Cerita Diantara Garam dan Cabe

Pada sebuah apartemen mewah, bayangan itu datang mengendap-endap. Melihat bahwa jendela samping terbuka, setarik seringai menyungging di sisi bibirnya. Lambat tetapi pasti, dia melalui halaman yang diterangi sedikit lampu taman.  Sebuah kejadian di tahun 2015.

Nadya, malam ini, sudah membulatkan tekat. Sebaris catatan di atas kasur busa. Di kepalanya, kenangan masa lalu begitu jelas tergambar. Sangat jelas, melebihi jelasnya sinetron tivi yang menyala dan berbunyi keras tanpa di hadapannya. Entah berapa air mata. Remuk! REMUK!!!

Dia tekan nomor yang sudah sangat dihapalnya.

“Mas Gun,”sapa Nadya.

“Nadya?” jawab yang di seberang sana.

“Mas Gun..aku sayang kamu, Mas.”

“Maaf Nadya, tetapi aku lebih sayang Lina.”

“Setelah semua kisah yang kita alami? Mengapa, Mas?”

“Maaf Nadya.”

“Mas!!…Mas!! Tolong jangan tutup dulu..Tolong katakan padaku, mengapa?”

Air mata Nadya mengalir deras.

“Nadya…kita bicara besok saja ya..ini sudah malam.”

“Tetapi bagaimana jika esok tak ada lagi, apakah kau tetap tak mau mengatakan padaku mengapa?

“Maaf…”

“Mas, oke….tapi  kumohon, senandungkan satu lagu untukku, Mas. Lagu kita…”

“Tuuuuuutttt..”

“Mas…Mas….Mas!!!!”

…..

Pikiran kalut Nadya sudah tak terbendung. Dirinya sudah tak berharga lagi. Hidupnya sudah berakhir, karena cintanya kandas. Pupus sudah. Hatinya hancur berkeping-keping. Hari ini sudah ditetapkan. DIa akan mengakhiri hidupnya.

Diambilnya seutas tali tambang.  Dibawanya ke tengah ruangan. Dengan satu kursi, dia kaitkan tali tambang itu ke sebuah kipas angin besi di plafon. Dijalin sedemikian rupa sehingga cukup kuat untuk mematahkan urat lehernya.

—0—

Bayangan itu masuk. Terus menyeruak ke dalam ruangan, mencari sesuatu yang dicarinya. Sial, langkahnya terbentur sesuatu. Dalam hati dia mengumpat. Semoga si empunya rumah tak mendengar. Semoga…semoga…

—0—

Nadya menghentikan tindakannya, tepat ketika jalinan tali itu melingkar di lehernya, dia mendengar sesuatu dari ruangan lain. Sedikit takut, karena dia hanya sendirian. Perlahan, dia ambil sebuah raket, senjata ala kadarnya. Mengendap-endap, dia ingin mengetahui apakah itu. Pencurikah? Ataukah hanya binatang semacam anjing dan kucing yang nekat masuk rumah? Nadya menuju ke dapur.

“AAAhhhhh…”

kejadian selanjutnya begitu singkat. Sebuah tangan kekar membekap mulut Nadya, tangan seorang lelaki, sekalipun Nadya begitu keras meronta, tangan itu masih terlalu kuat. Sangat kuat. Nadya tak sadarkan diri ketika bayangan itu memindahkannya  dari ruangan.

—0—

“Pyok !!!!”

Sepercik air menyadarkan Nadya. Selama sekian detik Nadya tak sadar, apa yang sedang terjadi. Dirinya duduk di kursi santainya. Tetapi kemudian dia ingat, dan kaget kepada sosok yang duduk di lantai apartemennya. Bayangan itu!!

“Tolong jangan teriak, Mbak…tolong jangan teriak. Saya bisa menjelaskannya. Saya bisa menjelaskannya.”

Nadya masih ketakutan. Bayangan seorang Bapak. Dengan tangan kekar dan pakaian seadanya.

“Si…siapa kamu!?”

“Saya…saya Jono, penduduk dari desa seberang sana. Saya lapar. Saya tadinya mau mencari kerja di kota, karena anak istri saya di desa butuh makan. Tetapi sampai malam ini saya belum dapat pekerjaan, ketika mau pulang, saya nggak kuat nahan lapar. Terus saya cari ke sini, kebetulan lewat apartemen Mbak.”

Nadya mengawasi mimik dan mata Jono. Tak ada sesuatupun yang menandakan Jono adalah orang jahat. Kata-katanya jujur.

“Kamu kelihatanya cukup kuat. Mengapa harus mencuri?”

“Tadinya saya tani, Mbak. Tetapi karena dari tani nggak cukup, ya saya cari penghasilan yang lain.”

Nadya terus melihat wajah orang itu. Ketakutannya sirna.

“Sudah ya, Mbak. Saya pulang. Tolong jangan laporan polisi. Saya minta maaf.”

Jono beranjak pergi.

“Sebentar…kamu…sudah makan?”

Jono terdiam. Setengah menggeleng.

“Oh..kalau gitu, tunggu ya..”

“Mau ke mana, Mbak?”

“Ke dapur,”

“Di situ nggak ada makanan.”

“Oh, barangkali di kulkas atau…”

“Di situ juga nggak ada.”

“Oh..kamu….sudah periksa semuanya.”

“Seluruhnya, Mbak. Nggak ada yang bisa dimakan.”

Nadya bingung.  Dia mencoba mencari akal. Kasihan juga orang ini. Dia orang baik. Kalaupun tidak, apalah salahnya memberikan sesuatu padanya. Toh, barangkali, itu adalah kebaikan dia yang terakhir. Ups..jadi ingat bahwa dia seharusnya sudah mati detik ini…

“Oh ya. Dekat sini ada pizza. Bisa diantar kok. Bentar yaa…aku telponkan. Kamu mau pizza kan? Paling nggak lama.”

Jono tak menjawab. Makanan apapun lah, dia tak paham. Apapun itu dia percaya bahwa perempuan di hadapannya akan memberikan makanan enak.

“Ya Halo..pesan pizza, Pak. Iya, ke saya. Nomor ini. Porsi jumbo. Iya..iya…Bagaimana? Setengah jam? Wah..lima menit dong, Pak. Oke…nanti saya bayar ekstra…oke..lima belas menit. Oke..jangan molor ya, Pak.”

Nadya menutup telpon.

“Lima belas menit lagi.”

—0—

Nadya duduk di kursi santai, Jono duduk di lantai. Kebisuan menyelimuti mereka. Nadya tidak tahu topik apa yang akan dia bicarakan. Jono, mencoba mencairkan suasana.

“Maaf, maaf kalau saya lancang..tadi saya lihat mbak..mau…”, Jono memeragakan sesuatu dengan tangannya, dengan gerakan melingkar di kepala.

Nadya sedikit tersinggung.

“Nanti begitu pizza datang, kamu boleh pergi.”

“Oh..maaf…maaf” Jono menarik perkataanya.

Nadya bangkit dari tempat duduk. Cuaca di halaman rumah berubah. Gerimis, dan kemudian hujan, seolah memahami isi hatinya yang sendu. Dipandanginya jendela rumah. Jauh di sebuah titik. Titik tempat di mana Gunawan, pujaan hatinya, mungkin sekarang sudah bahagia bersama istri yang sah dinikahinya.

“Jono..pernahkan kamu jatuh cinta?” tanya Nadya.

“Ma….maaf…..”

“Begitu dalam cinta itu, dan kemudian tercerabut begitu saja. Aku begitu ingin, bahwa cintaku akan langgeng, bahagia dan indah sebagaimana kisah cinta dalam dongeng. Cinta yang abadi…Tetapi ..”

Air mata Nadya meleleh lagi.

“Aku gagal. Aku ditolaknya. Cintaku kandas, dan sekarang dia ..oh…”

Jono diam, dia masih terlalu polos memahami.

“Pada akhirnya aku ingin mengakhiri hidupku. Mungkin saja aku bahagia di kematianku. Mungkin saja dengan itu kisahku bisa terkenang, seperti halnya Romeo dan Juliet, seperti halnya Laila dan Majnun. Seperti kisah sedih dalam karya para pujangga.”

Sekarang Jono sedikit paham. Cinta…itulah persoalannya.

—0—

TINGTONG…. !!!!

Suara itu memecah kesunyian diantara derasnya hujan. Pizza datang.

“Ayo, makanlah.”

Jono ragu-ragu. Nadya paham, dia tersenyum. Dia membukakan bungkusan itu.

“Begini cara memakannya. Kamu bisa langsung makan. Tetapi masih terasa hambar untuk lidah bangsa kita. Maka, bisa ditambahkan garam.”

Nadya menyobek garam instant yang disertakan di dalam bungkusan Pizza. Wajah jono sedikit berubah. Wajah yang lugu dan lucu bagi Nadya.

“Nah, dan lebih  asik lagi kalau ditambahkan cabenya. Wow..pedasnya bisa bikin  rasanya makin maknyuss……Hehe….saya jadi ikut lapar.”

Nadya menyobek cabe bubuk. Kali ini wajah Jono tegang.

“Boleh….??”tanya Jono sembari  mengulurkan tangannya, meminta bungkusan cabe dari tangan Nadya.

“Oh..silakan”

Jono memandangi bubuk cabe itu, menaburkannya ke tangannya, lalu menciumnya, dan kemudian menatap dalam wajah Nadya. Dalam sekali. Tatapan yang menghilangkan kepolosannya tadi.

“Ini ..cabe ini….” kata Jono.

“Maaf, Mbak. Saya nggak bisa makan makanan ini…”kata Jono.

“Loh….kenapa?”Nadya heran.”Tadi katanya kamu lapar?”

“Ya benar. Saya lapar. Maafkan saya sudah menyusahkan Mbak dari tadi sampai sekarang. Maafkan juga atas niatan saya mencuri. Saya …saya minta maaf.”

“Loh, nggak papa…nggak usah sungkan gitu. Kenapa kamu gak makan?”

“Bener mbak, saya nggak jadi makan.”

“Karena cabe?”

Jono terdiam.

“Mbak. Saya adalah seorang petani.  Bersama dengan petani-petani lain di desa. Kami adalah petani yang sukses dan bahagia. Tetapi itu dulu.”

“Saya menanam lombok di ladang saya.  Untungnya besar mbak. Enam tahun lalu, harganya per kilo bisa sampai seratus ribu rupiah. Kalau ladang saya panen sekuintal, maka bisa sepuluh juta rupiah. Besar banget”

Jono berhenti sesaat. Wajahnya lesu.

“Tahun kemarin, harga cuma dua ribu lima ratus, per kilo. Jauh..”

Jono memandangi sobekan bungkus cabe tadi.

“Ini bukan cabe lokal, Mbak. Ini jelas-jelas cabe impor. Pemerintah nggak adil, Mbak. Pemerintah nggak adil kepada kami, para petani. Mbak harus tahu itu.Semuanya sekarang impor. Beras, kedelai, kopi, tembakau…dan semua yang dulu kami tanam, sekarang semuanya bisa didapat dengan murah. Impor, Mbak. Apa lagi yang berharga yang bisa kami tanam di sini?”

“Mbak, sekarang ini pupuk dan bibit mahal, semuanya mahal dan lahan kami sudah tak bisa ditanami lagi jika tanpa itu. Semuanya tinggal bongkahan keras, sama lumpur. Apa lagi?”

Jono mulai menitikkan air mata.

“Mbak. Apalagi yang bisa dilakukan petani? Mati!  Petani mati! Seperti halnya adik saya yang laki. Mati gantung diri. Persis seperti apa yang Mbak lakukan tadi. Dia gantung diri. Mati.”

“Tetapi, Mbak. Dia tidak gantung diri karena cinta sebagaimana bunuh dirinya orang-orang kaya. Dia gantung diri karena stress, karena sehari-hari harus melawan rasa lapar dan tangis keluarganya. “

“Kita, manusia, bisa memilih untuk bunuh diri. Banyak cara untuk itu. Tetapi, mengapa Mbak harus memilih mati bunuh diri? Mbak punya segalanya. Makanan enak, baju bagus, papan bagus untuk ditinggali. Mbak tentunya juga akan menemukan lelaki yang baik untuk dicintai.”

“Tetapi, kamilah yang semestinya layak untuk mati. Mati karena lapar, tak makan hanya karena cabe di genggaman saya ini, nggak papa, Mbak. Nggak usah khawatir. Terima kasih sudah memesankan pizza ini. Tetapi saya tak bisa memakannya.”

Jono bangkit.

“Permisi….”

Jono melangkah ke pintu, menembus derasnya hujan, meninggalkan Nadya yang masih termenung, mendapati dirinya dalam keadaan sangat-sangat bodoh. (*)

Disadur dan diadaptasi dari film Salt and Paper karya sutradara Mohinder Pratap Singh

Yang tertarik nonton filmnya monggo ketemu.

2 thoughts on “Cerita Diantara Garam dan Cabe”

  1. cerita yang bagus bos dan sangat menusuk hati.., jadi teringat bapak dan ibu dirumah yang habis nanam cabe

    respon: makasih apresiasinya mas Jeng

  2. Mas Feri, elok nian ceritamu. Semula kupikir ini skenariomu untuk menunjukkan bahwa perempuan pun bisa putus asa dan bunuh diri karena cintanya ditolak oleh laki-laki–kebalikan dari realitas yang dipercaya oleh banyak orang bahwa laki-laki yang sering mengalami ini.🙂

    Filmnya belum pernah kutonton. Ada tautan utk aku mengunduhnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s