Jago Dengklang

Aku punya cerita tentang ayam jago yang aku benci. Yaitu tentang si jago dengklang. Dengklang itu pincang. Pincang itu cacat kaki. Bahasa jawanya: ciri. Itulah. Cuma ayam yang pantas diremehkan. Jadi ceritanya, dia, ayam jago dengklang itu, dulunya pas kecil lahirnya kecenthet. Barangkali karena induknya terlalu banyak anak sehingga telurnya tidak dapat dierami sempurna. Bagiku, itu sebuah produk gagal Tuhan. Siapa bilang Tuhan tidak pernah gagal?


Ayamku banyak, memelihara jago memang kesukaanku sejak kecil. Konon, aku suka nonton wayang dengan lakon “Kongso Adu Jago”, sebuah drama tentang perebutan kekuasaan antar kerajaan lewat sarana adu jago.Cerita itu begitu melekat di kepala sehingga kegilaanku pada unggas yang satu ini menjadi-jadi, melebihi kecintaan orang jawa umumnya kepada burung perkutut, dara, atau oceh-ocehan.

Jagoku banyak dan berbagai jenis. Ada jago pelung, bangkok, jawa, kedu dari yang jalunya panjang, baturante, yang jagoan dan turunan juara.Kalau jago pelung disukai orang jawa barat, karena puanjangnya kluruk. Jago bangkokku ada belasan. Semuanya mahal-mahal. Yang paling mahal pernah ditawar sama pejabat di sini dengan harga 10 juta.Tidak aku kasih, karena dia masih muda dengan katuranggan yang sempurna. Dan, karena memang mau saya rah turunannya. Biasanya orang beli untuk aduan. Aku sendiri nggak mau dan nggak suka mengadu. Kasihan. Apalagi kalau melihat jago sampai babak bundhas. Ihh… .

Aku lebih suka piara jago daripada babon. Walaupun, di kandang penangkaran ada sepuluh babon yang sudah disortir untuk bisa dijadikan indukan.Babon memang hanya dipelihara agar ayam-ayam jantan tidak beringas saat berahi, ataupun di-rah untuk dicari keturunannya. tetapi kalau mau nge-rah keturunannya, harus siap untuk memelihara satu-satu ketika anaknya banyak. Itu yang aku nggak sabar. Mending nge-rah sedikit keturunan, dipelihara betul dan telaten, dan kemudian tumbuh sehat dengan harga mahal.

Ya hanya dari ayam-ayam itu lah aku bisa makan dan punya rumah sederhana. Ya memang, nggak pernah kaya dari ayam. Tapi mau apa lagi. Itu sudah rejekiku.

Setiap pagi mereka harus dijemur, dimandikan, kalau mau makan cukup dikasih fuur dengan konsentrat tinggi yang dicampur dedak dan jagung tumbuk serta sayuran potong. Macam kangkung, bayam atau serat lainnya. Kalau ada yang sakit ya disontik, atau dikasih kapsul macam Vita Chick ataupun Medisep, dan kalau musim penyakit harus diberi vaksin semua.

***

Dari semua ayam itu ya cuma si dengklang itu yang pengen saya enyahkan. Heran aku, ayam itu dari kecil memang sengaja nggak niat saya piara. Sejak kuthuk, si dhengklang ini tidak saya sendirikan di kandang. Saya biarkan di luar kandhang. Mau dithuthul jago dewasa ya terserah, mau dimakan sama wirog ya terserah, mau mati atau apapun, terserah. Entah dia piyok-piyok cari induknya, entah dia kethetheren kedinginan karena hujan ataupun ndhepipis kecemplung got, terserah. Herannya, dia tidak mati-mati.

Kandang si dengklang itu tidak ada. Dia tidur, mlangkring di cabang pohon,jauh dari kandhang ayam-ayamku yang lain yang sudah rapi. Kalau pas makan, dia juga nggak saya kasih. Biar dia cari sendiri macam ayam umbaran. Ya itu tadi, singkatnya sebenarnya memang tidak saya pelihara. Lalu dari mana dia makan? Caranya, tiap ada yang lain makan dia ikut nyeker-nyeker cari sisa-sisa makanan. Mencuri, nlusup-nlusup antar kandang untuk nothol makanan saat ayam yang di kandang lengah. Dengklang ini selalu dithuthul ayam lain jika ketahuan ikut makan di kandang. Aku juga selalu nggusah dengklang kalau pas ngasih makan. Tetapi, tiap digusah balik lagi dan balik lagi. Pernah juga saya bandem watu, saya lempar pakai batu, atau saya plintheng (ketapel), tapi mesti mleset terus. Begitu terus..hingga dengklang kecil tumbuh dere.

Begitulah, nggak terasa, dengklang yang dulu kecil itu sekarang sudah gedhe juga. Tapi seringkali dia dipendhel sama jago-jagoku yang sudah gedhe dan giras. Tetapi sudah sifatnya. Dhengklang itu sifatnya itu jirih.Penakut. Setiap muncul ya selalu saja jadi kejaran jago-jago yang ada untuk dipendhel, dikabruk, dicucuk ataupun dhajar habis.

***

Suatu hari, entah kenapa hari itu seperti hari sialku. Aku tidak menduga bahwa hari ini akan menjadi hari yang paling kusesali dalam hidupku.

Siang menjelang sore hari, si dhengklang datang saat ngasih makan ayam-ayam sebelum tidur. Beberapa jago aku biarkan berjemur matahari sore sambil memberinya makan. Dijemur sejenak, dikasih makan dan kemudian dikandhangkan.

Hingga si Jagoan, jagoku paling mahal aku jemur dan ku kasih makan. Kenapa mahal, karena memang jagoan dan berasal dari bibit yang bagus. Namanya juga Jagoan. Kurawat baik dan sudah di-training dengan jago lainnya gak pernah kalah. Saat Jagoan lagi makan itulah Dengklang datang dan seperti biasa mau mencuri-curi makanan. Terang saja, Jagoan marah dan siap ngabruk si Dengklang.

Segeralah si Jagoan ngabruk si Dengklang. Biasanya habis begitu si Dengklang langsung minggat klepat. Tetapi aneh.. sungguh aneh..Dengklang saat ini cari penyakit. Dia tidak lari, tetapi malah diam dan menantang. Bulu lehernya tegak layaknya ayam siap tarung. Sorot matanya tajam menatap Jagoan. Sambil berputar dengan kaki cacatnya yang terseret seolah berteriak bahwa dia tidak takut dan siap melayani Jagoan. Wee..aku pikir…mati juga akhirnya Dengklang ini.

Tantang-tantangan ini berjalan beberapa detik hingga akhirnya kabruk-kabrukan terjadi. Jagoan menyerang bertubi-tubi ke arah kepala Dhengklang yang masih susah untuk berdiri.

Di luar dugaanku, si dengklang ternyata melayani dengan menyerang membabi buta. Seolah-olah dia sudah benar-benar menghadapi mati dan ngabruk nggak karuan. Gila! Si jagoan sepertinya malah ciut dan kepalanya dihantam habis-habisan. Dhengklang tidak melepaskan gigitan paruhnya ke kepala Jagoan dan dihantamnya kepala itu sejadi-jadinya dengan kakinya yang pincang. Tidak butuh waktu lama si Jagoan keok dan mundur dari gelanggang menuju ke aku. Dan aku tangkap. Tetapi…oh..terlambat. Dengklang terus mengejar dan menghajarnya. Bukan hanya keok, tetapi si jagoan juga mati. Gila! Tanpa darah mengucur!

Giliran aku yang gelap mata. Dengklang!!!! Aku lempat dia sejadi-jadinya dengan batu segenggaman.

BRAKK!!!! Kena pas kepalanya. Dan dia seperti tak sadarkan diri. Selama beberapa saat dia berkaok-kaok, kepalanya klengsreh di samping kiri dengan mata merem-melek menahan sakit, serta berlari berputar-putar sambil seperti terbang-terbang begitu saja. Entah Hal itu kubiarkan beberapa saat. Sampai akhirnya, karena aku masih jengkel, dalam keadaan si Dengklang yang berputar-putar miring-miring seperti ayam klenger itu aku tendang sekuatnya sampai terlempar tujuh meter-an.

Kali ini Dengklang, bukan saja sakit badannya, tetapi pasti sakit hatinya. Dengan wajah sangat-sangat takut dan kaki, kepala serta badan yang entahbagaimana rasanya habis mendapat tendangan kakiku, dia memandangku dengan wajah sedih kemudian cepat-cepat menghilang di semak-semak.

Aku tidak perduli lagi. Entah mau jadi apa dia. Mau mampus atau mau minggat terserah. TInggal aku sendiri yang sedih habis-habisan memandangi bangkai si Jagoan untuk kemudian membuat jogagan untuk kuburannya. Di atas kuburan itu aku kasih ublik yang kemudian ditutup kurungan. Ublik itu lampu minyak. Layaknya orang jawa yang memberi ublik di atas kuburan ari-ari ataupun kuburan daging bekas sunat di dekat rumah.

***

Malam hari. Aku tidur dengan pikiran kalut. Membayangkan bagaimana Jagoan yang seolah di depan mata yang demikian tinggi harganya, mati. Membayangkan bagaimana rasanya ingin menyembelih Dengklang, kenapa tidak dari dulu aku membuang ayam sialan itu. Dan saat tertidur, aku mimpi buruk

Entah darimana datangnya asap ini, tetapi yang jelas aku sudah terlambat. AKu bangkit dari tidur malam semenjak peristiwa tendangan untuk dengklang. Tetapi kepanikanku terlambat….Rupanya, ublik yang aku pasang di pusara Jagoan minyaknya meluber sehingga meleduk. menjilat kurungan dan kemudian perlahan tapi pasti melalap bahan bakaran yang ada di sekitarnya.

Api sudah melalap semua yang aku punya: rumah, kandang dan ayam-ayam yang mungkin sudah berkaok-kaok dan aku lelap tertidur. Mereka sudah gosong semua. Usaha yang kulakukan seolah sia-sia. Sungai memang dekat, tetapi jarak rumah yang agak jauh dari tetangga dan juga hanya aku seorang yang memegang ember untuk memindahkan air ke api…sungguh tidak mungkin….

Diantara suara gemeretek api yang mulai kecil karena kenyang melalap arang-arang dari bangunanku, aku terduduk di pinggiran rumah. Kosong..

Saat itulah, saat aku sendiri, entah kenapa…Dengklang datang dan sudah duduk di sampingku sambil berkokok-kokok dengan nada suara santai. Seolah dia berusaha menghiburku dengan kejadian ini. Seolah dia lupa bahwa beberapa jam tadi dia sudah aku siksa. Pandangannya ringan menatapku dan sekitarku. Tidak ada ketakutan, dia duduk hanya berjarak 5 centi dari aku. Aku seolah mendapat tamparan keras dari Tuhan. (*)

Yogyakarta,

Kamis, 6 Nop 2008 dan di remark Sabtu, 20 Feb 2010

Keterangan
*babon =ayam betina
*kecenthet = tidak cepat tumbuh besar (karena sering sakit)
*katuranggan = ilmu tentang sesuatu berdasarkan ciri atau penampakan fisik yang biasanya menurun secara genetik
*nyeker-nyeker = mengais-ngais
*bandem = lempar
*plintheng = ketapel
*giras = bersemangat liar
*jirih = pengecut
*pendhel = tendangan ayam/unggas
*klengsreh = dalam kondisi jatuh ke tanah
*di rah = diambil ataupun dicari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s