Dongeng Tolol Induk Ayam

Suatu saat, di sebuah kandang, suatu petarangan, menjelang senja, induk ayam ditanyai oleh sembilan orang anaknya yang masih usia sekian hari.

“Ibu, dimana ayah?” tanya salah satu dari mereka.

“Ayah? Oh, ayah pergi ketika kalian masih jadi telur di perut ibu?”, jawab induk ayam.

Si anak tidak puas.

“Pergi ke mana?”

“Ya pergi mencari betina-betina lain untuk dikawini, agar jadi telur seperti kalian”, jawab ibu.

“Oh..”yang tanya diam.

Induk ayam memandangi mereka.

“Tapi..tapi ibu”, salah satu lainnya hendak bertanya.

“Ibu tidak rindu sama ayah?”Induk terdiam.

“Rindu, tetapi biarlah ayahmu pergi melanjutkan hidup. Rindu ibu sudah terobati dengan adanya kalian yang lucu-lucu ini..”

“Tapi, kami juga rindu kepada ayah. Kapan kami bisa bertemu ayah?”

“Oh ya? Untuk apa? Kalian justru akan dimusuhi oleh betina yang dikejar-kejar ayahmu.”

“Iih…takut..!!!”Mereka saling memandang takut.

“Tapi..ibu”, satu yang lain hendak bertanya.

“Ibu tidak sedih?”tanyanya.

“Sedih kenapa?”

“Sedih..karena harus sendiri membesarkan kami. Sendirian.”

“…..”

Kali ini induk terdiam.Beberapa saat kemudian baru bicara.

“Dengar anakku, Mungkin sudah kodratnya bahwa ibu harus hidup untuk membesarkan kalian. Sendirian. Ibu kuat, sekalipun tanpa siapapun di dunia ini. Bagi ibu, cukuplah kebahagiaan tergantikan ketika Ayah kalian pergi, selama masih ada kalian di sini.”

“Ibu tidak membenci ayah?”

“…..”

Kali ini induk ayam terdiam lagi.

Di hadapan anaknya ia tidak ingin mengajarkan kebohongan, tetapi jika ia mengajarkan kebencian, tentulah yang terjadi justru semakin salah dan berakibat buruk untuk anaknya. Lama kemudian ia berpikir, sampai kemudian ia bicara.

“Dahulu, anakku, Tuhan menciptakan diantara jantan dan betina dari perasaan yang berbeda. Jantan diciptakan dari perasaan yang bersumber dari nafsu, dan betina dari perasaan cinta. Ibu yang betina ini diciptakan dengan cinta agar dia dapat menjadi ibu yang menyayangi dan mencintai anak-anaknya yang dilahirkan dari indung telurnya sendiri. Sementara jantan diciptakan dengan nafsu, agar ia mencukupi utuhnya kehidupan, Tanpa nafsu, cinta tidak akan berbuah menjadi telur, menjadi seperti kalian, anak-anakku. Tetapi tanpa cinta, dengan mudah nafsu meninggalkan apapun, sekalipun yang dicintai.”

Induk ayam menitikkan air mata,”Ayahmu, sudah memilih untuk menurutkan nafsunya, sebagai kodrat penciptaanya. Ibu tidak menyesali itu.”

“Lalu kenapa ibu menangis?”tanya anaknya

“Karena ibu mencintainya anakku..Apapun dia, dia adalah ayah kalian dan ibu tetap mencintainya” jawab induknya.

“Jadi ibu tidak punya rasa benci kepada Ayah?” tanya anaknya.

” Hmm…punya. Tetapi untuk apa?”tanya anaknya.

Anak-anak ayam itu memandangi induk mereka. Kemudian mereka saling melihat.

“Ibu. Ibu tahu bahwa kami, sembilan anak ibu ini, semuanya pejantan-pejantan. Mengapa ibu masih memelihara dan menyayangi kami padahal nantinya pun kami akan berbuat seperti ayah, meninggalkan kaum ibu. Meninggalkan betina-betina yang kami dekati. Kenapa bu?”Induk ayam tersenyum.

“Dahulu ibu tidak akan pernah tahu bahwa kalian akan menjadi pejantan semua. Mungkin kalau kalian lahir sebagai pejantan, ibu akan meninggalkan kalian begitu saja. Tidak peduli kalian akan kelaparan atau dimangsa binatang lain. Mungkin saja itu. Tetapi, ketahuilah kalian, dahulu kalian terlahir sebagai telur. Ibu tidak tahu apa jenis kelamin kalian. Selama 21 hari ibu mengerami kalian dengan penuh kasih sayang, kesabaran dan cinta. Selama 21 hari pula ibu merasakan kebahagiaan. Ibu mencintai kalian, jauh sebelum ibu tahu bahwa kalian akan menetas seperti ini. Sekalipun pada akhirnya kalian menetas sebagai pejantan-pejantan, ibu sudah terlanjur sayang. Ibu tidak cukup alasan untuk meninggalkan kalian, walaupun ibu tak tahu apapun yang terjadi pada kalian di kemudian hari.”

“Ibu….Kami sayang ibu. Sekalipun esok kami akan berbuat seperti ayah, kami akan tetap sayang ibu”, anak-anak ayam itu memeluk induknya yang menyayanginya, hingga tertidur semua. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s