Jagung Untuk Raja

Adalah seorang raja di negeri antah berantah yang memiliki tiga orang putera kembar. Ketiga-tiganya sangat mencintai  dan menghormati ayahnya tersebut. Mereka dididik dengan baik oleh Sang Permaisuri yang menjadi ibu bagi mereka, penasihat utama Raja, sekaligus guru negara yang memberikan pencerahan bagi seluruh rakyatnya. Putra raja ini kemudian tumbuh menjadi pangeran-pangeran remaja yang cerdas, hebat dan siap menggantikan Sang Raja.

Suatu hari, Sang Raja memanggil ke tiga Pangerannya untuk menghadap.

“Putra-putraku tercinta”, kata Raja memulai pembicaraan. “Kalian aku undang ke mari untuk suatu hal. Suatu hari nanti, ketika aku semakin tua, tibalah saatku menyerahkan tampuk pimpinan kepada salah satu di antara kalian. Tetapi sebelum tiba saat itu, ada sesuatu yang membuat aku sedikit gusar. Yaitu, aku tidak tahu kepada siapakah tahta ini akan kuberikan, yaitu satu diantara kalian.

“Tidak akan mungkin menyerahkan kerajaan ini kepada semua kalian, karena kerajaan bukanlah kue yang bisa dibagi-bagi. Tetapi menunjuk satu diantara kalian, aku harus punya dasar yang kuat, agar seluruh rakyat mencintai kalian dengan sebenar-benarnya cinta, sebagaimana rakyat mencintai aku. Aku tidak tahu, sejauh pertimbangan yang aku terima dari Ibu kalian, kalian semua menunjukkan kebanggaan yang kurang lebih sama. Sama-sama pintar, sama-sama bernalar dan sama-sama berbudi. Untuk itu, hari ini aku akan menguji kalian.”

“Aku berikan kalian masing-masing sekantung biji jagung. Mungkin hanya sekantung jagung. Tetapi bagiku ini bisa menjadi sesuatu yang berharga bagiku untuk menilai kalian. Dalam empat purnama lagi, kalian akan kupanggil menghadap. Siapa diantara kalian yang paling memuaskan aku, akan aku beri hadiah satu desa untuk kalian kelola. Kelak, dari desa itulah kalian akan membangun sebuah kerajaan sendiri.”

“Baik Ayahnda,” ketiganya menghormat dan meninggalkan ruangan utama kerajaan.”

***

Pada hari yang ditentukan, setelah empat purnama. Ketiga pangeran dipanggil oleh Sang Raja.

“Anak-anakku,” kata sang Raja. “Aku ingin tahu, apakah yang kalian lakukan dengan sekantung jagung yang aku berikan pada kalian”

Pangeran yang pertama diperkenankan bicara. Sang pangeran pertama, mengeluarkan sekantung jagungnya.

“Ayahnda tercinta. Hamba telah menjaga jagung yang Paduka berikan kepada hamba. Sekantung jagung yang hamba pegang saat ini, kondisinya sama persis dengan yang Paduka berikan kepada hamba empat bulan yang lalu. Hamba, telah menempatkan sekantung jagung ini di tempat yang terbaik dan terjaga suhunya sehingga tidak ada jamur, tidak ada binatang ataupun serangga yang merusaknya. Kualitasnya telah hamba uji. Bukan hanya itu saja Paduka, hamba telah menghitung jumlah biji jagung yang pertama hamba terima dari Paduka. Jumlahnya, bentuknya, susunannya dan kondisinya, semua hamba ingat dan hamba cermati dengan sungguh-sungguh. Maka hamba berani menjamin, bahwa apapun yang hendak Paduka tanyakan perihal jagung ini kepada hamba, hamba akan dengan cermat dan tepat menjawabnya.”

Sang Raja terbelalak dan tersenyum dengan Pangeran yang pertama dipanggil ini.

“Lalu, berapakah jumlah seluruh bijinya?”tanya Sang Raja.

“Seratus Empat puluh empat, Paduka!” jawab Pangeran pertama, pasti.

“Bagaimana aku bisa tahu bahwa kau menjamin bahwa kamu tahu semua hal tentang biji jagung ini?”

“Begini yang mulia, hamba masukkan biji-biji ini dalam beberapa botol. Tiap botol berisi satu biji. Hamba minta bantuan kepada seratus empat puluh empat orang pegawai istana. Tiap satu pegawai mengawasi satu biji. Mereka mencatat segala sesuatu terkait biji yang diawasinya, dan dari catatan-catatan itu kemudian hamba hafalkan dan hamba teliti kebenarannya. Hamba siap diuji untuk itu.”

“Luar biasa…luar biasa”, kata Sang Raja. Senyumnya mengembang.

***

Setelah puas dengan jawaban pangeran yang pertama, tibalah giliran Sang Raja memanggil pangeran yang kedua.

Pangeran yang kedua datang dengan membawa sepiring kue.

“Paduka Raja, hamba persembahkan hidangan terbaik dari Jagung. Bahannya adalah jagung yang Paduka berikan kepada saya. Sesuai dengan sifatnya, jagung adalah makanan. Untuk itulah, hamba berpikir bahwa hamba harus menghidangkan makanan terbaik dari sesuatu yang Paduka berikan.”

“Oh ya? Bagaimana kamu tahu bahwa ini adalah kue terbaik?”

“Selama empat purnama, hamba telah melakukan riset, mendengar dari koki terbaik, mendengar dari pedagang, membaca dari berbagai sumber dari negara lain tentang makanan terbaik yang dibuat dengan jagung yang jenisnya sesuai dengan yang paduka berikan. Dari berbagai pilihan, kemudian hamba lakukan pengujian dan persiapan pemilihan bahan terbaik sehingga di hari ini hamba bisa menyajikan hidangan yang terbaik yang bisa Paduka nikmati. Saya pilihkan bahan yang sempurna, santan yang sempurna, pengapian yang sempurna, penyimpanan yang sempurna sehingga dihasilkan rasa yang sempurna di lidah. Dihidangkan dengan komposisi yang tepat dan mengundang selera sehingga dari harumnya sudah dapat dibayangkan kelezatannya walau dari jarak seratus meter dari makanan ini, Paduka”

“Luar biasa…luar biasa”

Paduka nampak puas.

***

Setelah puas dengan pangeran yang kedua, kini giliran Sang Raja memanggil pangeran ketiga. Pangeran ketiga ternyata masuk membawa sekarung jagung.

“Paduka, hamba tidak banyak berkata apapun kecuali membawa sekarung jagung ini, yang dihasilkan dari ladang jagung yang bibitnya berasal dari sekantung biji jagung yang paduka berikan kepada saya.”

“Hmm…anakku. Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa sekarung jagung yang kamu berikan ini  adalah jagung yang terbaik, tidakkah kamu justru berperilaku layaknya petani dan bukan seorang pangeran?”

“Begini Paduka. Jagung yang paduka berikan telah hamba pelajari mulai dar sifatnya, sampai dengan kegunaanya. Dari sifatnya, hamba mempelajari dari biji per biji. Ternyata ada tiga kelompok jagung yang berbeda sifatnya, ada yang subur di tanam di satu wilayah, tetapi ada yang subur jika ditanam di wilayah lain. Jika dipaksakan ditanam dalam satu wilayah saja, maka hasilnya kurang maksimal. Mungkin hasil terbaiknya hanya setengah karung ini. Selain sifatnya, hamba juga mempelajari cara penanamannya dan bahkan pemanfaatannya, sehingga selain sekarung jagung ini, hamba juga membawa beberapa contoh makanan.”

“Oh ya? Luar biasa. Mengapa engkau tidak menghidangkan saja makanan yang terbaik dan terenak?”

“Paduka, makanan dari jagung sangat bervariasi. Bisa jadi jagung diubah menjadi makanan yang enak, tetapi daya tahannya hanyalah satu hari, atau bahkan hanya beberapa jam. Tetapi ada juga yang bisa diolah menjadi makanan tahan lama, walau mungkin tidak senikmat makanan yang daya tahannya hanya satu hari.”

“Hahahaha..luar biasa. Lalu jika hanya untukku, mengapa engkau membuat beberapa makanan?”

“Makanan hanyalah makanan untuk seorang manusia, Paduka. Dia habis untuk dimakan. Tetapi bagi seorang raja, makanan bisa jadi menjadi sumber kemakmuran bagi rakyatnya. Entah untuk dimakan, ataukah diperdagangkan, ataupun pengembangan pertanian tanaman jagung sebagai bahan baku makanannya. Semua untuk kesejahteraan rakyat.Saya membuat beberapa contoh, agar paduka bisa memberikan kebijaksanaan untuk kemakmuran rakyat”.

***

Akhir cerita, Sang Raja telah memutuskan Pangeran yang mana yang pantas diberi wilayah kerajaan untuk dikelolanya.

PERTANYAAN:

–          Nah, jika engkau adalah Sang Raja, kira-kira Pangeran yang manakah yang akan engkau pilih sebagai pemenang?

–          Apakah hikmah yang bisa engkau petik dari cerita di atas? Bisakah kita korelasikan dengan rasa syukur kita kepada Allah SWT?

Feriawan Agung Nugroho

Yogyakarta, 19 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s