AS beserta pengikutnya. Tetapi Daud AS tidak memilih cara militer untuk menyelesaikan konfliknya dengan mertuanya. Suatu malam, dia dengan kemahirannya setara atau bahkan mungkin melebihi Jason Bourne dalam film Bourne Supremacy, menyusup di tenda raja yang dikawal pasukannya. Masuk ke kamar raja dan menggunting sedikit bajunya, baru kemudian membangunkan si raja.

“Bapak Mertua, kalau aku mau kamu tentu sudah mati dan kehilangan kehormatanmu. Masih ada waktu untuk bertaubat. Taubatlah”. Cling…dalam sekejab Daud hilang di gelap malam. Raja Thalut termangu-mangu, di tangannya ada guntingan baju yang jelas-jelas memberikan gambaran betapa kalau si Daud mau, habis sudah dia.

Tetapi Thalut tidak kapok. Arogansinya terlalu kuat, sehingga menganggap bahwa si Daud cuma beruntung. Toh, peristiwa malam itu hanya dia dan Daud yang tahu, andaikata pasukannya tahu mungkin sudah pada mundur kabur. Maka dia memaksa untuk tetap memburu Daud.

Maka, kali kedua Daud menyusup ke tenda Thalut kemudian mencuri anak panah dan kendi. Kali ini Daud tidak sembunyi sembunyi lagi. Keesokan harinya, Daud berteriak dari bukit ke Camp Strategis Pasukan Raja Thalut.

“HOiiii..Raja Thalut!!!!…Apa belum kapok juga? Aku minta kau untuk bertaubat ternyata tidak kau dengar!! Hai kalian pasukan Raja Thalut!!! Ketahuilah bahwa selama ini apa yang kalian lakukan untuk membunuhku sama-sekali tidak menakutkanku. Justru sebaliknya, aku memberi kalian kesempatan untuk hidup lebih lama karena jika tidak kalian pasti mati. Bahkan raja kalian. Tidak percaya? Nih, kendi dan anak panah! Kalian tidak asing dengan ini kan?”

Usa begitu Daud melemparkan kendi dan anak panah ke arah pasukan Raja Thalut lalu pergi. Salah seorang prajurit Raja Thalut mengambilnya dan membawa ke camp. Bergetarlah dia, dan seolah berhenti pula darah pasukan raja Thalut. kendi dan anak panah itu tidak asing bagi mereka, itulah kendi dan anak panah yang semestinya dipegang oleh Raja Thalut. Bagaimana bisa itu dipegang oleh Daud? Akhinya, satu persatu dari pasukan melarikan diri dari sang raja. Tinggallah sang Raja Thalut berdiri sendiri merenungi kepongahannya, pergi dengan rasa malu dari kerajaannya, merenungi kehidupannya.

Akhir cerita, Daud dinobatkan menjadi raja secara aklamasi.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s