MY 2nd STANDUP COMEDY: UJIAN KESABARAN

https://i1.wp.com/comedystandup.weebly.com/uploads/1/1/2/1/11214418/2933940_orig.jpg

Saya mengalami kehidupan sebagai mahasiswa prihatin di UGM, dimana waktu hidup rata-rata membersamai sekretariat Unit Kerohanian Islam “Jamaah Shalahuddin”(JS), dari mulai di sekretariat gelanggang sampai dengan sekretariat masjid kampus UGM. Lumayan, ngekos gratis dan kadang dapat ghonimah konsumsi acara gratis. Orang-orang sejenis dengan saya ini biasa disebut sebagai penghuni harian.

Continue reading MY 2nd STANDUP COMEDY: UJIAN KESABARAN

My (First) Standup Comedy

https://feriawan.files.wordpress.com/2013/06/f109f-stand-up_logo.jpg

Melihat status fb, saya sering dibilang orangnya terlalu serius. Benarkah? Kayaknya sih nggak.

Masa kecil saya, pas usia TK dan kelas 1 SD, dibesarkan dalam kondisi melarat. Rumah kontrakan berdinding gedek, yang nggak ada kakusnya. Letaknya di pinggir peternakannya Pak Harto Almarhum yang merupakan padang rumput luas dan dipagari cuma dengan pipa besi besar sehingga kita bisa masuk lewat celahnya. Tidak terlalu ketat penjaganya, karena semua orang tahu diri, tetapi juga dari peternakan sering bagi-bagi duit pas hari minggu. Letaknya di daerah Jrakah, Semarang. Kalau perut sakit, butuh BAB, saya lari ke dalam peternakan, cari tempat yang kosong dan bruuut….keluarlah. Terkadang, pas jongkok gitu ada aja sapi yang datang, melihat dengan wajah dongo-nya. Nah pas melihat kadang juga si sapi buang hajat. Nah itu yang minta ampun, kadang ampasnya si sapi jauh lebih bau. Bayangkan saja..

Continue reading My (First) Standup Comedy

Inch’Allah (2012): Resensi Film by Feriawan Agung N.

Ini bukan film ‘Islam’.

Seorang dokter perempuan muda dari Quebec, Kanada, ditugaskan dalam sebuah misi kemanusiaan PBB di daerah konflik Palestina-israel. Chloe, dokter muda itu, sebagaimana budaya negaranya, akrab dengan minuman keras, rokok dan dugem, khususnya ketika sedang suntuk (tidak terlalu jelas apakah agamanya). Kebiasaanya lain, adalah jarang memakai BH (lho…kok tau).Dia indekos di kota Jerusalem dan kesehatiannya harus melintasi perbatasan Tepi Barat Continue reading Inch’Allah (2012): Resensi Film by Feriawan Agung N.

Imajinasi Sunyi

541923_10200132547784731_2128985111_nKarena Sunyirah terlahir jauh dari kata cantik, bukan berarti dia tak punya fantasi. Setiap saat dia berpantas diri di hadapan cermin, di dalam kamar. Secuil kertas bergambar foto artis atau model terkenal, sering dia sandingkan dengan bayangannya di dalam cermin. Terkadang, ketika di jalan atau di keramaian dan melihat seorang pemuda yang dirasanya ganteng, gagah atau menawan, dipercepat langkahnya pulang. Masuk dalam kamar, menguncinya  dan kembali menggumuli cerminnya sembari berkhayal. Continue reading Imajinasi Sunyi

Cinta Lama Yang Menggoda

223659_4798399486180_1025471703_n

Kau pergi meninggalkan gelas yang masih terisi penuh. Sungguh bukan akhir cerita seperti yang kuharapkan. Tanpa berpaling sedikitpun ke meja ini, kepadaku yang mulai dihinggapi perasaan cengeng, seperti perasaan anak kecil yang kehilangan permennya. Seperti pecundang. Sementara tanganku memainkan sendok minuman, mataku tak bisa berhenti merekam setiap langkah, setiap detil, setiap detik peristiwa yang tidak ingin aku lupakan. Setiap langkah yang begitu kejam. Menjauh…menjauh..dan hilang.

Continue reading Cinta Lama Yang Menggoda

LELAKI ITU KERAS DAN SAH MELAKUKAN KEKERASAN, SO WHAT? .

 

Maaf kalau judulnya terlalu provokatif. Ini sekedar catatan yang saya tuliskan pada Peluncuran Modul Konseling Laki-laki yang diselenggarakan oleh WCC RIFKA ANNISA. Dari paparan awal, saya tangkap bahwa ide dasar dari penyusunan acara ini adalah pembelajaran yang diperoleh oleh Rifka Annisa terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, bahwa selama ini recovery, konseling dan trauma healing hanya dilakukan terhadap korban (yang dalam hal ini adalah perempuan dan anak-anak), tetapi pelaku utamanya, lelaki, justru tidak tersentuh sama-sekali. Padahal, sebagian besar kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, dari si perempuan berkeinginan untuk terus melanggengkan hubungan mereka dengan lelaki. Artinya, potensi kekerasan akan terus terjadi dan direproduksi oleh lelaki. Pun jika lelaki bercerai dengan pasangan yang menjadi korban kekerasannya, dia masih memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan kepada pasangannya yang baru. Begitu seterusnya.  Maka, fokus advokasi pada tahapan berikutnya bukan sekedar memberikan pembelaan, perlindungan ataupun penanganan kepada perempuan, tetapi untuk memberikan “lelaki baru” yang memiliki kesadaran dan paradigma tentang posisinya yang strategis dalam konstruksi gender, baik di rumah tangga atau keluarga, maupun dalam ranah sosial. Itulah: mengapa lelaki.

 

Pertanyaan paling mendasar: lelaki sebagai “monster” pelaku kekerasan itu kodrat ataukah konstruk? Tentu saja jawabnya adalah konstruk. Mungkin, jika belajar dari perilaku mahluk selain manusia, tidak ada cerita tentang tindakan kekerasan pejantan terhadap betinanya, selain dominasi beberapa jenis binatang (itupun tidak selalu dominasi jantan). Tetapi lain ceritanya dengan konstruk sosial yang dibangun dan dilegitimasi oleh budaya, hukum, politik bahkan agama (ataupun tafsir atas agama). Konstruk sosial yang patriarkhal ini dilanggengkan bukan saja bukan oleh lelaki sebagai pelaku kekerasan, tetapi juga oleh kaum perempuan. Misalkan saja, dari pengalaman saya, ketika saya mencuci baju keluarga dan menjemurnya di halaman, tetangga ada yang menyapa dan bertanya: “Mas Feri ini terlalu rajin. Lha ibunya anak-anak di mana?”. Ataupun ketika di facebook  saya ceritakan bahwa saya kadang memasak, mencuci, menyetrika ataupun menyerahkan seluruh penghasilan yang saya peroleh kepada istri, seolah-olah ada yang menuduh bahwa saya adalah salah satu suami takut istri.  Ini tentu saja aneh, apalagi dalam keyakinan saya sebagai Muslim, hal-hal demikian justru biasa dilakukan oleh Nabi SAW. Bahkan Nabi SAW pula yang mengajarkan tentang bagaimana menyenangkan istri, menghormati ibu, sampai dengan bertanggungjawab terhadap indah gelapnya rumah tangga di dalam rumah agar seindah surga, dan bukan menjadi neraka bagi istri.

 

Pendek kata, konstruksi masyarakat memiliki andil dalam menciptakan lelaki sebagai monster pelaku kekerasan, yang sebenarnya salah kaprah dari pemosisian lelaki yang konon: harus kuat, memimpin masyarakat, tidak boleh lemah, yang kemudian berubah menjadi tidak boleh kalah dari perempuan, tidak boleh kalah penghasilan, kepandaian dan kepemimpinannya dalam rumah tangga daripada istri, tidak boleh menangis, tidak boleh menyentuh ranah-ranah yang biasa dilakukan oleh perempuan pada umumnya. Saat lelaki “kalah”, maka digunakanlah kekerasan, dan kekerasan itu dilegitimasi oleh konstruk sosial. Pada sisi lain, perempuan dilemahkan, yang sebagian besar karena faktor ekonomi. Rata-rata perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga menjadi lemah karena tidak berpenghasilan, tidak memiliki kesempatan untuk berproduksi, tidak memiliki kekuatan untuk menjalin relasi dan kesempatan untuk belajar menghasilkan uang bagi keluarga. Kekhawatiran yang paling utama ketika harus bersikap terhadap lelaki pelaku kekerasan, adalah semakin terpuruknya nasipnya dan anak-anaknya kelak diakibatkan oleh tanda tanya akibat ketiadaan mata pencaharian. Akibatnya, dia tetap bertahan dalam kondisinya yang terjajah di keluarga. Sekalipun dia sudah berkonsultasi, ataupun bahkan diadvokasi oleh lembaga pembela hak-hak perempuan, hasilnya sama saja: dia tidak berkutik.

 

Saya sering mendengar, di lingkungan sekitar, bahwa perselingkuhan dan pelecehan seksual biasa terjadi  bukan saja oleh mereka yang masih muda dan belum menikah, tetapi juga oleh mereka yang sudah bangkotan, sudah tua dan berumah tangga bahkan memiliki banyak anak. Ironinya, hal itu bukan saja dilakukan secara gelap-gelapan, tetapi bahkan ada yang jelas-jelas diketahui oleh pasangannya ataupun istrinya yang ada di rumah. Saya, tentu saja tidak bisa membayangkan secara pasti apa yang ada di kepala ibu-ibu yang ada di rumah itu, tetapi tentu saja hal itu menyakitkan, kecuali perempuan yang di rumah bukanlah seorang ibu, melainkan sama brengseknya dengan si bapak nakal itu. Saya juga sudah biasa mendengar tentang istilah “duit lanang”, yaitu pendapatan di luar gaji yang diperoleh para suami yang biasanya tidak diketahui istri yang kemudian digunakan untuk bersenang-senang sesuai dengan egoismenya sendiri. Dalam obrolan-obrolan ringan di manapun, perempuan juga rentan dijadikan sebagai objek pembicaraan yang mengarah kepada eksploitasi seksual. Di belakang bak truk, sebagai “ganjel mata”, maka istilah, pesan singkat, dan guyonan yang mengarah kepada pornografi bernuansa eksploitasi perempuan menjadi hal yang wajar. Masih segar dalam ingatan kita, bahwa Gubernur DKI menganggap bahwa dalam kasus perkosaan perempuan komuter di angkot, perempuanlah yang harus berjaga diri dengan tidak memakai rok mini. Benang merah dari kasus yang saya dapat dari pengalaman di atas adalah: bahwa lelaki itu rentan menjadi pelaku kekerasan sementara perempuan rentan untuk menjadi korban yang tidak berkutik kepada keadaan.  Sialnya, terkadang lelaki (atau bukan saja lelaki, tetapi perempuan dan masyarakat) tidak menyadari itu. Menganggap bahwa segalanya seperti di atas biasa saja.

 

Kalau dewasa ini, lepas dari hasil yang masih jauh panggang dari api, diskursus gender sudah menjadi hal yang sudah diketahui luas. Kita sudah mengenal penganggaran berperspektif gender,  pengarusutamaan gender dalam pembangunan sehingga perempuan relatif disejajarkan dengan lelaki. Pun, dalam persoalan KDRT, sudah ada UU penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Artinya, perempuan punya payung hukum ketika terjadi kekerasan. Tetapi bagaimana dengan lelaki? Apakah lelaki dalam tiap kepala yang berjalan, mencari nafkah, bermasyarakat dan menjadi pemimpin di berbagai ranah sosial ini sudah cukup sensitif terhadap tindakan kekerasan terhadap perempuan? Apakah kita sebagai lelaki cukup mengenal bahwa bentuk kekerasan bukan saja kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikologis, seksual, ekonomi dan sosial?  Apa dampaknya bagi istri dan anak-anaknya? Apakah yang terjadi jika istri dan anak stress, depresi, trauma dan bahkan stres pasca trauma? Dan bagaimana jika hal itu direproduksi, ditiru oleh anak-anaknya? Itulah. Pada akhirnya, pada persoalan ini, intunya, lelaki harus “disentuh.”

 

Ini bukan berarti lelaki harus dibenci, digugat ataupun bahkan memberikan stigma besar pada relasi lelaki perempuan dalam konteks rumah tangga dan sosial, tetapi bagaimana bahwa lelaki bisa menjadi tahu diri, tahu posisi dan tahu kedudukan yang semestinya dalam relasinya dengan perempuan, khususnya sebagai pelaku terbanyak kekerasan. Bukan pula legitimasi untuk mempermak, mengata-ngatai, menelanjangi, menghukum ataupun menggunduli habis pelaku kekerasan terhadap perempuan. Jika itu arahnya, maka mungkin satu penyakit akan mati, tetapi jutaan penyakit kekerasan lelaki masih berjingkrangan dan dipastikan terus “berkembang biak”. Sebagaimana disinggung di atas, bicara kekerasan lelaki adalah berbicara pelaku dengan legitimasi social, budaya, tradisi, keyakinan dan bahkan agama yang tidak hanya tunggal, tetapi jamak. Kita tidak hendak melawan, atau bahkan tidak cukup energi untuk melawan secara frontal itu semua. Justru basis pijakan untuk bertindak dalam kerangka menghilangkan kekerasan terhadap perempuan tadi bias berangkat dari tradisi, nilai, budaya bahkan keyakinan dan agama, yang sebisa mungkin digali dalam kerangka mempromosikan kedamaian, harmonisasi, toleransi dan relasi yang baik antara perempuan dan lelaki dengan lebih adil dan manusiawi. Ambil contoh persoalan poligami yang mendapatkan legitimasi yang sah dari Qur’an. Tentunya bukannya Qur’annya yang harus direvisi, tetapi paradigma tentang poligami yang harus diluruskan. Poligami seolah menjadi legitimasi bagi lelaki untuk berkokok bahwa dia telah menaklukkan sekian perempuan, melakukan praktek dominasi kekuasaan dan yang sebenarnya terjadi adalah nafsu, pelecehan seksual dan pelecehan perempuan yang dilegitimasi agama. Bahwa syarat tegas untuk menjadi “poligamers” itu ada di dalam Qur’an itu sendiri adalah berbuat adil, tentunya harus digali terkait dengan ukuran adil itu sendiri, bagaimana tafsirnya, menurut siapa dan pada akhirnya jelas ukurannya. Mengapa? Ya karena terkadang seolah keadilan hanya milik Allah dan dikembalikan kepada Allah SWT, padahal perempuan dan anak-anaklah yang menanggung konsekuensi atas kegagalan perilaku adil si lelaki.

 

Jadi, yang perlu diberikan garis bawah adalah perihal bagaimana melahirkan “lelaki baru”. Masih perlu dirumuskan, bagaimanakah kiranya mencptakan regulasi atau payung hukum untuk niat baik ini, bagaimanakah kiranya melakukan konseling lelaki (yang selama ini sulit ataupun susah menyentuh lelaki, khususnya dalam hal KDRT), bagaimanakah memberikan sosialisasi atau mengubah konstruksi masyarakat. Elaborasi ini semoga bisa mendapatkan follow up. Tentu saja itu tidak mudah, karena perubahan yang dilakukan khususnya kepada kita lelaki, adalah perubahan yang sangat radikal, mulai dari cara pandang, wawasan, sampai dengan hal-hal praktis yang biasa dilakukan sehari-hari. Wallahu a’lam.

 

 

Feriawan Agung N.,S.Sos (Pekerja Sosial PSTW Yogyakarta)

Joglo Melati, 21 Mei 2012

Jagung Untuk Raja

Adalah seorang raja di negeri antah berantah yang memiliki tiga orang putera kembar. Ketiga-tiganya sangat mencintai  dan menghormati ayahnya tersebut. Mereka dididik dengan baik oleh Sang Permaisuri yang menjadi ibu bagi mereka, penasihat utama Raja, sekaligus guru negara yang memberikan pencerahan bagi seluruh rakyatnya. Putra raja ini kemudian tumbuh menjadi pangeran-pangeran remaja yang cerdas, hebat dan siap menggantikan Sang Raja.

Suatu hari, Sang Raja memanggil ke tiga Pangerannya untuk menghadap.

“Putra-putraku tercinta”, kata Raja memulai pembicaraan. “Kalian aku undang ke mari untuk suatu hal. Suatu hari nanti, ketika aku semakin tua, tibalah saatku menyerahkan tampuk pimpinan kepada salah satu di antara kalian. Tetapi sebelum tiba saat itu, ada sesuatu yang membuat aku sedikit gusar. Yaitu, aku tidak tahu kepada siapakah tahta ini akan kuberikan, yaitu satu diantara kalian.

Continue reading Jagung Untuk Raja

Software Sinau Jawa v.1 – Software Pengetahuan Bahasa Jawa

Assalamualaikum wr.wb.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunianya kepada kita untuk bisa saling berkomunikasi di sini, dan juga rasa syukur saya atas kesempatan yang diberikan-Nya sehingga bisa menyajikan software ini kepada Anda dengan segala keterbatasannya. Tak lupa sholawat dan salam saya haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan bagi saya untuk menuju kepada-Nya. Semoga syafaatnya bisa saya raih di hari akhir kelak.

Berikut ini adalah software yang saya beri nama SINAU JAWA v.1. Isinya adalah pengetahuan Bahasa Jawa yang meliputi tata istilah, tata bahasa, istilah-istilah dalam konteks kemasyarakatan, kamus, sampai dengan pengetahuan wayang dan gamelan. Semuanya diringkas dalam satu software sederhana dengan harapan memudahkan bagi pengajaran dan pendidikan bahasa jawa untuk membantu anak-anak, murid-murid, siswa-siswi dan siapapun yang belajar bahasa Jawa. Isinya relatif memenuhi kurikulum pengajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Yang pertama kali harus saya garis bawahi, software ini bukanlah berisi acuan baku ataupun referensi valid bagi siapapun yang menggunakannya. Fungsi dasarnya adalah membantu siapapun untuk belajar pengetahuan tentang Adat Istiadat Jawa, khususnya Bahasa Jawa. Untuk itulah di dalamnya di setiap fitur atau menu, ada opsi atau tombol edit dan hapus. Berbeda dengan software yang berisi acuan baku seperti  contohnya wordpedia, Encarta Encyclopedia, ataupun Encyclopedia Britanica yang memang berisi acuan baku. Jauh banget dari itu. Isi yang ada software ini adalah serpihan-serpihan yang berserak dari internet, dari buku bahan ajar yang dijual bebas di pasaran, dan dari lingkungan tempat saya tinggal. Untuk itu, Anda boleh mengubah isinya atau databasenya untuk kepentingan pribadi anda. Untuk isi outentik, hanya bersumber dari link yang terdapat di blog saya di www.feriawan.wordpress.com.

Saya bukanlah seorang ahli bahasa jawa, ilmuwan jawa, budayawan, bukan pula guru, ataupun orang yang paham tentang bahasa dan kebudayaan Jawa. Keseharian saya ketika menyusun software ini adalah menjadi ayah dari dua orang anak usia 6 dan 4 tahun, Iyan dan Damar, dan suami dari Endang Subekti. Saya adalah CPNS di Dinas Sosial Provinsi DIY yang saat ini ditempatkan sebagai pengasuh lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Abiyoso, Pakem. Kami sekeluarga tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di Sonokulon, Merdikorejo, Tempel, Yogyakarta. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu komputer. Latar belakang pendidikan saya adalah Sarjana Ilmu Sosiatri di FISIPOL UGM DIY. Itu sedikit tentang saya, selebihnya jika anda search atau googling, Anda akan menemukan banyak catatan tentang saya, ataupun catatan saya sendiri, khususnya di alamat blog saya seperti tertulis di atas.

Lalu, mengapa saya membuat software ini?

Suatu ketika, saya berdialog dengan ayah saya kandung di Semarang tentang apa yang dilakukannya di sebuah komunitas, ataupun bisa disebut organisasi dengan nama PERMADANI. Sunartyono, nama ayah saya, adalah salah satu pemrakarsa organisasi itu dan sekarang adalah salah satu pengurus PERMADANI Jawa Tengah. PERMADANI adalah singkatan dari Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia. Untuk masyarakat awam yang tahu tentang PERMADANI, mengenal lembaga ini sebagai lembaga yang memberi kursus tentang Panatacara lan Pamedhar Sabda, atau dalam bahasa Indonesianya adalah kursus tentang MC dan Penceramah berbahasa Jawa. Menurut beliau, sesungguhnya PERMADANI tidak dicita-citakan sesederhana semacam lembaga kursus. Konon, dari para pendirinya, PERMADANI didirikan berangkat dari kegelisahan atas lunturnya kebudayaan Indonesia oleh derasnya laju modernitas. Anak muda kehilangan unggah-ungguhnya, krisis moral di sana-sini, hilangnya nilai kemanusiaan dan kesadaran bangsa, bahkan rasa kebangsaan itu sendiri lambat laun menjadi hilang. Akibatnya, atau dampaknya, diantaranya adalah polah tingkah pemimpin dan masyarakat yang menghalalkan segala cara untuk meraih kenikmatan materi dengan jalan korupsi, kolusi, nepotisme. Generasi muda kehilangan arah dan mengikuti budaya asing yang tidak sesuai dengan akhlak moral masyarakat timur, apalagi sesuai dengan akhlak dan moral agama. Nilai-nilai kegotongroyongan entah di mana. Kekerasan atas nama apapun menjadi biasa di telinga.

Dari serapan persoalan itulah ditarik kepada kesimpulan yang salah satunya adalah lunturnya budaya bangsa. Padahal, peran-peran orang yang terpanggil untuk melestarikan kebudayaan bangsa bisa dihitung dengan jari. Kebudayaan menjadi terpinggirkan, tersederhanakan menjadi nilai-nilai pinggiran dengan sebutan tradisional, dan tradisional cenderung disebut jadul.  Bahkan orang berbicara budaya menjadi bias dengan istilah kesenian tradisional. Sebuah keprihatinan. Ketika anak-anak muda kehilangan jati dirinya, kehilangan akar kebudayaannya, orang-orang tua demikian mudah menyalahkan: oh itu karena mereka tidak diajari, tidak mengerti adat, tidak punya kesopanan, terpengaruh oleh barat, dll dsb yang intinya menyalahkan. Pertanyaanya: lalu siapa yang bertanggungjawab? Dari sinilah PERMADANI didirikan dan mengambil peran sebagai lembaga yang, dalam penangkapan saya, agen untuk transfer nilai budaya dari generasi ke generasi. Karena point intinya adalah budaya bangsa, maka PERMADANI tidak hanya berdiri di Jawa, atau mengambil peran atas Budaya Jawa saja, tetapi lebih luas dari itu. PERMADANI didirikan dan tersebar di seluruh Indonesia dan mengambil peran atas budaya lokal yang tujuannya adalah mengembalikan nilai-nilai postif bangsa agar dapat ditransfer dari generasi ke generasi, untuk kemudian menjadi nilai bangsa yang sesungguhnya. Itu penangkapan saya. Mulia sekali. Kalaupun saat ini yang terdengar di masyarakat hanyalah sebagai lembaga kursus MS dan Pemateri Jawa, ya tak apa, karena kegiatan itu yang paling diminati dan dikenal luas masyarakat.  Mengapa hanya di Jawa yang kelihatan, ya tak apa, karena memang mulainya di Jawa, khususnya Jawa Tengah. (Saya ingat betul suasana pendiriannya, waktu kecil saya ikut peresmian pendiriannya di suatu tempat, diresmikan oleh Gubernur Jateng saat itu: H Ismail) . Maka begitulah, cerita Ayah itu begitu membekas. Sebagai seorang muslim, yang saya tangkap satu: perbaikan akhlak dengan jalan budaya.

Mengapa harus software? Bukankah sudah banyak buku-buku beredar dengan harga murah dengan konten yang bahkan lebih lengkap dari ini? Jawaban saya sederhana: kemasan. Jujur saya tidak suka menyatakan itu, tetapi memang itu kenyataanya: hanya sekedar kemasan. Apakah itu penting? Nah, di sini jawabannya mantap: penting. Kemasan adalah sesuatu yang penting dalam proses komunikasi. Faktanya, manusia modern memang suka pada kemasan. Suka melihat kemasan, walaupun intinya sama: komunikasi. Kalau komunikasi adalah ‘ngomong-ngomong’, tentunya bisa dilakukan di cakruk, di gardu ronda, di pasar, di kelas, di gedung mewah. Tergantung dari etika dan estetikanya. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, estetika dan etika juga mencakup pada alat. Orang akan merasa beda jika dia sudah bisa berkomunikasi via internet, via HP, via Blackberry daripada sekedar ngomong di cakruk atau pos ronda. Semacam itulah. Bagi saya, fakta itu ironi: mengapa untuk ngomong saja butuh kenyamanan karena merk tertentu, tempat tertentu dan karena kelas tertentu. Tetapi itulah kenyataanya. Maka, untuk menyampaikan sesuatu terkait budaya, tampaknya butuh kemasan untuk menaikkan ketertarikan, untuk menaikkan gengsi dan untuk menaikkan jangkauan agar tujuannya tercapai. Jadi, dikemaslah semua-mua yang terkait dengan materi belajar bahasa dan kebudayan jawa menjadi software sebagaimana yang sampai ke tangan Anda ini.

Demikianlah. Awalnya yang saya pikirkan adalah anak-anak saya:bilakah mengajarkan pengetahuan tentang bahasa Jawa dan pernak perniknya kepada anak? Bagaimana penerimaan mereka? Pada akhirnya kesimpulannya: ya!. Saya merefleksikan dengan diri saya yang sejak mahasiswa hijrah ke DIY untuk kuliah. Pada masa kuliah tersebut biasa hidup dalam keprihatinan. Ndilalah, Yogyakarta memang kota yang bersahaja. Walaupun saya sering tidak punya duit, tetapi saya belum pernah kelaparan. Banyak teman, banyak penduduk lokal yang sangat mengerti tentang kehidupan mahasiswa seperti saya kala itu. Di Jogja enak: asalkan kita bisa sopan dan mau belajar budaya lokal, kita akan dihargai dan dimanusiakan. Sesuatu yang agak sulit diperoleh di kota kelahiran saya; Semarang. Well, jika saya mau mengajak anak belajar, konsekuensinya saya juga harus belajar dong. Itu.

Lalu mengapa kok tidak dikomersialkan? Ya. Memang tidak ada misi komersialisasi dalam setiap karya saya. Apalagi karya yang berbasis budaya lokal seperti ini. Gambaran saya sederhana: Jika komersial maka yang menjangkau hanya yang punya uang. Itu tidak menjawab persoalan bangsa tentang pendidikan mahal, tentang software berbasis komunitas/ bernuansa budaya lokal, tentang fasilitas dan sarana belajar untuk kaum dhuafa. Semoga Allah SWT setuju, karena Kata-Nya, kalau akhirat yang dituju, dunia juga akan didapat. Nah, mungkin misi saya adalah menagih janji Allah yang Maha Menepati Janji.

Selain itu, tanggungjawab nguri-uri itu adalah tanggung jawab bersama, maka bagi saya ini adalah bagian dari tanggungjawab saya pribadi untuk ikut nguri-uri kabudayan. Sekecil apapun kontribusi yang bisa saya lakukan.Mencoba mengambil peran di situ, sekecil apapun, sebesar kemampuan saya. Ya sederhananya, kita sudah hidup enak, di zaman enak, di Jogja yang enak, itu kan karena kebudayaan yang diwariskan simbah2 kita dulu. Mosok iyo gak matur nuwun? Dan apakah kita rela anak-anak kita kelak justru hidup susah karena kehilangan warisan budayanya. Eman tho? (Hehe.. Padahal nek dipikir malah saya ini ada turunan Cino. :p )

Apakah kemudian tidak menerima donasi? Begini: saya tidak mau dibilang ngemis. Sejak semula software ini diniati sebagai shodaqoh jariyah saya. Maka, software ini diijinkan diunduh oleh siapapun dengan tidak ada batasan fitur, FREE. sejauh ini, sy gak pernah rugi “berbisnis” dgn Allah. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Untuk itu cukup bagi saya beroleh hasil dari pekerjaan saya sebagai PNS. Tetapi pertanyaanya: bagaimana jika ada memang ada orang yang terpanggil? Bukankah jika ini dinafkahkan di jalan Allah, orang juga berhak untuk ikut serta? Katakanlah saya punya kendaraan untuk menuju pada-Nya, apakah tidak boleh orang untuk ikut serta? Nah, untuk itulah saya menerima donasi seandanya apa yang saya lakukan ini seide, sejiwa ataupun mewakili orang-orang yang memiliki kemampuan yang mungkin tidak saya miliki, dan atau sebaliknya.

DONASI

Sekedar mengulang: Walaupun disebarkan dengan bendel freeware/gratis full version, software ini dibuat dengan tidak gratis. Butuh biaya untuk listrik, buku-buku pengetahuan, koneksi internet dan waktu setidaknya 3 bulan untuk membuat software ini. Donasi anda sangat diharapkan untuk kelangsungan pembuatan software ini dan software-software lainnya yang bisa anda peroleh di blog saya ini.

Donasi bisa dalam bentuk:

  1. Uang dikirim via No Rek: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO, yang insya Allah digunakan untuk memberi perangkat keras, perangkat lunak demi meng-upgrade software Sinau Jawa ini pada versi yang lain. Selain itu masih menunggu pekerjaan membuat software edukatif yang lain yang Insya Allah jika ada kesempatan akan dikelarkan: software belajar rambu lalu lintas untuk anak-anak, KUHP dan KUHPerdata Digital, Ensiklopedi Batik, dan semoga bisa belajar pemrograman game karena ada cita-cita bikin game The Pursuit of Hajj, game semacam farmville yang mengajak anak-anak mengerti tentang langkah-langkah berhaji. Berapapun nilainya akan berharga: Jika ingin tanya: seandainya dijual, barapa harga intrinsiknya? Kalau nilai komersialnya, saya akan menjualnya Rp. 50.000,-  Anda tidak harus membayar sejumlah itu jika memang ingin berdonasi sekedarnya, katakanlah anda mengirim 25.000, saya akan menganggapnya lunas, anggap saja sisanya adalah shodaqoh dari saya.
  2. Jika anda butuh produk yang dikemas secara outentik darii saya untuk kepentingan pembelajaran, saya juga melayani pemesanan dalam bentuk pengiriman CD. Harga jual saya sesuaikan dengan nilai intrinsik Rp 50 ribu untuk per CD dan ongkos kirim sesuai dengan jasa layanan kurir yang ditunjuk. Dengan berat hati, harga ini saya patok pas mengingat tingkat produksi dan pengemasan dalam bentuk CD tentunya berbeda daripada sekedar upload dan download via internet.
  3. Jika anda ingin berdonasi tetapi tidak memiliki kesempatan yang memungkinkan baik untuk mengirim uang, mencukupkan nilainya atau satu dan lain hal yang menghalangi sampainya rupiah ke tangan saya, saya titipkan saja uang yang semestinya anda donasikan ke saya ke kotak amal, kotak infaq, kaum dhuafa, korban bencana dan lain sebaganya musibah di sekitar anda. Cukup diniatkan saja bahwa uang tersebut adalah donasi software untuk saya. Insya Allah, Dia nantinya yang mengatur rejeki yang sudah dijatahkan ke saya.
  4. Kalaupun satu dan lain hal memang Anda benar-benar tidak memiliki kesempatan mengirim donasi. Cukuplah dari saya meminta doa Anda perihal yang saya kerjakan ini. Semoga Allah mengabulkan doa anda yang terbaik untuk saya sekeluarga.
  5. Kalaupun semua point di atas membebani Anda, ya sudah,tak mengapa. Yang penting gunakan software ini untuk kebaikan. Insya Allah saya masih mendapat pahala dari-Nya sepanjang Anda mendapat kemanfaatan positif dari software ini.

Kalau boleh saya meminta, berilah feedback kepada saya lewat facebook, blog dan sarana komunikasi lainnya kepada saya demi perbaikan software ini, Sebarluaskanlah ke sekolah-sekolah, lembaga pendidikan, kelompok belajar dan sejenisnya yang anda rasa akan mendapat kemanfaatan dari software ini. Saya sangat berterima kasih dan semoga Allah membalasnya.

PEMESANAN DALAM BENTUK CD

Saya juga melayani pemesanan dalam bentuk CD yang akan dikirimkan kepada alamat yang anda tuju.  Karena membutuhkan kerja ekstra, saya meminta uang jasa produksi, pengemasan dan pengiriman CD per paket dari anda sejumlah 50 ribu plus ongkos kirim. Mekanismenya adalah sebagai berikut:

  1. Kirim data selengkap-lengkapnya terkait dengan: Identitas anda, email dan telpon khususnya, jumlah pesanan, alamat yang dituju, dan keterangan lain yang anda anggap penting. Kirim ke ferrybm@yahoo.com atau ke feriawan@gmail.com  atau kontak via mail facebook saya di : www.facebook.com/feriawan
  2. Saya akan mengkalkulasi terkait ongkos kirim dan waktu pengiriman.
  3. Jika deal, kirim harga yang disepakati  ke Rek: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO, terima kasih jika anda memberi lebih dari jumlah transaksi.
  4. CD akan saya kirimkan sampai ke alamat anda.

Demikian panjang lebar dari saya.

Sekian. Billahi Taufiq wal hidayah. Fastabiqul Khairat.

Wassalamualaikum wr.wb.

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos

DOWNLOAD DROPBOX

DOWNLOAD GOOGLEDRIVE

DOWNLOAD INDOWEBSTER
DOWNLOAD INDOWEBSTER ALTERNATIF

DOWNLOAD VIA MEDIAFIRE

Menjelang Launching Software Pengelolaan Klien Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta

Puji syukur kami panjantkan kehadirat Allah SWT akhirnya selesai juga pembuatan software SIM PSTW ini sehingga siap digunakan untuk kebutuhan database PSTW.

Awal gagasan penyusunan software ini bermula pada sekitar pertengahan bulan Juli 2010. Bapak Kepala saat itu, Bapak Drs Sulisno, secara sepintas menanyakan kepada saya tentang kemampuan saya untuk membuat sistem komputerisasi agar memudahkan bagi staff PSTW mencari data klien, penanggungjawab dan kontak person yang bersangkutan. Bukan sekedar menggunakan data MS Excell tetapi sesuatu yang lebih memudahkan lagi, kata beliau. Saat itu saya menyatakan sanggup.

Menjelang bulan Ramadhan, gagasan tersebut kembali diutarakan kepada saya, tetapi yang berbicara saat itu adalah Ibu Dra Setiawati Sujono, Kepala Seksi PJS, kembali mengutarakan kepada saya hal yang sama. Secara panjang lebar beliau mengutarakan kebutuhan-kebutuhan yang ada di PSTW terkait dengan komputerisasi data, mengingat PSTW selama ini telah menjadi panti percontohan di Indonesia. Akhirnya, sejak saat itulah terkonsep gagasan awal pembuatan software database ini.

Software ini digunakan untuk mengelola data klien Panti Sosial Tresna Werdha yang meliputi data administrasi pribadi (identitas pribadi, identitas keluarga, alamat asal dll), data medis (kondisi kesehatan klien di awal masuk panti, kondisi klien selama berada di panti, dll), data terkalit pengelolaan klien di panti seperti aktifitas sosial, aktifitas rohani, aktifitas pembinaan ketrampilan dan aktifitas apapun yang diikuti klien yang memperoleh pendampingan dari pekerja sosial di PSTW.

Software ini bermanfaat untuk pemantauan internal aktfitas PSTW oleh pengelola Panti, bahan evaluasi terhadap klien yang dilakukan oleh pengelola panti, digunakan untuk kepentingan ilmiah ataupun studi, digunakan untuk kepentingan praktis pengelolaan data klien seperti melacak penanggungjawab klien ketika klien meninggal, ketika klien sakit dll, ataupun digunakan untuk kepentingan arsip.

Data-data yang dimasukkan atau diinput dalam software ini mengacu kepada Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 4 / PRS-3/KPTS/2007 tentang PEDOMAN PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DALAM PANTI.

Gagasan software yang awalnya hanya digunakan untuk memudahkan pencarian klien, penanggungjawab dan no HP serta alamatnya, berkembang menjadi gagasan untuk pendatabase-an seluruh aktifitas klien. Bagi saya, sangat muspro jika software ini nanti Cuma digunakan untuk sekedar itu, mengingat apa yang diutarakan oleh Bu Wati, semestinya kita sudah memiliki alat komputerisasi semua aktifitas klien. Aktifitas-aktifitas yang ada, sebisa mungkin tercatat dan terdatabase untuk kemudian diubah menjadi laporan siap saji yang bisa digunakan untuk kepentingan praktis seperti penulisan laporan pertanggungjawaban, pelengkap data untuk presentasi, sampai dengan untuk kepentingan kepentingan strategis seperti perencanaan kebutuhan, monitoring-evaluasi, kebutuhan untuk kepentingan akademik, serta hal-hal lain yang dimungkinkan dari pemanfaatan data-data yang diinput di komputer. Mengapa tidak?

Data yang akurat adalah bahan utama dari sebuah perencanaan strategis. Pengambilan kebijakan yang didukung oleh data akan memiliki tingkat pencapaian hasil yang relatif baik, memiliki tingkat kepercayaan yang kuat, dan juga memiliki validitas yang tinggi dalam konteks monitoring dan evaluasi. Berdasarkan pengalaman penulis, komputerisasi data yang diperlukan untuk tujuan di atas bisa dilakukan. Maka, seiring berjalannya waktu selesailah penyusunan software ini yang memiliki kemampuan untuk input data:

  • Data dasar klien, seperti identitas klien, identitas keluarga klien, penempatan klien di PSTW, dan disabilitas.
  • Data pengobatan klien,
  • Data hasil tes psikologis klien
  • Case Record Klien
  • Penilaian kegiatan klien dalam menerima pelayanan yang dilakukan oleh Panti sepeti: Pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar/fisik, pelayanan bimbingan sosial, pelayanan fisik dan mental, pelayanan bimbingan psikososial, pelayanan ketrampilan dan pelayanan rekreasi dan hiburan (sumber:Buku Panduan Manajemen Kasus Panti Lanjut Usia Dalam Panti, Diterbitkan oleh Direktorat Pelayanan Lanjut Usia, Direktorat Jendral Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI tahun 2010)

Dari input data di atas software ini mampu melakukan penyajian data klien, penyajian dalam bentuk grafik terkait data klien (misalkan saja sebaran klien berdasarkan alamat asalnya), grafik korelasional ataupun pivot table (tabulasi silang) yang menghubungkan variabel satu dengan variabel lain, misalkan saja antara perbandingan jenis kelamin klien dengan usia klien, dan pada waktunya nanti bisa dilakukan pemanfaatan untuk kepentingan akademis ataupun analisis statistik korelasional, misalkan menghubungkan antara usia klien dengan aktifitas klien dll.

Setelah posisi kepala panti mengalami pergantian dari Bapak Drs Sulisno kepada Bapak Drs Sutiknar, apresiasi dari Bapak Drs Sutiknar terhadap perancangan software ini sangat positif. Sesuai yang saya tangkap, Beliau memiliki pandangan dan gagasan lebih jauh tentang bagaimana pemanfaatan software ini untuk kepentingan-kepentingan kemajuan PSTW. Dari sanalah Beliah memberi masukan dan saran lebih lanjut untuk penyempurnaan software ini. Alhamdulillah.

Sejujurnya saya merasa beruntung mendapatkan amanah untuk menyelesaikan software ini, karena dari sini saya bisa secara praktis menumpahkan kemampuan saya di bidang IT, mengetahui tata kelola dan manajerial Panti, khususnya panti werdha, serta secara praktis mengamalkan ilmu yang penulis dapatkan untuk kepentingan umat dalam kerangka ibadah yang penulis tujukan hanya kepada Allah SWT.

Demikianlah cerita kancil tentang pembuatan software ini. Harapannya, tentu saja semoga software ini bisa memenuhi segala sesuatu sebagaimana yang dimaksudkan oleh Bapak Drs Sulisno, Bapak Drs Sutiknar, Ibu Dra Setiawati Sujono, Bapak dan Ibu Pekerja Sosial dan PJS di PSTW, Bapak dan Ibu di Tata Usaha serta teman-teman perawat. Terima kasih banyak, dan semoga bermanfaat.

Salam

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos

Interface software bisa dilihat di bawah ini:













anggraenisme

Just another WordPress.com site

mmd news syndicate

media campaign for women right's, reproductive and sexual rigth's [hiv-aids], and human rights