Dongeng Sebelum Mati

Padang yang luas, dimana binatang ternak yang rata-rata biri-biri, sarapan saat matahari sepenggalah. Beberapa dari mereka adalah unggas yang ikut riang ria kehangatan pagi. Udara begitu segar, sesegar embun yang baru saja menguap dari dedaunan. Sungai bergemericik. Awan putih berjalan pelan.

Marilah berjalan sedikit dari padang itu, agak jauh ke pinggir hutan, saat beberapa anak ayam diasuh induknya, mencari cacing dan serangga, serta tanaman biji-bijian. Induk ayam di mana-mana sama, mereka layaknya seorang ibu yang mengasuh anaknya, mengajari bagaimana mencari dan mendapat makanan yang baik, bagaimana berbagi, bagaimana melindungi. Damai.

Kedamaian itu  mendadak terusik, saat secara tiba-tiba biri-biri mendongakkan kepalanya, dan kemudian berlari kencang ke arah lereng menjauhi hutan. Terlambat bagi beberapa doantara mereka, karena sesaat kemudian sekawanan srigala menyergap begitu saja sesiapa diantara mereka. Srigala-srigala itu, dengan mata nanar, gerakan liar dan ganas, ludah yang melayang dari ujung moncong mereka, serta taring yang terhujus, menyergap kedamaian pagi itu.

Keheningan berubah menjadi tarian srigala kematian yang melambungkan jasad-jasad biri-biri ke udara dengan leher tercabik taring dan cakar, sementara darah bermuncratan diantara rerumpuran. Bercampur suara kematian dan lolongan kematian, silih berganti diantara tapak-tapak tanah kecoklatan yang  tercongkel akibat rumput yang porak poranda. Puluhan srigala berpesta pora diantara umpan yang merenggang nyawa.

Seekor srigala paling gemuk, secara spontan melihat induk ayam dan anak-anaknya yang panic. Entah kenapa nafsu membunuhnya ada sekalipun sekian biri-biri telah jatuh dari cakar dan taringnya. Nafsu membunuh, adalah nalurinya sebagai srigala.

Sejak awal penyerangan srigala pagi itu, induk ayam begitu panic dan terbang, tetapi dia ingat anak-anaknya yang terpencar pencar, sehingga dengan segenap ketakutannya dia berusaha mengumpulkan anak-anaknya, memanggilnya dengan suara petok-petok sambil terus memasang wajah waspada. Tetapi sial, karena suara itu pula yang menyadarkan naluri salah satu srigala yang kemudian mengunci pandang padanya. Mengunci dengan mata nanar dan sringaian panjang. Berlari, dengan punggung yang diangkat kuat seolah menggapai langit, melebarkan jarak kaki, mengibaskan bulu dengan cepat.

Tak ayal lagi, cakaran srigala itu melukai paha induk ayam. Beruntung bahwa secara reflek ayam ini bisa mengepakkan sayap dan terbang sejauh-jauhnya. Tetapi malang, diantara darahnya yang menetes di angkasa dan kabur matanya, dia harus melihat anak-anaknya dibantai oleh srigala itu dan beberapa temannya.

Lukisan merah diantara hijauan rumput, lukisan pagi berdarah. Diciptakan kawanan srigala pagi itu. Kemenangan atas penyergapan yang berhasil.

Tetapi belum sempat mereka memenuhi perut mereka dengan menikmati hasil buruannya. Terdengar letusan membahana diikuti oleh lolongan kematian salah satu srigala.  Roboh dengan luka bulat berasap, dan darah yang mengalir kemudian di jantungnya. Bersamaan dengan itu, terdengar hiruk pikuk suara manusia menggunakan motor dan kendaraan roda empat, menembakkan mesiu dengan senapan lurus ke satu titik,  menggantikan raungan-raungan srigala itu.

Tidak memakan waktu lama, sekalipun srigala-srigala itu melarikan diri berpencar, satu persatu tersungkur bersimbah darah. Tak ada satupun yang luput. Semuanya roboh. |

Selang beberapa waktu beberapa wajah manusia itu menampakkan kesedihan, memandangi ternak-ternak mereka yang mati diterkam srigala. Beberapa diangkut, dan kemudian meninggalkan sekian bangkai srigala.

***

Hari beranjak siang. Rupanya Si Srigala Gemuk yang tadi memburu ayam, hanya pingsan. Sebuah luka tak telak mengenai jantungnya, tetapi cukup menguras darahnya. Dengan mengumpulkan kesadaran, dipandanginya keadaan sekitar. Matanya yang kabur mulai nampak jelas, bahwa dia hanya sendiri, berteman dengan bangkai-bangkai kawan-kawannya. Tak ada yang bisa dilakukan, kecuali meninggalkan bangkai mereka yang mulai dikerubuti lalat.

Langkahnya sempoyongan, memasuki hutan dengan darah yang terus berceceran. Rasa lapar menambah rasa tersiksanya. Karena tadi, tak banyak daging melalui kerongkongannya. Baru beberapa serpihan kecil. Sekarang, dia sudah tak mampu berlari untuk sekedari menangkap belalang, pengisi perut di masa paceklik. Ya sudahlah….

Perlahan kemudian ia sudah tidak sadar ke mana melangkah, kecuali mengikuti gemericik suara air, berhadap bahwa ada seteguk air membahasi kerongkongannya. Tak perduli lagi. Ia seakan menyerah. Menyerah karena tak mungkin lagi rasa laparnya terobati.

Suara air makin dekat. Ia bisa sedikit tenang. Lidahnya menjulur, mulai dari mengisi kerongkongan dengan aliran air pelega dahaga, dan menjilati lukanya. Sampai tiba-tiba…

Brak..bresek…

Mati aku! Pikir srigala. Itukah suara manusia? JIka ya, ia sudah tidak bisa lagi berlari. Membela diri dengan seringainya? Manusia tentu sudah lebih cerdas.

Tetapi tidak. Itu bukan suara manusia, matanya yang tajam tidak salah. Ya! Di balik semak-semak itu dengan jelas ia bisa melihat. Ya! Itu induk ayam yang tadi terbang.

Kondisi induk ayam tidak lebih buruk dari srigala gemuk. Kehabisan darah. Lemas. Mata induk ayam ini penuh dengan ketakutan. Mulutnya sudah tak bisa lagi berkokok, berkaok, ataupun bersuara selemah-lemahnya. Kakinya jelas patah dan diantara perutnya, bekas tancapan taring sringala terlukis bersama darah yang tercampur antara merah dan hitam.

Naluri srigala gemuk sudah jelas. Makan. Maka dalam sekejap, induk ayam yang malang ini sudah tak bersuara tatkala moncong srigala ini makin mendekat, dan menikamkan taringnya ke lehernya. Ketika terdengar suara “krek”. Leher ayam itu patah, Terpotong, dan kemudian dicabik dan ditelan sedikit-demi  sedikit. Pengobat rasa lapar Srigala Gemuk.

Lumayan, perut srigala kenyang. Tinggallah kini waktunya mengantuk, ada harapan baginya untuk hidup di esok hari.

Tetapi…malang, karena saat itu juga terdengar suara semak yang sangat jelas. Bau yang sangat jelas dan cepat mendekatinya. Ya bau manusia ! DEngan moncong senjata terarah padanya. Habislah ia. Benar-benar hidup yang tak lama.

Wajah manusia itu, seorang pria dewasa, salah seorang dari para pemburu ataupun pemilik ternak yang tadi. Garang. Rupanya dia melintasi sungai untuk sampai ke rumahnya. Dari sana dia menemukan jejak darah yang mengantarkan kepada buruannya ini.

Kini, tatapan pasrah srigala bertemu dengan tatapan mata pria dewasa. Mata srigalah itu sudah tidak bisa menatap garang, tidak ada lagi sringai. Sementara mata pria dewasa itu begitu bengis. Hanya saja, ….keadaan seolah berubah…mata bengis itu perlahan menjadi luluh, berubah menjadi ekspresi kasihan. Senjata itu kemudian diturunkan dan pelatuk tidak lagi ditarik.

Tak ada yang tahu kemudian, srigala itu tidak bisa mengingat apapun kecuali rasa sedikit sakit di pantatnya saat jarum suntik pria itu membuatnya tak sadar. Dan ketika dia sadar, ia sudah ada di lingkungan manusia, dikurung dalam kerangkeng.

****

Pria itu, keluarga peternak, ternyata adalah bapak dua anak balita. Istrinya mengomel. Mengapa srigala sekarat dibawa pulang ke rumah. Tak ada yang dilakukan oleh pria ini, kecuali membersihkan tangannya yang basah oleh darah srigala itu, di depan westafel, menggunakan sabun. Setelah tangan itu bersih, dilihatnya bayangannya sendiri di harapan cermin. Ia mencoba memahami apa yang barusan dikerjakannya.

Mungkin inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang. Manusia punya rasa belas kasihan. Manusia punya rasa iba dan manusiawi. Melihat siapapun, sekalipun itu binatang jahat, mahluk paling kejam sekalipun, ketika dia menderita, maka harus ditolong. Ia melihat dirinya di dalam cermin, benar-benar manusia. Entah apapun omelan istrinya.

***

Hari berganti. Genap sebulan. Kehadiran srigala di keluarga itu seolah sudah menjadi bagian dari sekian piaraan keluarga peternak. Anak-anak yang masih balita terbiasa melihat ayahnya mengobati luka, memberi keratan daging, dan memberi minum srigala. Istrinya juga tak lagi mengomel.

Keadaan yang mungkin berbeda dengan masa lalu, bahwa manusia pun mungkin bisa melihat musuhnya untuk menjadi sahabat di kemudian hari. Harapan manusia. Harapan ketika musuh sudah berubah menjadi sahabatnya. Tetapi benarkah pilihan mempercayakan srigala untuk menjadi sahabatnya?

Hingga hari itu terjadi. Pria itu pulang, membawa bangkai si Srigala gemuk. Srigala yang sudah dia obati.  Di wajahnya, air mata seolah tak cukup mampu menenggelamkan kesedihannya. Air mata penyesalan yang dalam. DI hadapannya, pemandangan mengenaskan terhampar. Istrinya mati dengan luka leher menganga, bekas tercabik oleh srigala. Dua anaknya pun tak berjarak jauh, mengalami luka di leher juga, Darah yang masih segar.

Hari itu adalah hari yang dia sesali seumur hidup. Ketika dia pergi bekerja, seperti biasa, dia tinggalkan keluarganya di rumah. Saat dia pulang, dilihatnya si Srigala gemuk meloncat keluar dari rumahnya, berlari sedikit tertatih, karena cacatnya tertembak dulu, dengan tak memperdulikan sang pria. Pria ini kaget. Segera dia masuk ke rumah. Dan benar, dia dapati istri dan anaknya sudah tak bernyawa. Kemungkinan besar, anak-anaknya tanpa sengaja membuka kerangkeng srigala. Dengan amarah memuncak, diambilnya senjata, dikejarnya, sampai terdengar gema suara mesiu membahana yang diikuti lolongan kematian.

***

Inikah akhir dari semua dongeng ini? Mungkin.

Sama seperti waktu lalu, hari ini, dibasuhnya darah dari kedua tangannya di hadapan westafel. Sampai bersih. Kini dia bercermin lagi. Di hadapannya, pada bayangannya sendiri, dia seolah tak bisa membedakan. Bayangannya, seolah sudah berubah dari bayangan manusia menjadi bayangan  srigala. Apakah kini dia memang berubah menjadi manusia srigala? Ia sudah tak peduli. (*)

Jogja, 25 Januari 2011

Sebuah hadiah untuk salah seorang sahabat, tetapi ia tak bisa menerima kengerian ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s