Kumpulan Berkas atau File Sertifikasi Guru Lengkap….silahkan download

Saya tidak begitu ngeh sebenarnya dengan kebijakan sertifikasi guru yang sangat rentan dengan kolusi, korupsi dan nepotisme. Alih-alih peningkatan mutu tetapi ujung-ujungnya menambah persoalan guru yang sudah disibukkan dengan masalah kesejahteraan, masalah beban tugas, kurikulum dll. Kalau guru sibuk, siswa mau dikemanakan? Tapi mau bagaimana lagi?

Untuk anda yang butuh file-file segala sesuatu kaitannya dengan sertifikasi, silahkan download disini

Kerusakan Alam karena Tambang Pasir di Klaten

Baru kemarin (Kamis, 9 Oktober 2008) dari Klaten, tepatnya dari lokasi penambangan pasir di daerah Butuh, Sidorejo, Pemalang, Klaten. Sebuah desa di lereng gunung merapi yang diperkosa habis-habisan perbukitannya lewat penambangan Pasir. Yang menambang ya swasta ya negara dengan menggunakan alat-alat berat seperti Begu dan truk-truk angkut. wajah saya tidak kelihatan ceria karena memang begitulah mirisnya hati saya. Alam yang tadinya bergunung-gunung dan penuh diliputi oleh tanaman kini harus brocel-brocel karena dikeruk dan diperkosa.


Saya (pakai jaket hitam sleret merah-biru), bawa tas, difoto Mbak Zaki, rekan IDEA lagi jalan-jalan di bekas tambang yang sudah ditinggalkan. Tanah merah menunjukkan batas dimana pasir yang dikeruk sudah tidak ada lagi. Pada wilayah di depan saya adalah tanah yang tidak diijinkan pemiliknya untuk ditambang. Dari lapis-lapis tanah memang menunjukkan sedimen pasir yang kaya. Tetapi bagaimana pemiliknya akan mengolah tanah yang di sebelahnya sudah dikeruk itu?

Penambangan itu legal, pemerintah bahkan ikut menjadi bagian dari penambangan itu. Konon di daerah klaten per tahun dapat laba dari retribusi dan ijin dll di daerah ini cuma kisaran 3/4 M. Sebuah angka yang sangat miskin dibanding bahwa di belakang saya ini, hanya salah satu lokasi, per hari bisa sampai 20 truk hilir mudik menanti begu memuatinya. Padahal di sini ada banyak lokasi ( masih di dokumen). Setelah selesai, ditinggalkan begitu saja.


Jalanan yang rusak karena dilalui truk. Bandingkan keuntungannya dengan yang digunakan untuk pembangunan jalan.

Untuk melihat kondisi bekas tambang versi 3 dimensi klik di sini(untuk menikmati panorama bekas penambangan secara 3 dimensi, komputer anda mesti sudah terinstall Java TM platform standard edition yang bisa anda download gratis di sini) ,


Memang berapa keuntungannya? Untung ataukah rugi? Siapa yang dirugikan? Tunggu posting berikutnya.

Virus Tai Kucing

Banyak diantara kita yang lebih suka jadi supproter daripada pemain. Alasannya waktu lah, kemampuan lah, masalah ekonomi lah dll. Sebuah alasan tai kucing untuk berkarya dan memberi setitik arti dari kehidupannya di dunia yang hanya diisi oleh siklus basi dari makan, tidur, bekerja, reproduksi. Nggak beda dengan binatang. Saya berpikir, sudah saatnya saya mendobrak siklus basi kehidupan saya dan mencoba buat karya: menulis, bikin program, dan lainnya di luar aktifitas dunia kerja sebagai peneliti dan programmer di LSM. Idep-idep minimal: tabungan akhirat.

Virus yang paling menjadi tantangan adalah pesimistik, pragmatisme dan merasa tidak mampu: “Ah…saya kan nggak paham tentang ini.””Wah, saya kan masih miskin”. “Lha saya kan banyak pekerjaan.” …dan sampai mati pun kita tidak berubah berubah kecuali tambah kaya ataupun tambah anak, sementara masalah sudahkah kita menemukan arti atau karya bagi negara, bangsa dan agama: nol besar. Virus itu begitu ganas sehingga kita merasa “nyaman ” dengan kelemahan kita, kecengengan kita, kebodohan kita dan matinya rasa bahwa kita adalah mahluk yang ditakdirkan untuk mencoba dan terus mencoba, berkarya dan terus berkarya menjadi mati.

Saya? Jelas tidak mau menjadi mahluk hidup yang “mati.”

Cerita Dari Panti Asuhan

Suatu saat (sepuluh tahun lalu kurang lebih) saya diajak oleh teman-teman dari fakultas SKI Farmasi UGM untuk mengisi sebuah pengajian di Panti Asuhan. Ceritanya, sebagai bagian dari kegemaran saya mendongeng di hadapan anak-anak, saya disuruh mendongeng di panti asuhan.

Panti asuhan adalah sesuatu hal yang baru bagi saya. Seumur-umur, baru kali itu saya punya momentum untuk ke panti asuhan. Bayangan saya tentulah banyak anak yang perlu dikasihani dan disayangi karena penderitaan mereka.

Di luar dugaan, presentasi saya ke hadapan anak-anak itu gagal total. Keringat dingin bercucuran karena dari awal sampai akhir mendongeng bukannya dapat tawa, keriangan, antusiasme dan perhatian seperti ketika saya mendongeng di desa atau di TPA. Dingiiiin banget. Padahal segala kelucuan, segala strategi dan segala joke dah saya keluarkan sampai abiss. Gariing banget.

Saya pikir, apanya sih yang salah: mereka bukannya memperhatikan cerita saya, tetapi yang diperhatikan adalah ke mana arah tangan saya, gerak-gerik saya dan seolah saya ditelanjangi oleh perhatian itu.

Cerita berakhir tanpa ending yang memuaskan. saya habiskan waktu dengan dialog dengan mereka dan sama garingnya. Akan tetapi ada hal yang mengejutkan. Suatu saat saya membetulkan kancing salah seorang anak yang ada di situ. Nggak tau kenapa anak itu bener-bener senang bukan main. Kemudian, salah seorang lainnya menggelendot di punggung saya. Dan segera saja saya gendong dia. Apa yang terjadi kemudian? Beberapa anak lainnya mengerubuti saya dan ada lima-enam orang anak meloncat ke gendongan saya dari depan dan belakang. Mereka berteriak-teriak:

“Ayah, gendong….Ayah gendong..ayah gendong….”
Continue reading Cerita Dari Panti Asuhan

4 Kategori Hidup, Pelajaran dari Pengalaman

Secara iseng saya coba-coba berfilsafat. Saya mengkategorikan beberapa pandangan manusia tentang hidup. Sebuah bahasan yang tidak pernah selesai dan terkadang melelahkan pikiran karena kadang gak jelas manfaatnya. Tapi nggak ada salahnya juga kalau belajar untuk merenungkannya, karena ternyata ada sisi penting bagi saya sendiri untuk memaknai hidup saya.

Gampangnya gini: jika orang sudah tahu pola atau makna hidupnya, maka mudah bagi dia untuk menemukan kunci kebahagiaannya. Jika dia sudah tahu kunci kebahagiaanya, maka mudah bagi dia memaknai segala sesuatu yang menghadapinya.

Dari orang-orang yang pernah diskusi sama saya tentang kehidupannya, ada 4 golongan atau 4 kutub besar makna hidup. Pertama, adalah orang memandang hidupnya sebagai usaha untuk tetap bertahan. Sederhananya: life for struggle. Orang yang demikian melihat bahwa apapun yang ada di dunia adalah sesuatu yang bisa membuat dia mati jika tidak siap, waspada, hati-hati atapun punya bekal yang cukup. Maka usaha keras yang dilakukannya adalah mencari cara supaya apa yang selama ini menjadikan dirinya atau lingkungannya dirasakan baik, harus dipertahankan mati-matian. Segala pengalaman, sejarah, keyakinan dan idiologi yang ada dia kuasai dan dia pertahankan sebagai bekal untuk menghadapi masa depan yang penuh tanda tanya.

Continue reading 4 Kategori Hidup, Pelajaran dari Pengalaman

Sejumput Hikmah dari Pertanian Organik

Membayangkan bahwa seorang petani punya idealisme ya baru kali ini saya dapati. Di kampung saya ada seorang petani tanaman organik yang sejak lama telah dia tekuni. Dia sendiri barangkali tidak tahu bahwa cara pertanian yang dia lakukan adalah pertanian organik.

Sebut saja namanya Pak Wanto, usia 60 tahun-an dengan kaki kasar hitam-hitam sehingga pada waktu sholat meskipun sudah dibasuh menggunakan air wudlu berkali-kali, kotoran yang menjadi kapal di kakinya sudah tidak mungkin lagi dihilangkan.

Pak Wanto menanam tanaman tidak menggunakan pupuk buatan pabrik, tidak menggunakan bibit yang dibeli dari toko pertanian, tidak juga menggantungkan dari penyemprot hama berbahan kimia. Semuanya dibiarkan saja meskipun hasil tanamannya: kadang palawija, kadang sayuran macam terong, tomat, dan sejenisnya borek-borek dan tidak terlalu standar buahnya. Akhir-akhir ini saja ketika peminat tanaman organik mulai bermunculan, tanda-tanda makmurnya ekonomi Pak Wanto baru terlihat. Sebelumnya sih, gak terlalu meyakinkan.

Suatu sore saya menemukan dia sedang bersantai di pinggir kebunnya sambil merokok klembak menyan kesukaanya. Saya mencuplik sedikit dialog dengan dia, tentu saja dengan bahasa yang sudah saya bahasakan sendiri.

Pak Wanto menjelaskan: kadangkala orang memakan sesuatu hanya sekadar memakan saja tanpa ada rasa bersyukur ataupun mencermati apa-apa yang sudah dimakannya. Sayang. Bahwa sesungguhnya makanan adalah masuknya segala sesuatu yang menegakkan raga kita. Dengan raga yang baik, idealnya akan mudah bagi setiap jiwa untuk mengisi, memaknai, ataupun mengolah kehidupan dan jiwanya.Dengan memakan sesuatu yang terbaik, maka segala yang ada di dalam tubuh kita akan jauh lebih baik daripada memakan sesuatu yang biasa.

Continue reading Sejumput Hikmah dari Pertanian Organik