Seandainya Tidak Ada Cinta, Ijinkan Aku Memenggal Kepalanya…..

Resensi film Romulus, My Father

Sebuah keluarga bahagia. Anak usia belia dan suami yang rajin bekerja keras dan berpenghasilan. Ternyata istri yang dicintainya adalah seorang brengsek.DIa pergi untuk menikah dengan pria lain meskipun statusnya masih resmi sebagai istri tercinta.

Apa yang salah!!!!

Sang suami (Romulus) adalah pria yang bertanggung jawab, gagak, bagus, bercambang dan berdada lebat. Banyak perempuan lain yang melirik dan jatuh hati kepadanya. Tetapi kesetiaanya yang tinggi tidak membuat dia jatuh hati kepada perempuan lain kecuali istrinya, sekalipun istrinya adalah penghianat cinta. Bahkan dia juga tidak punya disfungsi ereksi.

Anak (Raymond)? Anaknya juga seorang yang menyayangi ibunya. Sayang kepada ayahnya dan juga cerdas.Tipe anak yang penurut dan mau membantu kedua orang tua. Jauh dari wajah anak nakal dan berandalan.

Istri.(Christin) Inilah wanita berotak iblis laknat. Sungguh penampilannya sempurna. Gaya bicara, tutur kata dan perawakan, dan juga naluri keibuan dia sangat kelihatan. dia juga wanita cerdas yang pandai mencari bahan pembicaraan, mendamaikan suasana dan juga.Wow….Tetapi iblis berkelamin perempuan ini lari kepada lelaki lain dan menuntut cerai. Dan, ketika statusnya juga sudah menjadi istri pria lain, masih berani dia muncul di keluarga yang ditinggalkannya dan mengajak suaminya berhubungan seks.

Wanita biadab ini sungguh beruntung. Kakaknya sendiri, merasa malu kepada Romulus karena memiliki adik iblis laknat buaya betina, tupaian. Sebagai rasa tanggungjawabnya, dia ikut andil dalam membesarkan Raymond kecil dan membantu sebisanya secara finansial. Bahkan, dia sendiri belum berkeluarga demi menyisihkan uang untuk Raymond.

Suami baru perempuan ini, mulai tak bisa menahan diri ketika tahu bahwa status si perempuan ini adalah istri orang. Tetapi kesabarannya lumayan terobati manakala tahu bahwa yang salah adalah istrinya, sementara dia dan Romulus bisa berteman baik meski kaku pada perkenalan awalnya.

Wanita iblis ini pada akhirnya dengan suami barunya memiliki anak. Perempuan. Iblis tupainguk ini tanpa satu alasan yang jelas, tidak mau ataupun tidak bisa merawat anaknya perempuan itu. Membiarkannya menangis saat ngompol dan buang air, bahkan tiada mau menyusui. Justru ketika mendapat bantuan keuangan dari suami lawasnya, bukannya dibelikan perlengkapan bayi ataupun tabungan untuk kontrakan dia, eeeh…malah dibelikan perlengkapan rias buat modal megal megol dan sebuah harga yang mahal dari sebuah kata: cantik.. (saya paling benci jika perempuan bisa memakai make-up tetapi hanya untuk menutupi busuknya hati, lihat di puisi saya yang berjudul Dia)

Si iblis ini, bahkan ketika anaknya beranjak balita masih saja bertingkah menjadi-jadi. Bahkan, si Raymond, anaknya yang mencintainya, memergokinya sedang mesum berselingkuh dengan orang tak jelas di sebuah gudang. Sungguh kutu kasur tidak tau diri.

Sang suami baru tidak tahan, setelah habis-habisan memukuli istri brengseknya itu, dia bunuh diri.

Cinta Romulus yang bagaikan air susu dibalas air tuba, begitu sulit untuk melepas Christin. Tetapi Christin lebih suka mengakhiri hidupnya di tengah keluarga yang mencintainya.Sang suami yang mencoba mencari ibu bagi anaknya, ternyata mendapati perempuan yang hendak dikenalkan oleh kakak iparnya ternyata juga istri orang. Kakak iparnya tak tahan menanggung malu dan mati.

Cerita ini diakhiri dengan adegan filosofis, sama dengan adegan pembukanya. Adalah pada suatu masa di musim gugur lebah-lebah seolah sekarat dan mati, dan kemudian dikumpulkan di tangan Romulus untuk dihangatkan. Perlahan mereka bangun semua dan kemudian terbang. Dan biarkan satu demi satu persoalan terbang.

Ada banyak referensi di google tentang film yangmemboyong tiga piala di Australian Film Institute Award 2007. Settingnya ditempatkan pada si Anak, Raymond Gaita yang ternyata adalah filsuf terkenal dari Austrailia. Sebuah kisah nyata.Ada yang mengangkat dari sisi cinta. Tapi saya lebih suka mengangkat kebrengsekan perempuan yang tidak tahu diuntung.

Bukan saya tidak menghargai perempuan. Semenjak saya menemani istri melahirkan dan melihat dua anak saya menyundulkan kepala ke bumi untuk pertama kali bersama darah yang tumpah dari rahim istriku, saya sangat yakin bahwa perempuan adalah mahluk yang dikaruniai kekuatan dan ketabahan luar biasa, dengan cinta yang lebih kekal daripada pria yang begitu mirip anjing (meski diberi daging lezat di rumahnya, masih gemar dia mengais sampah). Saat itu juga saya sangat-sangat menghargai perempuan. Anehnya, saya mendapati juga perempuan-perempuan yang tidak tau diuntung. Punya keluarga yang baik, punya kekasih yang mencintai, tetapi lebih suka berdandan dan menyerupai iblis. Seandainya tidak ada cinta, ijinkan aku memenggal kepalanya, atau minimal, memotong tipis-tipis lidahnya.

Romulus, My Father

Pemain: Eric Bana, Franka Potente, Marton Csokas, Kodi Smit-McPhee, Russell Dykstra
Sutradara: Richard Roxburgh
Penulis Naskah: Nick Drake (naskah), Raimond Gaita (memoar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s