Siapa yang lebih baik?

Seorang kawan perempuanku berkata dengan wajah protes kepada saya:

“Suamiku tidak seperti kamu, dia sangat pengertian. Bayangkan: saat dia hamil sampai melahirkan, dia sangat perhatian saat saya membutuhkan kasih sayang dia, membelikan pembalut, mencuci baju istri dan anak, menyiapkan segala kebutuhan persalinan dan lain sebagainya.”

Wajah saya datar. Lalu berkata:

“Istriku tidak seperti kamu, dia sangat luar biasa. Bayangkan: jauh sebelum hamil dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya, dia sangat mencintai saya, membeli pembalut jauh hari, mencuci bajunya dan anak dilakukan sendiri, menyiapkan sendiri kebutuhan persalinan dan lain sebagainya meskipun aku begitu ingin membantunya.”

Wajah dia datar, wajah saya juga datar. Buk…

Feriawan

2 thoughts on “Siapa yang lebih baik?”

  1. la saya sampe punya dua anak urusan begituan tidak ngerti, saya juga nggak ngerti jengkel ato tidak, semua mengalir. pripun niku mas feri, nderek urun pengalaman eh urun crita suwun

  2. Hehehe..semua kan refleksi mas. Njenengan kan boleh ambil kesimpulan sendiri. Kalo saya, Pertama, Orang kalo mau ngritik kan ya harus mau dikritik juga. Kedua, dari yang saya paparkan di atas: rasah mbanding-mbandingke keluargane dewe, sok-sokan paling apik dibandingke keluarga lain. Keharmonisan itu kan milik berdua tho, mas. Orang lain tidak berhak turut campur, nek dituruti malah mawut mangke. Hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s