Cerpen: Bukan Sahabat Terbaik

“Aku lagi jatuh cinta”, kata Putri. Duduk, mata menerawang, senyum sendiri dengan tangan memainkan sejumput rumput kering.

“Oh ya? Selamat,” Kata Danu. Ekspresinya datar. Tidak mengubah kesibukannya yang membawa kaca pembesar, mengamati sesuatu di rerumputan. Raut muka Danu tidak berubah.

Putri sebel. Danu seperti tidak mendengarkan apapun yang dia katakan. Bukan sebuah jawaban yang enak untuk dua orang yang sedang ngomong-ngomong. Apakah mungkin Danu sedang pura-pura sibuk, atau mungkin tak senang mendengar dia jatuh cinta?

“Cari apa sih?” tanya Putri.

“Aku jelaskan panjang lebar pun kamu juga tak akan mengerti”, jawab Danu sekenanya. Ketus banget..

Danu masih sok sibuk layaknya seorang profesor ahli biologi. Padahal danu bukan profesor biologi. Danu ya Danu, sahabat yang kerjaanya ya ngurus kebun orang tuanya. Lagian, mana ada profesor biologi pake neliti padang rumput, neliti air selokan sawah.

“Danu! Dengerin dong! Apa yang harus aku lakukan?” teriak Putri.

“Dari tadi memangnya aku tidur?” kata Danu.

“Terus? Apa dong saranmu?”

“Ya udah. Ngomong aja sama dia”, jawab Danu. Masih datar.

Putri bangkit, melangkah ke selokan, memunguti kerikil dan melemparkannya ke air. Sedikit keruhan di dasar selokan.

“Ngomong gimana? Nembak duluan maksudmu? Aku kan perempuan. Masa sih aku yang  mulai,” jawab Putri.

“Ya udah. Kalau gak bisa ngomong ke dia ya habis perkara. Cukuplah kamu berharap aja, nggak usah mikir ditembak sama dia. Huh, Ngomong kok susah,” Seloroh Danu. Kali ini kalimat terakhirnya agak ditajamkan.

Putri gondok. Sekarang matanya sedikit galak mengarah ke Danu yang masih belum bergeming dari aktifitasnya.

“ Heh.Kamu tu kalau nanggapi gitu menyebalkan. Dengerin aku dooong.” Suara manjanya kumat.

“Iya..iya….Mau dengerin model apa sih? dari tadi aku ndengerin kok.”

Putri diam sesaat. Kepalanya kembali melayang-layang, menggambarkan irama batinnya.

“Aku saat ini susah banget mengendalikan diri. Dia begitu mempengaruhi aku. Setiap aku ketemu dia, rasanya adaa aja yang harus dilakukan biar dia sekedar nengok aja ke aku. Dan saat dia nengok..wuiii….”

“Tapi dia kan gak tau kalo kamu jatuh cinta. Buat apa…”lagi-lagi Danu memotong. Dan bisa diduga, perang bintang lagi.

“Ih, kamu tu ya. Saat dibutuhin buat dengerin gini, malah ngomongnya nggak enak banget tau gak.”

“Lah, kamu suruh aku dengerin, aku dengerin. Kamu suruh aku ngomong jujur, aku ngomong jujur. Sekarang  kamu bilang omonganku gak enak. Mau gimana?” kali ini Danu mengubah posisi, menghadap ke Putri, menolehkan wajah ke Putri.

“Yaaa kasih support atau dukungan kek. Cari solusi kek gimana gitu. Pake perasaan dikit gitu nama sih. Aku kan perempuan”

“Wahai engkau si perempuan. Aku ini laki-laki. Kalau mau pendapat perempuan, kenapa gak curhat aja sana sama temen-temenmu yang perempuan.”

“Hh…sebel.”

Danu senyum. Menghampiri Putri. Duduk sejajar, menghadap padang ilalang dengan gemericik air di sana-sini. Duduk sama-sama di atas batu yang agak datar. Di bawah sebuah pohon rindang. Sebuah pemandangan indah yang menjadi teman biasa mereka. Tempat dimana mereka biasa bertemu.

Wajah Putri sudah tidak karuan. Menahan marah, sebel berat. Bahasa jawanya: getem-getem.

“Aku tahu sih, saben ketemu kamu, selalu saja ngga metching. Selalu kamu pakai cara berpikirmu. Kenapa sih kamu nggak bisa sedikit aja berpikir, gimana kalau jadi aku. Padahal aku kan pengen cerita tentang siapa dia, bagaimana dia, semua-mua tentang dia, biar kamu tau. Terus aku minta pendapatmu…gitu.

“Ya udah cerita aja.”

“Sudah nggak mood”.

Putri ngeloyor pergi. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah. Memancalkan kaki pada sadel sepeda, meninggalkan Danu yang tidak terlalu peduli, melanjutkan kesibukannya dengan kaca pembesar.

***

Danu dan Putri bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya bersahabat. Danu sudah punya kekasih, kekasihya ada sekian kilometer di kota besar. Jauh ditempuh dari desa, ataupun daerah yang kecil untuk dianggap sebagai kota. Putri, bisa dikatakan orang yang sedang mengenal manisnya cinta. Untuk usia-usia seumurnya, seorang perempuan sudah terlihat matang dan siap menikah. Tetapi dari kisah cintanya, putri selalu saja gagal menemukan lelaki yang sesuai. Sebagai sahabat, Danulah yang biasa mendengar dan bisa share banyak hal.

Kalaupun banyak hal tak cocok, pada akhirnya mereka bisa damai lagi. Kejadian di atas, bukan yang pertama. Maka, ketika sudah jenuh dan sama-sama butuh untuk ketemu, mereka biasa janjian di tempat itu. Di tepi hamparan padang rumput luas.

***

Beberapa hari kemudian, mereka bertemu lagi. Bayangkan saja tentang dialog dua manusia yang sedang tidak dalam posisi berbincang. Yang satu duduk di bawah pohon, menyejukkan diri (leyeh-leyeh) dan menerawangkan angannya ke angkasa. Itu putri. Yang satu lagi , Danu yang lagi sok meneliti, masih dengan kaca pembesar, ember dan cetok. Ngapain coba?

“Aku bingung banget”, kata Putri. “Lama-lama ditahan susah juga. Kok dia gak ngerti-ngerti sih. Padahal sudah cari perhatian sana-sini.”

“Memangnya sudah tau kesukaan dia apa?” tanya Danu. Masih dengan kebiasaan kemarin, membawa kaca pembesar dan sok sibuk melihat-lihat rumput.

“Belum….”, jawab Putri sambil menggeleng.

“Sudah tau topik perbincangan yang dia senangi apa?”

“Belum…”

“Sudah tau tipe wanita yang dia sukai?”

“Belum…”

Danu mendengus.

“Hmmmh…..Ya udah.”

Ekspresi yang tak disukai Putri. Semuanya memuakkan. Menyebalkan.

“Heh..masa sih aku harus jadi penguntit yang harus ngerti detil segala sesuatu tentang dia. Sorry yaa…”, jawab Putri. Manyun, tangan terlipat di depan dada, sedakep, kepala nengleng ke kiri. Pas, untuk gambaran sinetron murahan tokoh antagonis.

“Memangnya kenapa ruginya jadi sedikit “penguntit”? kan dengan gitu kamu jadi ngerti kapan saat yang tepat untuk bisa mencuri hati dia. Ngomong ke dia. Dan tidak berhenti pada harapan basi. Dasar…”

“Nggak ah…Sorri”

“Ooh…Aku tau kok persoalanmu”, jawab Danu dengan senyum sinis.

“Apa?”

“Gengsi.”

“…???”

“Kamu selalu ngomong bahwa kamu wanita, pada sisi lain kamu pengen wanita sejajar dengan lelaki. Di sisi lain kamu juga ingin dihormati, didengarkan, dihargai. Tetapi dalam soal cinta, kamu nggak mau sedikit berkorban untuk tau tentang siapa dia. “

Suara Danu sudah mirip khotbah kiai.

“Nembak dia, bukan urusan berani atau tidak berani, tetapi karena egomu yang besar, gengsimu yang besar, jadinya kamu tidak mau memulai. Kamu pengen diperlakukan seperti puteri keraton, atau artis, dimana banyak lelaki memujamu dan berharap bahwa salah satu diantaranya adalah lelaki yang kamu cintai. Lha mbok sampai kapan…”

“Ih, kamu lama-lama ngomongnya nggak enak ya,” potong Putri. Kali ini pakai gerakan nunjuk-nunjuk tangan.

“Denger ya Put. Berapa lama sih kita ketemu? Aku sahabatmu. Berapa lama sih kita sahabatan? Dan kapan sih aku pernah ngomong, ngasih advis, ngasih saran yang sesat? Nggak pernah. Aku juga nyaris gak pernah meminta apapun dari kamu, kecuali bahwa kamu bisa mempercayai aku buat ngomong yang paling bagus. Untukmu…”

Putri nggak surut, tambah ngangkat bicaranya.

“Ya tapi gak gitu dong caranya. Kamu selalu berpikir dengan caramu, ngga ada empatinya blas sama aku. Oke kita sahabatan, tetapi apa gak bisa normal dikit.”

“Lho, apanya yang salah. Kau sendiri pernah bilang. sahabat adalah ketika segala hal yang buruk tentang diri kita tak ragu kita percayakan padanya tanpa kemudian merasa menjadi buruk.”

“Nah,”potong Putri.  “Yang terakhir itu yang kamu gak pernah sadar. Kamu selalu bikin aku ini gak berharga. Bodo. Manja. Pada akhirnya aku seperti dipaksa untuk seperti kamu. Setiap ketemu, yang ada cuma pendapatmu, asumsimu, dan ujung-ujungnya, ngajak berantem…”

“Capek…”

Putri habis kata. Ngeloyor. Mancal pedal sepeda dan hilang di tikungan desa.

***

Hari itu, setelah sekian lama. Mereka bertemu lagi.

“Selamat ya, kamu sukses dapat kerja di Kota,” ucap Putri.

“Makasih”

“Makin sering ketemu dengan kekasihmu.  Lupa dah, dengan semua yang disini.”

Danu melirik wajah Putri. Hihi…sepet.

“Hmm…”

“Nanti aku kesepian di sini, ngga bisa lagi sharing sama kamu.”

“Maksudmu, nggak bisa lagi sebel-sebelan. Hahahaha…”

Putri melempar Danu dengan kerikil. Lemparan mesra.

“Oh ya, sebentar lagi kamu ultah ya…?” tanya Danu. Putri senyum. Tumben ni orang inget.

“Iya, mau ngasih hadiah apa yaa….?

“Apa ya? Aku akan kasih hadiah istimewa. Ya itung-itung kenangan sebelum aku pergi. tapi aku belum tau apa.”

Mata Putri membelalak. Senyum lebar.

“Oh ya? Istimewa?”

Danu mengangguk. Mantap.

“Selalu. Aku selalu berikan hadiah terbaik untuk sahabat-sahabatku. Dulu ketika Ina ultah, aku berikan seikat kembang dari bukit sana, tuh. Karena adanya, tumbuhnya,  Cuma di bukit sana. Ketika Yuni ultah, aku berikan lukisan potret dirinya, aku sendiri yang gambar. Ketika si Anto ultah, aku berikan benih ikan koi hasil persilanganku yang terbaik. Dan untuk dia yang dikota..hehe… paling nggak diterimanya aku di kota. Itu puncak hadiah terindah baginya.”

“Ya,” Putri menyetujui omongan Danu.

“kau berikan dia buku catatan harianmu, tentang dia. Dalam puisi dan novel.”

Agak beberapa saat, Putri menatap wajah Danu yang masih mikir.

“Lalu aku apa? Kau sudah punya rencana?”

“Belum. …Apa ya? Entahlah…kau adalah yang terdekat dari semua sahabat, meskipun tidak yang terbaik. Hahaha…”

“Sebel..”

***

Hari yang dinantikan. Danu menanti Putri yang datang sambil menuntun sepedanya. Di tangannya, menyangga kotak dari Papan. Putri datang, penuh harapan, apakah itu? Binatang lucu macam kucing? Ikan? Bunga? Atau apa?

“Apa ini?” tanya Putri, ketika menerima kotak Danu. Danu sendiri wajahnya tak terlalu meyakinkan.

Putri bingung. Hadiah itu aneh. Satu kotak dari papan. Beralaskan plastik. Didalamnya ada tanah basah berair, dan rerumputan.

Wajah putri kembali menatap Danu.

“Apa ini?” ditegaskannya lagi pertanyaan itu. Tetapi Danu tetap diam.

Putri, masih dengan tersenyum, mencari-cari sesuatu yang istimewa dari kotak itu. Diamati kiri-kanan, dicari sesuatu yang mungkin istimewa, romantis, ataupun kejutan, barangkali saja ada keisengan yang disembunyikan.  Tetapi entah kenapa dia tidak menemukannya.

Perlahan-lahan senyum Putri menjadi hambar. Dia memandang ragu kepada Danu yang tersenyum datar.

“Apa ini? ….Rumput ”

“Ya.” Jawab Danu datar.

Putri membanding-bandingkan rumput itu, yang di kotak itu, dengan rumput di sekitarnya. Termasuk yang dinjaknya. Tidak berbeda. Tak ada yang istimewa. Dia jadi curiga.

“Kamu ngerjain aku ya…?”

“Nggak kok.”

“Danu. Lalu apa yang spesial dari rumput ini. Aku kok nggak ngerasa bagaimana gitu?”

“Maaf kalau aku tak bisa memberikan sesuatu yang kliatan indah. Tetapi ya ini. Bagiku, kau harus seperti rerumputan ini. Kau akan bertahan dalam segala cuaca,tetap bertahan hidup, selalu berkembang cepat, dan hijau.”

“Hmmmm…..jujur nih. Aku nggak merasa enak dengan apa yang kamu kasih.”

“Kenapa? Apa yang salah dengan ini.”

Amarah Putri memuncak. Kali ini gak main-main dia menahan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Kalau kamu sebel, sakit hati sama aku, ada yang nggak enak sama aku, jangan gini dong caranya. Kamu bener-bener tega deh. Masak hadiah ulang tahun sekotak rumput yang nggak ada bedanya dengan rumput yang lain? Mau dimaknai bagaimanapun, tetap aja gak jelas. Ya kalau hadiahnya nggak ada istimewanya gini, menurutku, kamu juga nggak nganggap aku istimewa. Maksudmu apa sih?”

“Nggak ada maksud apa apa. Bagiku, inilah yang terbaik.Tetapi mungkin, kamu belum tahu mengapa rumput yang aku berikan. Mengapa bukan bunga, mengapa bukan ikan, mengapa bukan kado. Aku gak tau dan gak bisa jawab, menurutku, inilah yang terbaik. Ya maaf kalau ternyata kamu gak suka?” jawab Danu enteng.

“Kamu terlalu! Sorri ya, aku gak bisa menerimanya. Maksud kamu itu sebenarnya apa sih? Sudahlah. Sori, aku gak bisa menerima.” Putri siap-siap menuju parkir sepedanya.

“Tapi…”

“Aku sudah biasa kamu kerjai, tak kau perdulikan, tapi ini, menurutku, sudah keterlaluan. Sudahlah, kita memang bukan sahabat. Kalau mau pergi ke kota, pergi sana. Aku tak akan menyesal berpisah dengan kamu. Sudah cukup kamu nyebelin sampai saat ini.”

Danu bukannya menyesal, malah membalas sekenanya.

“Ya udah. Aku tinggal di sini. Sampai suatu saat kamu tahu..”

“Ya udah, tinggal saja.”

Putri menangis.  Berlari menuju sepedanya. Meninggalkan Danu yang meletakkan begitu saja kotak rumput itu. Sama-sama menghilang dengan kegetiran masing-masing.

***

Inilah hari yang menyesakkan. Senja itu adalah hari dimana Danu meninggalkan desa. Tanpa salam perpisahan dari Putri. Menuju ke stasiun terdekat. Bersama dengan asap lokomotif, kereta datang siap membawanya. Danu sudah bulat membakar semua kenangan. Menyongsong kekasihnya yang sudah ada di kota, bekerja di tempat terbaiknya.

Saat kaki Danu menapaki pintu gerbong, selintas ganjalan tentang perpisahan yang menyebalkan bersama sahabatnya, dia coba hancurkan. Membakar kenangan baginya adalah terbaik. Membakar, sampai tiada satupun yang tersisa. Tetapi, sungguh berat. Dipandanginya lagi kaki bukit, tempat dimana mereka biasa berjumpa. Jauh.

Pada saat bersamaan, Putri  bersepeda pulang ke rumahnya. Selintas pandangannya dilayangkan ke sebuah titik.  Dia bisa melihat kereta yang ditumpangi Danu.  Sedikit dia mencoba menipu hatinya, bahwa hanya Danu lah orang jelek terbaik yang bisa mendengarkannya. Tidak peduli.

Tetapi perasaannya tak bisa menipu.Dia benar-benar paham, bahwa berartinya sesuatu, adalah ketika dia hilang dari pelukan. Cinta, sahabat, teman, terkadang jika mereka ada, semua itu tidak terlalu berasa. Barulah ketika mereka hilang satu demi satu, rasanya hilang pula sebagian dari kehidupannya. Lesu.

Di depan pintu rumah, ayahnya menyapa.

“Putri, ada pesan dari Danu” kata ayahnya. Putri kaget. Jangan-jangan…

“Tuh di pintu.”

Sebentar kemudian putri sudah meraih kertas berpin up di depan pintu kamarnya.

“Kamu nggak ngantar dia di Stasiun?”

“Nggak, Pak.”

Ayahnya tidak mencampuri. Urusan anak muda.

Surat itu dibuka. Dalam kamarnya, dia membaca.

“Maaf ya atas masa lalu. Datanglah malam ini. Ingat, hanya malam ini, sehabis sholat isya, di tempat biasa kita bertemu.”

Senyum mengembang. Danu menunda keberangkatannya. Akhirnya ada saatnya dimana Putri bisa mengobati kehilangan sahabatnya. Perasaan putri tidak karuan. Tak sabar dia tunggu saat itu.

Ia sudah bersiap dengan sejuta kata maaf dan penyesalan. Ia sudah siap dengan sejuta ucapan terindah demi sahabatnya itu. Ia sadar, bahwa kesempatan itu sangat berharga.

***

Lepas Isya. Sepeda yang dikemudiakannya langsung diparkir sembarangan di tepi jalan. Berlari, menuju ke arah dua batu di pinggir padang, tepi selokan. Membawa senter, sebagai penerang jalan. Agak menakutkan, kalau-kalau ada ular menghadang. Ia tak peduli. Tetapi bayangan yang diharapkannya belum terlihat.

“Danuu…..Danu….!”

Tak ada. Huh…dimana dia? Jangan-jangan belum kapok juga anak itu mempermainkannya. Tetapi buru-buru prasangka itu dibuangnya. Dia percaya, sahabatnya jujur. Mungkin saja dia yang salah sangka. Tetapi hampir sekian menit, tak ada tanda-tanda anak itu.

Putri putus asa. Dia duduk di bebatuan tempat mereka biasa nongkrong.

Sedikit kaget. Mata Putri melihat secarik kertas. Diarahkan senternya ke kertas itu. Sebuah catatan dengan pita merah. Bertuliskan “Untuk Putri”.  Dibuka. Dibaca.

“Seorang anak kecil berharap pada orangtuanya. Kepada ayahnya dia meminta binatang yang lucu untuk dia pelihara. Kepada ibunya dia minta bunga yang cantik. Tetapi orang tuanya memberikan ULAT yang menjijikkan dan KAKTUS yang berduri. Anak itu sedikit bersedih, tetapi dia terima juga hadiah itu.

 

Siapa sangka bahwa di kemudian hari, kaktus itu BERBUNGA yang PALING INDAH, dan ulat itu berubah jadi KUPU-KUPU yang PALING ANGGUN. Begitu pula cara TUHAN  mengajarkan kepada kita, mungkin tidak semua hal SESUAI dengan APA MAU KITA, tetapi DIA LEBIH TAHU bahwa itulah YANG TERBAIK. Bagaimana dengan Sahabat?

 

Salam…Danu”

 

Mata Putri menahan genangan air. Dia paham, persahabatan dengan Danu, itu adalah hadiah terindah. Dilipatnya surat itu baik-baik, disimpannya sebagai kenangan. Harapannya untuk mengucap kata perpisahan sudah sirna. Entah seberapa lama dia akan bertemu. Ia tak tahu. Terlalu lama, terlalu berharga arti persahabatan. Entah ..apakah ada lagi sahabat yang bisa seperti Danu.

***

Secara tak sadar, Putri menuju ke sebuah tempat. Menghampiri kotak rumput yang menjadi hadiahnya. Ingin rasanya dia bawa pulang kotak itu. Tetapi hei…apa yang terjadi.

Menakjubkan. Dari kotak rumput Danu, keluar cahaya indah banyak sekali. Binatang apa itu? Kunang-kunang!!!

Satu demi satu dari entah sekian puluh atau ratus kunang-kunang menyala dari kotak itu. Kotak itu menjadi benda paling terang di tengah kegelapan padang.  Putri dapat melihat jelas bagaimana mahluk-mahluk kecil yang cantik itu menggerakkan sayapnya. Satu persatu, terbang ke atas, berkedip-kedip dengan cahaya alaminya. Menakjubkan.

Rupanya, Danu sengaja mengumpulkan larva dan kepompong kunang-kunang dalam kotak itu, sehingga pada hari ini, semuanya keluar dan beterbangan, menari-nari bersama ribuan kunang-kunang yang lain, menghiasi malam di padang rumput itu. Cahaya-cahaya yang menari-nari. Indah sekali.

Basah mata Putri. Ingin berteriak memekikkan nama sahabatnya. Terbayang semuanya, terbayang saat ia bertemu dengan Danu, sampai dengan hari ini. Andaikan ia Danu, ingin nonjok pipinya. Andaikan Danu ada, entah apa yang bisa dia lemparkan.  Andaikan…..(*)

Jogja, 11 Februari 2011 (11211)

2 thoughts on “Cerpen: Bukan Sahabat Terbaik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s