Dahsyatnya Ilegal Logging di Indonesia (Catatan ICW dari Seminarnya Pukat Korupsi UGM)

Kemarin Rabu, 22 Oktober 2008 ada undangan dari Pukat (Pusat Kajian) Korupsi Fakultas UGM tanggal 17 Oktober 2008. Tempatnya di Ruang Multimedia FH UGM. (Aku kira ruangan multimedia itu akan penuh dengan komputer dan pernah-pernik teknologi. Eh, nggak taunya ya macam ruang serbaguna yang fokusnya untuk seminar akademik, nggak salah juga sih, tapi yang biasa nge-IT?). Yang ngomong di sana Prof Dr Ir San Afri Awang, MSc, Eddy OS Hiaried, Totok Dwi Diantoro sama seorang wakil dari ICW (lupa saya namanya, Mas Emmerson kalo gak salah, nggantiin pembicara awal, si Teten Masduki).

San Afri Awang mengawali panasnya diskusi dengan beberapa point bahwa ilegal loging adalah sebagian kecil gambaran keserakahan penjahat Indonesia, dimana selain itu harus dilacak juga persoalan ilegal mining. Dalam catatannya, Indonesia memang buruk dalam mengelola hutan, yakni 27% penggundulan per tahun. Kanada itu 35% per tahun (tapi herannya kok gak diributin dunia, ya..), dan rusia sendiri lagi dalam proses menggunduli hutannya kayak Indonesia.

Kalau mau jujur, sesungguhnya kejahatan penggundulan hutan dari maling kayu itu dilakukan preman-preman yang kelas wahid dan kasap mata. Digambarkan oleh San Afri, Letkol-letkol di daerah yang hutannya “basah” itu rata-rata beli rumah di daerah Jogja. Nah, harga rumahnya aja udah bisa dihitung 4-5 M. Dari mana duit sebanyak itu? Kok gak ada yang ngecek di rekeningnya yaa..?

Kalo ngomongin peraturan, wah…..memang kurang apa sih UUD sampai dengan peraturan di bawahnya (orang sejak SD aja udah dididik tentang kebodohan penggundulan hutan yang bisa menyebabkan banjir dan erosi). Mereka lupa bahwa hutan adalah bagian dar bumi, air dan kekayaan yang harus digunakan sebenar-benarnya kemakmuran rakyat, tetapi toh Cuma bikin kenyang segelintir orang dan melupakan jatah untuk anak cucunya.

Prektek HPH, dan sejenisnya, ditengarai SAN sebagai kebodohan yang diadopsi indonesia. Karena pada prakteknya dari semua negara yang menerapkan HPH, nggak ada yang hutannya bisa sustain.

ICW, mengeluarkan data-data hasil investigasinya yang juga gak kalah bikin gedheg-gedheg, yaitu masalah hukum. Ada istilah yang baru saya dengar, namanya deforestasi. Nggak ngerti bener saya apa makna istilahnya. Kemungkinan besar adalah proses pengurangan wilayah hutan oleh kegiatan-kegiatan penebangan, pembakaran, pembukaan lahan dll. Data FAO, luas hutan Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun aja (2000-2005) berkurang sampe dengan 9,4 juta hektar. Kemana aja pengurangan itu? Ya buat yang tadi, lahan dan yang paling besar ya untuk ditebangi kayunya.Asal tahu aja, dari seluruh konsumsi kayu untuk Industri dari Indonesia, 70% diantaranya adalah kayu ilegal! Jadi, diatas rata-rata, kayu yang dipakai di indonesia itu kayu hasil maling. Wah…Konon, hutan Indonesia kalo diambil kayunya sesuai aturan sah. Yang bisa hanya 17 juta m3, tetapi prakteknya ya mencapai 53 juta Ha.

Kembali ke istilah deforestasi, data deforestasi dari tujuh pulau terbesar di Indonesia di taun 2000-2005 yang masuk ke laporan Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan berdasarkan catetannya keitung: 5,45 Ha. Jadi, rata-rata deforestasi hutan Indonesia adalah: 1,09 juta Ha. Gendheng opo ora?

Masih ada istilah yang rada angel saya pahami. Namanya Luas Tutupan Hutan Indonesia. Mungkin sih ya, areal yang ditutupi oleh hutan. (Jadi luas hutan sesungguhnya = luas deforestasi + luas tutupan hutan, gitu ya? Kaliii). Data FWI (Forest Watch Indonesia) nyatet bahwa luas tutupan hutan indonesia itu dari tahun 2000 sampe 2005 menyusut hingga 9,4 juta Ha. Yakni dari 97.852 ke angka 88,495.

(Note, saya ragu dengan grafik di bawah ini, kalo Cuma selisih 9,4 juta dari 97.852.000 ke 88,495.000 mestinya ukuran dan selisih baloknya ngga seperti di bawah ini, terlalu gedhe selisinya. Tapi ya itu dokumen resminya)

Niatan untuk mau mberantas maling kayu sih sudah ada dari pemerintah, katanya. Sby katakanlah ngeluarkan inpres no 4 tahun 2005 tentang ilegal loging. Sasarannya mentri, pejabat tinggi, gubernur, walikota. Sebuah perintah untuk melakuan percepatan pemberantasan maling kayu di kawasan hutan dan peredarannya di seluruh indonesia. Khususnya ditujukan pada bapak kapolri dan Jakgung buar menindak tegas dan melakukan penyidikan maling kayu hutan.

Sudah ada 5 operasi pemberantasan maling kayu seperti Wana Jaya, Wana Laga, Wana Bahari dan Operasi Hutan Lestari I, II, III. Tapi, tingkat efektifitasnya sangat rendah, yakni sekitar 4,3% aja. Jadi, dari total 186 tersangka yang ditangkep dan dimasukkan tahanan oleh polisi (penyidikan), hanya delapan (4,3%) yang divonis hingga memperoleh ketetapan hukum tetap (wah..ngak tau itu aku..istilah hukum).

(Note, ini yang memang gak efektif itu jaksa/hakim yang lemes pada ketok palu, apa memang polisi sengaja kasih tersangka yang kemungkinan lepasnya gampang apa gimana? )

Dari yang lolos itu, 72% aktor kelas atas alias cukong kayu, divonis bebas oleh hakim. Karena dari 25 cukong yang tersangka, 18 divonis bebas, (Note, lainnya paling ya mindahin fasilitas hotel bintang 5 ke penjara)

Nih catatan ICW dari tahun 2005-2008 ini:
Dari 205 terdakwa yang terpantau (ada yang lolos pantauan), 137 orang divonis bebas (66,83%). 44 orang divonis di bawah 1 tahun (0-12 bulan)(21,46%). Vonis 1-2 tahun 14 orang (6,83%) dan diatas 2 tahun untuk 10 orang (4,88%).

(Note, Gimana ya pengadilan Indonesia itu? Apa nggak bisa liat kalo di hutan itu ada mesin gergajian alat berat, alat angkut truk mulai dari tronton ukuran angkut peti kemas sampai yang kecil, gudang kayu, kapal sekelas tanker (kali) mungkin juga ada. Apa butuh ganti kacamata atau periksa dokter, kali-kali katarak yaa)

Ini beberapa catatan saya scan biar nggak ada distorsi informasi dan biar gampang:

Untuk bahasan selanjutnya adalah masalah hukum. Ya karena memang bahasannya adalah masalah hukum, jadi ya kupasannya ke itu. Terus terang aja saya banyak nggak ngertinya masalah hukum ini. Tapi poin-poin yang bisa dicatat adalah:
1. tidak ada definisi ilegal loging atau pembalakan liar atau maling kayu. Adanya adalah penebangan pohon yang tidak legal atau tidak ada ijin. (intinya; masalah administratif dan bukan ranah kejahatan).
2. Tidak ada sanksi minimum.
3. Tidak menjangkau kejahatan lain. (maling kayu itu kan nggak Cuma tunggal: ada cukong, ada manager, ada mandor sampai dengan tukang tebang. Kalo dari UU kehutanan, ya yang tertangkap tangan aja yang kena, lainnya kabur dan leha-leha).
4. Tidak menjangkau kejahatan korporasi. Ilegal loging itu dinilai sebagai kejahatan oknum ataupun orang per orang, bukan sebuah perusahaan. Maka, kalo mau ngurus balik duitnya negara jadi susah. Kenapa? Karena biasanya duitnya perusahaan lebih gede dari duit perseorangan. Jika oknum ditangkap, duitnya yang disita negara dipastikan gak bakal nutup sama ruginya kayu negara yang udah dimaling.
5. Beberapa kasus ilegal loging Cuma masuk sanksi administratif.

Usulan ICW selanjutnya adalah memasukkan praktek atau kejahatan ilegal loging alias maling kayu untuk digebuk dengan UU Korupsi. Kenapa> ya karena UU kehutanan ada bolongnya untuk kasus-kasus ilegal loging, biasanya masalah ijin. Begitu ijin dipunyai, beres. Nggak diitung ijin itu disalahgunakan pa nggak. Kemudian uu korupsi konon, hukumannya jauh lebih berat dan bisa diambil alih olek KPK. Jadi, lebih punya gigi lah intinya.

(Note, sesungguhnya akan sangat penting bagi saya untuk tahu, siapa sih orang atau perusahaan yang melakukan penebangan hutan. Entah punya HPH atau nggak, bagi saya masyarakat perlu tahu: berapa orang, berapa perusahaan, berapa duit dan melibatkan berapa tenaga, kemudian dilempar ke mana saja. Bayangkan, kalo ada 70 % kayu adalah ilegal, maka memang jangan-jangan semua dari mereka memang maling kayu yang berijin. Terus, orang kehutanan itu ngapain aja ya?)

Untuk resume dari pemateri yang lain, minta maaf nggak bisa tersampaikan dengan baik. Lagian pas itu ada janjian sama Mail Sukribo untuk mbahas masalah komik, jadi, baru satu jam udah terpaksa keluar. That’s all.

2 thoughts on “Dahsyatnya Ilegal Logging di Indonesia (Catatan ICW dari Seminarnya Pukat Korupsi UGM)”

  1. mas ulasan mu kok ra tekan bencana alam to ???
    kan sekarang lagi ngetren bencana alam di Indonesia…
    lha mulai dari SBY naik sampe sekarang dah mau turun aja bencana gak ada yang terselesaikan dengan baik semuanya masih meninggalkan sayatan yang menjenuhkan nek diomongke,pye mas…. ?????????

  2. The benefits of conforming to socio-environmental laws are not easily or immediately seen. Meanwhile, the hallmark of good capitalistic investment is that the investment pays off quickly—to get profits fast! How can we stop capitalism from destroying the environment? That’s what we have to ask.

    I am amazed at an Indonesian political fashion company called shirTalks (www.shirtalks.com) that dares to ask these questions. They actually did a nice shirt design about it, particularly about illegal logging. Check out my blog at http://shirtalks.wordpress.com/2009/02/26/capitalism-kills-trees/ to see it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s