Dongeng Sebelum Mati

Padang yang luas, dimana binatang ternak yang rata-rata biri-biri, sarapan saat matahari sepenggalah. Beberapa dari mereka adalah unggas yang ikut riang ria kehangatan pagi. Udara begitu segar, sesegar embun yang baru saja menguap dari dedaunan. Sungai bergemericik. Awan putih berjalan pelan.

Marilah berjalan sedikit dari padang itu, agak jauh ke pinggir hutan, saat beberapa anak ayam diasuh induknya, mencari cacing dan serangga, serta tanaman biji-bijian. Induk ayam di mana-mana sama, mereka layaknya seorang ibu yang mengasuh anaknya, mengajari bagaimana mencari dan mendapat makanan yang baik, bagaimana berbagi, bagaimana melindungi. Damai.

Continue reading Dongeng Sebelum Mati

Janji Ibu, Janji Segenap Jiwa

Di ujung pohon yang patah, kering dan nyaris mati, burung pipit itu bersarang.  Lingkungan di sekitarnya sudah terlalu parah untuk dikatakan luluh rantak. Kaki gunung ini, kaki dimana kesuburan telah dilenyapkan Tuhan oleh sekian waktu bencana. Hilang semuanya karena bencana.

 

 

Dia adalah burung pipit betina, yang saat ini mengerami tiga telurnya, sendirian. Pejantannya sudah mati bersama yang lain karena bencana, mati saat mencari makan untuk dia, betinanya. Continue reading Janji Ibu, Janji Segenap Jiwa

Tiga Boneka Raja

Al kisah di sebuah negeri bernama Kerajaan Makmur, hiduplah Seorang Raja yang cerdas dalam mengelola kerajaannya sehingga segenap penduduk negeri tersebut menjadi makmur, sehat,sentosa dan kaya raya. Demikian kayanya negeri tersebut sehingga banyak negeri-negeri tetangga merasa iri. Di antara sekian banyak negeri ada yang berniat jahat untuk menjajahnya, ada pula yang berniat melakukan hubungan diplomasi dengan kerajaan ini. Yang berniat jahat, selalu gagal untuk menyerang Kerajaan Makmur ini karena memang memiliki tentara yang kuat dan handal. Sementara yang hendak berdiplomasi, ternyata tidak ada yang pernah berhasil.

Mengapa diplomasi yang dilakukan kerajaan-kerajaan sekitar terhadap Kerajaan Makmur tidak pernah ada yang berhasil? Cerita punya cerita, ternyata Sang Raja Makmur memberikan teka-teki terhadap setiap utusan kerajaan yang datang ke kerajaan Makmur dan mengajukan perjanjian hubungan diplomatik. Teka teki ini cukup sederhana tetapi tidak mudah dijawab. Raja Makmur memberikan tiga boneka yang terbuat dari perak kepada utusan kerajaan tetangga yang datang.

“Aku memberikan kepadamu tiga patung. Dari ketiga boneka ini, berikanlah padaku salah satu yang menjadi pilihanmu. Seandainya pilihanmu tepat, maka Kerajaan Makmur akan dengan senang hati menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaanmu. Tetapi jika pilihanmu salah, maka kami tidak bisa menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaanmu. Saya harap ini bisa dimengerti dan dijadikan maklum”, demikianlah titak Sang Raja Makmur.

Yang dimaksud boneka oleh Raja Kerajaan Makmur tersebut sesungguhnya adalah boneka dengan bentuk sederhana yang terbuat dari perak, berbentuk lelaki tersenyum. Kesemuanya ada tiga buah.

Sudah berpuluh kerajaan yang datang selalu mendapat tantangan yang sama dari Raja Makmur. Diantara kesemua utusan yang datang, kemudian pulang ke kerajaan mereka untuk dicarikan ahli yang sanggup membedakan tiga boneka tersebut. Raja Makmur mengijinkan jangka sepuluh hari kepada kerajaan-kerajaan yang mengajukan hubungan diplomasi untuk membawa pulang tiga boneka raja itu ke kerajaan mereka masing-masing, sebelum akhirnya diserahkan kembali ke Raja Makmur salah satu diantaranya yang menurut mereka pantas diserahkan ke Raja Makmur.

Konon, setiap ahli yang ada di tiap kerajaan tetangga mengamati goresan demi goresan ukiran, perbedaan bentuk, garis, motif dan apapun yang melekat di ketiga boneka tersebut. Tetapi tidak ada perbedaan yang berarti dari ketiga boneka itu. Sampai dengan hari yang ditentukan, semua kerajaan tidak mampu mengembalikan boneka yang dimaksudkan Raja Makmur, tidak ada yang memberikan alasan bagus melainkan hanya berspekulasi ataupun analisis tidak akurat. Pada akhirnya semua utusan kerajaan tetangga ini pulang dengan tangan hampa.

Tibalah saatnya salah satu kerajaan, sebut saja Kerajaan Damai, mengutus hulubalang mereka untuk menghadap Raja Makmur dalam kerangka menjalin hubungan diplomasi. Utusan ini diterima dan diperlakukan baik oleh Raja Makmur dan seperti biasanya seusai beramah tamah dan basa basi, Hulubalang Kerajaan Damai ini menyampaikan maksud dan tujuannya. Sebagaimana yang lalu, Raja Makmur memberikan tiga boneka peraknya dan pesan untuk mengembalikan salah satu diantara boneka itu yang menjadi pilihan Kerajaan Damai.

Hulubalang Kerajaan Damai pulang kembali ke negerinya, dan dengan cepat mengumpulkan para ahli. Sampai dengan menjelang hari ke sepuluh, ternyata para ahli ini gagal memberikan analisis ataupun pertimbangan terbaik. Maka, saking frustasinya Hulubalang Kerajaan Damai, diberikanlah ketiga boneka ini kepada putranya yang masih balita.

Betapa senangnya putra Hulubalang mendapat hadiah tiga boneka perak. Maka ditimang-timangnya boneka ini dan disayanginya setengah mati. Saking senangnya, ketiga boneka perak ini dimandikan di kolam saat bocah ini dimandikan ayahnya.

Terjadilah peristiwa kecil yang unik. Dari ketiga boneka ini keluarlah gelembung udara kecil yang menjadi petunjuk pembeda ketiganya.

Keesokan harinya, menghadaplah Hulubalang Kerajaan Damai kepada Raja Makmur dan diberikanlah salah satu boneka yang menjadi pilihannya.

”Kenapa kau berikan boneka yang ini? Mengapa tidak yang lainnya, Wahai Hulubalang Kerajaan Damai?”tanya Baginda Raja Makmur sambil memegang boneka.

”Begini ceritanya Paduka. Ketika hamba dan putra hamba mandi bersama tiga boneka ini, maka hamba dapati bahwa keluar gelembung dari telinga boneka ini. Secepatnya hamba mengeringkan boneka ini lalu mencabut sehelai rambut hamba yang lumayan panjang, lalu hamba masukkan ke telinga masing-masing boneka ini”

”Boneka satu ini, yang di tangan kiri hamba, begitu hamba masukkan seuntai rambut dari telinga kiri, ternyata keluar ke telinga kanan. Begitu pula sebaliknya, dari telinga kanan, masuk ke telinga kiri. Ini adalah gambaran orang yang tidak bisa dipercaya, ataupun tidak bisa menepati perjanjian.”

”Boneka yang satunya lagi, yang di tangan kanan hamba, begitu hamba masukkan seuntai rambut ke telinganya, ternyata keluar lewat mulutnya. Ini adalah gambar orang yang tidak bisa menjaga rahasia, karena setiap apa yang dikatakan kepadanya, selalu keluar lewat mulutnya.”

”Nah, boneka yang Paduka pegang. Ketika hamba masukkan seuntai rambut ke telinganya, baik yang kiri ataupun yang kanan, ternyata tidak menembus ke lubang manapun, sekalipun seluruh rambut itu masuk ke telinganya. Ini adalah gambaran orang yang pandai dalam memegang rahasia dan memegang perjanjian.”

”Demikianlah Paduka”

Mengembanglah senyum Baginda Raja Makmur sembari mengulurkan tangannya.

(Terimakasih kepada Pak Rinto atas dongeng ini, yang disadur dari dongeng Negeri Cina Kuno)

Adinda

Oleh: Feriawan Agung Nugroho

Dahulu kala, ada seorang lelaki yang buruk rupa. Kulitnya hitam, tinggi tak seberapa, miskin, buruk rupa, dan karena kemiskinannya itu dia sangat terkucil. Tidak ada seorang perempuan pun yang mau mencintainya. Setiap dia mencoba untuk menyatakan cinta kepada perempuan yang dia rasa memang cantik dan menawan, selalu ditolak. Malang benar nasibnya.

Pekerjaan lelaki itu adalah seorang pembuat boneka mainan anak-anak. Rata-rata adalah boneka yang digerakkan oleh pegas. Ketika dijalankan, bonekanya mengeluarkan bunyi bunyian merdu dari kotak penggeraknya. Ada balerina, ada penabuh drumban, ada monyet-monyetan, ada burung yang bergerak-gerak sendiri. Tetapi seiring dengan kemajuan jaman, anak-anak sudah tidak mau lagi membeli bonekanya yang terbuat dari kayu. Maka, harga bonekanya jatuh dan hanya dibeli oleh masyarakat miskin. Kadang laku, tetapi sering tidak laku. Maka, penghasilannya dari boneka hanya cukup untuk membeli makanan sehari-hari, lebih dari itu dia tidak mampu.

Karena tidak ada seorangpun yang mau mencintainya. Lelaki itu mencoba untuk membuat sosok boneka perempuan sempurna yang sekiranya dicintai. Setiap rasa cinta dia kumpulkan dan bayangkan sehingga kerutan-kerutan pisau yang digoreskan pada kayu pinus seolah dipenuhi oleh gambaran cinta hatinya, dan perlahan namun pasti terbentuklah wajah ayu, menawan dan sempurna sebagai gambaran cinta di hatinya. Dibalutnya sosok itu dengan gaun merah, berbahan kain paling mahal untuk membuat boneka, diberinya rambut yang tersisir rapi dan berbau harum, dilukisnya bibir si putri impian dengan tinta merah menawan. Dan tidak lama kemudian lengkap dan sempurnalah boneka putri impian ini. Boneka ini diberinama sang lelaki dengan nama: Adinda. Begitu cintanya sang lelaki kepada hasil ciptaannya ini dan kemudian diberinya pegas dan penyuara yang bisa bersuarakan gadis berkata:”Aku cinta padamu.”

Nah, sampailah dia pada saat-saat perdana dimana dia memutar pegas bonekanya, Adinda. Dengan penuh harap….sang lelaki berkata kepada bonekanya itu:

“Aku…cinta…..padamu”, kata sang lelaki dengan penuh perasaan mesranya.

Sang boneka, seperti yang dia duga menjawab:

“Aku…aku…aku..”

Kecewalah wajah lelaki. Mengapa dia tidak bilang..”Aku cinta padamu…”

“Oh..rupanya pegasnya kurang kencang.”Sebentar kemudian sang lelaki memutar kembali pegas Adinda.”

Adinda kemudian seolah-olah hidup, tersenyum dan berkata kepada sang Lelaki: ”Aku..cinta ..padamu.”

Gembira dan bahagialah sang lelaki ini karena ternyata bonekanya bisa mengucapkan kata-kata “aku cinta padamu”. Sebuah kata-kata yang selama ini belum pernah disampaikan oleh seorang perempuan manapun di dunia ini kepadanya.

Hari-demi hari kini seolah menjadi bersemangat, seolah memang ada putri yang menemaninya: Adinda. Dan cintanya seolah merupakan cinta seorang suami kepada istrinya tercinta.

——–

Tak terasa musim berganti menjadi dingin. Si lelaki miskin tadi menjadi gelisah. Hujan yang datang membuat atapnya yang lama bocor kini meneteskan air hujan yang dingin ke ruang yang tidak memiliki perapian. Padahal, dia sudah tidak punya uang. Boneka-bonekanya tidak terlalu laku.

Dengan berat hati sang lelaki harus menjual Adinda. Boneka yang sangat dicintainya ini dirasanya cukup untuk membeli nasi dan genting penambal atap gubuk tuanya. Dibungkusnya rapi adinda dalan sebuah kotak berpita merah jambu. Entah darimana perasaan itu, tetapi lelaki merasakan bahwa boneka karyanya ini menangis tersedu-sedu.

“Jangan khawatir adinda. Aku akan mejualmu kepada orang kaya., dengan harga yang mahal. Percayalah bahwa dia akan merawatmu baik-baik, dan tidak tinggal dalam gubuk reot seperti gubukku.”

Dibawanya Adinda dengan sepeda onta tua ke pasar. Dalam sekejab adinda berpindah ke dinding etalase penjual barang-barang antik. Sangat cantik dengan hiasan lampu-lampu kerla-kerlip dan suasana kota yang terpantul dari dinding etalase. Adinda seolah menjadi primadona yang memancing perhatian banyak orang. Sang lelaki pulang, sementara para manusia yang melihat ke dinding etalase pada berdecakan kagum.

Malam itu, seusai membetulkan genting dan kenyang oleh beberapa potong roti, sang lelaki tertidur…..bermimpi bertemu denga Adinda. Adinda terbang ke awan dengan bintang-bintang dan meneriakkan:Aku cinta padamu..aku cinta padamu…..Menari –nari gembira. Boneka-boneka ciptaannya pun seolah bernyawa dan menari-nari di awan. Impian itu begitu nyata dan membahagiakannya.

Pada saat yang sama, seorang kaya beminat untuk membeli sebuah boneka cantik. Kemudian dibayarnya. Adinda telah berpindah tangan.

“Kamu bilang ini bisa berucap..aku cinta padamu?”

“Benar tuan”

Sang juragan memutar pegas dan menunggu Adinda berbunyi…..

Satu detik..dua detik…dan lama kemudian tidak terdengar satu suarapun.

“Pegasnya kurang kuat” Maka dikuatkan pegasnya.

Masih tidak berbunyi.

“Kenapa boneka ini!!”teriak sang juragan dan digoncang-goncangkannya tubuh Adinda.

Karena goncangan terlalu kuat…..rusak berantakanlah Adinda menjadi beberapa bagian.

….

Subuh hari. Matahari belum nampak meski cahayanya sidah membumbung. Tetapi burung-burung enggan berbunyi. Di sebuah tong sampah kumuh di pinggir pasar, seorang pemulung mengorek-orek isi di dalamnya. Nampaklah sebuah boneka yang sudah rusak. Matanya tertutup embun, tetapi yang terlihat oleh pemulung itu lebih mirip sebagai genangan air mata daripada beningnya embun.

Hadiah Uang Tahun

Untuk Adikku Rina Susilowati yang menyayangi bonekanya.

Maaf, baru bisa kuberikan sekarang.

Karanganyar, 8 Oktober 2004.

Kucing Garong

Aku tahu kamu sangat membenciku. Seekor kucing buduk dengan badan penuh luka, warna bulu tidak jelas, dan mencari kesempatan untuk mencuri lauk di sela-sela pasar dan perumahan manusia. Jalanku sempoyongan dan suaraku parau. Setiap aku bertemu kamu, mataku sangat tidak suka dan segera berlari secepatnya. Sesekali aku melihatmu dan bersumpah serapah dengan suara serakku. Pastilah kamu sangat tidak suka padaku.

Tapi dengar dulu, manusia sialan. Ini penting! Hari ini aku ceritakan tentang takdirku padamu supaya kamu tahu dan bersiap diri. Kalau tidak, kamu akan menyesal!

Tidak jelas kapan aku lahir. Semasa kecil aku terbuang begitu saja di pinggir jalan. Saat itu, mataku masih kabur dan hanya mengeong untuk mencari adakah indukku di sekitarku. Seorang anak kecil memungutku dari pinggir jalan dan membawaku dengan sebuah kendaraan. Pada saatnya aku tahu kalau kendaraan itu adalah sepeda mini.

Aku dibersihkan, diberi susu dan dirawatnya dengan baik. Sudah takdirku bahwa aku menjadi binatang rumahan dan disayang manusia. Aku menikmatinya.

Ada yang tidak sedap kudengar ketika beberapa diantara mereka, manusia-manusia selain anak kecil tadi, menyebut-nyebut kelaminku. Aku betina. Menurut mereka pada saatnya nanti aku harus diusir dari rumah dan tidak lagi menjadi beban. Si anak kecil hanya mengangguk. Aku tidak paham kata-kata mereka, aku tidak ambil perduli karena aku tidak bisa berpikir. Tapi aku punya perasaan yang memang merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman.

Lalu. Aku besar, dari kucing kecil menjadi kucing remaja yang suka mejeng di depan rumah, menanti kucing-kucing jantan yang berseliweran dan mengeong-ngeong mengagumiku. Aku Cuma jilat-jilat tubuh dan berhias, biar mereka ngiler. Sampai, suatu saat ada diantara mereka yang nekat ingin menggauliku. Aku lari masuk rumah. Dan saat itu, entah manusia siapa yang melakukannya, si jantan terkena benda keras di kepalanya sehingga dia mengaduh kesakitan. Mengumpat sekenanya.

Namun keperawananku sebagai kucing betina yang anggun tidak lama. Saat rumah tertutup dan ada kesempatan, si jantan jelek itu mengejarku sampai aku lelah dan memperkosaku. Kami sempat berlairan dari atap ke atap, melompati pagar, melintasi tiang jemuran, terguling dari atap, tercebur masuk got dan kemudian tertatih-tatih di rerumputan, dan terjadilah peristiwa itu. Suara ribut sangat keras, tetapi apa dayaku karena tenaganya sangat besar. Sebagai binatang, sungguh hina dia, tidak terhormat. Tapi mau mengadu sama siapa? Bukankah binatang tidak memiliki hukum kecuali yang kuat mengalahkan yang lemah. Aku betina. Aku lemah. Aku tidak berdaya.

Sampai suatu hari perutku menggembung dan mengeras. Aku akan menjadi seorang ibu. Mulailah kudengar keributan diantara manusia-manusia yang memeliharaku. Aku tidak tahu apa yang mereka perdebatkan. Tapi dari beberapa mata mereka aku tahu kalau ada yang membenciku dan khawatir kalau aku akan lebih menyusahkan mereka. Akhirnya ada suatu kesepakatan yang aku tidak tahu. Sepertinya kesepakatan itu menyangkut aku dan membawa-bawa namaku. Tetapi mengapa aku tidak diikutkan dalam pembicaraan mereka? Ah pikiran tolol! Bukankah aku binatang. Mana ada binatang dilibatkan dalam pembicaraan manusia? Bisa gila dunia.

Sampai beberapa bulan, lahirlah anak-anakku yang kucintai. Sebagai induk betina, aku tidak terlalu berpikir siapa bapak anak-anakku, perluku hanya membesarkan mereka. Memberi mereka susu dengan payudaraku yang membesar, membersihkan mereka, menciumi mereka dengan kasih sayang. Kugendong dari satu tempat ke tempat yang lebih aman. Aku bahagia menjadi seorang induk. Karena paling tidak ada yang mencintaiku: anak-anakku.

Semakin besar mereka dan susuku sudah tidak terlalu lancar mengalir, anak-anakku serakah menghabiskan jatah makananku. Sampai keributan di rumah terdengar lagi karena aku selalu mengeong meminta jatah tambahan. Karena jatah tambahan tiada diberikan, maka aku berburu tikus, ular, cicak di luar rumah. Orang rumah seperti gila karena aku membawa bangkai setiap hari ke rumah. Terkadang aku ditendang dan bangkai itu dilempar ke luar. Sungguh mereka manusia yang tidak mengerti: susah payah aku mendapatkan makanan demi anak-anakku, seperti itu cara mereka memperlakukanku.

Sampai suatu hari dimana aku mesti mencari umpan lagi. Aku keluar dan memperoleh bangkai cicak. Tetapi ketika sampai rumah kudapati anak-anakku sudah tidak ada lagi di tempat. Rupanya manusia-manusia itu membuang mereka di suatu tempat. Mereka, anak-anakku yang belum bisa hidup sendiri telah mereka buang. Apa salah mereka?

Aku keluar, mengeong ke sana kemari. Kutanya setiap kucing yang kutemui di jalan. Tapi diantara mereka tidak mengetahuinya. Hanya dari cerita mereka aku mendapat kesimpulan: pertama, manusia tidak menyukai kucing betina karena kucing betina selalu beranak dan menimbulkan beban bagi mereka, kemudian, ketika anak-anak kucing lahir, sebagaimana anakku, ada yang dibuang begitu saja di pasar, ada yang ditenggelamkan di sungai, dimasukkan karung dan diberi beban batu sehingga mati di dasar sungai. Sungguh terkutuk!

Mulai saat itu aku sudah sangat muak dengan tuanku. Kuputuskan adalah untuk mencari anakku sekuatku. Tetapi ternyata, sebagai kucing betina kehidupanku di jalanan tidak lebih baik. Aku harus selalu siap jika ada anjing yang mengejarku, ataupun kucing betina lain yang menghardikku dan lain sebagainya. Sudah berapa kali aku diperkosa kucing jantan di jalanan. Wajahku kini menjadi hancur, bulu-buluku rontok dan berpenyakit, kulitku di beberapa bagian sudah terkelupas, tersayat, bekas cakaran di sana-sini, jalanku tidak lagi kuat.

Hah..kalaupun sekarang sebagai manusia kamu kasihan dan meneteskan air mata melihatku, tahu apa kamu! Manusia macam kamu yang katanya mengagungkan cinta, bertuhan dan lain sebagainya tidak pernah menoleh kepadaku. Mereka melihat binatang kucing sepertiku hanya karena yang tampak dari luar: bulu yang indah, manja, bersih dan lain sebagainya. Sementara aku yang sampai saat ini bersumpah tidak akan berhenti mencari anakku, harus menerima siraman air, lemparang enthong, tendangan dan pentungan demi mempertahankan nyawaku untuk mencari anak-anakku. Tahu apa kamu tentang itu?

Sampai saat aku terlindas oleh kendaraanmu, aku tidak pernah lagi tahu dimana anakku. Bangkaiku tergeletak begitu saja, dikoyak-koyak oleh lalat jalanan dan kemudian matahari dan panasnya aspal mengeringkan darah-darahku. Aku percaya keadilan akan datang dan aku akan mengadu serta membalaskan nasibku. Tunggu saja! Di jalan pinggir pasar ini kesaksianku akan berbicara.

Karanganyar, 13 Oktober 2004

Catatan Penulis: Cerpen ini sudah lama saya buat, jauh sebelum Trio Macan ataupun Dede mempopulerkan lagu dangdut dengan judul yang sama. Sebelumnya sempat mejeng di blog saya yang lama.Saya tampilkan, karena pas hari Kartini kemarin tidak sempat menuliskan satu karya-pun terkait tentang perempuan dan gender. Dulunya, cerpen ini lahir sehabis membaca buku Perempuan di Titik Nol, Nawal el Sadawi

Mawar Jingga untuk Cinta

Embun pagi masih segar. Masih melekat di atas dedaunan dan rerumputan, ketika baru satu dua burung menyapa pagi. Langit pun masih gelap. Walaupun cahaya mentari sudah terpantul sebagian lewat semburat biru di atas cakrawala. Sedikit kecipak air genangan, roda sepedaku ikut mengiringi musik pagi yang begitu indah. Menuju sebuah kios kecil di sudut jalan. Inilah hariku yang sudah kumulai sehabis subuh, mengirimkan bunga segar ke beberapa langganan. Bunga yang aku petik sore kemarin di kebunku sendiri.

Kusandarkan sepedaku di sisi kios, mengambil kunci dari tas, dan kemudian membuka pintu kios, memulai aktifitas pagi di kios dengan menata tanaman-tanaman sembari menunggu kiriman bunga dari pedagang grosir yang membawa stok bunga dari desa lereng bukit. Satu persatu kukeluarkan pot-pot yang berisi petikan bunga, mengganti air di dalamnya, dan menyortir bunga yang layu. Mencium satu persatu diantara kelopak dan menyemprotnya dengan air agar nampak segar. Sesekali datanglah pelanggan dan pembeli menyapa, bertransaksi, ataupun minta mengirimkan ke alamat tertentu. Itulah pagiku, pagi perempuan penjual bunga.

Kios ini menyatu dengan kios bunga lain di deretan toko bunga. Sebagian besar adalah milik keluargaku. Ya, kami dinasti petani bunga. Ada diantara kami yang berjualan bunga untuk rangkaian bunga ucapan selamat, ada juga yang menjual bunga tabur, bunga taman, ataupun bunga hias. Aku sendiri menjual bunga segar untuk hiasan ruang tamu, bunga untuk ungkapan cinta dan sejenisnya. Bukan yang lain.

“Selamat pagi, Nak” seorang pelanggan kembali datang. Seorang nenek usia delapanpuluhan. Kulitnya keriput putih. Berkacamata tebal tua, mungkin setua usianya.Membawa belanjaan di ranjang. Tersenyum dengan ramah, seramah cahaya wajahnya yang membuatnya nampak bersahaja.
”Selamat pagi nenek, mau membeli bunga?” sapaku. Membalas senyuman
”Iya, Nak” katanya.
”Seperti biasa? Mawar jingga?” tanyaku.
”Benar, tetapi kali ini sepuluh tangkai ya, Nak. Pilihkan yang terbaik.”
”Sepuluh tangkai, Nek.” jawabku.

Aku ambil sepuluh tangkai mawar dari jajaran pot berisi sekian banyak mawar jingga.Memotong dan kemudian merangkainya dengan plastik.
”Ini nek”
”Terima kasih. Ini uangnya,” kata Nenek menyerahkan uang.
”Terima kasih, Nek.”

Usai mengucap salam, nenek itu beranjak pergi. Aku memandangi langkahnya yang sudah demikian tertatih. Menghilang di sudut jalan. Mungkin naik angkot, Dia, sudah sekian lama menjadi pelanggan. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu, dan selalu membeli mawar jingga. Biasanya hanya setangkai dua tangkai.

Aneh. Mawar jingga adalah bunga yang digunakan untuk menyatakan cinta seseorang, tetapi cinta yang malu-malu. Berbeda dengan warna pink ataupun warna merah menyala yang demikian berani untuk mereka yang mengutarakan cinta, mawar jingga adalah pilihan bagi mereka yang sedikit ”pengecut”. Tetapi untuk apakah bunga itu bagi nenek setua itu? Apakah dia jatuh cinta? Hmm..manusiawi, sih..tetapi ..ah …

Entah kenapa namanya saja aku tidak tahu. Padahal rata-rata pelanggan sudah aku kenal namanya.

***

Matahari sudah sepenggalah. Toko sudah bisa aku tutup untuk melayani kiriman para pelanggan. Aku mengayuh sepeda, melintasi beberapa jalan kecil menuju sebuah alamat. Entah kenapa ketika melewati sebuah pekuburan, aku melihatnya. Melihat nenek tadi.
Tak begitu jelas aku melihatnya. Duduk bersimpuh di sisi sebuah nisan. Matanya terpejam dan tangannya jelas menunjukkan dia sedang memanjatkan doa. Aku tak bisa melihat wajahnya, karena dia membelakangiku.
Tentu saja itu bukan pemandangan yang mengherankan. Bisa jadi yang di makam tadi adalah suaminya, atau anaknya, atau keluarganya yang lain. Untuk usia seperti dia, segalanya mungkin.
Masih ada satu hantaran bunga. Kulewatkan saja Nenek di pekuburan itu. Melintasi jalanan kecil diantara rumah-rumah tua menuju ke satu tempat alamat.

***
Sepulangku mengantar bunga. Dari jauh aku masih melihatnya. Dia, nenek itu, masih di depan batu nisan dengan posisi yang sama persis dengan tadi. Entah kenapa aku tertarik untuk tahu lebih lanjut tentang dia. Kuputuskan untuk mendatanginya.

Ku sandarkan sepeda di tepian jalan, pada tembok pekuburan yang hijau dari tumpukan bata tertutup lumut. Di dalamnya sudah pasti, pohon bunga kamboja dan beberapa perdu menjadi hiasan pekuburan. Melangkah selangkah demi selangkan di atas rumput-rumput yang sebagian tidak terawat, menuju ke tempat nenek tadi berada.Sengaja kukeraskan sedikit langkah-langkah ini, agar nenek tidak terlalu kaget dengan kedatanganku.

”Salam, Nek”, sapaku.
”Oh..ya..salam. Dari mengantar bunga, Nak?”tanyanya. Mengusap sedikit air mata di wajahnya. Merapikan segala yang melekat padanya.
“Iya, Nek,”jawabku.”Makam siapa ini, Nek”
“Mendiang Bapak. Suamiku,”jawabnya.
“Oh..maaf.”
“Tak mengapa.”

Makam yang tua. Sebuah nama, tanggal lahir, dan tertulis tanggal kematiannya 14 Februari 1943. Jelas makam ini terawat, karena mungkin secara berkala Nenek ini membersihkannya dari rumput-rumput nakal. Menyapu tanah di sekitarnya dari dedaunan kering. Dan sepuluh bunga mawar jingga berada di atas pusara itu.

“Dahulu. Enampuluh lima tahun lalu kami menikah. Saat perang masih berkecamuk di negeri ini,” dia mulai bercerita sambil mencabut satu dua rumput. Aku siap mendengarkannya. Mengikuti mencabut satu dua rumput di atas makam itu.

Nenek kemudian tengadah. Memandangi awan yang menari di langit atas.

”Bapak adalah orang pendiam. Tak pernah sekalipun menunjukkan rasa sayang. Saya juga tidak tahu dulunya bagaimana. Kami dinikahkan, menikah tanpa cinta, karena kedua orang tua kami memang sahabat dekat.”

Guratan wajahnya. Sendu matanya, seolah membawa ke saat-saat itu.

”Setelah sekian tahun menikah barulah kami saling belajar mengenal tabiat masing-masing. Sampai kemudian Bapak harus ikut berjuang, karena saat itu desa ini diserang penjajah.”
”Karena Bapak bukan prajurit, dan memang sifatnya yang pemalu, mungkin juga penakut, dia tidak terlalu menonjol dan tidak selalu berada di garis depan. Hingga suatu saat, ada rombongan prajurit yang bergerak ke desa ini karena desakan penjajah.”

”Saat itu Bapak melihat peristiwa yang sangat mengharukan baginya. Seorang utusan datang dengan membawa sebuah sapu tangan kepada komandan. Sapu tangan itu diketahui dari istri komandan. Kemudian komandan menyuruh utusan itu untuk pulang kembali, diberinya bekal dan disuruh untuk membelikan seikat kembang kepada istrinya.”

Nenek mengambil sapu tangan dari dalam tasnya. Air matanya makin deras.

”Bapak terharu mendengar peritiwa itu. Diceritakanlah kejadian yang dilihat dari Komandan itu kepada kawannya, bahwa seumur pernikahan kami, dia belum pernah sekalipun mengatakan cinta pada Ibu.”

”Lalu diutarakannya niatnya untuk menghadiahkan seikat kembang kepada Ibu. ”

Nenek beranjak. Kami berdiri berhadapan, menuju ke sebuah bangku di tepi pekuburan. Menghindari terik yang semakin panas.

”Saat itulah, pagi buta, dia pergi ke bukit desa, mencari bunga untuk Ibu. Sampai suatu saat, setelah dia mendapatkan beberapa bunga, sesuatu dilihatnya dan lalu berteriak..”

”Awaaass….penjajaaaahhh!!!!”

”Rupanya pasukan musuh sudah demikian dekat, merapat di pagi buta, tanpa disadari oleh pejuang. Teriakan Bapak menggegerkan desa, membuat beberapa orang segera berlari menyelamatkan diri.”

”Bapak berhasil pulang dan bertemu Ibu. Diberikannya seikat kembang, Mawar Jingga. Tetapi itu tidak lama, karena Bapak langsung merebah. Sebutir timah panas telah melubangi punggung, tembus hingga dadanya.”

”Itulah saat pertama dan terakhir Bapak mengucapkan cinta kepada Nenek.”

Kami perlahan berdiri. Beranjak ke pintu pagar, mengisyaratkan perpisahan.

***

Aku pulang. Mengayuh sepeda menuju ke kebun bunga. Merawat, memupun dan memanen beberapa diantaranya untuk dijual esok hari. Aku memandangi bunga-bungaku yang bermekaran. Harum alami dari kelopak mereka dari berbagai aroma, mengundang kupu-kupu, capung, lebah dan kumbang untuk menari-nari. Secara tak sadar aku juga ikut menari, membayangkan bahwa setiap bunga di sini akan hadir untuk sebuah cinta, cinta yang diperjuangkan, cinta yang tulus,dan bukan untuk sebuah kepalsuan.(*)

Yogyakarta, 15 Februari 2010
Hadiah untuk ulang tahun adikku sayang
Ina Minasaroh

Jago Dengklang

Aku punya cerita tentang ayam jago yang aku benci. Yaitu tentang si jago dengklang. Dengklang itu pincang. Pincang itu cacat kaki. Bahasa jawanya: ciri. Itulah. Cuma ayam yang pantas diremehkan. Jadi ceritanya, dia, ayam jago dengklang itu, dulunya pas kecil lahirnya kecenthet. Barangkali karena induknya terlalu banyak anak sehingga telurnya tidak dapat dierami sempurna. Bagiku, itu sebuah produk gagal Tuhan. Siapa bilang Tuhan tidak pernah gagal?


Ayamku banyak, memelihara jago memang kesukaanku sejak kecil. Konon, aku suka nonton wayang dengan lakon “Kongso Adu Jago”, sebuah drama tentang perebutan kekuasaan antar kerajaan lewat sarana adu jago.Cerita itu begitu melekat di kepala sehingga kegilaanku pada unggas yang satu ini menjadi-jadi, melebihi kecintaan orang jawa umumnya kepada burung perkutut, dara, atau oceh-ocehan.

Jagoku banyak dan berbagai jenis. Ada jago pelung, bangkok, jawa, kedu dari yang jalunya panjang, baturante, yang jagoan dan turunan juara.Kalau jago pelung disukai orang jawa barat, karena puanjangnya kluruk. Jago bangkokku ada belasan. Semuanya mahal-mahal. Yang paling mahal pernah ditawar sama pejabat di sini dengan harga 10 juta.Tidak aku kasih, karena dia masih muda dengan katuranggan yang sempurna. Dan, karena memang mau saya rah turunannya. Biasanya orang beli untuk aduan. Aku sendiri nggak mau dan nggak suka mengadu. Kasihan. Apalagi kalau melihat jago sampai babak bundhas. Ihh… .

Aku lebih suka piara jago daripada babon. Walaupun, di kandang penangkaran ada sepuluh babon yang sudah disortir untuk bisa dijadikan indukan.Babon memang hanya dipelihara agar ayam-ayam jantan tidak beringas saat berahi, ataupun di-rah untuk dicari keturunannya. tetapi kalau mau nge-rah keturunannya, harus siap untuk memelihara satu-satu ketika anaknya banyak. Itu yang aku nggak sabar. Mending nge-rah sedikit keturunan, dipelihara betul dan telaten, dan kemudian tumbuh sehat dengan harga mahal.

Ya hanya dari ayam-ayam itu lah aku bisa makan dan punya rumah sederhana. Ya memang, nggak pernah kaya dari ayam. Tapi mau apa lagi. Itu sudah rejekiku.

Setiap pagi mereka harus dijemur, dimandikan, kalau mau makan cukup dikasih fuur dengan konsentrat tinggi yang dicampur dedak dan jagung tumbuk serta sayuran potong. Macam kangkung, bayam atau serat lainnya. Kalau ada yang sakit ya disontik, atau dikasih kapsul macam Vita Chick ataupun Medisep, dan kalau musim penyakit harus diberi vaksin semua.

***

Dari semua ayam itu ya cuma si dengklang itu yang pengen saya enyahkan. Heran aku, ayam itu dari kecil memang sengaja nggak niat saya piara. Sejak kuthuk, si dhengklang ini tidak saya sendirikan di kandang. Saya biarkan di luar kandhang. Mau dithuthul jago dewasa ya terserah, mau dimakan sama wirog ya terserah, mau mati atau apapun, terserah. Entah dia piyok-piyok cari induknya, entah dia kethetheren kedinginan karena hujan ataupun ndhepipis kecemplung got, terserah. Herannya, dia tidak mati-mati.

Kandang si dengklang itu tidak ada. Dia tidur, mlangkring di cabang pohon,jauh dari kandhang ayam-ayamku yang lain yang sudah rapi. Kalau pas makan, dia juga nggak saya kasih. Biar dia cari sendiri macam ayam umbaran. Ya itu tadi, singkatnya sebenarnya memang tidak saya pelihara. Lalu dari mana dia makan? Caranya, tiap ada yang lain makan dia ikut nyeker-nyeker cari sisa-sisa makanan. Mencuri, nlusup-nlusup antar kandang untuk nothol makanan saat ayam yang di kandang lengah. Dengklang ini selalu dithuthul ayam lain jika ketahuan ikut makan di kandang. Aku juga selalu nggusah dengklang kalau pas ngasih makan. Tetapi, tiap digusah balik lagi dan balik lagi. Pernah juga saya bandem watu, saya lempar pakai batu, atau saya plintheng (ketapel), tapi mesti mleset terus. Begitu terus..hingga dengklang kecil tumbuh dere.

Begitulah, nggak terasa, dengklang yang dulu kecil itu sekarang sudah gedhe juga. Tapi seringkali dia dipendhel sama jago-jagoku yang sudah gedhe dan giras. Tetapi sudah sifatnya. Dhengklang itu sifatnya itu jirih.Penakut. Setiap muncul ya selalu saja jadi kejaran jago-jago yang ada untuk dipendhel, dikabruk, dicucuk ataupun dhajar habis.

***

Suatu hari, entah kenapa hari itu seperti hari sialku. Aku tidak menduga bahwa hari ini akan menjadi hari yang paling kusesali dalam hidupku.

Siang menjelang sore hari, si dhengklang datang saat ngasih makan ayam-ayam sebelum tidur. Beberapa jago aku biarkan berjemur matahari sore sambil memberinya makan. Dijemur sejenak, dikasih makan dan kemudian dikandhangkan.

Hingga si Jagoan, jagoku paling mahal aku jemur dan ku kasih makan. Kenapa mahal, karena memang jagoan dan berasal dari bibit yang bagus. Namanya juga Jagoan. Kurawat baik dan sudah di-training dengan jago lainnya gak pernah kalah. Saat Jagoan lagi makan itulah Dengklang datang dan seperti biasa mau mencuri-curi makanan. Terang saja, Jagoan marah dan siap ngabruk si Dengklang.

Segeralah si Jagoan ngabruk si Dengklang. Biasanya habis begitu si Dengklang langsung minggat klepat. Tetapi aneh.. sungguh aneh..Dengklang saat ini cari penyakit. Dia tidak lari, tetapi malah diam dan menantang. Bulu lehernya tegak layaknya ayam siap tarung. Sorot matanya tajam menatap Jagoan. Sambil berputar dengan kaki cacatnya yang terseret seolah berteriak bahwa dia tidak takut dan siap melayani Jagoan. Wee..aku pikir…mati juga akhirnya Dengklang ini.

Tantang-tantangan ini berjalan beberapa detik hingga akhirnya kabruk-kabrukan terjadi. Jagoan menyerang bertubi-tubi ke arah kepala Dhengklang yang masih susah untuk berdiri.

Di luar dugaanku, si dengklang ternyata melayani dengan menyerang membabi buta. Seolah-olah dia sudah benar-benar menghadapi mati dan ngabruk nggak karuan. Gila! Si jagoan sepertinya malah ciut dan kepalanya dihantam habis-habisan. Dhengklang tidak melepaskan gigitan paruhnya ke kepala Jagoan dan dihantamnya kepala itu sejadi-jadinya dengan kakinya yang pincang. Tidak butuh waktu lama si Jagoan keok dan mundur dari gelanggang menuju ke aku. Dan aku tangkap. Tetapi…oh..terlambat. Dengklang terus mengejar dan menghajarnya. Bukan hanya keok, tetapi si jagoan juga mati. Gila! Tanpa darah mengucur!

Giliran aku yang gelap mata. Dengklang!!!! Aku lempat dia sejadi-jadinya dengan batu segenggaman.

BRAKK!!!! Kena pas kepalanya. Dan dia seperti tak sadarkan diri. Selama beberapa saat dia berkaok-kaok, kepalanya klengsreh di samping kiri dengan mata merem-melek menahan sakit, serta berlari berputar-putar sambil seperti terbang-terbang begitu saja. Entah Hal itu kubiarkan beberapa saat. Sampai akhirnya, karena aku masih jengkel, dalam keadaan si Dengklang yang berputar-putar miring-miring seperti ayam klenger itu aku tendang sekuatnya sampai terlempar tujuh meter-an.

Kali ini Dengklang, bukan saja sakit badannya, tetapi pasti sakit hatinya. Dengan wajah sangat-sangat takut dan kaki, kepala serta badan yang entahbagaimana rasanya habis mendapat tendangan kakiku, dia memandangku dengan wajah sedih kemudian cepat-cepat menghilang di semak-semak.

Aku tidak perduli lagi. Entah mau jadi apa dia. Mau mampus atau mau minggat terserah. TInggal aku sendiri yang sedih habis-habisan memandangi bangkai si Jagoan untuk kemudian membuat jogagan untuk kuburannya. Di atas kuburan itu aku kasih ublik yang kemudian ditutup kurungan. Ublik itu lampu minyak. Layaknya orang jawa yang memberi ublik di atas kuburan ari-ari ataupun kuburan daging bekas sunat di dekat rumah.

***

Malam hari. Aku tidur dengan pikiran kalut. Membayangkan bagaimana Jagoan yang seolah di depan mata yang demikian tinggi harganya, mati. Membayangkan bagaimana rasanya ingin menyembelih Dengklang, kenapa tidak dari dulu aku membuang ayam sialan itu. Dan saat tertidur, aku mimpi buruk

Entah darimana datangnya asap ini, tetapi yang jelas aku sudah terlambat. AKu bangkit dari tidur malam semenjak peristiwa tendangan untuk dengklang. Tetapi kepanikanku terlambat….Rupanya, ublik yang aku pasang di pusara Jagoan minyaknya meluber sehingga meleduk. menjilat kurungan dan kemudian perlahan tapi pasti melalap bahan bakaran yang ada di sekitarnya.

Api sudah melalap semua yang aku punya: rumah, kandang dan ayam-ayam yang mungkin sudah berkaok-kaok dan aku lelap tertidur. Mereka sudah gosong semua. Usaha yang kulakukan seolah sia-sia. Sungai memang dekat, tetapi jarak rumah yang agak jauh dari tetangga dan juga hanya aku seorang yang memegang ember untuk memindahkan air ke api…sungguh tidak mungkin….

Diantara suara gemeretek api yang mulai kecil karena kenyang melalap arang-arang dari bangunanku, aku terduduk di pinggiran rumah. Kosong..

Saat itulah, saat aku sendiri, entah kenapa…Dengklang datang dan sudah duduk di sampingku sambil berkokok-kokok dengan nada suara santai. Seolah dia berusaha menghiburku dengan kejadian ini. Seolah dia lupa bahwa beberapa jam tadi dia sudah aku siksa. Pandangannya ringan menatapku dan sekitarku. Tidak ada ketakutan, dia duduk hanya berjarak 5 centi dari aku. Aku seolah mendapat tamparan keras dari Tuhan. (*)

Yogyakarta,

Kamis, 6 Nop 2008 dan di remark Sabtu, 20 Feb 2010

Keterangan
*babon =ayam betina
*kecenthet = tidak cepat tumbuh besar (karena sering sakit)
*katuranggan = ilmu tentang sesuatu berdasarkan ciri atau penampakan fisik yang biasanya menurun secara genetik
*nyeker-nyeker = mengais-ngais
*bandem = lempar
*plintheng = ketapel
*giras = bersemangat liar
*jirih = pengecut
*pendhel = tendangan ayam/unggas
*klengsreh = dalam kondisi jatuh ke tanah
*di rah = diambil ataupun dicari

Sesudah Melepas Benggol

Dia hanya seekor kerbau yang tidak mengerti. Dia hanya melenguh sesaat, pendek, ketika pemeliharanya yang berusia muda menatap habis setiap detil mukanya dengan dua alis saling renggang.Ekspresi kesedihan.

Tuan kecilnya ini, sesekali berkedip menahan air mata yang sudah begitu menggembung di pelupuk dan sudut mata. keluar. Bajunya yang lusuh diusapkannya ke muka. Sosok anak biasa layaknya anak desa dengan sebutan bocah angon , yang sejak balita, sampai sekarang, menjelang burungnya siap disunat, selalu membawa kerbau ini ke pesawahan dan padang rumput, entah untuk membajak sawah atau dicarikan rumput yang ditimbun di kandang. Dialah yang selalui menaiki punggungnya, memandu tali kekang di hidungnya, memandikan di sungai bersama teman-temannya sambil tertawa-tawa, membiarkannya berbaring di bawah pohon dan mengunyah-kunyah rumput sementara tuannya berlarian dengan teman-temannya, atau mungkin membiarkannya dalam sunyi kandang, berteman binatang malam sementara tuannya itu membuka-buka buku pelajaran ataupun pergi mengaji. Hanya tuannya ini yang memahami bahwa saat ini adalah saatnya berpisah.

“Benggol”, begitulah tuannya memanggilnya.Suaranya lirih, seperti bisikan. Tangannya meraba setiap detil guratan bulu diantara kulit kelabu kerbau jantan bernama Benggol itu, sudut demi sudut.

Berjarak beberapa meter, beberapa laki-laki seolah tak sabar untuk menaikkan kerbau jantan itu ke atas truk yang pintu bak belakangnya terbuka. Mesinnya sudah dinyalakan sejak beberapa saat lalu.

“Ayo Penthol, biarkan Benggol dibawa Pak De Bawor. Nanti, pasti akan bapak belikan kerbau yang lebih gagah lagi dari Benggol,” kata lelaki berumur lima puluh tahunan. Itu ayahnya. Ki Pangkat.

“Ayo”, ulang Ki Pangkat. Kali ini nadanya agak ditinggikan. Seorang lelaki lain yang lebih muda dari ki pangkat, mencoba menenangkan Ki pangkat. Dia memahami situasi Penthol.

Penthol, anak lelaki itu, patuh. Segera dia mundur dari hadapan Benggol, melepas tali cencang untuk dibawa Pak De Bawor. Ditahannya air mata yang akan menetes dengan sekuat tenaga. Ia ingat pesen Maknya almarhumah.

“Lelaki tidak boleh nangis. Ora ilok. Sepedih apapun, sesakit apapun, lelaki harus kuat. Kalau nangis, nanti tidak lagi jadi laki-laki, tapi jadi perempuan. Burungmu itu dipotong saja seluruhnya”

Waktu itu, Penthol manut saja. Anak semata wayang ini tidak ditradisikan untuk berdebat, membantah, menjawab ataupun berdialog dengan orang tuanya. Manut. Itu ciri anak baik.

Segera setelah Penthol beringsut, Pak Dhe Bawor bersama orang-orang pasar yang kemungkinan blantik, sudah dengan sigap meraih tali kekang Benggol dan menaikkannya ke Bak Truk bersama dengan ternak-ternah Ki Pangkat yang lain.

Ki Pangkat tersenyum lebar disalami Pak Dhe Bawor.

“Harganya cocok, Ki. Sekarang kita punya modal buat ngasih mbes-mbes. Tinggal bagaimana kemantapan Ki Pangkat. Semua bisa diatur,”celoteh Pak Dhe Bawor.

“Bagus,” kata Ki Pangkat. Mengangguk.

Penthol tidak terlalu tahu apa yang mereka bicarakan. Pikirannya masih terpaku pada truk yang membawa Benggol, yang hilang di kejauhan, menyisakan gulungan debu jalan desa, hilang jauh di tikungan, entah kemana.

***

Malam itu Penthol susah tidur. Rumahnya yang lebar, saat ini berisik dengan pembicaraan beberapa orang yang kumpul di ruang tengah yang lebar itu. Ada Ki Pangkat, ada Pak Dhe Bawor, Lik Sompil, Yu Cebret, Kang Kombor, Mbak Glenik, Bu Dhe Umuk, Mas Oglek dan beberapa orang lain, semua asyik rembugan.

“Dengan siasat ini, dan usaha dari kita semua, tentunya keinginan Ki Pangkat untuk jadi Kades bisa terlaksana. Bukan Begitu, Sompil?” Ucap Ki Bawor yang disambut dengan tepuk tangan dan tawa dari segenap khalayak. Beberapa orang manggut-manggut, manthuk-manthuk, saling memandang.

Lik Sompil, ikut manthuk-manthuk lalu angkat bicara.

“Benar, Ki Pangkat. Di sini semua orang yang mumpuni sudah ngumpul, urusan woro-woro dan slebaran, kita serahkan sama Kombor dan konco-konconya, biar dia buat uba rampenya dan tempel foto Ki Pangkat di sana-sini. Untuk ibu-ibu, Yu Cebret dan Bu De Umuk sudah siap menyebar berita di pasar, di warung, di posyandu, dan di rapat PKK. Nanti yang cari info dan telik sandi, kita serahkan sama Mbak Glenik. Nah, untuk urusan bas mentahan buat kiri kanan, kita koordinasikan bersama Oglek. Bukan begitu Ki..”

Lagi-lagi suara tawa dan tepuk tangan lumayan membahana. Ki Pangkat manggut-manggut. Sampai malam mereka terdengar berembug soal strategi kampanye, propaganda, pentas panggung, poster, baliho, bahkan sampai pelibatan dukun dan restu sana sini. Beberapa nyamikan dan juga kopi teh menemani pembicaraan mereka. Tawa..tawa…tawa….tepuk tangan, tepuk tangan, tepuk tangan….

Sejenak kemudian Pak Dhe Bawor berbisik ke telinga Ki Pangkat. Mereka memisah dari pembicaraan hadirin yang masih berkisar tentang model kampanye, istilah-istilah yang wangun, jargon-jargon yang sakti, sampai dengan issue-issue kritis yang bakal diangkat dan dijanjikan bisa diperjuangkan Ki Pangkat.

“Ehm..tetapi bagaimana dengan anggaran untuk nggelar dangdutan dan ledhek, Ki? Tampaknya anggaran yang kemarin belum masuk itungannya, Ki..,”tanya Pak Dhe Bawor.” Padahal, momentum itu penting untuk bisa diadakan. Kita tinggal selangkah lagi. Kita undang Dewi Nyedhit, Syaiful Gembil ataupun Ridho Mama, artis ibukota. Saya punya koneksi, Ki.”

“Memangnya uang hasil penjualan raja kaya dan sawahku itu masih belum cukup?” protes Ki Pangkat.” Aku pikir jumlah itu lebih, bahkan sisanya cukup besar untuk makan kalian semua..”

“Wah, belum, Ki. Itu baru anggaran untuk mbes-mbes. Dulu per gundhul 75 ribu. Sekarang mosok sama, to Ki. Paling nggak ya seratus lima puluh laah…. Lalu, ada yang tidak terduga, Ki. Ya..bagaimanapun kita butuh dukungan orang pintar. Mbah Jiwo. Supaya kita jauh dari gangguan yang enggak-enggak. Dan juga, untuk mendapat restu dari beberapa kiai. Jumlah seluruhnya itu belum dihitung untuk pentas hiburan, Ki.”

Ki Pangkat terdiam. Penjelasan Pak Dhe Bawor cukup beralasan.

“Ingat ki, kita tinggal selangkah lagi. Kecuali kalau ndilalah Pak Kobar, saingan kita itu, mengadakan pentas ndangndutan..habis sudah….”

Hening. Sejenah Ki Pangkat mikir. Khawatir. Pak Dhe Bawor membiarkan Ki Pangkat gelisah. Sampai kemudian dia bicara.

“Aku ada usul, Ki. Bagaimana kalau kita pinjam ke Denmas Kileng. Setidaknya dia bisa memberikan modal untuk kita.”

“Den Mas Kileng yang renternir itu? Wegah! Lha mbayare nganggo opo? Tidak! Tidak! Usul yang lain saja”, sergah Ki Pangkat.

“Lho. Tenang dulu Ki. Kita pinjam kan hanya untuk satu-dua bulan. Bunganya tentu tak seberapa. Pakai saja sertifikat tanah dan rumah ini…Nanti biar saya urus semuanya. Pasti beres. Kita tinggal selangkah lagi, Ki…Tinggal selangkah lagi.”

Selama beberapa saat perbincangan dua orang ini berlanjut. Sampai kemudian mereka kembali ke dalam haha hihi lingkaran orang-orang di rumah Penthol.

***

Berselimutkan jarik almarhum ibunya, serta mata yang dipaksakan terpejam dan kuping yang disumbat dengan bantal, Penthol benar-benar terganggu dengan tawa itu serta tepuk tangannya. Namun perlahan, secara tak sadar, lewat kupingnya ia bisa belajar memahami apa arti tawa-tawa dan tepuk tangan itu. Ia bisa tahu bahwa orang-orang yang ada di rumahnya tidak lebih dari penjilat, tukang kipas-kipas, ngglembuk, menghasut, munafik ataupun yang memang mata duitan. Ia juga tahu bahwa ayahnya sedang haus kekuasaan untuk punya jabatan sebagai Kades pada pemilihan Kades bulan ini. Ia tahu bahwa kans ayahnya untuk menang memang besar, sebagai juragan beras yang punya empat mesin selep dan beberapa hektar sawah, serta ternak raja kaya yang hitungannya ratusan juta. Semenjak ibunya meninggal, ayahnya tidak banyak berpikir untuk kawin lagi, tetapi dia lebih mikir soal usahanya, bisnisnya, yang memang mengangkatnya menjadi juragan nomor satu di desa. Tetapi penyakit haus kekuasaan seolah menjadi naluri manusia ketika kegelimangan harta tak lagi mampu memenuhi gelora kepuasan batinnya. Mendekati beberapa orang desa, dia mencoba nyalon jadi Kades.

Sampai malam benar Penthol baru bisa tidur, seiring satu persatu orang-orang yang berkumpul di rumahnya beringsut pergi.

***

Di atas truk yang berjalan lambat, penuh dengan orang-orang dan anak-anak, memakai speaker TOA, berhiaskan kain spanduk, disanalah sorak sorai manusia meneriakkan yel yel. Menyebarkan slebaran dan mengibarkan beberapa bendera kecil. Seseorang di atas kepala truk duduk sambil mengibarkan bendera yang paling besar. Hiruk pikuk itu begitu menarik perhatian sehingga orang-orang di tempat yang akan dilewati sudah berbondong-bondong memenuhi pinggiran jalan. Beberapa diantaranya ikut bersorak sorai sambil menangkapi kertas-kertas slebaran yang beterbangan.

“Ya….penuhilah lapangan bola sekarang juga. Penuhilah dan ajaklah siapapun yang ada di kiri kanan anda. Akan diadakan acara dangdutan dan ledhek, serta deklarasi Ki Pangkat menjadi calon Kepala Desa Sudiwaras. Ingat, saat pencoblosan nanti jangan lupa pilih gambar telo. Ayooo…ayoo….”

Pengumuman itu diteriakkan berulang-ulang dengan variasi kata yang berbeda oleh seseorang di kepala truk di samping sopir. Keras, melebihi kerasnya teriakan-teriakan anak-anak yang berebutan slebaran.

Diantara manusia-manusia yang berteriak-teriak di atas bak truk itu, adalah Penthol yang suaranya sampai serak, hilang ditelan gemuruh mesin truk dan teriakan orang-orang lainnya. Ia tak perduli. Yang dia tahu bahwa orang-orang sedang bersenang-senang dan bergembira atas pencalonan ayahnya. Ia tidak lagi sesedih ketika Benggol dibawa oleh truk yang sama untuk dibawa ke kota. Bendera kecil yang ia bawa entah berapa kali diobat-abitkan. Keringatnya sudah bercampur dengan debu dan terik matahari.

“Coblos Gambar Telo, dukung Ki Pangkat jadi Kades,”begitulah teriakannya.

Truk itu terus menderu menuju tanah lapangan. Di sana beberapa orang sudah berkumpul dan siap dengan panggung serta sound system. Sebentar lagi pergelaran dangdut dan ledhek sudah dipastikan ada.

Kedatangan truk itu disambut dengan tepuk tangan dan tawa. Beberapa orang bersalaman. Dari jauh kemudian Ki Pangkat, ayah Penthol, telah siap dengan baju rapi dan necis. Siap untuk berorasi membakar massa yang dengan cepat memenuhi lapangan bola.

***

Dua bulan berlalu. Sudah tidak ada lagi arak-arakan. Sudah lewat pula masa pencoblosan. Penduduk Desa Sudiwaras sudah kembali kepada keseharian mereka. Kembali kepada kesunyian dan kedamaiannya. Tetapi tidak demikian di rumah Ki Pangkat.

Ki Pangkat memegang tangan Penthol. Memandangi beberapa orang yang sedang mencatat dan mengeluarkan barang-barang isi rumahnya. Di hadapannya, Den Mas Kileng, mengawasi satu persatu pegawainya itu sambil sekali-sekali berteriak. Dia tidak menghiraukan Ki Pangkat yang beberapa kali menghiba, memohon, meminta tempo.

Penthol, baru kali ini seumur hidupnya mendapati ayahnya berbuat seperti itu. Dia sudah tahu, akhirnya ayahnya kalah saingan dalam Pilihan Kades. Dia tahu, akhirnya, masih dalam hitungan hari, orang-orang yang dulu tertawa-tawa di rumahnya malam itu sekarang lenyap entah kemana, seperti asap yang disapu angin. Mungkin takut kena getahnya, mungkin pula sudah tidak mau menikmati sepah yang kini ditelan mentah ayahnya. Dia juga tahu, entah berapa ratus kali ayahnya memohon, Den Mas Kileng tidak memperhatikan sedikitpun. Den Mas Kileng cukup rasional untuk mempertimbangkan bahwa seluruh kekayaan Ki Pangkat yang sudah dibeslah dan sah ditangannya tak akan mungkin dipinjamkan barang sepeser kepada Ki Pangkat lagi. Dia Juga tahu, bahwa sekarang, ia dan ayahnya harus pergi. Pergi dari kampung dengan menanggung malu, melewati jalanan sepi, karena para penduduk yang tidak di sawah, begitu pengecut mengintip langkah-langkah mereka dari balik jendela dan pintu yang tertutup.

***

Di antara rel dekat stasiun, Ki Pangkat dan Penthol meneruskan perjalanan yang belum tuntas ke arah kota. Mulut Ki Pangkat bergetar seolah berkomat-kamit. Di punggungnya ada tas, berisi sebagian yang masih..atau boleh… mereka bawa.Penthol membawa tas kecil berisi baju dan beberapa buku pelajaran. Menyusuri bebatuan diantara beton-beton penyangga rel kereta api. Menuju arah matahari tenggelam.

“Pak-e”, suara Penthol memecah suasana.

“Apa…”, jawab Ki Pangkat. Hanya suara, wajahnya dan ekspresinya tidak berubah.

“Kita mau ke mana?” tanya Penthol.

“Ke kota,”jawab Ki Pangkat. Datar.

“Di mana itu?” tanya Penthol. Lagi.

“Nanti kamu juga tahu…”jawab ki Pangkat. Masih datar.

Penthol tidak melanjutkan pertanyaan. Dia nurut saja.

“Pak-e”, suara Penthol lagi.

“Apa lagi…” jawab ku Pangkat. Kali ini ada penonjolan pada kata “lagi”. Pertanda lelah menanggapi.

“Kapan kita bisa beli Benggol kembali?” tanya Penthol. Kali ini benar-benar berharap jawaban dari ayahnya.

Kali ini, Ki Pangkat menghentikan komat-kamitnya. Agak lama baru menjawab.

“Nanti akan Bapak belikan..”

Penthol tidak meneruskan pertanyaanya. Dia tahu arti kata “akan” yang selama ini diucapkan ayahnya. Terlalu banyak ayahnya mengobral “akan”, dan tak satupun yang memberi makna yang sebenarnya terhadap kata itu.

Bersama, mereka berdua terus menyusuri rel. Terus..dan terus…

***

Dengan minyak rambut dan dandan necis berpeci hitam, Ki Pangkat tersenyum. Wajahnya menatap mantap. Berdirinya tegap. Sebuah dasi menghiasi baju dan jas yang dia pakai. Sepatu hitam mengkilat. Melambai ke arah sekian banyak kerumunan orang yang melihat dirinya berbicara. Antusias. Dengan membawa mikropon, Ki Pangkat berbicara lantang. Di atas sebuah panggung dia berdiri. Berhadapan dengan sekian mata yang menikmati kata demi kata yang dia ucapkan.

“Terima kasih, Saudara-saudara, atas dukungannya yang terus mengalir kepada saya. Ya hanya karena kerja keras kita bersama, semua kemajuan dan kemakmuran di negeri ini bisa kita raih. Sukses dan kemasyhuran bisa kita raih. Anda dan saya adalah insan-insan yang telah bekerja keras dengan gigih, pantang menyerah membangun negeri ini sehingga pembangunan terus berjalan. Sukses kita adalah kebahagiaan untuk kita.”

Tepuk tangan dari segenap hadirin. Beberapa orang manggut-manggut mengiyakan.

“Namun demikian, kita masih punya persoalan yang tersisa. Pengangguran, kemiskinan, keterbelakangan yang harus hilang dari negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Beberapa diantara kita demikian bodoh untuk berbuat korup, beberapa diantara kita begitu hina untuk menjual aset negera ini kepada penjajah. Kaum neolib. Beberapa diantara kita begitu hina untuk mengemis meminta bantuan kepada asing. Begitu rendah seperti anjing yang menjilat sepatu bangsa lain. Tetapi di sisi lain kita menindas saudara kita sendiri. Kita diskriminatif. Kita tidak terlalu perduli dengan sesama dan hilang nasionalisme kita.”

Ki Pangkat meninggikan suara. Mantap sekali. Mikrophon yang dia pegang diremas kencang. Kali ini sorak sorai membahana diantara tepuk tangan.

“Marilah kita berjuang bersama-sama untuk menolak segala intervensi asing. Marilah kita perjuangkan kesejajaran lelaki dan perempuan. Subsidi untuk kaum miskin. Marilah kita bangun lagi rasa kegotongroyongan. Marilah kita berjuang demi kemerdekaan kita dalam arti yang sesungguhnya. Hidup Indonesia !!!”

“Hidup..Indonesia!! Hidup Indonesia!!

Beberapa orang bersorak sorai makin keras. Terbakar semangat.

Matahari sudah tinggi. Ki Pangkat menutup pidatonya dengan tersenyum dan menunduk hormat. Kerumunan orang bertepuk tangan. Beberapa diantaranya tersenyum dan beranjak pergi. Sebentar kemudian Penthol datang dengan setengah berlari, memakai baju lusuh, membawa kaleng bekas dan mengedarkan diantara kerumunan yang tersisa. Beberapa diantara kerumunan merogoh uang logam dan uang kertas dari saku mereka, memindahkanke kaleng Penthol. Mulutnya sesekali berucap terima kasih sambil tersenyum. Ki Pangkat memandangi anaknya sambil menuju ke warung majalah, dia pinjam koran basi siang ini untuk dibaca isinya. Esok hari, di pinggir pasar itu, akan ada bahan yang baru untuk dia jadikan sebagia bahan pidato. Esok…dan esok…(*)

Yogyakarta, 14 Juni 2010

Bersama kerinduan untuk istri dan anak-anakku

bocah angon = anak gembala

Ora ilok = tidak pantas

mbes-mbes = uang saku

blantik = pedagang hewan

ngglembuk = membujuk

raja kaya = hewan ternak berkaki empat

uba rampe = perlengkapan

Dongeng Tolol Induk Ayam

Suatu saat, di sebuah kandang, suatu petarangan, menjelang senja, induk ayam ditanyai oleh sembilan orang anaknya yang masih usia sekian hari.

“Ibu, dimana ayah?” tanya salah satu dari mereka.

“Ayah? Oh, ayah pergi ketika kalian masih jadi telur di perut ibu?”, jawab induk ayam.

Si anak tidak puas.

“Pergi ke mana?”

“Ya pergi mencari betina-betina lain untuk dikawini, agar jadi telur seperti kalian”, jawab ibu.

“Oh..”yang tanya diam.

Induk ayam memandangi mereka.

“Tapi..tapi ibu”, salah satu lainnya hendak bertanya.

“Ibu tidak rindu sama ayah?”Induk terdiam.

“Rindu, tetapi biarlah ayahmu pergi melanjutkan hidup. Rindu ibu sudah terobati dengan adanya kalian yang lucu-lucu ini..”

“Tapi, kami juga rindu kepada ayah. Kapan kami bisa bertemu ayah?”

“Oh ya? Untuk apa? Kalian justru akan dimusuhi oleh betina yang dikejar-kejar ayahmu.”

“Iih…takut..!!!”Mereka saling memandang takut.

“Tapi..ibu”, satu yang lain hendak bertanya.

“Ibu tidak sedih?”tanyanya.

“Sedih kenapa?”

“Sedih..karena harus sendiri membesarkan kami. Sendirian.”

“…..”

Kali ini induk terdiam.Beberapa saat kemudian baru bicara.

“Dengar anakku, Mungkin sudah kodratnya bahwa ibu harus hidup untuk membesarkan kalian. Sendirian. Ibu kuat, sekalipun tanpa siapapun di dunia ini. Bagi ibu, cukuplah kebahagiaan tergantikan ketika Ayah kalian pergi, selama masih ada kalian di sini.”

“Ibu tidak membenci ayah?”

“…..”

Kali ini induk ayam terdiam lagi.

Di hadapan anaknya ia tidak ingin mengajarkan kebohongan, tetapi jika ia mengajarkan kebencian, tentulah yang terjadi justru semakin salah dan berakibat buruk untuk anaknya. Lama kemudian ia berpikir, sampai kemudian ia bicara.

“Dahulu, anakku, Tuhan menciptakan diantara jantan dan betina dari perasaan yang berbeda. Jantan diciptakan dari perasaan yang bersumber dari nafsu, dan betina dari perasaan cinta. Ibu yang betina ini diciptakan dengan cinta agar dia dapat menjadi ibu yang menyayangi dan mencintai anak-anaknya yang dilahirkan dari indung telurnya sendiri. Sementara jantan diciptakan dengan nafsu, agar ia mencukupi utuhnya kehidupan, Tanpa nafsu, cinta tidak akan berbuah menjadi telur, menjadi seperti kalian, anak-anakku. Tetapi tanpa cinta, dengan mudah nafsu meninggalkan apapun, sekalipun yang dicintai.”

Induk ayam menitikkan air mata,”Ayahmu, sudah memilih untuk menurutkan nafsunya, sebagai kodrat penciptaanya. Ibu tidak menyesali itu.”

“Lalu kenapa ibu menangis?”tanya anaknya

“Karena ibu mencintainya anakku..Apapun dia, dia adalah ayah kalian dan ibu tetap mencintainya” jawab induknya.

“Jadi ibu tidak punya rasa benci kepada Ayah?” tanya anaknya.

” Hmm…punya. Tetapi untuk apa?”tanya anaknya.

Anak-anak ayam itu memandangi induk mereka. Kemudian mereka saling melihat.

“Ibu. Ibu tahu bahwa kami, sembilan anak ibu ini, semuanya pejantan-pejantan. Mengapa ibu masih memelihara dan menyayangi kami padahal nantinya pun kami akan berbuat seperti ayah, meninggalkan kaum ibu. Meninggalkan betina-betina yang kami dekati. Kenapa bu?”Induk ayam tersenyum.

“Dahulu ibu tidak akan pernah tahu bahwa kalian akan menjadi pejantan semua. Mungkin kalau kalian lahir sebagai pejantan, ibu akan meninggalkan kalian begitu saja. Tidak peduli kalian akan kelaparan atau dimangsa binatang lain. Mungkin saja itu. Tetapi, ketahuilah kalian, dahulu kalian terlahir sebagai telur. Ibu tidak tahu apa jenis kelamin kalian. Selama 21 hari ibu mengerami kalian dengan penuh kasih sayang, kesabaran dan cinta. Selama 21 hari pula ibu merasakan kebahagiaan. Ibu mencintai kalian, jauh sebelum ibu tahu bahwa kalian akan menetas seperti ini. Sekalipun pada akhirnya kalian menetas sebagai pejantan-pejantan, ibu sudah terlanjur sayang. Ibu tidak cukup alasan untuk meninggalkan kalian, walaupun ibu tak tahu apapun yang terjadi pada kalian di kemudian hari.”

“Ibu….Kami sayang ibu. Sekalipun esok kami akan berbuat seperti ayah, kami akan tetap sayang ibu”, anak-anak ayam itu memeluk induknya yang menyayanginya, hingga tertidur semua. (*)