Mawar Jingga untuk Cinta

Embun pagi masih segar. Masih melekat di atas dedaunan dan rerumputan, ketika baru satu dua burung menyapa pagi. Langit pun masih gelap. Walaupun cahaya mentari sudah terpantul sebagian lewat semburat biru di atas cakrawala. Sedikit kecipak air genangan, roda sepedaku ikut mengiringi musik pagi yang begitu indah. Menuju sebuah kios kecil di sudut jalan. Inilah hariku yang sudah kumulai sehabis subuh, mengirimkan bunga segar ke beberapa langganan. Bunga yang aku petik sore kemarin di kebunku sendiri.

Kusandarkan sepedaku di sisi kios, mengambil kunci dari tas, dan kemudian membuka pintu kios, memulai aktifitas pagi di kios dengan menata tanaman-tanaman sembari menunggu kiriman bunga dari pedagang grosir yang membawa stok bunga dari desa lereng bukit. Satu persatu kukeluarkan pot-pot yang berisi petikan bunga, mengganti air di dalamnya, dan menyortir bunga yang layu. Mencium satu persatu diantara kelopak dan menyemprotnya dengan air agar nampak segar. Sesekali datanglah pelanggan dan pembeli menyapa, bertransaksi, ataupun minta mengirimkan ke alamat tertentu. Itulah pagiku, pagi perempuan penjual bunga.

Kios ini menyatu dengan kios bunga lain di deretan toko bunga. Sebagian besar adalah milik keluargaku. Ya, kami dinasti petani bunga. Ada diantara kami yang berjualan bunga untuk rangkaian bunga ucapan selamat, ada juga yang menjual bunga tabur, bunga taman, ataupun bunga hias. Aku sendiri menjual bunga segar untuk hiasan ruang tamu, bunga untuk ungkapan cinta dan sejenisnya. Bukan yang lain.

“Selamat pagi, Nak” seorang pelanggan kembali datang. Seorang nenek usia delapanpuluhan. Kulitnya keriput putih. Berkacamata tebal tua, mungkin setua usianya.Membawa belanjaan di ranjang. Tersenyum dengan ramah, seramah cahaya wajahnya yang membuatnya nampak bersahaja.
”Selamat pagi nenek, mau membeli bunga?” sapaku. Membalas senyuman
”Iya, Nak” katanya.
”Seperti biasa? Mawar jingga?” tanyaku.
”Benar, tetapi kali ini sepuluh tangkai ya, Nak. Pilihkan yang terbaik.”
”Sepuluh tangkai, Nek.” jawabku.

Aku ambil sepuluh tangkai mawar dari jajaran pot berisi sekian banyak mawar jingga.Memotong dan kemudian merangkainya dengan plastik.
”Ini nek”
”Terima kasih. Ini uangnya,” kata Nenek menyerahkan uang.
”Terima kasih, Nek.”

Usai mengucap salam, nenek itu beranjak pergi. Aku memandangi langkahnya yang sudah demikian tertatih. Menghilang di sudut jalan. Mungkin naik angkot, Dia, sudah sekian lama menjadi pelanggan. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu, dan selalu membeli mawar jingga. Biasanya hanya setangkai dua tangkai.

Aneh. Mawar jingga adalah bunga yang digunakan untuk menyatakan cinta seseorang, tetapi cinta yang malu-malu. Berbeda dengan warna pink ataupun warna merah menyala yang demikian berani untuk mereka yang mengutarakan cinta, mawar jingga adalah pilihan bagi mereka yang sedikit ”pengecut”. Tetapi untuk apakah bunga itu bagi nenek setua itu? Apakah dia jatuh cinta? Hmm..manusiawi, sih..tetapi ..ah …

Entah kenapa namanya saja aku tidak tahu. Padahal rata-rata pelanggan sudah aku kenal namanya.

***

Matahari sudah sepenggalah. Toko sudah bisa aku tutup untuk melayani kiriman para pelanggan. Aku mengayuh sepeda, melintasi beberapa jalan kecil menuju sebuah alamat. Entah kenapa ketika melewati sebuah pekuburan, aku melihatnya. Melihat nenek tadi.
Tak begitu jelas aku melihatnya. Duduk bersimpuh di sisi sebuah nisan. Matanya terpejam dan tangannya jelas menunjukkan dia sedang memanjatkan doa. Aku tak bisa melihat wajahnya, karena dia membelakangiku.
Tentu saja itu bukan pemandangan yang mengherankan. Bisa jadi yang di makam tadi adalah suaminya, atau anaknya, atau keluarganya yang lain. Untuk usia seperti dia, segalanya mungkin.
Masih ada satu hantaran bunga. Kulewatkan saja Nenek di pekuburan itu. Melintasi jalanan kecil diantara rumah-rumah tua menuju ke satu tempat alamat.

***
Sepulangku mengantar bunga. Dari jauh aku masih melihatnya. Dia, nenek itu, masih di depan batu nisan dengan posisi yang sama persis dengan tadi. Entah kenapa aku tertarik untuk tahu lebih lanjut tentang dia. Kuputuskan untuk mendatanginya.

Ku sandarkan sepeda di tepian jalan, pada tembok pekuburan yang hijau dari tumpukan bata tertutup lumut. Di dalamnya sudah pasti, pohon bunga kamboja dan beberapa perdu menjadi hiasan pekuburan. Melangkah selangkah demi selangkan di atas rumput-rumput yang sebagian tidak terawat, menuju ke tempat nenek tadi berada.Sengaja kukeraskan sedikit langkah-langkah ini, agar nenek tidak terlalu kaget dengan kedatanganku.

”Salam, Nek”, sapaku.
”Oh..ya..salam. Dari mengantar bunga, Nak?”tanyanya. Mengusap sedikit air mata di wajahnya. Merapikan segala yang melekat padanya.
“Iya, Nek,”jawabku.”Makam siapa ini, Nek”
“Mendiang Bapak. Suamiku,”jawabnya.
“Oh..maaf.”
“Tak mengapa.”

Makam yang tua. Sebuah nama, tanggal lahir, dan tertulis tanggal kematiannya 14 Februari 1943. Jelas makam ini terawat, karena mungkin secara berkala Nenek ini membersihkannya dari rumput-rumput nakal. Menyapu tanah di sekitarnya dari dedaunan kering. Dan sepuluh bunga mawar jingga berada di atas pusara itu.

“Dahulu. Enampuluh lima tahun lalu kami menikah. Saat perang masih berkecamuk di negeri ini,” dia mulai bercerita sambil mencabut satu dua rumput. Aku siap mendengarkannya. Mengikuti mencabut satu dua rumput di atas makam itu.

Nenek kemudian tengadah. Memandangi awan yang menari di langit atas.

”Bapak adalah orang pendiam. Tak pernah sekalipun menunjukkan rasa sayang. Saya juga tidak tahu dulunya bagaimana. Kami dinikahkan, menikah tanpa cinta, karena kedua orang tua kami memang sahabat dekat.”

Guratan wajahnya. Sendu matanya, seolah membawa ke saat-saat itu.

”Setelah sekian tahun menikah barulah kami saling belajar mengenal tabiat masing-masing. Sampai kemudian Bapak harus ikut berjuang, karena saat itu desa ini diserang penjajah.”
”Karena Bapak bukan prajurit, dan memang sifatnya yang pemalu, mungkin juga penakut, dia tidak terlalu menonjol dan tidak selalu berada di garis depan. Hingga suatu saat, ada rombongan prajurit yang bergerak ke desa ini karena desakan penjajah.”

”Saat itu Bapak melihat peristiwa yang sangat mengharukan baginya. Seorang utusan datang dengan membawa sebuah sapu tangan kepada komandan. Sapu tangan itu diketahui dari istri komandan. Kemudian komandan menyuruh utusan itu untuk pulang kembali, diberinya bekal dan disuruh untuk membelikan seikat kembang kepada istrinya.”

Nenek mengambil sapu tangan dari dalam tasnya. Air matanya makin deras.

”Bapak terharu mendengar peritiwa itu. Diceritakanlah kejadian yang dilihat dari Komandan itu kepada kawannya, bahwa seumur pernikahan kami, dia belum pernah sekalipun mengatakan cinta pada Ibu.”

”Lalu diutarakannya niatnya untuk menghadiahkan seikat kembang kepada Ibu. ”

Nenek beranjak. Kami berdiri berhadapan, menuju ke sebuah bangku di tepi pekuburan. Menghindari terik yang semakin panas.

”Saat itulah, pagi buta, dia pergi ke bukit desa, mencari bunga untuk Ibu. Sampai suatu saat, setelah dia mendapatkan beberapa bunga, sesuatu dilihatnya dan lalu berteriak..”

”Awaaass….penjajaaaahhh!!!!”

”Rupanya pasukan musuh sudah demikian dekat, merapat di pagi buta, tanpa disadari oleh pejuang. Teriakan Bapak menggegerkan desa, membuat beberapa orang segera berlari menyelamatkan diri.”

”Bapak berhasil pulang dan bertemu Ibu. Diberikannya seikat kembang, Mawar Jingga. Tetapi itu tidak lama, karena Bapak langsung merebah. Sebutir timah panas telah melubangi punggung, tembus hingga dadanya.”

”Itulah saat pertama dan terakhir Bapak mengucapkan cinta kepada Nenek.”

Kami perlahan berdiri. Beranjak ke pintu pagar, mengisyaratkan perpisahan.

***

Aku pulang. Mengayuh sepeda menuju ke kebun bunga. Merawat, memupun dan memanen beberapa diantaranya untuk dijual esok hari. Aku memandangi bunga-bungaku yang bermekaran. Harum alami dari kelopak mereka dari berbagai aroma, mengundang kupu-kupu, capung, lebah dan kumbang untuk menari-nari. Secara tak sadar aku juga ikut menari, membayangkan bahwa setiap bunga di sini akan hadir untuk sebuah cinta, cinta yang diperjuangkan, cinta yang tulus,dan bukan untuk sebuah kepalsuan.(*)

Yogyakarta, 15 Februari 2010
Hadiah untuk ulang tahun adikku sayang
Ina Minasaroh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s