TENTANG PERUSAKAN ITU

https://i1.wp.com/images.solopos.com/2013/09/Ilustrasi-perusakan.jpg

Dulu, saya bersekolah SMA di sebuah sekolah Katolik di Semarang. Namanya SMA Sedes Sapientiae. Ini sekolah yang jelas sebagian besar siswanya beragama Katolik, walaupun sebagian kecil diantaranya adalah Kristen, Islam dan Budha.

Dari sisi etnis atau keturunan, sebagian besar adalah etnis Tionghoa. Sebagai siswa yang beragama Islam, suku Jawa (walaupun ada darah Tionghoa dan Belanda), awalnya saya terstigma: jangan-jangan ada apa-apa ketika bersekolah di sini. Maklum, di kalangan suku Jawa, walaupun abangan (tidak menjalankan syariat secara penuh), kental sekali pandangan minor di masyarakat terhadap Etnis Tionghoa, yang saat itu disebut Cina. Ditambah, ini adalah sekolah Katolik, jangan-jangan akan terjadi indoktrinasi, brainwash, atau dipaksa untuk memeluk agama Katolik. Modar aku!


Saya bukan pemeluk Islam yang taat saat itu. Sejak SMP, sholat lima waktu nyaris tidak pernah. Nggak pernah ikut ngaji segala macam, dan nggak mudheng apa itu syariat. Tetapi jangan disangka bahwa seorang abangan itu mudah untuk beralih agama. Resisten dan malah curiganya gedhe.

Walhasil ketika sudah menjadi siswa, sekolah ini mengetrapkan pendidikan agama yang siswanya dipisah: Katolik dan Non Katolik. Mereka yang Katolik, pendek kata, mendapat pendidikan agama Katolik plus pendalaman iman. Sementara saya bersama dengan umat Kristen dan yang lainnya, mendapat pendidikan mulai dari pengenalan agama Katolik, perbandingan konsep ketuhanan antara agama Katolik dengan agama lainnya, dan beberapa hal lainnya terkait persoalan-persoalan agama. Saya berani bersaksi bahwa sepanjang sekolah dari kelas satu sampai kelas tiga SMA saya belum pernah diajak untuk memeluk agama Katolik oleh siapapun: guru, sesama siswa, suster atau siapapun. Saya ulangi, saya belum pernah diajak untuk memeluk agama Katolik oleh siapapun.

Apakah saya tidak pernah ikut ritual agama Katolik? Oh pernah. Saya harus nyanyi di gereja/kapel. Kalau nggak nyanyi dislentik (walaupun kadang saya nggak apal lagunya).Mereka yang berbeda agama wajib hadir pada acara misa, tetapi ada di balkon atau bangku yang tidak mengganggu penerimaan komuni. Yang tidak beragama Katolik dan mereka yang Katolik tetapi belum dibaptis, dilarang untuk menerima komuni.
Saya tidak mengalami diskriminasi apapun dari siapapun. Pada akhirnya saya bisa bergaul dengan nyaman dengan mereka yang etnis tionghoa, ataupun yang beragama beda. Wajar, sewajarnya anak remaja SMA, mulai dari berantem, berdiskusi, berbeda pendapat, nakal dan kenakalan bentuk lain, tidak ada yang kemudian membawa-bawa agama ataupun perbedaan etnis. Tidak ada.

Dihukum guru karena nakal, berantem dengan teman karena iseng, dan lain sebagainya semuanya wajar. Apakah ada aturan yang tegas melarang itu? Wow, tidak ada. Semuanya berjalan alami tanpa diskriminasi.

Ketika ada acara retreat, kemping atau apapun, ada kesempatan buat saya untuk menunaikan sholat (yang biasanya tidak pernah, eh ketika di SMA malah kadang sholat). Ketika bulan Ramadhan dan harus puasa, ada semacam penghargaan ataupun beberapa kemudahan terkait aktifitas fisik untuk yang berpuasa agar tidak terlalu terganggu puasanya.

Sampai sekarang saya bangga pernah bersekolah di sekolah ini. Di FB ini, saya masih menjalin pertemanan dengan mereka sesama alumni Sedes Sapientiae, dari berbagai agama, berbagai etnis.

Ketika zaman berubah, saya sudah mulai kenal dengan Islam. Hidup dengan berorganisasi mulai dari HMI, Jamaah Shalahuddin UGM, Remaja Masjid, Pendidik di TPA, santri di Pondok Pesantren Budi Mulia, hingga sekarang sebagai jamaah pengajian rutin di kampung, semakin mantaplah keimanan saya sebagai seorang muslim. Tetapi sungguh saya tidak bisa memahami mengapa ada sebagian dari umat Islam melakukan penyerangan kepada rumah tinggal, ataupun rumah tinggal yang digunakan sebagai ibadah. Lebih heran lagi jika ada larangan beribadah di rumah, ataupun ketika mengadakan ibadah di rumah harus menggunakan surat ijin.

Ustad saya mengajarkan bahwa iman itu adalah keyakinan, atau lebih tegasnya klaim. SeoraNG muslim harus secara tegas menyatakan bahwa agamanyalah, atau Allahlah satu-satunya Tuhan dan tidak mengakui atau menalari tuhan apapun dari agama apapun. Karena klaim, maka tidak boleh ada kompromi sekecil apapun. Karena tidak ada kompromi, Islam kemudian dengan tegas memerdekakan umat agama lain untuk menjalankan ibadahnya sebebas-bebasnya sejauh itu ada di wilayah yang menjadi wilayahnya, rumahnya apalagi.Bebas.Rasulullah SAW bahkan mencontohkan bahwa dalam perang sekalipun, ulangi: dalam perang sekalipun, kaum muslimin dilarang merusak bangunan, membunuh orang yang berlindung di gereja, atau merusak tanaman. Tentu saja, ada alasan mengapa muslim harus berperang atau memerangi kaum Kristen dan kafir lainnya, yaitu ketika terjadi mereka memerangi umat Islam lewat: menghasut masyarakat dengan memutarbalik fakta tentang Islam, membantai, memfitnah, membunuh, mendiskriminasi dan hal-hal lain yang ditetapkan agama.

Stigma yang paling saya dengar adalah stigma tentang Kristenisasi, yakni bahwa di beberapa daerah umat kristen melakukan persebaran agama kristen dengan mencaplok wilayah-wilayah yang penduduknya adalah muslim. Dalam hal ini umat Islam wajib melawannya dengan cara yang dibenarkan oleh agama. Seringkali apa yang disebut Kristenisasi itu adalah tindakan kemanusiaan yang disokong dengan ajaran-ajaran Kristen/Katolik. Apakah kemudian kekerasan digunakan karena itu? Tentu saja tidak demikian. Butuh kerja keras dari kita umat Islam untuk berdakwah dengan cara yang bijak sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ruang diskusi untuk ini tentulah cukup panjang, tetapi intinya adalah kita membenci kristen adalah membenci ajarannya, bukan manusianya. Membenci tidak berarti memusuhi manusianya, membenci disebabkan oleh kesesatannya menurut Islam serta mengharapkan mereka menerima ajaran Islam,lain daripada itu, mereka bebas untuk beribadah di wilayah yang menjadi wilayah mereka. Bahkan, mereka berhak menyesatkan Islam dan ajarannya di wilayah teritori mereka beribadah.

Cerita tentang kisah SMA saya tentu saja terlalu dini untuk ditarik garis bahwa umat Kristen atau Katolik semua sebaik apa yang ada di sekolah saya. Tetapi itulah pengalaman saya. Bukannya tidak ada persoalan sama sekali, tetapi menurut saya itu persoalan yang bisa dibicarakan dan diadvokasi. Contohnya adalah, bahwa setiap hati Jumat, jam pelajaran berlangsung sampai dengan pukul 13.30 sehingga umat Islam tidak bisa melakukan ibadah Jumat. Mungkin karena sejak awal saya tidak tahu konsekuensi itu ataupun memang saya saat itu tidak terlalu peduli. Saya tidak tahu bagaimana dengan sekarang, yang pasti saya yakin itu semua bisa dibicarakan tanpa harus mengangkat pedang.

Ketika terjadi perusakan dikarenakan alasan mereka beribadah di rumah mereka, saya tidak habis berpikir. Mungkin karena ketidakfahaman saya atas persoalan sebenarnya, mungkin karena pemahaman Islam saya yang kurang, mungkin karena sebab lain. Karena sampai saat ini, saya tidak mengerti mengapa itu harus dilakukan. Kalau memang bersalah, walaupun atas nama Islam, pelakunya harus diproses oleh hukum, dan marilah tetap menjadi umat Islam yang hidup dalam agama yang damai yang menjadi rahmatal lil alamin.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s