Novel (blm finish)

KAU TOLAK CINTAKU DENGAN BASMALLAH

Kisah cintaku
Sebuah Novel Otobiografi
By: Feriawan Agung Nugroho.
BAB I

Cintaku Yang Kandas

Namaku Feriawan Agung Nugroho. Umur 27 tahun. Lagi mencari jodoh untuk dijadikan pendamping hidupku. Katanya sih, juga untuk menjalankan sunatullah, sunnah nabi, melepas hasrat alami, dan lain sebagainya yang bisa saja dijadikan alasan. Intinya, saya ingin lawan jenis yang juga menginginkan saya sebagai lawan jenisnya sesuai syariat Islam.

Konon, sudah 5 kali saya ditolak. Meskipun, lebih banyak nolaknya (yang resmi 7 kali). Tetapi agaknya, lebih enak menceritakan di sini tentang peristiwa-peristiwa penolakan saya. Biasanya, laki-laki atau perempuan akan dengan bangga menceritakan peristiwa penolakannya terhadap seseorang daripada menderitakan ditolaknya dia oleh orang lain. Saya lain, saya lebih suka sebaliknya.

Sejauh yang saya tahu, ditolak atau menolak, sesungguhnya tidak membuat seseorang lebih tinggi, lebih rendah, ataupun menjadi wah. Mereka yang menolak tidak lantas menjadi lebih baik, perkasa, luar biasa, unggul, menang atau apapun daripada yang telah ditolaknya, kecuali orang-orang yang berakhlak rendah. Sebaliknya, mereka yang ditolak tidak lantas menjadi kalah, minder, mati, malu ataupun terkapar…kecuali yang bermental tempe ataupun tahu.

Seorang sahabat saya, Pahrurroji M Bukhori, mengatakan bahwa Rasul pun pernah menolak dan ditolak, meskipun ditolaknya ini hanya dugaan. Maka atas dasar ini saya memproklamirkan diri untuk berani menyatakan cinta, berani ditolak, berani menolak, Lillahi Ta’ala.

Pertemuan dan penemuan cinta pertama kali, diawali ketika saya menjadi seorang pemandu Opspek 97 di UGM. Saat itu, pada pertemuan pertama calon-calon pemandu dikumpulkanlah sekian banyak pemandu dari berbagai fakultas untuk diberi briefing dari sang ketua opspek. Kebetulan, kami satu gugus, yakni gugus gelanggang.

Ada salah seorang yang cukup menarik, tinggi, semampai, wajah melankolis, berjilbab hitam, bulu mata tebal, sorot mata sendu, langkah teratur, angin yang berhembus ketika dia berjalan melambai-lambaikan kisi-kisi jilbab hingga ke renda-rendanya seolah-olah menari-nari menampakkan keanggunan dari putri yang memakainya. Sepatu yang manis, dengan hak rendah dan berujung runcing nampak sekali dua kali muncul dari rok panjang yang menutup kaki-kakinya.

Rasanya, konsentrasiku tidak pada alur rapat. Aku lebih sibuk untuk terus menahan supaya degub jantung ini tidak memenuhi ruangan, supaya sikap dan tindak-tanduk ini tidak tampak sebagai orang yang kehilangan tingkah. Menahan nafas dan kata-kata supaya tidak tampak gagap, karena jarak kami begitu dekat, tidak sampai dua meter dari lingkarang forum yang hanya berisi sepuluh orang. Sesekali dia tersenyum ketika ada hal-hal yang lucu…..alamak…subhanallah…senyum itu sangat-sangat sangat sangat sangat…indah.

Hari itu adalah hari yang tidak pernah kulupakan…

Apa kabar hatiku.

Aduhai..

engkau melayang-layang menghirup wangi nirwana.

Semuanya tampak indah.

Bunga..indah,

dedaunan..indah,

burung-burung …indah,

semua indah….

Inikah cinta yang meluluhrantakkan semua kedukaan.

Inilah waktu dimana aku menjadi seorang penya’ir,

tidak perduli apakah aku sedang mengarang roman picisan ataukah karya pujangga..

tidak perduli akankah ini impian semusim ataukah keabadian…

semuanya indah.

Semuanya milikku.

Seminggu Opspek kulalui dengan pendekatan dan pembahasaan yang sangat menarik. Dia orangnya mudah sekali menemukan topik dan pembicaraan yang memaksaku untuk mampu dekat dengannya. Semua cerita, semua bahasa, semua dunia pantas untuk kami bicarakan. Berdua.

Perasaanku selama seminggu mengatakan bahwa aku dan dia bisa saling mencintai. Tetapi….mungkinkah dia mencintaiku juga. Mungkinkah dia menerima apa yang selama ini ada di hati untuk diungkapkan. Sengguh bagiku lebih layak untuk menikmati semua bayangan ini daripada harus memulai untuk berbicar kepadanya tentang cinta.

Aku mencintaimu dengan ketakutan

Ketakutanku yang pertama, adalah bayangan untuk pertama kali harus menyatakan cinta kepadanya. Bagaimanakah rasanya menyatkan cinta kepada seorang wanita. Ini bukan persoalan main-main! Kata orang, yang paling mudah adalah dengan menggunakan surat. Surat cinta, begitu katanya. Surat yang berisi pernyataan, perasaaan dan curahan hati kita….kayak di filem-filem.

Tetapi, banyak orang menilai bahwa menyatakan cinta melalui surat cinta adalah tindakan pecundang yang pengecut. Betapa tidak! Karena toh sebagai laki-laki kita harus berani menyatakan perasaan kita. Terus terang aja aku ngga mau dikatakan pengecut. Pengecut adalah milik mereka-mereka yang pantas menyandang nama itu..bukan saya.

Cara yang lain adalah dengan mengajaknya kencan, duduk satu meja, kemudian ngomongin diri kita dan perasaan kita….kayak di filem-filem. Tetapi, apa dia mau diajak keluar?

Sebenarnya kalau boleh jujur, saya tidak mampu mengendalikan perasaan saya dan tidak punya keberanian untuk mengaku cinta kepadanya. Pengakuan, kalau dipikir-pikir akan memaksa kita merenungkan hal-hal: Pertama momen, kapan dan dengan cara apa kita mengutarakan I love you. Kedua, bahasa yang seperti apa supaya layak kita sampaikan kepadanya. Untuk merangkai kata-kata saja, aku membutuhkan waktu sebulan sampai ditemukan kata yang kira-kira sesuai. Dihafalkan dan kemudian disimulasikan. Wah, itu pun nampaknya masih kurang pas. Ketiga, apa ya kira-kira reaksi dia. Bayangan-bayangan ketika pernyataan cinta ini sampai kepadanya itulah yang justru membuat saya khawatir. Jangan-jangan dia marah dan menjauh, jangan-jangan ditolak, sebenarnya mungkin tidak apa-apa ketika ditolak..mungkin…tetapi malunya itu ..gimana kalau malu banget. Apakah yang terjadi pada hari-hari kemudian? Apakah kita masih memiliki angan-angan yang melambung, ataukah justru menjadi hari-hari kelabu karena dia jadi membenci kita? Apakah nantinya akan ada mimpi yang tumbuh menjadi kenyataan ataukah menjadi derita dan kekosongan sepanjang usia. Ingat Fer, kataku pada diri sendiri, ini adalah cinta pertamamu. Gagalnya akan terasa sampai ke hati.

Ada hal lain yang sangat mengganggu. Dari penampakannya jelas-jelas dia seorang akhwat. Seorang yang memiliki pancaran cahaya Islam yang demikian kuat dan tidak bisa diajak menjalin ikatan kecuali nikah. Saya mendengar bahwa seorang akhwat akan sangat membenci adanya ikatan di luar pernikahan. Bisa jadi mereka juga membenci cinta kepada lawan jenis. Cinta adi luar nikah adalah bahasa tentang nafsu. Penyakit hati. Mereka begitu berhati-hati dan begitu waspada terhadap virus-virus hati ini. Mereka sungguh-sungguh kaum yang takut kepada Allah sehingga tidak dengan mudah berpacaran, diajak kencan, diajak keluar ataupun melakukan hal-hal yang itu melibatkan perasaan cinta. Bisa jadi, bahwa cinta adalah hal-hal yang mendekati zina.

Tetapi Demi Allah, aku sungguh-sungguh mencintainya. Cinta ini tulus, setulus beningnya embun pagi. Aku tidak sedang bernafsu dengannya. Aku sedang tidak ingin untuk menjauhi Allah dengan perasaanku ini. Aku tidak sedang ingin menanggalkan baju-baju keimananku. Aku tahu bahwa perasaanku ini tidak sedang berbohong tentang kekagumanku padanya. Dia seolah mutiara yang tercipta dari Allah untukku yang sedang tidak ingin aku rusakkan. Kalaupun dia memang harus menjadi seorang akhwat yang memang memandang ikatan di luar nikah adalah haram, apakah salah jika aku mencintainya? Aku bahkan sangat-sangat menerima jika dia ingin bebas, tapi apakah dia juga tidak pernah mengenal cinta dan mengerti perasaanku ini?

Tetapi…….

Apatah guna semua renunganku di atas. Perjumpaan kami terasa sangat singkat…karena hanya dua minggu setelah itu kami berpisah. Aku tidak sempat menanyakan di mana alamatnya. Dia juga tampaknya tidak sedang ingin mengetahui di mana alamatku. Pada perpisahan pemandu Opspek saya rasakan betapa mendalam berpisah dengannya..yang mungkin dia tidak tahu. Aku hanya sempat mencatat namanya: Novita.

Aku melanjutkan aktivitas seperti biasa. Sebulan setelah itu aku pindah kost. Mencoba mencari kehidupan yang berbeda yang mungkin bisa lebih mewarnai hari-hari. Mewarnai aktivitasku dengan kegiatan kemasjidan yang diadakan di kampung setempat. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kuketahui bahwa si dia, Novita, tercatat pula sebagai aktivis masjid setempat. Kami sama-sama terkejut mendapati diri kami berjumpa secara tidak terduga. Mungkin sudah jodoh…. Begitu perasaanku mengatakan. Allah memang Maha Baik.

Hari-hari begitu berubah. Apa yang selama ini diimpikan seolah-olah menjadi kenyataan. Ada banyak perubahan pada diri saya. Semula, saya merupakan orang yang sangat takut dalam berkomunikasi, ataupun bergaul dengan perempuan, tetapi dia mampu mengajarkan, tanpa menggurui, bagaimana berkomunikasi dengan perempuan. Bagaimana bahas tubuh, bagaimana sikap duduk, bagaimana begini begitunya.

Ada juga hal-hal yang selama ini saya benci menjadi saya sukai. Semisal, pada suatu hari tatkala ada acara pengajian anak, saya bertindak sebagai panitia acara. Tetapi Novita mengajak saya untuk mencuci gelas-gelas kotor sehabis acara selesai. Saat itu di dapur masjid, di bawa keran dia mengajakku membilas gelas-gelas.

“Ya..baiklah. sebenarnya saya tidak tertarik untuk mencuci gelas,”kataku.

“Kenapa?”, tanyanya heran.

“Yah, bukan bermaksud melecehkan, hanya saja ini kan pekerjaan perempuan. Kenapa tidak minta bantuan teman-teman putri yang lain,” tanyaku.

“Aku ingin kamu yang bantu aku,”katanya sambil tersenyum.

“Aku mau..melakukan pekerjaan perempuan,”kataku.

“Hei…,”sergahnya.”Kamu bilang mencuci gelas pekerjaan yang tidak menyenangkan?”

“Ya”

“Mau kalau kutunjukkan kalau mencuci gelas tu menyenangkan.”

“Mana bisa menyenangkan,”aku menantang.

“Ini….!!!!”Senyumya melambung sambil mencipratkan segenggam air cucian ke wajahku.

“Aduh, awas ya.!”kataku sambil membalas.

Kami saling tertawa, saling bercipratan, saling basah dan saling tertawa. Sat itu adalah saat yang layak untuk dikenang dimana aku merasakan betapa bahagianya mencintai. Betapa segalanya menjadi indah, manis. Semanis tebu. Novita memang pandai dalam menciptakan suasana menjadi indah.

Selama beberapa bulan aku mengetahu sifatnya dar a sampai z. Agak keras kepala, tetapi pandai dalam penyampaian. Pengangum orang-orang yang cerdas. Dan masih banyak lagi.

Suatu hari, malam hari di masjid Al-Hidayah. Kami ngobrol.

“Fer, aku mau cerita sesuatu,” katanya. Deg..deg…sepertinya ada sesuatu yang berkaitan dengan kami berdua.

“Apa…sih,”

“Begini, saat-saat ini aku kok merasa ada sesuatu yang membuat saya nggak tenang,”jawabnya. Deg..deg…

“ Kenapa?”tanyaku.

“Ehm …” dia menahan senyuman.

“Kenapa sih.? Pake senyum-senyum segala,”

“Kamu jangan terkejut ya!”

Deg…deg…

“Ada apa, non.”

“Aku …aku sedang memikirkan seseorang.”

Deg..jantungku ….

“Sama.”

Anganku melambung jauh. Akankah saat-saat ini adalah momentum yang kutunggu-tunggu untuk mengutarkan perasaanku. Saat ini bukankah dia begitu siap? Bukankah dia begitu sangat ingin untuk berbuka diri. Bukankah ini waktu yang sesuai dengan yang kau bayangkan Fer. Dia seolah berkata: Ayolah..jujurlah padaku. Ayolah Fer, jangan biarkan aku duluan yang bilang kepadamu. Kita sehati! Kita satu rasa. Kita punya impian yang sama. Mau kapan lagi?

Aku sudah memendam rasa ini sekian lama. Bunga ini sudah bersemi melebihi yang kubayangkan. Bunga cinta ini telah dipupuk, telah dirawat, telah di sirami dengan baik hingga berbuah. Akankah dia engkau biarkan layu bersama waktu bersama kepengecutanmu? Mau kapan lagi engkau raskan nikmatnya kecuali saat ini.

Maka dengan segenap keberanian yang aku susun. Dalam hati aku berkata: sekaranglah saatnya.

“Kamu mau mendengar sesuatu dariku?”kataku.

“Apa itu,”katanya menduga-duga.

“Ehm…”aku seolah hilang kata-kata. Hatiku berdegup kencang. Fer…ayolah… tidak ada waktu untuk menarik kembali kata-katamu. Kamu sudah setengah jalan. Ayolah…sudah basah. Untuk apa lagi dihentikan. Ayooooo…

“Aku…aku..”entah kenapa lidah ini kelu sekali. Bukankah kamu Cuma bilang..aku menyukaimu..itu saja. ITU SAJA. Kenapa mandeg dan berwajah demikian dungu. Kamu saat ini jika dipotret fer..sangat-sangat dungu. Mengapa harus terdiam beberapa menit. Mengapa? Bukankah detik-detik begitu berharga daripada melihat wajahmu yang tolol ini.

“Aku menyukaimu…”, akhirnya…. Akhirnya !!! akhirnya selesai sampai juga ke titik finish.Sedikit terasa lega di dada. Fer..selamat, kamu telah mendapatkan piala sebagai orang yang pernah mengucap cinta kepada seseorang. SELAMAT…tetapi..

Situasi mendadak dicekam keheningan. Suara-suara hening, semua tampak bergelut dengan jantung sendiri. Aku tidak berani menapat wajahnya. Entah gembira, entah benci, sedih atau apa. Ohhh..fer..apakah kamu sudah melakukan tindakan bodoh.

“Ehm…kamu suka saya. Tapi..maaf Fer, yang kumaksud sbenarnya bukan begitu. Kamu salah sangka. Aku bersikap padamu selama ini bukan untuk itu.”katanya dengan nada sedikit mendatar.

“Permisi ya”

Dia melangkah, dengan setiap langkah yang lembut yang masih terdengar di telinga. Dia melangkah pergi. Meninggalkan aku sendiri duduk di ruang tengah masjid. Wajahku, jantungku, perasaanku yang berkecamuk antara benci sendiri, takut, malu, tanda tanya: adakah dia sedang merenungkan perasaanku ataukah memang telah menolakku, ataukah karena dia akhwat yang sebenarnya memendam perasan yang sama tetapi takut untuk bersuara. Ruangan ini menjadi saksi ketakutanku yang meras tolol, bodoh, malu, tidak tahu diri, tidak berguna dan serba salah. Akankah aku bisa menyambut hari esok? Akankah aku bisa tidur malam ini. Akankah semuanya menjadi baik seperti biasa.

Sesobek kertas dengan tulisan jelas kutujukan kepada Novita.

Yts.

Novita

Assalamualaikum wr.wb.

Maaf atas peristiwa kemarin. Terus terang aku tidak paham apa jawabmu meninggalkanku. Sekalipun demikian aku juga tidak memaksamu menjawab. Aku sudah cukup puas dengan saat-saat itu, saat aku bisa jujur padamu. Terimakasih atas semua kebaikanmu.

Semoga kamu masih tetap seperti yang dulu, sebelum aku mengutarakan isi hatiku.

Wassal.wr.wb.

Feriawan

Hari berikutnya, saat pameran buku, aku bertemu lagi dengan Novika. Perasaaanku lagi-lagi berguncang hebat. Ada apa nih. Dia menungguku di luar ruang pameran.

“Fer, harap kamu ketahui bahwa aku selama ini hanya bersikap biasa saja kepadamu. Tidak ada maksud lain.”

“Saya tahu, saya hanya mengutarakan perasaan saya.”

“Kamu..mungkin kamu belum faham bahwa apa yang kumaksudkan kemarin bukan kamu. Jujur saja, kamu bukan tipeku. Maaf kalau ini terlalu kasar, tetapi agar kamu bisa mengerti bahwa memang begitulah adanya.”

PRAKKK, keringat mengucur deras, jantung berdegup kencang, perasaan kalah, arogan dan kesal, dendam dan sakit hari bercampur jadi satu. Apa salah dan kekurangan saya sehingga ditolak? Apa yang menjadikan saya tidak bisa diterimanya? Bukankah selama ini kita saling cocok dan saling bersahabat mesra dengan baik?

Dia telah meninggalkanku.

Mengapa kita harus berjumpa, kalau akhirnya harus berpisah. Sungguh syair-syari cengeng itu menjadi sangat merasuki jiwa lebih mendalam dibandingkan dengan dahulu ketika aku belum mengenal cinta. Semuanya menjadi beku. Dalam sebulan berat tubuhku susut dari 60 kilogram menjadi 57 kilogram. Wajah acak-acakan, tidak terurus, dan sungguh aku tahu bahwa selama ini aku terlalu GR. Gede rasa. Salah sangka. Dasar Feriawan…aku benci dirimu !!!!

Betapa perasaan kalah ini terbawa dalam setiap lagu-lagu yang ku nyanyikan, puisi yang ku ciptakan, senandung yang kulantunkan sampai dengan cerita-cerita yang kupilih untuk mengobati kekecewaan saya. Baru sekali kuutarakan cinta, baru sekali pula ini langsung ditolak. KO telak…

Perasaan sakit hati ini tidak terobati selama empat tahun. Sungguh waktu yang lama untuk menjadikan hati ini menjadi tenang. Sungguh betapa sulit untuk mencoba membangkitkan rasa yang sama pada orang lain. Tiada perempuan seindah dia, tiada wanita sesempurna dia apa adanya. Tidak ada yang bisa menggantikan dia. Tidak ada yang bisa menyamai suasana yang diciptakannya. Tidak ada yang menyetarai dia. Semua perempuan yang melangkah di depanku…semuanya tidak menarik.

Sekali waktu kami masih saling bertemu. Ada waktu-waktu dimana pas kegiatan TPA, kegiatan kerohanian dan keorganisasian yang lain kami masih saling bertemu. Entah mengapa aku agak membencinya, mungkin karena penolakan itu. Rasa benci yang bermula dari tidak berharganya diri ini dihadapannya. Seolah diri ini telah tertendang jauh. Jauuuuh sekali. Tetapi rasa benci ini tidak bisa jauh-jauh terekspresikan kecuali hanya menghindar-dan menghindar layaknya seorang pengecut menemukan orang yang tengah memergoki kebodohannya.

Memang ada yang berbeda dari sikapnya, ada batas, ada jarak, ada yang membuat aku dan dia terpisahkan. Dan mungkin karena memang harus begitu.

Sebenarnya, dalam tempo empat tahun itu kami pernah sama sekali tidak bertemu selama setahun. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Jama’ah Shalahuddin. Berorganisasi di BEM Fisipol UGM dan semua-mua yang bisa menghanyutkan aku dalam aktifitas kemahasiswaan. Hingga suatu saat badai krisis menghantam yang membuat orang tua tidak mampu lagi membiayai kuliah dan kehidupanku. Aku dipaksakan untuk mandiri secara dini. Sungguh mati aku belum pernah mengalami saat untuk mencari uang sendiri. Cari uang dari mana?

Entah kenapa Novita bertemu dan memberikan solusi. Dia mengajakku untuk bekerja paruh waktu di tetangga dekat rumah. Bu Mus, seorang pembuat roti membutuhkan tenaga kerja yang mau membantu mengolah adonan dan mendistribusikan roti ke sekolah-sekolah terdekat. Kebetulan saja Novita menjadi karyawan paruh waktunya.

Saat itu, benih-benih cinta yang hampir terkubur mendadak muncul kembali. Seolah penolakannya yang dahulu akan dia ralat. Sampai detik itu saya pikir saya akan kembali bersatu dengannya, ataupun barangkali dia telah berubah pikiran.

Ahhh, yang saya dapati justru sebaliknya: dia telah menjalin hubungan dengan ikhwan tetangga, sahabat karib saya sendiri. Pengakuan itu aku dapati ketika sama-sama mengobrol tentang kehidupan masing-masing.

Pada suatu hari kedapatan cerita dengan Mas Parman, teman sekerja yang lain. Mas Parman tidak sengaja melihat Novita yang ternyata cukup ceroboh mengenakan jilbab, sehingga auratnya (tepatnya rambutnya) terlihat. Ternyata rambutnya keriting. Aku agak tidak percaya dan agak risih mendengar aurat wanita diobrolkan.

Tetapi suatu hari ada seuntai rambut tercampur dengan adonan roti yang hendak aku kaliskan. Ketika kuamat-amati, rambut itu sepanjang 50 cm-an. Dan keriting. Rata-rata rambut kami di sini hanya sepanjang 10 cm. Rambut Bu Mus yang tidak memakai jilbab, pun hanya memiliki untaian rambut sepanjang 30 cm-an. Sementara anak perempuannya, SMP dan belum berjilbab, sangat jarang melangkahkan kaki ke dapur. Kalaupun pernah, rambutnya tidak sekeriting ini, cenderung lurus. Maka…kesimpulannya: ini adalah rambut Novita.

Ajaib !!!! Saat itu juga perasaan yang selama ini menggebu-gebu, perasaan yang selama ini menghantui, perasaan yang selama ini perduli, sayang, cinta dan sejuta pengorbanan dan kekalahan karena penolakan…..sungguh ajaib…langsung hilang, sirna, musnah entah ke mana. Ajaib dan sangat-sangat memalukan. Sungguh bodohnya aku selama ini mencintai Novita. Sungguh ironinya aku selama ini hidup dalam bayang-bayang kecantikannya karena membayangkan dia bagaikan si Maudy Koesnaidi dalam iklan sampoo yang membiarkan rambutnya yang lurus, terjuntai dipermainkan angin. Aku seolah melihat wajahnya yang mirip Maudy tetapi berambut a la Edi Brokoli. Ah, Feriawan. Ternyata selama ini cintamu adalah cinta pinggiran. Cinta yang tumbuh untuk menyukai seseorang karena fisiknya semata. Sungguh bodohnya aku selama ini, empat tahun menanti dan menangisi kegagalan cinta dan sekarang harus mendapati kenyataan bahwa semua yang kulakukan itu harus sia-sia, hanya karena rambut keriting. Hanya karena keriting cinta melayang. Dan memang benar, karena ada seuntai rambut keriting yang tertinggal di karpet ruang kerja.

kami semua yang bekerja di sini berambut lurus. Memang ada pria yang keriting, tetapi panjang rambutnya tak lebih dari sepuluh senti. Sementara hanya dia yang berjilbab, dan kemungkinan rambutnya panjang ada.

Betapa rendahnya cintaku.betapa sangat rendahnya kadar pengetahuan ku tentang cinta. Betapa memang diri ini hanya dikuasai oleh nafsu belaka. Aku terlalu tertipu oleh bayang-bayang ilusi tentang kecantikannya. Mana rasa sayang karena sikapnya? Mana rasa kasih karena perhatiannya? Mana rasa pengorbanan karena perhatiannya? Semua itu seolah hilang karena mengetahui rambutnya yang keriting. Feri…feri.. betapa menyedihkannya dirimu. Betapa menggelikannya kisahmu ini.

Ahh..aku sungguh shock dengan peristiwa bodoh ini. Sungguh Allah Maha mengetahui dan maha penyayang kepadaku. Coba seandainya Novita menerima hatiku, lalu menikah, dan lalu kudapati pada malam pertama dia membuka kerudung, dan ternyata….keriting, apakah kenyataan ini tidak menyakitkan dia? Apakah kemudian pernikahan batal hanya gara-gara masalah rambut? Apakah kemudian hari-hari dijalani dengan rasa hambar hanya karena masalah rambut? Apakah dia harus merebonding gara-gara itu? Tidak..tidak!!! Tidak. Untung saja semua itu belum terjadi.

Sejak saat itu, mulailah aku melakukan revisi ulang tentang cinta. Aku, tahu bahwa cinta tidak sekedar melihat dan membayangkan kecantikan, keangguna dan persona fisik saja, tetapi juga penerimaan hati. Aku tahu, cinta yang lebih kuat landasannya dan juga kesejatiannya, yang relatif abadi daripada sekadar syahwat dan ilusi fisik belaka bukanlah cinta yang didasari oleh kekaguman terhadap fisik, apalagi imaninasi konyol tentang rambut. Aku mulai merubah image bahwa aku bisa mencintai orang tidak perduli apakah dia keriting, oval, berintik, botak, brodhol , jabrik, metal atau gundul sekalipun, aku tidak akan melihat fisik sekalipun dia pendek, gendut, buntek, hitam, cacat, anomali atau apalah…Saya tahu kalau semua itu ilusi. Aku harus mendapati hati yang suci, hati yang bisa berbagi dan bercinta dengan aku. Sifat yang sesuai, kharisma yang bersahaja, suara yang menyejukkan dan getar-getar ilahi dari setiap langkah yang dia titi. Aku tahu….itu pasti saya dapatkan.

Aku harus menutup kisah ini dengan tertawa sepuas-puasnya, betapa Allah Maha Baik.

Riwayat penolakan saya kedua, adalah dengan seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Ada cerita mengapa konteks keilmuannya, Psikologi, saya tonjolkan. Semenjak gagalnya kisah cinta pertama, saya semakin tertarik untuk mempelajari Psikologi. Aku merasakan bahwa ada yang salah dengan diriku, dengan psikologikum dengan penilaianku kepada seseorang yang hanya didasarkan kepada standar fisik. Aku harus menyibak diri seseorang berdasrkan pengetahuan tentang psikologi, pengetahuan tentang jiwa, tentang segala sesuatu yang melingkupi diri seseorang. Mencintai pribadi seseorang, adalah cinta yang relatif abadi daripada mencintai dari sisi fisik saja yang dibatasi oleh waktu yang singkat. Padahal, pengetahuan psikologi yang kumiliki masih sangat jauh dari memadai.

Dengan dasar alasan untuk mengetahui psikologi, maka kedekatanku dengan mereka-mereka yang berstudi di Psikologi harus diintensifkan. Mereka-mereka itu, dalam pandanganku adalah orang-orang yang bisa membimbing saya dalam memahami cinta. Kebetulan juga, karena di fakultas tersebut cukup banyak perempuan, maka siapa tahu…he..he..he..

Singkat cerita, aku bertemu dengan salah seorang akhwat dari fakultas Psikologi. Dalam imajiku, seorang akhwat dari fakultas ini adalah seorang akhwat yang dewasa. Betapa tidak? Tentunya, dia akan belajar tentang manusia mulai dari lahir sampai dengan tua. Belajar tentang bagaimana bersikap, bertindak, berbahasa sampai dengan setiap gerak yang dia miliki berkesesuaian dengan orang lain. Dari sanalah aku akan bisa belajar banyak untuk menjadi orang yang memahami cinta, memahami tentang lawan jenis, memahami tentang bagaimana menyembuhkan diri sendiri yang terluka karena cinta.

Neni. Dialah perempuan muslimah psikologi yang pertama kukenal. 2 tahun lebih muda dari saya. Wajah melankolis, tinggi, putih, suku Ngapak (Banyumas), kalau dia berbicara akan terasa suasana ramai. Dia termasuk akhwat favorit: banyak didambakan oleh laki-laki. Konon sudah menolak banyak lamaran ikhwan. Dia aktif di berbagai gerakan dakwah. Sip lah pokoknya.

Pertemuan kami tidak sengaja. Dia kebetulan menjadi salah satu staf bidang kaderisasi di Jama’ah Shalahuddin. Saat itu, wajah dia sedang murung karena payahnya kinerja kaderisasi. Mungkin begitu…karena sesungguhnya saya tidak begitu dekat dengan orang-orang dari departemen kaderisasi. Saat pertama kali kutemui di bangku JS (Jama’ah Shalahuddin), wajahnya sedang ingin berbagi.

“Mbak Neni?” sapaku.

“Ya.”

“Sibuk ya?”

“Iya.”

“Gimana rapat koordinasinya? Jadi ga?”

“Aduh..gimana ya. Pokoknya rumit deh..?”

Nampaknya dia sedang tidak ingin bercerita. Barangkali karena kami memang jarang berbincang-bincang. Tetapi saya sangat yakin bahwa dia sedang ingin berbagi. Hanya, sepengetahuanku perempuan tidak mudah untuk berbagi dengan siapapun kecuali mereka yang sudah dikenalnya dengan baik.

“Sepengetahuan saya. Bidangnya mBak Neni merupakan bidang yang dikeluhkan oleh banyak pengurus. Karena dengar-dengar harapan mereka terhadap kader sangat tinggi. Sementara, tidak banyak kader yang diraih. Gitu?”

Dia sedikit mencerna kata-kata saya.

“Ya…sebenarnya tidak terlalu sih. Hanya saja saya jenuh, Bidang kami cari kader, tetapi jika sudah didapat memang tidak mudah untuk dimasukkan ke bidang-bidang lain. Makanya, banyak kader keluar. Yang masalah ruhiyah lah, yang masalah tidak tahu banyak lah, yang tidak pernah diajak koordinasi lah.”

Nah..betul kan? Akhirnya pancingan saya berhasil. Saya mengangguk-angguk. Sebenarnya pendapat saya tadi sangat spekulatif karena…ya Cuma menerka saja. Saya Cuma diam sejenak, karena menurut saya, pada menit berikutnya dia akan menanyakan pendapat saya.

“Kalau menurut Mas…maaf..”dia mencoba mengingat sebuah nama.

“Mas Feri. Iya kan?”,tanyanya memastikan.

“Iya..saya Feri,”jawab saya sambil melemparkan senyum.

“Kalau menurut mas Feri apakah itu adil…Betapa bidang saya harus kerja begini..begitu..” katanya. Perbincangan selanjutnya tidak begitu menarik untuk aku ceritakan. Yang jelas, awal itu adalah awal bagi aku dan dia untuk bisa memasuki sekian banyak perbincangan, sekian banyak diskusi untuk saling dekat.

Namanya juga anak Psikologi. Maka, saya menjadi kelinci percobaan dari sekian kerja praktek dia.Yang ikut tes IQ lah, tes tinta tumpah lah, tes interpertasi gambar lah. Sedemikian pula aku menanyakan perihal tentang psikologi manusia. Beberapa buku-buku yang berkaitan dengan psikologi aku baca dan aku diskusikan jika ada hal-hal yang kemungkinan tidak kufahami.

Banyak pengalaman kudapatkan dari perkenalan dengan Neni. Betapa cara orang untuk berkomunikasi dengan sesama ataupun lawan jenis harus memperhatikan banyak hal. Neni menuturkan, bahwa yang terutama sekali harus di miliki seseorang untuk mampu berkomunikasi dengan orang lain adalah bagaimana menciptakan kesan, khususnya kesan pertama. Bukan karena iklan yang menyatakan bahwa: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda…tetapi karena memang momentum pertama kita bersentuhan dengan orang lain adalah momentum yang tidak pernah terulang dan banyak kemungkinan tidak terlupakan.

Pada menit pertama seseorang akan memperhatikan penampilan: bagaimana wajahnya, bagaimana pakaiannya, serasi ataukah tidak, bagaimana cara berjalan, sudut mana dari sesosok manusia ini yang pertama kali menonjol dan berkesan keras di hati. Kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dan berkenalan dengan seseorang, untuk itulah perlunya setiap saat berpenampilan yang baik. Intinya, semua ini sangat melibatkan indera pengelihatan.

Pada menit ke dua, barangkali lima menit kedua, seseorang akan memperhatikan kata-kata, diksi yang dipilih, ataupun kalimat apa yang terlontar dari mulutnya: perkenalankah? Canda kah? Atau permintaan dan lain sebagainya. Butuh keberanian untuk melontarkan kata-kata yang bersahabat. Karena, begitu grogi, canggung, ataupun terlalu protektif, akan membuat kalimat yang diucapkan tidak mengalir lancar. Bersyukur jika lawan bicara kita merupakan seseorang yang cool,grapyak, supel ataupun bisa mengerti. Orang yang demikian akan bisa memelihara kelemahan kita seolan-olah tidak ada sesuatu yang mengganggu. Dia seolah memberikan energi, kesempatan ataupun kepercayaan diri kita untuk bisa menata sikap dengan baik, dan kitalah yang nantinya akan terbimbing olehnya.Tetapi sialnya jika orang yang kita ajak bicara merupakan orang yang biasa saja, atau bahkan lebih sulit, maka sikap grogi kita akan merupakan awal yang tidak menyenangkan bagi pembicaraan selanjutnya. Jadi, pada menit ke dua adalah menit milik indera pendengaran.

Pada babak selanjutnya adalah interaksi batiniah dan pikiran. Masing-masing dari kita akan menyusun dan mengidentifikasi tentang sifat-sifat lawan bicara, kecerdasan, tidak tanduk sampai dengan kebiasaan-kebiasaannya. Dalam hal ini, yang perlu dipelajari baik-baik adalah bahasa tubuh, baik bahasa tubuh kita atupun bahasa tubuh lawan. Bahasa tubuh bisa diartikan sebagai gerak ataupun posisi tangan, badan, kerut wajah, sorot mata dan setiap perubahan fisik yang menyertai kata-kata yang terlontar baik disadari maupun tidak. Misalkan saja, mata yang tidak memandang lawan bicara akan menciptakan kesan tidak perhatian, posisi tubuh yang menghadap disertai dagu yang agak dimanjukan menandakan perhatian terhadap lawan bicara.

Neni memberikan banyak pertimbangan tentang cara-cara bergaul yang baik. Neni mempengaruhi perubahan sikapku dalam bergaul. Bersamanya, aku bisa merasakan persahabatan. Bersamanya, aku menjadi orang yang tidak egois. Tidak lagi selalu berkata:…aku itu….aku itu….aku itu…..(sebuah ciri bahwa seseorang sangat egois dan membosankan). Perlahan namun pasti banyak teman yang kudapatkan. Kata-kataku tidak lagi menyinggung perasaan orang.

Neni merepresentasikan anak psikologi yang sempurnya. Sungguh, dalam pikiran saya, anak psikologi tentunya akan menjadi orang yang paling berbahagia karena tahu bagaimana menyenangkan orang lain.

Persahabatan saya dengan Neni menciptakan kesan yang mendalam. Dia telah membuat hidup saya begitu ceria dan berubah menjadi cerah. Maka, rasa cinta yang kedua seolah terlahir kembali.

Pada dasarnya Neni merupakan orang yang keras dalam pendirian. Dia juga cenderung suka berkonflik. Kami biasa bertengkar dalam banyak hal. Akan tetapi kami sama-sama menyadari bahwa pertengkaran di sini bukanlah pertengkaran yang melibatkan kebencian. Sebuah pertengkaran yang lahir karena kemesraan. Pertengkaran yang seolah menjadi bagian cara kami sama-sama saling berkomunikasi. Apa saja bisa menjadi bahan pertengkaran yang menarik: masalah warna baju, selera makan, sampai dengan politik dan agama.

Banyak teman-teman yang melihat kami ini aneh: bertengkar tetapi selalu dekat. Banyak pula yang menggoda kami untuk menjalin ikatan serius. Hanya saja, lebih banyak yang setuju jika hubungan kami dilanjutkan lebih serius. Bagaimana bisa berlanjut, orang setiap hari jika ketemu isinya hanya berkelahi melulu. Apatah keluarga yang kami ciptakan nanti.
Tetapi, hati ini tidak bisa mengingkari bahwa aku menyukai hubungan yang unik ini. Aku tidak bisa mengelak bahwa dia keunikan-keunikan hubungan dan komunikasi kami justru terasa sangat menyenangkan. Berdebat, saling menyentil perasaan……(bersambung)

BAB II

KAU TOLAK CINTAKU DENGAN BASMALAH II

(MENJADI MUJAHID CINTA, BERJIHAD LEWAT ASMARA, SYAHID KALA CINTA BINASA)

……Berdebat, saling menyentil perasaan, saling berbantahan dan lain sebagainya.

Banyak saran-saran yang dia tujukan kepada kelakuan saya. Yang paling menonjol adalah ketidaksukaannya kepada saya yang menatap lawan jenis tanpa ada batasan. Semestinya, dalam pandangannya, seorang lelaki dalam memandang lawan jenisnya harus memperhatikan etika dan adab, khususnya agama. Semestinya seseorang lawan jenis membiasakan diri untuk goddul bashar (menundukkan pandangan) sehingga terjaga hatinya dari zina mata. Konon, setan akan mudah masuk dan merasuk ketika lawan jenis saling bertatapan.

Konsep goddul bashar yang dia utarakan, barangkali, masih teramat susah untuk dilakukan. Harus kuakui bahwa mata menjadi pintu dari segala dosa-dosa yang berkaitan dengan zina. Tergoda, terangsang, terkesima, takjub dan lain sebagainya terhadap lawan jenis, semua itu berawal dari tatapan mata. Akan tetapi menundukkan pandangan? Bukankah aneh jika dalam hidup kita harus terus-terusan menunduk terhadap lawan jenis. Di luar sana, ada beribu perempuan menampakkan wajahnya, ada beratur perempuan tanpa malu –malu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnnya, ada berpuluh-puluh perempuan memperlihatkan pusar, pinggang dan pundaknya, ada juga yang menggunakan busana tipis yang memaksa kita menduga-duga apa yang tersembunyi di baik kain yang merawang itu. Semua itu merupakan cara setan untuk masuk dalam imajinasi dan fantasi seksual kita.

Lalu, adakah ruang bagi kita untuk menundukkan pandangan? Sementara pusat perbelanjaan, kampus sampai dengan tempat ibadah beraroma syahwat? Ini sungguh tidak adil. Apakah tidak lebih baik jika kita menerima keadaan ini sambil istighfar?

Menurut Neni, perempuan menutup aurat bukan karena keinginan perempuan untuk melindungi dirinya dari godaan sekitar. Fitrahnya, seorang perempuan adalah berhias dan tampil cantik, menampakkan keindahannya dan merangsang orang lain untuk memuji dan merayunya. Akan tetapi agama menetapkan aurat atas perempuan guna melindungi laki-laki. Perempuan memakai jilbab karena kasihan kepada laki-laki yang ternyata sangat rapuh terhadap penampilan fisik.

Tentang rapuhnya laki-laki, barangkali saya masih bisa menerima. Akan tetapi tentang aurat yang dikatakan menutupi ruang masuknya godaan setan ke mata laki-laki, aku protas keras. Mengapa? Bayangkan dengan jelas: aurat hanyalah kain yang menutup tubuh perempuan kecuali bagian-bagian yang nampak, berupa wajah dan telapak tangan. Bukankah banyak orang lain yang jatuh cinta gara-gara bibir seksi seseorang, ataupun alis mata, ataupun pipi yang merah ranum, ataupun alis mata yang menggoda? Haruskah konsepsi aurat berubah menjadi seluruh wajah. Berapa banyak pria yang tergoda karena suara seksi seseorang, merdu, mendayu-dayu, mendesah? Haruskah bibir perempuan tersebut di-staples, dijahit ataupun dilarang bicara dengan laki-laki? Atau suaranya di-galak-galakkan? Atau mungkin seseorang yang tergoda karena jari-jari lentik perempuan yang keluar dari renda-renda kain penutup lengannya. Akankah dia harus memakai kaos tangan?

Ini sungguh tidak logis dan mempersulit! Kenapa aurat cukup difahami sebagai kewajiban ataupun perintah Allah kepada manusia. Itu saja. Sungguh jika standarnya adalah naluri syahwat manusia, maka konsepsi aurat akan menjadi pandangan a la Islam liberal. Saya tidak setuju.

Bagaimanapun, saran dia agar saya berusaha menundukkan pandangan dapat saya terima sebagai penjagaan diri dan moral seseorang. Tidak harus sempurna, tetapi juga tidak berarti menerima keadaan masyarakat yang amoral sebagai sesuatu yang serba dimaklumi.

Sejuta perdebatan, sejuta rasa tercipta. Maka kutetapkan bahwa Neni adalah pribadi yang bisa melengkapi diri ini. Aku mulai berimajinasi untuk bisa menjadi suaminya. Menjadi orang yang melindunginya. Sudah dua tahun lebih kami saling mengenal. Paling tidak setahun lagi kuperkirakan masa studi kami berdua akan berakhir. Apakah salah jika kami saling mengikat janji untuk bisa menjadi suami istri satu sama lain. Bukankah dia sudah mengenal aku dan menerimaku? Bukankah aku sudah mengenal dia dalam banyak hal? Adakah kemungkinan ditolak lagi? Rasanya tidak. Ada banyak kemesraan tercipta pada hubungan-hubungan kami yang unik.

Malam itu (entah tanggal berapa aku lupa) kubulatkan tekad untuk mengutarakan isi hatiku. Aku sudah membuat janji untuk ketemu neni di kosnya. Segalanya sudah rapi: baju, potongan rambut, kalimat-kalimat yang akan diucapkan, semuanya sudah sempurna.

Wahai annisa….

Seorang mujahid cinta akan datang ke istanamu dan mengutarakan isi hatinya. Malam ini begitu indah…

Selaksa bintang-bintang berkedipan untuk menjadi saksi ikatan kita. Jalan-jalan yang terlalui adalah jalan-jalan yang memberikan sorak sorai seorang mujahid cinta…

Sekarang tidak ada lagi keraguan. Setiap langkah meninggalkan jejak yang jelas berirama satu-dua. Wajah dengan dagu yang terangkat. Pundak yang menegang, dada yang terbusung.

Sekarang…atau tidak sama sekali.

Menunggu….

Ssudah seperempat jam terbuang dengan kegelisahan di serambi depan kos-kosan yang diterangi bola lampu 15 watt. Cukup remang-remang bila dibandingkan dengan serambi seluas 10 x 15 meter. Dia muncul dengan senyuman yang tersungging seperti biasanya.

“Maaf, ya,”sapanya.

“Ga papa. Lagi ngapain sih?”tanyaku.

“Nglempiti cucian. Kan sayang kalo nglumbruk di kamar. Jadi harus dirapikan dulu.”

“Oooh..”

“Gimana skripsinya”

“Yah….begitulah”

Baik? Begitukah?

Banyak orang secara enteng menanyakan kabar tentang skripsi kawannya atau orang lain tanpa perasaan canggung, tanpa basa-basi. Seolah-olah itu adalah bahasa keakraban. Untuk mereka-mereka yang masih berusia smester muda, barangkali akan menunggu pertanyaan demikian. Akan tetapi bagi mereka yang sudah usia kuliahnya bersmester tua, hampir dipastikan pertanyaan ini sangat menyayat hati. Hampir 80 persen orang ketika ditanya skipsinya akan memiliki ganjalan luarbiasa, seolah-olah badai besar sedang melibas habis dan memporak-porandakan ruang-ruang hati.

Banyak mahasiswa tua, mereka dengan mudah menyelesaikan kuliah dan hanya menyisakan tugas akhir ataupun skripsi. Akan tetapi kendala-kendala yang menghadang membuat orang begitu gamang menyelesaikan skripsi. Kegamangan itu berawal dari kemampetan ide yang harus dituangkan dalam selembar kertas, sulitnya bertemu dosen, dan kendala psikologis dalam melangkah ke kampus.

Seseorang bisa mampet idenya dalam mengerjakan skripsi karena beban luar biasa berat bergelanjut di kepala. Sekalipun 24 jam dia berhadapan dengan komputer, akan tetapi tidak ada satu jari pun yang mampu menggerakkan tuts-tuts keyboard sehingga mengalir bahasa-bahasa ilmiah yang cerdas. Sekalipun 24 jam sehari dia melangkah ke perpusatakaan, tetapi terkadang tidak ada satu ilham pun masuk ke kepala.

Bisa jadi, seseorang menjadi gamang dalam menyelesaikan skripsi karena beratnya beban psikologis yang ada di kehidupannya.Di rumah ataupun kampung halamannya, sang mahasiswa tua dimarahi dan didesak orang tua, di kampus tidak ada lagi teman-teman seangkatan. Jika bertemu adik-adik angkatan, selalu melontarkan pertanyaan yang sangat menyakitkan: Hai, kakak. Sudah selesai? Sekarang kerja di mana?

Sementara, sudah banyak adik-adik angkatannya yang diwisuda. Mau dikemanakan wajah ini.

Dan..lagi-lagi..di sini ditanyakan tentang skripsi. Ahhh…

Setelah seperempat jam berlalu dengan basa-basi, saatnya tiba.

“Mas Feri. Hari ini rapi sekali. Ada apa nih?”

Ada sedikit jeda. Jelas ini adalah saat-saat kritis dimana semua bahasa dan fokus harus dipusatkan.

“Sengaja.”

“Sengaja kenapa?”

“Ingin ngomong sesuatu sama kamu.”

“Ngomong apa”

“Ngomong tentang rencanaku.”

“Rencana Mas Fer?”

“Iya.”

“Apa itu?”

“Begini. Saya berharap satu tahun lagi lulus. Kemudian, setelah itu saya coba mereka-reka tentang kehidupan setelah itu. Kamu tahu setelah itu mau ngapain?”

“Ya…kerja.”

“Terus?”

“Nikah.”

“Terus.”

“Kok terus-terus. Memangnya mau apa lagi,”senyumnya mengembang. Dia tahu saya sedang hendak mencairkan suasana.

“Nah itulah. Makanya saya datang ke sini.”

“Kenapa?”

“Saya rasa saya sudah menemukan siapa yang ingin saya jadikan isri saya.”

“Oooh…itu,”wajahnya menandakan dia sudah mulai paham. Tetapi suasananya tidak seperti yang kuharapkan. Ada perasaan tidak enak untuk melanjutkan perbincangan ini. Tetapi..apa lacur.

“Intinya itu. Saya bermaksud mengutarakan isi hati saya.Kalau Mbak Neni menerima, saya bermaksud untuk menjadikan Mbak Neni sebagai istri saya kelak.”

Deg..deg…deg..

Tidak ada lagi yang bisa kudengar kecuali suara jantungku sendiri. Meski sikap tubuh dan wajahku masih bisa kuatasi supaya tidak nampak memalukan, tetapi keheningan yang hampir lima menit menyelimuti kami berdua membuat semuanya jadi tampak menekan nafas yang keluar dari paru-paru ini.

“Ehm..”, aku mendehem untuk menetralisir keadaan. Wajah dan pandangan Neni mulai menunjukkan bahwa dia akan memulai alur pembicaraan. Aku menunggu kata-kata yang meluncur dari bibirnya.

“Boleh saya bertanya?” Neni bicara.

“Ya.”

“Sejauh mana Mas Fer mempersiapkan masa depan.”

“Maksudnya?”

“Visi apa yang hendak Mas Fer bangun. Dalam berkeluarga tentunya bukan sekedar Mas Fer suka sama saya, kemudian kita menikah. Yang penting adalah: lalu apa setelah itu…”

“Ya..ya..saya tidak begitu tahu. Bukankah itu bisa kita bicarakan pada saat kita sudah bersepakat? Bukankah itu adalah fase di mana kita saling merencakan masa depan ketika semuanya sudah relatif bisa di tebak. Ya, mungkin yang utama bagi saya sekarang ini adalah saya mengutarakan maksud saya ini kepada Mbak Heni. bagaimana jawaban dari Mbak Heni, itulah yang barangkali menjadi pikiran saya.”

“Mas Fer. Saya merasa Mas Fer terlalu dini dalam mengutarakan maksud. Bukankah saat ini konsentrasi Mas Fer adalah pada skripsi. Tentang keluarga, saya melihat Mas Feri tidak begitu matang berecana.”

Aku merasakan pembicaraan ini semakin kaku. Aku mati-matian berusaha menahan debat dan egoisme yang meledak-ledak di dada. Melawan perasan, bagiku adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah saat yang tepat untuk mengujinya, yaitu di hadapan orang yang dicintai.

“Saya tahu saya tidak begitu sempurna merencanakan ini. Tetapi..beginilah saya adanya. Saya membutuhkan orang yang mendampingi saya di kemudian hari. Jadi, kalo boleh, saya minta jawaban terhadap perasaan saya ini.”

Wajah Neni masih datar. Perasaan bodohku kambuh.Apakah aku telah salah selama ini. Bukankah selama ini dia begitu mesra dan cocok padaku? Bukankah perhatiannya dalam mendiskusikan banyak hal kepadaku menandakan kemampuannya untuk menerimaku? Bukankah aku tidak sedang Ge-er?

Tetapi saat ini situasi hatiku penuh dengan keragu-raguan. Serasa aku harus menanggung malu untuk ke dua kali. Apakah memang ternyata selama ini aku Cuma Ge-er? Akankah semua perhatiannya adalah perhatian milik semua orang? Ataukah memang aku sedang diliputi perasaan sejuta kebodohan dan ketololan sehingga mau-maunya menyatakan cinta kepada orang yang selalu berkonflik kepadaku. Ah……..sial.

“Saya tidak bisa menerima mas Feri.”

BLARRR…..

Hati yang damai,berubah menjadi hujan badai.
Petir menggelegar disertai gemuruh yang memekakkan.
Terburai…
Tercabik-cabik…
RONTOK

Sang Mujahid cinta jatuh terkapar bersimbah malu…
Pulang dengan bunga layu…
Wajah kuyu…
Ora iso ngguyu
Amarga….
Ora payu..

“Ya.”

Dengan perasaan dikuat-kuatkan saya berusaha untuk tegar.

“Saya terima kok. Mbak Heni berhak untuk itu.”

“Maaf”

“Kalau boleh saya tahu. Kenapa Mbak menolak saya.”

“Tidak ada.”

…….

…….

..(kosong)

“Baiklah. Saya sudah menyampaikan isi hati saya. Sekarang saya pulang.”

Aku berdiri dan mencoba menyusun langkah demi langkah untuk menuju pintu pagar. Motor pinjaman itu terasa jauhhhh sekali. Langkah kaki ini serasa dibebani berton-ton baja. Kenapa jadi begini?

“Mas Feri.”

Suara Neni kembali menahan langkahku. Jantungku berdegup kencang.

“Ya.”

“Saya menolak Mas Feri karena Mas Feri tidak Dewasa.”

Sudah Jatuh tertimpa tangga

Apakah ini derita sang mujahid cinta yang kalah?

Hatimu yang terburai kembali diiris-iris, dirajang, diberi garam, cuka, diacak-acak kemudian dilumatkan dalam roda penggilingan yang mencabik setiap serat-serat yang tersusun di dalamnya.

Pahit, kecut,pedas dan serba nelangsa…

“Oooh.”

Wajah Neni dihiasi senyuman puas. Perasaanku bahkan mengatakan senyuman ini sinis.Aku membalas senyuman itu dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Tegar meski hati momrot.

“Terima kasih. Saya akan berusaha menjadi dewasa.”

Detik berikutnya menjadi suara nafas-nafas yang seolah mendekati kematian. Menyakitkan.

“Assalamualaikum,” sapaku terakhir.

Malam itu, dalam kamar. Kemarahan disertai keangkuhan bergelora sendiri.

Sungguh konyol ! Saat aku ngomong suka sama dia, bukan Cuma ditolak, tetapi juga dikatakan tidak dewasa. Menyakitkan. Menyedihkan. Kamu menjadi pecundang yang memalukan Fer. Dipecundangi luar dalam.

Saat itu, agaknya, saya sudah mulai terlatih untuk ditolak sehingga meskipun kecewa, saya dengan cepat sadar bahwa ada Allah yang akan mengatur segalanya. Hanya seminggu waktu yang dibuthkan untuk menata perasaanku. Semuanya cepat kembali seperti semula.

Sejak saat itu pula saya banyak mencari dan menggali berbagai pemikiran dan arti kedewasaan. Memang sungguh memalukan dan sungguh apa yang dia katakan, sesungguhnya saya jauh dari kata DEWASA. Berbagai referensi yang saya baca menunjukkan bahwa orang yang dewasa adalah orang yang bisa mendengarkan orang lain: bahasa lisan, bahasa tubuh, latar belakang sampai dengan pola pikir orang lain. Dewasa juga berarti bisa menempatkan diri dalam situasi yagn tepat: mencari suasana yang sesuai untuk berbicara, memberikan sesuatu yang sesuai untuk berkomunikasi, pemilihan kata, pemilihan pakaian, bahasa tubuh dan semuanya. Dewasa juga berarti kemampuan diri untuk bertindak yagn sesuai kepada orang lain: bertindak tepat tanpa disuruh, bersikap tepat, membawa diri dengan tepat, sampai dengan introspeksi, latihan-latihan dan juga pembelajaran dari orang lain, pengakuan-pengakuan kekurangan-kekurangan diri. Sehingga tahulah saya bahwa saya memang benar-benar jauh dari itu. Penolakan ini, membawa perubahan diri saya secara luar biasa.

Tetapi, bagaimanakah hari-hari selanjutnya bersama Neni?

Semenjak itu aku tidak lagi malu-malu membuka kegagalanku menjadi calon Neni. Bisa dipastikan semua teman-teman di organisasi kubiarkan tahu. Sangat tidak enak jika orang lain menduga-duga, justru bila diberitahukan perasaanku lebih lega, lebih jujur dan tidak ada beban.

Sayangnya Neni berbeda pikiran. Karena banyak orang yang tahu, dia menjadi marah. Beberapa teman dekatnya memberitahukan kalau dia sangat tidak suka mengetahui aku membeberkan kisah cintaku.

Gagal dengan Neni, sama dengan mengakhiri waktu untuk mencoba berintrospeksi. Sepanjang saya melakukan kontemplasi diri untuk menemukan kata dewasa, sepanjang itu pula hati ini cenderung berpasrah diri, entah menyerah, entah sabar, entah kalah, yang jelas bagi saya saat ini menunggu lebih baik daripada memulai dan gagal.

Dalam bayangan saya, tentulah ada wanita yang tercipta. Allah tidak mungkin tidak adil untuk menciptakan perempuan yang terindah untuk saya. Itu pasti, hanya di mana..aku tak tahu. Ada harapan tersimpan walau tanpa usaha. Setiap perempuan, siapapun dia, punya potensi untuk menjadi istri, menjadi pendamping, menjadi belahan jiwa. Untuk itu ada baiknya bersikap baik dengan semua perempuan. Mencoba memahami jenis kelamin dari isi hati, bukan nafsu, naluri dan imajinasi.

Aku berusaha mereka-reka. Siapakah dia…arjuna yang senantiasa dinanti-nantikan kehadirannya oleh para perempuan? Mengapa aku melihat banyak pria yang begitu digilai oleh perempuan. Mengapa banyak laki-laki yang diimajinasikan oleh banyak perempuan? Mengapa aku tidak seperti mereka yang dengan mudah menjalin hubungan dan putus seenak perutnya?

Rasanya jika aku memandangi wajah di cermin, tidak jelek amat. Banyak diantara mereka yang lebih jelek tetapi mampu digilai oleh perempuan cantik. Apakah diri ini bodoh? Rasanya juga tidak. Aku memiliki IQ yang tergolong cerdas. Bisa belajar dari pengalaman dan mampu menyerap pengetahuan. Apakah aku kuper? Rasanya sudah banyak buku kubaca. Bahkan, saking ingin tahu rasanya bergaul yang baik, aku harus merelakan sedikit uang kuliah untuk dibelikan majalah-majalah remaja populer untuk memahami pergaulan yang menyenangkan. Tetapi semuanya sudah ada padaku, hanya saja..duhai wanita, mengapa engkau tidak memasukkan aku ke dalam imajinasimu.

Barangkali, inilah takdir. Aku mungkin cacat. Cacat yang kasap mata, yakni merupakan pria yang jauh dari dicintai perempuan. Kalau memang demikuan adanya, maka aku harus menerimanya. Tidak ada gunanya merenungi nasibku yang demikian. Dunia masih banyak yang membutuhkan diriku selain memikirkan perempuan.

Setelah sekian lama belajar tentang kedewasaan, barulah aku mengerti bahwa selama ini aku salah. Perempuan, siapapun dia, bukan mengukur lawan jenis berdasarkan kepandaian, bukan pula berdasarkan keperkasaan fisik, bukan pula dari kepiawaian dalam menguasai sesuatu. Perempuan, intinya, menyukai perhatian. Perhatian yang lahir dari sifat kebapakan, sifat yang tidak ingin menang sendiri tetapi mampu mendengarkan, yang tidak sekedar menilai tetapi juga memperbaiki, sifat yang tahu bagaimana menempatkan diri. Lambat laun aku mulai menyadari bagaimana aku memang layak untuk tidak disukai perempuan, pun dikatakan tidak dewasa, memang barangkali demikian adanya.

Yang terutama, adalah kebiasaanku untuk show force. Tanda ketidak dewasaan seseorang adalah betapa dia terkadang bertingkah norak: mempertunjukkan keahliannya, misalkan mempertontonkan jurus-jurus karate, menyanyi keras-keras, mengenakan busana yang mempertontonkan sesuatu di balik busana itu, bisa merk, pangkat atau sesuatu lainnya. Show force di sini diibaratkan sebagai tingkah ayam berkokok. Dia lenggak-lenggok ke sana ke mari untuk memikat lawan jenisnya.

Ah…bodohnya saya. Bukankah itu pertanda bahwa seseorang sedang tidak berpuas diri? sedang ingin dipuji? Sedang menipu kepercayaan dirinya? Betapa perempuan manapun akan sebal melihat laki-laki yang demikian?

Perempuan lebih menyukai laki-laki yang menemukan dirinya sendiri. Perempuan akan melihat laki-laki cool sebagai laki-laki cool tanpa harus bertingkah macam-macam. Perempuan akan menyukai laki-laki yang memang badung sebagai laki-laki badung tanpa harus bertingkah ala laki-laki badung. Intinya, perempuan dengan mata hatinya akan menyukai laki-laki yang telah menemukan diri. Jadi itulah kunci kegagalan saya selama ini.

Sepanjang saya memperbaiki diri, menahan diri dan menemukan diri untuk menjadi dewasa, sepanjang itulah aku mulai bisa merasakan betapa bisa berteman dan berkomunikasi dengan perempuan tanpa harus melibatkan dan mengimajinasikan tentang kesukaan dia padaku. Saya sadar, bahwa rasa ingin memiliki itu harus dibuang jauh-jauh. Justru dengan memberilah seseorang akan dicintai. Maka, sepanjang itu pula saya mulai belajar untuk bersikap baik kepada adik-adik angkatan, kepada teman seorganisasi, kepada siapapun dengan sebenar-benarnya perhatian. Perhatian yang saya berikan ini dengan segenap sikap jujur saya.

Mulailah saya menemukan banyak teman perempuan . Indikasi bahwa diantara mereka jatuh cinta kepada saya pun nampaknya ada, akan tetapi trauma kegagalan cinta karena sikap ge-er saya masih berasa. Maka kecenderungan saya adalah menahan diri. Biarlah semua berjalan apa adanya.

Aku mendapati adik-adik angkatan perempuan yang memanggil saya sebagai kakak. Sebagai orang yang mampu mereka ajak berbincang. Aku mendapati adik-adik yang mempercayakan persoalan mereka untuk bisa saya dengarkan. Allah, betapa senangnya dipercaya oleh mereka sebagai orang yang mampu mendengar. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya rasakan nikmatnya.

Adalah tiga diantara mereka Nur, Tia dan Ani. Teman seorganisasi di JS yang lucu-lucu dan menyenangkan. Dari merekalah aku bisa mendengarkan bagaimana perempuan-perempuan memiliki sesuatu berbeda dengan laki-laki.

Adalah Dayu, seorang kader baru JS yang dekat dengan saya. Dia berasal dari Fakultas Farmasi UGM. Awal pertemuannya tidak begitu jelas kuingat. Yang jelas Dayu hanyalah bagian sekian banyak perempuan di JS yang sejauh ini tidak istimewa di mataku.

Ceritanya, Dayu sangat repot menghadapi persoalan keorganisasian yang demikian bertumpuk-tumpuk, mulai dari soal komunikasi, koordinasi, training kader, administrasi dan lain sebagainya. Sementara itu, sangat disayangkan tidak ada diantara pengurus lain yang membantunya.

Sebagai senior, tentu saja saya tidak bisa melihat Dayu demikian kerepotan. Sayang, jika kader sepotensial Dayu harus pergi dari JS karena kerepotan. Kemampuanku dan pengalamanku dalam menyelesaikan persoalan keorganisasian kucoba bagikan kepada Dayu. Dayu pun mulai bisa memahami segala hal tentang organisasi.

Peristiwa ini adalah awal dari sekian kisah yang cinta yang kuingat. Suatu senja, di sudut sayap barat-selatan masjid kampus, kami duduk-duduk di tangga. Ba’da Ashar. Angin berhembus sedikit kencang menggerakkan pucuk-pucuk tumbuhan di sekitar masjid. Suara burung kecil ikut menghiasi nyanyian daun-daun yang saling bergesekan. Suhu tidak terlalu gerah, dan sinar matahari sudah berwarna kecoklatan.

Dalam lorong masjid, di tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dasar ini suhu terasa lebih sejuk, karena memang alas lantai masjid yang terbuat dari marmer dan sebagian lagi porselen menjamin suhu masjid ini terus dingin. Meski lorong ini agak gelap dibandingkan di luar masjid, tetapi cukup terang untuk melihat sudut-sudut ruangan yang menjadi aktifitas teman-teman Jama’ah Shalahuddin UGM.

Dayu duduk pada sap tangga ke tujuh sementara aku duduk di tangga paling dasar. Jarak kami sekitar tiga meter. Cukup syar’I untuk membincangkan sesuatu.

“Mas Feri, aku mau tanya nih,” kata Dayu.

“Tanya apa, Dayu”jawabku.

“Mestinya, kita menggali potensi calon kader JS dahulu baru kemudian diberi idiologi JS, ataukah sebaliknya, kita memberikan idiologi JS ke kepala mereka baru kemudian digali masing-masing potensinya,”kata Dayu.

Untuk seorang senior yang tahu bagaimana mengkaderi seorang senior di dalam organisasi, jelas pertanyaan demikian tidak boleh diberi jawaban secara letter lux. Sudah seharusnyalah bahwa dia menemukan jawabnya sendiri dan kita yang senior cukup membimbingnya menemukan jawaban. Akan tetapi aku sadar bahwa pertanyaan itu sangat rumit.

“Sst…..” aku sekedar ingin menghentikan keseriusan dia dalam memikir antah berantah organisasi.

“Itu”.

Telunjukku membimbing arah pandangnya ke dinding masjid di atas kepalanya.

“Ada bintang-bintang di atas kepalamu.”

Dia tersenyum. Manis sekali. Aku membalas senyumnya. Apakah bintang-bintang yang kumaksudkan. Bintang-bintang itu sebenarnya adalah sinar surya yang menerobos melalui celah-celah dinding masjid berbatako. Batako itu dibuat sedemikian rupa sehingga berongga, agar ventilasi ruangan terjaga. Sementara, rongga-rongga itu dirancang artistik menyerupai bintang bersiku lima. Karena matahari memancar terang dari sudut barat, sinarnya mampu menerobos celah batako hingga membentuk gambaran bintang di dinding sebelah dalam. Bayangan itulah yang kami lihat.

Bayangan itu sebenarnya tidak terlalu istimewa andaikata tidak ada pohon kayu putih di luar halaman masjid yang menjulang tinggi. Bayangan cemara itu terlihat dari dalam rongga-rongga dinding luar masjid. Angin yang mempermainkan pucuk-pucuk kayu putih mengakibatkan sinar matahari yang menerobos pun seolah dipermainkan pucuk-pucuk kayu putih. Bintang-bintang yang diciptakan oleh sinar matahari di dinding sebelah dalam, yang kami lihat, seolah berkelipan menari-nari.

“Dayu, sekarang coba kamu perhatikan bintang-bintang di atas, yang sedang menari-nari itu. Itu Indah sekali,”kataku.

”Tahu ngga. Bintang-bintang itu sangat istimewa. Bintang-bintang itu hanya bisa kamu lihat selama bulan Juli sampai Agustus. Setelah itu biasanya hujan akan menutup cahaya matahari dan bintang-bintang itu tidak muncul.”

Suasana saat itu begitu romantis, untukku, mungkin juga untuknya. Selama beberapa saat dia ikut menikmati tarian bintang di dinding atas masjid. Selama itu pula aku mencuri pandang ke arahnya.

“Nah, seperti itu pula seharusnya kita dalam mendidik siapapun di JS ini. Mereka adalah mahasiswa yang nantinya akan memiliki sinar. JS adalah lembaga yang semestinya membuat sinar mereka menjadi terlihat lebih indah, menjadi pohon kayu putih yang mempermainkan cahaya matahari, sehingga bintang-bintang tampak menari-nari.”

Selama beberapa saat dia tersenyum.

“Mas Feri bisa aja.”

Hari berganti, musim pancaroba. Sinar bintang di dalam masjid kampus tidak terlihat, kecuali aku yang selalu saja mengeluh karena masuk angin. Kondisi musiman manusia Indonesia ketika tubuh tidak siap menerima perubahan cuaca. Betapa membosankannya berada di JS pada saat kondisi badan begini buruk.

“Mas Feri sakit ya,”kata Huda. Kader baru JS yang senang humor.

“Iya, masuk angin,”

“Kenapa tidak diobati.”

“Sudah, pake balsem. Tapi sebenarnya saya pengen kerokan.”

“Istirahat…. Tidak usah bingung”

“Oke…Bos. Saya kira kalau kamu mau ngerokin.”

Beberapa saat kemudian muncul Dayu. Rupanya dia mendengar pembicaraan kami.

“Jangan dikerok mas. Jika dikerok nanti malah melukai kulit dan merusak jaringan syaraf.”

“Emang begitu? Biasanya di mana-mana orang dikerok biar anginnya keluar.”

“Masuk angin itu tidak di kulit Mas Fer. Masuk angin itu terjadi pada tubuh yang bereaksi terhadap lingkungan. Bisa karena tubuh yang lelah, ataupun suhu sekitarnya yang dingin.Jadi pengobatannya ya merangsang suhu tubuh untuk bersesuaian dengan lingkungan. Nah, kerokan itu sebenarnya memijit otot untuk bereaksi. Fatalnya, dilakukan dengan cara melukai. Kalau kulit merah karena kerokan itu biasa. Tidak masuk angin pun bisa merah. Itu Cuma sugesti saja. Padahal bisa diobati dengan cara lain.”

Mau tak mau aku harus mendengarkan nasihatnya. Dia adalah mahasiswi Farmasi yang sudah makan kuliah banyak. Yah..siapa tau ilmiah.

“Terus? Gimana dong obatnya?”

Dayu Tersenyum.

“Masih ingat pucuk-pucuk kayu putih yang membuat bintang-bintang menari? Disanalah obatnya.”

Kenangan kemarin masih begitu kuingat. Rupanya kenangan itu membekas di benaknya.

“Tetapi pucuk-pucuk kayu putih itu mau dia apakan? Saya masih belum jelas,”tanyaku.

“Mas Feri ambil saja daun kayu putih yang ada di luar. Semangkuk saja. Nanti lihat saja, saya akan buat obatnya.

Aku keluar dengan kepala yang pusing dan ditambah bingung. Beberapa daun kayu putih bukan hal yang sulit untuk dipetik. Semuanya bisa dijangkau dengan tangan. Maka tidak sampai semenit kupenuhi sepanci kecil yang kuambil di dapur JS dengan daun-daun kayu putih.

Dayu menerima panci kecil itu. Secepat itu dia menuangkan sedikit minyak tanah ke dalam panci itu. Diremas-remasnya daun kayu putih beberapa menit. Tangan-tangan lentiknya begitu terampil melumatkan helai demi helai kayu putih sampai lumat benar. Sebentar kemudian diperasnya daun-daun itu, ampasnya dipisahkan. Sari perasan daun kayu putih itu dibiarkan dalam panci dan diberikan kepadaku.

“Ini obatnya. Sudah jadi. Sekarang balurkan minyak kayu putih ini ke badan, sampai masuk anginnya hilang.”

Aku tersenyum. Betapa menyenangkannya ketika sakit dirawat oleh seseorang yang dicintai. Tetapi…dia kan bukan siapa-siapa. AH..sudahlah. Buang pikiran itu jauh-jauh.

“Ini dipakai sekarang?”tanyaku.

“Iya.”

“Di sini?”

Tawanya mengembang. (bersambung lagi)

BAB III

KAU TOLAK CINTAKU DENGAN BASMALLAH IV

(lanjutan KTDB II)

(Engkau Bintangku, Engkau Kayu Putihku, Engkau Si Hitamku).

“Ya tidak hal. Nanti bisa nakutin akhwat. Sana..sambil berbaring di ruang putra.”dia berkata sambil sedikit ada nada memerintah halus.

Sampai di ruang putra au segera berbaring dan melakukan apa yang dia sarankan. Kaos kubuka. Minyak dengan bau rada tidak karu-karuan kuoleskan ke tubuh.

“Lho? Lho? Mas Feri mau ngapain!”tanya Huda yang tiba-tiba saja masuk ruangan putra.

“Mbakyumu itu. Suruh saya ngobati masuk angin sama minyak kayu putih ini.”

“Lho..kok baunya minyak tanah?”tanyanya sambil ketawa.

“Ini apa?”tanyanya lagi.

“Sari kayu putih sama mimyak tanah.”

“Siapa yang bikin?”

“Ya..mbakyumu itu.

“Entahlah..yang penting mari”, jawabku sekenanya. Huda berlalu keluar sambil tertawa. DI luar tampak kudengarkan dia berbincang-bincang dengan Dayu. Tak lama kemudian dia masuk lagi ke ruangan putra.

“Mas Fer. Kata Mbak Dayu kalau mau lebih cepat, nah minyaknya tadi diminum sedikit. Pasti ces pleng,”katanya.

“Ah..gak percaya. Itu akal-akalanmu saja, mau ngapusi aku.”

“Lho. Tenan iku.”

“Masak minyak seperti ini diminum?”

“Yaaa… terserah,”jawabnya sambil ngeloyor pergi.

Aku seolah tidak menanggapi kata-kata Huda. Tetapi lama-lama kok termakan juga. Seolah-olah ada bayangan Dayu yang sedang berbicara kepadaku ketika dia tadi berkata-kata. AH…apa salahnya.

Dengan sedikit menutup mata kuminum seteguk minyak yang bau dan aromanya minta ampun. Ah, mengapa aku seperti kerbau dicocok hidung ketika membayangkan Dayu. Biarlah.

“Lho? Mas? Diminum juga. Ha…ha…ha…orang saya tadi bercanda. Mbak! Mbak Dayu! Mas Feri minum minyak kayu putih campur minyak tanah. Ha..ha.ha.”

Huda muncul dan pergi keluar begitu saja meninggalkan aku yang dongong. Aseeeeeemmmm.

Sesudah itu, interaksi aku dan Dayu makin sering. Sampai saat itu aku tidak terlalu gegabah untuk menebak bahwa dia mencintai aku. Bagaimanapun, mungkin saja saya dihinggapi rasa ge-er. Trauma terhadap rasa ge-er di benak ini sangat tinggi. Bagiku, ge-er itu sesat dan menyesatkan. Perasaan itu bisa jadi adalah indera yang paling sesat. Resiko ge-er bukan saja malu, tetapi juga membuat sejarah hidup menjadi memalukan. Tolol. Bodoh dan ingin menghilang dari kenyataan yang memalukan. Jadi, lebih mudah menipu perasaan daripada harus menanggung malu karena ge-er.

Suatu hari, Nur, Tia dan Ani, adik-adik yang meng-kakak-kan aku di JS mengajak aku berbincang-bincang di ruang atas masjid.

“Mas Feri. Tahu ngga’ tadi malam aku ngobrol sama siapa.

Enggak

Aku ngobrol sama mBak Dayu.

Tentang?

Tengan Mas Feri.

Tentang Aku?

Iya.

Masa?

Sungguh. Dia kan nginap di kos ku.Kami mgobrol sampai jam tiga malam. Intinya, dia itu suka sama mas Feri.

Deg..deg…

Ah? Masa?

Begini, Mas. Waktu itu aku sedang bercerita tentang semua teman-teman kita di JS. Tetapi, saat kami membicarakan mas Feri. Eeeh..dia memintaku untuk lebih banyak bercerita tentang Mas, Gimana sifat-sifat Mas, gimana pengalamannya. Gimana kalo Mas lagi ngomong, lagi …ya..pokoknya gitu-gitu lah. Wah, wajahnya itu Mas. Wajahnya berbinar-binar dan bersemangat.

Aku sempat kaget lho mas melihat perubahan raut wajahnya. Kok bisa, gitu bayanganku. Lalu dia nambahi banyak tentang pengalamannya bersama mas Feri. Terus…

Terus apa?

Terus dia malah bertanya apakah dia bisa cocok sama Mas Feri. Dia bayangkan bagaimana besok kalo hidup bersama mas Feri. Katanya, dia akan banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman yang menarik.

Ehm

Iya. Wah, pokoknya seru baaangeeet. Kami ngomongin mas sampai tengah malam. Tahu ngga, ketika saya tanya bagaimana jika saya beritahukan percakapan kami sama Mas Fer, dia gak keberatan. Naaahhh…sekarang gimana Mas Fer?

Gimana apanya?

Mas Feri bisa tidak menerima dia?

Menerima apanya.

Aduh..mas feri ini pura-pura gak tahu deh. Mas Feri menyukainya apa tidak?

Ehm.

….

Ah, saya tahu mas Feri menyukainya. Saya yakin itu. Nah, sekarang saya ucapkan selamat buat Mas Feri. Semoga cintanya tetep anget. Dah ya mas. Selamat Tinggal Assalamu’alaikum

Wa’alaikum salam..hei mau ke mana. Aku masih pengen mgomong-ngomong nih. Hei..!!

Nur, Tia dan Ani meninggalkan saya sendirian di dalam masjid. Kepalaku masih diliputi tanda tanya. Tetapi perasaanku tidak bisa berbohong, aku bahagia sekali. Bahagiaaaa sekali. Harapan-harapan yang dulu pupus seolah dinyalakan kembali.

Seminggu berlalu. Seminggu lalu telah kuberikan padanya sepucuk surat tentang apa yang dikatakan Nur, Tia dan Ani Seminggu yang telah menelan tanda-tanya.. Seminggu lalu suratku berisikan semua harapanku yang tidak berbeda dengan harapan-harapannya. Ada perasaanku, ada isi hatiku, ada impian tentang masa depan.

Akan tetapi mengapa sekarang menjadi dilema? Kenapa dia justru tidak muncul-muncul di JS? Mengapa justru terasa perpisahan yang berat? Adakah aku akan gagal lagi.

“Mas Feri,”kata Huda pagi itu.

“Ini ada surat dari Mbak Dayu.” Jreg..jreng..jreng….!!!

“Sudah sana pergi saja.”

“Oke Bos”

“Makasih lo ya.”

“Siiip.

Mas Feri

di Tempat

manusia boleh berharap, tetapi Allah jua yang menentukan. Saya takut mendahului takdir. Saya memang punya harapan, tetapi saya sadar bahwa itu bisa menjadi masalah ketika kita memang belum saatnya dipertemukan.

Semua memang salah saya. Saya minta maaf jika mas jadi seperti ini. Saya mohon luruskan kembali niat kita. Jangan ada lagi noda-noda yang membuat kita kehilangan arah.

Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus. Dan semoga kita bertemu di pintu sorga, kelak.

Wassalam

Ini…?..Ini maksudnya apa? Saya tidak mendapatkan jawaban terhadap suratku terdahulu. Bukankah aku memang ingin melamarnya? Bukankahrasa hati ini lepas dari semua yang dia katakan kepada Tia, Ani dan teman-teman lainnya? Bukankah semua adalah mauku? Mengapa harus ada maaf?

Lalu apakah dia menerima atukah menolak? Sungguh aku tidak tahu makna surat ini.Tapi biarlah…….

Mungkin ini bukan sebuah surat untukmu, tetapi seandainya kamu tahu Dayu. Aku akan menunggu jawaban darimu. Aku akan menyelesaikan skripsi secepatnya. Secepat-cepatnya dan melamarmu kemudian. Kamu tahu bahwa cinta bisa memberikan kekuatan. Cinta bisa membuat kesetiaan tumbuh. Cinta mampu menguatkan rasa-rasa yang mulanya hanya kecil, lalu bersemu, kuat dan kemudian mengakar.

Sekarang Dayu, semua itu telah berakar kuat dan semakin kuat. Aku tidak lagi begitu perduli apakah nanti akan kau terima atau kau hempas, yang jelas, dalamnya cinta adalah keyakinan. Aku tidak sekedar berjanji kepadamu, tetapi Allahlah saksinya bahwa aku akan setia di sini menunggumu, menunggumu sampai kau kembali.

Siapa bilang penantian itu membosankan? Penantian itu menyenangkan.

Lima bulan berlalu. Aku masih setia membangun impian. Aku masih belum lupa dengan impian-impian itu.

Skripsiku telah kelar. Semuanya telah usai. Betapa semua ilmu telah kuserap dengan sempurnya. Bayangkan: dua bulan menguasai statistik, SPSS dan teori penelitian kuantitatif sembari menngumpulkan data penelitian. Sungguh bukan hal yang mudah untuk membagi waktu, konsentrasi dan juga biaya.

Semua bahan-bahan tentang penguasaan statistik dan SPSS dapat dengan mudak ditemui di internet. Sungguh dunia maya membuat segalanya menjadi mudah. Malam hariku adalah malam-malam di warnet untuk menggali data guna menggenapi teori dan penguasaan statistik. Siang hari adalah saat-saat berjanji bertemu dosen pembimbing dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada. Sungguh bukan hal yang ringan untuk mendapatkan energi itu. Tetapi energi mana lagi yang mampu membuat manusia bergerak hebat, kecuali energi cinta.

Hari itu dua hari menjelang ujian skripsi. Semuanya telah selesai aku kerjakan. Pagi itu, Huda datang membawa berita.

“Assalamualaikum, Mas Fer,”sapanya.

“Waalaikum salam. Minta doa ya Hud, skripsiku ini biar dapat A.”

“Pasti kudoakan mas”

Wajah Huda tidak seriang biasanya.Aneh, kok jawabnya datar-datar aja. Mestinya dia akan guyon atau malah mengejek yang macam-macam.

“Hei, wajahmu kok seperti itu. Ada apa nih.”

“Gak pa pa kok mas. Anu, saya ada berita,”katanya rada tergagap-gagap.

“Berita apa..?”

“Berita sedih. Ini tentang mas Feri”.

“Aku? Aku tidak apa-apa kok. Apanya yang sedih..?”

“Mas Feri cukup kuat kan kalau saya beritakan hal ini…”dia tampak betul-betul serius. AKu sedikit beringsut dan mikir sesuatu. Perlahan aku periksa seluruh ruang kepalaku, benakku dan antah berantah fisikku.Gak ada yang salah dan rusak, masih gila seperti dulu…

“Ya. Saya kira begitu. Apa sih?”penasaran…

“Ini tentang Mbak Dayu.”

“Mbakmu itu? Ada apa?”

“Besok dia menikah?

“Apa….”aku gak peraya.

…….

“Ya.”kata Huda. Meskipun lirih, jelas banget di kuping.

“Ohh….. Ya….bagus lah. Mestinya kita bahagia dong. Kok malah sedih. Ha..ha..ha. Mana undangannya.”aku mencoba menetralisir suasana.

“Dia tidak memberikan undangan untuk kita. Katanya kehabisan.”

“Oh…ya… sudah. Sayang ya.”

Di hadapan Huda aku masih bisa tersenyum. Masih sangat bisa untuk menguatkan kepala ini agar tidak tertunduk. Masih bisa kualihkan pembicaraan kepada lelucon-lelucon yang membuat dia tertawa dan tidak bersedih. Masih bisa kualihkan percakapan tentang hal-hal serius tentang organisasi dan skripsiku. Tetapi hatiku tidak bisa berbohong. Aku hancur. Hancur…..

Ketika awal mula mengenal cinta dan kemudian kehilangan, sungguh kurasakan betapa susahnya menyusun kepingan-kepingan hati untuk bisa membangun ruang kosong demi cinta yang lain. Sungguh sekian banyak waktu harus dikorbankan demi menekan ego dan kekerdilan jiwa untuk tidak terkungkung dalam jeruji kekecewaan. Tetapi, begitu aku mencicipi sedikit saja manisnya cinta dalam ruang hati yang pernah hancur, mengapa demikian mudah roboh hanya dengan sekali tepuk. Mengapa tak seindah kisah dalam komik dan novel-novel.

Ada tanya dalam hati ini, kepada Allah, betapa berlikunya hidupku. Tetapi,mungkinkah ini awal dari semua yang indah-indah? Aku tak pernah tahu. Aku harus melanjutkan hidup.

Sore itu, aku terduduk di tangga tempat kita pernah berbincang, Dayu. Bintang di atas itu, tidak lagi bersinar. Bintang di atas itu telah gelap bersama hilangnya angin yang menarikan pohon-pohon kayu putih. Sinar surya tak lagi menyeruak ke dalam lorong-lorong tangga. Burung-burung tidak lagi melagukan nyanyian rindu. Daun-daun kayu putih di luar berjatuhan dan terhempas di atas tanah kering, sekering hatiku. Kini, aku harus membangun kembali hati yang remuk ini.

Kemana larinya rasa cintanya?Bukankah sorot mata itu menyratkan sejuta harapan padaku. Kemana perginya hasrat yang demikian meggelora ketika alunan kata-katanya begitu merdu menerawang gendang telingaku? Bukankah itu sangat-sangat-sangat menjanjikan masa depan?Kemanakah pengakuan cinta itu. Begitu mudahnya hati ini diiris dan dibuat menangis.

Hari itu. ujian skripsi usai sudah. Dapat A. Sampai dengan wisuda tidak ada yang mebekas di benak kecuali kosong dan kosong. Dulu, segepok skripsi ini adalah mas kawin yang demikian serius untuk Dayu.

Dalam lembar persembahan
sebuah kata-kata pahit tetapi klise dituliskan:

“untuk kedua orang tuaku dan adikku Bayu…”

(alaaaaahhhhh nasiiiiib..nasibbb..)

Mestinya kan jadi: untuk orang tua, keluarga dan kekasih tercinta.

Apa yang ada dalam benak Dayu ketika meninggalkanku? Sudah lupakah dia terhadap impian-impiannya?AKu bertanya. AKu belum menemukan jawaban. Sampai suatu saat seseorang: Ratri, datang dan bicara empat mata.

“Mas Fer. Mbak dayu kecewa mas.”

“Kecewa………..”

“Ya. Mbak Dayu malu karena telah banyak orang yang tahu tentang cintanya.”

“Maksudmu”

“Mas. Maaf kalau saya katakan bahwa mas terlalu menyebarkan kegembiraan mas ini kepada siapa saja. Dayu mendapat teguran dari murobi, terkucil dari komunitas dan kemudian langkah kontemplasinya adalah segera menikah. Segera menikah dengan orang yang dirasanya memiliki kekuatan agama yang lebih. Lebih baik dibandingkan dengan Mas Fer.”

“Oh…….”

Ya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu besar mulut. Aku terlalu gembira sehingga terlalu banyak yang tahu. Lupa bahwa Dayu adalah anak tarbiyah yang demikian hati-hati menjaga hati. Lupa bahwa cinta harus tumbuh di atas garis yang benar, garis yang telah ditentukan oleh syariat.EFORIA CINTA…. DASAR KUDAA!!!!(maaf, saya nggak bisa nyebut binatang lain)
Selamat jalan Dayu. Semoga kita benar-benar bertemu di pintu sorga. Aku di sini akan selalu memperbaiki diri. Doakan aku..

BAB III
Ada cinta di Borobudur

Enam bulan berlalu sejak Dayu meninggalkanku. Ternyata tidak selama yang kubayangkan untuk menghapus luka lama. Sehabis menamatkan studi di perguruan tinggi, kulanjutkan hidup di LSM Labda Shalahuddin, LSM yang berkantor satu kompleks dengan Pondok Pesantren Budi Mulia.
AKu bekerja sebagai redaktur newsletter INFODA. Sebuah newsletter yang berisikan info-info dakwah dan civil society. Ah, gak menarik lah untuk dikisahkan bagaimana kok bisa aku masuk situ. Situasinya serba gak sengaja. Intinya Muttaqin, bossnya LABDA nawari aku pas dia melihat bahwa di LABDA butuh tenaga yang bisa kerja untuk ngisi newsletter. Aku, yang pernah aktif di Boulevard, majalah JS, dan bisa computer ditugasi untuk ngurus. Ngantiin Atikah ( hitam manis, cerdasr..ehm, kok keterusan…ah…gak penting lah)
Adalah Setyoko, teman kerja satu LSM yang kebetulan masih kuliah di Teknologi Pertanian angkatan 97. DIa mbantu saya untuk mengantarkan bulletin-bulettin ini ke alamat-alamat yang dituju. Beberapa diantaranya adalah kampus-kampus, organisasi mahasiswa.
“Fer, mampir dulu di TP (TEknologi Pertanian UGM) ya…”
“Lama gak?….”
“Konsultasi skripsi”
“Wah, lama itu…aku lapar je…..”
“Bentar aja…”
“Nggak”
“Aku yang pegang setang motor. Hayoo”
Nasib. Dimana-mana orang yang membonceng itu memang nasibnya nunut sama yang diboncengin.
Motor masuk halaman kampus TP yang rada gelap tertutup rimbunya pohon-pohon. Jam sudah menjelang dhuhur. Aseli, wajahku kusut karena perut belum makan sejak pagi. Dasar Yoko….tega lu…
Sampai di kampus bukannya langsung menuju kanot dosen kek, ini malah ngobrol sana-sini. Ah..luweh…Aku lebih tertarik memperhatikan lalu lalang mahasiswa di sana. Mau jadi apa mereka. Apa iya ada yang nasibnya malang seperti aku. Apa benar sih bahwa hidup demi menggapai cinta itu mesti berliku-liku? Disana banyak sekali mahasiswa mahasiswi sudah bergandengan tangan, ketawa lepas, cubit-cubitan, ngeplak mesra, njiwiti genit, nendang, namp…ah ngawur. Intinya, kok gampang banget sih tebe-tebe gitu…Sementara aku di sini: rambut udah mulai ubanan, wajah jadi serba putus asa, wah..jadi nggak syukur nikmat.
EH, mana Yoko? Kok lama banget sih?
Erh, lha kok malah ngobrol sama cewek jilbaban..sopo kui?
Jarak aku tongkrong lumayan jauh dari mereka (yoko dan someone), sekitar 10 meteran. Apa yoko nggak mikir kalo cacing di perut ini udah merembet sana-sini, bisa-bisa merambat sampai ke otak.
Tapi, batinku kok rada nakal ya mikirnya. Siapa gadis itu? AKu sekilas mencuri pandang dan kemudian mengalihkan wajah kea rah yang berbeda. Kucoba lagi merangkaui wajahnya di awing-awang benak. Wajahnya yang putih bersih, matanya, cara bicaranya dan segalanya, mungkin nggak ya ada scenario Allah kalo ndilalah dia jadi istriku. AH..ngelantur..
“HWEI!!!!”
Asem!!!
Yoko ngguyu jelek!!! Mengagetkanku yang lagi ngelamun apa tadi. Entah kemana perginya perempuan itu.
“Yo Fer balik..”
“Ya…ayo, lapar nih”.
Giliran jalan ke tempat parker dan mengambil motor. ALhamdulillah kalo Yoko gak lama-lama. Segera motor dituntun keluar dan aku membonceng.
“Fer..”
“Ya…”
“ANu”
“Apa…”
“Ban motor bocor..”
“GUBRAK !!!!]

…—————-….

LAKFIP UGM. Tanggal Lupa, yang jelas saat itu LPJ Rofiq.

Mengikuti Musyak JS (Singkatan dari Musyawarah Akbar) adalah dagelan khusus buat aku. Termasuk hari ini, dimana anak-anak kecil mulai berlomba untuk rebutan mic dan membantai LPJ pengurus-pengurus yang ada di depan.
Aku sendiri sudah mulai merasa tua. Beberapa kali aku memainkan fungsi untuk mengobrak-abrik logika musyak dan sekarang sudah saatnya untuk lerem. Berhenti. Fungsiku lebih enak untuk menjadi penengah dan pengarah forum, kali-kali ada yang menyeleweng, sekaligus menjadi referensi masa lalu.
Ruangan Lakfip ini……seolah menjadi saksi sejarah betapa aku begitu kejam membantai setiap pengurus JS. Sejak jaman Arif Rahman, Maskun Syarifuddin, Hermawan, Budi Handoyo, Rofiq, Hafid Zaini, dan entah siapa lagi seterusnya…
“Pak Feri..”sebuah panggilan mengejutkanku yang tidur dalam lamunan.
“Ya? Oh, Kamu, Rin…”
Rina senyum kecil. Apa ini maksudnya?
“Katanya Pak Feri lagi cari jodoh ya…”
Agak kaget juga ditanya begitu..
“Iya..Emang kenapa?”
Ah, nggak mungkin kalo dia mau nembak saya. Pasti ada orang yang coba untuk “nitip”ke dia.
“Saya punya kakak. Perempuan (Ya iya lah…). Udah cukup umur untuk menikah. Mau nggak kenalan sama Kakak saya?”
Aku senyum aja. Ah, nggak ada salahnya juga dicoba. Adiknya cantik, mungkin aja kakanya juga (lebih) cantik. Hehe…
“Boleh.”
“Boleh gimana?”
“Ya kita coba aja taaruf.”
“Bener nih. Kalau iya, nanti saya hubungi kakak saya.”
“Okee….”
“Oke. Assalamualaikum”
“Waalaikum salam…”
Apa ini tadi. Mestinya kan aku mikir musyak JS ini. Entah kenapa kok ada Rina datang nawarin something news. Well. Let it be….

––

Rina Susilawati. Siapakah akhwat itu?
Kenalan dengan Rina adalah perkenalan saat JS mengadakan RDK (Ramadhan di Kampus). Acara itu diadakan 3 bulan sebelum musyak diadakan. Aku? Jelas bukan siapa-siapa di musyak ini. Tetua. Penasihat. Sumber ide de el-el. Kerjaanya orang tua.
Adalah Destiana, ketuanya Dialog Ramadhan. Gimana sih dia?(Saya paling suka mendeskripsikan orang dari sisi fisik, belajar jadi informan, biar kita nggak salah orang) Pakai kacamata, putih, tingginya kisaran 170cm, berat badan ya kira-kira 50an, termasuk kurus sih diliat dari lekuk jilbab yang dipakainya (meskipun jilbabnya gede sebagaimana tipologi akhwat JS lainnya). Kalau dari sikap sama cara dia merespon orang, jelas bahwa dia masih ijo dalam bayangan orang yang rajin baca buku. Entah kenapa juga dia dipasang sebagai ketua Dialog Ramadhan. Lha wong, dialog ramadhan itu kan semestinya digunakan untuk menyajikan wacana-wacana yang menggunakan dalil-dalil filsafat, pemikiran mendalam, memeras otak dan mengerenyitkan dahi untuk memahaminya. Eh, kok dipasang orang yang sama sekali masih hijau. Piye iki?

Selang beberapa hari menjelang ramadhan, Desi banyak banget aku kasih masukan, mulai dari diskusi, pe-er membaca buku, kemudian situs-situs wajib dibaca, sampai dengan perumusan kerangka diskusi yang akan menjadi babon proposal mendatang.
Hari itu, entah kapan tepatnya, seminggu menjelang RDK, Desi belum juga mengembalikan buku yang aku pinjamkan padanya. Pertama: Dunia Sophie dan kedua adalah Critical Thinking for beginner. Sudah sejak lama aku nggak melihat batang hidung anak-anak Dioma (dialog Ramadhan) di sekretariat RDK. Letak sekretariat RDK ada di lantai atas Maskam (Masjid Kampus).

Ndilalah, pas aku ke sekretariat pada saat itu, menjelang ashar, ada anak perempuan sedang diskusi sama Hamdan. Anak itu, Akhwat itu tepatnya, pakai jilbab gede warna biru tua. Jaiiiim banget tampaknya. Hamdan adalah salah satu teman di JS sesama penghuni harian. Dari nguping sesaat, tampaknya akhwat itu anak dioma. Kebetulan nih…. Ganggu ah.

“Hei, kamu..”, kataku sok ketus dan pasang lagak nggak menyenangkan blas. Akhwat itu menoleh dan dipastikan punya perasaan sebel mendengar sapaku yang sok itu/
“Iya kamu,” kataku memastikan.
“Sorry ya, Ndan.”minta ijin Hamdan untuk menyela pembicaraan.
“Kamu anak dioma, kan?”tanyaky.
Dia diam….jengkel berat. Mulutnya ditutup rapat dan ditekuk. Hehe….kelihatan mulai darah di kepala sudah mengumpul.
“Di mana Desi? Penting nih.” tanpa ba-bi-bu aku langsung seolah menyerbu dia dengan tuntutan.
“Nggak tau..”deuh…ketus banget.
“Massaaakk…nggak tau. Kamu kan wakilnya. Masak nggak pernah diskusi?”
“Nggak nitip sama kamu?”
Diem….Mungkin kalau di kepalanya ada lubang, sudah muncrat pancuran darah karena kesel sama aku.


“Eh, Ndan. Sopo jenenge?”Kataku sama Hamdan. Hamdan ketawa..
“Lha embuh. Tanya aja sendiri…?”
“He..kamu namanya siapa?”Hihi..mana ada orang kenalan kok kayak gitu…cuek ah.
Diem…..Ngambek…
“Ditanya diem. Ya udah, nggak mau kenalan nih.”tanyaku lagi..
Diem….
“Entar nyesel nggak kenalan sama aku”
“Siapa yang nyesel”, eeeh….keluar juga suaranya.
“Bener nih. Udah deh, nanti mesti nanya Hamdan: siapa sih itu..?”
“Nggak…”..katanya
“Ya udah”
…..
“Oke, Ndan. Metu dhisik.”kataku sama Hamdan.
“Yo….”
Kutapakkan kaki keras-keras menuruni tangga. Selang beberapa langkah. Kujinjitkan kaki pelan-pelan. Naik lagi…hihi…
Jelas banget kudengar parcakapan gadis berjilbab tadi dengan Hamdan.
“Mas Hamdan, siapa sih itu? Usil banget..”
Haha..kena kamu. Secara tiba-tiba aku me-nongol-kan diri.
“Naaaaaahhhhhh. Akhirnya tanya juga tho..”
Hamdan, aku dan dia tertawa bersamaan. Dia nunduk, menyembunyikan malu di wajahnya.
Kenak luuuuuu….

___

Rina Susilawati. Ya itu nama gadis berjilbab itu. Anak Daarush Shalihat. Jurusan D3 Sastra Inggris yang nantinya sering diskusi masalah pengkajian sama aku. Tapi dasar dianya sering ngotot, nggak pernah juga sepaham-sepaham dan sering bentrok. Barangkali terpengaruh oleh teman-teman Daarush Shalihat atau teman-teman tarbiyah yang memang sudah menjadi musuh tradisionalku di JS. Ah..sebodo teing. Yang jelas itulah awal pertemuanku dengan Rina yang kemudian mengenalkanku pada kakaknya: Endang.

11 thoughts on “Novel (blm finish)”

  1. assww
    salam kenal…
    …novelnya bagus…buat senyum2 bacanya hehe..
    coba dilanjutin…biar tahu akhirnya.. pengen tau akhirnya🙂

  2. lucu n menarik… tp mgkin bkal lbi bguz low d novelnya nti dikasi ilustrasi atau gmbar paz peristiwa” ttt byr lbi hidup hehe..

  3. Assalamu’alakum,, Novel ini saya sarankan dicukupkan sekian saja,, Kisah cinta di klngan aktifis memang mngkin terjadi, tapi untuk disemai, dipupuk,, sampai pada keberanian unuk mengungkapkan cinta adalah tidak pantas unuk dinovelkan,, maaf, hal ini akan meracuni, aktifis dakwah lain,, bahwa adalah wjar unuk emngungkapkan cinta,, terlebih hubungan akntara ikhwan akhwat yang digambarkan dalam novel belum finish ini, sangat bertenangan dengan syari’a,, Laa taqrobu zinaa,,

    1. Waalaikum salam, hahaha….sesungguhnya saya punya niatan untuk melanjutkan novel ini tetapi bertahun-tahun tertunda. Pun ada penerbit yang berniat menerbitkan novel ini. Dari beberapa respon yang sampai ke saya, baru Mbak yang berani menyatakan ketidaksetujuan atas konten di novel ini. Tetapi kalau saya boleh meminta penjelasan, adakah konten yang jelas-jelas mengajak ke perzinahan ataupun kepada kemaksiatan? Tuduhan bahwa seseorang mengajak ke zina ataupun melakukan perbuatan zina adalah tuduhan yang keji dan mendapat dosa sebesar apa yang dituduhkan. Saya paham bahwa apa yang saya tuliskan adalah “vulgar” atau dalam bahasa jawa-nya blak-blak-an. Tetapi kalau zina kok kayaknya enggak deh…Jazkl…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

anggraenisme

Just another WordPress.com site

mmd news syndicate

media campaign for women right's, reproductive and sexual rigth's [hiv-aids], and human rights

%d bloggers like this: