Soal Tambang Pasir Klaten

Dari sebuah sumber:

Berkaitan dengan kegiatan penambangan di pasir di Klaten lereng Merapi, sejujurnya banyak diantara pejabat daerah yang sudah mengetahuinya. Tetapi rata-rata diantara mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Di sini satu lokasi penambangan sampai dengan 5 Begu. Keuntungan pribadi yang diperoleh dari penambangan pasir ini memang luar biasa besar. Belum ada sebulan ini, seorang pengelola penambangan yang biasanya penduduk setempat, bisa menerima upeti berupa mobil pribadi baru. Darimana uang sebanyak itu bisa didapatkan? Bayangkan saja: proses penambangan, seorang penduduk yang memberikan ijin ditambang tanahnya, per rit akan dihargai 20.000-23.000 rupiah (Rit adalah satuan untuk menyebut satu bak truk besar penuh berisi pasir) dan apabila lokasi dekat dengan jalan besar, maka harga bisa naik 30.000 rupiah. Itu baru dari pemilik lahan. Sedangkan harga jual di tempat ( ketika masuk bak truk), akan dihargai 200.000 sampai 210.000 rupiah. Nah, sampai di luar ataupun sampai di toko Besi Bangunan(misalkan) akan menjadi 400.000-450.000 per rit. Bayangkan berapa akumulasi keuntungannya! Hitungan Rit itu sendiri bisa dilihat bahwa pasir penuh sampai dengan beberapa senti di atas tutup belakang truk.

Inzet: sudut bekas penambangan

Pungutan (Liar dan Resmi)

Pada tiap-tiap kampung, ada penjaga-penjaga pos yang dilewati truk, akan ada penarikan dana yang sebenarnya ilegal tetapi merupakan penarikan atas nama kampung-kampung yang dilewati. Dana tersebut pada akhirnya bukan untuk perseorangan melainkan dimasukkan kepada kas kampung untuk pembangunan kampung dengan pertanggungjawaban yang transparan. Per truk akan ditarik 2000 rupiah walaupun prakteknya kadang 1000 – 1500. Hasil dari pungutan itu bisa dilihat konkrit dalam bentuk pembangunan, misalkan pembangunan talud yang dilakukan dalam kerja bakti tiap-tiap minggu, Lampu Jalan, dan beberapa kegiatan desa lain seperti 17-an. Di kampung bisa berujud tenda, rumah seng, untuk orang punya hajat, gamelan dan sejenisnya.

Untuk pungutan resmi, per karcis yang masuk PAD seharga 3500 rupiah, tetapi prakteknya karcis yang harus dibayar oleh tiap sopir seharga 6000 rupiah. Sampai kampung pun karcis itu ada yang harus dibayar 15000 dengan alasan pasirnya bagus dan lain sebagainya.

Tiap hari per lokasi bisa 200 sampai 400 truk mengangkut pasir. Tiap lokasi ada 4-5 Begu untuk memenuhi bak-bak truk tersebut. Minimal satu begu 100 truk dalam sehari semalam. Sejauh pengalaman, pernah satu hari disurvei dari pos keluar jalan kecamatan ada 2600 an truk keluar dari kecamatan ini. Jika yang masuk Pemda hanya 3500 per truk, maka bisa dihitung berapa kerugian mulai dari jalan, lingkungan dan persoalan kemasyarakatan lainnya. Tetapi bayangkan juga setiap rupiah yang masuk kantong pelaku penambangan.

Sehari, rata-rata pihak yang terlibat bisa sampai 5 juta rupiah dan transaksi bisa di mana saja: di jalan atau dimanapun. Tetapi lokasi transaksi berpindah-pindah dan akumulasinya bisa minggu, bulan atau tergantung kesepakatan.

Sebenarnya kesadaran warga tentang ancaman bencana ada. Terbukti bahwa diantara warga yang menjadi pelaku pengelola pertambangan itu tidak mau jika lahannya sendiri dijadikan penambangan pasir. Mereka memilih kebunnya sendiri ditanami ataupun dibiarkan pepohonanya daripada ditambang pasir. Ironi, karena mereka merayu lahan orang lain untuk ditambang dengan alih-alih keuntungan sementara lahannya sendiri tidak ditambang.

Tidak ada satu pihak pun yang bisa menghentikan praktek itu. Pernah suatu ketika ada tindakan membuat papan kawasan bebas tambang, tetapi pelaku yang mengusulkan itu didatangi ‘preman’ yang kemudian memaksa pihak RT untuk menurunkan papan pengumuman itu.

Ancaman Bencana

Selain persoalan ancaman kerusakan lingkungan yang bisa mengakibatkan erosi, ancaman lain adalah kekeringan karena dataran tinggi itu semakin dikurangi hijauannya akibat panambangan pasir. Pihak Pemerintah hanya mengirimkan satu tangki mobil dalam setahun di RT ini, padahal kebutuhan per tahun dalam satu kekeringan adalah 9 tangki. Ada 11 Desa di kawasan Sidorejo dan hanya 2 yang tidak mendapat ancaman kekeringan. Di Sidorejo, beli per tangki (5000 liter) seharga 150 ribu. Dalam satu keluarga per hari 230 liter untuk 4 anggota keluarga. Ada solusi sebenarnya, yakni dengan membangun bak tampungan, tetapi masalah filterisasi atau penjernihan belum cukup pengetahuan.

Dari pemasukan pemda pada galian C, yang hanya diterima 750 000 000 rupiah, semestinya penda bisa mendapatkan lebih tinggi. Dari dana itu juga tidak diketahui berapa yang diterimakan kepada masyarakat.

Konservasi sungai yang menjadi program pemerintah, berimbas pada penolakan masyarakat karena proses konservasi itu menjadi alih-alih pelaksana proyek untuk mengeruk pasir. Padahal, masyarakat dilarang untuk menambang pasir di sungai akan tetapi malah di lakukan oleh pihak pelaksana proyek konservasi.

Persoalan penyakit menular tidak ada, hutan dll tidak ada yang masuk ke masyarakat Sidorejo.

Kerusakan Jalan

Belum berbicara masalah kerusakan secara utuh, tetapi hanya dari kerusakan jalan saja, sudah bisa dilihat bahwa pemerintah ataupun masyarakat sejujurnya tekor ataupun merugi atas penambangan pasir. Jalan sejauh 4 kilo bisa dilihat atau diperkirakan menelan biaya 4M. Bandingkan dengan pembangunan dari pemasukan akibat panambangan. Jelas merugi. Belum lagi pada kerusakan infrastruktur lain seperti gedung sekolah yang berdebu, proses belajar mengajar terganggu, kebutuhan alat transportasi karena aksesbilitas yang tidak bersahabat dengan pejalan kaki.

Sesungguhnya bisa saja menaikkan PAD dengan tanpa merusak, yakni jika truk-truk yang hilir mudik itu mematuhi batas angkut ataupun tonase atau kapasitas angkut yang ditentukan oleh DLLAJR. Sayangnya penegakan hukum yang lemah menjadikan lemahnya kontrol, dan akibat selanjutnya adalah rusaknya infrastruktur jalan karena beban truk yang berlebih ditamban dengan penerimaan PAD yang tidak berkesesuaian dengan kenyataan. Kalau masalah Begu yang masuk hanya masalah ijin ataupun pembayaran tarif masuk, tetapi tidak berkonflik dengan masyarakat. (*)

One thought on “Soal Tambang Pasir Klaten”

  1. Menurut saya itu hanyalah pandangan satu sisi saja. Mungkin sebagian orang terutama orang pemerintahan menganggap penambangan pasir itu adalah merusak lingkungan. Tapi sebenarnya banyak sisi positif dari penambangan pasir. Salah satu contoh adalah lapangan pekerjaan.Coker adalah sebutan bagi mereka yang meratakan pasir diatas truk setelah diisi beckhoe, mereka mendapat uang Rp. 12.000/ truk, biasanya dalam satu rombongan beranggotakan 3-5 orang. Dalam sehari satu orang bisa membawa pulang Rp. 200-250 ribu. Warung-warung nasi dadakan yang menyediakan makan untuk sopir dan coker dilokasi tambang juga salah satu yang “ketiban” berkah. Perbaikan-perbaikan jalan juga adalah dampak dari penambangan itu sendiri.
    Kalau rusaknya lingkungan itu masalah oknumnya, dalam penambangan ada istilah reklamasi yaitu mengembalikan lingkungan bekas pertambangan sesuai fungsi semula dalam hal ini kembali menanami daerah yang bekas ditambang menjadi hijau kembali. Setahu saya di penambangan pasir ada istilah 31-1 yaitu setiap 31 truk pasir, penambang harus menyisihkan 1 truk pasir yang dari dana tersebut digunakan untuk mereklamasi lahan bekas pertambangan.Kalau dalam satu hari satu malam penambang mendapatkan 100 rit truk berarti ada 3 truk untuk reklamasi berarti ada dana sekitar rp. 600.000 untuk reklamasi, bisa dibayangkan kalau lokasi itu ditambang selama 2 bulan saja berarti dana reklamasi yang terkumpul adalah Rp. 36.000.000.sebuah nilai yang fantastis untuk perbaikan lingkungan.
    Jadi menurut saya pemerintah harus segera mengatur kembali tentang penambangan pasir terutama didaerah klaten, dengan memperketat aturan-aturan.Duduk bersama dengan pihak penambang, pengelola dan pemilik lahan untuk bersama-sama mencari jalan yang terbaik. Diklaten masih banyak tanah-tanah tidak produktif(dilapisi oleh padas jadi tidak bisa ditanami) yang bisa dijadikan lokasi penambangan pasir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s