MY 2nd STANDUP COMEDY: UJIAN KESABARAN

https://i1.wp.com/comedystandup.weebly.com/uploads/1/1/2/1/11214418/2933940_orig.jpg

Saya mengalami kehidupan sebagai mahasiswa prihatin di UGM, dimana waktu hidup rata-rata membersamai sekretariat Unit Kerohanian Islam “Jamaah Shalahuddin”(JS), dari mulai di sekretariat gelanggang sampai dengan sekretariat masjid kampus UGM. Lumayan, ngekos gratis dan kadang dapat ghonimah konsumsi acara gratis. Orang-orang sejenis dengan saya ini biasa disebut sebagai penghuni harian.

Konsekuensi menjadi penghuni harian adalah harus mau kerja keras dalam setiap even JS, baik sebagai tenaga kasar maupun tenaga mikir. Setiap jumat, kami biasa menggelar tikar mendhong di lapangan basket untuk jumatan, nyiapkan sound system, menempatkan kaleng sumbangan dll. Jam 10 sudah harus kelar karena dipastikan sudah ada Jamaah yang nyemak atau sekedar tiduran. Setelah itu bisa menikmati prosesi Jumatan sampai kelar. Kalau sudah selesai, tinggal sekedar menggeruduk khotib, ngajak ngobrol sambil menikmati konsumsi gratisan.

Kadang malu-malu, kami sok serius mendengarkan khotib yang sudah selesai menunaikan tugasnya, sambil memberikan amplop transport, ngajak ngobrol ngalor ngidul. Tetapi kalau boleh jujur, diantara wajah-wajah ini sangat berharap khotib paling tidak ngambil satu saja konsumsi, karena begitu satu diambil, dengan cepat piring konsumsi habis karena isinya disikat oleh mahasiswa-mahasiswa kelaparan ini. Itu jujur..

Pernah suatu kali ketiban apes. Pengurus JS tidak ada sama sekali, dan harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Hari jumat, waktu sudah menjelang jam 12 dan belum ada tanda khotib yang dijadwalkan hadir. Audiens sudah memenuhi gelanggang dan tidak ada satu pun calon khotib pengganti yang saya kenal. Keringat dingin mengalir, karena mahasiswa selevel saya tentunya belum layak jadi khotib. Setelah berdiskusi, saya pun maju ke depan memberikan pengumuman, “Berhubung khotib yang direncanakan datang belum ada di tempat, saya memohon kepada para jamaah sekiranya bisa menjadi khotib pengganti untuk bisa mengisi kekosongan ini..”

Kejadian ini tentu saja menghebohkan jamaah, apa mau dikata, saya tidak bisa menemukan solusi yang lain. Beruntung bahwa diantara jamaah ada yang ikhlas menjadi khotib pengganti. Tetapi cerita tentang kejadian ini seolah menjadi sesuatu yang mencoreng saya dan JS. Hari berikutnya, ada seseorang, anggap saja Pak Fulan, dalam suatu kesempatan memberikan ceramah di JS, dan saat itu saya juga hadir tepat di hadapan beliau:”Saya sungguh tidak habis pikir. UGM dengan segenap kebesarannya, banyak intelektual dan dosen yang mumpuni, mengapa di JS ada pengumuman ketiadaan khotib, eh lalu menawarkan kepada jamaah…saya sungguh tidak habis pikir.” Saya yakin beliau tidak tahu bahwa yang beliau maksud itu saya.

Merah padam, mangkel dan mendekel tentu saja. Mungkin Bapak ini tidak memikirkan bahwa untuk bisa naik panggung dalam kondisi seperti itu butuh dari sekedar “rai gedek” (tebal muka).

Waktu berlalu sekian tahun, saat JS berpindah ke Masjid Kampus. Kami masih mengurus Jumatan. Celakanya, kejadian ini seperti terulang. Tidak ada pengurus yang di tempat, cuma saya sendirian, dan tidak ada tanda-tanda khotib hadir, jamaah sudah memenuhi masjid sampai dengan selasar dan serambi. Saya trauma bener. Sungguh trauma. Tetapi saya pikir, Bismillah, daripada membuat suasana lebih parah, saya maju lagi, berkata dengan ini yang sama”,…khotib tidak hadir, dan kami memohon diantara para jamaah yang bersedia untuk menjadi khotib.”

Mungkin Allah punya rencana, tidak berapa lama setelah hari itu, ada forum lagi yang menghadirkan Pak Fulan berbicara, dan saya ada di depannya juga.” Saya sungguh tidak habis pikir, dulu ketika JS masih di gelanggang, ada mahasiswa mengumumkan khotib tidak ada dan meminta jamaah untuk jadi khotib..Eeeeh..baru-baru ini, saya kok mendapati lagi. Di masjid kampus ini” Saya masih yakin, bahwa Beliau masih belum tahu bahwa yang dia maksudkan itu saya. Ya Allah, Pak Fulan.

Entah mengapa, kejadian ketika khotib tidak ada dan cuma hanya ada saya sendirian, itu terjadi lagi. Ini yang ketiga. Trauma saya sudah tingkat tinggi, sampai adzan di beberapa masjid lain terdengar belum ada tanda-tanda khotib yang ditunjuk datang. Jamaah mulai gelisah dan saya juga lebih gelisah. Alhamdulillah sahabat saya Goes Poer tiba-tiba datang. Setahuku dia habis dari kuliah. Saya ceritakan keadaanya dan harus bagaimana. Tetapi rupanya Poer punya gagasan gila.

“Sudah Fer, kita pergi saja, jumatan ke masjid lain”, kata Poer
“Kamu gila! lha lalu siapa yang tanggung jawab.”
“Lho, yang ditunjuk siapa? Kan bukan kamu tho? Ya udah…daripada nanti malu lagi, yuk pergi!”

Masih ragu-ragu, saya dan Poer diam-diam menyelinap, ambil motor dan ngacir. Ehh, baru beberapa meter sudah diteriaki orang.

“Wah Poer, ketahuan Ustad Abdul Malik Usman” (Beliau adalah imam tetap tarawih ramadhan Masjid kampus UGM)

Poer bukannya melambatkan motor, malah melajukannya lebih kencang dan kami ketawa-ketiwi. Dan kami belum tahu gimana cerita selanjutnya di masjid kampus.

Beberapa tahun berlalu, saya jelas punya perasaan bersalah atas kejadian itu. Lebih bersalah lagi karena seolah punya dendam dengan Pak Fulan. Maka, saya berencana untuk ketemu Pak Fulan. Walaupun beliau tidak tahu siapa saya, paling tidak mengobati perasaan saya yang menurut saya, tidak semestinya.

Kesempatan itu tiba. Saya bisa bertemu dengan Pak Fulan. Setelah basa-basi prolog, belum sempat saya minta maaf, beliau mengawali pembicaraan:”Oh yaa…tentang JS, saya jadi ingat betapa tidak mikirnya mahasiswa-mahasiswa itu kalau ngurus Jumatan. Pernah suatu ketika, diumumkan secara terbuka kepada jamaah bahwa khotib nggak ada dan siapa diantara jamaah mau jadi khotib. Itu pas di gelanggang, dan ketika di masjid kampus, eeh..itu terulang lagi..ha..ha..ha..ha”

Saya tidak tahu apakah kepala saya saat itu sudah berasap atau cuma naik suhunya, yang pasti saya harus tertawa dengan lelucon yang tidak lucu sama sekali itu. Jangan bayangkan bagaimana wajah saya.

Sekian standup comedy saya yang kedua ini. Semoga sukses dunia akhirat…(*)

Diposting di FB tanggal 25 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s