4 Kategori Hidup, Pelajaran dari Pengalaman

Secara iseng saya coba-coba berfilsafat. Saya mengkategorikan beberapa pandangan manusia tentang hidup. Sebuah bahasan yang tidak pernah selesai dan terkadang melelahkan pikiran karena kadang gak jelas manfaatnya. Tapi nggak ada salahnya juga kalau belajar untuk merenungkannya, karena ternyata ada sisi penting bagi saya sendiri untuk memaknai hidup saya.

Gampangnya gini: jika orang sudah tahu pola atau makna hidupnya, maka mudah bagi dia untuk menemukan kunci kebahagiaannya. Jika dia sudah tahu kunci kebahagiaanya, maka mudah bagi dia memaknai segala sesuatu yang menghadapinya.

Dari orang-orang yang pernah diskusi sama saya tentang kehidupannya, ada 4 golongan atau 4 kutub besar makna hidup. Pertama, adalah orang memandang hidupnya sebagai usaha untuk tetap bertahan. Sederhananya: life for struggle. Orang yang demikian melihat bahwa apapun yang ada di dunia adalah sesuatu yang bisa membuat dia mati jika tidak siap, waspada, hati-hati atapun punya bekal yang cukup. Maka usaha keras yang dilakukannya adalah mencari cara supaya apa yang selama ini menjadikan dirinya atau lingkungannya dirasakan baik, harus dipertahankan mati-matian. Segala pengalaman, sejarah, keyakinan dan idiologi yang ada dia kuasai dan dia pertahankan sebagai bekal untuk menghadapi masa depan yang penuh tanda tanya.

Kedua, adalah orang yang memandang hidup sebagai sebuah kompetisi. Bisa menang-kalah, bisa juara dan tidak juara, bisa orientasi banyak-sedikit dan sebagainya. Pendek kata, dia mengibaratkan hidup sebagai perjuangan antara kijang dan macan. Macan akan senantiasa mengejar kijang untuk hidup, sementara kijang harus berlari untuk menghindari macan dengan tetap mencari kesempatan untuk makan. Nah, persoalannya siapapun tidak akan pernah tahu apakah dia kijang atau macan. Yang pasti, itulah hidup: harus menjadi juara.

Ketiga, adalah orang yang memandang hidup sebagai usaha untuk mendapatkan kenikmatan.Enjoy aja.Belajar, kerja, gelar, agama apapun yang ada di dunia bagi dia adalah petunjuk demi tercapainya kenikmatan. Cari yang nikmat dan buang jauh segala sesuatu yang membuat sedih. Dia tidak terlalu ngoyo untuk mencari sesuatu kecuali yang mudah, menjanjikan dan memang bisa dia nikmati.

Keempat, adalah orang yang memandang hidup sebagai sesuatu yang mengalir. Dia tidak terlalu silau dengan gelar, kekayaan, wanita dan lain sebagainya dan tidak terlalu sedih dengan sekian banyak penderitaan. Kalaupun dia kaya, pandai atau sempurna, menurut dia itu bukan bagian dari sebuah kepuasan hakiki. Kalaupun dia menderita, jatuh ataupun terhina, itupun baginya bukan bagian sesuatu yang kalah ataupun fatal. Dia punya ukuran kepuasan yang tidak bisa dikuantifikasikan karena memang segala sesuatu bisa berubah dan menjadi bagian dari perubahan zaman.

Kesemua kategorisasi di atas tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Tidak juga bergantung kepada kaya, miskin, pandai, bodoh, sholeh-bejadnya seseorang. Orang kaya ada yang memandang hidup sebagai sesuatu yang semeleh atau mengalir, yakni ketika memang segala usaha dia untuk mencari kekayaan dikarenakan dia merasa sreg ataupun panggilan jiwa untuk berdagang. Seorang guru dan pegawai negeri bisa memandang hidupnya sebagai sesuatu yang kompetitif: mencari jabatan, mencari kerja sampingan dll. Seorang dosen ada yang hidupnya sebagai sesuatu yang ditujukan untuk enjoy: nikmati saja.

Saya, barangkali akan memandang hidup sebagai sesuatu yang mengalir. salah satu pandangan saya menyatakan bahwa di dalam diri ini ibaratkan ada gelas atau bejana yang menampung sesuatu dari luar: ilmu, rejeki, dan lain sebagainya. Tiap orang juga memiliki gelas kehidupan itu. Bedanya: ada yang besar dan ada yang kecil. Yang besar bisa menampung banyak hal, dan yang kecil akan menampung sedikit hal. Yang pasti rumusnya adalah: isi dari bejana itu haruslah sesuatu yang segar(laksana air). Jika lama tidak berganti, maka selain tidak segar, juga akan menjadi bibit penyakit. Maka kita harus mendapatkan rejeki yang senantiasa baru atau kontinyu, pengetahuan yang baru atau kontinyu yang membuat kita menjadi fresh. Jika tidak, maka kita akan ‘membusuk’. Nah, lalu bagaimana supaya gelas yang terbatas ini bisa selalu fresh, padahal daya tampungnya jelas-jelas terbatas? Untung jika gelas kehiudupan kita besar, busuknya lebih lama, Lha kalau kecil? Lha siapa yang tau ukuran gelas kita itu? Nah, untuk senantiasa fresh maka kita harus rajin-rajin mengurasnya. Caranya: beramal ataupun menguras pengetahuan kita, harta kita, kenikmatan kita kepada orang lain. Semakin sering kita mengamalkan pengetahuan dan harta, semakin sering pula kita menerima pengetahuan dan harta yang baru.

Bagitulah kiranya tujuan saya rajin berbagi pengetahuan, nulis di sana sini, menularkan banyak virus dan motivasi, karena sebuah keyakinan bahwa semakin banyak saya tuliskan atau saya sebarkan, semakin banyak pula yang saya dapatkan.

Islam banyak mengupas tentang kehidupan. Tetapi yang paling mudah dan paling sederhana adalah apa yang tersebutkan di surat Wal Ashri: hidup itu adalah masa (waktu) yang sesungguhnya kerugian. Nggak ada untungnya. Keuntungan dari kehidupan ini adalah milik orang-orang yang rajin-rajin sharing, nasihat menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Jadi, kunci keuntungan itu terletak pada siklus, kontinuitas dan resiproksitas kebaikan dan kesabaran antara anda dan saya. Apakah itu terjadi antara anda dan saya di sini? Wallahu A’lam. Sejauh ini Allah Maha Adil bahwa ruangan di dunia ini tidak dibatasi oleh room atau groups sehingga petunjuk selalu ada dari mana-mana.

Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s