Tentang Kusir Angkringan, internet berbasis komunitas pedesaan

Barusan kemarin sabtu lembaga saya dapat undangan dari KUSIR – ANGKRINGAN (Komputer Untuk Sistem Informasi Rakyat). Sebuah undangan yang menarik karena di situ disebutkan bagaimana mereka (para pengundang) melakukan upaya pemasyarakatan internet berbasis komunitas. Sayangnya acara tersebut tidak bisa saya ikuti karena ada janjian sama sebuah lembaga di UGM untuk kontrak kerjasama. Maka acara itu diwakilkan kepada teman saya.

Tidak ada yang menarik, kata teman saya yang ikut, kecuali bahwa ada 2 oleh-oleh berupa CD dan satu buku tentang mereka= KUSIR ANGKRINGAN yang jelas-jelas saya butuhkan untuk mengetahui tentang pemanfaatan internet berbasis komunitas. Konon, telah lama saya mendambakan bagaimana masyarakat pedesaan dapat melakukan akses internet gratis sehingga, petani bisa mengakses perkembangan teknologi pertanian, anak desa bisa ngerti bagaimana dapat bahan bacaan pelajaran dll, mirip iklannya telkom tentang internet.

Di buku itu disebutkan bahwa Kusir Angkringan dulunya adalah kelompok radio komunitas yang berjejaring untuk penyebarluasan informasi antar anggota komunitas. Sukses dalam mengelola radio komunitas, kemudian mereka melangkah ke internet dikarenakan kebutuhan internet yang tinggi dan sebelumnya bergantung pada warnet yang jaraknya 2 km dari kantor mereka, dengan frekuensi buka warnet yang diragukan jamnya. Dari sana mereka menjawab persoalan itu dengan gagasan Onno W. Purbo tentang RTRW net dengan media WLAN.

Dari situ kemudian mereka mengutak-atik gagasan wajanbolik sebagai antena yang digunakan menangkap sinyal dari server untuk disebarluaskan ke komputer anggota dengan berbagai radius. Asyiknya, mereka tidak menggunakan software OS bajakan tetapi menggunakan Ubuntu server 8.04 sebagai server.

Di buku itu pun disertakan petunjuk teknis pembuatan wajanbolik dan alokasi biaya yang harus dikeluarkan. Sayangnya, menurut saya, pengadaan infrastruktur ini masih terlalu tinggi untuk ukuran masyarakat desa. Untuk reciver saja, wajanbolik, harus menghabiskan biaya minimal 200 ribu-an belum termasuk wlan, kemudian juga bagaimana cara memperoleh bor pelubang, dan alat-alat kerja lainnya. Untuk aksespoint juga paling nggak butuh 1,5 jt belum terrmasuk tower, dan juga koneksi internet yang hendak di-share. Pendek kata, masih butuh pengembangan teknologi yang lebih ramah orang miskin. Akan tetapi langkah Kusir Angkringan jelas langkah hebat untuk menciptakan wahana internet untuk pedesaan.

Pada tahap selanjutnya mereka akan mengawinkan antara radio dan internet menjadi radio online. Ok deh..selamat untuk Kusir Angkringan, semoga makin banyak keberpihakan kepada petani dan komunitas desa.

keterangan selengkapnya silahkan lihat di www.angkringan.web.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s