Red Cliff

Nggak tau juga, baru seminggu ini saya lagi demen nonton film. Setelah kemarin nonton Romulus, My Father. Kemudian nonton ini: Red Cliff dari seri pertama dan kedua.Maaf kalo di sini saya tidak menceritakan tentang jalan cerita dari Film kolosal dua seri tersebut.  Kalau tertarik, silahkan aja baca resensinya di sini dan di sini

Ada beberapa pelajaran berharga di film ini yang disajikan secara cantik oleh John Woo, sang sutradara film.

Pertama, adalah fungsi dari negara ataupun angkatan perang. Negara dan angkatan perang yang benar adalah yang MELINDUNGI RAKYATNYA dari hantaman pasukan musuh. Seorang raja, bisa jadi hanya menjadi pembuat sandal bagi rakyatnya ketika rakyatnya memang membutuhkan sandal (dalam arti yang sesungguhnya). Seorang raja, harus berpikir keras untuk membuat rakyatnya aman sekalipun keselamatannya sendiri dipertaruhkan. Sebuah pasukan perang adalah mereka yang siap mati melindungi rakyatnya. (bagaimana dengan negara kita?).

Kedua, diplomasi pada negara yang lebih kuat sekalipun, bukanlah permainan menjilat pantat, mengemis ataupun mengompori, dan bukan pula dagang sapi. Diplomasi adalah bahasa politik yang digunakan untuk meminta kepergayaan, meyakinkan, memberikan dukungan, menawarkan strategi, mengajarkan nilai, idealisme, kepandaian dan segenap daya upaya yang bisa memberikan keuntungan pada semua pihak yang terlibat. Mengkritik, mengecam, memberi saran, menolak dan bersikap anti sekalipun, bisa menjadi bahasa yang sah dalam diplomasi. Yang salah adalah ketika menjual bangsa, rakyat, kepentingan orang banyak dan bahkan harga diri bangsa demi mendapatkan simpati dan perlindungan di bawah ketiak manusia lain yang lebih kuat kecuali orang yang bodoh. (bagaimana dengan bangsa kita?)

Ketiga, kesetiaan ataupun loyalitas.  Kesetiaan dibangun atas dasar KESETARAAN dan KEPERCAYAAN dalam arti yang sesungguhnya. Meskipun kedudukan bisa berbeda: raja, penasehat, rakyat, perempuan, anak-anak dan lain sebagainya, tetapi jika semua pihak tahu diri, tau hak dan kewajiban tanpa ada rasa saling mengorbankan, maka akan tercipta kesetaraan yang pada akhirnya berbuah kesetiaan. Di saat-saat genting, barulah terasa bahwa kesetiaan adalah kekuatan paling ampuh daripada senjata apapun juga. Dan bukan semata-mata faktor idiologis. (bagaimana dengan Indonesia?)

Keempat, tidak ada kemenangan yang datang hanya didasarkan pada faktor keberuntungan. Kemenangan hanya bisa dihasilkan dari perencanaan yang matang, kecerdasan, mentalitas yang kuat, dan latihan yang terus berulang dan berulang. Kekuatan fisik, jumlah, persenjataan dan kuantitas justru bisa dikalahkan oleh mentalitas yang kuat, strategi dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, meskipun dari sisi jumlah ataupun kekuatan fisik bisa jadi tidak berimbang. (Bagaimana dengan kita?)

Kelima, ketenangan berpikir, akan tercipta dari pengalaman, pengetahuan dan kesiapan diri. Ketenangan berpikir sangat penting dalam segala kondisi untuk pemenangan diri maupun pertahanan diri.

Keenam, siapapun dia, akan dihargai bukan karena dia adalah orang yang berada di garis depan, bukan pula yang mengatur strategi, bukan pula yang merawat mereka yang sakit, bukan pula semata karena persoalan gender. Seseorang hanya akan dihargai atas dasar kegunaanya bagi orang lain. Pilihan apakah seseorang bisa berguna buat orang lain ataukah tidak, itulah yang kemudian menjadi pertanyaan. Kalau mau berguna dalam posisi garis depan, maka dia harus kuat, harus berani mati, harus mau mengawali segala hal. Kalau mau di belakang tetapi berguna, maka dia harus cerdas, jeli, genius dan matang dalam bersikap.

Ketujuh, tujuan. Bagaimana seseorang menghargai pilihan hidupnya, bukan terletak pada kebesaran namanya, kecerdasan namanya, kegunaan dirinya dll tetapi terletak pada bagaimana dia meletakkan tujuan hidupnya. Bisa jadi dia memenangkan berbagai macam pertempuran, dia telah mencatat sejarah, dia telah menggetarkan seluruh isi dunia. Tetapi terkadang hal itu menjadi absurb manakala dia kalah oleh nafsu kepada lawan jenis. (lihat bagaimana ciao-ciao, jauh jauh berperang dan mengorbankan banyak tentara ternyata hanya demi wanita, bodoh).

Delapan, kenanglah kebaikan teman, sahabat atau siapapun dia yang telah memberikan sesuatu yang berharga bagi anda: ilmu pengetahuan, agama, budi dll, sekalipun anda dan dia tahu bahwa suatu saat mereka akan menjadi lawan. Karena bagaimanapun, lebih berharga lawan yang memberikan pelajaran dan peningkatan kualitas diri, daripada seribu pengikut yang setia tetapi hanya menjadi beban dan bernilai makruh (ada dan tidak adanya dia tidak membawa pengaruh apapun bagi diri kita).

Terakhir, berarti tidaknya film, ataupun film ini, bukan terletak bagaimana kritikus memujinya, mencercanya ataupun membandingkannya dengan film lain. Tetapi, dari anda: apakah anda bisa memetik hikmah, mengambil pelajaran ataupun mendapatkan “aha” dari film ini. Cara pandang kita boleh beda. Bisa jadi film ini sampah bagi anda, sah-sah saja. Yang pasti, saya bisa tahu sejauh mana Anda memahami sebuah fim.

Demikian, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s