Cak Imin Durhaka…(Kukutuk kau jadi batu…)

Ketika tanggal 30 November 2008 kemarin saya dan instansi saya menggelar acara Focus Group Discussion di Klaten, saat perjalanan dari Jogja ke Klaten (kira-kira di Bangjo dekat dengan pabrik gula) sempat menjepret spanduk yang unik. Ini dia spanduknya:

Beberapa hari sebelumnya, di gerbang Jogja-Klaten sempat saya lihat ada penurunan spanduk semacam ini. Apakah yang ini terlewat atau sudah diberi ijin atau bagaimana tidak jelas. Yang pasti materi black campaign telah mulai tercium semenjak kekisruhan di tubuh PKB. Tentu saja saya sebagai orang luar yang tidak berpolitik lewat jalur partai tidak punya pamrih ataupun motivasi untuk memihak mana yang benar atau salah. Tetapi efek yang ditimbulkan kalau model-model kampanya ginian diijinkan, akan menambah kisruh persoalan pemilu di kemudian hari. Bayangkan jika Wiranto, atau Sultan kemudian saling black campaign dengan Golkar. Atau Eks kader PDI yang mendirikan partai baru saling menjatuhkan dengan PDI Perjuangan. Atau PMB dengan PAN. Atau LSM dengan aktifis LSM yang masuk partai. dll. Wah…

Demokrasi di Indonesia memang masih bayi dan tidak bisa dipaksakan untuk bisa langsung berjalan normal atau bahkan berlari. Tetapi berapakah harga yang harus dibayar dan siapa yang akan membayarnya? Sangat menyedihkan bahwa sebagian besar ongkos pengorbanan demokrasi harus ditanggung oleh rakyat kebanyakan, yang tidak pernah merasakan empuknya kursi DPR atau dinginnya AC di kantor pemerintahan.

2 thoughts on “Cak Imin Durhaka…(Kukutuk kau jadi batu…)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s