SEKILAS GAMBARAN PROFESI PEKERJA SOSIAL DI PANTI WERDHA

picSaya sering menuliskan kehidupan di Panti Werdha sebagai bagian dari profesi saya selaku Pekerja Sosial (Ada lowongannya di CPNS DIY 2013). Semisal kemarin, saya membagi kisah bahagia tentang bagaimana proses mempertemukan seorang kakek yang hilang dengan keluarganya. Itu kisah suka. Tetapi ada juga beberapa kisah duka, semisal tentang seringnya orang-orang yang tega “membuang” orang tuanya di Panti Jompo.Tidak terhitung pula bagaimana melewati peristiwa-peristiwa yang menjadi rutinitas: mendamaikan klien yang berkelahi, mendengarkan curhatan klien yang persoalannya itu-itu juga, mencari klien minggat, membersihkan jenazah, mengurus kasus klien sampai ke luar kota, mungkin pula melakukan hal-hal yang dianggap sepele: membetulkan kacamata klien yang rusak, menutup retsliting, memapah, mendorong kursi roda, memberi salam, dll.

Kalau ada yang bertanya, memangnya profesi macam apakah sih pekerja sosial itu dan bagaimana dia mengerjakannya, wah panjang jawabnya. “Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan” (Charles Zastrow (1982)). Tetapi kalau terkait dengan profesi saya di Panti Werdha, ya saya bertugas membantu klien-klien saya yang lansia untuk menjamin kesejahteraan mereka, khususnya di Panti Werdha.

Ketika datang masyarakat yang meminta informasi tentang Panti Werdha, saya wajib memberikan deskripsi sejelas-jelasnya tentang Panti Werdha dan klien yang ada di dalamnya. Biasanya pertanyaan berkisar tentang: syarat masuk klien (karena biasanya mereka punya tetangga, saudara, orang tua, atau famili yang ingin dimasukkan ke Panti), informasi administratif dan tentang ke-Panti-an dan klien yang ada di dalamnya (pers dan pelajar) khususnya profil Panti, ataupun kehidupan sehari-hari klien yang ada di dalam Panti (biasanya para donatur ataupun tamu khusus kunjungan). Semua itu bisa berlangsung lewat tatap muka langsung, lewat telepon, ataupun lewat internet.

Ketika ada informasi tentang calon klien, setelah melalui proses pendataan, pengurutan daftar tunggu dan ada kekosongan alokasi klien, kami akan melakukan kunjungan. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat langsung kondisi klien untuk ditakar: sesuai atau tidak dengan persyaratan ataupun ketentuan yang berlaku untuk calon klien agar bisa diterima menjadi klien. Semua hal dicatat mulai dari usia, kesehatan, kemandirian, kemauan klien, sampai dengan hal-hal administratif lainnya. Hasil dari kunjungan ini yang kemudian dijadikan bahan bagi Panti untuk memutuskan apakah calon klien tersebut bisa atau tidak menjadi klien Panti Sosial.

Jika calon klien layak, maka dia segera dihubungi dan dengan diantar ke keluarga bisa langsung masuk ke Panti. Jika tidak layak, maka dia atau keluarganya akan dihubungi terkait dengan alasan mengapa tak layak hidup di Panti.

Seringkali ada protes dari masyarakat, semisal seseorang calon klien yang bedrest atau maaf: ngobrok. atau mungkin gangguan jiwa, kok tidak bisa diterima? Lha kalau Dinas Sosial atau Panti Jompo tidak mengurusnya lalu siapa yang mengurusnya? Apakah dibiarkan berkeliaran di jalan? Maaf jika bukan kapasitas saya untuk menjawab yang tidak terkait dengan Panti, tetapi jika bicara Panti Sosial, maka kita bicara bahwa di Panti itu bukan semacam penampungan ternak dimana manusia cukup dikasih makan, digemukkan lalu selesai. Bukan. Di Panti klien lansia diajak untuk hidup bermasyarakat diantara sesamanya, berkegiatan, dan bagaimana menikmati kesejahteraannya lahir dan batin. Untuk itulah kami hanya menerima klien yang masih potensial dan memenuhi persyaratan untuk bisa bermasyarakat di lingkungan panti. Adapun ketika sudah sekian lama hidup di panti kemudian klien menjadi bedrest atau gangguan jiwa, itu lain soal. Baik pekerja sosial atau sesama klien sudah terkondisikan untuk saling bekerjasama. Bayangkan jika belum-belum sudah memasukkan klien tak dikenal dan ada gangguan jiwa, yang terjadi malah menyusahkan klien-klien yang sudah sekian lama tinggal. Atau katakanlah memasukkan klien yang bedrest, maka manajemen panti akan berubah menjadi manajemen rumah sakit.

Tak jarang, dalam proses visit ini banyak hal yang miss. Di luar dugaan. Klien yang kami lihat sehat ternyata suspect penyakit menular, gangguan jiwa, dll. Atau seperti minggu kemarin, klien sudah punya kemauan sendiri tinggal di panti, sudah dibantu oleh induk semangnya, sudah divisit, eeeh giliran disediakan kamar malah ybs minggat tak tentu rimbanya.

Ketika klien baru datang ke Panti, kami bertanggungjawab untuk memastikan wisma dan kamar (sprei, selimut, bantal, dll), fasilitas (pakaian, hygine kit: sikat gigi, sabun, handuk dll), food kit (piring, cangkir, sendok dll), sandal, perlengkapan ibadah, dll. Lewat masa orientasi kami membimbing klien untuk diperkenalkan dengan kegiatan di Panti Sosial.

Pada hari-hari awal klien ada di Panti, kami memantau klien terkait dengan aktifitasnya, potensinya, interaksi, komunikasi dan semua hal yang perlu diassessmen. Hal ini penting bagi kami untuk menakar dan memutuskan tindak lanjut agar di kemudian hari klien benar-benar terpenuhi kesejahteraanya. Kami mendengarkan curhatnya, kami memperkenalkan kegiatan di panti, kami mengajari adab dan kebiasaan di panti, kami memotivasi, kami memfasilitasi. Bisa jadi proses ini mulus adanya, tetapi lebih sering tak mulus. Misal saja, klien dari keluarga yang jorok ataupun berkebiasaan jorok (biasanya mereka yang dari gelandangan pengemis), klien memiliki sifat egois, klien rendah diri, dll. Maka butuh keterampilan bagaimana memproses klien agar bisa menjadi seperti yang diharapkan. Tak jarang pada minggu atau bulan-bulan awal klien merasa tak betah, berkonflik, bingung dll. Wajar. Tinggal bagaimana membimbingnya.

Sebagaimana klien yang lama, klien baru akan menjalani hari-hari di PSTW (Panti Sosial Tresna Werdha) dengan kegiatan-kegiatan: Senam pagi setiap hari, mengikuti bimbingan klasikal pada jam pagi sampai siang, pemeriksaan kesehatan pada hari-hari tertentu, pendampingan per wisma dan per pribadi oleh pengasuh dan pekerja sosial, dan hal-hal lain terkait dengan kebutuhan pribadinya seperti makan, mandi, ibadah, mencuci pakaian dan perlengkapan pribadi dll. Klien diajak juga untuk menjadikan panti dan wismanya seperti layaknya rumah sendiri, sehingga merekalah yang bertanggungjawab bersih-bersih, menolong sesama klien, merawat tanaman, dan lain sebagainya. Setiap pagi hari ada senam. Ketika senam, saya mendapat jatah menjadi instruktur senam pada hari Rabu. Bimbingan klasikal, biasanya dilakukan oleh instruktur yang ditunjuk. Pada hari senin, ada bimbingan rohani sesuai dengan agama dan kepercayaan klien, hari selasa bimbingan kesenian: organ tunggal, hari rabu bimbingan keterampilan, hari kamis bimbingan rohani (lagi), hari jumat kerja bakti, dan hari sabtu bimbingan kesenian (karawitan). Secara berkala dilakukan dalam sebulan: bimbingan psikologi dan sarasehan. Pada hari rabu, dilakukan juga pemeriksaan kesehatan oleh Dokter dari RS atau Puskesmas setempat yang didampingi oleh Perawat Panti. Perawat panti bekerja setiap hari bertanggungjawab untuk memantau kesehatan klien.

Itulah gambaran kehidupan sehari-hari klien di Panti. Secara insidental, akan ada acara-acara yang dikemas untuk klien. Misalkan saja rekreasi, lomba-lomba, kedatangan tamu, kedatangan praktikan atau mahasiswa praktek, dll. Kami, Pekerja Sosial, menjadi bagian dari mereka yang mendampingi kegiatan tersebut.
Persoalan klien? Ya itulah makanan kami. Jika memang penting, dilakukan CC (Case Conference). CC membahas kasus atau klien yang unik, atau yang “keterlaluan” sehingga membutuhkan pembahasan bukan hanya oleh Pekerja Sosial, tetapi oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam Panti.

Begitulah gambarannya. Dari waktu ke waktu kami mengontrol dan mengevaluasi perkembangan klien. Memberikan reward kepada mereka yang progresnya bagus dan memberikan motivasi dan bimbingan ketika mereka mengalami penurunan. Melakukan penyelesaian kasus ketika mereka bermasalah.

Kami, biasa bertugas sesuai jam kerja Senin-Kamis jam 07.30-15.30, Jumat 07.30 – 11.30, dan Sabtu 07.30 – 14.00. Diantara hari-hari itu, ada juga shift sore dan shift malam. Yang lelaki yang biasa tugas shift malam. Kami melakukan shifting karena memang yang kami urusi adalah manusia. Bisa jadi diantara jam-jam itu ada kasus, konflik, klien sakit, atau bahkan meninggal. Kami harus menghubungi keluarga, kami harus berkoordinasi mengantar klien ke RS, atau kami harus berkoordinasi memandikan jenazah. Bisa jadi pula ada hal-hal teknis: mati lampu, gas bocor, atau bahkan bencana alam. Atau, mungkin pula pada malah hari ada keadaan darurat: klien datang, keluarganya datang, klien kabur dll. Itu tanggungjawab kami.
Ketika klien ternyata dipandang tidak mampu hidup di Panti, maka dia dikembalikan kepada keluarganya ataupun penanggungjawabnya. Ketika meninggal, jika klien punya keluarga atau penanggungjawab, maka jasadnya yang sudah dimandikan dan dipeti, akan kami kembalikan ke keluarga. Tanpa dipungut biaya. Ketika klien tidak ada keluarga, maka dia kami makamkan di pemakaman Panti yang area tanah untuk pekuburan yang dibeli oleh Dinas Sosial.

Selain mengurus klien, kami juga membimbing mahasiswa praktek. Bimbingan dilakukan seputar profil Panti, profil klien, dan informasi lainnya. Kami juga bertugas menguji laporan praktek dari mereka.

Demikian gambaran sekilas terkait profesi saya sebagai Pekerja Sosial di Panti Werdha. Semoga bermanfaat (*)

6 thoughts on “SEKILAS GAMBARAN PROFESI PEKERJA SOSIAL DI PANTI WERDHA”

  1. assalamualaikum,,, mas feri,, prknalkan saya rendi dari kampus unriyo,, bbrapa wktu ke depan insay allah sya akan melakukan penelitian di panti werdha pakem, klo boleh berbagi informasi, berapa jumlah perawat yang aktif berada di situ?? serta jumlah lansia yang sekarang di tempatkan di Panti werda pakem,, terima kasih wasalamualaikum,,

    1. Waalaikum salam, maaf kalau soal penelitian sebisa mungkin di tempat , Mas Rendi. Perawat PNS 3 honorer 3 lansia 124

    1. PSTW Yogyakarta Unit Abiyoso
      Duwet Sari, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta
      Telp : (0274) – 895402, 896502

  2. Assalamuaikum….
    mas fery saya fajar bening dari UII
    beberapa waktu lalu saya penelitian di PSTW Abiyoso namun saya lupa menanyakan jumlah pengelola (Peksos) dan jumlah pengasuhnya, kalau boleh tau ada berapa ya mas??
    teramakasih sebelumnya

  3. Mas. sy pingin menjadi pekerja sosial krn banyak waktu nganggur di jogya. panti mana ya yg msh memerlukannya…. 100% pingin beramal dgn tenaga saya. usia sy 45thn. dan tdk mengharap gaji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s