Adinda

Oleh: Feriawan Agung Nugroho

Dahulu kala, ada seorang lelaki yang buruk rupa. Kulitnya hitam, tinggi tak seberapa, miskin, buruk rupa, dan karena kemiskinannya itu dia sangat terkucil. Tidak ada seorang perempuan pun yang mau mencintainya. Setiap dia mencoba untuk menyatakan cinta kepada perempuan yang dia rasa memang cantik dan menawan, selalu ditolak. Malang benar nasibnya.

Pekerjaan lelaki itu adalah seorang pembuat boneka mainan anak-anak. Rata-rata adalah boneka yang digerakkan oleh pegas. Ketika dijalankan, bonekanya mengeluarkan bunyi bunyian merdu dari kotak penggeraknya. Ada balerina, ada penabuh drumban, ada monyet-monyetan, ada burung yang bergerak-gerak sendiri. Tetapi seiring dengan kemajuan jaman, anak-anak sudah tidak mau lagi membeli bonekanya yang terbuat dari kayu. Maka, harga bonekanya jatuh dan hanya dibeli oleh masyarakat miskin. Kadang laku, tetapi sering tidak laku. Maka, penghasilannya dari boneka hanya cukup untuk membeli makanan sehari-hari, lebih dari itu dia tidak mampu.

Karena tidak ada seorangpun yang mau mencintainya. Lelaki itu mencoba untuk membuat sosok boneka perempuan sempurna yang sekiranya dicintai. Setiap rasa cinta dia kumpulkan dan bayangkan sehingga kerutan-kerutan pisau yang digoreskan pada kayu pinus seolah dipenuhi oleh gambaran cinta hatinya, dan perlahan namun pasti terbentuklah wajah ayu, menawan dan sempurna sebagai gambaran cinta di hatinya. Dibalutnya sosok itu dengan gaun merah, berbahan kain paling mahal untuk membuat boneka, diberinya rambut yang tersisir rapi dan berbau harum, dilukisnya bibir si putri impian dengan tinta merah menawan. Dan tidak lama kemudian lengkap dan sempurnalah boneka putri impian ini. Boneka ini diberinama sang lelaki dengan nama: Adinda. Begitu cintanya sang lelaki kepada hasil ciptaannya ini dan kemudian diberinya pegas dan penyuara yang bisa bersuarakan gadis berkata:”Aku cinta padamu.”

Nah, sampailah dia pada saat-saat perdana dimana dia memutar pegas bonekanya, Adinda. Dengan penuh harap….sang lelaki berkata kepada bonekanya itu:

“Aku…cinta…..padamu”, kata sang lelaki dengan penuh perasaan mesranya.

Sang boneka, seperti yang dia duga menjawab:

“Aku…aku…aku..”

Kecewalah wajah lelaki. Mengapa dia tidak bilang..”Aku cinta padamu…”

“Oh..rupanya pegasnya kurang kencang.”Sebentar kemudian sang lelaki memutar kembali pegas Adinda.”

Adinda kemudian seolah-olah hidup, tersenyum dan berkata kepada sang Lelaki: ”Aku..cinta ..padamu.”

Gembira dan bahagialah sang lelaki ini karena ternyata bonekanya bisa mengucapkan kata-kata “aku cinta padamu”. Sebuah kata-kata yang selama ini belum pernah disampaikan oleh seorang perempuan manapun di dunia ini kepadanya.

Hari-demi hari kini seolah menjadi bersemangat, seolah memang ada putri yang menemaninya: Adinda. Dan cintanya seolah merupakan cinta seorang suami kepada istrinya tercinta.

——–

Tak terasa musim berganti menjadi dingin. Si lelaki miskin tadi menjadi gelisah. Hujan yang datang membuat atapnya yang lama bocor kini meneteskan air hujan yang dingin ke ruang yang tidak memiliki perapian. Padahal, dia sudah tidak punya uang. Boneka-bonekanya tidak terlalu laku.

Dengan berat hati sang lelaki harus menjual Adinda. Boneka yang sangat dicintainya ini dirasanya cukup untuk membeli nasi dan genting penambal atap gubuk tuanya. Dibungkusnya rapi adinda dalan sebuah kotak berpita merah jambu. Entah darimana perasaan itu, tetapi lelaki merasakan bahwa boneka karyanya ini menangis tersedu-sedu.

“Jangan khawatir adinda. Aku akan mejualmu kepada orang kaya., dengan harga yang mahal. Percayalah bahwa dia akan merawatmu baik-baik, dan tidak tinggal dalam gubuk reot seperti gubukku.”

Dibawanya Adinda dengan sepeda onta tua ke pasar. Dalam sekejab adinda berpindah ke dinding etalase penjual barang-barang antik. Sangat cantik dengan hiasan lampu-lampu kerla-kerlip dan suasana kota yang terpantul dari dinding etalase. Adinda seolah menjadi primadona yang memancing perhatian banyak orang. Sang lelaki pulang, sementara para manusia yang melihat ke dinding etalase pada berdecakan kagum.

Malam itu, seusai membetulkan genting dan kenyang oleh beberapa potong roti, sang lelaki tertidur…..bermimpi bertemu denga Adinda. Adinda terbang ke awan dengan bintang-bintang dan meneriakkan:Aku cinta padamu..aku cinta padamu…..Menari –nari gembira. Boneka-boneka ciptaannya pun seolah bernyawa dan menari-nari di awan. Impian itu begitu nyata dan membahagiakannya.

Pada saat yang sama, seorang kaya beminat untuk membeli sebuah boneka cantik. Kemudian dibayarnya. Adinda telah berpindah tangan.

“Kamu bilang ini bisa berucap..aku cinta padamu?”

“Benar tuan”

Sang juragan memutar pegas dan menunggu Adinda berbunyi…..

Satu detik..dua detik…dan lama kemudian tidak terdengar satu suarapun.

“Pegasnya kurang kuat” Maka dikuatkan pegasnya.

Masih tidak berbunyi.

“Kenapa boneka ini!!”teriak sang juragan dan digoncang-goncangkannya tubuh Adinda.

Karena goncangan terlalu kuat…..rusak berantakanlah Adinda menjadi beberapa bagian.

….

Subuh hari. Matahari belum nampak meski cahayanya sidah membumbung. Tetapi burung-burung enggan berbunyi. Di sebuah tong sampah kumuh di pinggir pasar, seorang pemulung mengorek-orek isi di dalamnya. Nampaklah sebuah boneka yang sudah rusak. Matanya tertutup embun, tetapi yang terlihat oleh pemulung itu lebih mirip sebagai genangan air mata daripada beningnya embun.

Hadiah Uang Tahun

Untuk Adikku Rina Susilowati yang menyayangi bonekanya.

Maaf, baru bisa kuberikan sekarang.

Karanganyar, 8 Oktober 2004.

2 thoughts on “Adinda”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s