Virus Tai Kucing

Banyak diantara kita yang lebih suka jadi supproter daripada pemain. Alasannya waktu lah, kemampuan lah, masalah ekonomi lah dll. Sebuah alasan tai kucing untuk berkarya dan memberi setitik arti dari kehidupannya di dunia yang hanya diisi oleh siklus basi dari makan, tidur, bekerja, reproduksi. Nggak beda dengan binatang. Saya berpikir, sudah saatnya saya mendobrak siklus basi kehidupan saya dan mencoba buat karya: menulis, bikin program, dan lainnya di luar aktifitas dunia kerja sebagai peneliti dan programmer di LSM. Idep-idep minimal: tabungan akhirat.

Virus yang paling menjadi tantangan adalah pesimistik, pragmatisme dan merasa tidak mampu: “Ah…saya kan nggak paham tentang ini.””Wah, saya kan masih miskin”. “Lha saya kan banyak pekerjaan.” …dan sampai mati pun kita tidak berubah berubah kecuali tambah kaya ataupun tambah anak, sementara masalah sudahkah kita menemukan arti atau karya bagi negara, bangsa dan agama: nol besar. Virus itu begitu ganas sehingga kita merasa “nyaman ” dengan kelemahan kita, kecengengan kita, kebodohan kita dan matinya rasa bahwa kita adalah mahluk yang ditakdirkan untuk mencoba dan terus mencoba, berkarya dan terus berkarya menjadi mati.

Saya? Jelas tidak mau menjadi mahluk hidup yang “mati.”

3 thoughts on “Virus Tai Kucing”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s