Curhatan Orang Tua yang Kecewa dengan Anaknya

Hari ini, datang lagi seorang ibu tua ke panti jompo. Perawakannya putih bersih, sopan, kalem, sehat dan mandiri. Kami temui dan bertanya, ada maksud apakah dia datang ke Panti Jompo ini. Berikut adalah gambaran cerita beliau:

Saya tidak tahu lagi kepada siapa saya akan bercerita dan berterus terang.

“Saya adalah seorang ibu, janda, usia 65 tahunan dari dua orang anak. Anak saya yang pertama perempuan, bersama suaminya dan seorang anaknya yang sudah STM tinggal bersama saya. Anak saya yang kedua lelaki, tinggal di Jakarta dengan istrinya. Di rumah saya usaha membuat roti dan kue bersama dengan anak saya pertama. Itulah mata pencaharian kami satu-satunya yang rutin untuk menyokong kehidupan saya dan anak saya sekeluarga yang tinggal bersama saya.

Ironi memang, anak saya itu, yang sudah bersuami, sampai dengan anaknya STM tidak bisa mandiri. Si suami tidak bekerja, hanya kadang jadi makelar jual beli tanah. Anakku perempuan, ya Cuma membantu saya bekerja. Rumah peninggalan satu-satunya suami saya itulah yang setia menaungi kami, menjadi saksi kehidupan mereka dari berkeluarga sampai dengan anak mereka remaja.

Dari sanalah konflik terjadi. Entah karena mereka malas, entah karena tidak tahu bagaimana caranya mencari uang, atau karena apa, mereka sering menyia-nyiakan saya. Segalanya salah. Soal uang, soal penggunakan perangkat di rumah, soal apapun. Bahkan soal agama. Saya beragama A, dan mereka semua B. Perbedaan agama itu bagi saya gak masalah, walaupun mereka anak saya, berbeda, biarlah. Tetapi di sisi lain, mereka seolah ingin memaksa saya untuk ikut agama mereka. Tetapi bukan itu saja.

Andaikata saya seorang diri di rumah, mungkin malah saya tidak terlalu berpikir untuk ke mari, menyampaikan maksud saya ini kepada anda. Usaha buat roti yang menjadi tulang punggung keluarga ini, dengan adanya mereka justru merepotkan saja. Saya tidak bisa naik motor. Maka mereka lah yang mendapat jatah untuk mengedarkan roti. Tetapi jika mereka bad mood, ada saja alasan mereka untuk tidak keliling, mengedarkan roti.

Ada saja persoalan bagi mereka untuk membuat saya tidak betah. Sudah sekian banyak persoalan yang masuk ke dada saya. Sesungguhnya saya malu untuk bercerita ini, karena bagaimanapun, mereka adalah anak saya sendiri. Tetapi saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sekian lama saya pendam, yang terjadi adalah saya yang sakit, ambruk.

Yang saya inginkan, sebenarnya adalah sebisa mungkin mereka mandiri. Jauh, dan saya bisa tenang sedikit. Padahal, usia tidak bisa kompromi. Saya sadar suatu saat saya tidak bisa sekuat sekarang untuk menjalankan usaha, mulai dari membeli bahan, membuat roti dan kue, sampai dengan memutar modal. Saya butuh keluarga yang pada saatnya nanti bisa saya andalkan untuk merawat saya kelak, mendengarkan dongeng saya, nostalgia saya, bahkan sampai dengan saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali makan, tidur dan buang air. Tetapi yang saya hadapi saat ini, sepertinya menjadi mimpi buruk saya dari hari ke hari.

Saya, akhirnya memutuskan untuk mengadu peruntungan. Menggunakan angkutan umum dengan sekian banyak ganti trayek, ke panti ini. Tujuan saya Cuma satu: menjadi penghuni panti ini. Saya rela menghibahkan semua harta saya, asal saya bisa hidup di panti ini, jauh dari anak saya. Saya sudah tidak tahan lagi. Sesungguhnya saya orangnya cukup mengalah, pernah hidup di asrama sehingga toleransi dengan sekian watak saya bisa tahan. Untuk itulah, saya berharap bahwa kehidupan saya di panti bisa lebih sejahtera. Daripada saya selalu disia-siakan oleh anak saya. Saya juga nyaris tidak memikirkan entah apa nasib anak saya itu, tanpa saya yang menjadi tulang punggung usaha roti di rumah. Saya sudah jenuh.”

Pada akhirnya, kami seolah menjadi katarsis terhadap ledakan perasaan beliau yang sekian lama mengendap, menjadi konselor, dan memberi jalan untuk penyelesaian beliau. Kami tidak menjanjikan apapun, kecuali bahwa ketika panti ini nanti penghuninya berkurang, akan kami visit untuk tindak lanjut. Yang tersisa di kepala hanyalah sekian tanya, apakah di zaman ini, orang tua yang membesarkan kita harus hidup di dalam kesedihan di hari tuanya. Semoga doa yang baik yang keluar dari mulutnya, bukan sumpah serapah yang dipastikan akan dikabulkan oleh-Nya. (*)

Pakem, 28 Mei 2012

Feriawan

One thought on “Curhatan Orang Tua yang Kecewa dengan Anaknya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s