Melihat Polah Pemimpin yang Mirip Film Horor Indonesia: Catatan dari Pentas Garin dan Franky di PP Muhammadiyah 18 Juni 2009

Saya ingin mengutip satu ayat yang saya pikir, atau lebih tepatnya, saya fungsikan untuk mengingatkan saya (khususnya) dan kita di sini agar tidak masuk pada perilaku ini:

[10] Dalam hati mereka (golongan yang munafik itu) terdapat penyakit (syak dan hasad dengki), maka Allah tambahkan lagi penyakit itu kepada mereka dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya, dengan sebab mereka berdusta (dan mendustakan kebenaran). [11] Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat bencana dan kerosakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang hanya membuat kebaikan. [12] Ketahuilah! Bahawa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya membuat bencana dan kerosakan, tetapi mereka tidak menyedarinya. [13] Dan apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang itu telah beriman. Mereka menjawab: Patutkah kami ini beriman sebagaimana berimannya orang-orang bodoh itu? Ketahuilah! Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui (hakikat yang sebenarnya). (saya ambil dari http://quran. al-islam. com/Targama/ dispTargam. asp?nType= 1&nSora=2&nAya=10&t=mal&l=mal, di sana juga ada qad arabnya)

Sebagai catatan, ini perilaku biasa dari saya ketika di JS, yakni membuat reportase ataupun tulisan kajian selepas nonton, atapun diskusi di luar. Nggak tau juga siapa yang menjadi pengikut saya sekarang ini.

Baru tadi pagi, oleh-oleh dari PP Muhammadiyah ketika nonton Franky dan Garin ngamen di sana, ada speech menarik dari ketua PP sekarang, Pak Haedar Nashir. Beliau katakan bahwa Islam begitu peduli terhadap persoalan-persoalan yang tidak melulu soal tauhid rububiyah, ilahiyah dll tetapi juga Tauhid dalam konteks Sosial (yang di Muhammadiyah diawali oleh Amien Rais meskipun awalnya ditentang juga oleh kiai-kiai Muhammadiyah) . Banyak banget ayat-ayat yang menandaskan tentang soal Keadilan sebagai ornamen pokok Tauhid Sosial dan ini dijelaskan mulai dari gagasan paradigmatik dalam ayat Qur’an, sampai dengan soal kecil-kecil. Tetapi, dalam hal ini Qur’an juga menjelaskan bahwa tidak akan pernah tegak keadilan kecuali berdiri di atas tatanan masyarakat yang sistemik (kita mengatakannya Islami ataupun Madani).
Gambaran  tentang masyarakat madani ini tentunya JS sudah banyak literatur. (silahkan cari sendiri..) Yang ingin saya tegaskan dewasa ini, di alam post modern ini, sistem yang baik adalah yang tidak menghasilkan sampah ataupun residu. Prof Damarjati menyebutnya atau mengilustrasikannya sebagai masyarakat lebah. Katakanlah begini: kalau dulu kemiskinan itu disebut sebagai dampak ataupun efek samping dari modernitas ataupun industrialisasi, maka sekarang ini tidak bisa dikatakan begitu. Kemiskinan itu ada karena ada proses yang keliru atau produk yang salah. Demikian juga pencemaran, wabah, global warming dan lain sebagainya, inilah hasil dari sebuah proses yang merusak.


Inilah kaitannya dengan gambaran yang dilukiskan Allah dalam Al Qur’an dalam ayat di atas, khususnya bagi manusia-manusia Indonesia yang ngakunya beragama Islam tetapi justru menciptakan sistem yang ancur-ancuran seperti menyusu dengan World Bank, IMF, IDB dan lain sebagainya, dan masyarakat dipaksa makan utang lewat BLT, PNPM tanpa tahu bahwa pada saatnya nanti pembunuhan sistematis tetapi pelan-pelan ini akan terjadi.


Agama Islam tentu saja memang punya peran dan bukan melulu sebagai ajaran yang normatif: hanya sujat sujut, jengkang-jengking dan ndonga dinonga saja. Islam adalah agama yang liberatif: membebaskan manusia dari ketertindasan. Dalam hal ini perlawanan harus dilakukan jika kita tidak ingin digolongkan sebagai orang yang membiarkan kemunafikan.

—-

Saudara-saudara, masyarakat kita ini kan masyarakat yang romantis melankolis. Artinya apa, masyarakat yang mudah terbuai oleh kata-kata muluk, puitis, lambang-lambang, slogan dan adegan yang simbolistis. Atau dengan kata lain, adalah masyarakat yang cukup puas dengan sesuatu yang artifisial.


Garin secara mbeling mengatakan bahwa masyarakat kita ini bisa disimbolkan dengan gambaran tontonan televisi yang dipenuhi dengan horor, sulap dan orang-orang muda yang bertengkar. Apa artinya? Horor: katakanlah diwakili dengan simbolitas hantu, masyarakat kita ini suka banget dengan sesuatu yang melayang-layang. Maka pemimpin kita sangat suka berbahasa yang melayang-layang dan tidak membumi. Kemudian hantu juga digambarkan sebagai arwah penasaran yang tidak sampai ke tujuan. Memang, pemimpin kita adalah pemimpin-pemimpin yang macam arwah penasaran dengan janji 5 tahun pembangunan, tetapi setelah 5 tahun toh ditinjau lagi, tidak jelas tujuannya dapat terukur dari indikator apa. Karakter lain bisa dicari lah: misalkan saja munculnya di malam hari dan selalu pada daerah-daerah pinggiran, tidak pernah di daerah sentrum. Tentang sulap: ya karena memang pemimpin kita pandai bermain sulap: memanipulasi angka, memukau dan menguasai panggung. Dan tentang anak-anak: hehe…..perilakuny a ya seperti anak-anak.


Intinya begini: bahwa negara kita ini harus disadari berdiri di atas pondamen yang keropos. Segalanya serba seolah-olah. Ekonomi kita benar-benar memiskinkan tetapi kita seolah-olah dihadapkan pada data kemajuan. Alih-alih mengucurkan kredit murah ke masyarakat, tetapi pada kenyataanya porsi hutang terbesar kita justru dinikmati oleh Bank-Bank Besar, dari bank-bank ini kemudian mengalir uang untuk pembiayaan Hypermart dan Supermarket macam Alfamart, Indomaret, Giant, Carefour dan lain sebagainya yang kemudian mematikan pasar tradisional atas persaingan yang tidak sehat, menguras gaji sebagian besar masyarakat indonesia. Anda harus tahu bahwa Hypermart itu bukan sekedar bisnis cari uang, tetapi secara politik-ekonomi adalah strategi untuk mematikan dagangan mbok-mbok di pasar tradisional secara jangka panjang dan barulah mereka menarik laba sesungguhnya manakala sudah tidak ada lagi pasar tradisional. Habis semua . Pendidikan kita benar-benar membodohkan dan bahkan menciptakan kengerian massal dengan UAN dlsb, dan iklim anak muda yang diciptakan tidak mendorong produktifitas generasi muda, tetapi seolah-olah kita benar-benar merasa bahwa kita menjadi bagian dari kemajuan dunia. Nasionalisme kita, rasa cinta tanah air, rasa menghargai para pahlawan dan  juga memberikan yang terbaik bagi bangsa bahkan sudah tidak pernah terdengar lagi, tanpa terkecuali.


Jean Bauldriard, salah seorang filsuf postmodernis, mensimbolisasikan kondisi ini sebagai. ritual bujuk rayu (seduction’s ritual) dimana terjadi kondisi yang makin nggak jelas mana yang fakta dan mana yang kulit, tetapi cukupkah terpuaskan hasrat masyarakat, maka rampung sudah persoalan.Olok-olok sederhana yang paling tepat juga keluar dari lagu Lupa-lupa Ingat dari Kuburan Band. Betapa masyarakat kita adalah masyarakat yang lupa-lupa Ingat.

Terlalu banyak yang dikupas oleh Garin dan Franky untuk bisa dituliskan. Mending saya tuliskan secara grambyangan saja ya.. Pada awal pentas, Garin mendongeng tentang Musolini, betama Musolini mengawali karier sebagai seorang pemuda yang menjawab kegelisahan masyarakatnya, dari awal ketertindasan sampai dengan masyarakat yang berjaya di Eropa. Tetapi di saat harta, tahta, pengaruh, jajahan dan semua keinginan Musolini terpenuhi: ternyata kekasih gelapnya meninggalkannya. Sebuah pesan terakhir dari sang kekasih berisikan kritik:”Engkau telah kehilangan rasa haru-mu”. Gambaran ini, adalah dongengan Garin untuk menagih rasa kemanusiaan kita sebagai manusia atas apa yang sudah kita lakukan. Betapa hancurnya bangsa ini dikarenakan perbuatan orang-orang yang sudah tidak memiliki moralitas dan kemanusiaan. Garin mengajak kita secara general memahami persoalan bahwa ketika banyak daerah memberontak, menginginkan kemerdekaan, otonomi dan melawan kepongahan pusat, semua itu terjadi karena pusat telah menghancurkan ekosistem, tatanan sosial, keramahan budaya, dan wilayah-wilayan yang dihormati oleh komunitas lokal yang kemudian dikeruk demi dijual murah kepada bangsa lain. Pada sisi lain, pemrintah tidak lahir untuk melaksanakan amanat rakyat seperti melindungi segenap bangsa, mencerdaskan bangsa. memajukan kesejahteraan umum serta menjadi bagian dari perdamaian bangsa, tetapi malah lempar batu sembunyi tangan. Ketika TKI menderita, pemerintah bilang: belum ada aturannya. Ketika pasien menjerit karena tekanan rumahsakit: menteri bilang: belum ada regulasinya.

Franky bersama Garin mengajak kita sebagai bangsa untuk kembali memahami Pancasila yang telah menjadi dasar negara. Konon, menurut Garin, Sukarno memberikan kunci penciptaan Pancasila ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kemasyarakatan dengan dua kata penting;”tidak njelimet’. Hal itulah kunci bagaimana pemimpin bangsa melayani rakyat: tidak njelimet. Dan kemudian, masyarakat diajak untuk melihat calon pemimpin kita dari membaca fakta data, bukan dari kicauan mimpi belaka.

Semoga masa depan Indonesia menjadi lebih baik. Amin.

catatan: foto diatas diambil dari sini(KRJogja)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s