Itu Apa (Secuil Kisah Menyentuh)

Di halaman rumah. Di atas kursi taman, berdua, di bawah pohon. Cuaca cerah. Pemandangan hijau. Duduk ayah dan seorang anaknya. Ayahnya usia pensiun, berbaju rapi dengan warna sedikit pudar, dan anaknya usia tiga puluhan, dandy layaknya eksekutif. Ayah menatap halaman dan si anak menyimak berita di koran. Tidak ada perbincangan. Kesunyian.

Seekor burung emprit hinggap di atas tetean (tanaman pagar). Sekedar bertingkah sebagaimana emprit biasanya.

Si Ayah, sedikit terkejut, melihatnya.

“Itu apa ?” tanya ayah.Menunjuk.

Anaknya menghentikan baca koran.

“Emprit…”, katanya. Kembali baca koran.

Ayahnya tetap mengamati emprit. Emprit yang sama yang berloncatan dari satu dahan ke dahan lain.

“Itu apa?”tanya ayah. Menunjuk lagi. Kali ini si Anak tak memindahkan bola matanya dari koran.

“Barusan saya bilang, Yah. Emprit”, kata si Anak.

Emprit itu terbang, dan kini berganti emprit lain hinggap di jalan taman yang terbuat dari bebatuan tiruan dari plesteran semen. Si ayah mengamati emprit di atas jalan taman.

” Itu apa?”

Sedikit kesal, si anak menutup koran.

“Yah…itu EMPRIT. Berapa kali saya katakan itu EMPRIT”. Kali ini otot lehernya agak mengeras.

“E – M- P – R- I -T”

Kali ini si Anak berhenti untuk melihat tingkah ayahnya. Berharap dapat menangkap maksud ayahnya.

Si ayah masih bertanya lagi.

“Itu apa?”

Grrmbh…

“Berapa kali saya katakan itu emprit..emprit..EMPRIT..Yah. Tidakkah Ayah mengerti?”, si Anak seperti berteriak.

Ayahnya menarik nafas dalam. Bangkit, beranjak pergi.

“Ayah mau apa?”

Si ayah memberi isyarat dengan tangan seolah bilang: cukup..cukup..

Sedikit menyesal si Anak dengan kejadian tadi. Agak menunduk, dan mempertanyakan diri mengapa dia bisa hilang kesabaran. Mengapa Ayahnya aneh. Lalu diamatinya emprit yang masih di atas bebatuan. Lupa dengan korannya yang sudah jatuh di tanah.

Ayahnya datang. Si anak memandangi dan ingin meminta maaf.

Si ayah membuka sebuah buku. Buku catatan. Satu halaman dia cermati. Diambilnya tangan anaknya lalu diberikannya buku itu, tepat di halaman yang ditunjuknya.

“Baca…”

Anaknya tidak mengerti. Menerima buku itu.

“Keras….” kata Ayahnya.

Si anak mulai membaca:

“Hari ini, putra kecilku sayang, setelah kemarin berhasil memanjat pohon, duduk bersamaku di taman, saat seekor emprit kecil hinggap dekat kami. Anakku bertanya 21 kali padaku tentang “itu apa”, dan kemudian aku jawab 21 pertanyaanya, semuanya, bahwa itu adalah burung …….emprit.”

Hening…

“Aku selalu tersenyum memeluknya setiap kali dia menanyakan pertanyaan yang sama. Begitu seterusnya….Tanpa menjadi gusar, memberikan respon yang baik untuk pertanyaanya yang polos itu. Anakku sayang.

Hening….

Ayahnya tersenyum, seolah mengenang kejadian itu. Dan dibiarkannya anaknya itu terdiam sesaat, untuk kemudian memeluk ayahnya tercinta, mencium dahinya.

******(selesai)*****

Demi ayahku, dan demi meningkatkan sabarku pada putra-putraku

Disadur dari film What Is That/ Ti einai afto?

silahkan download filmnya di:

http://www.indowebster.com/717680_what_is_that.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s