Sesudah Melepas Benggol

Dia hanya seekor kerbau yang tidak mengerti. Dia hanya melenguh sesaat, pendek, ketika pemeliharanya yang berusia muda menatap habis setiap detil mukanya dengan dua alis saling renggang.Ekspresi kesedihan.

Tuan kecilnya ini, sesekali berkedip menahan air mata yang sudah begitu menggembung di pelupuk dan sudut mata. keluar. Bajunya yang lusuh diusapkannya ke muka. Sosok anak biasa layaknya anak desa dengan sebutan bocah angon , yang sejak balita, sampai sekarang, menjelang burungnya siap disunat, selalu membawa kerbau ini ke pesawahan dan padang rumput, entah untuk membajak sawah atau dicarikan rumput yang ditimbun di kandang. Dialah yang selalui menaiki punggungnya, memandu tali kekang di hidungnya, memandikan di sungai bersama teman-temannya sambil tertawa-tawa, membiarkannya berbaring di bawah pohon dan mengunyah-kunyah rumput sementara tuannya berlarian dengan teman-temannya, atau mungkin membiarkannya dalam sunyi kandang, berteman binatang malam sementara tuannya itu membuka-buka buku pelajaran ataupun pergi mengaji. Hanya tuannya ini yang memahami bahwa saat ini adalah saatnya berpisah.

“Benggol”, begitulah tuannya memanggilnya.Suaranya lirih, seperti bisikan. Tangannya meraba setiap detil guratan bulu diantara kulit kelabu kerbau jantan bernama Benggol itu, sudut demi sudut.

Berjarak beberapa meter, beberapa laki-laki seolah tak sabar untuk menaikkan kerbau jantan itu ke atas truk yang pintu bak belakangnya terbuka. Mesinnya sudah dinyalakan sejak beberapa saat lalu.

“Ayo Penthol, biarkan Benggol dibawa Pak De Bawor. Nanti, pasti akan bapak belikan kerbau yang lebih gagah lagi dari Benggol,” kata lelaki berumur lima puluh tahunan. Itu ayahnya. Ki Pangkat.

“Ayo”, ulang Ki Pangkat. Kali ini nadanya agak ditinggikan. Seorang lelaki lain yang lebih muda dari ki pangkat, mencoba menenangkan Ki pangkat. Dia memahami situasi Penthol.

Penthol, anak lelaki itu, patuh. Segera dia mundur dari hadapan Benggol, melepas tali cencang untuk dibawa Pak De Bawor. Ditahannya air mata yang akan menetes dengan sekuat tenaga. Ia ingat pesen Maknya almarhumah.

“Lelaki tidak boleh nangis. Ora ilok. Sepedih apapun, sesakit apapun, lelaki harus kuat. Kalau nangis, nanti tidak lagi jadi laki-laki, tapi jadi perempuan. Burungmu itu dipotong saja seluruhnya”

Waktu itu, Penthol manut saja. Anak semata wayang ini tidak ditradisikan untuk berdebat, membantah, menjawab ataupun berdialog dengan orang tuanya. Manut. Itu ciri anak baik.

Segera setelah Penthol beringsut, Pak Dhe Bawor bersama orang-orang pasar yang kemungkinan blantik, sudah dengan sigap meraih tali kekang Benggol dan menaikkannya ke Bak Truk bersama dengan ternak-ternah Ki Pangkat yang lain.

Ki Pangkat tersenyum lebar disalami Pak Dhe Bawor.

“Harganya cocok, Ki. Sekarang kita punya modal buat ngasih mbes-mbes. Tinggal bagaimana kemantapan Ki Pangkat. Semua bisa diatur,”celoteh Pak Dhe Bawor.

“Bagus,” kata Ki Pangkat. Mengangguk.

Penthol tidak terlalu tahu apa yang mereka bicarakan. Pikirannya masih terpaku pada truk yang membawa Benggol, yang hilang di kejauhan, menyisakan gulungan debu jalan desa, hilang jauh di tikungan, entah kemana.

***

Malam itu Penthol susah tidur. Rumahnya yang lebar, saat ini berisik dengan pembicaraan beberapa orang yang kumpul di ruang tengah yang lebar itu. Ada Ki Pangkat, ada Pak Dhe Bawor, Lik Sompil, Yu Cebret, Kang Kombor, Mbak Glenik, Bu Dhe Umuk, Mas Oglek dan beberapa orang lain, semua asyik rembugan.

“Dengan siasat ini, dan usaha dari kita semua, tentunya keinginan Ki Pangkat untuk jadi Kades bisa terlaksana. Bukan Begitu, Sompil?” Ucap Ki Bawor yang disambut dengan tepuk tangan dan tawa dari segenap khalayak. Beberapa orang manggut-manggut, manthuk-manthuk, saling memandang.

Lik Sompil, ikut manthuk-manthuk lalu angkat bicara.

“Benar, Ki Pangkat. Di sini semua orang yang mumpuni sudah ngumpul, urusan woro-woro dan slebaran, kita serahkan sama Kombor dan konco-konconya, biar dia buat uba rampenya dan tempel foto Ki Pangkat di sana-sini. Untuk ibu-ibu, Yu Cebret dan Bu De Umuk sudah siap menyebar berita di pasar, di warung, di posyandu, dan di rapat PKK. Nanti yang cari info dan telik sandi, kita serahkan sama Mbak Glenik. Nah, untuk urusan bas mentahan buat kiri kanan, kita koordinasikan bersama Oglek. Bukan begitu Ki..”

Lagi-lagi suara tawa dan tepuk tangan lumayan membahana. Ki Pangkat manggut-manggut. Sampai malam mereka terdengar berembug soal strategi kampanye, propaganda, pentas panggung, poster, baliho, bahkan sampai pelibatan dukun dan restu sana sini. Beberapa nyamikan dan juga kopi teh menemani pembicaraan mereka. Tawa..tawa…tawa….tepuk tangan, tepuk tangan, tepuk tangan….

Sejenak kemudian Pak Dhe Bawor berbisik ke telinga Ki Pangkat. Mereka memisah dari pembicaraan hadirin yang masih berkisar tentang model kampanye, istilah-istilah yang wangun, jargon-jargon yang sakti, sampai dengan issue-issue kritis yang bakal diangkat dan dijanjikan bisa diperjuangkan Ki Pangkat.

“Ehm..tetapi bagaimana dengan anggaran untuk nggelar dangdutan dan ledhek, Ki? Tampaknya anggaran yang kemarin belum masuk itungannya, Ki..,”tanya Pak Dhe Bawor.” Padahal, momentum itu penting untuk bisa diadakan. Kita tinggal selangkah lagi. Kita undang Dewi Nyedhit, Syaiful Gembil ataupun Ridho Mama, artis ibukota. Saya punya koneksi, Ki.”

“Memangnya uang hasil penjualan raja kaya dan sawahku itu masih belum cukup?” protes Ki Pangkat.” Aku pikir jumlah itu lebih, bahkan sisanya cukup besar untuk makan kalian semua..”

“Wah, belum, Ki. Itu baru anggaran untuk mbes-mbes. Dulu per gundhul 75 ribu. Sekarang mosok sama, to Ki. Paling nggak ya seratus lima puluh laah…. Lalu, ada yang tidak terduga, Ki. Ya..bagaimanapun kita butuh dukungan orang pintar. Mbah Jiwo. Supaya kita jauh dari gangguan yang enggak-enggak. Dan juga, untuk mendapat restu dari beberapa kiai. Jumlah seluruhnya itu belum dihitung untuk pentas hiburan, Ki.”

Ki Pangkat terdiam. Penjelasan Pak Dhe Bawor cukup beralasan.

“Ingat ki, kita tinggal selangkah lagi. Kecuali kalau ndilalah Pak Kobar, saingan kita itu, mengadakan pentas ndangndutan..habis sudah….”

Hening. Sejenah Ki Pangkat mikir. Khawatir. Pak Dhe Bawor membiarkan Ki Pangkat gelisah. Sampai kemudian dia bicara.

“Aku ada usul, Ki. Bagaimana kalau kita pinjam ke Denmas Kileng. Setidaknya dia bisa memberikan modal untuk kita.”

“Den Mas Kileng yang renternir itu? Wegah! Lha mbayare nganggo opo? Tidak! Tidak! Usul yang lain saja”, sergah Ki Pangkat.

“Lho. Tenang dulu Ki. Kita pinjam kan hanya untuk satu-dua bulan. Bunganya tentu tak seberapa. Pakai saja sertifikat tanah dan rumah ini…Nanti biar saya urus semuanya. Pasti beres. Kita tinggal selangkah lagi, Ki…Tinggal selangkah lagi.”

Selama beberapa saat perbincangan dua orang ini berlanjut. Sampai kemudian mereka kembali ke dalam haha hihi lingkaran orang-orang di rumah Penthol.

***

Berselimutkan jarik almarhum ibunya, serta mata yang dipaksakan terpejam dan kuping yang disumbat dengan bantal, Penthol benar-benar terganggu dengan tawa itu serta tepuk tangannya. Namun perlahan, secara tak sadar, lewat kupingnya ia bisa belajar memahami apa arti tawa-tawa dan tepuk tangan itu. Ia bisa tahu bahwa orang-orang yang ada di rumahnya tidak lebih dari penjilat, tukang kipas-kipas, ngglembuk, menghasut, munafik ataupun yang memang mata duitan. Ia juga tahu bahwa ayahnya sedang haus kekuasaan untuk punya jabatan sebagai Kades pada pemilihan Kades bulan ini. Ia tahu bahwa kans ayahnya untuk menang memang besar, sebagai juragan beras yang punya empat mesin selep dan beberapa hektar sawah, serta ternak raja kaya yang hitungannya ratusan juta. Semenjak ibunya meninggal, ayahnya tidak banyak berpikir untuk kawin lagi, tetapi dia lebih mikir soal usahanya, bisnisnya, yang memang mengangkatnya menjadi juragan nomor satu di desa. Tetapi penyakit haus kekuasaan seolah menjadi naluri manusia ketika kegelimangan harta tak lagi mampu memenuhi gelora kepuasan batinnya. Mendekati beberapa orang desa, dia mencoba nyalon jadi Kades.

Sampai malam benar Penthol baru bisa tidur, seiring satu persatu orang-orang yang berkumpul di rumahnya beringsut pergi.

***

Di atas truk yang berjalan lambat, penuh dengan orang-orang dan anak-anak, memakai speaker TOA, berhiaskan kain spanduk, disanalah sorak sorai manusia meneriakkan yel yel. Menyebarkan slebaran dan mengibarkan beberapa bendera kecil. Seseorang di atas kepala truk duduk sambil mengibarkan bendera yang paling besar. Hiruk pikuk itu begitu menarik perhatian sehingga orang-orang di tempat yang akan dilewati sudah berbondong-bondong memenuhi pinggiran jalan. Beberapa diantaranya ikut bersorak sorai sambil menangkapi kertas-kertas slebaran yang beterbangan.

“Ya….penuhilah lapangan bola sekarang juga. Penuhilah dan ajaklah siapapun yang ada di kiri kanan anda. Akan diadakan acara dangdutan dan ledhek, serta deklarasi Ki Pangkat menjadi calon Kepala Desa Sudiwaras. Ingat, saat pencoblosan nanti jangan lupa pilih gambar telo. Ayooo…ayoo….”

Pengumuman itu diteriakkan berulang-ulang dengan variasi kata yang berbeda oleh seseorang di kepala truk di samping sopir. Keras, melebihi kerasnya teriakan-teriakan anak-anak yang berebutan slebaran.

Diantara manusia-manusia yang berteriak-teriak di atas bak truk itu, adalah Penthol yang suaranya sampai serak, hilang ditelan gemuruh mesin truk dan teriakan orang-orang lainnya. Ia tak perduli. Yang dia tahu bahwa orang-orang sedang bersenang-senang dan bergembira atas pencalonan ayahnya. Ia tidak lagi sesedih ketika Benggol dibawa oleh truk yang sama untuk dibawa ke kota. Bendera kecil yang ia bawa entah berapa kali diobat-abitkan. Keringatnya sudah bercampur dengan debu dan terik matahari.

“Coblos Gambar Telo, dukung Ki Pangkat jadi Kades,”begitulah teriakannya.

Truk itu terus menderu menuju tanah lapangan. Di sana beberapa orang sudah berkumpul dan siap dengan panggung serta sound system. Sebentar lagi pergelaran dangdut dan ledhek sudah dipastikan ada.

Kedatangan truk itu disambut dengan tepuk tangan dan tawa. Beberapa orang bersalaman. Dari jauh kemudian Ki Pangkat, ayah Penthol, telah siap dengan baju rapi dan necis. Siap untuk berorasi membakar massa yang dengan cepat memenuhi lapangan bola.

***

Dua bulan berlalu. Sudah tidak ada lagi arak-arakan. Sudah lewat pula masa pencoblosan. Penduduk Desa Sudiwaras sudah kembali kepada keseharian mereka. Kembali kepada kesunyian dan kedamaiannya. Tetapi tidak demikian di rumah Ki Pangkat.

Ki Pangkat memegang tangan Penthol. Memandangi beberapa orang yang sedang mencatat dan mengeluarkan barang-barang isi rumahnya. Di hadapannya, Den Mas Kileng, mengawasi satu persatu pegawainya itu sambil sekali-sekali berteriak. Dia tidak menghiraukan Ki Pangkat yang beberapa kali menghiba, memohon, meminta tempo.

Penthol, baru kali ini seumur hidupnya mendapati ayahnya berbuat seperti itu. Dia sudah tahu, akhirnya ayahnya kalah saingan dalam Pilihan Kades. Dia tahu, akhirnya, masih dalam hitungan hari, orang-orang yang dulu tertawa-tawa di rumahnya malam itu sekarang lenyap entah kemana, seperti asap yang disapu angin. Mungkin takut kena getahnya, mungkin pula sudah tidak mau menikmati sepah yang kini ditelan mentah ayahnya. Dia juga tahu, entah berapa ratus kali ayahnya memohon, Den Mas Kileng tidak memperhatikan sedikitpun. Den Mas Kileng cukup rasional untuk mempertimbangkan bahwa seluruh kekayaan Ki Pangkat yang sudah dibeslah dan sah ditangannya tak akan mungkin dipinjamkan barang sepeser kepada Ki Pangkat lagi. Dia Juga tahu, bahwa sekarang, ia dan ayahnya harus pergi. Pergi dari kampung dengan menanggung malu, melewati jalanan sepi, karena para penduduk yang tidak di sawah, begitu pengecut mengintip langkah-langkah mereka dari balik jendela dan pintu yang tertutup.

***

Di antara rel dekat stasiun, Ki Pangkat dan Penthol meneruskan perjalanan yang belum tuntas ke arah kota. Mulut Ki Pangkat bergetar seolah berkomat-kamit. Di punggungnya ada tas, berisi sebagian yang masih..atau boleh… mereka bawa.Penthol membawa tas kecil berisi baju dan beberapa buku pelajaran. Menyusuri bebatuan diantara beton-beton penyangga rel kereta api. Menuju arah matahari tenggelam.

“Pak-e”, suara Penthol memecah suasana.

“Apa…”, jawab Ki Pangkat. Hanya suara, wajahnya dan ekspresinya tidak berubah.

“Kita mau ke mana?” tanya Penthol.

“Ke kota,”jawab Ki Pangkat. Datar.

“Di mana itu?” tanya Penthol. Lagi.

“Nanti kamu juga tahu…”jawab ki Pangkat. Masih datar.

Penthol tidak melanjutkan pertanyaan. Dia nurut saja.

“Pak-e”, suara Penthol lagi.

“Apa lagi…” jawab ku Pangkat. Kali ini ada penonjolan pada kata “lagi”. Pertanda lelah menanggapi.

“Kapan kita bisa beli Benggol kembali?” tanya Penthol. Kali ini benar-benar berharap jawaban dari ayahnya.

Kali ini, Ki Pangkat menghentikan komat-kamitnya. Agak lama baru menjawab.

“Nanti akan Bapak belikan..”

Penthol tidak meneruskan pertanyaanya. Dia tahu arti kata “akan” yang selama ini diucapkan ayahnya. Terlalu banyak ayahnya mengobral “akan”, dan tak satupun yang memberi makna yang sebenarnya terhadap kata itu.

Bersama, mereka berdua terus menyusuri rel. Terus..dan terus…

***

Dengan minyak rambut dan dandan necis berpeci hitam, Ki Pangkat tersenyum. Wajahnya menatap mantap. Berdirinya tegap. Sebuah dasi menghiasi baju dan jas yang dia pakai. Sepatu hitam mengkilat. Melambai ke arah sekian banyak kerumunan orang yang melihat dirinya berbicara. Antusias. Dengan membawa mikropon, Ki Pangkat berbicara lantang. Di atas sebuah panggung dia berdiri. Berhadapan dengan sekian mata yang menikmati kata demi kata yang dia ucapkan.

“Terima kasih, Saudara-saudara, atas dukungannya yang terus mengalir kepada saya. Ya hanya karena kerja keras kita bersama, semua kemajuan dan kemakmuran di negeri ini bisa kita raih. Sukses dan kemasyhuran bisa kita raih. Anda dan saya adalah insan-insan yang telah bekerja keras dengan gigih, pantang menyerah membangun negeri ini sehingga pembangunan terus berjalan. Sukses kita adalah kebahagiaan untuk kita.”

Tepuk tangan dari segenap hadirin. Beberapa orang manggut-manggut mengiyakan.

“Namun demikian, kita masih punya persoalan yang tersisa. Pengangguran, kemiskinan, keterbelakangan yang harus hilang dari negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Beberapa diantara kita demikian bodoh untuk berbuat korup, beberapa diantara kita begitu hina untuk menjual aset negera ini kepada penjajah. Kaum neolib. Beberapa diantara kita begitu hina untuk mengemis meminta bantuan kepada asing. Begitu rendah seperti anjing yang menjilat sepatu bangsa lain. Tetapi di sisi lain kita menindas saudara kita sendiri. Kita diskriminatif. Kita tidak terlalu perduli dengan sesama dan hilang nasionalisme kita.”

Ki Pangkat meninggikan suara. Mantap sekali. Mikrophon yang dia pegang diremas kencang. Kali ini sorak sorai membahana diantara tepuk tangan.

“Marilah kita berjuang bersama-sama untuk menolak segala intervensi asing. Marilah kita perjuangkan kesejajaran lelaki dan perempuan. Subsidi untuk kaum miskin. Marilah kita bangun lagi rasa kegotongroyongan. Marilah kita berjuang demi kemerdekaan kita dalam arti yang sesungguhnya. Hidup Indonesia !!!”

“Hidup..Indonesia!! Hidup Indonesia!!

Beberapa orang bersorak sorai makin keras. Terbakar semangat.

Matahari sudah tinggi. Ki Pangkat menutup pidatonya dengan tersenyum dan menunduk hormat. Kerumunan orang bertepuk tangan. Beberapa diantaranya tersenyum dan beranjak pergi. Sebentar kemudian Penthol datang dengan setengah berlari, memakai baju lusuh, membawa kaleng bekas dan mengedarkan diantara kerumunan yang tersisa. Beberapa diantara kerumunan merogoh uang logam dan uang kertas dari saku mereka, memindahkanke kaleng Penthol. Mulutnya sesekali berucap terima kasih sambil tersenyum. Ki Pangkat memandangi anaknya sambil menuju ke warung majalah, dia pinjam koran basi siang ini untuk dibaca isinya. Esok hari, di pinggir pasar itu, akan ada bahan yang baru untuk dia jadikan sebagia bahan pidato. Esok…dan esok…(*)

Yogyakarta, 14 Juni 2010

Bersama kerinduan untuk istri dan anak-anakku

bocah angon = anak gembala

Ora ilok = tidak pantas

mbes-mbes = uang saku

blantik = pedagang hewan

ngglembuk = membujuk

raja kaya = hewan ternak berkaki empat

uba rampe = perlengkapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s