Tentang Rambut

uban

Saya memiliki uban yang lumayan ketara di sisi kiri dan kanan kepala. Pada awalnya merasa risih juga, karena setiap ketemu orang yang pertama jadi omongan ya uban itu. Tetapi lama kelamaan jadi terbiasa.


Pernah suatu ketika saya konsultasi tentang uban dan hasilnya absurb. Suatu malam, di suatu tempat cukur di jalan magelang. Sudah terlalu malam bagi saya untuk cukur rambut yang sudah menyentuh daun telinga, tetapi ada tempat cukur yang masih buka. Mungkin karena nggak fokus atau ruangan yang gelap, ya udah saya minta dicukur. Ketika ditanya:”mau model apa?”, sebagaimana umumnya, saya menjawab:”biasa”. Itu jawaban standard yang sebenarnya nggak jelas. Tetapi itulah kata pengganti untuk kata:”terserah, pokoknya bagus.”


Sembari bercukur, ngobrol ngalor ngidul, saya konsultasi mengenai kesehatan rambut, termasuk persoalan rambut uban saya. Keluarlah dari mulut pencukur ini berbagai resep mulai dari pabrikan, organik sampai dengan tradisional. Saya simak bener-bener. Nggak terasa dia sudah selesai mencukur.”Sudah mas”.


Begitu rampung ya udah, saya bayar. Kaget bukan kepalang, dan buyar semua informasi tentang rambut yang sudah saya serap dari dia. Lha gimana tidak, ternyata dia botak.


Bukan berarti saya diskriminatif terhadap orang botak. Tetapi sesuatu yang terkait dengan fisik memang akan menimbulkan reaksi sensitif dari orang lain, khususnya yang kondisinya sama dengan yang menjadi objek penderita dari kisah yang saya ceritakan. Sama sekali saya tidak punya niat untuk apartheid atau diskriminatif.


Dalam hidup sebelum menikah, saya pernah ditolak cinta selama 7 kali. Semuanya oleh perempuan yang berhijab atau berkerudung Hal ini kerap saya ceritakan sebagai motivasi kepada mereka yang belum nikah agar tetap semangat mencari jodoh. Agar tidak nglokro apalagi bunuh diri hanya karena ditolak. Ya, tentu saja saya tidak bercerita bahwa saya sudah menolak 20-an perempuan, karena kalau bercerita tentang ‘saya yang menolak’ yang terjadi adalah cerita tentang kesombongan.


Diantara tujuh perempuan itu, ada yang setelah menolak, bertahun-tahun saya masih belum bisa pulih. Tetapi ndilalah, seperti orang tolol, rasa cinta yang bertahun-tahun tak bisa pulih itu sirna seketika, yaitu ketika mengetahui bahwa ternyata rambutnya keriting. Blas ilang seketika.


Ini juga bukan soal diskriminatif, katakanlah menganggap rendah mereka yang berambut keriting. Jadi anggap saja bahwa tidak semua perempuan suka dengan lelaki kerempeng, lelaki berkumis, lelaki berjenggot dll. Perempuan boleh tidak menyukai saya juga kok karena saya cuma berjenggot pancasila, alias 4-5 lembar. Saya tidak tersinggung.


Walhasil karena peristiwa keriting itu, saya menjadi bulan-bulanan topik di berbagai kelompok pergaulan saya. Bahkan sampai sekarang. Dulu, saya takut sekali, jangan-jangan ketika saya meminang perempuan berkerudung, di malam pertama buka kerudung saya akan terkecewakan, wajah yang tadinya mirip maudy koesnaidy mendadak berubah brutal karena berambut edi brokoli. Untuk itulah saya konsultasi. Konon dalam Islam, dalam masa taaruf sampai khitbah, kita bisa menanyakan satu dan lain hal yang terkait dengan gambaran masa depan, tentunya selain hal-hal maksiat.

Kepada salah seorang teman perempuan yang saya anggap relatif mampu, saya bertanya:” Bolehkah kepada calon saya, saya bertanya kepadanya: rambutmu kriting atau lurus?”


Mungkin saya bertanya kepada orang yang salah. Jawabannya sungguh mengejutkan:”Oh, kalau calon saya menanyakan itu kepada saya. Tak kuaplok (kutampar) dia, dan sudah nggak tak jawab. Tak tinggal pergi.” Waduh….!!!


Sampai sekarang jawaban pertanyaan itu masih menjadi misteri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s