Category Archives: abunawas

Tentang Rambut

uban

Saya memiliki uban yang lumayan ketara di sisi kiri dan kanan kepala. Pada awalnya merasa risih juga, karena setiap ketemu orang yang pertama jadi omongan ya uban itu. Tetapi lama kelamaan jadi terbiasa.


Pernah suatu ketika saya konsultasi tentang uban dan hasilnya absurb. Suatu malam, di suatu tempat cukur di jalan magelang. Sudah terlalu malam bagi saya untuk cukur rambut yang sudah menyentuh daun telinga, tetapi ada tempat cukur yang masih buka. Mungkin karena nggak fokus atau ruangan yang gelap, ya udah saya minta dicukur. Ketika ditanya:”mau model apa?”, sebagaimana umumnya, saya menjawab:”biasa”. Itu jawaban standard yang sebenarnya nggak jelas. Tetapi itulah kata pengganti untuk kata:”terserah, pokoknya bagus.”


Sembari bercukur, ngobrol ngalor ngidul, saya konsultasi mengenai kesehatan rambut, termasuk persoalan rambut uban saya. Keluarlah dari mulut pencukur ini berbagai resep mulai dari pabrikan, organik sampai dengan tradisional. Saya simak bener-bener. Nggak terasa dia sudah selesai mencukur.”Sudah mas”.
Continue reading Tentang Rambut

Advertisements

AYO MEMUJI

https://i1.wp.com/www.voucher-pulsa.net/gbrartikel/memuji.jpg

So Young dikenal sebagai anak yang badung. Kadang dia mencuri, berantem dengan teman sekelasnya, malas mengerjakan tugas, dan segudang persoalan yang membuat sekolah kapok. Lewat seorang guru baru yang bertangan dingin, perlahan namun pasti So Young menjadi kembali seorang yang baik. So Young bukannya sengaja, kehidupan keluarganya yang berantakan membuat dia sering meminta perhatian dari lingkungan. Sekalipun demikian, teman-teman sekolah yang kadung jengkel dengan ulahnya, tak mudah menerima perubahan sikapnya.

Continue reading AYO MEMUJI

KISAH DAUD AS dan THALUT (Dongengan untuk Simbah)

Elektabilitas Daud AS naik ketika berhasil mengalahkan Jalut. Betapa tidak, Jalut seorang prajurit Palestina yang badannya segede dan sekuat kingkong adalah mesin pembunuh yang sekali ayunan tinjunya bisa meng-KO puluhan prajurit Bani Israil di bawah komando Raja Thalut.Lha kok bisa-bisanya Daud yang hanya relawan perang berhasil menumbangkan kebongsoran dan kepethekolan Jalut hanya menggunakan ketapel yang mestinya dipakai oleh anak-anak kecil berburu burung. Kontan saja kejadian menggemparkan itu seantero kerajaan yang memang miskin figur panutan.

http://mythoughtslifenote.files.wordpress.com/2013/11/download-3.jpg

Continue reading KISAH DAUD AS dan THALUT (Dongengan untuk Simbah)

TENTANG JENGGOT (Just for Laugh)

Akhirnya impian saya untuk memiliki jenggot relatif terkabul. Lumayan buat peneguh iman di kala Ramadhan besok (Apa hubungannya coba?) Bukan apa-apa, tadinya pesimis cuma dicukar-cukur karena terindikasi jenggot Pancasila, cuma keluar lima butir, akhirnya setelah agak dicermati, muncullah penampakan kriwis-kriwis lebat membahana.(Horeeee….)


gambarpendukung-mbr-moustachebeardstyle-800x600
Itu berita baiknya, tetapi segala sesuatu butuh penyesuaian, kan? Nah ini yang rada ngganjel. Ketika naik motor, setiap lembar tersapu oleh angin, duh rasanya kok rada nggak nyaman. Belum lagi terasa ada sedikit gatel-gatel sekalipun sudah setiap hari pakai sampoo anti dandruf. Maka dicermati lagi ini jenggot di depan cermin, lha ketahuan. Ternyata tampaklah di depan cermin, lima lembar dari segumpal jenggot kriwis saya warnanya putih, alias uban. (geleng-geleng)

Continue reading TENTANG JENGGOT (Just for Laugh)

MY 2nd STANDUP COMEDY: UJIAN KESABARAN

https://i1.wp.com/comedystandup.weebly.com/uploads/1/1/2/1/11214418/2933940_orig.jpg

Saya mengalami kehidupan sebagai mahasiswa prihatin di UGM, dimana waktu hidup rata-rata membersamai sekretariat Unit Kerohanian Islam “Jamaah Shalahuddin”(JS), dari mulai di sekretariat gelanggang sampai dengan sekretariat masjid kampus UGM. Lumayan, ngekos gratis dan kadang dapat ghonimah konsumsi acara gratis. Orang-orang sejenis dengan saya ini biasa disebut sebagai penghuni harian.

Continue reading MY 2nd STANDUP COMEDY: UJIAN KESABARAN

My (First) Standup Comedy

https://feriawan.files.wordpress.com/2013/06/f109f-stand-up_logo.jpg

Melihat status fb, saya sering dibilang orangnya terlalu serius. Benarkah? Kayaknya sih nggak.

Masa kecil saya, pas usia TK dan kelas 1 SD, dibesarkan dalam kondisi melarat. Rumah kontrakan berdinding gedek, yang nggak ada kakusnya. Letaknya di pinggir peternakannya Pak Harto Almarhum yang merupakan padang rumput luas dan dipagari cuma dengan pipa besi besar sehingga kita bisa masuk lewat celahnya. Tidak terlalu ketat penjaganya, karena semua orang tahu diri, tetapi juga dari peternakan sering bagi-bagi duit pas hari minggu. Letaknya di daerah Jrakah, Semarang. Kalau perut sakit, butuh BAB, saya lari ke dalam peternakan, cari tempat yang kosong dan bruuut….keluarlah. Terkadang, pas jongkok gitu ada aja sapi yang datang, melihat dengan wajah dongo-nya. Nah pas melihat kadang juga si sapi buang hajat. Nah itu yang minta ampun, kadang ampasnya si sapi jauh lebih bau. Bayangkan saja..

Continue reading My (First) Standup Comedy

Jagung Untuk Raja

Adalah seorang raja di negeri antah berantah yang memiliki tiga orang putera kembar. Ketiga-tiganya sangat mencintai  dan menghormati ayahnya tersebut. Mereka dididik dengan baik oleh Sang Permaisuri yang menjadi ibu bagi mereka, penasihat utama Raja, sekaligus guru negara yang memberikan pencerahan bagi seluruh rakyatnya. Putra raja ini kemudian tumbuh menjadi pangeran-pangeran remaja yang cerdas, hebat dan siap menggantikan Sang Raja.

Suatu hari, Sang Raja memanggil ke tiga Pangerannya untuk menghadap.

“Putra-putraku tercinta”, kata Raja memulai pembicaraan. “Kalian aku undang ke mari untuk suatu hal. Suatu hari nanti, ketika aku semakin tua, tibalah saatku menyerahkan tampuk pimpinan kepada salah satu di antara kalian. Tetapi sebelum tiba saat itu, ada sesuatu yang membuat aku sedikit gusar. Yaitu, aku tidak tahu kepada siapakah tahta ini akan kuberikan, yaitu satu diantara kalian.

Continue reading Jagung Untuk Raja

Kisah Telur Columbus

Kisah Telur Columbus saya dapatkan dari sebuah buku agenda usang, beberapa tahun silam saat saya masih SD. Kisah itu begitu membekas sampai sekarang. Begini kisahnya:

Seusai menemukan sebuah benua yang kemudian dinamai Amerika, Columbus, si penjelajah Portugis ini kemudian mendapatkan gelar bangsawan di Spanyol. Tepat pada hari penganugrahan gelar itu, Columbus mengadakan jamuan makan dengan mengundang semua bangsawan, pemuka adat, tetua dan benggol-benggol klan yang berpengaruh, dimana setiap kursi yang ada di sisi meja perjamuan itu diatur sedemikian rupa berdasarkan gelar kebangsawanan.

Mungkin, kepopuleran Columbus saat itu setara dengan Briptu Norman Camaru. Sayangnya, bagi para Bangsawan, yang merenteng gelar di sisi nama mereka, kehadiran Columbus yang berasar dari manusia biasa saja itu jelas merupakan ancaman dan biang kecemburuan. Bukan hanya satu dua orang, tetapi hampir rata-rata bangsawan dan pembesar yang diundang sangat jeleaus dengan Columbus.

Saat acara digelar, kasak-kusuk pun berhembus.

“Cih, kalau cuma nemuin benua, ngapain juga dikasih gelar,” kata bangsawan satu.

“Ho oh, sialan juga, kita yang lalu lalang dari pulau ke pulau dan menaklukan sekian daerah jajahan, mana pula dapat gelar segitu terhormat.”

“Cemen! Dasar Cemen! Apa kita nggak merasa diinjak? Kita dapat gelar karena leluhur kita adalah orang yang terhormat! Lha dia?”

Kasak-kusuk itu berhembus demikian kencang mirip most trading topic di Twitter. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke telinga shohibul hajat, Columbus. Orang-orang begitu pesimistik bahwa dengan isu yang demikian kencang, Columbus akan tetap menggelar hajatan kendurinya itu. Tetapi rupanya Columbus punya rencana lain.

Hari H tidak berubah, para undangan lebih duluan hadir. Mereka itu, semua saling berkasak kusuk dengan wajah sinis dan pandangan mata yang tajam, menanti, layaknya ingin segera mempermalukan si tuan rumah. Tuan rumah belum juga menampakkan diri. Gremang gremeng mirip obrolan mahasiswa saat ditinggal pengawas kala ujian.

Suasana sontak hening, ketika Columbus datang dan duduk di kursi kehormatannya. Mengajak hadirin makan, dengan suasana yang sangat kaku.

“Saudara-saudara,” kata Columbus seusai acara makan. Memecah keheningan.

“Saya punya sayembara,” katanya.”Jika saudara-saudara bisa memecahkan sayembara ini. Maka kursi yang saya duduki ini, dan gelar saya ini, akan saya relakan untuk berpindah ke siapapun yang bisa menebaknya.”

Para hadirin sontak kaget.

“Hai Columbus, berani benar kamu. Apakah ini sungguh-sungguh? Apakah pertanyaanya itu. Aku harap kamu tidak menelan ludahmu dan tidak mengada-ada.”

“Oh tidak,”jawab Columbus.”Saya serius”

“Ini, di tangan saya ini ada sebutir telur. Telur ayam.Nah, barangsiapa diantara anda bisa menegakkan telur ini di atas meja yang licin ini, tanpa memeganginya, maka dia berhak atas gelar dan kursi kehormatan ini. Dan sekali lagi….saya serius.”

Tak ayal lagi, semua hadirin yang ada di situ secara berurutan mencoba menegakkan telur yang berbentuk oval itu dalam posisi tegak lurus. Tetapi, tidak ada seorangpun dari mereka bisa menegakkannya. Entah berapa jam berlalu, dan satu persatu yang mencoba gagal…dan gagal. Mereka menyerah…Columbus tersenyum.

“Tuan-tuan dan nyonya. Saya sudah mendengar tentang semua hal tentang kepantasan saya untuk menerima gelar dari Raja. Saya tahu semua dari anda meragukan temuan saya sebagai modal untuk meraih gelar. Anda anggap bahwa hal itu adalah hal yang terlalu remeh temeh, sederhana, dan tidak layak untuk mendapatkan gelar. Tetapi hari ini saya berharap bahwa anda semua mendapat pelajaran akan satu hal.”

“Awalnya, ada hal-hal yang sulit dilakukan kebanyakan orang. Tetapi yang sulit itu menjadi mudah ketika anda mendapatkan pengetahuan dari orang lain tentang pemecahannya. Celakanya, Anda tidak pernah menghargai siapapun yang bekerja keras untuk membuat hal yang sulit tadi menjadi sederhana.”

“Sudah, jangan banyak omong Columbus”, salah seorang bangsawan mulai gerah.”Memangnya kamu bisa menegakkan telur itu di atas meja? Atau..kamu cuma mengada-ada?”

Columbus tersenyum. Dipukulkanya sedikit ujung telur itu ke permukaan meja sehingga retak dan permukaanya jadi agak datar. Saat itu juga telur itu bisa berdiri tegak lurus di atas meja.

“Ah,”ujar si bangsawan.”Kalau cuma gitu sih aku juga bisa!”

“Ya…”kata Columbus mencoba bijak” dan setiap orang di ruangan ini pun bisa melakukannya. Anak kecil bisa melakukannya, bahkan monyet pun bisa melakukannya. Tetapi tentu saja sesudah saya melakukannya. Bagaimana dengan tadi? Apakah anda melakukannya? Mengapa anda tidak melakukannya?”

Itulah kisah yang sangat terkenal, sehingga dibuatkan monumen telur columbus di kota Sant Antoni de Portmany, Ibiza, Spanyol. Banyak kisah dimana orang terlalu meremehkan usaha kita, ketika meniti sukses demi sukses seolah-olah hanyalah keberuntungan semata atupun sesuatu yang serba kebetulan tanpa melihat betapa kita bekerja keras demi kesuksesan itu. Atau terkadang kita juga dilanda iri dan dengki karena orang lain seolah mendapatkan keberuntungan, jabatan, harta, tahta dan kebahagiaan yang seolah-olah datang dengan tiba-tiba, tanpa kita tahu betapa dia memang layak untuk memperoleh itu. Nah, disaat hal-hal itu terjadi, ingatlah akan kisah ini. Semoga jiwa kita menjadi jiwa yang tenang. (*)