Sejumput Hikmah dari Pertanian Organik

Membayangkan bahwa seorang petani punya idealisme ya baru kali ini saya dapati. Di kampung saya ada seorang petani tanaman organik yang sejak lama telah dia tekuni. Dia sendiri barangkali tidak tahu bahwa cara pertanian yang dia lakukan adalah pertanian organik.

Sebut saja namanya Pak Wanto, usia 60 tahun-an dengan kaki kasar hitam-hitam sehingga pada waktu sholat meskipun sudah dibasuh menggunakan air wudlu berkali-kali, kotoran yang menjadi kapal di kakinya sudah tidak mungkin lagi dihilangkan.

Pak Wanto menanam tanaman tidak menggunakan pupuk buatan pabrik, tidak menggunakan bibit yang dibeli dari toko pertanian, tidak juga menggantungkan dari penyemprot hama berbahan kimia. Semuanya dibiarkan saja meskipun hasil tanamannya: kadang palawija, kadang sayuran macam terong, tomat, dan sejenisnya borek-borek dan tidak terlalu standar buahnya. Akhir-akhir ini saja ketika peminat tanaman organik mulai bermunculan, tanda-tanda makmurnya ekonomi Pak Wanto baru terlihat. Sebelumnya sih, gak terlalu meyakinkan.

Suatu sore saya menemukan dia sedang bersantai di pinggir kebunnya sambil merokok klembak menyan kesukaanya. Saya mencuplik sedikit dialog dengan dia, tentu saja dengan bahasa yang sudah saya bahasakan sendiri.

Pak Wanto menjelaskan: kadangkala orang memakan sesuatu hanya sekadar memakan saja tanpa ada rasa bersyukur ataupun mencermati apa-apa yang sudah dimakannya. Sayang. Bahwa sesungguhnya makanan adalah masuknya segala sesuatu yang menegakkan raga kita. Dengan raga yang baik, idealnya akan mudah bagi setiap jiwa untuk mengisi, memaknai, ataupun mengolah kehidupan dan jiwanya.Dengan memakan sesuatu yang terbaik, maka segala yang ada di dalam tubuh kita akan jauh lebih baik daripada memakan sesuatu yang biasa.

Lalu apa hubungannya dengan tanaman organik?

Tanaman organik adalah tanaman yang tidak hidup dari kemanjaan lingkungan. Tanaman itu dibesarkan tidak oleh kondisi yang alami melainkan kondisi yang sebaik-baiknya. Ibarat manusia, tanaman ini bukan tanaman yang hidup dalam lingkungan yang mewah dimana makanan, keamanan, kehidupan, pengembangbiakan sudah diatur seidealmungkin.

Sebaliknya, tanaman itu hidup dalam gemblengan lingkungan yang alami, hama, tanah, air, cuaca dan lingkungan yang berubah-ubah. Tanaman yang jelek akan mati dan tanaman yang kuat akan tetap bertahan dan menghasilkan. Hasil yang didapatkan adalah hasil perjuangan tanaman tersebut untuk survive dan bukan hasil dari tanaman manja.
Tanaman organik juga bukan berasal dari bibit instant ataupun olahan laboratorium yang memang terprogram sebagai tanaman produksi. Dia buka tanaman hasil industri bibit Macam ayam lehor, petelor ataupun pedaging yang sudah bisa diprediksikan hasilnya. Dia adalah tanaman yang dipilih berdasarkan bibit yang terseleksi secara alami. Manisnya alami, besarnya alami, bobotnya alami dan bukan hasil penggelembungan industri. Ibarat manusia, dia mendapatkan kepandaian untuk bisa menghasilkan yang terbaik dengan cara-cara yang natural dan bukan dengan cara kursus singkat, belajar cepat ataupun metode singkat lainnya.

Perlakuan petani terhadap tanaman ini pun bukan merupakan perlakuan layaknya mesin ataupun alat industri yang hanya diperas dan diambil hasilnya. Mulai dari pemilihan bibit petani memberikan kasih sayang dengan memilah-milah bibit yang baik dan yang buruk, ketika ada hama, petani tidak menggunakan penyemprot hama tetapi dengan tangan, dengan musuh alami (predator) dan dengan cara-cara alami, sampai dengan pemetikan hasil semua penuh dengan kasih sayang. Pemupukan diberikan pupuk alami sehingga tanah yang digunakan sebagai lahan tidak mengeras layaknya diberi pupuk urea ataupun pupuk pabrikan lainnya. Tidak heran bahwa diantara tanaman-tamanan itu seolah menunjukkan rasa terima kasihnya dengan memberikan hasil yang diluar normal. Mereka adalah mahluk juga yang bisa membalas kasih sayang dengan hasil yang maksimal.
Maka, beruntunglah manusia yang memakan hasil pertanian organik ini karena dia telah mendapatkan hasil dari perjuangan tanaman untuk survive, hasil dari kasih sayang terbaik petani, dan hasil dari mahluk yang dihargai sebagai mahluk, bukan sebagai mesin atau komoditas.Itulah makanan unggulan! Luar biasa.

Barangkali, jika dibandingkan dengan buah impor ataupun buah produk petani biasa, buah organik tidak terlalu menarik. Kol organik pun justru penuh dengan bercak hitam dimakan ulat, jeruknya borek-borek, dan cacat lainnya. Tetapi dari sisi higienisitas sampai dengan kesehatan belum tentu produk organik kalah. Apalagi jika ternyata dibalik buah organik itu ternyata ada filosofi sedalam itu dari petani bernama Pak Wanto.

Jika kita berkaca pada manusia, bukankah manusia juga banyak tertipu dengan penampilan? Ada yang memilih jabatan hanya didasarkan kepada banyaknya gaji, tunjangan dan pensiun, perasaan tenang, kemudahan kenaikan jabatan tanpa berpikir tentang dari mana uang yang didapatkan untuk menggajinya, seberapa produktif dia untuk mendapatkan pensiun, seberapa banyak yang menjadi korban karena apa yang dimakannya. Ada yang memilih jodoh hanya karena sekadar penampakan fisiknya yang cantik, ganteng, cool dan lain sebagainya tanpa berpikir sejauh mana kedewasaanya, sekuat apa jiwanya dan seberapa dia belajar dari usia yang dilaluinya. Padahal, yang terbaik adalah mereka yang terpilih dan teruji, yang mau bekerja keras, yang jiwanya dan pikirannya terasah, yang kulitnya terbakar matahari kehidupan.

Benarkah itu idealisme Pak Wanto ataukah hanya sekedar Promo dari kejumudan pola pikirnya terhadap perubahan jaman? Wallahu A’lam. Terkadang jalan kebenaran tidak perlu dipikirkan logis tidaknya, sesuai atau tidaknya dengan alam pikir kita, ataupun alam pikir ilmu pengetahuan. Toh ilmu pengetahuan tidak selamanya memberikan jawaban terhadap segala sesuatu. Yang pasti, tidak mudah seseorang bertahan dalam idealisme ataupun keyakinan.Tidak ada salahnya kita belajar dari keyakinan yang berbeda, manakala seseorang bisa memuat sejahtera diri sendiri dan segala sesuatu di sekitarnya karena keyakinannya itu.

Itu hanya sejumput hikmah. Sayangnya, sampai sekarang kisah petani masih belum indah.(*)

2 thoughts on “Sejumput Hikmah dari Pertanian Organik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s