WANTED !!! PENJAHAT KELAMIN!!! Peringatan untuk Akhwat

Seseorang anggota friendster penjahat kelamin berinisial “pecinta akhwat” di alamat http://profiles.friendster.com/85466285 lagi doyan melanglang buana ke fs dan punya kelainan untuk memajang, merubah foto-foto akhwat menjadi tidak berbusana. Penjahat tidak bermoral ini siap untuk mengoleksi satu-dua-sepuluh-seratus dan bahkan ribuan foto-foto akhwat untuk dipermalukan di dunia maya.

Saya mendapat info ini dari teman-teman organisasi islam saya dan penting bagi anda yang perempuan untuk tahu. Khususnya bagi perempuan yang cantik, menarik, gemar “mejeng”, narsis waspadalah: foto anda rentan dari pelecehan seksual di dunia maya tanpa kejelasan hukum ini. Bukan saya tidak peka gender. Tapi demi kehormatan dan kesehatan psikologis anda, mending foto-foto cantik itu digunakan untuk sendiri atau digunakan untuk taaruf mencari ikhwan idaman saja lah, jangan di-obral murah. Atau kamau mau diobral ya dikasih sesuatu yang sekiranya tidak bisa diutak-atik orang lain. Misal-foto sama-sama, foto pake cadar, foto dari samping atau belakang, atau foto dari atas (jangan dari bawah). Atau foto sendiri juga boleh, tapi dibalik tembok atau hijab sehingga kalau ditanya orang: “Tuh, aku yang ada dibalik hijab”.

“Kok ngga kliatan”

“Ya, namanya juga dibalik hijab”

Sekian dulu, sambil menanti dibukanya situs deptan yang masih broken link sampai hari ini.

Cara Mendapatkan Pengumuman Hasil Rekruitmen PTT-TB Penyuluh Pertanian DEPTAN 2008

Sampai dengan berita ini ditulis, situs http://www.deptan.go.id masih tidak bisa diakses dari manapun dan belum ada pengumuman resmi. Cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan informasi tentang Pengumuman Hasil Rekruitmen PTT-TB Penyuluh Pertanian DEPTAN 2007 dapat dilakukan dengan cara melakukan pengaduan ke situs:

1. Anton Apriyantono di http://www.antonapriyantono.com

Isikan saja di bagian komentar semau anda. Semoga dengan itu kebingungan semua masyarakat bisa ditanggapi dengan segera. Semakin banyak komentar yang masuk tentunya akan semakin tanggap pemerintah terhadap persoalan ini.

2. Presiden SBY di http://www.presidensby.info/

Sama dengan yang di atas, tapi masukkan pesannya di bagian kotak pesan untuk redaksi. Logikanya, antar admin di wilayah istana tentu berhubungan erat. Rakyat menangis karena tidak tau informasi, semoga mereka tanggap.

3. http://portalagribisnis.deptan.go.id/contactus.asp

Adalah satu dari beberapa situs link deptan go.id yang masih hidup. Sayangnya situs ini kelihatan jarang di update. Tapi isi saja. Ikhtiar kan boleh tho?

4. email ke: jaka@deptan.go.id

Itu adminnya situs GIS DEPTAN. Walaupun saya agak ragu, karena yang di hack adalah situs deptan. kayaknya webmailnya juga bakal eror.

JANGAN TERKECOH MASUK KE http://deptan.go.id

Karena di sana tidak ada informasi apapun kecuali server kosong yang dipakai deptan.go.id yang menggunakan trustix linux:

If you can see this, it means that the installation of the Trustix operating system and the Apache web server software on this system was successful. You may now add content to this directory and replace this page.

Seeing this instead of the website you expected?

This page is here because the site administrator has changed the configuration of this web server. Please contact the person responsible for maintaining this server with questions. The Apache Software Foundation, which wrote the web server software this site administrator is using, or Comodo Trustix, who packaged it, has nothing to do with maintaining this site and cannot help resolve configuration issues. In other words, there is a great chance your message will be IGNORED

KONTAK PERSON (CP) SITUS DEPTAN YANG LAIN

Beberapa nama yang saya dapat dari PUSDATIN DEPTAN berkaitan dengan sistem Aplikasi Multimedia. Pelayanan tersebut adalah:

Aplikasi

Keterangan

Forum Konsultasi Pertanian Forum Konsultasi Pertanian adalah forum yang disediakan untuk menjaring permasalahan pertanian. Forum ini berupa tanya jawab secara online dan ditanggapi oleh instansi yang bersangkutan.
Kontak Person : Suyati (suyati@deptan.go.id)?

Portal Penyuluhan

Portal Penyuluhan adalah portal yang berisikan tentang penyuluhan –penyuluhan di bidang  Pusdatin dengan tujuan memberikan pemahaman.

Kontak : Eko Nugroho (eko@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Computer Base Training

Computer Base Training adalah  berisi mengenai training / pelatihan yang tersedia di Pusdatin dengan tujuan peningkatan sumber daya manusia. Computer Base Training berbentuk aplikasi multimedia dan di distribusikan dalam bentuk CD.

Kontak : Eko Nugroho (eko@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Direktori Wisata Argo

Wisata Agro atau agroturisme adalah suatu bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Direktori ini memuat daftar lokasi wisata agro di Indonesia yang datanya berhasil kami kumpulkan

Kontak : Yenni Tat (yenni@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Direktori Pakar

Direktori  Pakar adalah suatu  kolom  yang menyajikan para pakar yang tersedia di Pusdatin sesuai dengan bidang-bidang keahliannya dengan tujuan memberi informasi yang dibutuhkan. Kolom ini berisikan semua pakar yang ada sesuai bidang keahliannya khususnya yang terkait dengan bidang Pusdatin.

Kontak : Yenni Tat (yenni@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Forum Dialog

Forum Dialog adalah suatu wadah yang disediakan untuk berdialog antara user dengan pakar yang tersedia di Pusdatin khususnya mengenai permasalahan yang terkait dengan bidang yang ada di Pusdatin. Dalam forum ini akan tersedia forum dialog tentang pusdatin serta tata cara penggunaan .

Kontak : Eko Nugroho (eko@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Kontak Pengaduan

Merupakan sistem yang disediakan untuk menjaring permasalahan yang ada di masyarakat, berikut lokasi, beserta tanggapan atau pemecahan masalah oleh instansi yang berwenang.

Kontak : Eko Nugroho (eko@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

e-Agenda

Merupakan aplikasi yang berisikan Jadwal Kegiatan Pejabat lingkup Deptan (Menteri,Eselon I, Eselon II) yang dapat dilihat melalui internet.

Kontak : Nugroho Setyabudhi (nugroho@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Monitoring Penugasan

Merupakan aplikasi yang berisikan Daftar Kemajuan suatu kegiatan / proyek di lingkup Deptan yang dapat dilihat melalui internet

Kontak : Nugroho Setyabudhi (nugroho@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Kontak Bisnis

Merupakan aplikasi yang disediakan sebagai Arena Promosi Bisnis Anda.

Kontak : Yenni Tat (yenni@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Web-Mail

Merupakan layanan internet email yang berbasis web untuk lingkup Deptan.

Kontak : Asiah (asih@deptan.go.id) Telp. 7822803 atau pes 5421

Ok, semoga ikhtiar kita bisa membuahkan hasil dan jangan lupa berdoa.

Salam.

Feriawan

Pengumuman Hasil Seleksi Penyuluh Deptan tidak jelas, Situs www.deptan.go.id tidak bisa diakses

Sampai dengan hari ini, Sabtu 18 Oktober 2008 situs http://www.deptan.go.id tidak bisa diakses. Pada hari sebelumnya, tanggal 17 Oktober 2008 sampai dengan jam 13.oo situs deptan.go.id juga tidak memberikan perubahan pengumuman.

img378/736/deptanmacetgk5.jpg

Hal ini patut disesalkan karena banyak pelamar dan pihak-pihak yang sudah menunggu hasil pengumuman ini untukikut tes lanjutan tidakmendapat keterangan.

Untuk anda yang kesulitan, silahkan hubungi :

1996 – 2008 Departemen Pertanian Republik Indonesia
Kantor Pusat Departemen Pertanian
Jl. Harsono RM. No. 3, Ragunan-Jakarta 12550, INDONESIA
Situs ini dikelola oleh Pusat Data & Informasi Pertanian
Telp. 7822803; e-mail : webmaster |

Demikian

Feriawan

Dia

muslimah kenthirrr
—————————

Dia…

telah kehilangan jati dirinya sebagai muslimah

setelah sebelumnya berada di bawah kibaran bendera dakwah

memekikkan slogan anti kebodohan

berbusana santun, berjilbab besar

ternyata dia rapuh…..

betapa mudahnya jerat setan berkedok asmara menipunya

merengut hati, jiwa dan raganya tanpa merasa kehilangan

menjadi bejat, laknat dan maksiat

kemanakah nilai yang selama ini ditanamnya?

kemanakah moral yang dipupuknya di pesantren itu?

kemanakah etika tentang haramnya persentuhan lawan jenis itu?

Allah, mengapa dia gila!

Sekarang?

tubuhnya tercium wangi maksiat

bibirnya sudah bergores lilin merah merona

pipinya terselaput bubuk kuning dan rona-rona

bulu matanya disapu kuas dan cairan penebal

busananya semakin tidak karuan, seolah memanggil:

“look at me now”

Apakah dia pikir mempercantik fisik dapat mengobati busuk-busuk di tubuhnya yang sudah seperti sampah, sampai-sampai anjing pun malas mengendusnya!

Hanya mata yang buta yang bisa tertipu

ketika doa-doanya takkan pernah sampai ke langit

tanyalah, kenapa langit begitu pongah

Matilah kau dalam kehinaan!!

Takkan ada yang menyelamatkanmu, hanya kamu sendiri yang menentukan

Betapa aku jijik melihatmu:

mengapa kau begitu menikmati setiap jilatan api neraka di tubuhmu/

Then I said: f**k you

Jogja,17 Okt 2008

Tee Gee, Esas, Semsang, Ej Pi, dan Sun

Aneh thoo, judulnya?

Suatu ketika saya pernah rasanan sama temen, “TG-ku (Tee gee) dah mulai rusak. Aku pengen ganti yang ada radionya. Berapa ya, kira-kira?

“Tee Gee? Apa itu, Tee Gee?,” wajahnya sangat bingung.

“Masak nggak tau?”

“Lah, dengar juga baru ini.”

“Telpon Genggam”

“Oohhhh, Ha Pe?”

“Bukan, Ej Pi. Inggrisnya kan Hand Phone. Singkatannya ya dibaca Ej Pii. Nah kalo telpon genggam kan disingkat (TG)Tee Gee.”

“Asssh…..ra umum,”bantahnya.

“Loh, ini bukan masalah umum ra umum. Ini masalah bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masalah nasionalisme, lho. Cinta tanah air. Bahasa itu menunjukkan budaya, peradaban dan kekuatan suatu bangsa.Kritis dikit dong!”

“Lha kan udah jadi istilah umum kalau namanya Ha Pe”

…….(blank)…..

Suatu ketika lagi, saya nawar-nawar MoBo(Mother Board) di salah satu pameran komputer.

“Yang murah apa mbak?”

“Ya ada En Plus, E Ce Es sama Asrock.”

“Kalau yang Esas Berapa?”

“Apa itu Esas?Nggak ada merknya di sini.”

“Lhoh, masak nggak ada merk seterkenal itu?”

“Nggak ada. Baru denger, Mas?”

Saya menunjuk ke deretan Mobo yang ada di situ.

“Lha ini apa?”

“Oohh, itu Asus, Mas..”

“Lah, itu kan Bahasa Inggris, Mbak”

“Tapi ini Asus”

“Mbacanya kan Esas, bukan Asus.”

“Mas. Mas boleh keliling di semua stan. Yakin deh, pasti nggak ada yang mudheng merek Esas”

Wooo (batinku)…dasar Asus. Cocoknya pakai Harddisk Xyric. Dijamin njegog.

“Kalau monitor yang Semsang ada nggak?”

“Hmm..Samsung, Mas”

“Iklannya aja ngomongnya Semsang”

Tapi tampaknya kali ini dia gak mau kalah:”Ini aslinya buatan Korea, Mas. Bukan Amrik atau Inggris.”

“Lha kalau Korea, malah mbacanya Shomu-Shoungg.”

Sekarang wajahnya yang jengkel campur marah.

……(blank)……

Suatu ketika lagi saya belanja di pasar tradisional dan memberi beberapa kebutuhan istri dan anak. Seorang Mbak, lagi-lagi melayani saya.

“Nah, semua sudah, Mas.”

“Oh ya. Mbak, mintak sun dong”

Wajah dia agak merah padam.

“Masnya itu kok saru tho…”

Saya bingung.

“Lah, kenapa?”

“Masak pake minta di-sun segala”

Wajah saya datar. Kok bisa gini sih?

“Mbak. SUN bubur bayi.”

“Oohh. Yang lengkap dong, nyebutnya, Mas.”

Giliran saya jengkel

“Oke mbak, coba yang tadi mari kita teliti lagi: Kalpanax obat panu, Paramek obat mumet, Klir obat kramas, Reksona obat Kelek, Baigon obat nyamuk, Kiranti obat mens, Aspartam obat gula dan Sun bubur bayi. Ya kalo ada lagi beli Entrostop obat mencret sama Laxing obat e-ek”

….(blank)….

Ketika hal-hal di atas saya omongkan sama teman. Komentar saya di luar dugaan:

“Kamu itu kok aneh-aneh saja.”

Wah, dunia ini kalau dituruti maunya tentu kita akan menjadi manusia yang tidak konsisten. Tetapi kalau kita menjadi manusia konsisten, dunia akan menyebut kita aneh. Ya asal nggak rumongso bener aja Solusinya: Enjoy aja. (*)

Siapa yang lebih baik?

Seorang kawan perempuanku berkata dengan wajah protes kepada saya:

“Suamiku tidak seperti kamu, dia sangat pengertian. Bayangkan: saat dia hamil sampai melahirkan, dia sangat perhatian saat saya membutuhkan kasih sayang dia, membelikan pembalut, mencuci baju istri dan anak, menyiapkan segala kebutuhan persalinan dan lain sebagainya.”

Wajah saya datar. Lalu berkata:

“Istriku tidak seperti kamu, dia sangat luar biasa. Bayangkan: jauh sebelum hamil dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya, dia sangat mencintai saya, membeli pembalut jauh hari, mencuci bajunya dan anak dilakukan sendiri, menyiapkan sendiri kebutuhan persalinan dan lain sebagainya meskipun aku begitu ingin membantunya.”

Wajah dia datar, wajah saya juga datar. Buk…

Feriawan

Blue Moment (bukan blue moon lho..)

Ini sekedar kepingan dari dialog di novel saya. Duuuh…terbayang bangeet waktu itu.

——————————

“Sst…..” aku sekedar ingin menghentikan keseriusan dia dalam memikir antah berantah organisasi.

“Itu”.

Telunjukku membimbing arah pandangnya ke dinding masjid di atas kepalanya.

“Ada bintang-bintang di atas kepalamu.”

Dia tersenyum. Manis sekali. Aku membalas senyumnya. Apakah bintang-bintang yang kumaksudkan. Bintang-bintang itu sebenarnya adalah sinar surya yang menerobos melalui celah-celah dinding masjid berbatako. Batako itu dibuat sedemikian rupa sehingga berongga, agar ventilasi ruangan terjaga. Sementara, rongga-rongga itu dirancang artistik menyerupai bintang bersiku lima. Karena matahari memancar terang dari sudut barat, sinarnya mampu menerobos celah batako hingga membentuk gambaran bintang di dinding sebelah dalam. Bayangan itulah yang kami lihat.

Bayangan itu sebenarnya tidak terlalu istimewa andaikata tidak ada pohon kayu putih di luar halaman masjid yang menjulang tinggi. Bayangan cemara itu terlihat dari dalam rongga-rongga dinding luar masjid. Angin yang mempermainkan pucuk-pucuk kayu putih mengakibatkan sinar matahari yang menerobos pun seolah dipermainkan pucuk-pucuk kayu putih. Bintang-bintang yang diciptakan oleh sinar matahari di dinding sebelah dalam, yang kami lihat, seolah berkelipan menari-nari.

“Dayu, sekarang coba kamu perhatikan bintang-bintang di atas, yang sedang menari-nari itu. Itu Indah sekali,”kataku.

”Tahu ngga. Bintang-bintang itu sangat istimewa. Bintang-bintang itu hanya bisa kamu lihat selama bulan Juli sampai Agustus. Setelah itu biasanya hujan akan menutup cahaya matahari dan bintang-bintang itu tidak muncul.”

Baca selengkapnya klik di sini

Doa Untuk Novelku

Ya Allah,

Berilah hamba kekuatan dan energi

Untuk menyelesaikan novel kisah hamba

Kisah umatmu yang lucu dan penuh liku-liku

Semoga bisa menjadi pelajaran bagi siapapun

Agar tetap tegar di kala cinta berkeping

Agar tetap sabar ketika hati belum berlabuh

Agar tetap berjuang menjadi mujahid cinta

Karena cinta butuh perjuangan

Bukan sekedar pengorbanan

Menyerah kalah di tangan asal-asalan

Asal kelamin beda, atau asal lainnya

Ya Allah

Meski kisahku terasa wagu

Tapi kau tahu yang kumau

Semoga kekuatanmu bersama para pencari jodoh

Yang berjihad mencari istri/suami

Itulah doaku

Semoga Engkau meridhoi

Soal Tambang Pasir Klaten

Dari sebuah sumber:

Berkaitan dengan kegiatan penambangan di pasir di Klaten lereng Merapi, sejujurnya banyak diantara pejabat daerah yang sudah mengetahuinya. Tetapi rata-rata diantara mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Di sini satu lokasi penambangan sampai dengan 5 Begu. Keuntungan pribadi yang diperoleh dari penambangan pasir ini memang luar biasa besar. Belum ada sebulan ini, seorang pengelola penambangan yang biasanya penduduk setempat, bisa menerima upeti berupa mobil pribadi baru. Darimana uang sebanyak itu bisa didapatkan? Bayangkan saja: proses penambangan, seorang penduduk yang memberikan ijin ditambang tanahnya, per rit akan dihargai 20.000-23.000 rupiah (Rit adalah satuan untuk menyebut satu bak truk besar penuh berisi pasir) dan apabila lokasi dekat dengan jalan besar, maka harga bisa naik 30.000 rupiah. Itu baru dari pemilik lahan. Sedangkan harga jual di tempat ( ketika masuk bak truk), akan dihargai 200.000 sampai 210.000 rupiah. Nah, sampai di luar ataupun sampai di toko Besi Bangunan(misalkan) akan menjadi 400.000-450.000 per rit. Bayangkan berapa akumulasi keuntungannya! Hitungan Rit itu sendiri bisa dilihat bahwa pasir penuh sampai dengan beberapa senti di atas tutup belakang truk.

Inzet: sudut bekas penambangan

Pungutan (Liar dan Resmi)

Pada tiap-tiap kampung, ada penjaga-penjaga pos yang dilewati truk, akan ada penarikan dana yang sebenarnya ilegal tetapi merupakan penarikan atas nama kampung-kampung yang dilewati. Dana tersebut pada akhirnya bukan untuk perseorangan melainkan dimasukkan kepada kas kampung untuk pembangunan kampung dengan pertanggungjawaban yang transparan. Per truk akan ditarik 2000 rupiah walaupun prakteknya kadang 1000 – 1500. Hasil dari pungutan itu bisa dilihat konkrit dalam bentuk pembangunan, misalkan pembangunan talud yang dilakukan dalam kerja bakti tiap-tiap minggu, Lampu Jalan, dan beberapa kegiatan desa lain seperti 17-an. Di kampung bisa berujud tenda, rumah seng, untuk orang punya hajat, gamelan dan sejenisnya.

Untuk pungutan resmi, per karcis yang masuk PAD seharga 3500 rupiah, tetapi prakteknya karcis yang harus dibayar oleh tiap sopir seharga 6000 rupiah. Sampai kampung pun karcis itu ada yang harus dibayar 15000 dengan alasan pasirnya bagus dan lain sebagainya.

Tiap hari per lokasi bisa 200 sampai 400 truk mengangkut pasir. Tiap lokasi ada 4-5 Begu untuk memenuhi bak-bak truk tersebut. Minimal satu begu 100 truk dalam sehari semalam. Sejauh pengalaman, pernah satu hari disurvei dari pos keluar jalan kecamatan ada 2600 an truk keluar dari kecamatan ini. Jika yang masuk Pemda hanya 3500 per truk, maka bisa dihitung berapa kerugian mulai dari jalan, lingkungan dan persoalan kemasyarakatan lainnya. Tetapi bayangkan juga setiap rupiah yang masuk kantong pelaku penambangan.

Sehari, rata-rata pihak yang terlibat bisa sampai 5 juta rupiah dan transaksi bisa di mana saja: di jalan atau dimanapun. Tetapi lokasi transaksi berpindah-pindah dan akumulasinya bisa minggu, bulan atau tergantung kesepakatan.

Sebenarnya kesadaran warga tentang ancaman bencana ada. Terbukti bahwa diantara warga yang menjadi pelaku pengelola pertambangan itu tidak mau jika lahannya sendiri dijadikan penambangan pasir. Mereka memilih kebunnya sendiri ditanami ataupun dibiarkan pepohonanya daripada ditambang pasir. Ironi, karena mereka merayu lahan orang lain untuk ditambang dengan alih-alih keuntungan sementara lahannya sendiri tidak ditambang.

Tidak ada satu pihak pun yang bisa menghentikan praktek itu. Pernah suatu ketika ada tindakan membuat papan kawasan bebas tambang, tetapi pelaku yang mengusulkan itu didatangi ‘preman’ yang kemudian memaksa pihak RT untuk menurunkan papan pengumuman itu.

Ancaman Bencana

Selain persoalan ancaman kerusakan lingkungan yang bisa mengakibatkan erosi, ancaman lain adalah kekeringan karena dataran tinggi itu semakin dikurangi hijauannya akibat panambangan pasir. Pihak Pemerintah hanya mengirimkan satu tangki mobil dalam setahun di RT ini, padahal kebutuhan per tahun dalam satu kekeringan adalah 9 tangki. Ada 11 Desa di kawasan Sidorejo dan hanya 2 yang tidak mendapat ancaman kekeringan. Di Sidorejo, beli per tangki (5000 liter) seharga 150 ribu. Dalam satu keluarga per hari 230 liter untuk 4 anggota keluarga. Ada solusi sebenarnya, yakni dengan membangun bak tampungan, tetapi masalah filterisasi atau penjernihan belum cukup pengetahuan.

Dari pemasukan pemda pada galian C, yang hanya diterima 750 000 000 rupiah, semestinya penda bisa mendapatkan lebih tinggi. Dari dana itu juga tidak diketahui berapa yang diterimakan kepada masyarakat.

Konservasi sungai yang menjadi program pemerintah, berimbas pada penolakan masyarakat karena proses konservasi itu menjadi alih-alih pelaksana proyek untuk mengeruk pasir. Padahal, masyarakat dilarang untuk menambang pasir di sungai akan tetapi malah di lakukan oleh pihak pelaksana proyek konservasi.

Persoalan penyakit menular tidak ada, hutan dll tidak ada yang masuk ke masyarakat Sidorejo.

Kerusakan Jalan

Belum berbicara masalah kerusakan secara utuh, tetapi hanya dari kerusakan jalan saja, sudah bisa dilihat bahwa pemerintah ataupun masyarakat sejujurnya tekor ataupun merugi atas penambangan pasir. Jalan sejauh 4 kilo bisa dilihat atau diperkirakan menelan biaya 4M. Bandingkan dengan pembangunan dari pemasukan akibat panambangan. Jelas merugi. Belum lagi pada kerusakan infrastruktur lain seperti gedung sekolah yang berdebu, proses belajar mengajar terganggu, kebutuhan alat transportasi karena aksesbilitas yang tidak bersahabat dengan pejalan kaki.

Sesungguhnya bisa saja menaikkan PAD dengan tanpa merusak, yakni jika truk-truk yang hilir mudik itu mematuhi batas angkut ataupun tonase atau kapasitas angkut yang ditentukan oleh DLLAJR. Sayangnya penegakan hukum yang lemah menjadikan lemahnya kontrol, dan akibat selanjutnya adalah rusaknya infrastruktur jalan karena beban truk yang berlebih ditamban dengan penerimaan PAD yang tidak berkesesuaian dengan kenyataan. Kalau masalah Begu yang masuk hanya masalah ijin ataupun pembayaran tarif masuk, tetapi tidak berkonflik dengan masyarakat. (*)

Dolan Langsung ke Qaryah Thayyibah

Seminggu lalu, tanggal 6 Oktober 2008, saya dan tiga orang teman akhwat nekat dolan ke Qaryah Thayyibah di desa Kalibening,Salatiga. Dari Jogja berangkat jam 8.00 dan saya mesti sedikit balapan sama pemudik balik kampung untuk sampai prambanan.

Setelah perjalanan melelahkan, panas dan bergeronjal, sampai juga kami di lokasi QT, tampaknya memang tidak jauh dari yang digambarkan: gak ada kesan bahwa ada sekolah yang mencuri perhatian media di situ. Gak ada papan nama, gak ada gedung, gak ada halaman dan gak ada absen dll. Hanya salah seorang diantara kami yang kebetulan kenal dengan Mas Bahruddin, Kepala sekolah QT yang memastikan disitulah lokasinya. saya sedikit bisa mengiyakan dari antene pemancar/penerima LAN Internet dan Hotspot yang terpasang di salah satu rumah.

Setelah sedikit menyumpah serapah perjalanan yang melelahkan, dari serambi sebuah rumah Mas Bahruddin menyapa:”Moggo, silahkan masuk…”Wah, sebuah surprise karena saya bisa ketemu langsung dengan wajah ini. Berbeda dengan yang sudah saya lihat di liputan OASE Metro TV, dia keliatan lebih gemuk.Makmur? :))Tetapi ada yang sama dengan di TV: pakai kaos dan sarung, rambut gondrong terikat di belakang.

Begitu masuk lewat lantai keramik, kami melangkah ke ruang tamu yang agak gelap. Di dinding saya melihat beberapa piagam, vandel, kenang-kenangan dan beberapa penghargaan dan oleh-oleh kunjungan dari berbagai tempat. Di meja terhidang snack lebaran dan minuman teh. Setelah beramah tamah sedikit, berikut hasil resume yang dia paparkan:

Paparan Mas Bahruddin

Sampai sekarang kita di sini senantiasa disibukkan dengan persoalan: bermutu/berkualitas-tidak bermutu/tidak berkualitas dan murah/mahal. Paradigma ini yang harus didekonstruksi karena ini menyesatkan dan hasil ataupun produk pemikiran kapitalistik yang menjadikan pendidikan sebagai kapital ataupun produk. Yang terjadi ketika pendidikan menjadi kapital adalah sebuah justifikasi bahwa ada yang mahal dan murah, ada yang bermutu dan tidak mutu dan seterusnya.

Pendidikan yang kita pahami sekarang ini adalah, selain kapitalistik, adalah produk feodal yang menyebabkan adanya guru-murid, kelas-dan tidak berkelas. Guru selalu dipahami sebagai orang yang harus dihormati, dihargai, dipatuhi, pahlawan tanpa tanda jasa dan sekian banyak gelar yang melekat di dalamnya. Murid adalah sebaliknya: demi sebuah ilmu yang akan dia terima, maka dia harus tunduk, patuh, manut, menghormati dan menelan semua yang dia terima. Dari sanalah model pendidikan di QT melakukan semacam anti kritik dengan paradigma ini.

Yang kami lakukan di sini bukanlah proses belajar-mengajar, tetapi belajar bersama dalam arti yang sesungguhnya. Jadi kebenaran itu tidak milik mereka yang sudah tua, sudah berpengalaman ataupun sudah kuliah, tetapi miik setiap orang, termasuk anak-anak yang berada di sini. Filosofi awalnya adalah: bahwa tiap-tiap jiwa yang dilahirkan itu sudah memiliki nalar, memiliki alur ataupun memiliki kebenaran sendiri. Atau sederhananya, memiliki bibit kepandaian sendiri yang potensial untuk berkembang. Dia butuh proses untuk bisa besar dan kuat, mengakar, dan bermanfaat bagi dunianya.

Beberapa yang salah bagi kita sendiri adalah, seringkali yang tua, yang sudah kuliah, yang sudah banyak membaca ataupun menelan asam-garam kehidupan seolah angkuh untuk memaksakan kebenaran yang kita yakini supaya bisa mereka(yang muda, atau yang anak-anak itu) telan, entah bagaimana caranya, dan salah satunya dengan model pendidikan. Jadi pendidikan menjadi hegemonial: seolah-olah benar, universal, anti kritik, ilmiah dan lain sebagainya sementara pada prosesnya sendiri, kebenaran itu tidak bisa berjalan tunggal. Hasilnya, kita buru-buru melakukan salah-benar atas tindakan anak, buru-buru memberikan koreksi dan justifikasi atas tindakan siswa.

Padahal, pendidikan ataupun tarbiyah pada prinsipnya bukan seperti itu. Tarbiyah itu maknanya melindungi ataupun memberikan keamanan kepada setiap individu untuk menemukan tujuannya: kebaikan dan kebenaran. Ibaratkan seorang anak ingin naik sepeda, menjadi tidak mendidik apabila kita sudah melarangnya dengan alasan jatuh, berbahaya, dan lain sebagainya. Menjadi bijak manakala kita memberikan kelengkapan berupa pelindung lutut, helm atau pakaian yang fungsinya melindungi dan memberikan dia fasilitas untuk menemukan tujuannya: bisa bersepeda. Perkara jatuh, lecet, asalkan itu masih dalam koridor resiko yang wajar, biarlah dia rasakan sendiri. Anak pun berhak belajar untuk merasakan bagaimana jatuh, bagaimana lecet, bagaimana kepleset sebagai bagian dari proses kehidupan dan belajar dari resiko itu. Nah, disanalah fungsi kita memberi arahan dan memberi jalan bagi dia untuk mencapai tujuannya, dan bukan tujuan kita sendiri.

Suatu saat pernah seorang anak mengajukan usulan untuk studi banding atau belajar di SMP N 1, di laboratorium bahasa. Dia minta saya buat surat pengantar. Nah, saya menolak dengan alasan: dia yang ingin belajar kok saya yang bikin. Menurut saya, dia saja yang bikin dan biar saya tandatangai/ acc. Nah, dia membuat sesuatu yang dalam kacamata umum aneh atau salah: yakni tertulis: mengetahui Baharuddin (Disambung). Padahal biasanya: mengetahui, space kosong, baru tulisan Baharuddin. Tapi ya sudah saya biarkan saja, tetap saya tandatangai. Kenapa? Ya barangkali dia punya alasan untuk itu, katakanlah: menghemat kertas, siapa tahu? Perkara nanti ditolak oleh pihak lain, ya biarkan itu jadi bagian dari pembelajaran itu.

Nah, proses penghargaan terhadap hak orang lain inilah yang kami tanamkan di sini. Maka tidak ada hak bagi kami untuk menahan proses pencarian kebenaran seseorang. Maka di sini tidak ada istilah: guru-murid, adanya pendamping siswa dan siswa. Fungsi Pendamping siswa ya mendampingi saja. Hak anak-anak sangat kami perhatikan untuk membuat dia merasa enjoy dan menikmati prosesnya mengenal dunianya. Bahkan, hak untuk tidak ikut pelajaran, hak untuk males saja kami berikan. Tidak ada sanksi ataupun hukuman untuk itu. Hak untuk menentukan pelajaran apa, hak untuk memilih mata pelajaran atau bidang apa yang dia inginkan, itu sudah sejak awal kami berikan. Maka tidak ada istilahnya anak dipaksa untuk ikut sehari penuh dari pelajawan A, B, C dan seterusnya macam sekolah reguler yang biasanya itu.

Di sini pendidikan mulai dari PAUD, SMP dan SMU (anak-anak menyebutnya Sekolah Menengah Universal). Paud adalah medianya anak-anak di bawah umur 5 tahun. Sebelum paud yang sore hari, biasanya anak-anak tidak boleh mandi dulu, mereka bermain pasir, tanah, peceren dan apapun yang kotor-kotor dan baru ketika pulang mandi. Sangat beda dengan paud konvensional yang mesti beli media ajar, berada di kelas dan harus teratur rapi.

Untuk SD kami tidak mengadakan, karena dari berbagai pertimbangan, nantinya kemungkinan malah banyak konfliknya.Maka SMP yang kami buka dengan pendekatan hampir mirip SMP reguler: kelas melingkar dan pengajar. Begitu seterusnya sampai dengan Untuk SMU, peran pengajar berubah menjadi pendamping murni dan anaklah yang bertanggungjawab terhadap pendidikannya sendiri. Sebagaimana diketahui, sampai dengan SMU, belajar siswa reguler hanya satu jam, biasanya jam 10.00 dan kemudian dilanjutkan dengan belajar mandiri siswa sesuai dengan minatnya sendiri: ada yang minat belajar bahasa, teater, olah raga, sains, terserah. Memilih untuk ikut UAN atau tidak ya terserah.

Soal prestasi, kami yakin bahwa kami mampu bersaing dengan sekolah reguler. Kami telah menghasilkan banyak karya-karya siswa mulai dari buku-buku, video, musik, dan lain sebagainya. Bahkan gedung baru yang ada di sebelah rumah ini, itu juga hasil dari mereka (siswa-siswi). Seorang anak sudah bisa berkarya sampai dengan 11 buku, ada diantaranya yang sudah 5 buku dan diterbitkan oleh Penerbit di Jogja, dapat royalti 4 juta. Dari angkatan awal itu hampir semua sudah pernah merasakan menulis di koran, naik pesawat, jadi pembicara pameran dan lain sebagainya. Kompas, Media Indonesia, Suara Merdeka dan beberapa media lainnya. Ada surat yang ditujukan untuk Media karena protes mereka atas UAN, ada yang protes karena mereka merasa bisa mengerjakan ujian matematika tetapi kok dapat nilai di luar bayangan mereka sementara mereka tidak mendapat berkas koreksi dari pemerintah. Ada yang ikut pameran hanya karena menyelesaian tugas bikin peta 3 dimensi kampung ini setelah mereka dapat bimbingan buat gedung dengan google sketch dan kemudian tertarik bikin peta kampung sini beserta rumah-rumanya dalam 3 dimensi.Ada yang awalnya gemar corat-coret kamudian kami koleksi coretannya itu, kami label-i jadi buku dan kemudian kami jual, dia senang sekali kemudian dia melangkah ke bikin komik. Bayangkan, belum tentu kami-kami ini bisa menguasai google skecth, menguasai gambar komik dan lain sebagainya. Tetapi lihatlah mereka yang bisa berkarya sedemikian mengagumkan. Di sinilah kami pandang bahwa tiap-tiap manusia punya kebenaran dan potensi sendiri dan tugas kita untuk membuat itu tumbuh dan berkembang.

(Tanya saya: Bagaimana dengan persoalan dana?)

Jauh hari sudah ditanamkan kepada kami bahwa mendidik ataupun menjadi guru itu kewajiban dan bukan komoditas. Ironi, jika seorang pendidik melakukan pendidikan padahal persoalan besar dirinya sendiri belum selesai. Bagaimana dia mendidik jika persoalan ekonomi belum selesai? Ini bukan berarti bahwa sebelum mendidik mereka harus kaya dulu, bukan, akan tetapi semestinya seorang pendidik bisa menyiasati persoalan ekonominya itu dengan cara-cara yang tidak mengganggu proses mendidiknya kepada anak-anak. Kalau perlu, mengajak anak-anak untuk ikut memikirkannya juga. DI sini, kami bisa terus belajar karena anak-anak juga mau bekerjasama dengan terus berkarya: bikin buku, bikin videclip lagu anak-anak dan beberapa media lain yang laku. Terlebih lagi di sini toh kita tidak butuh gedung, buku-buku pendidikan wajib dan lain sebagainya kecuali pengeluaran untuk akses internet 24 jam dan pembelian beberapa alat-alat tulis, foto, cartridge dan beberapa keperluan pokok lainnya. Selebihnya untuk ruang, mereka belajar di rumah-rumah penduduk dimana seluruh halaman rumah mereka pernah digunakan anak untuk sarana belajar anak.

Ada hal yang sebenarnya penting: bahwa gaji pendidik itu semestinya dicover oleh pemerintah. Ketika kami di sini sudah berperan dalam memandaikan masyarakat, maka kami sudah menjadi bagian dari pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka kewajiban pemerintah-lah untuk, paling tidak, memberikan insentif bagi kami-kami di sini. Itu hak kami. Akan tetapi harus digarisbawahi bahwa proses pendidikan tidak boleh putus hanya karena kami tidak digaji. Mendidik itu kewajiban kita, kewajiban kami kepada anak-anak dan itu tidak boleh putus hanya karena masalah keuangan.

Suatu saat ada bantuan dari salah satu anggota Dewan sejumlah 55 juta. Setelah saya hitung, ternyata ada 55 KK yang ada di dusun ini. Ya sudah, saya bagi-bagikan saja kepada mereka per KK 1 juta. Idep-idep sebagai uang gedung (dan menunjukkan bahwa sekolah ini bersih dari unsur politis): hahaha….. Jadi kita tidak mikir dengan 55 juta itu untuk beli apa, malah kami bagikan kepada penduduk.

Bagaimana kita memulainya? Jika anda tertarik ya mulai saja. Ajak siapapun yang mau, tertarik untuk belajar bersama, belajar apa saja. Jangan buru-buru kita memasang target karena memang segalanya adalah kerja bersama dan dinikmati bersama. Di beberapa daerah, model sekolah seperti kami sudah ada. Bisa jadi nantinya justru model seperti inilah yang menjadi rujukan pendidikan di Indonesia menggantikan model pendidikan hegemonial ataupun feodal seperti sekarang ini.

Beranjak Pamitan, Thats All

(Kegagalan yang pernah saya temui di kelompok belajar saya adalah adanya dominasi dan hegemoni perseorangan yang seolah-olah paling berjasa dan punya hak untuk mengatur semua orang, dasar telooo…..)

Itulah inti pembicaraan itu. Di sela pembicaraan kami menikmati beberapa sampel karya siswa, buku, video, komik, peta desa 3 dimensi dan beberapa lainnya. Di tengah pembicaraan ada bapak Sujono Samba menemani kami, beliau adalah guru seni musik yang menelorkan beberapa karya anak-anak QT dalam bentuk video klip lagu dolanan anak dan ciptaannya dibeli Diknas dalam bentuk lagi dangdut pendidikan yang dinyanyikan anak-anak QT juga. Beberapa kami bawa pulang.

Menjelang pulang, saya sempat ketemu Emi, salah satu anak (bakul jamu) yang diwawancarai Metro TV. Gila…lima tahun berlalu sejak itu, dia terlihat cantik dan remaja.Beda dengan wajah polos anak-anaknya dulu. (Wah, teman saya yang lain udah mulai curiga, memuji kan gak mesti punya maksud “macam-macam” kan?)

(Feriawan)

NB: Baca Juga tulisan awal tentang QT saya di sini:

Sekolah Alternatif SMP Qaryah Thayyibah yang Menggugah Nuraniku.

anggraenisme

Just another WordPress.com site

mmd news syndicate

media campaign for women right's, reproductive and sexual rigth's [hiv-aids], and human rights