Imajinasi Sunyi

541923_10200132547784731_2128985111_nKarena Sunyirah terlahir jauh dari kata cantik, bukan berarti dia tak punya fantasi. Setiap saat dia berpantas diri di hadapan cermin, di dalam kamar. Secuil kertas bergambar foto artis atau model terkenal, sering dia sandingkan dengan bayangannya di dalam cermin. Terkadang, ketika di jalan atau di keramaian dan melihat seorang pemuda yang dirasanya ganteng, gagah atau menawan, dipercepat langkahnya pulang. Masuk dalam kamar, menguncinya  dan kembali menggumuli cerminnya sembari berkhayal. Menerawangkan imajinasi tentang sosok tampan yang menyatakan cinta dan mempersuntingnya, memperlakukannya bak seorang ratu lalu menari-nari seperti film India. Bahkan terkadang imajinasi gilanya membayangkan bahwa dirinya adalah seorang putri yang terkutuk, sampai ada seorang pangeran yang menciumnya untuk menjadikannya kembali cantik. Sayang, itu Cuma khayalan yang jauh kenyataan. Dia harus sadar, layaknya bangun dari tidur, bahwa itu cuma karangan isi kepalanya, dan mungkin nasib baik tak berpihak padanya. Meski gayanya di cermin dipantas pantaskan, meskipun sekian koleksi bedak, maskara, perona dan gincu yang dia beli dari barang sisa impor di pojok pasar dia cobakan, masih saja belum ada kata ‘serasi’ dia dapatkan. Rasanya, sulit sekali mendapat pengakuan, bahkan dari dirinya sendiri, bahwa ada lelaki menawan yang pantas dalam sandingan.

Sunyi, panggilan Sunyirah, juga tahu, usianya sudah kepala empat lebih. Bahwa dirinya menjadi olok-olok tentang perawan tua yang tak laku-laku, bahan ejekan dalam obrolan pinggir jalan.  Bahan bagi obrolan bapak-bapak ketika ronda. Sunyi bukan tuli, atau mencoba kebal. Sudah sekian tangis keluar. Sunyi hanya tidak tahu bagaimana menghadapi itu semua, sehingga hanya sikap minder dan pemalu yang nampak. Beruntung sedikit, bahwa rumahnya yang sederhana dimana dia hidup sendiri, letaknya agak mencil di desanya. Warisan dari ibunya sebatang kara dengan sepetak tanah, tempat Sunyi sekedar bertanam empon-empon, sebagai penghasilan tambahan selain jadi buruh kupas bawang merah di pasar. Pekerjaan yang terkadang membantunya untuk berbohong pada orang lain, sehingga ketika dia kepergok menangisi nasibnya,  dia akan bilang bahwa matanya terpercik getah irisan bawang merah.

Air matanya itu kadang keluar tanpa bisa terkendali, sebagai bentuk penyesalan atas nasibnya dan atas gunjingan kiri kanan. Air mata itu kadang juga keluar ketika cermin terlalu jujur menampakkan bayangan dirinya yang walau berjam-jam mempermak diri, tetap saja jelek. Air mata itu kadang juga keluar deras saat bersimpuh sehabis sholat di mushola desa, saat jamaah sudah mulai sepi.

“Ya Allah. Bukankah tidak mungkin di dunia ini Engkau menciptakanku tanpa pasangan hidup? Bukankah Engkau yang memastikan bahwa tidak mungkin seseorang di dunia ini diciptakan tanpa pasangan? Dimanakah dia yang Engkau janjikan? Ada di belahan manakah dirinya? Andaikan aku tahu, aku tentu tidak akan sesedih ini. “

Pada satu sisi, dia secara jujur ingin protes, mengapa diciptakan oleh Tuhannya dengan ketiadaan secuilpun kecantikan, sebuah penghargaan tertinggi bagi manusia di belahan manapun yang berkelamin perempuan. Sebuah modal yang baginya begitu penting untuk mendapatkan jodoh, pasangan hidup, status yang bisa menyelamatkannya dari kehinaan dunia. Tetapi dia takut untuk mengatakannya, takut mengatakan kepada Tuhannya, takut bahwa dia tidak mensyukuri nikmat, karena jika tidak mensyukuri nikmat, maka Tuhan tidak akan menerimanya. Begitu yang dia dengar dari pengajian-pengajian, tentang ayat yang berbunyi: nikmat manakah yang engkau dustakan.

***

Hari ini di Mushola, siang menjelang sore saat hujan turun, dia masih bersimpuh di atas sajadahnya. Sama seperti hari-hari lalu, dia menangisi nasibnya. Berharap bahwa akan datang jodoh yang mampu mendampinginya. Berharap bahwa Allah dengan KemahakuasaanNya mampu mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang mustahil menjadi wajar, dan yang lepas dari pikiran manusia menjadi kejadian luar biasa.

“Ya Allah. Aku tidak akan pernah bosan untuk mengharap kemurahan dariMu.Engkaulah yang menjadikan aku ada di dunia ini. Maka Engkau pulalah yang memiliki kuasa untuk mendamaikan kehidupanku. Andaikan ada seseorang yang mau mencintaiku, aku tidak akan pernah menyesal untuk mengorbankan apapun demi kebahagiaanya.”

Gedebuk…!!!!

Suara orang jatuh di luar Mushola. Sunyi masih sadar, bahwa itu bukan manusia tampan atau pangeran gagah yang jatuh diturunkan dari langit, sebagai jawaban Allah yang mendengar doanya. Itu adalah seseorang yang terpeleset karena mungkin jalanan sedang licin oleh air hujan. Segera dia ke luar, melihat siapakah orang yang sedang sial itu.

Benar, seseorang di sana sedang terpeleset dan meraba-raba, mencari sesuatu. Sunyi segera meraih payung, berlari menuju sosok yang terjatuh itu, tak perduli hujan lumayan deras.

Diraihnya tubuh yang berusaha bangkit, dan diambilnya benda yang mungkin dicari orang yang terpeleset itu. Sunyi mengamati sosok yang ditolongnya. Seorang tuna netra. Lelaki tuna netra. Dibimbingnya sosok itu menuju emperan mushola, berteduh.

“Terima kasih atas pertolongannya”, kata lelaki itu.

“Sama-sama”, jawab Sunyi. Diamatinya dalam-dalam lelaki itu. Dia tidak pernah merasa kenal atau bertemu.

“Anda siapa? Mau ke mana hujan-hujan begini?”

“Saya Laksono. Saya putranya Pak Sadat.”

“Pak Sadat kampung Tempuran? Agak jauh dari sini. Saya tidak pernah lihat kalau dia punya anak lelaki.”

Laksono senyum,” Saya malah tidak pernah melihat siapapun di dunia ini”

“Oh maaf,” Sunyi sadar kesalahannya. Ia ikut tersenyum sipu.

“Saya kadang bosan. Bapak Ibu memang sering melarang saya keluar. Mungkin malu dengan kiri kanan. Mungkin juga khawatir kalau saya ada apa-apa, atau

disakiti orang. Tetapi ya itu, saya bosan. Saya sering jalan-jalan, keluar tanpa pamit. Mencari hawa segar. Mendengarkan sesuatu yang bikin saya bahagia, seperti hari ini. Biasanya saya tahu dan sadar kalau hari akan hujan, saya sudah berteduh di suatu tempat atau langsung pulang. Tetapi hari ini saya tidak beruntung.”

Sambil mendengarkan Laksono bercerita, Sunyi mengamati perwajahan lelaki di hadapannya itu. Kecuali mata yang memang tidak bisa melihat, Sunyi boleh terkagum pada banyak hal pada fisik Laksono. Wajahnya lumayan ganteng. Badannya tegap. Suaranya dan cara bicaranya cukup membuat orang nyaman. Andaikata, batin Sunyi, ini memang lelaki yang diturunkan Allah dari Surga. Andaikata, ini adalah jawaban atas doa-doanya. Andaikata, pada hari nanti ada pesta pernikahan dimana dia bersanding dengan lelaki ini. Imajinasi sunyi terus menari-nari.

“Mbak..kok diam”. Deg….

“Euh..oh..ehm…”Sunyi tersadar dari lamunannya. Salah tingkah. “Mari saya antar berteduh di rumah saya. Kaki Mas Laksono ada sedikit luka parut. Itu biar saya diobati. Kalau tidak nanti infeksi. Setelah itu nanti saya antar pulang ke rumah Pak Sadat.”

***

Pertemuan dengan Laksono di hari itu rupanya cukup membekas di perasaan mereka berdua. Laksono jadi sering bertandang ke rumah Sunyi. Walaupun agak jauh, dengan tongkat aluminium yang selalu menjadi pemandunya. Dia menjadi hapal mana jalan ke rumah Sunyi, atau mana arah Mushola desa, ketika Sunyi sedang tidak ada. Sunyi juga tidak lagi kesepian. Walaupun mungkin tidak sempurna, ada harapan baginya untuk merajut sesuatu yang tadinya nyaris tidak mungkin, merajut sesuatu bernama cinta.

Pak Sadat dan Bu Sadat, orang tua Laksono, cukup bergembira bahwa anaknya yang berkekurangan ini sekarang mempunyai kebiasaan baru, mempunyai idaman, mempunyai orang yang mau menerima kekurangannya. Walaupun pada sisi lain, Pak Sadat dan Bu Sadat jelas tahu, bahwa Sunyi bukanlah perempuan yang cantik. Tetapi melihat Sunyi yang begitu baik kepada anaknya, mereka tidak ada alasan untuk mengganggu hubungan keduanya.

Laksono adalah anak semata wayang yang memang mereka jaga, mereka lindungi. Bukan sekali dua mereka mengusahakan bahwa Laksono dibawa ke pengobatan mata, siapa tahu ada kemungkinan bagi anaknya untuk melihat indah dunia. Dari pengobatan dokter spesialis sampai alternatif, hasilnya selalu nihil. Pak Sadat dan Bu Sadat selalu berpikir bahwa Laksono masih bisa diobati. Laksono bola matanya masih utuh, hanya saja memang pupil hitamnya tidak sehitam orang normal. Putih. Seperti orang katarak penuh. Layaknya seorang yang belajar ilmu kedokteran, mereka juga tidak pernah berhenti membaca artikel dan jurnal tentang perkembangan penyakit mata, siapa tahu,ilmu pengetahuan berkembang dan harapannya agar anaknya melihat menjadi nyata. Walaupun mungkin harus ke kota besar yang jauh untuk bisa bertanya kepada dokter spesialis.

***

Suatu hari, di bawah pohon pinggir sawah ditemani gemericik air irigasi, mereka sedang berbincang.

“Kamu tahu, apa yang paling kuinginkan di dunia ini?”, kata Laksono.

“Apa, Mas?” tanya Sunyi. Laksono diam sejenak. Dia berdiri sembari menikmati gemerisik dedaunan tertiup angin yang berpadu dengan gemericik air.

Pandangannya penuh harap.

“Bila suatu saat nanti aku bisa melihat, maka yang aku inginkan pertama kali adalah melihat kamu.”

Sunyi tersipu. Belum pernah ia merasakan perasaan yang meluap seperti ini. Beruntung bahwa Laksono tidak bisa melihat betapa lucunya polah salah tingkah Sunyi.

“Memangnya, dalam bayanganmu aku ini seperti apa, Mas?”

“Kamu itu cantik sekali. Aku mungkin tidak peduli apa yang dikatakan banyak orang. Bagiku, kamu cantik sekali.”

“Nanti kamu kecewa, Mas.”

“Tidak akan…”

Seperti halnya orang pacaran. Mereka saling merayu, saling canda-candaan, sentil-sentilan. Menjalin kemesraan dalam bayangan imajinasi mereka masing-masing. Sunyi, dengan sabar dan kasih sayang menguraikan indahnya dunia dengan warna-warna yang unik dalam setiap benda di sekitarnya. Mulai dari daun, binatang, buah, sampai dengan langit, bintang dan seisinya. Laksono, seperti darah segar yang mengaliri jantung Sunyi.

***

“Ayah,” kata Laksono, suatu hari.

”Aku ingin menikah dengan Sunyi”

Pak Sadat, ayah Laksono, mengangguk.

“Apakah sudah kamu pikirkan masak-masak?” kata Pak Sadat, sebagaimana orang tua yang mendengar curahan hati anaknya.

“Sudah Ayah. Sunyi cukup mampu memelihara saya. Nanti kami juga bisa beternak ayam atau memelihara ikan.”

“Hm. Sunyi sudah tau?”

“Belum, Ayah. Saya minta tolong Ayah yang mengurus.”

“Baiklah”

Suara ringtone dari telepon seluler berbunyi. Telepon genggam Pak Sadat. Diraihnya telepon genggam. Sebentar kemudian ada pembicaraan dengan seseorang di sana. Tiba-tiba, ekspresi wajah Pak Sadat menjadi cerah, terang benderang.

“ Benarkah itu, Pak?” setengah berteriak Pak Sadat menanyakan pada seseorang di telepon.

“Alhamdulilllaaaahhhhh…!!!”

***

“Sunyi !!!! Sunyi!!!” Laksono mengetuk pintu rumah Sunyi. Terengah-engah tergesa. Terdengar suara membuka pintu.

“Ada apa, Mas?” tanya Sunyi.

“Ada harapan, Sunyi. Ada harapan.”

“Harapan opo tho?”

“Aku akan bisa melihat….aku akan bisa melihat.”

“Benarkah itu, Mas!? Tenane lho!?”

“Iya Benar!”

Mereka menari-nari dengan gerakan tidak karuan. Tidak penting. Yang penting mereka bahagia bahwa ada harapan untuk sesuatu yang baik.

***

Laksono berpamitan dengan Sunyi. Pertemuan yang mengharukan bagi Pak Sadat dan Bu Sadat, seolah mereka sedang melihat sesuatu yang dramatis. Laksono bisa mendengar kedua orang tuanya menangis. Reaksi yang sebenarnya terlalu berlebihan bagi Laksono. Reaksi yang tidak biasanya. Tetapi Laksono tidak terlalu berpikir, kecuali dirinya akan bisa melihat lagi. Sebulan akan berpisah dengan Sunyi, Laksono dan keluarganya akan berangkat ke Jakarta pada sebuah Rumah Sakit Spesialis Mata. Sebuah janji pertemuan antara Laksono dengan Sunyi telah terucap.

Sebulan berlalu dengan sekian banyak proses. Singkat cerita, operasi berjalan lancar. Ketika tali perban dilepas, selingkar demi selingkar, kemudian Laksono membuka mata perlahan-lahan. Hampir tidak ada perubahan yang terjadi pada matanya. Hanya yang beda, sekarang cahaya terang benderang dan bukan gelap. Lalu keajaiban terjadi, warna terang itu kemudian membentuk sesuatu yang makin lama makin jelas, wajah-wajah penuh tanya. Sebentar kemudian, teriakan kebahagiaan membahana di ruang terapi mata.

Inikah dunia yang indah itu, sungguh indah. Tidak henti-hentinya Laksono mengagumi keadaanya, mensyukuri keberuntungannya. Ia tidak sabar, ia ingat janjinya, ingin sekali bertemu Sunyi. Seperti apakah sosok Sunyi. Seperti apakah perempuan yang dalam hatinya begitu membekas untuk dinikahinya. Seperti ibunya, kah? Seperti perawat-perawat yang ada di Rumah Sakit, kah? Seperti wajah-wajah yang ada di koran, di iklan, di Televisi, di semua tempat yang selama ini ia jumpai kah? Ia sangat ingin tahu. Ia sangat tidak sabar untuk sampai di kampungnya, rumahnya, dan rumah Sunyi.

***

Senja.  Saat kendaraan sampai di rumahnya, tanpa masuk ke rumahnya, Laksono bergegas pergi berjalan ke rumah Sunyi. Ia tak ingin ditemani siapapun. Kejutan, katanya.

Sambil terpejam membayangkan jalan yang dilalui, Laksono mendekati rumah Sunyi. Saat terdengar suara sapu lidi bersentuhan dengan halaman rumah, saat dimana Sunyi sedang menyapu.

Laksono terhenti di balik pohon. Itu Sunyi, di sana. Setengah berlari dia menuju ke arah Sunyi. Tetapi dia kaget setengah mati. Begitu dekat dengan perempuan yang diakrabinya, semua bayangan tentang Sunyi hilang. Laksono terpaku.

Oh, alangkah jeleknya, pikir Laksono. Inikah Sunyi? Sunyi yang selama ini bersuara lembut dan merdu? Ternyata penampakannya begitu mengecewakan.

Gambaran citra yang ada di kepalanya tentang perempuan cantik telah terbentuk, dan ternyata, Sunyi yang didapatinya jauh dari kata itu. Hatinya berkecamuk penyesalan dengan kata-kata dan janji yang terlanjur diucapkannya kepada Sunyi. Buyar sudah segalanya. Kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.

Sebentar kemudian ia mundur. Beringsut. Bersembunyi di balik semak-semak, jangan sampai Sunyi tahu.

“Siapa yaa?” Sunyi merasakan ada seseorang di sana. Sunyi jelas tahu bahwa ada seseorang atau binatang, atau apapun. Sejenak dia diam. Tetapi karena tidak ada yang mencurigakan, dia melanjutkan menyapu.

Laksono diam, masih bersembunyi di balik semak-semak. Sampai kemudian menghilang. Pergi meninggalkan rumah Sunyi. Pergi dengan kekecewaan.

***

Lebih dari sebulan, semenjak Laksono mengikat janji dengan Sunyi. Selama itu pula Sunyi belum bertemu dengan Laksono. Yang dia tahu dan dengar dari kiri kanan, bahwa Laksono sudah dapat melihat. Ia masih menunggu tentang janji Laksono, yang ingin melihat dirinya. Apakah dia mungkin lupa? Tentunya tidak. Ia sadar, barangkali memang Laksono sudah melihatnya dan kemudian kecewa. Ia sangat rasional, bahwa mungkin Laksono berubah pikiran ketika sudah tahu tentang keadaan dirinya. Ia sangat sadar. Tetapi ia menepiskan pikiran-pikiran buruk itu. Ia mengisinya dengan sesuatu yang indah, yang sudah pantas untuk dia syukuri, bahwa dirinya pernah dicintai oleh seorang lelaki.

Kabar tidak sedap malah terdengar, bahwa Laksono menjalin hubungan dengan perawan kembang desanya. Sunyi, sebagaimana hari kemarin, tetap bersyukur. Ia bisa memastikan bahwa Laksono sudah berubah. Sunyi tidak menuntut apapun. Baginya, pernah dicintai oleh seseorang yang kini berhubungan dengan gadis paling cantik di desa, serasa sudah menyempurnakan kedudukannya, bahwa dia bisa sejajar atau sekaliber dengan si bunga desa. Ia tidak menyesali. Barangkali memang begitulah Laksono, tak ubahnya seperti lelaki normal yang suka dengan perempuan cantik. Jangankan lelaki, dirinya saja juga senang jika melihat perempuan tampil cantik. Ia juga tahu, mungkin memang begitu semestinya kehidupan.

***

Pak Sadat bukannya senang ketika Laksono tidak mendekati Sunyi. Bahkan sebaliknya, Pak Sadar justru sangat gusar manakala tahu bahwa Laksono yang sudah bisa melihat itu, kini dikabarkan sedang mendekati Retno, kembang desa yang kondang cantik seperti artis ibu kota. Beberapa kali dia menanyakan kepada Laksono, sudahkah bertemu Sunyi. Tetapi Laksono selalu menghindar. Belum sempat lah, tidak ada waktu lah, sedang ini itu, lah.

Hari ini, Pak Sadat sudah tidak tahan. Saat pulang dari sawah, didapatinya anaknya sedang duduk berdua dengan Retno. Bergenggaman tangan, layaknya orang pacaran.

“Laksono!” Pak Sadat naik pitam.

“Inggih, Pak”, jawab Laksono. Sedikit takut melihat Bapaknya murka.

“Pulang!” kata Pak Sadat.

“Ada apa to Pak?”

“Malah pacaran. Lupa kamu sama Sunyi?”

“Pak. Saya nggak jadi mau sama Sunyi. “

“Apa?”

“Saya sudah tidak mencintai Sunyi.”

“Heh, setelah melek matamu itu kamu jadi keblinger yaa…? Setelah bisa melotot, justru hatimu yang sekarang buta. Tidak bisa! Kamu harus nikah sama Sunyi.”

“Loh, Saya kan tidak janji apapun, tho Pak. Saya nggak mau. Saya milih Retno.”

“Dengar kowe, ngger. Kamu harus nikah sama Sunyi!” Pak Sadat ketus.

“Saya punya hidup sendiri, Pak. Saya nggak mau nikah sama Sunyi.”

“Weh, lah..pengen bikin malu Bapakmu, kamu! Pengen Bapakmu malu sama Gusti Allah!”

“Pak! Saya punya hak, Pak.”

Pak Sadat tidak sabar. Ditariknya tangan Laksono, tidak mempedulikan Retno yang ketakutan. Digeretnya sepanjang jalan tanpa mempedulikan Laksono yang terus protes.

“Ikut !”

“Pak, Ada apa to, Pak”

***

Pak Sadat membawa Laksono ke tepian jalan. Jalan yang menghubungkan antara Mushola dengan rumah Sunyi.

“Diam kamu. Tunggu di sini dan jangan bicara apapun.”

“Memangnya ada apa, tho Pak?”

“Kamu dengar apa kata Bapak, tidak!”

Laksono diam seribu basa.  Kalimat terakhir Bapaknya itu adalah kalimat yang bisa berujung murka jika dia tidak mematuhinya. Ia diam saja. Mereka berdua berdiri mematung di pinggir jalan.

Sebentar kemudian, Sunyi keluar dari Mushola. Berjalan terus. Berjalan seolah tidak ada siapapun yang memperhatikannya. Seolah dua orang lelaki di pinggir jalan itu tidak ada. Laksono digelanyuti pikiran tidak enak, ketika Sunyi dengan pelan dan cuek melintas begitu saja, tidak memperhatikan dua lelaki yang berdiri di tepi jalan sepi menuju rumahnya.

Laksono sebenarnya sangat malu, tidak ingin bertemu Sunyi. Dalam hatinya, ia harus mengakui ia sudah mengkhianati Sunyi. Tetapi keadaan ini tidak bisa dia kendalikan. Ia tidak bisa berlari lagi. Ada Bapaknya.

Hujan turun. Saat Laksono mau pergi berteduh, tangan kekar Pak Sadat menahannya. Sunyi terus berjalan, hingga kemudian..

Gedebuk !!!

Laksono menepiskan tangan Pak Sadat. Ditujunya Sunyi yang sedang terpeleset.

“Mas Laksono?”

Yang disapa diam. Laksono diam, kaget, kemudian menoleh kepada Bapaknya. Ada sesuatu yang ganjil.

“Sunyi, kamu kenapa?”

Yang ditanya hanya diam tersenyum. Laksono makin heran.

“Pak, Sunyi kenapa, Pak.”

Pak Sadat menangis. Laksono makin bingung. Sekejap rasa bersalah menyelimuti dirinya.

“Jadi benar kamu belum tahu, Laksono anakku. Kamu belum tahu bahwa Sunyi itu sekarang buta. Matanya telah disumbangkan demi kesembuhanmu. Demi kamu biar bisa melihat,” ucap Pak Sadat.

Suara hujan menyatu dengan rintihan serak dari mulut Laksono. Tetes-tetes air hujan yang mengalir membasahi tanah desa, menyatu dengan air mata mereka bertiga. (*)

Merdikorejo, 12 Desember 2012

One thought on “Imajinasi Sunyi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s