Hari-hari setelah paripurna dari ketua BEM Fisipol

Terima kasih atas perhatiannya kepada kisah yang telah saya tuliskan di milis ini tempo hari.Anda tahu, yang saya sajikan bukanlah sebuah kisah sukses yang berakhir seperti juragan tela-tela ataupun boss primagama. Maka segala pujian hanya pantas ditujukan kepada Allah SWT.

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29:2)

Suatu ketika, saat Ramadhan setelah peristiwa itu. Saya banyak menghabiskan waktu di sudut Gelanggang (Dulu sekretariat JS di situ). Merenungi detik demi detik yang seolah tidak berpihak kepada kehidupan saya. Seolah sudah suratan.

Saya bukanlah orang yang tegar saat itu. Selang beberapa waktu saya sering menyendiri di masjid dan menanyakan banyak hal dari semua cobaan yang saya terima. Beginikah jalan sulit yang harus saya terima? Mengapa tidak seperti semua orang yang begitu damai? Mengapa tidak seperti orang-orang sholeh yang wajahnya berseri-seri ketika berada di dalam masjid dan seolah Allah berada dalam lindungan mereka? Mengapa justru saya yang mencoba untuk sedikit saja menorehkan sebuah wacana tentang Islam harus dihempaskan dan dipermalukan sedemikian rupa? Mengapa?

Allah sungguh Maha Baik. Mungkin saat itu ada Lailatul Qodar yang menghiasi relung pikiran saya. Entah kenapa saat itu saya seolah diperlihakan kembali tentang sebuah zaman saat awal-awal Rasul merintis Islam. Berbagai pertanyaan yang menggoncang jiwa ke-muslim-an saya seolah ditampakkan kembali:

  • Bukankah ketika awal risalah Islam disampaikan Rasulullah di Daarul Arqam begitu banyak para sahabat yang gugur demi sebuah keyakinan? Mati ibunya, mati anaknya, mati saudaranya. Dipermalukan. Dihina dan direndahkan lebih rendah dari binatang. Mereka bahkan tidak akan pernah tahu bahwa Islam akan menjadi suatu ajaran yang demikian berpengaruh di seluruh penjuru dunia? Mereka bahkan buta dari ayat demi ayat yang belum pernah diperdengarkan secara lengkap? Bukankah lebih banyak alasan bagi mereka untuk berdalih dan berlari dari jalan dakwah daripada saya yang mahasiswa? Mengapa saya begitu goblog dan mempertanyakan yang telah Allah persyaratkan bagi orang beriman?Bukankah kondisi saat ini jauh…jauh. .jauh lebih baik daripada masa-masa itu?


  • Jika mau bercermin lebih lanjut tentang persaingan keburukan nasib, nasib mana yang lebih buruk manakala rasulullah yang yatim dan piatu ditinggalkan berturut-turut oleh kakek dan pamannya? Bukankah rasul orang yang paling direndahkan oleh keadaan, dilempari tahi onta, batu, benda busuk, diusir dari kota kelahirannya, diboikot pengikutnya dari supplay makanan. Tetapi apa yang dipikirkan oleh Rasulullah? Tidak sekalipun dia menangisi nasib dan menggugat masalah barisan kaumnya ataupun bengisnya musuhnya. Justru Ampunan Allah yang dipohonkan bagi siapapun yang membencinya. Sementara aku begitu terbakar rasa derita dan memori tentang perlakuan itu.


  • Apakah Allah berpihak kepada Rasulullah saat itu? Manakala sejuta derita diberikan kepada Mahluk Kekasihnya itu, dimanakah Allah? Sholawat bagi Rasul, karena Allah bisa saja memberikan sejuta kepedihan bagi musuh Rasul. Allah bisa saja membalikkan keadaan, mendatangkan sedikit bantuan semudah yang Dia mau. Tetapi Rasul lebih memilih menjalani kehidupan layaknya manusia biasa sambil teruuuuus memohon ampunan bagi ummatnya maupun musuhnya. Rasul tidak memilih hidup berhiaskan jabatan, uang, tanda jasa. Bahkan andaikata matahari dan rembulan ada di gengamannya, dia lebih memilih menjadi seorang pesuruh Allah yang biasa saja. Subhanallah.

Begitulah. Berarti atau tidaknya sebuah peristiwa, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Pilihan tentang sudut mana yang kita lihat, sangat bergantung kepada mentalitas kita. Dan mentalitas kita sangat ditentukan oleh kedewasaan kita. Kedewasaan lahir karena tempaan sejarah. Dan saya sekarang bersyukur mendapatkan saat-saat itu. Saya menjadi tahu bagaimana menjadi seorang yang bersyukur. Harga yang mahal yang diberikan Allah untuk mendudukkan saya di tempat yang semestinya dalam melihat setiap peristiwa dalam kehidupan.

Maka setiap kisah yang pernah saya sampaikan, silahkan bagi anda untuk memaknainya sesuka anda. Saran saya, jalani saja setiap ujian bagi anda, bagi organisasi, bagi JMF dengan semangat seorang muslim yang sebenarnya. Berkacalah kepada Rasulullah dan pengikutnya.

Setelah hari itu, kehidupan saya memang tidak membaik. Tidak menjadi anggota legislatif, tidak menjadi aktifis partai, tidak menjadi pengusaha. Sebaliknya saya menjadi seorang kuli donat. Kala itu krisis moneter membuat keluarga saya bangkrut dan saya dihentikan kiriman beasiswa dari orang tua. Untuk makan saya harus kerja apa saja. Karena lowongan yang ada hanyalah menjadi kuli donat: pagi membuat burger dan dikirim ke sekolah, siang mengambil kiriman, tidur, sore bikin adonan sampai dengan tengah malam membuat donat dan kue-kue. Sangat melelahkan. Tetapi hanya dengan itulah waktu itu saya bisa mengisi perut.

Nasib mungkin tidak berubah. Tetapi percayalah, sejak saat itu saya menyambut hari-hari dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa Allah sedang bersama dengan saya.

Selamat Idul Fitri 1426 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s