Dolan Langsung ke Qaryah Thayyibah

Seminggu lalu, tanggal 6 Oktober 2008, saya dan tiga orang teman akhwat nekat dolan ke Qaryah Thayyibah di desa Kalibening,Salatiga. Dari Jogja berangkat jam 8.00 dan saya mesti sedikit balapan sama pemudik balik kampung untuk sampai prambanan.

Setelah perjalanan melelahkan, panas dan bergeronjal, sampai juga kami di lokasi QT, tampaknya memang tidak jauh dari yang digambarkan: gak ada kesan bahwa ada sekolah yang mencuri perhatian media di situ. Gak ada papan nama, gak ada gedung, gak ada halaman dan gak ada absen dll. Hanya salah seorang diantara kami yang kebetulan kenal dengan Mas Bahruddin, Kepala sekolah QT yang memastikan disitulah lokasinya. saya sedikit bisa mengiyakan dari antene pemancar/penerima LAN Internet dan Hotspot yang terpasang di salah satu rumah.

Setelah sedikit menyumpah serapah perjalanan yang melelahkan, dari serambi sebuah rumah Mas Bahruddin menyapa:”Moggo, silahkan masuk…”Wah, sebuah surprise karena saya bisa ketemu langsung dengan wajah ini. Berbeda dengan yang sudah saya lihat di liputan OASE Metro TV, dia keliatan lebih gemuk.Makmur? :))Tetapi ada yang sama dengan di TV: pakai kaos dan sarung, rambut gondrong terikat di belakang.

Begitu masuk lewat lantai keramik, kami melangkah ke ruang tamu yang agak gelap. Di dinding saya melihat beberapa piagam, vandel, kenang-kenangan dan beberapa penghargaan dan oleh-oleh kunjungan dari berbagai tempat. Di meja terhidang snack lebaran dan minuman teh. Setelah beramah tamah sedikit, berikut hasil resume yang dia paparkan:

Paparan Mas Bahruddin

Sampai sekarang kita di sini senantiasa disibukkan dengan persoalan: bermutu/berkualitas-tidak bermutu/tidak berkualitas dan murah/mahal. Paradigma ini yang harus didekonstruksi karena ini menyesatkan dan hasil ataupun produk pemikiran kapitalistik yang menjadikan pendidikan sebagai kapital ataupun produk. Yang terjadi ketika pendidikan menjadi kapital adalah sebuah justifikasi bahwa ada yang mahal dan murah, ada yang bermutu dan tidak mutu dan seterusnya.

Pendidikan yang kita pahami sekarang ini adalah, selain kapitalistik, adalah produk feodal yang menyebabkan adanya guru-murid, kelas-dan tidak berkelas. Guru selalu dipahami sebagai orang yang harus dihormati, dihargai, dipatuhi, pahlawan tanpa tanda jasa dan sekian banyak gelar yang melekat di dalamnya. Murid adalah sebaliknya: demi sebuah ilmu yang akan dia terima, maka dia harus tunduk, patuh, manut, menghormati dan menelan semua yang dia terima. Dari sanalah model pendidikan di QT melakukan semacam anti kritik dengan paradigma ini.

Yang kami lakukan di sini bukanlah proses belajar-mengajar, tetapi belajar bersama dalam arti yang sesungguhnya. Jadi kebenaran itu tidak milik mereka yang sudah tua, sudah berpengalaman ataupun sudah kuliah, tetapi miik setiap orang, termasuk anak-anak yang berada di sini. Filosofi awalnya adalah: bahwa tiap-tiap jiwa yang dilahirkan itu sudah memiliki nalar, memiliki alur ataupun memiliki kebenaran sendiri. Atau sederhananya, memiliki bibit kepandaian sendiri yang potensial untuk berkembang. Dia butuh proses untuk bisa besar dan kuat, mengakar, dan bermanfaat bagi dunianya.

Beberapa yang salah bagi kita sendiri adalah, seringkali yang tua, yang sudah kuliah, yang sudah banyak membaca ataupun menelan asam-garam kehidupan seolah angkuh untuk memaksakan kebenaran yang kita yakini supaya bisa mereka(yang muda, atau yang anak-anak itu) telan, entah bagaimana caranya, dan salah satunya dengan model pendidikan. Jadi pendidikan menjadi hegemonial: seolah-olah benar, universal, anti kritik, ilmiah dan lain sebagainya sementara pada prosesnya sendiri, kebenaran itu tidak bisa berjalan tunggal. Hasilnya, kita buru-buru melakukan salah-benar atas tindakan anak, buru-buru memberikan koreksi dan justifikasi atas tindakan siswa.

Padahal, pendidikan ataupun tarbiyah pada prinsipnya bukan seperti itu. Tarbiyah itu maknanya melindungi ataupun memberikan keamanan kepada setiap individu untuk menemukan tujuannya: kebaikan dan kebenaran. Ibaratkan seorang anak ingin naik sepeda, menjadi tidak mendidik apabila kita sudah melarangnya dengan alasan jatuh, berbahaya, dan lain sebagainya. Menjadi bijak manakala kita memberikan kelengkapan berupa pelindung lutut, helm atau pakaian yang fungsinya melindungi dan memberikan dia fasilitas untuk menemukan tujuannya: bisa bersepeda. Perkara jatuh, lecet, asalkan itu masih dalam koridor resiko yang wajar, biarlah dia rasakan sendiri. Anak pun berhak belajar untuk merasakan bagaimana jatuh, bagaimana lecet, bagaimana kepleset sebagai bagian dari proses kehidupan dan belajar dari resiko itu. Nah, disanalah fungsi kita memberi arahan dan memberi jalan bagi dia untuk mencapai tujuannya, dan bukan tujuan kita sendiri.

Suatu saat pernah seorang anak mengajukan usulan untuk studi banding atau belajar di SMP N 1, di laboratorium bahasa. Dia minta saya buat surat pengantar. Nah, saya menolak dengan alasan: dia yang ingin belajar kok saya yang bikin. Menurut saya, dia saja yang bikin dan biar saya tandatangai/ acc. Nah, dia membuat sesuatu yang dalam kacamata umum aneh atau salah: yakni tertulis: mengetahui Baharuddin (Disambung). Padahal biasanya: mengetahui, space kosong, baru tulisan Baharuddin. Tapi ya sudah saya biarkan saja, tetap saya tandatangai. Kenapa? Ya barangkali dia punya alasan untuk itu, katakanlah: menghemat kertas, siapa tahu? Perkara nanti ditolak oleh pihak lain, ya biarkan itu jadi bagian dari pembelajaran itu.

Nah, proses penghargaan terhadap hak orang lain inilah yang kami tanamkan di sini. Maka tidak ada hak bagi kami untuk menahan proses pencarian kebenaran seseorang. Maka di sini tidak ada istilah: guru-murid, adanya pendamping siswa dan siswa. Fungsi Pendamping siswa ya mendampingi saja. Hak anak-anak sangat kami perhatikan untuk membuat dia merasa enjoy dan menikmati prosesnya mengenal dunianya. Bahkan, hak untuk tidak ikut pelajaran, hak untuk males saja kami berikan. Tidak ada sanksi ataupun hukuman untuk itu. Hak untuk menentukan pelajaran apa, hak untuk memilih mata pelajaran atau bidang apa yang dia inginkan, itu sudah sejak awal kami berikan. Maka tidak ada istilahnya anak dipaksa untuk ikut sehari penuh dari pelajawan A, B, C dan seterusnya macam sekolah reguler yang biasanya itu.

Di sini pendidikan mulai dari PAUD, SMP dan SMU (anak-anak menyebutnya Sekolah Menengah Universal). Paud adalah medianya anak-anak di bawah umur 5 tahun. Sebelum paud yang sore hari, biasanya anak-anak tidak boleh mandi dulu, mereka bermain pasir, tanah, peceren dan apapun yang kotor-kotor dan baru ketika pulang mandi. Sangat beda dengan paud konvensional yang mesti beli media ajar, berada di kelas dan harus teratur rapi.

Untuk SD kami tidak mengadakan, karena dari berbagai pertimbangan, nantinya kemungkinan malah banyak konfliknya.Maka SMP yang kami buka dengan pendekatan hampir mirip SMP reguler: kelas melingkar dan pengajar. Begitu seterusnya sampai dengan Untuk SMU, peran pengajar berubah menjadi pendamping murni dan anaklah yang bertanggungjawab terhadap pendidikannya sendiri. Sebagaimana diketahui, sampai dengan SMU, belajar siswa reguler hanya satu jam, biasanya jam 10.00 dan kemudian dilanjutkan dengan belajar mandiri siswa sesuai dengan minatnya sendiri: ada yang minat belajar bahasa, teater, olah raga, sains, terserah. Memilih untuk ikut UAN atau tidak ya terserah.

Soal prestasi, kami yakin bahwa kami mampu bersaing dengan sekolah reguler. Kami telah menghasilkan banyak karya-karya siswa mulai dari buku-buku, video, musik, dan lain sebagainya. Bahkan gedung baru yang ada di sebelah rumah ini, itu juga hasil dari mereka (siswa-siswi). Seorang anak sudah bisa berkarya sampai dengan 11 buku, ada diantaranya yang sudah 5 buku dan diterbitkan oleh Penerbit di Jogja, dapat royalti 4 juta. Dari angkatan awal itu hampir semua sudah pernah merasakan menulis di koran, naik pesawat, jadi pembicara pameran dan lain sebagainya. Kompas, Media Indonesia, Suara Merdeka dan beberapa media lainnya. Ada surat yang ditujukan untuk Media karena protes mereka atas UAN, ada yang protes karena mereka merasa bisa mengerjakan ujian matematika tetapi kok dapat nilai di luar bayangan mereka sementara mereka tidak mendapat berkas koreksi dari pemerintah. Ada yang ikut pameran hanya karena menyelesaian tugas bikin peta 3 dimensi kampung ini setelah mereka dapat bimbingan buat gedung dengan google sketch dan kemudian tertarik bikin peta kampung sini beserta rumah-rumanya dalam 3 dimensi.Ada yang awalnya gemar corat-coret kamudian kami koleksi coretannya itu, kami label-i jadi buku dan kemudian kami jual, dia senang sekali kemudian dia melangkah ke bikin komik. Bayangkan, belum tentu kami-kami ini bisa menguasai google skecth, menguasai gambar komik dan lain sebagainya. Tetapi lihatlah mereka yang bisa berkarya sedemikian mengagumkan. Di sinilah kami pandang bahwa tiap-tiap manusia punya kebenaran dan potensi sendiri dan tugas kita untuk membuat itu tumbuh dan berkembang.

(Tanya saya: Bagaimana dengan persoalan dana?)

Jauh hari sudah ditanamkan kepada kami bahwa mendidik ataupun menjadi guru itu kewajiban dan bukan komoditas. Ironi, jika seorang pendidik melakukan pendidikan padahal persoalan besar dirinya sendiri belum selesai. Bagaimana dia mendidik jika persoalan ekonomi belum selesai? Ini bukan berarti bahwa sebelum mendidik mereka harus kaya dulu, bukan, akan tetapi semestinya seorang pendidik bisa menyiasati persoalan ekonominya itu dengan cara-cara yang tidak mengganggu proses mendidiknya kepada anak-anak. Kalau perlu, mengajak anak-anak untuk ikut memikirkannya juga. DI sini, kami bisa terus belajar karena anak-anak juga mau bekerjasama dengan terus berkarya: bikin buku, bikin videclip lagu anak-anak dan beberapa media lain yang laku. Terlebih lagi di sini toh kita tidak butuh gedung, buku-buku pendidikan wajib dan lain sebagainya kecuali pengeluaran untuk akses internet 24 jam dan pembelian beberapa alat-alat tulis, foto, cartridge dan beberapa keperluan pokok lainnya. Selebihnya untuk ruang, mereka belajar di rumah-rumah penduduk dimana seluruh halaman rumah mereka pernah digunakan anak untuk sarana belajar anak.

Ada hal yang sebenarnya penting: bahwa gaji pendidik itu semestinya dicover oleh pemerintah. Ketika kami di sini sudah berperan dalam memandaikan masyarakat, maka kami sudah menjadi bagian dari pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka kewajiban pemerintah-lah untuk, paling tidak, memberikan insentif bagi kami-kami di sini. Itu hak kami. Akan tetapi harus digarisbawahi bahwa proses pendidikan tidak boleh putus hanya karena kami tidak digaji. Mendidik itu kewajiban kita, kewajiban kami kepada anak-anak dan itu tidak boleh putus hanya karena masalah keuangan.

Suatu saat ada bantuan dari salah satu anggota Dewan sejumlah 55 juta. Setelah saya hitung, ternyata ada 55 KK yang ada di dusun ini. Ya sudah, saya bagi-bagikan saja kepada mereka per KK 1 juta. Idep-idep sebagai uang gedung (dan menunjukkan bahwa sekolah ini bersih dari unsur politis): hahaha….. Jadi kita tidak mikir dengan 55 juta itu untuk beli apa, malah kami bagikan kepada penduduk.

Bagaimana kita memulainya? Jika anda tertarik ya mulai saja. Ajak siapapun yang mau, tertarik untuk belajar bersama, belajar apa saja. Jangan buru-buru kita memasang target karena memang segalanya adalah kerja bersama dan dinikmati bersama. Di beberapa daerah, model sekolah seperti kami sudah ada. Bisa jadi nantinya justru model seperti inilah yang menjadi rujukan pendidikan di Indonesia menggantikan model pendidikan hegemonial ataupun feodal seperti sekarang ini.

Beranjak Pamitan, Thats All

(Kegagalan yang pernah saya temui di kelompok belajar saya adalah adanya dominasi dan hegemoni perseorangan yang seolah-olah paling berjasa dan punya hak untuk mengatur semua orang, dasar telooo…..)

Itulah inti pembicaraan itu. Di sela pembicaraan kami menikmati beberapa sampel karya siswa, buku, video, komik, peta desa 3 dimensi dan beberapa lainnya. Di tengah pembicaraan ada bapak Sujono Samba menemani kami, beliau adalah guru seni musik yang menelorkan beberapa karya anak-anak QT dalam bentuk video klip lagu dolanan anak dan ciptaannya dibeli Diknas dalam bentuk lagi dangdut pendidikan yang dinyanyikan anak-anak QT juga. Beberapa kami bawa pulang.

Menjelang pulang, saya sempat ketemu Emi, salah satu anak (bakul jamu) yang diwawancarai Metro TV. Gila…lima tahun berlalu sejak itu, dia terlihat cantik dan remaja.Beda dengan wajah polos anak-anaknya dulu. (Wah, teman saya yang lain udah mulai curiga, memuji kan gak mesti punya maksud “macam-macam” kan?)

(Feriawan)

NB: Baca Juga tulisan awal tentang QT saya di sini:

Sekolah Alternatif SMP Qaryah Thayyibah yang Menggugah Nuraniku.

2 thoughts on “Dolan Langsung ke Qaryah Thayyibah”

  1. Buku dan Film Laskar Pelangi menghentak khalayak, menggugah para guru, menginspirasi jutaan pembaca, menghardik dunia pendidikan di negeri ini. Asrori S. Karni menyebutnya The Phenomenon.

    Buku Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis barangkali dapat melengkapi gambaran tentang bagaimana anak bila diberikan perlakuan yang tepat (memberikan hati seperti dilakukan bu Muslimah) dan kesempatan untuk berpartisipasi maka anak-anak dapat menjadi subyek/pelaku perubahan sosial yang luar biasa.

    Salam hangat dan silah kunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-online-gratis-anak-anak-membangun.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s