Janji Ibu, Janji Segenap Jiwa

Di ujung pohon yang patah, kering dan nyaris mati, burung pipit itu bersarang.  Lingkungan di sekitarnya sudah terlalu parah untuk dikatakan luluh rantak. Kaki gunung ini, kaki dimana kesuburan telah dilenyapkan Tuhan oleh sekian waktu bencana. Hilang semuanya karena bencana.

 

 

Dia adalah burung pipit betina, yang saat ini mengerami tiga telurnya, sendirian. Pejantannya sudah mati bersama yang lain karena bencana, mati saat mencari makan untuk dia, betinanya. Maka ketika dia siap jadi ibu, dimana tiga telurnya menetas, kepalanya dipenuhi satu kata: dimana dicarinya makan untuk anakku, saat semuanya sudah hilang, tak ada kehidupan, gersang dan kerontang.

Hidup harus berlanjut. Hidupnya dan hidup anak-anaknya. Setengah mati menghidupi tiga anak, setengah mati pula badannya seperti habis ketiadaan makanan menjadi isi perutnya. Ya, demi anak, demi setiap umpan yang dilolohkan ke paruh anak-anaknya dia harus puasa. Perut anak-anaknya ini seperti berlubang.

“Lapar, ibu…lapar, ibu.”

Menjawab itu lalu dia terbang, mencari makan, kembali ke sarang,dilolohkan, terbang lagi, dan begitu seterusnya. Cacing, belalang, semut, kecoa,  gabah busuk..dan entah apa yang menurut lidahnya bisa memasuki tembolok anaknya.

“Lapar, Ibu..lapar…”

“Oh anakku. Sabar ya…ibu akan terbang agak jauh.”

Semakin hari, semakin besar anak. Semakin jauh pula dia harus terbang dari sarang. Maka, semakin kuruslah ia, semakin lamban….semakin lemah. Tapi perut anak-anak nya semakin besar, semakin lapar.

“Anakku…..mengapa kalian tidak mencoba untuk belajar terbang sendiri?”

“Kami takut, Bu. Kami tidak melihat sesuatupun di sekitar kami. Nanti kami jatuh, tak bisa kembali ke sarang, mati, bagaimana?

“Kalian harus berusaha…Ibu sudah di ambang batas lemah. Setiap hari member kalian makan. Andaikan ibu punya tenaga banyak, bahkan makanan pun semuanya untuk kalian. Bisa apa ibu.”

“Kami takut, ibu…”

Ibu tak menjawab. Tak berguna. Begitu, dan selalu begitu. Ketakutan anak yang kemudian membebani induk pipit, meskipun induk itu tak pernah menyerah, tak kenal lelah.

Hingga suatu saat.

“Anakku. Sekarang ini, suka tidak suka, ibu akan pergi meninggalkan kalian. Terserah, kalian akan melangkah, belajar terbang dan pergi, ataukah tetap di sarang dan kelaparan. Semua terserah. Ibu akan pergi ke arah mata hari terbit. Ibu akan  memberi kalian makan, jika kalian berani keluar dan belajar terbang. Di sana, ibu akan sediakan makanan yang banyak. Nah, selamat tinggal.”

“Ibu..ibu..”

Ibu mengepakkan sayap, tidak main-main. Pergi ke arah matahari terbit. Anak-anak itu menangis.

Sekian jam berlalu. Anak-anak itu yang semula menduga ibunya hanya main-main, mulai gelisah. Kelaparan sudah di ujung leher.

“Kita bisa mati lemas jika begini. Ibu begitu tega.”

“Iya. Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan kita yang masih anak-anak menjadi seperti ini.”

“Iya. Beranikah kita untuk terbang?”

Mereka, dengan sangat takut, berjalan melangkah keluar dari sarang, mencoba menancapkan cakarnya pada ranting pohon.  Ternyata kuku-kuku mereka memang masih lemah. Satu persatu mereka terjatuh dari ranting pohon. Satu diantaranya patah di kaki. Mereka berciap-ciap, memanggil-manggil ibu, sangat khawati jika ada pemangsa dating. Tetapi ternyata, ibu, induk mereka, benar-benar pergi. Anak-anak itu memang belum cukup umur untuk bisa terbang, ataupun terjun dari sarang. Entah apa pikiran induknya. Anak-anaknya sama sekali tidak paham.

“Ibu….Mengapa kami ditinggalkan. Mengapa kau telorkan kami tetapi kau tinggalkan begini.”

Sambil terus mencoba mengepakkan sayap kecil yang memang belum berguna itu, mereka terus mencoba melangkah, menuju matahari terbit.

Jauh..jauh..jauh…

Sampai suatu ketika, di suatu tempat, mereka menemukan makanan. Sebuah tempat banyak semut dan ulat-ulat kecil yang membentuk gundukan, seolah makanan siap saji.

Mereka mempercepat langkah, terpincang-pincang, dan menyerbu makanan itu. Dengan cepat dan lahap mereka mengisi paruh-paruh mereka dengan ulat dan semut itu.

“Ibu tidak bohong. Ini pasti ibu yang menyediakan.” Cakap mereka. Saling tersenyum mengiakan.

Mereka terus memakan semut dan ulat, membubarkan gundukan yang semula pergerakannya teratur, menjadi seperti pasar panik. Gundukan itu semakin hilang, berpindah ke perut mereka, sampai akhirnya nampaklah sebentuk kerangka burung. Kerangka ibu mereka. (*)

Feriawan Agung N.

Yogyakarta, 31 Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s