Episode Orang Gila

https://feriawan.files.wordpress.com/2013/06/e3647-oranggilayangcanggih.jpg

Sesuatu itu dibilang lucu, biasanya karena bisa membuat orang tertawa terhibur. Tetapi reaksi atas hal yang lucu bisa jadi justru membuat orang terharu, menangis bahagia atau sejenisnya. Seperti halnya melihat pertama kali anak kita yang masih bayi belajar berdiri, itu lucu, tetapi belum tentu kita tertawa terbahak-bahak, bisa jadi malah menangis haru. Tidak salah.

Ini pengalaman pribadi. Beberapa tahun lalu ketika masjid kampus UGM masih baru, masih dalam tahap pembangunan di kiri kanan. Saya seorang diri menjadi penjaga sekretariat Jamaah Shalahuddin UGM (Unit Kegiatan Mahasiswa – Kerohanian Islam UGM). Kondisi memprihatinkan sampai-sampai tidak mampu bayar kost, tidak mampu bayar kuliah (nyaris ngambil cuti), bahkan tidak mampu beli makan sehari-hari. Beasiswa dari orang tua karena suatu hal tidak bisa berlanjut. Beberapa teman mengetahui hal itu, sehingga dengan sukarela, terkadang, ada kiriman nasi dan lauk ala kadarnya.

Hari itu, sehabis sholat ashar dengan jamaah yang terbatas, sedari pagi saya belum makan. Uang di saku tinggal 2000 rupiah. Tak cukup untuk beli nasi lauk yang standar, padahal kantin kasih KAGAMA yang sempat jualan nasi 500 perak, sudah tidak buka lagi. Dalam kondisi lapar sedemikian, galau dan putus asa. Dunia sempit sekali karena sudah sekian tahun nasib tidak berubah sebagai mahasiswa prihatin, miskin, kelaparan.

Saya membuka Mushaf Al-Qur’an, buku ukuran seperempat folio itu mulai saya baca di bagian tengah. Harap dimaklumi, bacaan saya masih kacau, karena belajar huruf hijaiyah baru awal masuk mahasiswa. Jangan berpikir tentang makhraj dan tajwidnya. Hurufnya saja saya masih lupa. Saat itu saya cuma tahu, bahwa dengan membaca Qur’an hati menjadi tenang.
Sayangnya, sampai dua tiga halaman ternyata kondisi tidak berubah. Allah SWT seolah tidak bereaksi dengan suara-suara saya. Perut terus melilit. Tak terasa, ternyata air mata keluar dan menetes di lembaran ayat-ayat itu. Saya berhenti. Galau.

Marah bercampur kesal, saya banting Mushaf Al-Quran itu. Ya, saya banting. Maaf jika memang itu pernah terjadi dalam riwayat hidup saya. Mungkin kalau ada rekan atau anggota Islam garis keras, saya sudah dikuliti karena menghina agama. Saat itu saya sendiri dan tidak peduli. Mau Allah Marah, mau Allah Murka, saya benar-benar tidak peduli.

Saya beranjak dari ruangan, terduduk di pintu masuk sekretariat. Melamun.
Entah kenapa, pada saat itu muncullah hal yang tidak menarik. Orang gila. Dia adalah seorang ibu, usia 50an dengan baju compang camping dan tidak karuan, bau, dengan membawa bungkusan sampah dan antah berantah, masuk ke masjid.

Ya Allah, dalam hati saya bergumam, ini apa maksudnya? Apakah ini pertanda bahwa saya benar-benar akan menjadi penghuni RSJ? Orang lapar dan bermasalah bukannya ditunjukkan jalan masalah malah didatangkan masalah baru: orang gila. Saya tidak ambil pusing. Terserahlah. Orang gila ini mau apa ya biar saja.
Orang gila itu, matanya slonang slonong ke setiap sudut bangunan, tidak ada senyuman, bergumam dan meracau nggak jelas. Sampai kemudian dia melihat saya.

“Ngopo kowe nang omahku?”(Ngapain kamu di rumahku?), katanya.
Saya diam. Mbuh ra ruh.

“Iki omahku. Tekan kono kae omahku.” (Ini rumahku, sampai sana itu rumahku). Dia mengangguk-angguk mantap dan selalu bilang iki omahku-iki omahku (ini rumahku-ini rumahku).

“Nyoh, nggo kowe. Iki omahku! (Ini untukmu, ini rumahku)” katanya, dia pergi meninggalkan beberapa kresek lusuh. Pergi entah kemana.
Untunglah dia pergi. Ya sudah nasib. Doa tidak berpetunjuk, justru dapat sampah. Selang beberapa saat, saya berdiri menuju kresek-kresek lusuh yang ditinggalkan ibu gila tadi.

Ya Rabbi, kaget luar biasa. Isi kresek tadi ternyata makanan yang enak-enak. Saya masih ingat, ada dua potong sesuatu seperti sate tetapi berukuran besar dengan selang seling daging, tomat, paprika. Ada nasi, sayuran salad, dan sebuah apel kuning besar.

Saya keluar mencari ibu gila tadi. Terlambat, dia sudah pergi entah kemana.
Dengan penuh kesyukuran saya makan makanan yang ditinggalkan orang gila tadi. Menangis. Sungguh mati rasanya enaaaaaak sekali. Cukup untuk mengenyangkan perut yang seharian tidak terisi. Entah apa yang bisa menggambarkan suasana saat itu, benar-benar luar biasa. Entah bagi orang lain, bagi saya, inilah cara Allah membalas tindakan tidak terpuji saya. Saya benar-benar merasakan betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Dia. Tidak menghukum saya dengan cara yang murka, tetapi justru dimelekkan mata saya lewat kedatangan orang gila. Saya sangat sadar dan tersadar: bahkan orang gila pun bisa makan dan memberi makan orang waras seperti saya, mengapa saya yang waras ini tidak bisa mencari makan sendiri?
Beberapa hari berlalu, nasib saya sedikit berubah. Setelah sekian hari mencari-cari pekerjaan sambilan, Alhamdulillah saya sudah memiliki uang sendiri, lewat pekerjaan yang sungguh mulia, bekerja sebagai seorang kuli donat.

Sore itu, sehabis Ashar di serambi Masjid Kampus UGM, saya membuka Mushaf Al-Qur’an yang dulu pernah saya banting. Beberapa lembar tertekuk-tekuk, terlipat dan kusut. Dengan pengetahuan yang pas-pasan, membacanya dengan segenap perasaan. (*)

Jogjakarta, 5 Juni 2013

6 thoughts on “Episode Orang Gila”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s