LELAKI ITU KERAS DAN SAH MELAKUKAN KEKERASAN, SO WHAT? .

 

Maaf kalau judulnya terlalu provokatif. Ini sekedar catatan yang saya tuliskan pada Peluncuran Modul Konseling Laki-laki yang diselenggarakan oleh WCC RIFKA ANNISA. Dari paparan awal, saya tangkap bahwa ide dasar dari penyusunan acara ini adalah pembelajaran yang diperoleh oleh Rifka Annisa terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, bahwa selama ini recovery, konseling dan trauma healing hanya dilakukan terhadap korban (yang dalam hal ini adalah perempuan dan anak-anak), tetapi pelaku utamanya, lelaki, justru tidak tersentuh sama-sekali. Padahal, sebagian besar kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, dari si perempuan berkeinginan untuk terus melanggengkan hubungan mereka dengan lelaki. Artinya, potensi kekerasan akan terus terjadi dan direproduksi oleh lelaki. Pun jika lelaki bercerai dengan pasangan yang menjadi korban kekerasannya, dia masih memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan kepada pasangannya yang baru. Begitu seterusnya.  Maka, fokus advokasi pada tahapan berikutnya bukan sekedar memberikan pembelaan, perlindungan ataupun penanganan kepada perempuan, tetapi untuk memberikan “lelaki baru” yang memiliki kesadaran dan paradigma tentang posisinya yang strategis dalam konstruksi gender, baik di rumah tangga atau keluarga, maupun dalam ranah sosial. Itulah: mengapa lelaki.

 

Pertanyaan paling mendasar: lelaki sebagai “monster” pelaku kekerasan itu kodrat ataukah konstruk? Tentu saja jawabnya adalah konstruk. Mungkin, jika belajar dari perilaku mahluk selain manusia, tidak ada cerita tentang tindakan kekerasan pejantan terhadap betinanya, selain dominasi beberapa jenis binatang (itupun tidak selalu dominasi jantan). Tetapi lain ceritanya dengan konstruk sosial yang dibangun dan dilegitimasi oleh budaya, hukum, politik bahkan agama (ataupun tafsir atas agama). Konstruk sosial yang patriarkhal ini dilanggengkan bukan saja bukan oleh lelaki sebagai pelaku kekerasan, tetapi juga oleh kaum perempuan. Misalkan saja, dari pengalaman saya, ketika saya mencuci baju keluarga dan menjemurnya di halaman, tetangga ada yang menyapa dan bertanya: “Mas Feri ini terlalu rajin. Lha ibunya anak-anak di mana?”. Ataupun ketika di facebook  saya ceritakan bahwa saya kadang memasak, mencuci, menyetrika ataupun menyerahkan seluruh penghasilan yang saya peroleh kepada istri, seolah-olah ada yang menuduh bahwa saya adalah salah satu suami takut istri.  Ini tentu saja aneh, apalagi dalam keyakinan saya sebagai Muslim, hal-hal demikian justru biasa dilakukan oleh Nabi SAW. Bahkan Nabi SAW pula yang mengajarkan tentang bagaimana menyenangkan istri, menghormati ibu, sampai dengan bertanggungjawab terhadap indah gelapnya rumah tangga di dalam rumah agar seindah surga, dan bukan menjadi neraka bagi istri.

 

Pendek kata, konstruksi masyarakat memiliki andil dalam menciptakan lelaki sebagai monster pelaku kekerasan, yang sebenarnya salah kaprah dari pemosisian lelaki yang konon: harus kuat, memimpin masyarakat, tidak boleh lemah, yang kemudian berubah menjadi tidak boleh kalah dari perempuan, tidak boleh kalah penghasilan, kepandaian dan kepemimpinannya dalam rumah tangga daripada istri, tidak boleh menangis, tidak boleh menyentuh ranah-ranah yang biasa dilakukan oleh perempuan pada umumnya. Saat lelaki “kalah”, maka digunakanlah kekerasan, dan kekerasan itu dilegitimasi oleh konstruk sosial. Pada sisi lain, perempuan dilemahkan, yang sebagian besar karena faktor ekonomi. Rata-rata perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga menjadi lemah karena tidak berpenghasilan, tidak memiliki kesempatan untuk berproduksi, tidak memiliki kekuatan untuk menjalin relasi dan kesempatan untuk belajar menghasilkan uang bagi keluarga. Kekhawatiran yang paling utama ketika harus bersikap terhadap lelaki pelaku kekerasan, adalah semakin terpuruknya nasipnya dan anak-anaknya kelak diakibatkan oleh tanda tanya akibat ketiadaan mata pencaharian. Akibatnya, dia tetap bertahan dalam kondisinya yang terjajah di keluarga. Sekalipun dia sudah berkonsultasi, ataupun bahkan diadvokasi oleh lembaga pembela hak-hak perempuan, hasilnya sama saja: dia tidak berkutik.

 

Saya sering mendengar, di lingkungan sekitar, bahwa perselingkuhan dan pelecehan seksual biasa terjadi  bukan saja oleh mereka yang masih muda dan belum menikah, tetapi juga oleh mereka yang sudah bangkotan, sudah tua dan berumah tangga bahkan memiliki banyak anak. Ironinya, hal itu bukan saja dilakukan secara gelap-gelapan, tetapi bahkan ada yang jelas-jelas diketahui oleh pasangannya ataupun istrinya yang ada di rumah. Saya, tentu saja tidak bisa membayangkan secara pasti apa yang ada di kepala ibu-ibu yang ada di rumah itu, tetapi tentu saja hal itu menyakitkan, kecuali perempuan yang di rumah bukanlah seorang ibu, melainkan sama brengseknya dengan si bapak nakal itu. Saya juga sudah biasa mendengar tentang istilah “duit lanang”, yaitu pendapatan di luar gaji yang diperoleh para suami yang biasanya tidak diketahui istri yang kemudian digunakan untuk bersenang-senang sesuai dengan egoismenya sendiri. Dalam obrolan-obrolan ringan di manapun, perempuan juga rentan dijadikan sebagai objek pembicaraan yang mengarah kepada eksploitasi seksual. Di belakang bak truk, sebagai “ganjel mata”, maka istilah, pesan singkat, dan guyonan yang mengarah kepada pornografi bernuansa eksploitasi perempuan menjadi hal yang wajar. Masih segar dalam ingatan kita, bahwa Gubernur DKI menganggap bahwa dalam kasus perkosaan perempuan komuter di angkot, perempuanlah yang harus berjaga diri dengan tidak memakai rok mini. Benang merah dari kasus yang saya dapat dari pengalaman di atas adalah: bahwa lelaki itu rentan menjadi pelaku kekerasan sementara perempuan rentan untuk menjadi korban yang tidak berkutik kepada keadaan.  Sialnya, terkadang lelaki (atau bukan saja lelaki, tetapi perempuan dan masyarakat) tidak menyadari itu. Menganggap bahwa segalanya seperti di atas biasa saja.

 

Kalau dewasa ini, lepas dari hasil yang masih jauh panggang dari api, diskursus gender sudah menjadi hal yang sudah diketahui luas. Kita sudah mengenal penganggaran berperspektif gender,  pengarusutamaan gender dalam pembangunan sehingga perempuan relatif disejajarkan dengan lelaki. Pun, dalam persoalan KDRT, sudah ada UU penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Artinya, perempuan punya payung hukum ketika terjadi kekerasan. Tetapi bagaimana dengan lelaki? Apakah lelaki dalam tiap kepala yang berjalan, mencari nafkah, bermasyarakat dan menjadi pemimpin di berbagai ranah sosial ini sudah cukup sensitif terhadap tindakan kekerasan terhadap perempuan? Apakah kita sebagai lelaki cukup mengenal bahwa bentuk kekerasan bukan saja kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikologis, seksual, ekonomi dan sosial?  Apa dampaknya bagi istri dan anak-anaknya? Apakah yang terjadi jika istri dan anak stress, depresi, trauma dan bahkan stres pasca trauma? Dan bagaimana jika hal itu direproduksi, ditiru oleh anak-anaknya? Itulah. Pada akhirnya, pada persoalan ini, intunya, lelaki harus “disentuh.”

 

Ini bukan berarti lelaki harus dibenci, digugat ataupun bahkan memberikan stigma besar pada relasi lelaki perempuan dalam konteks rumah tangga dan sosial, tetapi bagaimana bahwa lelaki bisa menjadi tahu diri, tahu posisi dan tahu kedudukan yang semestinya dalam relasinya dengan perempuan, khususnya sebagai pelaku terbanyak kekerasan. Bukan pula legitimasi untuk mempermak, mengata-ngatai, menelanjangi, menghukum ataupun menggunduli habis pelaku kekerasan terhadap perempuan. Jika itu arahnya, maka mungkin satu penyakit akan mati, tetapi jutaan penyakit kekerasan lelaki masih berjingkrangan dan dipastikan terus “berkembang biak”. Sebagaimana disinggung di atas, bicara kekerasan lelaki adalah berbicara pelaku dengan legitimasi social, budaya, tradisi, keyakinan dan bahkan agama yang tidak hanya tunggal, tetapi jamak. Kita tidak hendak melawan, atau bahkan tidak cukup energi untuk melawan secara frontal itu semua. Justru basis pijakan untuk bertindak dalam kerangka menghilangkan kekerasan terhadap perempuan tadi bias berangkat dari tradisi, nilai, budaya bahkan keyakinan dan agama, yang sebisa mungkin digali dalam kerangka mempromosikan kedamaian, harmonisasi, toleransi dan relasi yang baik antara perempuan dan lelaki dengan lebih adil dan manusiawi. Ambil contoh persoalan poligami yang mendapatkan legitimasi yang sah dari Qur’an. Tentunya bukannya Qur’annya yang harus direvisi, tetapi paradigma tentang poligami yang harus diluruskan. Poligami seolah menjadi legitimasi bagi lelaki untuk berkokok bahwa dia telah menaklukkan sekian perempuan, melakukan praktek dominasi kekuasaan dan yang sebenarnya terjadi adalah nafsu, pelecehan seksual dan pelecehan perempuan yang dilegitimasi agama. Bahwa syarat tegas untuk menjadi “poligamers” itu ada di dalam Qur’an itu sendiri adalah berbuat adil, tentunya harus digali terkait dengan ukuran adil itu sendiri, bagaimana tafsirnya, menurut siapa dan pada akhirnya jelas ukurannya. Mengapa? Ya karena terkadang seolah keadilan hanya milik Allah dan dikembalikan kepada Allah SWT, padahal perempuan dan anak-anaklah yang menanggung konsekuensi atas kegagalan perilaku adil si lelaki.

 

Jadi, yang perlu diberikan garis bawah adalah perihal bagaimana melahirkan “lelaki baru”. Masih perlu dirumuskan, bagaimanakah kiranya mencptakan regulasi atau payung hukum untuk niat baik ini, bagaimanakah kiranya melakukan konseling lelaki (yang selama ini sulit ataupun susah menyentuh lelaki, khususnya dalam hal KDRT), bagaimanakah memberikan sosialisasi atau mengubah konstruksi masyarakat. Elaborasi ini semoga bisa mendapatkan follow up. Tentu saja itu tidak mudah, karena perubahan yang dilakukan khususnya kepada kita lelaki, adalah perubahan yang sangat radikal, mulai dari cara pandang, wawasan, sampai dengan hal-hal praktis yang biasa dilakukan sehari-hari. Wallahu a’lam.

 

 

Feriawan Agung N.,S.Sos (Pekerja Sosial PSTW Yogyakarta)

Joglo Melati, 21 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s