My (First) Standup Comedy

https://feriawan.files.wordpress.com/2013/06/f109f-stand-up_logo.jpg

Melihat status fb, saya sering dibilang orangnya terlalu serius. Benarkah? Kayaknya sih nggak.

Masa kecil saya, pas usia TK dan kelas 1 SD, dibesarkan dalam kondisi melarat. Rumah kontrakan berdinding gedek, yang nggak ada kakusnya. Letaknya di pinggir peternakannya Pak Harto Almarhum yang merupakan padang rumput luas dan dipagari cuma dengan pipa besi besar sehingga kita bisa masuk lewat celahnya. Tidak terlalu ketat penjaganya, karena semua orang tahu diri, tetapi juga dari peternakan sering bagi-bagi duit pas hari minggu. Letaknya di daerah Jrakah, Semarang. Kalau perut sakit, butuh BAB, saya lari ke dalam peternakan, cari tempat yang kosong dan bruuut….keluarlah. Terkadang, pas jongkok gitu ada aja sapi yang datang, melihat dengan wajah dongo-nya. Nah pas melihat kadang juga si sapi buang hajat. Nah itu yang minta ampun, kadang ampasnya si sapi jauh lebih bau. Bayangkan saja..

Dalam kondisi miskin demikian, pernah kelas 1 SD saya diminta untuk membawa makanan. Ceritanya pas kenaikan kelas dan kita suruh bawa makanan dibungkus koran ke sekolah. Mengingat saya jarang jajan, namanya bawa snack tentu saja menggembirakan sekali. Sayangnya, pas sampai sekolah, acara nggak mulai-mulai. Perut saya mulai lapar dan membayangkan snack yang dibungkuskan ibu saya: cara bikan, kueh moho, speak koek, lapis legit, tentu saja bikin kepala saya nggak ilang -ilang dari membayangkan makanan yang enak itu. Saat itulah saya mulai usil, cara bikan saya makan. Pikiran saya, toh sama-saja, snack, mau dimakan sekarang atau nanti sama saja. Cara bikan habis kemakan, lapis legit saya makan…teruuus begitu sampai akhirnya tinggal tersisa kueh moho..

Saat itu, barulah masuk Guru dan berkata:”Nah, anak-anak, sekarang keluarkan bekalnya, taruh di meja, dan dalam hitungan satu sampai lima belas, tukarkan dengan teman di sebelahmu.”

BLARRRRR !!!! Jantung saya dah nggak karu-karuan. Bungkusan makanan itu saya liatin terus ke mana arahnya. Karena guru memberikan hitungan acak, pindah kiri-pindah kanan dengan hitungan yang berbeda-beda dan harus cepat. Sampai akhirnya berhenti, terdengarlah teriakan dari anak yang tertimpa bekal saya. Walhasil, saya menjadi terhukum…. di depan kelas berdiri.

Saat SMP, sebenarnya itulah puncak kenakalan-kenakalan saya. Sering banget berkelahi. Bisa-bisa, seminggu berkelahi dengan 4 orang anak. Maka tak sering saya diancam ketika pulang akan dihajar sama anak yang bersangkutan, sendiri ataupun berkelompok. Tetapi saya punya trik untuk menghindari kepungan atau perkelahian.

Ketika dikuntit, pas ditikungan, saya pura-pura ada teman nun jauh di sana yang menunggu ataupun menanti. Maka saya bisa berakting macam sandiwara monolog.

“Hai bro! Ya sebentar, tunggu ya! Tak mbenerin sepatu nih talinya lepas. Ya nanti boleh bareng latihan karate…”

Dengan mimik yang diberani-beranikan, suara yang agak dikeraskan jongkok dan sembari melihat teman yang agak jauh. Melihat teman yang mengancam mulai melambankan langkahnya, giliran saya lari nggenjrit jauh…

Ketika SMA, nggak terhitung juga berapa kali saya membuat ulah. Pernah seorang guru tampak marah melintas di depan kelas, guru Biologi, namanya Pak Banu. Seorang teman bilang.”Wah…itu Pak Banu wajahnya marah.”

“Iya ya. Pasti urusan sama anak-anak yang bikin ulah,”kataku.

“Ho oh, nah tu dia ke kelas sebelah. Eh,…anak-anak sebelah pada keluar. Kayaknya ke Lab Biologi ya..”, kata seorang teman.

“Ooh. Bener-bener. Mungkin anak-anak sebelah disuruh ke lab tetapi nggak pada ke Lab.”

“Iya kali. Mungkin juga pada nggak tau.”

“Eh Fer, kamu jam istirahat tadi ditemui Pak Banu ada apa?”

“Hah? Wadooooh..aku lupa. Aku disuruh ke kelas sebelah nyampein kalau mereka suruh ke LAB”jawabku.

Gubrakkkk!!!!

Pada masa perguruan tinggi, saya banyak aktif di JS. Jamaah Shalahuddin. Terkadang pada masa itu saya sering mengadakan rapat koordinasi. Pernah satu kali menjadi konseptor sekaligur tentor training untuk pelatihan kepemimpinan.

Jenuh. Karena kegiatan seperti itu bisa dua tiga hari. Pagi hari kami mengadakan evaluasi rapat dengan sengit. Salah seorang teman perempuan saya, Kiki, pasti tidak akan lupa peristiwa itu. Dia persis di sebelah saya, sedang berargumen sengit dengan forum. Saat itu dia menoleh ke saya dan meminta persetujuan.

“Bla..bla..blaaaa…Iya kan Fer?”

Saat dia menoleh ke aku. Meledaklah tawanya. Saya saat itu diam, diam tanpa ekspresi, cuma saya yang bikin geli, saya sedang pakai gigi-gigian dracula.

Suatu saat, salah seorang teman lewat chat di YM, akan saya kunjungi. Seperti bercanda, dia bilang minta dibawakan oleh-oleh. Okeh, jawab saya. Saya akan bawakan dia snack yang pedas dan gurih. Dan dia senang hati karenanya.

Saatnya tiba. Si teman dari wajah senang sontak cemberut. Ya iya lah, yang saya bawa adalah kerupuk lempeng sebiji dengan saos sambal sasa satu sachet!

Dalam sejarah berkenalan dengan sosok akhwat, saya agak susah beradaptasi. Kadang kita harus berdialog dengan konsep ghadul bashar, arti harfiahnya adalah menundukkan pandangan. Tetapi pada prakteknya saya sering menyebutnya dialog selatan-selatan. Maksudnya sama-sama menghadap ke selatan tanpa bertatap muka.

Kalau bertandang ke rumah atau kost akhwat model begini, lebih rumit lagi. Karena kita bisa jadi tidak bertemu muka dengan ybs tetapi ada hijab atau tirai yang membatasi ruangan sehingga saya nggak bisa ngerti siapa yang ada di balik tirai tersebut. Tau-tau, minuman dan snack keluar dari balik tirai, buku catatan keluar dari balik tirai, atau kadang kita ngomong sendiri yang di balik tirai entah pergi ke mana.

Ada untungnya juga diskusi model beginian. Buat si akhwat, mereka tidak perlu susah-susah pakai baju yang nutup aurat ataupun ngga pake jilbab, toh sudah ketutup sama bentangan kain hijab. Buat kitanya yang laki, lebih enak lagi. Mau sambil tiduran, koprol, atau ngapain juga bebas aja. Kadang, saya iseng, seperti berpantomim saya seolah membayangkan si akhwat lagi ngomong. Mimik wajah dan bibir saya persiskan dengan omongan yang bersangkutan. Gerak tubuh saya juga iseng saya persiskan dengan gerak tubuh si akhwat. Pikir saya..toh si akhwat tidak melihat…

Eh..tau-tau dari balik hijab terdengar ada beberapa tawa meledak. Kemudian terdengar suara”, Akh Ferry ini lagi ngapain sih..?”

“Loh?! Kelihatan tho?”

“Ya klihatan lah, kan situ terang sini gelap, jadinya akh Feri lagi ngapain juga kliatan.”

Lha..ternyata…!!!!!

Demikian standup comedy saya hari ini. Terima kasih (*)

Diposting di FB tanggal: 23 Februari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s