Tiga Boneka Raja

Al kisah di sebuah negeri bernama Kerajaan Makmur, hiduplah Seorang Raja yang cerdas dalam mengelola kerajaannya sehingga segenap penduduk negeri tersebut menjadi makmur, sehat,sentosa dan kaya raya. Demikian kayanya negeri tersebut sehingga banyak negeri-negeri tetangga merasa iri. Di antara sekian banyak negeri ada yang berniat jahat untuk menjajahnya, ada pula yang berniat melakukan hubungan diplomasi dengan kerajaan ini. Yang berniat jahat, selalu gagal untuk menyerang Kerajaan Makmur ini karena memang memiliki tentara yang kuat dan handal. Sementara yang hendak berdiplomasi, ternyata tidak ada yang pernah berhasil.

Mengapa diplomasi yang dilakukan kerajaan-kerajaan sekitar terhadap Kerajaan Makmur tidak pernah ada yang berhasil? Cerita punya cerita, ternyata Sang Raja Makmur memberikan teka-teki terhadap setiap utusan kerajaan yang datang ke kerajaan Makmur dan mengajukan perjanjian hubungan diplomatik. Teka teki ini cukup sederhana tetapi tidak mudah dijawab. Raja Makmur memberikan tiga boneka yang terbuat dari perak kepada utusan kerajaan tetangga yang datang.

“Aku memberikan kepadamu tiga patung. Dari ketiga boneka ini, berikanlah padaku salah satu yang menjadi pilihanmu. Seandainya pilihanmu tepat, maka Kerajaan Makmur akan dengan senang hati menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaanmu. Tetapi jika pilihanmu salah, maka kami tidak bisa menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaanmu. Saya harap ini bisa dimengerti dan dijadikan maklum”, demikianlah titak Sang Raja Makmur.

Yang dimaksud boneka oleh Raja Kerajaan Makmur tersebut sesungguhnya adalah boneka dengan bentuk sederhana yang terbuat dari perak, berbentuk lelaki tersenyum. Kesemuanya ada tiga buah.

Sudah berpuluh kerajaan yang datang selalu mendapat tantangan yang sama dari Raja Makmur. Diantara kesemua utusan yang datang, kemudian pulang ke kerajaan mereka untuk dicarikan ahli yang sanggup membedakan tiga boneka tersebut. Raja Makmur mengijinkan jangka sepuluh hari kepada kerajaan-kerajaan yang mengajukan hubungan diplomasi untuk membawa pulang tiga boneka raja itu ke kerajaan mereka masing-masing, sebelum akhirnya diserahkan kembali ke Raja Makmur salah satu diantaranya yang menurut mereka pantas diserahkan ke Raja Makmur.

Konon, setiap ahli yang ada di tiap kerajaan tetangga mengamati goresan demi goresan ukiran, perbedaan bentuk, garis, motif dan apapun yang melekat di ketiga boneka tersebut. Tetapi tidak ada perbedaan yang berarti dari ketiga boneka itu. Sampai dengan hari yang ditentukan, semua kerajaan tidak mampu mengembalikan boneka yang dimaksudkan Raja Makmur, tidak ada yang memberikan alasan bagus melainkan hanya berspekulasi ataupun analisis tidak akurat. Pada akhirnya semua utusan kerajaan tetangga ini pulang dengan tangan hampa.

Tibalah saatnya salah satu kerajaan, sebut saja Kerajaan Damai, mengutus hulubalang mereka untuk menghadap Raja Makmur dalam kerangka menjalin hubungan diplomasi. Utusan ini diterima dan diperlakukan baik oleh Raja Makmur dan seperti biasanya seusai beramah tamah dan basa basi, Hulubalang Kerajaan Damai ini menyampaikan maksud dan tujuannya. Sebagaimana yang lalu, Raja Makmur memberikan tiga boneka peraknya dan pesan untuk mengembalikan salah satu diantara boneka itu yang menjadi pilihan Kerajaan Damai.

Hulubalang Kerajaan Damai pulang kembali ke negerinya, dan dengan cepat mengumpulkan para ahli. Sampai dengan menjelang hari ke sepuluh, ternyata para ahli ini gagal memberikan analisis ataupun pertimbangan terbaik. Maka, saking frustasinya Hulubalang Kerajaan Damai, diberikanlah ketiga boneka ini kepada putranya yang masih balita.

Betapa senangnya putra Hulubalang mendapat hadiah tiga boneka perak. Maka ditimang-timangnya boneka ini dan disayanginya setengah mati. Saking senangnya, ketiga boneka perak ini dimandikan di kolam saat bocah ini dimandikan ayahnya.

Terjadilah peristiwa kecil yang unik. Dari ketiga boneka ini keluarlah gelembung udara kecil yang menjadi petunjuk pembeda ketiganya.

Keesokan harinya, menghadaplah Hulubalang Kerajaan Damai kepada Raja Makmur dan diberikanlah salah satu boneka yang menjadi pilihannya.

”Kenapa kau berikan boneka yang ini? Mengapa tidak yang lainnya, Wahai Hulubalang Kerajaan Damai?”tanya Baginda Raja Makmur sambil memegang boneka.

”Begini ceritanya Paduka. Ketika hamba dan putra hamba mandi bersama tiga boneka ini, maka hamba dapati bahwa keluar gelembung dari telinga boneka ini. Secepatnya hamba mengeringkan boneka ini lalu mencabut sehelai rambut hamba yang lumayan panjang, lalu hamba masukkan ke telinga masing-masing boneka ini”

”Boneka satu ini, yang di tangan kiri hamba, begitu hamba masukkan seuntai rambut dari telinga kiri, ternyata keluar ke telinga kanan. Begitu pula sebaliknya, dari telinga kanan, masuk ke telinga kiri. Ini adalah gambaran orang yang tidak bisa dipercaya, ataupun tidak bisa menepati perjanjian.”

”Boneka yang satunya lagi, yang di tangan kanan hamba, begitu hamba masukkan seuntai rambut ke telinganya, ternyata keluar lewat mulutnya. Ini adalah gambar orang yang tidak bisa menjaga rahasia, karena setiap apa yang dikatakan kepadanya, selalu keluar lewat mulutnya.”

”Nah, boneka yang Paduka pegang. Ketika hamba masukkan seuntai rambut ke telinganya, baik yang kiri ataupun yang kanan, ternyata tidak menembus ke lubang manapun, sekalipun seluruh rambut itu masuk ke telinganya. Ini adalah gambaran orang yang pandai dalam memegang rahasia dan memegang perjanjian.”

”Demikianlah Paduka”

Mengembanglah senyum Baginda Raja Makmur sembari mengulurkan tangannya.

(Terimakasih kepada Pak Rinto atas dongeng ini, yang disadur dari dongeng Negeri Cina Kuno)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s